Kategori
Outreach - Nonton Bareng Film Konservasi

Matahari Terbit di Bentang Laut Kepala Burung

Matahari Terbit di Bentang Laut Kepala Burung

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/matahari-terbit-di-bentang-laut-kepala-burung” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/matahari-terbit-di-bentang-laut-kepala-burung” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/matahari-terbit-di-bentang-laut-kepala-burung” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Tanggal

13 Juli 2022

Penulis

Y. Yulia Andriani

Tanggal

13 Juli 2022

Penulis

Y. Yulia Andriani

Siap-siap, ya, besok kita jadi berangkat ke Tambrauw!

Pagi itu tanggal 20 Mei 2022, kawan saya, Kaka Noviyanti, mengabari tentang ajakannya volunteering trip bersama Program Sains untuk Konservasi dari LPPM Universitas Papua. Lokasi volunteering trip kami lakukan di Kabupaten Tambrauw, tepatnya di Kampung Womom dan Kampung Resye selama 9 hari (21-30 Mei 2022).

(Foto : Tonny Duwiri/S4C_LPPM UNIPA)

Kami berangkat tanggal 21 Mei 2022 dan terbagi dalam 2 tim kecil. Saya satu tim dengan Kaka Noviyanti, Abigail, dan Aflia yang akan turun di Kampung Womom dan Resye. Sedangkan tim lainnya bertugas di Kampung Wau dan Warmandi hanya dua orang, yaitu Kaka Tika dan Mika. Hal pertama yang terlintas di benakku, perjalanan ini terbayang sangat menyenangkan karena merupakan pengalaman pertama berlayar dan berbaur dengan masyarakat di Bentang Laut Kepala Burung.

Mengenai volunteering di ranah konservasi bukan hal yang sangat baru bagi saya, karena selama aktif di organisasi Mapala Unsoed (UPL MPA) sedikitnya pernah memperoleh materi dan praktik konservasi gunung-hutan. Namun, konservasi laut sudah tentu bakal menjadi pengalaman baru bagi saya di Tanah Papua. Dari gunung turun ke laut, mari kita cobaaa (pakai nada Sisca Kohl).

Pelayaran Kapal Sabuk Nusantara 112 Manokwari-Saubeba

Ini pertama kalinya saya naik Kapal Sabuk Nusantara. Pelayaran dari Manokwari menuju Resye memakan waktu kurang lebih 2 hari 2 malam. Tiketnya pun sangat terjangkau, Rp 20.000,00 dengan fasilitas tempat tidur tingkat, hiburan di kafetaria, dan toilet umum. Durasi pelayarannya ternyata lebih lama daripada kapal putih PELNI yang biasa menempuh Manokwari-Sorong kurang dari 24 jam. Sesuai dengan namanya, Kapal Sabuk, kapal berkapasitas penumpang 2 dek ini berperan sebagaimana fungsi sabuk untuk “melingkari keliling badan”, yaitu dengan berhenti di hampir setiap kampung sepanjang Manokwari-Sorong.

(Foto : Y. Yulia Andriani)

Saya baru tahu, di kampung-kampung yang dilalui Kapal Sabuk tidak memiliki dermaga, sehingga kapal tidak dapat bersandar. Kapal menurunkan jangkar pada perairan berkedalaman aman dan penumpang yang akan naik turun kapal diangkut oleh perahu masyarakat.

Hampir setiap perahu tampak mengangkut beragam hasil bumi dari kampung. Pisang mentah, sayuran, daging hasil buruan (babi dan rusa), kelapa, pinang, buah sirih, buah-buahan, hingga makanan homemade siap saji. Ada pula yang mengangkut jerigen-jerigen berisi bahan bakar minyak.

Saya mendengar cerita dari seorang kakek penduduk Kampung Womom, dulu belum ada kapal yang menjadi sarana penghubung antarkampung di sepanjang pesisir BLKB. Perjalanan jauh ke kampung maupun kota ditempuh dengan jalan kaki atau mendayung perahu. Maka dari itu, keberadaan Kapal Sabuk Nusantara dapat menunjang kemudahan transportasi masyarakat dan tentu punya dampak positif dari segi ekonomi dan sosial.

Di antara hiruk-pikuk bongkar-muat kapal, saya menyaksikan kehangatan di tengah kesederhanaan pada diri mereka. Canda, tawa, teriakan penuh semangat menyambut aktivitas rutin, celoteh riang anak-anak kampung yang menikmati jajanan kapal, juga anak-anak dan remaja yang berkecimpung di laut dalam dengan penuh keberanian.

Memori di Kampung Resye dan Womom

Kami tiba di Kampung Resye tepat pada tengah hari. Baru saja menginjak kaki di pesisirnya, seorang Mama dari kampung langsung menyambut kami dan memberi petuah untuk mengoles pasir di dahi. Menurut tradisi kampung, hal tersebut harus dilakukan oleh pendatang baru sebagai pencegahan terhadap penyakit. Setelah itu, kami pun berjalan kaki di pesisir menuju Kampung Womom yang berjarak sekitar 20 menit.

Di Kampung Resye dan Womom kami akan melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat dan penjangkauan masyarakat selama 4 hari. Kegiatan yang kami lakukan diantaranya pembuatan minyak kelapa untuk mendukung perekonomian masyarakat, sosialisasi tentang konservasi penyu melalui pemutaran film dan games, serta acara nonton bareng (nobar) film “Di Timur Matahari” dengan masyarakat.

(Foto : Y. Yulia Andriani)

Di kampung berpenduduk kurang dari 20 kepala keluarga ini, listrik dan bahan bakar masih terbatas. Listrik menyala dari pukul 18.30 – 24.00 WIT dengan menggunakan genset. Itu pun kalau ada cadangan bahan bakar. Listrik dinyalakan hanya untuk keperluan yang sangat penting bagi hajat orang banyak, seperti mengalirkan air ke rumah-rumah masyarakat. Kesempatan ini dipergunakan oleh para pegiat literasi dari Universitas Papua untuk mengajarkan pengetahuan dasar pengoperasian komputer atau hiburan komunal berupa menonton film di Rumah Belajar dari UNIPA. Para pegiat literasi ini disebut sebagai Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program.

(Foto : Y. Yulia Andriani)

Bahan bakar minyak adalah hal yang tergolong mewah. Pengadaannya harus dibawa dari ibukota provinsi (Manokwari) melalui pelayaran kapal Sabuk Nusantara 112. Pun demikian dengan biskuit, jajanan anak-anak, dan cita rasa makanan khas supermarket. Bagi mereka, cita rasa itu memiliki keistimewaan tersendiri, sama halnya dengan saya bahwa kedamaian dan kesederhanaan di sana merupakan kado istimewa dalam perjalanan itu.

Selesai nobar di malam pertama, esok harinya kami bergerak di kegiatan berikutnya: membuat minyak kelapa! Ini pengalaman pertama saya juga. Pengolahan minyak kelapa ini betul-betul dari hulu ke hilir, mulai dari mencari buah yang layak panen, mengupas tempurung kelapa secara manual, memarutnya, memeras santan, memasaknya hingga menjadi minyak, hingga dibawa ke Manokwari untuk proses labeling dan pemasaran.

Mengingat betapa pegal dan sabarnya mengupas tempurung keras kelapa tua, oke deh, saya tidak akan mempertanyakan label harga minyak kelapa homemade. Harganya ya itu sudah, sa tra akan tawar!

Tulisan ini merupakan bagian pertama dari kisah perjalanan volunteering trip oleh Y. Yulia Andriani. Simak bagian kedua di sini

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/matahari-terbit-di-bentang-laut-kepala-burung” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/matahari-terbit-di-bentang-laut-kepala-burung” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/matahari-terbit-di-bentang-laut-kepala-burung” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Ikuti Survei

Bantu kami meningkatkan kualitas informasi hasil monitoring sosial dan ekologi di BLKB-Papua.

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

62 tanggapan untuk “Matahari Terbit di Bentang Laut Kepala Burung”

india pharmacy [url=https://indianpharmacy.shop/#]indian pharmacy to usa[/url] buy prescription drugs from india indianpharmacy.shop

best canadian pharmacy online [url=http://canadianpharmacy.pro/#]Canadian pharmacy online[/url] best canadian pharmacy to buy from canadianpharmacy.pro

medicine in mexico pharmacies [url=https://mexicanpharmacy.win/#]online mexican pharmacy[/url] mexico pharmacy mexicanpharmacy.win

mexican drugstore online [url=https://mexicanpharmacy.win/#]online mexican pharmacy[/url] mexican pharmaceuticals online mexicanpharmacy.win

Viagra pas cher paris [url=https://viagrasansordonnance.pro/#]Meilleur Viagra sans ordonnance 24h[/url] Sildenafil teva 100 mg sans ordonnance

Komentar ditutup.