Kemampuan Belajar Anak Secara Umum di Rumah Belajar Konservasi Penyu

Bagikan Tulisan

Tanggal

20 Desember 2022

Penulis

Alberto Y. T. Allo

Tanggal

20 Desember 2022

Penulis

Alberto Y. T. Allo

Apa Saja Kegiatan di Rumah Belajar Kami?

Program Pemberdayaan Masyarakat pada bidang pendidikan terus berlanjut, pada tahun 2022 periode I dilaksanakan selama bulan April-September 2022. Program Pemberdayaan Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat-Universitas Papua (LPPM – UNIPA) menugaskan empat tim pendamping masyarakat dan narahubung program (disingkat ‘PMNH’) untuk mendukung program konservasi penyu belimbing di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Bentuk dukungan memberi manfaat bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi dengan meningkatkan kapasitas pendidikan anak-anak.

Di bidang pendidikan, ada dua program utama yaitu mendukung program pendidikan formal (PMNH membantu mengajar di Sekolah Dasar) dan program pendidikan informal (PMNH mengajar di rumah belajar). Pada tulisan ini yang akan kita bahas tentang program pendidikan Informal di rumah belajar. Rumah belajar adalah sebuah rumah tempat anak-anak di kampung datang belajar pada sore hari dan rumah tersebut juga sebagai rumah tempat tinggal para PMNH di lapang. Pendidik atau guru di rumah belajar adalah PMNH. Mereka adalah alumni minimal D3 yang direkrut dan diberikan pelatihan sebelum melaksanakan tugasnya pada masing-masing rumah belajar.

Pembelajaran Berhitung
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yana Rumbrawer)

Kegiatan Belajar Mengajar PLH di Kampung Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pada tahun 2021 intervensi pendidikan yang diberikan masih terbatas pada 3 lokasi rumah belajar dan pelajaran yang dievaluasi pada 5 bidang pelajaran (Baca, Tulis, Hitung, Bahasa Inggris, dan Pendidikan Lingkungan Hidup) dan 1 bidang pelajaran masih diajarkan secara terbatas hanya di Rumah Belajar Resye yaitu pembelajaran komputer dasar.

Sedangkan pada tahun 2022, rumah belajar sudah berada di 4 lokasi yaitu Rumah Belajar Kampung Wau-Weyaf, Rumah Belajar Kampung Syukwo, Rumah Belajar Kampung Womom, dan Rumah Belajar Kampung Resye. Di tahun ini pembelajaran yang diberikan kepada anak di semua rumah belajar sebanyak 6 pelajaran, dimana pelajaran Komputer Dasar menjadi pelajaran baru bagi beberapa rumah belajar.

Kegiatan lain di rumah belajar yang dilaksanakan tetapi tidak diambil nilai evaluasinya yaitu kegiatan perpustakaan keliling (meningkatkan literasi baca anak melalui buku cerita dan dongeng); kegiatan kebersihan pribadi (cuci tangan pakai sabun dan sikat gigi yang benar); dan kegiatan Apotek hidup (Mengajarkan cara menanam tanaman obat di pekarangan rumah).

Seperti Apa Kemampuan Anak di Rumah Belajar?

Seperti apa kemampuan anak secara umum di masing-masing rumah belajar? Berikut kami buat kompulasi cerita perwakilan beberapa anak yang disampaikan secara langsung oleh PMNH yang mengajar di sana selama 5 bulan.

Namanya Kundrat. Ia adalah salah satu anak dari Rumah Belajar Resye. Pada awal bulan April 2022, Kundrat Yesnath bersekolah di kelas 4 SD YPK Lachai-Roy Resye. Pada bulan April, PMNH bertanya apakah Kundrat pernah melihat komputer atau laptop, ia menjawab pernah melihat fotonya dari telepon selular (handphone) tetapi belum pernah memegang langsung atau mengoperasikannya. Sebelum pembelajaran Komputer Dasar dilakukan test kemampuan pengoperasian komputer dasar, ia memperoleh nilai kemampuan 37.5% (berada dalam kategori Tidak Bisa (TB)). Artinya Kundrat belum bisa mengoperasikan komputer. Walaupun demikian, Kundrat sangat rajin mengikuti Pembelajaran Komputer Dasar. Dalam pembelajaran, setiap anak diberikan kesempatan untuk langsung praktik menggunakan komputer/laptop. Kundrat mampu mengikuti semua pembelajaran dengan baik. Dan pada evaluasi akhir di bulan September 2022, Kundrat memperoleh kemampuan 100% dalam kategori Bisa (B) dari semua sub indikator yang diajarkan. Kundrat sudah dapat mengoperasikan komputer dengan  sangat baik. Misalnya menyalakan dan mematikan komputer, menyebutkan dan membedakan perangkat keras komputer yang satu dengan yang lain. Selain itu dapat membuka dan menutup MS.Word, MS.Excel dan MS.Power Point dan juga dapat menyimpan file (save as) yang telah dikerjakan (mengetik, memasukan foto, gambat, video dan audio).

Lain lagi cerita dari Aldo. Ia bersekolah di sekolah yang sama dengan Kundrat, ia duduk di bangku kelas 3 SD. Andarias Novaldo Yesawen, atau biasa dipanggil Aldo, tinggal di Kampung Womom. Kampung ini bersebelahan dengan kampung tempat Kundrat tinggal. Pada evaluasi pembelajaran sebelum periode dimulai, kemampuan Aldo berada pada angka 25% dalam kategori Tidak Bisa (TB). Secara spesifik Aldo belum punya pengetahuan dasar Bahasa Inggris mengenai huruf, abjad, nama hewan, makanan, warna, salam, nama hari, waktu, serta benda-benda di sekitar rumah dan sekolah. Setelah diajarkan kurang lebih 5 bulan, nilai evaluasi akhir Aldo meningkat menjadi 75% dalam kategori Bisa (B).  Artinya Aldo sudah bisa menyebutkan huruf, abjad, salam, nama hewan (yang ada di kampung), nama hari dalam Bahasa Inggris.

Dari Rumah Belajar Syukwo, kami mengenal Sance. Sance Dorce Yesnath berada di kelas 6 SD Negeri Warmandi. Dalam kemampuan awal berhitung Sance Yesnath berada pada 21.05% dalam kategori Tidak Bisa (TB). Artinya bahwa ada beberapa Sub Indikator yang Sance belum mengerti pada awal pertemuan, diantaranya masih kesulitan dalam mengenal angka ratusan ribu dan angka jutaan. Karena semangat belajar yang tinggi dari Sance dan diajarkan berulang-ulang, Sance dapat mengerti dengan cukup baik angka ratusan ribu dan angka jutaan. Sance memperoleh evaluasi 100% dalam kategori Bisa (B). Artinya Sance sudah bisa melakukan operasi penjumlahan, pengurangan, pembagian dan perkalian menggunakan angka pecahan campuran berdasarkan sub indikator yang diajarkan.

Dari Rumah Belajar Wau-Weyaf, Yohanis Jokser memiliki kemampuan membaca yang sangat menonjol. Saat April 2022, Yohanis Jokser berada di kelas 4 SD Inpres 36 Wau. Kemampuan awal membaca Yohanis berada pada 28.57% dalam kategori Tidak Bisa (TB). Artinya bahwa ada beberapa Sub Indikator yang Yohanis belum mengerti pada awal pertemuan, diantaranya mengeja ketika mendapatkan kalimat yang sulit, namun masih belum bisa dalam penggunaan tanda baca dan menggunakan intonasi yang tepat sesuai tanda baca. Setelah belajar membaca di selama kurang lebih 5 bulan, dengan giat dan rajin Yohanis datang belajar membaca sehingga diperoleh evaluasi akhir 100% dalam kategori Bisa (B). Artinya Yohanis sudah bisa membaca tanpa dengan mengeja dan membaca menggunakan tanda baca.

2 Comments
  • Modesto Brunker
    Posted at 21:44h, 04 Januari

    Hello science4conservation.com owner, Your posts are always informative and up-to-date.

  • Fredrick
    Posted at 18:33h, 31 Januari

    To the science4conservation.com administrator, Thanks for the informative post!