Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Bagaimana kemampuan membaca para siswa di Rumah Belajar UNIPA pada Periode April – September tahun 2022?

Penulis

Kartika Widya Zohar dan Aflia Pongbatu

Tanggal

6 Desember 2022

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Buku adalah jendela untuk melihat dunia. Salah satu cara membuka jendela dunia tersebut adalah dengan membaca. Kemampuan membaca sangat penting untuk kehidupan sehari-hari bagi seorang individu. Berdasarkan pemahaman ini, pembelajaran membaca telah menjadi bagian yang diajarkan pada kegiatan belajar mengajar informal yang dilakukan di Rumah Belajar UNIPA yang terletak di Distrik Abun dan Distrik Tobouw Kabupaten Tambrauw.

Program Sains untuk Konservasi Lembaga Penelitian Universitas Papua secara konsisten telah berkomitmen untuk memajukan Pendidikan bagi anak-anak usia sekolah dengan menyediakan fasilitas Rumah Belajar sejak tahun 2013 lalu. Pada tahun 2022 ini terdapat 4 fasilitas rumah belajar yang melayani total 5 kampung yaitu Kampung Wau, Weyaf, Syukwo (Warmandi), Womom, dan Resye (Saubeba).

Berdasarkan data dari lapangan, terdapat total 117 anak yang terdata telah mengikuti pembelajaran membaca pada 4 lokasi Rumah Belajar. Anak-anak ini diajar oleh 2-3 orang tenaga pendamping masyarakat yang bertugas pada setiap lokasi Rumah Belajar.

Kegiatan Membaca di RB. Wau-Weyaf
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan Membaca di RB. Womom
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Pada kemampuan membaca terdapat 14 Sub Indikator yang disusun untuk membantu proses pembelajaran. 14 Sub indikator ini kemudian akan dinilai dengan 3 kategori yaitu:

  • BISA (ditunjukan dengan kemampuan peserta didik dengan benar (80-100%) melakukan/menunjukan sub indikator penilaian diujikan.
  • KURANG BISA (ditunjukan dengan kemampuan peserta didik dengan kurang benar (50 – 79%) melakukan/menunjukan sub indikator penilaian yang diujikan.
  • TIDAK BISA (ditunjukan dengan kemampuan peserta didik tidak dapat melakukan (0-49%) melakukan/menunjukan sub indikator penilaian yang diujikan.

Pada periode April – September 2022 ini kami mendata berapa jumlah rata-rata siswa yang berada pada kategori BISA untuk setiap sub indikator pembelajaran yang diberikan. Berdasarkan data tersebut kami memperoleh data bahwa sub indikator yang paling mudah yaitu sub indikator B1 (menyebut abjad secara berurutan A-Z) terdapat total rata-rata 41 orang anak yang berada di kategori BISA. Jumlah ini sekitar 35,04% dari total anak yang datang ke Rumah Belajar. Sedangkan pada sub indikator yang paling sulit yaitu sub indikator B14 (menyebutkan dengan benar setiap kalimat dalam sebuah paragraf menggunakan tanda baca dengan benar – intonasi, tanda baca dapat terdengar/diketahui) terdapat total rata-rata 3 orang anak yang berada pada kategori BISA, jumlah ini hanya 2,56% dari total anak yang datang ke rumah belajar.

Kemampuan membaca peserta didik dapat meningkat apabila di tahun berikutnya para siswa dapat lebih giat lagi datang belajar membaca pada fasilitas Rumah Belajar yang telah disediakan. Kehadiran di Rumah Belajar masih menjadi salah satu tantangan bagi para peserta didik untuk meningkatkan kemampuan membacanya. Kabar baiknya, kami melihat perkembangan dari 2-3 orang peserta didik yang belum dapat membaca sama sekali, tetapi mereka telah dapat mengenal huruf dan mengeja perlahan setelah tekun belajar di Rumah Belajar. Kami berharap di masa depan akan ada lebih banyak peserta didik yang meningkat kemampuan membacanya dengan fasilitas Rumah Belajar UNIPA yang berada di kampung-kampung ini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya