Kategori
Uncategorized @id

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi dan Informasi Seleksi Wawancara KP2, TLP2 dan TMP2 Tahun 2024

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi dan Informasi Seleksi Wawancara KP2, TLP2 dan TMP2 Tahun 2024

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Administrasi. Dari hasil seleksi administrasi tersebut 24 Orang pada posisi Koordinator Pantai Peneluran (KP2), 70 Orang pada posisi Tenaga Lapangan Pantai Peneluran (TLP2), dan 13 Orang pada posisi Tenaga Magang Pantai Peneluran (TMP2) dinyatakan LULUS. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri Tahap SELEKSI WAWANCARA. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Wawancara dilaksanakan secara online melalui zoom pada tanggal 20-21 Maret 2024

2. Peserta diharapkan memperhatikan room, tanggal dan jam wawancara dengan cermat

3. Peserta diharapkan telah hadir 10 menit sebelum waktu wawancara di ruang zoom yang telah disediakan (link zoom menyusul)

4. Teknis pelaksanaan wawancara akan disampaikan melalui WAG sehingga pastikan Anda telah tergabung dalam WAG yang diperoleh ketika mendaftar pertama kali

5. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya. Sampai bertemu di seleksi selanjutnya.

Catatan :

Pelamar KP2: cek di halaman 1

Pelamar TLP2 : cek di halaman 2-4

Pelamar TMP2 : cek di halaman 5

Kategori
Lowongan Kerja Lowongan Kerja

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap I dan Informasi Seleksi Wawancara Surveyor Lapangan Tahun 2024

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap I dan Informasi Seleksi Wawancara Surveyor Lapangan Tahun 2024

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Administrasi. Dari hasil seleksi administrasi tersebut 22 orang dinyatakan LULUS. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri Tahap SELEKSI WAWANCARA. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

 

1. Wawancara akan dilaksanakan tanggal 22-23 Februari 2024

2. Wawancara dilakukan secara online dan offline (khusus yang berdomisili di Manokwari)

3. Peserta yang Lulus Tahap Wawancara akan dihubungi secara langsung (WhatsApp Group)

4. Bila ada hal-hal yang kurang jelas, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

 

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya.

Kategori
Lowongan Kerja Lowongan Kerja

Pengumuman Hasil Seleksi Wawancara PMNH Tahun 2024

Pengumuman Hasil Seleksi Wawancara PMNH Tahun 2024

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah mengikuti tahap seleksi wawancara Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) pada tanggal 13 Februari 2024. Berikut kami sampaikan nama-nama pelamar yang telah LULUS Tahap SELEKSI WAWANCARA dan terpilih sebagai KANDIDAT UTAMA. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

1. Pelaksanaan Training dan Seleksi Akhir dilakukan di Manokwari, Papua Barat

2. Kandidat pelamar PMNH diundang ke Manokwari untuk mengikuti Training & Seleksi Akhir yang akan dilaksanakan pada tanggal 26 – 28 Februari 2024

3. Peserta yang diundang dalam Training dan Seleksi Akhir diwajibkan mengisi form kesediaan pada link berikut: paling lambat tanggal 21 Februari 2024 pukul 17.00 WIT

4. Peserta yang namanya tidak tercantum di atas akan masuk ke dalam Daftar Tunggu dan akan dihubungi paling lambat 22 Februari 2024, jika terpilih mengikuti seleksi tahap selanjutnya

5. Bila ada hal yang belum jelas, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Sampai bertemu di Manokwari!

Kategori
Lowongan Kerja

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi dan Informasi Seleksi Wawancara PMNH Tahun 2024

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi dan Informasi Seleksi Wawancara PMNH Tahun 2024

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Administrasi. Dari hasil seleksi administrasi tersebut 28 Orang dinyatakan LULUS. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri Tahap SELEKSI WAWANCARA. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

 

1. Wawancara dilaksanakan secara online melalui zoom pada tanggal 13 Februari 2024

2. Peserta diharapkan telah hadir 10 menit sebelum waktu wawancara di ruang zoom yang telah disediakan (link zoom menyusul)

3. Teknis pelaksanaan wawancara akan disampaikan melalui WAG sehingga pastikan Anda telah tergabung dalam WAG yang diperoleh ketika mendaftar pertama kali

4. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

 

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya.

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Menjadi Tenaga Perlindungan Sarang di Pantai Jeen Syuab

Menjadi Tenaga Perlindungan Sarang di Pantai Jeen Syuab

Penulis

Denis Papua Baransano

Tanggal

22 Desember 2023

Hai! Perkenalkan nama saya Denis Papua Baransano atau biasa  dipanggil Denis. Saya berasal dari suku Biak namun tinggal dan besar di Manokwari, dan saya lulus dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Papua (UNIPA) di kota Manokwari Provinsi Papua Barat. Basic ilmu yang saya pelajari saat berkuliah adalah Ilmu Kelautan, karena saya tertarik dengan pekerjaan konservasi laut. Saya mendapat informasi terkait lowongan sebagai tenaga perlindungan sarang ini dari Instagram Program Sains untuk Konservasi (S4C). Saya lalu mendaftar dan akhirnya diterima. Saya bersama tenaga perlindungan sarang lain selanjutnya mendapat pembekalan mengenai penyu dan pekerjaan yang akan dilakukan. Saya ditempatkan di pantai Jeen Syuab untuk periode periode Juni sampai Juli lalu dilanjutkan untuk periode Agustus sampai September tahun 2023. Saya bekerja bersama tim dan tinggal di posko lapangan di pantai peneluran.

Saya bersyukur dapat melihat secara langsung habitat peneluran empat jenis penyu yang bertelur di pantai ini. Di lapangan saya belajar cara menandai sarang, mengukur pasang surut pantai, mencatat data monitoring malam, monitoring pagi, melindungi sarang penyu belimbing,  serta menandai penyu dengan PIT tag. Itu semua dilakukan untuk dapat memonitoring peneluran penyu dengan baik dan data yang dikumpulkan dapat digunakan untuk upaya pelestarian penyu.

 

Denis sedang mengukur indukan penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi saya adalah pada saat pertama saya bertemu penyu belimbing ketika melakukan monitoring malam. Saya berjalan bersama tim membawa meteran kain, scanner, alat PIT tag dan senter kepala. Monitoring dilakukan ke arah sektor kecil (arah timur dari posko) dengan harapan ada penyu belimbing yang akan naik untuk bertelur, pada saat jalan tiba-tiba ada seekor penyu belimbing naik ke pantai menggali sarang untuk bertelur. Setelah penyu bertelur, dengan santai saya mendekati penyu tersebut, hal yang pertama dilakukan adalah melakukan scan untuk mengetahui apakah penyu tersebut sudah memiliki PIT tag. Setelah dicek ternyata penyu tersebut adalah penyu yang belum memiliki PIT tag. Saya selanjutnya menyiapkan penanda PIT tag dan menandai penyu belimbing diajari tim yang sudah lebih berpengalaman. Setelah itu saya memakai scanner untuk melihat nomor ID dan mencatat di buku monitoring, saya lanjut mengukur panjang dan lebar karapas penyu belimbing dan mencatatnya dalam buku. Hal tersebut menjadi pengalaman yang sangat mendebarkan sekaligus sangat menarik karena langsung berinteraksi dengan penyu belimbing yang mempunyai ukuran sangat besar. Penandaan penyu ini bertujuan untuk memperkirakan jumlah indukan yang naik ke pantai karena satu indukan dapat naik lebih dari sekali dalam satu musim peneluran.

Dari keterlibatan saya dalam kegiatan ini, saya menyadari bahwa kegiatan yang dilakukan tim S4C sangat positif dan juga sangat bermanfaat bagi masyarakat. Saya berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut agar penyu di Kabupaten Tambrauw dapat lestari.

Sekian dan terima kasih. Salam lestari.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Belajar dari Malam yang Gelap: Inspirasi dan Keterlibatan Ronsiwer Awom dalam Konservasi Penyu di Pantai Jeen Yessa

Belajar dari Malam yang Gelap: Inspirasi dan Keterlibatan Ronsiwer Awom dalam Konservasi Penyu di Pantai Jeen Yessa

Penulis

Ronsiwer S. Allibay Awom

Tanggal

8 Desember 2023

Hai perkenalkan nama saya Ronsiwer S. Allibay Awom biasa dipanggil Iwe, saya berasal dari Nabire dan merupakan lulusan dari Universitas Papua di Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Saya adalah tenaga perlindungan sarang pada musim teduh periode akhir (Agustus-September) di pantai Jeen Yessa atau lebih spesifiknya di pantai Warmamedi. Awal bergabung dengan tim perlindungan penyu di pantai Jeen Yessa dari program Sains untuk Konservasi (S4C) LPPM UNIPA saya mendapat informasi dari senior saya lalu saya mendaftar dan mengikuti seleksi berkas dan wawancara, akhirnya saya dinyatakan lulus. Sebelum saya dan teman lainnya turun lapangan, kami mengikuti pelatihan selama empat hari di Manokwari. Karena saya bertugas pada periode ketiga maka saya harus menunggu selama empat bulan yaitu di bulan Agustus untuk turun ke lapangan, namun tidak membuat saya patah semangat.

Ronsiwer melakukan pengukuran kedalaman sarang pada saat evaluasi sukses penetasan sarang di Warmamedi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Ronsiwer melakukan pengukuran indukan penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Saat berada di lapangan ternyata banyak pengalaman dan hal baru yang saya dapatkan selama bekerja di pantai, seperti melihat secara langsung penyu bertelur. Saya juga belajar cara melindungi sarang penyu, menulis data monitoring, mengukur panjang dan lebar penyu, evaluasi sukses penetasan sarang penyu, menandai penyu dengan PIT tag, menulis pita untuk menandai sarang penyu, dan mengidentifikasi sarang penyu. Hal-hal tersebut kami lakukan, ada beberapa hal yang sebenarnya bukan tanggung jawab saya namun karena ingin belajar maka saya juga ingin melakukannya. Pengalaman yang paling saya ingat saat awal bekerja adalah monitoring malam sendirian dengan suasana pantai yang gelap dan sunyi dengan jarak monitoring yang cukup jauh sekitar 8-10 km untuk total kami berjalan setiap malam. Kami berjalan selama kurang lebih 4-5 jam, tidak terasa karena kadang kami membagi kelompok jalan. Rasa takut dan lelah pasti ada namun semua terbayar ketika menemukan penyu yang akan bertelur. Melihat hewan langka ini secara langsung dan menjaganya bertelur memberikan kepuasan tersendiri bagi saya.

Saat bekerja di pantai Jeen Yessa, saya juga merasakan suasana baru bersama teman-teman S4C dan masyarakat lokal yang baik hati seperti keluarga. Saya merasa bangga kepada masyarakat adat pesisir pantai Jeen Womom yang terlibat langsung dengan kegiatan konservasi. Mereka ikut memantau aktivitas peneluran penyu dan juga melindungi sarang penyu. Tidak hanya penyu yang berusaha dilindungi masyarakat setempat, juga satwa lain dengan aturan adat setempat dan juga gereja dengan Sasi. Saya berharap, kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang, dan kepedulian masyarakat adat terhadap kekayaan alam yang ada di pesisir pantai Jeen Womom akan terus berlanjut karena sangat berdampak baik bagi kehidupan satwa yang ada dan juga bagi kehidupan masyarakat sekitar.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Diseminasi

Pemaparan hasil kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang di pantai Jeen Yessa bagi masyarakat kampung Resye dan Womom

Pemaparan hasil kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang di pantai Jeen Yessa bagi masyarakat kampung Resye dan Womom

Penulis

Yusup Jentewo

Tanggal

14 November 2023

Tim pemantauan penyu dan perlindungan sarang S4C LPPM UNIPA (“tim pantai”) bersama masyarakat lokal telah bekerja keras di pantai Jeen Yessa sejak April 2023, yakni awal musim peneluran penyu belimbing. Menjelang akhir musim, tim pantai melakukan pemaparan hasil kegiatan bagi masyarakat kampung Resye dan Womom. Presentasi hasil kegiatan ini dilakukan pada hari Minggu tanggal 17 September 2023 di samping Rumah Belajar UNIPA di kampung Resye. Terdapat 24 anggota masyarakat yang hadir, terdiri dari 12 orang perempuan dan 12 orang laki-laki.  Pendeta dari Gereja Lahai-Roi di kampung Resye, Ibu Christina Wakum, membuka kegiatan dengan doa.

Natalia menjadi pembawa acara di kegiatan ini
(Foto : Spenyel Yenusy_S4C LPPM UNIPA)

Mayustilo Memaparkan hasil kegiatan tim pantai Jeen Yessa
(Foto : Spenyel Yenusy_S4C LPPM UNIPA)

Kegiatan ini diterima baik oleh masyarakat. Masyarakat senang mendengar hasil kegiatan tim yang bekerja di pantai bersama masyarakat lokal. Melalui presentasi ini, masyarakat yang hadir, termasuk mereka yang tidak terlibat dalam kegiatan di pantai peneluran, mendapatkan informasi tentang apa yang dilakukan untuk melestarikan penyu dan hasilnya. Dua dari enam pemilik pantai Jeen Yessa juga hadir dalam kegiatan ini. Seorang anggota masyarakat kampung Resye, Bapak Enos Yesnath, memberikan saran agar dapat dibuatkan video pelepasan tukik bersama masyarakat lokal yang kemudian dapat digunakan untuk instrumen penyadartahuan.

Pemaparan hasil kegiatan pada akhir musim peneluran bagi masyarakat lokal rutin dilakukan tim sejak 2019. Kegiatan ini penting karena memberikan informasi dan pengetahuan bagi masyarakat lokal dan kesempatan berdiskusi antara tim pantai dan masyarakat lokal. Terlebih lagi, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki dan kebanggaan dalam setiap anggota masyarakat karena semua capaian dalam upaya pelestarian penyu musim ini adalah hasil kerja bersama LPPM UNIPA dan masyarakat lokal.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Ibu Pendeta Christina Wakum memimpin doa
(Foto : Spenyel Yenusy_S4C LPPM UNIPA)

Berita Lainnya

Kategori
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

SAV Hadir Kembali, Tetap Berkesan Meskipun Pandemi Sudah ‘Pergi’

SAV Hadir Kembali, Tetap Berkesan Meskipun Pandemi Sudah ‘Pergi’

Penulis

Noviyanti

Tanggal

24 Oktober 2023

Sekolah Alam Virtual, atau yang biasa kami sebut SAV, hadir kembali! Kalau boleh jujur, sebenarnya pada awalnya tim kami agak ragu karena pandemi sudah berakhir. Kami kuatir peserta akan lebih sedikit dari SAV sebelumnya karena kebanyakan orang sudah tidak lagi beraktivitas di dalam rumah. Namun, kekuatiran tidak menghambat kami untuk berkreasi.

SAV pertama kalinya hadir secara virtual pada masa pandemi COVID-19. Pada masa itu, kami tim penjangkauan masyarakat yang biasanya bertugas melakukan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) kepada pelajar di wilayah Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) Papua terpaksa menghentikan kegiatan kami karena pembatasan perjalanan dan larangan pemerintah untuk berkumpul. Namun, hambatan itu justru menghasilkan ide kreatif. Kami melakukan PLH melalui platform Zoom dan YouTube dan ada banyak sekali peserta dari seluruh Indonesia dan dari berbagai kelompok umur. Tidak hanya pelajar tetapi juga mahasiswa dan orang-orang yang sudah bekerja yang hadir menyaksikannya.

Pada masa pandemi kami menyuguhkan fakta-fakta menarik terkait mamalia laut, burung endemik papua, mamalia endemik papua, manfaat mereka bagi keberlangsungan ekosistemnya, serta mengajak peserta untuk turut melestarikan mereka di alamnya. Peserta yang hadir mengatakan mereka belajar banyak dari SAV ini. Kami yang bertugas menyiapkan SAV juga belajar banyak informasi baru dari para narasumber yang sangat ahli di bidang konservasi satwa-satwa ini. Oleh karena itu, setiap episodenya selalu dinantikan oleh para peserta SAV maupun oleh kami di Program Sains untuk Konservasi.

Pembi, maskot SAV, bercerita lewat video
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Materi presentasi SAV Episode 1
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tahun ini, meskipun pandemi COVID-19 sudah berakhir, kami sangat senang karena pendonor kami, Blue Abadi Fund, membantu kami untuk kembali melaksanakan SAV. Kali ini kami membuat SAV menjadi lebih interaktif, bahkan kami membuat maskot SAV bernama Pembi! Pembi adalah tokoh virtual yang bercerita banyak hal tentang laut dari sisi seekor penyu yang hidup di laut melalui suara dan video pendek.

Ya! Pembi! Nama yang unik ini berasal dari singkatan Penyu Belimbing. Kami memilih hewan ini karena tim kami juga bekerja di Taman Pesisir Jeen Womom untuk pelestarian Penyu Belimbing di beberapa wilayah pantai peneluran di sana. Melalui Pembi, kami mengajak Sobat SAV mengenal keindahan laut serta manfaat laut untuk manusia. Pembi pertama kali kami perkenalkan pada episode pertama kami, tanggal 6 Oktober 2023. Episode pertama ini kami beri judul: Apa gunanya laut untuk kita?

Ibu Deasy Lontoh sebagai narasumber SAV Episode 1
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Setelah cerita dari Pembi, narasumber menambahkan informasi untuk peserta. Narasumber pada episode pertama ini adalah Kaka Deasy Lontoh. Kaka Deasy adalah peneliti penyu belimbing di tim kami. Pada episode pertama kemarin, kaka Deasy bercerita tentang ekosistem terumbu karang, mangrove, dan padang lamun, serta manfaat laut dalam menjaga iklim bumi agar tetap sehat. Jika Sobat SAV tertarik ingin melihat rekamannya, sobat SAV dapat menyimaknya di sini.

Kuis berhadiah pada SAV Episode 1 menggunakan kahoot!
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kesan dan pesan peserta pada SAV Episode 1
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pada episode-episode berikutnya kami akan mengangkat isu lainnya seperti: a) Benarkah laut kita sedang rusak?; b) Apa akibatnya kalau laut kita rusak?; c) Apa yang bisa aku buat untuk laut?; dan d) Apa pemerintah juga menjaga laut kita? Semua episode ini kami kemas ke dalam judul besar yang kami sebut Seri Life Below Water. Jika sobat SAV tertarik menyimak setiap episodenya, ikuti terus sosial media kami untuk mendapatkan informasi terkait jadwal SAV berikutnya di sini ya!

Tabel Asal Peserta SAV Episode 1

NoAsal PesertaJumlah Peserta
1Sumatera2
2Jawa12
3Kalimatan1
4Sulawesi3
5Papua24
6Maluku1
7Bali, NTB, NTT2

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Berkunjung melihat prosesi Buka Sasi di Kampung Menarbu

Berkunjung melihat prosesi Buka Sasi di Kampung Menarbu

Penulis

Yusup Jentewo, Habema Monim

Tanggal

18 Oktober 2023

Kampung Menarbu merupakan salah satu kampung di Distrik Roon, Kabupaten Teluk Wondama. Kampung ini terkenal sebagai kampung sasi di Teluk Wondama karena memiliki budaya  tradisional, yaitu sasi yang dipertahankan sampai hari ini. Sasi di kampung Menarbu dikenal dengan nama lokal yaitu kadup, didefinisikan sebagai menutup sebagian wilayahnya dari pemanfaatan masyarakat dalam kurun waktu tertentu.

Bentuk pengelolaan sasi di masyarakat adat Papua umumnya ditetapkan berdasarkan kesepakatan bersama, seperti sasi adat, sasi gereja, sasi pemuda dan lainnya. Mereka memilih ekosistem atau organisme yang akan di sasi sesuai dengan isu yang terdapat di lokasi mereka. Kampung Menarbu sendiri memilih bentuk pengelolaan sasi adat yang didukung oleh gereja, sedangkan yang di sasi adalah ekosistem laut dangkal sampai mendekati laut dalam dengan organisme yang memiliki nilai ekonomis penting seperti teripang, bia lola, ikan karang, lobster dan lainnya.

Dua anak perempuan sehabis menari di buka sasi
(Foto : Habema Monim/S4C_LPPM UNIPA)

Tim program sains untuk konservasi LPPM Universitas Papua berkesempatan berkunjung ke kampung Menarbu untuk mengikuti kegiatan buka sasi. Buka sasi di Kampung Menarbu dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 8 September 2023, sasi akan dibuka selama dua bulan. Sebelumnya Sasi di kampung Menarbu telah ditutup selama empat tahun, yaitu sejak tahun 2019. Setelah membantu pendataan wilayah sasi bersama kelompok Wadowun Beberin di kampung Aisandami, tim program sains untuk konservasi yang diwakili Yusup Jentewo dan Habema Monim berkesempatan untuk mengunjungi buka sasi di kampung Menarbu. Yusup sebenarnya sudah cukup banyak mengenal masyarakat dan kelompok di Menarbu dari pekerjaan sebelumnya dan senang dapat berkunjung kembali di kampung ini.

Foto Jembatan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kampung Menarbu melalui pengelola sasinya tahun ini berkesempatan mendapat bantuan pendanaan kegiatan konservasi dari Blue Abadi Fund (BAF) dalam kategori small grant. Sumber pendanaan yang sama seperti yang didapatkan Program Sains untuk Konservasi sejak tahun 2017. Sesama penerima grant konservasi laut, tentu saja Program Sains untuk Konservasi dan Pengelola Sasi kampung Menarbu dapat saling mendukung. Sebagai contoh dalam perayaan buka sasi kampung Menarbu, Program Sains untuk Konservasi bersama staf Balai Taman Nasional Teluk Cenderawasih membantu mendokumentasikan video perayaan buka sasi. Kegiatan buka sasi di Kampung Menarbu yang terdiri dari beberapa tahapan seperti penyambutan tamu, ibadah buka sasi di gereja, doa dan pengambilan biota di laut serta makan hasil laut bersama. Buka sasi ini juga masuk dalam salah satu agenda Festival Pulau Roon 2023 pada hari kedua.

Tim monitoring masyarakat mengambil biota Lobster untuk penyerahan
(Foto : Mulyadi/BBTNTC)

Lobster hasil buka sasi_1
(Foto : Habema Monim/S4C_LPPM UNIPA)

Selain membantu mendokumentasikan prosesi buka sasi di kampung Menarbu, pengelola sasi kampung Menarbu pun berencana mengundang kembali tim sains untuk konservasi LPPM UNIPA untuk mendata sumber daya laut di lokasi ini dua bulan pasca buka sasi, yakni di awal November 2023.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Pengetahuan dan Konservasi : Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA membantu Kelompok di Aisandami Melihat Sumberdaya Laut Mereka

Pengetahuan dan Konservasi : Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA membantu Kelompok di Aisandami Melihat Sumberdaya Laut Mereka

Penulis

Yusup Jentewo, Habema Monim

Tanggal

17 Oktober 2023

Kampung Aisandami adalah salah satu kampung ekowisata yang ada di Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Wisata yang ditawarkan di kampung ini mulai dari wisata bahari seperti snorkeling dan menyelam hingga wisata hutan seperti pemantauan burung. Masyarakat setempat merupakan pengelolanya sendiri, yang tergabung dalam Kelompok Ekowisata Wadowun Beberin. Sejak tahun 2021 pemerintah kampung bersama kelompok Wadowun Beberin serta pihak gereja memberlakukan aturan sasi untuk melindungi spot wisata bahari mereka tetap terjaga sekaligus sejalan dengan kemauan pemilik hak ulayat. Aturan sasi ini menutup wilayah pulau Numamuram dan sebagian area di dalam teluk dalam kampung Aisandami (Teluk Duairi).

Kelompok Wadowun Beberin kampung Aisandami tanggal 19 Agustus 2023 meminta Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA untuk membantu mendata sumberdaya laut di wilayah sasi kampung Aisandami dan berbagi pengetahuan dengan tim monitoring masyarakat di Kampung Aisandami. Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA pun menerima permintaan tersebut. Sebelum pergi tim Program Sains untuk Konservasi mengajukan SIMAKSI (Surat ijin masuk kawasan konservasi) dan melakukan presentasi kepada Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) menjelaskan maksud dan tujuan ke Aisandami yang berada di dalam area taman nasional.

Foto bersama dengan tim monitoring masyarakat dan ketua kelompok Wadowun Beberin
(Foto : Kelompok Wadowun Beberin)

Tanggal 2 September 2023 tim Program Sains untuk Konservasi yang diwakili Yusup Jentewo dan Habema Monim bersama salah seorang staf dari Balai Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) yaitu Mulyadi pergi dari Manokwari menuju Aisandami memenuhi undangan tersebut. Kegiatan di Aisandami dilaksanakan selama empat hari mulai dari 3 sampai 6 September 2023. Kegiatan berisikan sharing materi, praktek dan pendataan di lokasi yang ditentukan. Data yang diambil adalah bentuk pertumbuhan karang, inventarisasi mega benthos, serta jenis ikan ekonomis penting dan ikan ekologis penting. Selain mendampingi masyarakat dengan menggunakan metode time swimming (berenang) untuk mendata, tim juga mendata dengan menyelam dengan metode line transek dan sensus visual.

Yusup bersama tim monitoring masyarakat Aisandami sedang pemanasan sebelum ke laut
(Foto : Tonci Somisa)

Salah seorang tim monitoring masyarakat Aisandami sedang belajar mengambil data
(Foto : Yusup Jentewo/S4C_LPPM UNIPA)

Tim mendata di 4 titik lokasi pendataan yang terdiri dari 2 titik di Pulau Numamuram, 1 titik di dekat pulau Rupon dan 1 titik di dalam teluk Duairi. Secara umum lokasi yang dipantau menyajikan keindahan terumbu karang yang menarik, terdapat lokasi yang memang berpotensi menjadi spot wisata penyelaman dan snorkeling. Tim monitoring masyarakat yang terdiri dari lima orang masyarakat lokal yang ikut dalam kegiatan sangat senang mendapat materi dan pengalaman baru dalam kegiatan ini. Harapannya data yang diambil dapat bermanfaat bagi kelompok serta masyarakat dan tim monitoring masyarakat dapat terus menjaga wilayah sasi dan perairan Aisandami dengan semangat.

Habema sedang mengambil data dengan menyelam
(Foto : Mulyadi/BBTNTC)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya