Kategori
Monitoring Sosial Survei

Survei Sosial di Kawasan Konservasi Kepulauan Kofiau-Boo: Suara Masyarakat dan Harapan Konservasi

Survei Sosial di Kawasan Konservasi Kepulauan Kofiau-Boo: Suara Masyarakat dan Harapan Konservasi

Penulis

Arnoldus Ananta, Jeniffer Maleke, Marthinus Rumere

Tanggal

23 Juli 2025

Pada akhir Mei 2025, tim Program Sains untuk Konservasi dari LPPM Universitas Papua (UNIPA) melakukan survei kesejahteraan masyarakat yang hidup berdampingan dengan Kawasan Konservasi (KK) di Kepulauan Raja Ampat, tepatnya di Kepulauan Kofiau-Boo. Survei ini bertujuan untuk mengkaji dampak penetapan dan pengelolaan kawasan Konservasi terhadap kesejahteraan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar KK. Survei sosial ini adalah bagian dari kerjasama antara Universitas Papua melalui Program Sains untuk Konservasi dari LPPM, BLUD UPTD Pengelolaan KKP Kepulauan Raja Ampat, Pemerintah Daerah (Distrik dan Kampung), serta masyarakat lokal.

Sejak 31 Mei hingga 2 Juli 2025, tim yang terdiri dari Dr. Elfira Suawa, Arnoldus Ananta, Jeniffer Maleke, Marthinus Rumere, Maria Bame, Jelly Palle, dan Agustinus Aiwor, belajar dengan masyarakat di 8 kampung yang berada di wilayah Kepulauan Kofiau-Boo. Perjalanan dimulai dari Distrik Kofiau, yakni Kampung Deer, Kampung Mikiran, Kampung Tolobi, dan Kampung Dibalal. Setelah itu, tim melanjutkan perjalanan menuju Distrik Kepulauan Sembilan di Kampung Wejim Timur, Kampung Wejim Barat, Kampung Satukurano (Meoskapal), dan Kampung Pulau Tikus. Setiap kampung yang dikunjungi oleh tim memiliki cerita, tantangan, dan karakteristik yang berbeda.

Dari survei ini, tim berhasil belajar dari 286 kepala keluarga yang menjadi responden. Mereka berbagi kisah tentang kehidupan sehari-hari, perubahan yang mereka rasakan sejak adanya kawasan konservasi, serta bagaimana kondisi laut dan hasil tangkapan mereka berubah dari waktu ke waktu.

Kampung pertama yang dikunjungi, Kampung Deer
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jelly Palle)

Melapor ke salah satu aparat kampung di Kampung Mikiran
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Selain wawancara rumah tangga, tim juga melakukan diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion/FGD) dan wawancara dengan tokoh-tokoh kunci kampung untuk mendata bagaimana masyarakat mengelola laut mereka. Mereka juga belajar secara khusus tentang peran perempuan di wilayah Kepulauan Kofiau-Boo.

Rute yang terbatas dan cuaca yang tak selalu bersahabat tidak menyurutkan semangat tim untuk tetap menjangkau setiap kampung sesuai jadwal. Kampung Deer berfungsi sebagai titik masuk utama di Distrik Kofiau. Sedangkan Kampung Wejim Timur dijadikan sebagai homebase (tempat tinggal tetap/titik pusat aktivitas tim survei) selama survei berlangsung di Kepulauan Sembilan, karena kapal logistik dan transportasi umum hanya berlabuh di sana.

Menariknya, di setiap lokasi yang dikunjungi, masyarakat selalu menyambut tim dengan hangat. Sambutan ini tidak hanya menunjukkan keterbukaan mereka, tetapi juga menjadi cerminan dari harapan bahwa mereka ingin terlibat dan didengarkan dalam proses pengelolaan kawasan konservasi.

Tim melakukan FGD di Kampung Wejim Timur dan Kampung Wejim Barat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Ikan asin atau ikan garam, salah satu bentuk olahan ikan oleh masyarakat di Kampung Tolobi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bagi tim survei, ini lebih dari sekadar pengumpulan data. Ini adalah proses membangun kepercayaan, memahami dinamika sosial lokal, dan merancang masa depan konservasi yang inklusif, di mana masyarakat bukan hanya sekadar “penonton”, melainkan mitra utama.

Konservasi, dalam konteks ini, tidak hanya soal melindungi laut dari kerusakan. Konservasi adalah tentang menjaga hubungan antara manusia dan alam, menciptakan ruang hidup yang berkelanjutan, serta memastikan bahwa anak cucu masyarakat pesisir tetap memiliki laut yang sehat dan produktif.

Salah satu tim surveyor melakukan wawancara gender
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

“Menjaga, melindungi, dan melestarikan adalah istilah sederhana dari konservasi. Tapi di lapangan, kami menyaksikan sendiri bahwa ketiganya hanya mungkin terjadi jika masyarakat turut terlibat di dalamnya.”

Survei sosial ini bukanlah akhir. Ia adalah pijakan awal untuk melihat kawasan konservasi tidak hanya dari kacamata ekologi, tetapi juga dari sisi sosial atau kemanusiaan, karena laut yang lestari juga dapat dicapai jika manusia hidup sejahtera berdampingan dengan alam.

Masyarakat lokal di Kampung Tolobi menangkap ikan menggunakan alat tangkap sederhana
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Ikan laut menjadi sumber protein penting bagi masyarakat di Kepulauan Kofiau-Boo
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Diseminasi

Kopi darat pecinta penyu seluruh dunia: Pengalaman kami dalam Simposium Penyu Internasional ke 42 di Pattaya Thailand

Kopi darat pecinta penyu seluruh dunia: Pengalaman kami dalam Simposium Penyu Internasional ke 42 di Pattaya Thailand

Penulis

Noviyanti, Alberto Y. T. Allo

Tanggal

16 April 2024

Pada tanggal 24-29 Maret 2024, kami dari Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA berkesempatan hadir dan membawakan beberapa bahan presentasi oral dan poster pada Simposium Penyu Internasional ke 42 (The 42nd International Sea Turtle Symposium -ISTS42).

Simposium Penyu ini merupakan acara rutin yang dilakukan setiap tahun. Untuk tahun ini, dilaksanakan di Pattaya, Thailand. Simposium tahun depan 2025 akan dijadwalkan di Ghana, Afrika Barat dan tahun berikutnya 2026 akan diadakan di Hawai, Amerika Serikat dan tahun 2027 akan diadakan di Srilanka, informasi ini kami peroleh pada saat acara Closing Banquet / Awards Ceremony. Kami sangat senang bisa menghadiri acara ini karena kami punya kesempatan bertemu dengan para peserta dari berbagai negara.

Tema ISTS42 Pattaya Thailand adalah “All In, All Together – Inspiring the Next Generations of Global Sea Turtle Conservationists“. Bertujuan menyatukan komunitas ahli biologi penyu, praktisi lingkungan hidup, pegiat konservasi, kelompok masyarakat adat, peneliti, akademisi, dan advokat yang berasal dari lebih dari 60 negara untuk berbagi pengetahuan, membangun kapasitas, berjejaring dan berkolaborasi dan pada akhirnya, untuk mempromosikan perlindungan dan konservasi penyu.

Presentasi tentang Cocomesh sebagai metode perlindungan sarang penyu oleh Deasy
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Alberto)

Presentasi tentang estimasi biaya untuk melindungi sarang penyu di TP Jeen Womom oleh Fitryanti
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Alberto)

Sesi seminar Fitryanti Pakiding dan Deasy Natalia Lontoh, membawakan presentasi oral dengan respons audiens sangat positif dan tertarik dengan materi yang disampaikan. Poster yang kami pajang menceritakan bagimana perlindungan sarang penyu dari predator alami dan bagaimana manfaat rumah belajar bagi anak lokal di wilayah konservasi penyu.

Alberto sedang mempresentasikan poster kepada pengunjung
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Alberto)

Deasy berfoto dengan salah satu pengunjung usai melakukan presentasi poster
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Alberto)

Kami juga berkesempatan berkontribusi dalam acara Silent Auction (acara amal) dimana noken bermotif penyu yang merupakan salah satu produk lokal dari masyarakat lokal di TP Jeen Womom dijual dalam acara amal. Dalam acara ini beberapa jenis barang dilelang dengan harga yang tertulis di selembar kertas, dan harga tertinggilah yang akan menjadi harga jualnya. Hasil dari pelelangan ini sepenuhnya didonasikan kepada International Sea Turtle Society (ISTS) untuk menyediakan travel grants bagi para peserta ISTS selanjutnya.

Salah satu noken Abun yang terjual saat Silent Auction
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Alberto)

Kami berpartisipasi dalam Video Night dengan mengirimkan 1 video singkat yang menceritakan pekerjaan tim kami untuk konservasi penyu yang holistik di Taman Pesisir Jeen Womom. Link video ini dapat dilihat di sini dan cerita tentang video night kami tulis di sini.
3 orang dari kami ikut mempresentasikan makalah kami melalui presentasi oral dan poster. Berikut adalah judul makalah yang kami presentasikan.

Nama penulis dan presenterJudul MakalahJenis presentasi
Petrus Pieter Batubara, Deasy Natalia Lontoh, Yusup Adrian Jentewo, Yairus Swabra, Arfiandra Andika Wanaputra, Fitryanti Pakiding, Manjula TiwariAccuracy of local communities in identifying leatherback turtle nest locations at Jeen Yessa beach in the Bird’s Head region of Papua, IndonesiaPoster
Fitryanti Pakiding, Deasy Lontoh, Meity Mongdong, Manjula TiwariMinimum Cost Estimate to Protect 80%-100% of Western Pacific Leatherback Nests at the Jeen Womom Coastal Park in the Bird’s Head Region of Papua, IndonesiaPresentasi Oral
Deasy Natalia Lontoh, Yusup Adrian Jentewo, Arfiandra Andika Wanaputra, Tonny Willem Duwiri, Fitryanti Pakiding, Manjula TiwariCocomesh as a nest shading material to lower sand surface temperatures at Jeen Yessa beach at the Bird’s Head region of Papua, IndonesiaPresentasi Oral

Alberto Y.T. Allo, Kartika Zohar, Fitryanti PakidingBenefits of House of Learning, an after-school program as part of a marine turtle conservation effort, to local studentsPoster

Apabila Sobat Lestari ingin mengetahui kegiatan ISTS42 ini lebih jauh, kalian bisa cek informasinya di website mereka di sini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cerita Musim Teduh dari Pantai Jeen Yessa di Tahun 2022

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Cerita Musim Teduh dari Pantai Jeen Yessa di Tahun 2022

Penulis

Tonny Duwiri

Tanggal

12 Desember 2025

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Provinsi Papua Barat yang berada di timur Indonesia merupakan lokasi peneluran penyu penting untuk keberlangsungan penyu di alam. Salah satu kabupaten yang menjadi lokasi krusial bagi peneluran penyu adalah Kabupaten Tambrauw. Kabupaten yang diresmikan tahun 2009 ini memiliki dua pantai peneluran utama bagi penyu. Dua pantai tersebut adalah Pantai Jeen Yessa (dahulu disebut Jamursba Medi) dan Pantai Jeen Syuab (dahulu disebut Wermon). Kedua pantai ini masuk dalam Kawasan Taman Pesisir Jeen Womom yang ditetapkan tahun 2017 melalui SK Menteri Kelautan dan Perikanan. Kawasan ini menjadi habitat peneluran empat jenis penyu yaitu penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu hijau (Chelonia mydas), dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata).

Nama Saya Tonny Duwiri sering dipanggil “Todu”. Pada musim teduh (April-September) tahun ini, saya dipercayakan sebagai koordinator pantai Jeen Yessa. Salah satu pantai di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Saya bergabung di tim Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA sejak tahun 2018. Bersama masyarakat lokal dari Kampung Resye dan Womom kami secara aktif melaksanakan kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang pada setiap musim peneluran. Pada musim ini, tim UNIPA yang bertugas di pantai Jeen Yessa berjumlah 12 orang, terdiri dari 9 orang laki-laki dan 3 orang perempuan.

Tonny Duwiri
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bersama sekitar 23 orang masyarakat lokal yang terlibat sebagai pemilik hak ulayat, patroler lokal, tenaga magang, tenaga relokasi sarang dan penyedia kandang relokasi. Seluruh tim dan masyarakat terbagi dalam tiga lokasi kerja menurut tiga bagian pantai di Jeen Yessa yaitu pantai Wembrak, pantai Batu Rumah, dan pantai Warmamedi. Di masing-masing pantai juga terdapat koordinator pantai yang mengkoordinir kegiatan di pantai tersebut, untuk Wembrak saya juga bertugas sebagai koordinator pantai ini, lalu untuk Batu Rumah ada Johni Mau dan Warmamedi ada Mesak Adadikam sebagai koordinator disana.

Saat merasa jenuh di pantai, saya dan tim bisa berkunjung ke hutan sekadar menikmati keindahan hutan dan kehidupan yang ada di dalamnya, mengunjungi air terjun, ikut memasang dan memeriksa jerat yang dipasang oleh masyarakat. Terkadang hanya tinggal di pos atau tempat tinggal tim saja, saya sudah bisa menghilangkan jenuh dengan melihat berbagai jenis kupu-kupu, burung, ular, kadal, tokek dan juga katak. Hal yang lebih menakjubkan adalah semua yang saya sebut tidak hanya dapat dinikmati di Pantai Batu Rumah tetapi dapat dinikmati di dua pantai lainnya (Pantai Wembrak dan Pantai Warmamedi), dengan kata lain semuanya dapat dinikmati di sepanjang pantai Jeen Yessa.

Sarang-sarang penyu di pantai ini perlu dilindungi karena terancam beberapa ancaman serius di pantai. Beberapa ancaman bagi sarang penyu di Pantai Jeen Yessa adalah suhu pasir tinggi, predasi oleh babi, anjing, dan biawak (Pakiding dkk, 2022). Uniknya masing-masing pantai memiliki ancaman terhadap sarang penyu yang berbeda. Seperti di pantai Wembrak ancaman utama terhadap sarang penyu adalah suhu pasir tinggi. Logger suhu yang ditempatkan di pantai ini menunjukan rata-rata suhu pantai di Wembrak adalah 32,0°C, lebih tinggi dari suhu pantai Batu Rumah dan Warmamedi (Data 2021). Hal tersebut membuat kami menerapkan metode perlindungan naungan pakis (Cycas sp.) untuk menghalau paparan sinar matahari ke sarang dan juga dengan bantuan masyarakat membuat 2 kandang relokasi karena tingkat sukses penetasan yang sangat rendah di beberapa sektor. Untuk pantai Batu Rumah ancaman utama yang ditemui adalah suhu pasir tinggi dan predasi oleh babi, anjing dan biawak hal tersebut membuat tim melakukan metode perlindungan naungan pakis serta metode pagar dimana ditempatkan kayu mengelilingi sarang untuk mengantisipasi hewan-hewan tersebut merusak sarang. Sedangkan untuk pantai Warmamedi, suhu pasir tidak menjadi ancaman di sana melainkan predasi oleh babi. Untuk melindungi sarang di Warmamedi, tim menggunakan metode pagar.

Patroler Lokal sedang mencari letak sarang
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Tony)

Kru melakukan scan PIT tag kepada induk penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tony)

Kru Membuat Perlindungan Pagar untuk Sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tomas)

Dari proses pemantauan aktivitas peneluran di musim ini diketahui terdapat 4128 sarang penyu di pantai Jeen Yessa dan 1669 merupakan sarang penyu belimbing (59%) dan sisanya sarang penyu lekang (33%), penyu hijau (5%) dan penyu sisik (3%). Kami juga mendata indukan yang memakai pantai Jeen Yessa untuk bertelur dengan menandai dengan Passive Integrated Transponder (PIT) tag, berhasil terdata sebanyak 402 indukan penyu belimbing, 133 diantaranya adalah indukan yang baru mendapatkan tag dan 269 indukan terdata kembali dari pemasangan tag di musim-musim sebelumnya.

Jumlah sarang yang dilindungi pada musim teduh tahun ini mencapai total 877 sarang (53% dari keseluruhan sarang penyu belimbing). Perlindungan sarang ini secara umum menghasilkan sukses penetasan yang lebih baik dibandingkan dengan sarang asli yang dibiarkan (sarang kontrol). Sukses penetasan sarang-sarang yang dilindungi diketahui dari hasil evaluasi sukses penetasan lebih tinggi dibanding sarang kontrol di ketiga pantai. Estimasi produksi tukik yang dihasilkan dari kegiatan perlindungan sarang di pantai Jeen Yessa mencapai jumlah 89.648 tukik di musim ini. Harapannya generasi-generasi penyu ini dapat membantu peningkatan populasi penyu belimbing di masa depan. Hasil ini merupakan buah dari kerja keras tim bersama masyarakat lokal yang terlibat aktif. Suatu kebahagian tersendiri bagi tim dimana sarang-sarang yang dilindungi menghasilkan tukik yang banyak. Beberapa data ini telah kami paparkan di tengah masyarakat kampung Resye dan Womom pada tanggal 17 September 2022 untuk memberi tahu semua masyarakat terkait hasil kerja yang tim bersama anggota masyarakat lakukan pada musim ini. Secara umum masyarakat sangat senang dengan pekerjaan di pantai dan berharap agar mereka dapat terus melakukan kegiatan-kegiatan ini di musim-musim mendatang.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Bagaimana kemampuan membaca para siswa di Rumah Belajar UNIPA pada Periode April – September tahun 2022?

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Bagaimana kemampuan membaca para siswa di Rumah Belajar UNIPA pada Periode April – September tahun 2022?

Penulis

Kartika Widya Zohar dan Aflia Pongbatu

Tanggal

6 Desember 2022

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Buku adalah jendela untuk melihat dunia. Salah satu cara membuka jendela dunia tersebut adalah dengan membaca. Kemampuan membaca sangat penting untuk kehidupan sehari-hari bagi seorang individu. Berdasarkan pemahaman ini, pembelajaran membaca telah menjadi bagian yang diajarkan pada kegiatan belajar mengajar informal yang dilakukan di Rumah Belajar UNIPA yang terletak di Distrik Abun dan Distrik Tobouw Kabupaten Tambrauw.

Program Sains untuk Konservasi Lembaga Penelitian Universitas Papua secara konsisten telah berkomitmen untuk memajukan Pendidikan bagi anak-anak usia sekolah dengan menyediakan fasilitas Rumah Belajar sejak tahun 2013 lalu. Pada tahun 2022 ini terdapat 4 fasilitas rumah belajar yang melayani total 5 kampung yaitu Kampung Wau, Weyaf, Syukwo (Warmandi), Womom, dan Resye (Saubeba).

Berdasarkan data dari lapangan, terdapat total 117 anak yang terdata telah mengikuti pembelajaran membaca pada 4 lokasi Rumah Belajar. Anak-anak ini diajar oleh 2-3 orang tenaga pendamping masyarakat yang bertugas pada setiap lokasi Rumah Belajar.

Kegiatan Membaca di RB. Wau-Weyaf
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan Membaca di RB. Womom
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Pada kemampuan membaca terdapat 14 Sub Indikator yang disusun untuk membantu proses pembelajaran. 14 Sub indikator ini kemudian akan dinilai dengan 3 kategori yaitu:

  • BISA (ditunjukan dengan kemampuan peserta didik dengan benar (80-100%) melakukan/menunjukan sub indikator penilaian diujikan.
  • KURANG BISA (ditunjukan dengan kemampuan peserta didik dengan kurang benar (50 – 79%) melakukan/menunjukan sub indikator penilaian yang diujikan.
  • TIDAK BISA (ditunjukan dengan kemampuan peserta didik tidak dapat melakukan (0-49%) melakukan/menunjukan sub indikator penilaian yang diujikan.

Pada periode April – September 2022 ini kami mendata berapa jumlah rata-rata siswa yang berada pada kategori BISA untuk setiap sub indikator pembelajaran yang diberikan. Berdasarkan data tersebut kami memperoleh data bahwa sub indikator yang paling mudah yaitu sub indikator B1 (menyebut abjad secara berurutan A-Z) terdapat total rata-rata 41 orang anak yang berada di kategori BISA. Jumlah ini sekitar 35,04% dari total anak yang datang ke Rumah Belajar. Sedangkan pada sub indikator yang paling sulit yaitu sub indikator B14 (menyebutkan dengan benar setiap kalimat dalam sebuah paragraf menggunakan tanda baca dengan benar – intonasi, tanda baca dapat terdengar/diketahui) terdapat total rata-rata 3 orang anak yang berada pada kategori BISA, jumlah ini hanya 2,56% dari total anak yang datang ke rumah belajar.

Kemampuan membaca peserta didik dapat meningkat apabila di tahun berikutnya para siswa dapat lebih giat lagi datang belajar membaca pada fasilitas Rumah Belajar yang telah disediakan. Kehadiran di Rumah Belajar masih menjadi salah satu tantangan bagi para peserta didik untuk meningkatkan kemampuan membacanya. Kabar baiknya, kami melihat perkembangan dari 2-3 orang peserta didik yang belum dapat membaca sama sekali, tetapi mereka telah dapat mengenal huruf dan mengeja perlahan setelah tekun belajar di Rumah Belajar. Kami berharap di masa depan akan ada lebih banyak peserta didik yang meningkat kemampuan membacanya dengan fasilitas Rumah Belajar UNIPA yang berada di kampung-kampung ini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya