Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Training

Berbagi di Pelatihan Teknik Survei dan Monitoring Penyu di Sorong

Berbagi di Pelatihan Teknik Survei dan Monitoring Penyu di Sorong

Penulis

Yusup Jentewo, Deasy Lontoh

Tanggal

9 Oktober 2023

Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) Papua memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan salah satu kekayaan alam di BLKB adalah penyu. Pantai-pantai di pesisir BLKB menyediakan habitat peneluran bagi penyu belimbing, penyu lekang, penyu hijau dan penyu sisik. Aktivitas peneluran penyu belimbing terbesar di Pasifik terdapat di BLKB. Pelatihan bagi masyarakat pesisir BLKB tentang bagaimana menjaga penyu diperlukan untuk meningkatkan perlindungan terhadap penyu sehingga penyu tetap lestari. FFI Indonesia-Program Papua menyelenggarakan Pelatihan Teknik Survei dan Monitoring Penyu bagi perwakilan masyarakat pesisir antara Sorong dan Sausapor di Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, dan mengundang Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA sebagai narasumber. Pelatihan ini berlangsung selama empat hari mulai dari 11 sampai 14 September 2023 yang dilaksanakan dua hari di Kasuari Valley Beach Resort untuk materi kelas dan Pulau Soop untuk praktek.

Deasy memberikan materi terkait evaluasi sukses penetasan sarang
(Foto : FFI Indonesia-Program Papua)

Yusup memberikan materi terkait evaluasi sukses penetasan sarang
(Foto : FFI Indonesia-Program Papua)

Peserta kegiatan berasal dari beberapa kampung di pesisir Kabupaten Sorong sampai Tambrauw seperti Kampung Kuadas, Della, Megame, Klasbon, Bontolala, Nanggouw, Jokte dan Kelurahan Soop. Tujuan umum dari kegiatan ini adalah untuk mengenalkan teknik survei dan monitoring penyu yang dapat diterapkan peserta di kampung mereka masing-masing. Selain dari Program Sains untuk Konservasi, narasumber lain berasal dari Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (BBKSDA) Papua Barat, FFI Indonesia-Program Papua dan Kelompok Pecinta Alam (KPA) Kabupaten Tambrauw.

Yusup menerangkan perlindungan sarang dengan metode pagar
(Foto : Deasy/S4C_LPPM UNIPA)

Yusup menerangkan perlindungan sarang dengan metode pagar
(Foto : Deasy/S4C_LPPM UNIPA)

Perwakilan Program Sains untuk Konservasi yang hadir menjadi narasumber adalah Deasy Lontoh (Koordinator Penelitian) dan Yusup Jentewo (Program Development Asistant). Materi yang dibawakan seperti teknik patroli pagi, teknik patroli malam, cara melindungi sarang, cara merelokasi sarang, evaluasi sukses penetasan serta ancaman dan upaya pelestarian penyu. Praktek yang dilaksanakan di Pulau Soop seperti praktek perlindungan sarang dengan pagar dan naungan lalu praktek patrol pagi dan malam. Selain materi, dalam pelatihan ini juga diputarkan beberapa video produksi program sains untuk konservasi yang bertemakan penyu. Peserta terpantau sangat antusias dalam mengikuti kegiatan pelatihan ini.

Deasy membantu peserta melakukan pengukuran panjang penyu
(Foto : FFI Indonesia-Program Papua)

Deasy berbagi cara melakukan evaluasi sukses penetasan sarang
(Foto : FFI Indonesia-Program Papua)

Harapannya, pelatihan ini menambah wawasan peserta tentang penyu dan membekali mereka dengan teknik-teknik pemantauan penyu dan perlindungan sarang yang dapat mereka terapkan di pantai peneluran dekat kampung mereka dan dengan demikian memperkuat perlindungan penyu di BLKB.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cerita Tenaga Perlindungan Sarang : Konster Mans Yansen Toni Jadilah Anak Muda yang Terus Belajar dan Menjaga Alam Sekitar

Cerita Tenaga Perlindungan Sarang : Konster Mans Yansen Toni Jadilah Anak Muda yang Terus Belajar dan Menjaga Alam Sekitar

Penulis

Konster Toni

Tanggal

24 September 2023

Halo, perkenalkan nama saya Konster Mans Yansen Toni sering dipanggil Toni. Saya adalah salah satu tenaga perlindungan sarang di pantai Wembrak pada musim teduh 2023. Awal mula bergabung dengan tim perlindungan penyu Program Sains untuk Konservasi, LPPM UNIPA saat mendapatkan info lowongan dari salah satu dosen saya di grup Whatsapp. Puji Tuhan setelah melalui seleksi berkas dan wawancara saya dinyatakan lolos menjadi tenaga perlindungan sarang penyu. Kami diberikan pembekalan di Manokwari dan turun ke lapangan di tanggal 2 Mei 2023. Kami menggunakan kapal Sabuk Nusantara 112 selama 2 hari perjalanan, sampai di Kampung Resye yang merupakan kampung berdekatan dengan pantai peneluran. Kami melanjutkan perjalanan ke pos Batu Rumah dengan menggunakan perahu dan dilanjutkan berjalan kaki 9 km ke pos Wembrak.

Toni membawa Perahu
(Foto : Konster Toni/S4C_LPPM UNIPA)

Toni dan Ai Mesak membuat perlindungan sarang
(Foto : Tonny Duwiri/S4C_LPPM UNIPA)

Saya mendapat banyak ilmu dan pengalaman menjalani empat bulan (April-Juli) bekerja di pantai Wembrak.  Salah satu yang berkesan adalah belajar mengidentifikasi lokasi sarang bersama Ai Mesak (Ai berarti bapak dalam bahasa Abun) salah seorang patroler lokal di Wembrak. Ketika Ai sedang mengidentifikasi lokasi sarang penyu belimbing saya penasaran untuk belajar hal tersebut. Saya pun meminta Ai Mesak untuk mengajarkan saya dan Ai mau mengajarkannya. Ai mengidentifikasi lokasi sarang dengan menggunakan tiang besi berukuran panjang 2 meter dan ketebalan 10 mm. Awalnya Ai membedakan areal kamuflase dan areal sarang lalu Ai menusuk areal sarang dengan besi dan merasakan keberadaan tepat telur. Ai menyuruh saya untuk merasakan besi tersebut ketika di bawahnya terdapat telur, ternyata berbeda ketika hanya pasir. Bersama Ai Mesak saya belajar dalam waktu satu hari dan akhirnya saya bisa mengidentifikasi lokasi sarang penyu belimbing sendiri. Suatu pengalaman yang tidak akan saya dapatkan di tempat lain.

Hal lain yang saya suka saat di lapangan adalah ketika kapal masuk di kampung lalu kami menjemput bahan makanan dan perlengkapan bulanan yang dikirim dari kantor. Kapal akan berlabuh di depan kampung dan kami akan menjemput barang dengan perahu. Kami pun membantu masyarakat untuk memuat hasil kebun mereka ke atas kapal untuk dibawa ke Sorong. Saya juga sangat senang diajarkan membawa perahu oleh kakak Ben (anggota tim di pos Batu Rumah). Buat saya membawa perahu adalah hal yang baru karena saya memang bukan berasal dari wilayah pesisir. Membawa perahu juga bukanlah hal yang mudah dimana kita harus bisa membaca situasi ombak dan gelombang laut. Saya juga menyadari bahwa seorang motoris (pembawa perahu) memiliki tanggung jawab yang besar untuk keselamatan tim saat di perahu.

Pesan saya untuk para pemuda yang membaca cerita saya, jangan bosan untuk belajar hal-hal baru dan teruslah mencari ilmu dan pengalaman untuk bekal nanti dimanapun kita berada.

“Cintailah dan jagalah alam sekitarmu maka alam pun akan menjaga mu” – Konster Toni

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cerita lapang : Menjadi Tenaga Perlindungan Sarang Penyu di Pantai Warmamedi

Cerita lapang : Menjadi Tenaga Perlindungan Sarang Penyu di Pantai Warmamedi

Penulis

Kevin Juliand Suruan

Tanggal

22 September 2023

Haii…Perkenalkan nama saya Kevin Juliand Suruan biasa dipanggil Kevin, saya berasal dari  Biak, lulusan dari Fakultas Kehutanan Universitas Papua (UNIPA) di Kota Manokwari Provinsi Papua Barat. Basic minat saya saat berkuliah adalah Konservasi Sumber Daya Hutan karena saya sangat tertarik dengan pekerjaan di bidang konservasi. Suatu waktu saya mendapatkan info lowongan kerja dari Program Sains untuk Konservasi (S4C) LPPM UNIPA untuk bekerja di pantai peneluran penyu belimbing (Dermochelys coriacea) di Tambrauw.

Saya akhirnya mendaftar di posisi Tenaga Perlindungan Sarang, puji Tuhan saya lolos verifikasi berkas dan seleksi wawancara. Sebelum turun lapangan saya bersama teman-teman yang lolos seleksi mengikuti pelatihan selama empat hari di kantor program di Manokwari.  Kami mendapatkan banyak materi mengenai LPPM UNIPA dan program Sains untuk Konservasi yang berada di bawahnya. Pengenalan jenis penyu dan jejak penyu serta metode pemantauan penyu dan perlindungan sarang, alat-alat yang digunakan, cara penulisan data dan beberapa materi lainnya. Penyampaian materi dari tim S4C sangat baik dan mudah untuk dimengerti, bahkan bagi saya yang tidak punya latar belakang ilmu di bidang kelautan atau biologi.

Kevin sedang membuat perlindungan pagar
(Foto :Kevin Suruan/S4C_LPPM UNIPA)

Membuat perlindungan sarang penyu kecil
(Foto : Kevin-Suruan/S4C_LPPM UNIPA)

Saya ditempatkan di pantai Warmamedi untuk periode April sampai Mei lalu dilanjutkan untuk periode selanjutnya di Juni sampai Juli. Saya bekerja di pantai Warmamedi bersama satu koordinator pantai, dua tenaga lapangan, satu patroler lokal dan satu tenaga perlindungan sarang lokal. Selama menjalani masa kerja saya merasakan suasana baru bersama tim S4C dan masyarakat lokal yang sangat baik seperti keluarga. Begitu banyak ilmu dan pengalaman baru yang saya dapatkan selama bekerja di pantai  seperti secara langsung melihat habitat bertelur dan jejak penyu belimbing, penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea). Saya pun belajar cara menulis pita penanda sarang, mencatat data monitoring, melindungi sarang penyu belimbing, membantu percobaan perlindungan sarang penyu lekang, evaluasi sarang, pengukuran penyu belimbing serta mencoba  menandai penyu dengan PIT tag dan mendeteksi individu penyu yang ditandai dengan scanner.

Kegiatan ini membuat saya belajar bagaimana masyarakat adat ikut terlibat secara langsung dalam upaya konservasi penyu yang berdampak positif bagi kehidupan mereka. Tidak hanya itu beberapa hewan lain juga dilindungi dengan sasi dari pihak adat dan gereja. Sasi mengatur pelarangan pengambilan sumber daya alam selama periode waktu tertentu dengan tujuan memberikan kesempatan bagi margasatwa bertumbuh berkembang biak.  Harapan saya, kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang di Tambrauw dapat terus berjalan karena memberikan dampak positif bagi konservasi penyu serta masyarakat sekitarnya.

Sekian tulisan dari saya dan terima kasih, salam konservasi.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Belajar Sambil Bertualang: Pelajaran Berharga di Pantai Peneluran – Bagian 2

Belajar Sambil Bertualang: Pelajaran Berharga di Pantai Peneluran – Bagian 2

Penulis

Noritha Murafer, Sandona Kuwei

Tanggal

20 September 2023

Tulisan ini merupakan bagian kedua dari kisah perjalanan yang ditulis oleh Noritha Murafer. Simak bagian pertama di sini.

Kami sangat takjub melihat penyu belimbing dengan ukuran yang sangat besar di hadapan kami. Saya, Sandona dan Thomas duduk sekitar 100 meter dari penyu dan menunggu penyu tersebut melakukan bodypit*) untuk bertelur. Agar penyu tidak terganggu, kami tetap menyalakan senter merah dan berbicara seperlunya dengan volume suara yang cukup kecil. Hampir 1 jam kami menunggu penyu belimbing tersebut melakukan bodypit*) sampai dengan bertelur dan mulai menguburkan sarangnya. Thomas bergegas mengambil meteran gulung di sakunya untuk mengukur panjang dan lebar karapas penyu belimbing serta melakukan scan pada bahu penyu tersebut. Kemudian, karena waktu masih cukup, saya dan Sandona diajak untuk mempraktikkannya cara mengukur panjang dan lebar karapas secara bergantian. Kami mengukur panjang karapas: 161 cm dan lebar karapas: 131 cm. Besar sekali toh?!

Proses Scan Penyu Belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Thomas juga ajarkan kami untuk scan nomor PIT TAG menggunakan alat scanner yang disentuhkan ke bagian bahu kiri dan kanan penyu. Alat scan berbunyi dan kami melihat nomor pada alat itu, pertanda bahwa penyu belimbing tersebut sudah pernah naik bertelur di Taman Pesisir Jeen Womom dan ditandai. Kami juga diajar untuk menulis aktivitas yang telah kami lakukan tadi di buku kecil yang biasanya dibawa oleh tim monitoring penyu. Setelah melihat penyu belimbing melakukan kamuflase*), kami memberi tanda pada sarang baru tersebut dengan menanam 3 kayu agar keesokan pagi tim monitoring melakukan perlindungan sarang. Kami berpisah dengan penyu itu. Penyu kembali ke laut dan kami melanjutkan perjalanan kami menyusuri tepi Pantai Warmamedi.

Dalam gelap malam, dari kejauhan kami melihat ada cahaya senter merah menyala sebanyak tiga kali, Ini adalah tanda bahwa tim monitoring di tempat itu melihat penyu belimbing yang naik bertelur. Kami berjalan maju ke arah cahaya senter tersebut dan ternyata benar ada seorang anak magang yang bernama Iwe sedang menunggu penyu tersebut bertelur! Saya dan Sandona beristirahat sejenak sambil melihat penyu tersebut bertelur dan tim monitoring melakukan tugasnya. Penyu belimbing kedua yang kami temui ini adalah penyu yang belum pernah bertelur di TP Jeen Womom sehingga harus dipasang PIT TAG pada bahunya. Thomas memercayakan tugas pemasangan PIT TAG kepada Iwe.

Malam semakin larut, kami harus melanjutkan perjalanan. Tepat pukul 03:00 dini hari saya, Sandona, Thomas dan Iwe tiba di Pos Warmamedi. Kami berempat masing-masing menaruh barang bawaan kemudian beristirahat di Pos Warmamedi.

Perlindungan Sarang. Keesokan harinya, kami memulai perjalanan kembali bersama teman-teman kru*) Warmamedi. Tim di pos ini adalah Elvritha, Abe, Thomas, Iwe dan Faisal. Untuk kegiatan ini saya dan Sandona dibimbing langsung oleh koordinator tim Warmamedi yaitu Muhamad Faisal untuk melakukan perlindungan sarang tersebut. Untuk pembelajaran hari ini, kami akan diajarkan untuk melakukan perlindungan sarang dengan pagar, pakis 1 atau 2 lapis. Menurut informasi dari teman-teman kru*), Sebenarnya di Warmamedi hanya diberlakukan 1 perlindungan yaitu pagar karena ancaman terbesar di pantai ini adalah dari hewan pemangsa telur seperti anjing, babi, biawak, dll. Sedangkan untuk suhu pasir sendiri di Warmamedi relatif normal dan tidak perlu memberikan naungan dengan pakis 1 lapis atau 2 lapis. Namun, Faisal akan tetap mengajarkan kami 3 cara perlindungan tersebut. Kami berjalan dan kini tiba di tempat sarang penyu yang akan dilindungi. Sandona dan Iwe sibuk memotong tanaman pakis hutan, selanjutnya Faisal mengarahkan kami untuk mulai melakukan perlindungan sarang penyu belimbing dengan berpatokan pada diameter sarang yang telah dibuat. Setelahnya Faisal mengajar kami cara mengukur pasang surut air laut dan evaluasi sarang penyu lekang. Ternyata penyu kecil seperti lekang, hijau, dan sisik tidak memiliki telur abnormal. Ini berbeda dengan penyu belimbing yang memiliki telur abnormal. Hari pun semakin sore dan kami harus pulang. Perjalanan pulang kami kembali ke Pos Warmamedi ditemani oleh senja yang begitu indah dan perlahan mulai terbenam.

Penjelasan perlindungan sarang Penyu oleh Bernadus Duwit kepada PM
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Membuat perlindungan sarang Penyu Belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Waktu berlalu begitu cepat banyak yang sudah kami pelajari bersama kru*) di pantai peneluran. Kini tiba saatnya kami harus kembali ke Rumah Belajar Kampung Syukwo tempat Kami bertugas sebagai Tenaga Pendamping Masyarakat. Terima kasih atas waktu dan kesempatan yang diberikan kepada kami untuk belajar dan melihat Penyu secara langsung. Semoga semua pembelajaran ini menjadi bekal bagi kami untuk mengajar pendidikan lingkungan hidup tentang penyu menjadi lebih baik lagi.

*) Bodypit adalah istilah proses pembuatan sarang penyu

*) Kamuflase adalah cara yang biasa dilakukan oleh penyu setelah bertelur untuk menyamarkan jejak sarangnya dari musuh.

*) Kru adalah istilah yang kami gunakan untuk teman-teman kami yang bertugas melakukan kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Belajar Sambil Bertualang: Pelajaran Berharga di Pantai Peneluran – Bagian 1

Belajar Sambil Bertualang: Pelajaran Berharga di Pantai Peneluran – Bagian 1

Penulis

Noritha Murafer, Sandona Kuwei

Tanggal

19 September 2022

Ilmu itu harus diperbaharui dan bahkan harus belajar dari orang lain sebagai sumbernya. Karena itulah saya dan Sandona, yang sehari-harinya mengajar tentang penyu kepada anak-anak di rumah belajar berkunjung ke Pantai Peneluran untuk belajar tentang perlindungan penyu pada teman kami yang bertugas di sana. Sebelumnya, teman kami Alfin dan Evanora juga melakukan hal yang sama di bulan Juli. Tujuan kami sama: belajar agar kami lebih baik lagi ketika mengajar tentang penyu.

Noritha Murafer (Sarjana Informatika) dan Sandona Kuwei (Sarjana Kehutanan) adalah Pendamping Masyarakat yang bekerja di Kampung Syukwo, Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw. Sebelum melakukan tugas sebagai PM, mereka telah dibekali dengan pengetahuan terkait penyu dan upaya konservasi yang dilakukan. Seiring berjalannya waktu saat mereka mengajar PLH, ternyata teori yang mereka dapatkan belum secara maksimal membantu untuk mengajar tentang PLH kepada anak-anak. Mereka masih kesulitan untuk bercerita bagaimana upaya perlindungan penyu dari panas, dan ancaman predator karena mereka belum melihatnya secara langsung.

Kalau Alfin dan Evanora berjalan kaki selama 1 jam dari kampung ke Pantai Jeen Yessa, kami harus naik perahu motor selama 1 jam untuk tiba di lokasi yang sama karena kampung tempat kami bertugas jaraknya lumayan jauh dari pantai peneluran. Kami berangkat pada hari Minggu, 13 Agustus 2023, pukul 15.00 WIT.  Selama kurang lebih 1 jam perjalanan kami disuguhkan begitu banyak pemandangan yang menyejukkan mata dengan keindahannya. Dari kejauhan terlihat hamparan gunung nan tinggi yang dihiasi oleh hijaunya rimbunan dedaunan dari pepohonan. Terlihat kawanan ikan sedang berenang, bermain bersama di laut seakan turut menghantar perjalanan kami menuju Pantai Jeen Yessa. Pukul 16.10 WIT kami tiba di Pos Batu Rumah, disambut oleh teman-teman yang bertugas di sana.

Mengukur pasang surut
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Selama di sana, kami banyak bercerita tentang kegiatan kru di pantai. Kru adalah istilah yang kami gunakan untuk teman-teman kami yang bertugas melakukan kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang. Menurut informasi yang kami terima, di Pantai Batu Rumah biasanya menerapkan 3 cara perlindungan sarang yaitu:
1) pagar (melindungi sarang dari predator);
2) pakis 1 lapis (melindungi sarang dari suhu pasir tinggi);
3) pakis 2 lapis (melindungi sarang dari suhu pasir tinggi juga, namun hasilnya dibandingkan dengan perlindungan dengan pakis 1 lapis).
Ancaman terbesar bagi sarang penyu belimbing di pantai ini kebanyakan karena suhu pasir yang tinggi dibandingkan dari hewan predator. Hewan-hewan yang datang kebanyakan mengincar sarang penyu kecil seperti penyu hijau, penyu sisik ataupun penyu lekang.

Evaluasi sukses penetasan sarang menjadi hal pertama yang kami pelajari. Kami memulai evaluasi sarang dengan membongkar kayu/pagar dan tanaman-tanaman pakis yang digunakan untuk melindungi sarang tersebut. Setelah itu dilanjutkan dengan menggali sarang untuk menghitung jumlah telur yang berhasil menetas. Semua kegiatan evaluasi sarang harus dicatat di buku catatan. Catatan ini membantu kami mengetahui tingkat keberhasilan sarang maupun faktor-faktor yang mempengaruhinya. Setelah evaluasi, semua telur dan cangkang yang gagal menetas atau telur abnormal harus dikuburkan kembali ke dalam sarang dan sarang ditutup kembali.

Pada saat evaluasi sarang penyu belimbing, kami berjumpa dengan tukik yang keluar dari sarangnya. Sungguh senangnya hati ini, untuk pertama kalinya kami melihat tukik penyu belimbing yang hidup secara langsung dan untuk pertama kalinya juga kami melepaskan tukik ke laut dengan harapan semoga mereka selamat dari bahaya di laut.

Evaluasi sarang Penyu Belimbing di Pantai Warmamedi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Evaluasi sarang Penyu Belimbing di Pantai Warmamedi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Monitoring Malam. Jarum jam menunjukkan pukul 22:05 WIT, kegelapan menyelimuti bumi, bulan pun seakan enggan untuk menampakkan cahayanya. Hanya terdengar desiran suara ombak yang begitu kuat mengikis pasir dan batu di tepian pantai. Kami diajak salah seorang kru, Thomas Homba-Homba, untuk melakukan monitoring malam. Kami bertiga bergegas meninggalkan Pos Batu Rumah, menyusuri tepi Pantai Batu Rumah menuju Pantai Warmamedi. Satu harapan kami ketika keluar dari pos: semoga torang baku dapat dengan penyu belimbing yang naik ke pantai untuk bertelur! Kami dibekali sebuah senter kepala yang biasanya dipakai oleh patroler untuk melakukan monitoring malam. Meskipun senter ini memiliki dua warna lampu yaitu putih dan merah, yang boleh kami nyalakan hanya lampu merah. Sebab penyu sangat sensitif terhadap cahaya yang berwarna putih sehingga dapat mengganggu aktivitas penyu yang naik ke pantai untuk bertelur. Dalam perjalanan kami melihat jejak penyu yang naik ke pantai. Kata Thomas ini jejak penyu hijau. Jejaknya hampir sama dengan jejak penyu belimbing, perbedaannya hanya terdapat pada lebar jejaknya. Penyu belimbing memiliki jejak lebih lebar atau besar sedangkan penyu hijau agak kecil. Berkat jejak tersebut, kami berhasil menemukan seekor penyu hijau yang naik ke pantai untuk bertelur. Ini merupakan penyu dewasa pertama yang saya lihat di pantai peneluran.

Setelah puas melihat penyu hijau, kami bertiga pun melanjutkan perjalanan untuk monitoring. Kami juga menerima informasi dari teman-teman kru bahwa ada beberapa penyebab kenapa penyu gagal meletakkan telurnya di pantai; di antaranya karena akar tumbuhan di sekitar pantai yang menghambat proses pembuatan sarang penyu, pasir yang terlalu kering sehingga gugur ke dalam sarang yang sedang digali penyu, pantai yang kotor, atau ada cahaya putih dari senter atau lampu yang membuat penyu merasa terganggu/terancam.

Monitoring malam di pantai Warmamedi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Mengukur lebar karapas Penyu Belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Sekitar 20 menit kami berjalan dan akhirnya di depan pandangan kami terlihat seekor penyu belimbing!!! Kami berjalan maju dan mendekatinya dengan perlahan, tentunya hanya menggunakan senter dengan cahaya berwarna merah. Saat mendekati penyu belimbing, Thomas memberitahukan beberapa hal penting yang harus mereka catat ketika bertemu penyu ataupun jejak penyu: 1) mencatat waktu saat menemukan penyu tersebut, 2) nomor sektor, 3) aktivitas yang dilakukan penyu saat ketemu, 4) keberadaan sarang, 5) panjang dan lebar karapas penyu, 6) scan nomor PIT TAG atau memasang PIT TAG jika penyu belum memilikinya, 7) keterangan lainnya jika terdapat luka ataupun hal-hal lain di tubuh penyu tersebut.

Sungguh suatu pemandangan yang sangat menyentuh!! Kami Tim Pendamping Masyarakat Kampung Syukwo yang selama ini bercerita dan mengajar anak-anak di rumah belajar tentang penyu belimbing melalui informasi yang kami terima dari pembekalan awal, dari buku, dan dari internet, pada akhirnya kami bisa melihat penyu belimbing dewasa tepat di depan mata kami!!!

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Kunjungan Kerja Lapangan Tim Yayasan Penyu Papua di Taman Pesisir Jeen Womom

Kunjungan Kerja Lapangan Tim Yayasan Penyu Papua di Taman Pesisir Jeen Womom

Penulis

Deasy Lontoh

Tanggal

05 September 2023

Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi dan penyu adalah salah satu jenis satwa laut yang hidup di perairan laut, pantai-pantai, dan di pulau-pulau kecil yang tersebar di wilayah ini. Penyu belimbing, hijau, lekang, dan sisik bertelur di pantai-pantai yang ada di BLKB. Yayasan Penyu Papua (YPP) telah bekerja untuk melestarikan penyu hijau (Chelonia mydas) di Pulau Piai dan Pulau Sayang di Raja Ampat sejak tahun 2006. Untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan tim YPP, maka mereka mengunjungi lokasi kerja tim LPPM UNIPA yang juga berupaya dalam pelestarian penyu.

Kunjungan tim YPP berlangsung pada tanggal 22-25 Agustus 2023. Lima staf YPP termasuk Ketua, Ferdiel Ballamu, memulai kunjungan mereka di Rumah Belajar UNIPA di Kampung Resye dan Womom. Pendamping masyarakat dan narahubung (PMNH) LPPM UNIPA berbagi mengenai materi ajar pendidikan lingkungan hidup dan instrumen lainnya seperti permainan. Tim YPP menyaksikan bagaimana para PMNH memandu anak-anak Kampung Resye dalam permainan Dunia Penyu, modifikasi dari permainan ular tangga, yang mengajarkan ancaman-ancaman terhadap penyu. Selain itu, tenaga PMNH berbagi tentang pengelolaan Rumah Belajar secara umum dan aktivitas pemberdayaan masyarakat lainnya, seperti proses produksi minyak kelapa. Sebelum meninggalkan Rumah Belajar, tim YPP menyumbangkan crayon dan lembar mewarnai bertema penyu untuk dipakai di Rumah Belajar.

Foto bersama tim Yayasan Penyu Papua di depan Rumah Belajar di Kampung Womom.(Kredit foto: Yayasan Penyu Papua).

Tenaga pendamping masyarakat dan narahubung LPPM UNIPA berbagi tentang materi ajar Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) yang dilaksanakan di Rumah Belajar. (Kredit foto: Yayasan Penyu Papua)

Tim YPP menyaksikan permainan Dunia Penyu dengan anak-anak dari Kampung Resye.
(Kredit foto: Yayasan Penyu Papua)

Proses mengukur minyak kelapa bersama tim YPP.
(Kredit foto: S4C-LPPM UNIPA)

Dari Kampung Resye dan Womom, tim YPP meneruskan perjalanan ke Pantai Jeen Yessa. Di Pantai Warmamedi, tim YPP membantu evaluasi sukses penetasan pada beberapa sarang penyu belimbing, menyelamatkan 72 tukik penyu belimbing dalam sarang dan melepaskannya, patroli malam, dan berdiskusi dengan koordinator tim Warmamedi tentang pengelolaan data dalam tim dan database. Tim YPP meninjau kandang relokasi di Pantai Wembrak dan memberikan petunjuk-petunjuk agar kandang relokasi dapat dikelola lebih baik. Tim Wembrak juga menunjukkan penelitian tentang naungan cocomesh yang sedang berlangsung. Karena pada malam pertama, tim YPP belum bertemu induk penyu belimbing, mereka turut melakukan patroli malam di Pantai Batu Rumah pada malam terakhir. Namun karena aktivitas peneluran penyu belimbing sudah sangat berkurang menjelang akhir musim peneluran, tim YPP juga tidak berhasil bertemu induk belimbing di Batu Rumah.

Tim YPP membantu tim UNIPA melaksanakan evaluasi sukses penetasan sarang penyu belimbing di Pantai Warmamedi
(Kredit foto: Yayasan Penyu Papua).

Tim YPP membantu tim UNIPA melaksanakan evaluasi sukses penetasan sarang penyu belimbing di Pantai Warmamedi (Kredit foto: Yayasan Penyu Papua).

Tim YPP meninjau kandang relokasi di Pantai Wembrak dan memberikan petunjuk-petunjuk agar kandang relokasi dapat dikelola lebih baik. (Kredit foto: Yayasan Penyu Papua)

Koordinator tim Warmamedi berbagi tentang pengelolaan data dan database (Kredit foto: Yayasan Penyu Papua)

Selama empat hari kunjungan, banyak diskusi yang terjadi antara tim YPP dan tim LPPM UNIPA. Harapannya, tim YPP mendapatkan pengetahuan dan pembelajaran baru yang dapat membantu upaya pelestarian penyu di Pulau Piai dan Pulau Sayang. Tim LPPM UNIPA pun mendapatkan petunjuk-petunjuk yang berguna dari tim YPP untuk meningkatkan efektivitas kegiatan pelestarian penyu di Jeen Yessa.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Inovasi Perlindungan Penyu Kecil di Pantai Warmamedi

Inovasi Perlindungan Penyu Kecil di Pantai Warmamedi

Penulis

Yusup Jentewo, Deasy Lontoh, Muhammad Faisal

Tanggal

30 Agustus 2023

Tenaga Perlindungan Sarang Menganyam Perlindungan Sarang Penyu Kecil
(Foto : Faisal/S4C_LPPM UNIPA)

Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) merupakan fokus perlindungan tim UNIPA di pantai Jeen Yessa dan pantai Jeen Syuab, Kabupaten Tambrauw. Namun tim juga tidak mau menutup mata dengan sarang penyu lain yang terdapat di kedua pantai tersebut. Diketahui terdapat empat jenis penyu yang bertelur di pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab yaitu penyu belimbing, penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Tahun lalu tim telah mencoba melindungi sarang penyu lekang dengan metode pagar yang digunakan untuk melindungi sarang penyu belimbing, namun masih terdapat 57 sarang penyu lekang yang dimangsa babi hutan, anjing dan soasoa atau sekitar 6% dari jumlah sarang penyu lekang di rentan April-September 2022. Hal ini terjadi karena sarang penyu lekang tidak terlalu dalam hanya berkisar antara 32 sampai 54 cm dengan rata-rata 42,4 cm (data LPPM UNIPA tahun 2022).

Koordinator pantai Warmamedi, Muhamad Faisal, memimpin tim lapangan pantai Warmamedi dalam inovasi metode perlindungan sarang penyu kecil, dan tim Warmamedi sangat bersemangat dalam mencoba metode perlindungan ini pada sarang penyu lekang karena telah melihat banyak sarang penyu lekang yang dimangsa. Tim Warmamedi membuat perlindungan sarang dengan menggunakan kayu yang lebih panjang dan ditanam lebih dalam, sekitar 30 cm, dengan diameter 60 cm lalu menganyam atau mengikat kayu perlindungan tersebut dengan tali hutan. Antara Mei dan Juli 2023, tim Warmamedi telah melindungi 45 sarang penyu lekang dengan metode pagar ini dan memilih 45 sarang penyu lekang yang tidak dilindungi sebagai kontrol. Rataan sukses penetasan sarang penyu lekang yang dilindungi dan kontrol akan dibandingkan untuk melihat keefektifan metode yang diterapkan.

Foto sarang Penyu Belimbing dirusak
(Foto : Yusup/S4C_LPPM UNIPA)

Foto tukik Penyu Lekang
(Foto : Yusup/S4C_LPPM UNIPA)

“Memang karena ini perlindungan baru yang kami coba, terdapat beberapa hal yang harus kami perhatikan seperti menusuk kayu dengan lebih dalam dan mengikat tali hutan ke kayu dengan kuat” kata Faisal menjelaskan tantangan dalam membuat perlindungan penyu lekang.

Faisal mengikat Tali Hutan di Perlindungan Penyu Kecil
(Foto : Faisal/S4C_LPPM UNIPA)

Perlindungan Penyu Kecil Hampir Selesai
(Foto : Faisal/S4C_LPPM UNIPA)

Harapan dari metode perlindungan yang dikembangkan ini dapat melindungi sarang penyu lekang dengan efektif sehingga dapat diadopsi di pantai lain.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Rumah Belajar Abun: Merajut Impian Melalui Komputer dan Bahasa Inggris

Rumah Belajar Abun: Merajut Impian Melalui Komputer dan Bahasa Inggris

Penulis

Aflia Pongbatu, Kartika Zohar

Tanggal

25 Agustus 2023

Rumah Belajar Abun adalah mimpi indah yang menjadi kenyataan bagi anak-anak di kawasan Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Di bawah naungan Sains untuk Konservasi dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua, program pendidikan informal ini bertujuan memberikan manfaat berharga bagi anak-anak usia Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) di lima kampung yang beruntung berada dekat pantai peneluran Penyu Belimbing.

Inilah kehebatan Rumah Belajar Abun: menawarkan pelajaran yang tak hanya berkutat pada literasi dan lingkungan hidup, namun juga membuka pintu dunia teknologi dan Bahasa Inggris bagi anak-anak. Bagaimana tidak, di sana mereka belajar mengenal komputer sejak dini! Ide menarik ini muncul dari para orang tua di Kampung Resye yang memahami betapa pentingnya penguasaan teknologi di era modern. Dengan semangat tak kenal lelah, mereka berusaha memastikan anak-anak mereka memiliki kesempatan yang sama untuk bermain dengan komputer dan merajut impian masa depan yang gemilang.

Pembelajaran Comeng di Rumah Belajar Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Belajar Comeng di Rumah Belajar Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Meskipun dana terbatas sempat menjadi rintangan, semangat tak pernah padam. Berkat dukungan dari Seacology, Rumah Belajar Abun di Kampung Resye dan Womom kini dilengkapi dengan tiga unit laptop dan satu unit infokus untuk pembelajaran komputer. Ini adalah awal dari perubahan yang luar biasa. Namun, bukan hanya dua kampung ini yang mendambakan keajaiban teknologi, Kampung Wau-Weyaf dan Syukwo juga turut berharap anak-anak mereka mendapatkan kesempatan serupa. Berkat dukungan dari International Seafood Sustainability Foundation (ISSF) dan Blue Abadi Fund (BAF), mimpi itu menjadi nyata! Dua unit komputer tambahan berhasil dihadirkan untuk RB Wau-Weyaf dan RB Syukwo, mengantar para anak menuju masa depan yang penuh harapan. Namun angka ini tentu belum dapat mengimbangi jumlah anak rumah belajar yang mencapai 120-an anak.

Belajar Comeng di Rumah Belajar Syukwo
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tak pelak, semangat belajar anak-anak kian berkobar. Di antara keterbatasan perangkat dan pasokan listrik yang terbatas, mereka tetap semangat mengikuti pelajaran komputer dan Bahasa Inggris. Pembelajaran komputer dimulai dari yang paling dasar, dari cara menghidupkan dan mematikan komputer, hingga memahami perangkat keras dan pengoperasian Microsoft Office. Sedangkan pembelajaran Bahasa Inggris tak kalah seru! Dalam rangkaian 12 sub indikator, mereka diajarkan segala hal, mulai dari alfabet hingga operasi matematika. Pada tahun 2023, muncul ide untuk menggabungkan kedua pembelajaran ini menjadi satu, dengan nama Computer & English (COMENG), untuk mengatasi keterbatasan waktu pembelajaran yang terbatas. Walaupun jadwal kadang berliku, semangat mereka tetap tak tergoyahkan.

Rumah Belajar Abun adalah cerita keberanian dan keteguhan hati. Para pendamping masyarakat tak pernah berhenti memberikan yang terbaik bagi anak-anak. Mereka memberikan pengajaran intensif dan bahkan turut mendukung penyediaan listrik di kampung dengan membayar iuran agar genset kampung dapat beroperasi. Ketika cuaca cerah menyinari kampung, mereka dengan cerdik memanfaatkannya untuk mengisi daya baterai. Saat mendengar genset warga beroperasi pada malam hari, mereka tak segan-segan untuk menumpang mengisi daya laptop demi membuka jendela masa depan anak-anak.

Tentu, perjuangan ini belum berakhir. Rumah Belajar Abun membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, lembaga, dan organisasi untuk terus menerus memberikan dedikasi terbaik bagi anak-anak di Kawasan Pesisir Jeen Womom. Mari bersama-sama mencerdaskan generasi penerus bangsa. Mari menciptakan dunia di mana setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan mewujudkan impian mereka. Jika kita bergandengan tangan, kita pasti bisa mencapainya!”

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Uncategorized @id

Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Dana Hibah BAF untuk Mitra Penerima Dana Hibah di Manokwari

Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Dana Hibah BAF untuk Mitra Penerima Dana Hibah di Manokwari

Penulis

Noviyanti

Tanggal

22 Agustus 2023

“Pada pendanaan BAF Siklus 3 kami menerima pelatihan yang sama lewat Zoom; tapi yang sekarang (Pendanaan BAF Siklus 4), karena bertemu langsung kami jadi lebih mudah paham bagaimana melakukan pelaporan yang baik ungkap Deny Mampioper dari Yayasan Meos Papua Lestari. Deny adalah salah satu peserta “Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Dana Hibah Program Blue Abadi Fund” yang diselenggarakan di Hotel Triton, Manokwari.

Blue Abadi Fund (BAF) adalah dana perwalian konservasi yang dikhususkan untuk Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dan lembaga lokal untuk mengelola sumber daya kelautan mereka secara berkelanjutan melalui pendampingan dan penyaluran dana hibah. BAF memiliki 2 (dua) fasilitas penyaluran hibah, yaitu fasilitas Hibah Primary dan Hibah Kecil Inovasi. Apabila Sobat Lestari ingin tahu lebih banyak mengenai Blue Abadi Fund dapat mengunjungi website mereka di sini.

Perwakilan Mitra BAF melakukan praktek pembuatan form dan pencatatan keuangan pada template laporan keuangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Perwakilan Mitra BAF melakukan praktek pembuatan form dan pencatatan keuangan pada template laporan keuangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pada pendanaan BAF Siklus ke-4 ini, Yayasan KEHATI selaku administrator BAF mengundang perwakilan Mitra Penerima Hibah BAF Siklus 4 untuk mengikuti kegiatan “Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Dana Hibah Program Blue Abadi Fund”. Kegiatan ini bertujuan memastikan persamaan persepsi dan pemahaman mengenai pengelolaan program dan administrasi keuangan terkait dukungan pendanaan Blue Abadi Fund Siklus 4, baik pada tahap persiapan, pelaksanaan, hingga pelaporan. Perwakilan Mitra Penerima Hibah BAF yang diundang adalah: 1) LPPM UNIPA, 2) Perkumpulan Bentang Nusantara (BENTARA) Papua, 3) Kelompok Usaha Wisata Wadowun Beberin Aisandami, 4) Yayasan Pengelolaan Lokal Kawasan Laut Indonesia (Indonesia Locally Managed Marine Area–ILMMA), 5) Kelompok Pengelola Sasi Kampung Menarbu, dan 6) Yayasan Meos Papua Lestari (YMPL). Kegiatan dilaksanakan selama 3 hari, yaitu Jumat, Sabtu, Senin/ 11, 12, dan 14 Agustus 2023 di Hotel Triton, Manokwari.

Ibu Gita Gemilang selaku fasilitator sedang memberikan materi mengenai praktek pembuatan matrik capaian BAF
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menurut Gita Gemilang, Tim Leader BAF dari Yayasan KEHATI, pendampingan kepada institusi lokal di BLKB secara rutin dilakukan oleh Yayasan KEHATI selaku administrator BAF. Sebelum siklus Pendanaan BAF dimulai, Yayasan KEHATI selalu melakukan kegiatan Sosialisasi mengenai Program Hibah BAF, menyampaikan Arahan Prioritas dan Penyusunan Proposal kepada institusi lokal di wilayah BLKB yang melakukan kegiatan perlindungan dan pengelolaan berkelanjutan untuk menjamin kelestarian ekosistem BLKB. Institusi lokal yang ditargetkan berasal dari organisasi Masyarakat sipil Papua, organisasi nirlaba, kelompok masyarakat, organisasi keagaaman, lembaga pendidikan tinggi, lembaga penelitian universitas, dewan adat, dan lembaga terkait lainnya. Kemudian selama siklus pendanaan BAF, pendampingan dilakukan kepada Mitra Penerima Hibah BAF.

Ibu Dariani Matualage bersama Ibu Deasy Lontoh dari LPPM UNIPA sedang melakukan praktek pembuatan matrik capaian BAF
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kami dari Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA, selaku salah satu Mitra Penerima Hibah Primary BAF, menilai bahwa kegiatan rutin ini tetap memberikan manfaat kepada kami. Kami mencatat beberapa hal-hal penting yang disampaikan oleh para fasilitator yang dapat kami gunakan untuk perbaikan pelaksanaan dan pelaporan program, serta pencatatan dan pelaporan keuangan yang akan kami terapkan di siklus ini. Dalam beberapa diskusi dengan mitra penerima hibah BAF, kami memanfaatkan kesempatan ini untuk berbagi cerita dan pengalaman terkait pengelolaan program dan pelaporan keuangan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

“Dari Rintisan Hingga Difasilitasi Pemerintah: Kisah Inspiratif LPPM UNIPA dalam Mengembangkan Minyak Kelapa”

“Dari Rintisan Hingga Difasilitasi Pemerintah: Kisah Inspiratif LPPM UNIPA dalam Mengembangkan Minyak Kelapa”

Penulis

Michael Tuhuteru

Tanggal

22 Agustus 2023

Perjuangan panjang tim Pendampingan Masyarakat Program Sains untuk Konservasi LPPM Universitas Papua untuk mendampingi masyarakat di Wau dan Weyaf sejak tahun 2013 dalam mengolah minyak kelapa akhirnya berbuah manis. Kurang lebih 10 tahun penguatan kapasitas masyarakat dan kekonsistenan untuk menghasilkan produk minyak kelapa yang berkualitas yang diproduksi oleh masyarakat Wau dan Weyaf akhirnya dilirik oleh pemerintah daerah setempat dalam hal ini oleh Dinas Pertanian Kabupaten Tambrauw.

Pada awal Agustus 2023 kemarin, Dinas Pertanian Kabupaten Tambrauw menyatakan komitmen mereka untuk membangun Rumah Produksi yang terletak di Kampung Wau dan Weyaf Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw. Pembangunan Rumah Produksi ini dilatarbelakangi oleh produksi minyak kelapa yang dihasilkan oleh masyarakat Wau dan Weyaf yang didampingi oleh tim Pendampingan Masyarakat LPPM UNIPA.

Tim dari Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA bersama dengan Kepala Dinas Pertanian dan Kepala Bidang Perkebunan Kabupaten Tambrauw melakukan kunjungan ke Kampung Wau dan Weyaf pada tanggal 12 Agustus 2023 dalam rangka melakukan “Sosialisasi Pembangunan Rumah Produksi Minyak Kelapa”. Sosialisasi ini dilakukan di balai Kampung Weyaf, namun turut dihadiri oleh seluruh masyarakat Wau dan Weyaf. Banyak topik yang dibahas pada sosialisasi ini, terutama yang memiliki hubungannya dengan pertanian, akan tetapi topik utamanya lebih menekankan untuk membahas produksi minyak kelapa.

Tim Sosialisasi tiba dengan perahu di Pantai Wau Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Balai kampung Weyaf yang digunakan untuk Sosialisasi Rumah Produksi Minyak Kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Hasil produksi minyak kelapa yang dibuat oleh masyarakat Wau dan Weyaf cukup menggembirakan secara ekonomi. Namun, kendala yang mereka hadapi yaitu dalam pemasaran produk itu sendiri, karena perizinan dokumen yang dimiliki hanya ada PIRT (Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga) dan Sertifikat Halal saja. Sementara yang seharusnya dibutuhkan juga untuk kedepannya yaitu sertifikat dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), agar pemasaran produk dari minyak kelapa bisa lebih luas area penjualannya dan tingkat kepercayaan konsumen akan semakin lebih tinggi.

Tim Sosialisasi sedang menyampaikan rencana untuk membangun Rumah Produksi Minyak Kelapa kepada masyarakat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Antusias masyarakat Wau dan Weyaf untuk mengahadiri Sosialisasi Rumah Produksi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Oleh karena itu, masyarakat dengan antusias menyediakan tanah mereka untuk dibangun Rumah Produksi Minyak Kelapa seluas 6×10 meter persegi. Besar harapan mereka agar nantinya produk minyak kelapa ini menjadi alternatif tambahan pemasukan bagi mereka dan menjadi sumber pemasukan selain bertani / berkebun dan berburu.

Masyarakat menyambut baik tentang pembuatan Rumah Produksi Minyak Kelapa di kampung mereka
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Foto bersama tim sosialisasi dan masyarakat Wau Weyaf seusai Sosialisasi Rumah Produksi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya