Kategori
Lowongan Kerja

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi dan Informasi Seleksi Wawancara PMNH Tahun 2024

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi dan Informasi Seleksi Wawancara PMNH Tahun 2024

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Administrasi. Dari hasil seleksi administrasi tersebut 28 Orang dinyatakan LULUS. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri Tahap SELEKSI WAWANCARA. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

 

1. Wawancara dilaksanakan secara online melalui zoom pada tanggal 13 Februari 2024

2. Peserta diharapkan telah hadir 10 menit sebelum waktu wawancara di ruang zoom yang telah disediakan (link zoom menyusul)

3. Teknis pelaksanaan wawancara akan disampaikan melalui WAG sehingga pastikan Anda telah tergabung dalam WAG yang diperoleh ketika mendaftar pertama kali

4. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

 

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya.

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Menjadi Tenaga Perlindungan Sarang di Pantai Jeen Syuab

Menjadi Tenaga Perlindungan Sarang di Pantai Jeen Syuab

Penulis

Denis Papua Baransano

Tanggal

22 Desember 2023

Hai! Perkenalkan nama saya Denis Papua Baransano atau biasa  dipanggil Denis. Saya berasal dari suku Biak namun tinggal dan besar di Manokwari, dan saya lulus dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Papua (UNIPA) di kota Manokwari Provinsi Papua Barat. Basic ilmu yang saya pelajari saat berkuliah adalah Ilmu Kelautan, karena saya tertarik dengan pekerjaan konservasi laut. Saya mendapat informasi terkait lowongan sebagai tenaga perlindungan sarang ini dari Instagram Program Sains untuk Konservasi (S4C). Saya lalu mendaftar dan akhirnya diterima. Saya bersama tenaga perlindungan sarang lain selanjutnya mendapat pembekalan mengenai penyu dan pekerjaan yang akan dilakukan. Saya ditempatkan di pantai Jeen Syuab untuk periode periode Juni sampai Juli lalu dilanjutkan untuk periode Agustus sampai September tahun 2023. Saya bekerja bersama tim dan tinggal di posko lapangan di pantai peneluran.

Saya bersyukur dapat melihat secara langsung habitat peneluran empat jenis penyu yang bertelur di pantai ini. Di lapangan saya belajar cara menandai sarang, mengukur pasang surut pantai, mencatat data monitoring malam, monitoring pagi, melindungi sarang penyu belimbing,  serta menandai penyu dengan PIT tag. Itu semua dilakukan untuk dapat memonitoring peneluran penyu dengan baik dan data yang dikumpulkan dapat digunakan untuk upaya pelestarian penyu.

 

Denis sedang mengukur indukan penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi saya adalah pada saat pertama saya bertemu penyu belimbing ketika melakukan monitoring malam. Saya berjalan bersama tim membawa meteran kain, scanner, alat PIT tag dan senter kepala. Monitoring dilakukan ke arah sektor kecil (arah timur dari posko) dengan harapan ada penyu belimbing yang akan naik untuk bertelur, pada saat jalan tiba-tiba ada seekor penyu belimbing naik ke pantai menggali sarang untuk bertelur. Setelah penyu bertelur, dengan santai saya mendekati penyu tersebut, hal yang pertama dilakukan adalah melakukan scan untuk mengetahui apakah penyu tersebut sudah memiliki PIT tag. Setelah dicek ternyata penyu tersebut adalah penyu yang belum memiliki PIT tag. Saya selanjutnya menyiapkan penanda PIT tag dan menandai penyu belimbing diajari tim yang sudah lebih berpengalaman. Setelah itu saya memakai scanner untuk melihat nomor ID dan mencatat di buku monitoring, saya lanjut mengukur panjang dan lebar karapas penyu belimbing dan mencatatnya dalam buku. Hal tersebut menjadi pengalaman yang sangat mendebarkan sekaligus sangat menarik karena langsung berinteraksi dengan penyu belimbing yang mempunyai ukuran sangat besar. Penandaan penyu ini bertujuan untuk memperkirakan jumlah indukan yang naik ke pantai karena satu indukan dapat naik lebih dari sekali dalam satu musim peneluran.

Dari keterlibatan saya dalam kegiatan ini, saya menyadari bahwa kegiatan yang dilakukan tim S4C sangat positif dan juga sangat bermanfaat bagi masyarakat. Saya berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut agar penyu di Kabupaten Tambrauw dapat lestari.

Sekian dan terima kasih. Salam lestari.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Belajar dari Malam yang Gelap: Inspirasi dan Keterlibatan Ronsiwer Awom dalam Konservasi Penyu di Pantai Jeen Yessa

Belajar dari Malam yang Gelap: Inspirasi dan Keterlibatan Ronsiwer Awom dalam Konservasi Penyu di Pantai Jeen Yessa

Penulis

Ronsiwer S. Allibay Awom

Tanggal

8 Desember 2023

Hai perkenalkan nama saya Ronsiwer S. Allibay Awom biasa dipanggil Iwe, saya berasal dari Nabire dan merupakan lulusan dari Universitas Papua di Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Saya adalah tenaga perlindungan sarang pada musim teduh periode akhir (Agustus-September) di pantai Jeen Yessa atau lebih spesifiknya di pantai Warmamedi. Awal bergabung dengan tim perlindungan penyu di pantai Jeen Yessa dari program Sains untuk Konservasi (S4C) LPPM UNIPA saya mendapat informasi dari senior saya lalu saya mendaftar dan mengikuti seleksi berkas dan wawancara, akhirnya saya dinyatakan lulus. Sebelum saya dan teman lainnya turun lapangan, kami mengikuti pelatihan selama empat hari di Manokwari. Karena saya bertugas pada periode ketiga maka saya harus menunggu selama empat bulan yaitu di bulan Agustus untuk turun ke lapangan, namun tidak membuat saya patah semangat.

Ronsiwer melakukan pengukuran kedalaman sarang pada saat evaluasi sukses penetasan sarang di Warmamedi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Ronsiwer melakukan pengukuran indukan penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Saat berada di lapangan ternyata banyak pengalaman dan hal baru yang saya dapatkan selama bekerja di pantai, seperti melihat secara langsung penyu bertelur. Saya juga belajar cara melindungi sarang penyu, menulis data monitoring, mengukur panjang dan lebar penyu, evaluasi sukses penetasan sarang penyu, menandai penyu dengan PIT tag, menulis pita untuk menandai sarang penyu, dan mengidentifikasi sarang penyu. Hal-hal tersebut kami lakukan, ada beberapa hal yang sebenarnya bukan tanggung jawab saya namun karena ingin belajar maka saya juga ingin melakukannya. Pengalaman yang paling saya ingat saat awal bekerja adalah monitoring malam sendirian dengan suasana pantai yang gelap dan sunyi dengan jarak monitoring yang cukup jauh sekitar 8-10 km untuk total kami berjalan setiap malam. Kami berjalan selama kurang lebih 4-5 jam, tidak terasa karena kadang kami membagi kelompok jalan. Rasa takut dan lelah pasti ada namun semua terbayar ketika menemukan penyu yang akan bertelur. Melihat hewan langka ini secara langsung dan menjaganya bertelur memberikan kepuasan tersendiri bagi saya.

Saat bekerja di pantai Jeen Yessa, saya juga merasakan suasana baru bersama teman-teman S4C dan masyarakat lokal yang baik hati seperti keluarga. Saya merasa bangga kepada masyarakat adat pesisir pantai Jeen Womom yang terlibat langsung dengan kegiatan konservasi. Mereka ikut memantau aktivitas peneluran penyu dan juga melindungi sarang penyu. Tidak hanya penyu yang berusaha dilindungi masyarakat setempat, juga satwa lain dengan aturan adat setempat dan juga gereja dengan Sasi. Saya berharap, kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang, dan kepedulian masyarakat adat terhadap kekayaan alam yang ada di pesisir pantai Jeen Womom akan terus berlanjut karena sangat berdampak baik bagi kehidupan satwa yang ada dan juga bagi kehidupan masyarakat sekitar.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Diseminasi

Pemaparan hasil kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang di pantai Jeen Yessa bagi masyarakat kampung Resye dan Womom

Pemaparan hasil kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang di pantai Jeen Yessa bagi masyarakat kampung Resye dan Womom

Penulis

Yusup Jentewo

Tanggal

14 November 2023

Tim pemantauan penyu dan perlindungan sarang S4C LPPM UNIPA (“tim pantai”) bersama masyarakat lokal telah bekerja keras di pantai Jeen Yessa sejak April 2023, yakni awal musim peneluran penyu belimbing. Menjelang akhir musim, tim pantai melakukan pemaparan hasil kegiatan bagi masyarakat kampung Resye dan Womom. Presentasi hasil kegiatan ini dilakukan pada hari Minggu tanggal 17 September 2023 di samping Rumah Belajar UNIPA di kampung Resye. Terdapat 24 anggota masyarakat yang hadir, terdiri dari 12 orang perempuan dan 12 orang laki-laki.  Pendeta dari Gereja Lahai-Roi di kampung Resye, Ibu Christina Wakum, membuka kegiatan dengan doa.

Natalia menjadi pembawa acara di kegiatan ini
(Foto : Spenyel Yenusy_S4C LPPM UNIPA)

Mayustilo Memaparkan hasil kegiatan tim pantai Jeen Yessa
(Foto : Spenyel Yenusy_S4C LPPM UNIPA)

Kegiatan ini diterima baik oleh masyarakat. Masyarakat senang mendengar hasil kegiatan tim yang bekerja di pantai bersama masyarakat lokal. Melalui presentasi ini, masyarakat yang hadir, termasuk mereka yang tidak terlibat dalam kegiatan di pantai peneluran, mendapatkan informasi tentang apa yang dilakukan untuk melestarikan penyu dan hasilnya. Dua dari enam pemilik pantai Jeen Yessa juga hadir dalam kegiatan ini. Seorang anggota masyarakat kampung Resye, Bapak Enos Yesnath, memberikan saran agar dapat dibuatkan video pelepasan tukik bersama masyarakat lokal yang kemudian dapat digunakan untuk instrumen penyadartahuan.

Pemaparan hasil kegiatan pada akhir musim peneluran bagi masyarakat lokal rutin dilakukan tim sejak 2019. Kegiatan ini penting karena memberikan informasi dan pengetahuan bagi masyarakat lokal dan kesempatan berdiskusi antara tim pantai dan masyarakat lokal. Terlebih lagi, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki dan kebanggaan dalam setiap anggota masyarakat karena semua capaian dalam upaya pelestarian penyu musim ini adalah hasil kerja bersama LPPM UNIPA dan masyarakat lokal.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Ibu Pendeta Christina Wakum memimpin doa
(Foto : Spenyel Yenusy_S4C LPPM UNIPA)

Berita Lainnya

Kategori
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

SAV Hadir Kembali, Tetap Berkesan Meskipun Pandemi Sudah ‘Pergi’

SAV Hadir Kembali, Tetap Berkesan Meskipun Pandemi Sudah ‘Pergi’

Penulis

Noviyanti

Tanggal

24 Oktober 2023

Sekolah Alam Virtual, atau yang biasa kami sebut SAV, hadir kembali! Kalau boleh jujur, sebenarnya pada awalnya tim kami agak ragu karena pandemi sudah berakhir. Kami kuatir peserta akan lebih sedikit dari SAV sebelumnya karena kebanyakan orang sudah tidak lagi beraktivitas di dalam rumah. Namun, kekuatiran tidak menghambat kami untuk berkreasi.

SAV pertama kalinya hadir secara virtual pada masa pandemi COVID-19. Pada masa itu, kami tim penjangkauan masyarakat yang biasanya bertugas melakukan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) kepada pelajar di wilayah Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) Papua terpaksa menghentikan kegiatan kami karena pembatasan perjalanan dan larangan pemerintah untuk berkumpul. Namun, hambatan itu justru menghasilkan ide kreatif. Kami melakukan PLH melalui platform Zoom dan YouTube dan ada banyak sekali peserta dari seluruh Indonesia dan dari berbagai kelompok umur. Tidak hanya pelajar tetapi juga mahasiswa dan orang-orang yang sudah bekerja yang hadir menyaksikannya.

Pada masa pandemi kami menyuguhkan fakta-fakta menarik terkait mamalia laut, burung endemik papua, mamalia endemik papua, manfaat mereka bagi keberlangsungan ekosistemnya, serta mengajak peserta untuk turut melestarikan mereka di alamnya. Peserta yang hadir mengatakan mereka belajar banyak dari SAV ini. Kami yang bertugas menyiapkan SAV juga belajar banyak informasi baru dari para narasumber yang sangat ahli di bidang konservasi satwa-satwa ini. Oleh karena itu, setiap episodenya selalu dinantikan oleh para peserta SAV maupun oleh kami di Program Sains untuk Konservasi.

Pembi, maskot SAV, bercerita lewat video
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Materi presentasi SAV Episode 1
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tahun ini, meskipun pandemi COVID-19 sudah berakhir, kami sangat senang karena pendonor kami, Blue Abadi Fund, membantu kami untuk kembali melaksanakan SAV. Kali ini kami membuat SAV menjadi lebih interaktif, bahkan kami membuat maskot SAV bernama Pembi! Pembi adalah tokoh virtual yang bercerita banyak hal tentang laut dari sisi seekor penyu yang hidup di laut melalui suara dan video pendek.

Ya! Pembi! Nama yang unik ini berasal dari singkatan Penyu Belimbing. Kami memilih hewan ini karena tim kami juga bekerja di Taman Pesisir Jeen Womom untuk pelestarian Penyu Belimbing di beberapa wilayah pantai peneluran di sana. Melalui Pembi, kami mengajak Sobat SAV mengenal keindahan laut serta manfaat laut untuk manusia. Pembi pertama kali kami perkenalkan pada episode pertama kami, tanggal 6 Oktober 2023. Episode pertama ini kami beri judul: Apa gunanya laut untuk kita?

Ibu Deasy Lontoh sebagai narasumber SAV Episode 1
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Setelah cerita dari Pembi, narasumber menambahkan informasi untuk peserta. Narasumber pada episode pertama ini adalah Kaka Deasy Lontoh. Kaka Deasy adalah peneliti penyu belimbing di tim kami. Pada episode pertama kemarin, kaka Deasy bercerita tentang ekosistem terumbu karang, mangrove, dan padang lamun, serta manfaat laut dalam menjaga iklim bumi agar tetap sehat. Jika Sobat SAV tertarik ingin melihat rekamannya, sobat SAV dapat menyimaknya di sini.

Kuis berhadiah pada SAV Episode 1 menggunakan kahoot!
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kesan dan pesan peserta pada SAV Episode 1
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pada episode-episode berikutnya kami akan mengangkat isu lainnya seperti: a) Benarkah laut kita sedang rusak?; b) Apa akibatnya kalau laut kita rusak?; c) Apa yang bisa aku buat untuk laut?; dan d) Apa pemerintah juga menjaga laut kita? Semua episode ini kami kemas ke dalam judul besar yang kami sebut Seri Life Below Water. Jika sobat SAV tertarik menyimak setiap episodenya, ikuti terus sosial media kami untuk mendapatkan informasi terkait jadwal SAV berikutnya di sini ya!

Tabel Asal Peserta SAV Episode 1

NoAsal PesertaJumlah Peserta
1Sumatera2
2Jawa12
3Kalimatan1
4Sulawesi3
5Papua24
6Maluku1
7Bali, NTB, NTT2

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Berkunjung melihat prosesi Buka Sasi di Kampung Menarbu

Berkunjung melihat prosesi Buka Sasi di Kampung Menarbu

Penulis

Yusup Jentewo, Habema Monim

Tanggal

18 Oktober 2023

Kampung Menarbu merupakan salah satu kampung di Distrik Roon, Kabupaten Teluk Wondama. Kampung ini terkenal sebagai kampung sasi di Teluk Wondama karena memiliki budaya  tradisional, yaitu sasi yang dipertahankan sampai hari ini. Sasi di kampung Menarbu dikenal dengan nama lokal yaitu kadup, didefinisikan sebagai menutup sebagian wilayahnya dari pemanfaatan masyarakat dalam kurun waktu tertentu.

Bentuk pengelolaan sasi di masyarakat adat Papua umumnya ditetapkan berdasarkan kesepakatan bersama, seperti sasi adat, sasi gereja, sasi pemuda dan lainnya. Mereka memilih ekosistem atau organisme yang akan di sasi sesuai dengan isu yang terdapat di lokasi mereka. Kampung Menarbu sendiri memilih bentuk pengelolaan sasi adat yang didukung oleh gereja, sedangkan yang di sasi adalah ekosistem laut dangkal sampai mendekati laut dalam dengan organisme yang memiliki nilai ekonomis penting seperti teripang, bia lola, ikan karang, lobster dan lainnya.

Dua anak perempuan sehabis menari di buka sasi
(Foto : Habema Monim/S4C_LPPM UNIPA)

Tim program sains untuk konservasi LPPM Universitas Papua berkesempatan berkunjung ke kampung Menarbu untuk mengikuti kegiatan buka sasi. Buka sasi di Kampung Menarbu dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 8 September 2023, sasi akan dibuka selama dua bulan. Sebelumnya Sasi di kampung Menarbu telah ditutup selama empat tahun, yaitu sejak tahun 2019. Setelah membantu pendataan wilayah sasi bersama kelompok Wadowun Beberin di kampung Aisandami, tim program sains untuk konservasi yang diwakili Yusup Jentewo dan Habema Monim berkesempatan untuk mengunjungi buka sasi di kampung Menarbu. Yusup sebenarnya sudah cukup banyak mengenal masyarakat dan kelompok di Menarbu dari pekerjaan sebelumnya dan senang dapat berkunjung kembali di kampung ini.

Foto Jembatan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kampung Menarbu melalui pengelola sasinya tahun ini berkesempatan mendapat bantuan pendanaan kegiatan konservasi dari Blue Abadi Fund (BAF) dalam kategori small grant. Sumber pendanaan yang sama seperti yang didapatkan Program Sains untuk Konservasi sejak tahun 2017. Sesama penerima grant konservasi laut, tentu saja Program Sains untuk Konservasi dan Pengelola Sasi kampung Menarbu dapat saling mendukung. Sebagai contoh dalam perayaan buka sasi kampung Menarbu, Program Sains untuk Konservasi bersama staf Balai Taman Nasional Teluk Cenderawasih membantu mendokumentasikan video perayaan buka sasi. Kegiatan buka sasi di Kampung Menarbu yang terdiri dari beberapa tahapan seperti penyambutan tamu, ibadah buka sasi di gereja, doa dan pengambilan biota di laut serta makan hasil laut bersama. Buka sasi ini juga masuk dalam salah satu agenda Festival Pulau Roon 2023 pada hari kedua.

Tim monitoring masyarakat mengambil biota Lobster untuk penyerahan
(Foto : Mulyadi/BBTNTC)

Lobster hasil buka sasi_1
(Foto : Habema Monim/S4C_LPPM UNIPA)

Selain membantu mendokumentasikan prosesi buka sasi di kampung Menarbu, pengelola sasi kampung Menarbu pun berencana mengundang kembali tim sains untuk konservasi LPPM UNIPA untuk mendata sumber daya laut di lokasi ini dua bulan pasca buka sasi, yakni di awal November 2023.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Pengetahuan dan Konservasi : Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA membantu Kelompok di Aisandami Melihat Sumberdaya Laut Mereka

Pengetahuan dan Konservasi : Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA membantu Kelompok di Aisandami Melihat Sumberdaya Laut Mereka

Penulis

Yusup Jentewo, Habema Monim

Tanggal

17 Oktober 2023

Kampung Aisandami adalah salah satu kampung ekowisata yang ada di Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Wisata yang ditawarkan di kampung ini mulai dari wisata bahari seperti snorkeling dan menyelam hingga wisata hutan seperti pemantauan burung. Masyarakat setempat merupakan pengelolanya sendiri, yang tergabung dalam Kelompok Ekowisata Wadowun Beberin. Sejak tahun 2021 pemerintah kampung bersama kelompok Wadowun Beberin serta pihak gereja memberlakukan aturan sasi untuk melindungi spot wisata bahari mereka tetap terjaga sekaligus sejalan dengan kemauan pemilik hak ulayat. Aturan sasi ini menutup wilayah pulau Numamuram dan sebagian area di dalam teluk dalam kampung Aisandami (Teluk Duairi).

Kelompok Wadowun Beberin kampung Aisandami tanggal 19 Agustus 2023 meminta Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA untuk membantu mendata sumberdaya laut di wilayah sasi kampung Aisandami dan berbagi pengetahuan dengan tim monitoring masyarakat di Kampung Aisandami. Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA pun menerima permintaan tersebut. Sebelum pergi tim Program Sains untuk Konservasi mengajukan SIMAKSI (Surat ijin masuk kawasan konservasi) dan melakukan presentasi kepada Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) menjelaskan maksud dan tujuan ke Aisandami yang berada di dalam area taman nasional.

Foto bersama dengan tim monitoring masyarakat dan ketua kelompok Wadowun Beberin
(Foto : Kelompok Wadowun Beberin)

Tanggal 2 September 2023 tim Program Sains untuk Konservasi yang diwakili Yusup Jentewo dan Habema Monim bersama salah seorang staf dari Balai Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) yaitu Mulyadi pergi dari Manokwari menuju Aisandami memenuhi undangan tersebut. Kegiatan di Aisandami dilaksanakan selama empat hari mulai dari 3 sampai 6 September 2023. Kegiatan berisikan sharing materi, praktek dan pendataan di lokasi yang ditentukan. Data yang diambil adalah bentuk pertumbuhan karang, inventarisasi mega benthos, serta jenis ikan ekonomis penting dan ikan ekologis penting. Selain mendampingi masyarakat dengan menggunakan metode time swimming (berenang) untuk mendata, tim juga mendata dengan menyelam dengan metode line transek dan sensus visual.

Yusup bersama tim monitoring masyarakat Aisandami sedang pemanasan sebelum ke laut
(Foto : Tonci Somisa)

Salah seorang tim monitoring masyarakat Aisandami sedang belajar mengambil data
(Foto : Yusup Jentewo/S4C_LPPM UNIPA)

Tim mendata di 4 titik lokasi pendataan yang terdiri dari 2 titik di Pulau Numamuram, 1 titik di dekat pulau Rupon dan 1 titik di dalam teluk Duairi. Secara umum lokasi yang dipantau menyajikan keindahan terumbu karang yang menarik, terdapat lokasi yang memang berpotensi menjadi spot wisata penyelaman dan snorkeling. Tim monitoring masyarakat yang terdiri dari lima orang masyarakat lokal yang ikut dalam kegiatan sangat senang mendapat materi dan pengalaman baru dalam kegiatan ini. Harapannya data yang diambil dapat bermanfaat bagi kelompok serta masyarakat dan tim monitoring masyarakat dapat terus menjaga wilayah sasi dan perairan Aisandami dengan semangat.

Habema sedang mengambil data dengan menyelam
(Foto : Mulyadi/BBTNTC)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Training

Berbagi di Pelatihan Teknik Survei dan Monitoring Penyu di Sorong

Berbagi di Pelatihan Teknik Survei dan Monitoring Penyu di Sorong

Penulis

Yusup Jentewo, Deasy Lontoh

Tanggal

9 Oktober 2023

Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) Papua memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan salah satu kekayaan alam di BLKB adalah penyu. Pantai-pantai di pesisir BLKB menyediakan habitat peneluran bagi penyu belimbing, penyu lekang, penyu hijau dan penyu sisik. Aktivitas peneluran penyu belimbing terbesar di Pasifik terdapat di BLKB. Pelatihan bagi masyarakat pesisir BLKB tentang bagaimana menjaga penyu diperlukan untuk meningkatkan perlindungan terhadap penyu sehingga penyu tetap lestari. FFI Indonesia-Program Papua menyelenggarakan Pelatihan Teknik Survei dan Monitoring Penyu bagi perwakilan masyarakat pesisir antara Sorong dan Sausapor di Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, dan mengundang Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA sebagai narasumber. Pelatihan ini berlangsung selama empat hari mulai dari 11 sampai 14 September 2023 yang dilaksanakan dua hari di Kasuari Valley Beach Resort untuk materi kelas dan Pulau Soop untuk praktek.

Deasy memberikan materi terkait evaluasi sukses penetasan sarang
(Foto : FFI Indonesia-Program Papua)

Yusup memberikan materi terkait evaluasi sukses penetasan sarang
(Foto : FFI Indonesia-Program Papua)

Peserta kegiatan berasal dari beberapa kampung di pesisir Kabupaten Sorong sampai Tambrauw seperti Kampung Kuadas, Della, Megame, Klasbon, Bontolala, Nanggouw, Jokte dan Kelurahan Soop. Tujuan umum dari kegiatan ini adalah untuk mengenalkan teknik survei dan monitoring penyu yang dapat diterapkan peserta di kampung mereka masing-masing. Selain dari Program Sains untuk Konservasi, narasumber lain berasal dari Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (BBKSDA) Papua Barat, FFI Indonesia-Program Papua dan Kelompok Pecinta Alam (KPA) Kabupaten Tambrauw.

Yusup menerangkan perlindungan sarang dengan metode pagar
(Foto : Deasy/S4C_LPPM UNIPA)

Yusup menerangkan perlindungan sarang dengan metode pagar
(Foto : Deasy/S4C_LPPM UNIPA)

Perwakilan Program Sains untuk Konservasi yang hadir menjadi narasumber adalah Deasy Lontoh (Koordinator Penelitian) dan Yusup Jentewo (Program Development Asistant). Materi yang dibawakan seperti teknik patroli pagi, teknik patroli malam, cara melindungi sarang, cara merelokasi sarang, evaluasi sukses penetasan serta ancaman dan upaya pelestarian penyu. Praktek yang dilaksanakan di Pulau Soop seperti praktek perlindungan sarang dengan pagar dan naungan lalu praktek patrol pagi dan malam. Selain materi, dalam pelatihan ini juga diputarkan beberapa video produksi program sains untuk konservasi yang bertemakan penyu. Peserta terpantau sangat antusias dalam mengikuti kegiatan pelatihan ini.

Deasy membantu peserta melakukan pengukuran panjang penyu
(Foto : FFI Indonesia-Program Papua)

Deasy berbagi cara melakukan evaluasi sukses penetasan sarang
(Foto : FFI Indonesia-Program Papua)

Harapannya, pelatihan ini menambah wawasan peserta tentang penyu dan membekali mereka dengan teknik-teknik pemantauan penyu dan perlindungan sarang yang dapat mereka terapkan di pantai peneluran dekat kampung mereka dan dengan demikian memperkuat perlindungan penyu di BLKB.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cerita Tenaga Perlindungan Sarang : Konster Mans Yansen Toni Jadilah Anak Muda yang Terus Belajar dan Menjaga Alam Sekitar

Cerita Tenaga Perlindungan Sarang : Konster Mans Yansen Toni Jadilah Anak Muda yang Terus Belajar dan Menjaga Alam Sekitar

Penulis

Konster Toni

Tanggal

24 September 2023

Halo, perkenalkan nama saya Konster Mans Yansen Toni sering dipanggil Toni. Saya adalah salah satu tenaga perlindungan sarang di pantai Wembrak pada musim teduh 2023. Awal mula bergabung dengan tim perlindungan penyu Program Sains untuk Konservasi, LPPM UNIPA saat mendapatkan info lowongan dari salah satu dosen saya di grup Whatsapp. Puji Tuhan setelah melalui seleksi berkas dan wawancara saya dinyatakan lolos menjadi tenaga perlindungan sarang penyu. Kami diberikan pembekalan di Manokwari dan turun ke lapangan di tanggal 2 Mei 2023. Kami menggunakan kapal Sabuk Nusantara 112 selama 2 hari perjalanan, sampai di Kampung Resye yang merupakan kampung berdekatan dengan pantai peneluran. Kami melanjutkan perjalanan ke pos Batu Rumah dengan menggunakan perahu dan dilanjutkan berjalan kaki 9 km ke pos Wembrak.

Toni membawa Perahu
(Foto : Konster Toni/S4C_LPPM UNIPA)

Toni dan Ai Mesak membuat perlindungan sarang
(Foto : Tonny Duwiri/S4C_LPPM UNIPA)

Saya mendapat banyak ilmu dan pengalaman menjalani empat bulan (April-Juli) bekerja di pantai Wembrak.  Salah satu yang berkesan adalah belajar mengidentifikasi lokasi sarang bersama Ai Mesak (Ai berarti bapak dalam bahasa Abun) salah seorang patroler lokal di Wembrak. Ketika Ai sedang mengidentifikasi lokasi sarang penyu belimbing saya penasaran untuk belajar hal tersebut. Saya pun meminta Ai Mesak untuk mengajarkan saya dan Ai mau mengajarkannya. Ai mengidentifikasi lokasi sarang dengan menggunakan tiang besi berukuran panjang 2 meter dan ketebalan 10 mm. Awalnya Ai membedakan areal kamuflase dan areal sarang lalu Ai menusuk areal sarang dengan besi dan merasakan keberadaan tepat telur. Ai menyuruh saya untuk merasakan besi tersebut ketika di bawahnya terdapat telur, ternyata berbeda ketika hanya pasir. Bersama Ai Mesak saya belajar dalam waktu satu hari dan akhirnya saya bisa mengidentifikasi lokasi sarang penyu belimbing sendiri. Suatu pengalaman yang tidak akan saya dapatkan di tempat lain.

Hal lain yang saya suka saat di lapangan adalah ketika kapal masuk di kampung lalu kami menjemput bahan makanan dan perlengkapan bulanan yang dikirim dari kantor. Kapal akan berlabuh di depan kampung dan kami akan menjemput barang dengan perahu. Kami pun membantu masyarakat untuk memuat hasil kebun mereka ke atas kapal untuk dibawa ke Sorong. Saya juga sangat senang diajarkan membawa perahu oleh kakak Ben (anggota tim di pos Batu Rumah). Buat saya membawa perahu adalah hal yang baru karena saya memang bukan berasal dari wilayah pesisir. Membawa perahu juga bukanlah hal yang mudah dimana kita harus bisa membaca situasi ombak dan gelombang laut. Saya juga menyadari bahwa seorang motoris (pembawa perahu) memiliki tanggung jawab yang besar untuk keselamatan tim saat di perahu.

Pesan saya untuk para pemuda yang membaca cerita saya, jangan bosan untuk belajar hal-hal baru dan teruslah mencari ilmu dan pengalaman untuk bekal nanti dimanapun kita berada.

“Cintailah dan jagalah alam sekitarmu maka alam pun akan menjaga mu” – Konster Toni

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cerita lapang : Menjadi Tenaga Perlindungan Sarang Penyu di Pantai Warmamedi

Cerita lapang : Menjadi Tenaga Perlindungan Sarang Penyu di Pantai Warmamedi

Penulis

Kevin Juliand Suruan

Tanggal

22 September 2023

Haii…Perkenalkan nama saya Kevin Juliand Suruan biasa dipanggil Kevin, saya berasal dari  Biak, lulusan dari Fakultas Kehutanan Universitas Papua (UNIPA) di Kota Manokwari Provinsi Papua Barat. Basic minat saya saat berkuliah adalah Konservasi Sumber Daya Hutan karena saya sangat tertarik dengan pekerjaan di bidang konservasi. Suatu waktu saya mendapatkan info lowongan kerja dari Program Sains untuk Konservasi (S4C) LPPM UNIPA untuk bekerja di pantai peneluran penyu belimbing (Dermochelys coriacea) di Tambrauw.

Saya akhirnya mendaftar di posisi Tenaga Perlindungan Sarang, puji Tuhan saya lolos verifikasi berkas dan seleksi wawancara. Sebelum turun lapangan saya bersama teman-teman yang lolos seleksi mengikuti pelatihan selama empat hari di kantor program di Manokwari.  Kami mendapatkan banyak materi mengenai LPPM UNIPA dan program Sains untuk Konservasi yang berada di bawahnya. Pengenalan jenis penyu dan jejak penyu serta metode pemantauan penyu dan perlindungan sarang, alat-alat yang digunakan, cara penulisan data dan beberapa materi lainnya. Penyampaian materi dari tim S4C sangat baik dan mudah untuk dimengerti, bahkan bagi saya yang tidak punya latar belakang ilmu di bidang kelautan atau biologi.

Kevin sedang membuat perlindungan pagar
(Foto :Kevin Suruan/S4C_LPPM UNIPA)

Membuat perlindungan sarang penyu kecil
(Foto : Kevin-Suruan/S4C_LPPM UNIPA)

Saya ditempatkan di pantai Warmamedi untuk periode April sampai Mei lalu dilanjutkan untuk periode selanjutnya di Juni sampai Juli. Saya bekerja di pantai Warmamedi bersama satu koordinator pantai, dua tenaga lapangan, satu patroler lokal dan satu tenaga perlindungan sarang lokal. Selama menjalani masa kerja saya merasakan suasana baru bersama tim S4C dan masyarakat lokal yang sangat baik seperti keluarga. Begitu banyak ilmu dan pengalaman baru yang saya dapatkan selama bekerja di pantai  seperti secara langsung melihat habitat bertelur dan jejak penyu belimbing, penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea). Saya pun belajar cara menulis pita penanda sarang, mencatat data monitoring, melindungi sarang penyu belimbing, membantu percobaan perlindungan sarang penyu lekang, evaluasi sarang, pengukuran penyu belimbing serta mencoba  menandai penyu dengan PIT tag dan mendeteksi individu penyu yang ditandai dengan scanner.

Kegiatan ini membuat saya belajar bagaimana masyarakat adat ikut terlibat secara langsung dalam upaya konservasi penyu yang berdampak positif bagi kehidupan mereka. Tidak hanya itu beberapa hewan lain juga dilindungi dengan sasi dari pihak adat dan gereja. Sasi mengatur pelarangan pengambilan sumber daya alam selama periode waktu tertentu dengan tujuan memberikan kesempatan bagi margasatwa bertumbuh berkembang biak.  Harapan saya, kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang di Tambrauw dapat terus berjalan karena memberikan dampak positif bagi konservasi penyu serta masyarakat sekitarnya.

Sekian tulisan dari saya dan terima kasih, salam konservasi.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya