Cerita Pendamping Masyarakat dari Kampung Womom: Sukacita dan Tantangan Melayani di Bidang Pendidikan

Bagikan Tulisan

Tanggal

23 Desember 2022

Penulis

Armandho Rumpaidus

Tanggal

23 Desember 2022

Penulis

Armandho Rumpaidus

Suara unggas mulai melantun, udara pagi hari yang dingin begitu menusuk hingga ke tulang. Namun bersama dengan hadirnya mentari, pertanda hari ‘kan segera dimulai. Saling membangunkan antara guru dan murid adalah rutinitas setiap hari sekolah, saling mengecek apakah semua sudah mandi dan mengenakan seragam sesuai hari penggunaannya menjadi hal wajib.

Inilah kisah saya sebagai PMNH (Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program) bersama anak-anak di Kampung Womom, Distrik Tobouw, Kabupaten Tambrauw. Saat hari sekolah, saling membangunkan dan mengecek apakah para murid yang tinggal di Kampung Womom sudah mandi pagi serta menggunakan seragam hingga saling menunggu untuk berangkat ke sekolah menjadi rutinitas kami.

Foto Bersama Anak-anak SD dari Kampung Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Foto di Depan Papan Nama Kampung Womom Distrik Tobouw
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Perjalanan ke sekolah biasanya kami tempuh dalam waktu 15-20 menit dari Kampung Womom hingga tiba di halaman sekolah. Jam 07.00 WIT merupakan waktu dimana kami akan mulai berjalan dari Kampung Womom ke Kampung Resye, jarak tempuh sekitar 600-700 meter. SD terdekat dari Kampung Womom hanya ada di Kampung Resye. Perjalanan ke sekolah hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki melewati pantai. Jangan harap anak-anak murid mau pakai sepatu saat berjalan ke sekolah, medan yang kami lewati membuat sepatu hanya akan digunakan saat kami tiba di Kampung Resye.

Ketika berjalan kaki ke sekolah bersama para murid, alangkah bahagianya kami jika air sedang meti (air laut surut). Berjalan melewati pasir pantai akan terasa begitu santai dan bebas untuk bercerita, kadang juga kami akan bernyanyi lagu yang kami tau. Atau sekedar saling bertukar dan belajar kosakata dalam bahasa daerah kami masing-masing (Bahasa Biak dan Abun), bahkan bercerita tentang harapan dan cita-cita mereka di masa depan. Tetapi situasi akan sangat menegangkan apabila di pagi hari air sedang naik (air laut pasang), drama hitung-menghitung ombak serta lari-larian demi menghindari terjangan ombak akan terjadi selama perjalanan ke sekolah. Jika sebelumnya pada malam hari turun hujan lebat, maka di pagi hari kami harus melewati 2 muara kali yang meluap ke laut. Jika intensitas air kali deras dan dalam, maka menggendong anak murid melewati kali tentu harus dilakukan. Itulah kisah paling seru. Semua demi pendidikan.

Andarias N. Yesawen Belajar Komputer di Rumah Belajar
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Hermina)

Kegiatan Belajar mengajar Komputer di Rumah Belajar
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Anak-anak Kampung Womom yang bersekolah di SD YPK Lahai-Roi Saubeba berjumlah 3 orang, yakni Beren Yekwam (kelas 6), Andarias Novaldo Yesawen (kelas 3) dan Piter Yekwam (kelas 3). Saya bersama rekan PMNH, Hermina G. Langoday, yang bertugas di Kampung Womom bergantian mengajar di sekolah setiap 2 hari sekali. Oleh karena itu, saya mendapatkan jatah 3 hari dalam seminggu mengajar di sekolah.

Inilah kisah saya sebagai PMNH di Kampung Womom selama bulan April-Oktober. Tantangan ke sekolah memang berat. Tetapi semua demi pendidikan, karena buahnya pasti manis.

1 Comment
  • Eva Yates
    Posted at 14:28h, 06 Januari

    Hi science4conservation.com admin, Your posts are always well-written and easy to understand.