
Menyusuri Fakfak, Lebih dari Sekadar Perjalanan: Pengalaman Tim Monitoring Sosial
Penulis
Elisa Putra dan Abigail Lang
Tanggal
19 Maret 2025
Sebagai bagian dari tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA), Jeniffer Maleke (sapaan akrab Babby) merasa beruntung bisa terlibat dalam perjalanan menyusuri kampung-kampung di Wilayah Fakfak. Setiap langkah yang ditempuh oleh Babby dan tim membawa pengalaman baru yang memperdalam pemahaman akan kearifan lokal dan dinamika sosial masyarakat di Kawasan Konservasi Teluk Berau dan Nussalasi Van-Den Bosch, Fakfak. Melalui tulisan ini, kami ingin berbagi tentang pengalaman Babby dalam perjalanan yang penuh tantangan namun penuh makna.
Babby (Kanan) dan Maria (Tengah) sedang mewawancarai responden (Kiri) di Kampung Arguni
(Foto : Gemala Dirgantari)
Perjalanan kali ini membawa tim Monitoring Sosial ke wilayah menakjubkan di Kawasan Konservasi (KK) Teluk Berau dan Nussalasi Van-Den Bosch, di Fakfak. Bersama tim solid — LPPM UNIPA (Yeni Yulia Andriani, Jeniffer Maleke, Kezia Salosso, Jelly Palle, Maria Bame, Spenyel Yenusy, William Kaunang), dan Mitra Pengelola KK dari Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah Kaimana-Fakfak (Gemala Dirgantari) — mereka memulai perjalanan pada 26 Januari hingga 23 Februari 2025 , menyusuri 11 kampung untuk melakukan survei Rumah Tangga untuk menilai kesejahteraan masyarakat dan survei Neraca Sumberdaya Laut (Ocean Account.).
Pertemuan dengan aparat Kampung Pang Wadar
(Foto : Gemala Dirgantari)
Jelly (Kiri), Spenyel (Tengah) sedang bertemu dengan aparat Kampung Arguni (Kiri)
(Foto : Gemala Dirgantari)
Satu hal yang membuat pengalaman ini berkesan adalah proses perizinan. Selain dipimpin oleh Kepala Kampung sebagai perwakilan aparat pemerintah, kampung-kampung yang dikunjungi juga memiliki sistem Kerajaan yang dalam istilah setempat disebut Petuanan. Setiap wilayah Petuanan memiliki seorang pemimpin yang disebut ‘Bapa Raja’. Artinya, mereka harus meminta izin bukan hanya ke kepala kampung, tapi juga ke ‘Bapa Raja’ setempat atau para Perangkat Kerajaan — sebuah pengalaman yang membuat mereka makin menghargai kearifan lokal di sini.
Yang menarik, mayoritas masyarakat di wilayah survei mereka ini berprofesi sebagai nelayan dan petani. Selain itu, ikan Kembung dan Cumi-cumi yang biasa kita santap di kota besar, di sini justru dijadikan umpan untuk menangkap ikan yang lebih besar. Masyarakat pesisir juga menjual gelembung ikan Kakap Putih yang ternyata punya banyak manfaat dan memiliki nilai jual yang mahal — salah satu komoditas bernilai tinggi yang mungkin jarang kita dengar di tempat lain.
Ikan Kakap Putih
(Foto : Gemala Dirgantari)
Kampung Ugar
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)
Setiap kampung yang mereka datangi memiliki daya tarik tersendiri. Kampung Maas memiliki potensi wisata sangat menarik berkat dukungan PokDarWis (Kelompok Sadar Wisata) yang aktif mengembangkan kampungnya. Laut di kampung ini sangat bersih, bahkan mereka menjumpai penyu mencari makan secara bebas di dekat pantai. Babby dan teman teman berkesempatan berenang di sekitar penyu-penyu tersebut. Kampung lain yaitu Patimburak. Di kampung ini berdiri sebuah ‘Masjid Tua’ yang dibangun sejak tahun 1870. Masjid inilah yang katanya menjadi asal muasal filosofi “Satu Tungku Tiga Batu” yang melambangkan kerukunan dan toleransi antar umat beragama, adat, dan pemerintahan di Fakfak. Pengalaman ini membuat Babby kagum dan membayangkan betapa kayanya nilai budaya di Fakfak.
Masjid Tua di Patimburak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)
William (Kanan) dan Gemala (Tengah) sedang mewawancarai responden (Kiri) di Kampung Andamata
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)
Perjalanan ini penuh tantangan karena beberapa rumah warga terletak di daerah yang terjal dan licin, minimnya penerangan saat pengambilan data di malam hari, serta jarak antar kampung yang jauh, yang harus ditempuh melalui jalur darat dan laut. Selain itu, mobilitas masyarakat yang tinggi membuat mereka harus ekstra sabar dan semangat melakukan survei. Untungnya, sambutan hangat masyarakat membuat lelah mereka terbayar lunas. Sekembalinya mereka ke Manokwari, pada tanggal 26 Februari 2025, tim mereka membawa oleh-oleh manisan pala yang menjadi salah satu ciri khas dari Fakfak
Kampung Arguni
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jelly Palle)
Setiap sudut Fakfak punya cerita, Babby dan teman-teman merasa beruntung bisa jadi bagian dari kisah ini. Rasanya tidak sabar buat berbagi lebih banyak pengalaman dari lapangan berikutnya!
Bagikan Tulisan
Berita Terkait
Video Kami
Kategori Lainnya
Berita Lainnya
