Kisah Pengajar dari Rumah Belajar Abun: Belajar untuk Mengajar tentang Penyu

Bagikan Tulisan

Tanggal

9 Agustus 2023

Penulis

Evanora Awom dan Alfin Sraun

Tanggal

9 Agustus 2023

Penulis

Evanora Awom dan Alfin Sraun

Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) merupakan materi yang wajib diajarkan di Rumah Belajar Abun. Salah satunya adalah pengenalan mengenai penyu dengan beberapa sub indikator pembelajaran yang memerlukan pengamatan secara langsung di pantai peneluran. Untuk memperlengkapi kami sebagai tim Pendamping Masyarakat (PM) Womom yang akan mengajar PLH, maka kami diberi kesempatan untuk belajar secara langsung tentang penyu di Pantai Peneluran Penyu Belimbing

Alfin (kiri) seorang Sarjana Peternakan mengajar PLH di Rumah Belajar sejak 2021 dan Evanora (sisi kanan) seorang Sarjana Manajemen Keuangan mengajar PLH sejak Mei 2023. Sebelum melakukan tugas sebagai PM, mereka telah dibekali dengan pengetahuan terkait penyu dan upaya konservasi yang dilakukan. Seiring berjalannya waktu saat mereka mengajar PLH, ternyata teori yang mereka dapatkan belum secara maksimal membantu untuk mengajar tentang PLH kepada anak-anak. Mereka masih kesulitan untuk bercerita bagaimana upaya perlindungan penyu dari panas, dan ancaman predator karena mereka belum melihatnya secara langsung.

Alfin (kiri) seorang Sarjana Peternakan mengajar PLH di Rumah Belajar sejak 2021 dan Evanora (sisi kanan) seorang Sarjana Manajemen Keuangan mengajar PLH sejak Mei 2023. Sebelum melakukan tugas sebagai PM, mereka telah dibekali dengan pengetahuan terkait penyu dan upaya konservasi yang dilakukan. Seiring berjalannya waktu saat mereka mengajar PLH, ternyata teori yang mereka dapatkan belum secara maksimal membantu untuk mengajar tentang PLH kepada anak-anak. Mereka masih kesulitan untuk bercerita bagaimana upaya perlindungan penyu dari panas, dan ancaman predator karena mereka belum melihatnya secara langsung.

Berdasarkan hasil koordinasi yang dilakukan, kami diarahkan untuk melengkapi form Rencana Perjalanan ke Pantai Pasir Panjang atau Pantai Peneluran penyu. Harapannya ketika kami melihat dan belajar secara langsung dapat menambah pengetahuan serta memberikan insight yang baru dalam memberikan materi terkait PLH Penyu. Pada hari kamis tanggal 27 Juli 2023 kami melakukan perjalanan dengan berjalan kaki dari kampung Womom ke Pantai Peneluran yang terdekat, yaitu Pantai Wembrak dengan waktu tempuh sekitar satu jam perjalanan. Walaupun lokasi Pantai ini tergolong cukup dekat, namun perbatasan antara kampung dan pantai sangat terjal, terdapat sebuah gunung yang cukup membuat kami kehabisan nafas. Ketika kami selesai mendaki ke gunung tersebut, kami akan menghela nafas dan berkata “Ado Mama!” saking beratnya mendaki. Itu sebabnya gunung itu diberi nama gunung Ado Mama.

Adapun kegiatan yang kami lakukan selama berada di Pantai Peneluran (wembrak) yaitu: Doom sarang, protect sarang, monitoring malam, evaluasi sarang dan melakukan Pengukuran suhu cocomesh.

Doom sarang merupakan proses pemindahan telur dari batas air pasang ke darat. Adapun proses awal adalah mencari letak telur Penyu dengan cara menusuk sarang menggunakan besi. Proses penusukan atau pencarian letak telur biasanya dilakukan oleh orang yang berpengalaman (ahli) untuk meminimalisir kerusakan telur penyu. Setelah menemukan telur, selanjutnya dilakukan penggalian sarang dan pengukuran kedalaman sarang, telur kemudian diangkat, dipisahkan dan dihitung berdasarkan jenis normal dan abnormal.  Telur yang sudah dihitung dimasukkan atau dipindahkan ke dalam sarang baru yang sudah dibuat. Kedalaman sarang baru yang dibuat biasanya berukuran 70 cm hingga 75 cm karena jika ukuran yang dibuat lebih dalam biasanya tukik tidak dapat keluar dari sarang.

Proses pemisahan telur Penyu

Proses pengambilan telur dari sarang untuk diangkat, dipisahkan dan dihitung berdasarkan telur yang normal dan abnormal
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Doom sarang merupakan proses pemindahkan telur dari batas air pasang ke darat

Proses Doom sarang telur Penyu untuk memindahkan telur dari batas air pasang ke darat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pada hari yang sama kami juga ikut serta melakukan proses Protect sarang. Protect sarang merupakan proses melindungi telur dari sinar matahari ataupun hewan predator. Bahan Protect yang digunakan biasanya adalah kayu, daun kelapa dan daun palem atau yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan daun pakis. Tata cara Protect sendiri yaitu kayu ditanam pada pasir sekuat mungkin membentuk lingkaran serta diberikan celah atau pintu sebagai jalan keluar bagi tukik (anak penyu).

Tidak hanya protect sarang, salah satu hal yang penting dilakukan yaitu Melakukan monitoring malam, berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan kami selama 2 hari, Proses monitoring malam biasanya dilakukan pukul 21.00 WIT hingga pukul 04.00 WIT. Namun waktu mulai patroli dan waktu patroli berakhir biasanya patroller (orang yang melakukan monitoring) sesuaikan dgn aktivitas penyu malam sebelumnya. Misalnya kalau malam sebelumnya penyu naik pada pukul 8, berarti mereka mulai lebih awal dan mungkin pukul 3 sudah sepi dan mereka istirahat. Atau sebaliknya kalau penyu naik agak telat pada pukul 12, mereka bisa mulai patroli malam pukul 12 lalu patroli sampai subuh dan lanjut lindungi sarang. Monitoring malam dilakukan untuk mengetahui jumlah penyu yang naik untuk bertelur di Pantai peneluran. Penyu yang naik biasanya discan untuk mengetahui apakah penyu tersebut sudah pernah bertelur di pantai peneluran atau belum, jika belum patroller akan melakukan pengukuran karapas penyu dengan cara berdiri diantara karapas dan fliper dengan tujuan agar tidak terkena fliper penyu. Kami sendiri tidak sempat melakukan proses Pengukuran, scan dan pitag hanya mengamati dan mendengarkan penjelasan langsung dari patroller.

Menggali sarang Penyu untuk diambil telurnya dan diukur kedalaman sarangnya

Proses penggalian sarang telur Penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Proses protect sarang menggunakan daun kelapa

Proses protect sarang telur Penyu menggunakan daun kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pada tanggal 28 Juli 2023 kami ikut serta dalam proses Evaluasi sarang. Proses Evaluasi sarang adalah proses pengecekan telur yang menetas menjadi tukik dan juga bertujuan untuk membantu mengeluarkan tukik dari sarang. Proses ini biasanya dilakukan pada sarang telur yang telah berumur kurang lebih 2 bulan 2 minggu (74 hari). Pada saat proses evaluasi dilakukan teman-teman patroller dan kami mendapati beberapa telur yang tidak menetas dikarenakan terkena akar petatas pantai, ada juga telur yang tidak dapat menetas karena pasir yang panas dan di temukan tukik yang mati karena tidak dapat keluar dari sarang.

Selain kegiatan Doom sarang, protect sarang, monitoring malam serta Evaluasi sarang, kami juga ikut melakukan pengukuran suhu pada sarang Penelitian cocomesh. pengukuran suhu ini dilakukan sebanyak 3 kali dalam sehari. Masing- masing pada pukul 05.00 WIT hingga 06.00 WIT (pagi); 14.00 hingga 15.00 WIT (siang) serta 20.00 hingga 21.00 WIT (malam). Cocomesh yang merupakan turunan dari pemanfaat kelapa, dibuat untuk melindungi sarang penyu dengan tujuan mengurangi pemakaian daun Pakis. Efektivitas penggunakan cocomesh untuk melindungi sarang penyu masih dalam tahap penelitian. Setelah melakukan proses pengamatan selama dua hari, pada tanggal 29 Juli 2023 kami melakukan perjalanan kembali ke Rumah Belajar Womom. Dalam perjalanan kembali ke kampung, kami berkesempatan melepas sebanyak 3 tukik dari sarang relokasi ke pantai.

Penggunaan sarang Cocomesh

Penggunaan cocomesh untuk melindungi sarang telur Penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pengukuran suhu pada sarang Penyu yang menggunakan cocomesh

Pengukuran suhu pada sarang telur Penyu yang menggunakan cocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Perjalanan ini memberikan beberapa pengetahuan baru bagi kami yang akan mengajar PLH Penyu kepada anak-anak di kampung. Pengetahuan ini meningkatkan kepercayaan diri kami untuk dapat mengajar PLH Penyu dengan lebih baik kepada anak-anak di Rumah Belajar.

Proses evaluasi sarang telur Penyu

Proses evaluasi sarang telur Penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Telur Penyu yang rusak dikarenakan suhu yang terlalu panas

Telur Penyu yang rusak karena suhu pasir yang terlalu panas
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.