Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cocomesh: bahan alternatif untuk menaungi sarang penyu yang terancam suhu pasir tinggi

Cocomesh: bahan alternatif untuk menaungi sarang penyu yang terancam suhu pasir tinggi

Penulis

Elisa Secsio Hendra Putra

Tanggal

27 Mei 2024

Ancaman utama pada pantai Wembrak, salah satu pantai Jeen Yessa di Taman Pesisir Jeen Womom adalah suhu pasir tinggi. Suhu pasir tinggi merendahkan sukses penetasan sarang dan menyebabkan sarang penyu memproduksi lebih banyak tukik betina.

Perlindungan sarang menggunakan cocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Sesar sedang melakukan evaluasi sukses penetasan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Setelah kurang lebih empat bulan di lapangan (Juni sampai September 2022) melakukan penelitian di Pantai Wembrak,  Elisa Secsio Hendra Putra atau biasa disapa Sesar, mahasiswa Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Papua akhirnya telah menyelesaikan penelitiannya tentang potensi cocomesh sebagai bahan alternatif untuk menaungi sarang-sarang yang terancam suhu pasir tinggi. Sesar menyelidiki kemampuan cocomesh dalam meningkatkan sukses penetasan sarang penyu belimbing dan menurunkan suhu pasir pada kedalaman sarang penyu belimbing (70 – 75 cm).

Pengaruh cocomesh terhadap sukses penetasan

Untuk mengetahui pengaruh cocomesh pada sukses penetasan sarang, Sesar membandingkan sukses penetasan sarang yang dilindungi dengan naungan cocomesh, naungan pakis, dan sarang tanpa perlindungan (kontrol). Diketahui dari evaluasi sukses penetasan sarang yang dijadikan sampel, terpantau sarang-sarang yang dilindungi daun pakis memiliki tingkat kesuksesan sarang yang lebih tinggi dibandingkan sarang yang dilindungi cocomesh. Namun tetap rata-rata hasil penetasan sarang yang dilindungi cocomesh lebih baik dibanding sarang yang tidak dilindungi sama sekali (sarang kontrol).

Kemampuan cocomesh menurunkan suhu pasir

Pengukuran suhu dilakukan selama kurang lebih tiga bulan menggunakan logger suhu yang ditanam pada kedalaman sarang (70 – 75 cm) di tiga wilayah dengan jarak tertentu di pantai Wembrak. Suhu rata-rata di pantai Wembrak berkisar pada 32°C; suhu ini melebihi batas suhu optimal yang diperlukan untuk inkubasi yaitu sekitar 29,50°C – 30,50°C. Jika tidak diberi naungan, sarang akan terancam gagal menetas. Naungan cocomesh mampu menurunkan suhu sebesar 0,73°C-0,86 °C. Sedangkan naungan pakis mampu menurunkan suhu 0,76°C-1,11°C. Naungan cocomesh mampu merendahkan suhu pasir pada kedalaman sarang penyu belimbing namun tidak sebaik naungan pakis.

Perlindungan sarang menggunakan naungan pakiscocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kesimpulan

Dari penelitian yang dilaksanakan Sesar, dapat disimpulkan bahwa naungan cocomesh mampu menurunkan suhu pasir pada kedalaman sarang dan berpotensi untuk meningkatkan sukses penetasan sarang yang terancam suhu pasir tinggi. Dengan terbatasnya daun pakis di pantai Wembrak, cocomesh menjadi bahan alternatif untuk naungan sarang di masa depan.

Sesar pernah mempresentasikan hasil penelitiannya melalui Sekolah Alam Virtual yang kami laksanakan. Jika sobat lestari tertarik, bisa melihat video rekamannya di sini dan bisa mendownload materi presentasinya di sini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Diseminasi

Konservasi penyu ditayangkan melalui lensa digital di ISTS42 Thailand

Konservasi penyu ditayangkan melalui lensa digital di ISTS42 Thailand

Penulis

Abigail Lang dan Deasy Lontoh

Tanggal

22 April 2024

Dari padatnya kegiatan Simposium yang dilansir pada tulisan sebelumnya, Video Night menjadi salah satu agenda yang selalu ada di setiap symposium. Acara ini merupakan kesempatan belajar tentang kegiatan penelitian dan pelestarian penyu dari seluruh dunia. Dilansir dari tulisan sebelumnya, Video Night adalah bagian dari rangkaian acara ISTS (International Sea Turtle Symposium) 42 yang berlangsung selama 6 hari di Pattaya Thailand. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan final di hari pertama yang telah disiapkan oleh penyelenggara setelah makan malam. Video Night ini dilakukan pada jam 8-11 malam pada Selasa, 26 Maret 2024. Semua peserta symposium bisa masuk ke ruangan untuk dapat menyaksikan video dari berbagai macam komunitas/pemerintahan/kelompok konservasi.

Suasana saat penayangan Video Night
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Suasana saat penayangan Video Night
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Tim LPPM UNIPA yang menjadi salah satu perwakilan dari Asia Tenggara telah menyediakan video yang berdurasi sekitar 10 menit. Video ini dibuat dengan subtitle bahasa Inggris yang berisikan bagaimana dan apa saja yang dikerjakan oleh tim untuk melakukan Pelestarian Penyu Belimbing di Taman Pesisir Jeen Womom. Saat pemutaran video berlangsung ada sekitar 40-50 orang yang menyaksikan video dari Tim LPPM UNIPA. Merupakan suatu kebanggan bagi tim untuk dapat mengambil kesempatan dengan memperkenalkan kegiatan yang dilakukan di lokasi kerja tim melalui media video. Selama video berlangsung, tim memang belum mendapatkan feedback secara langsung dari penonton karena video selanjutnya  langsung diputarkan.

Video dari Tim LPPM UNIPA di Website ISTS Thailand
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tonny)

Namun tidak selesai begitu saja, penyelenggara dari kegiatan ini juga mengunggahnya di website mereka di https://www.ists42thailand.org/ sehingga bisa ditonton kembali. Ada sekitar 2 penanggap yang memberikan feedback positif kepada tim LPPM UNIPA secara pribadi maupun tim, walaupun mereka tidak menonton langsung saat momen Video Night. Momen penayangan Video Night ini memberikan gambaran secara nyata yang telah dilakukan dari setiap grup atau komunitas yang menjadi peserta simposium. Cerita dari seluruh dunia bagaimana peran penting dari suatu grup dan komunitas ini diharapkan saling memberikan motivasi dan pengetahuan yang baru.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Hubungan Publik Kehidupan Sosial Masyarakat

Sasi Adat Di Pantai Jeen Yessa: Kearifan Lokal Untuk Melestarikan Penyu Yang Terancam Punah

Sasi Adat Di Pantai Jeen Yessa: Kearifan Lokal Untuk Melestarikan Penyu Yang Terancam Punah

Penulis

Tim Jeen Yessa dan Jeen Syuab

Tanggal

6 Desember 2021

Taman Pesisir Jeen Womom terdiri dari dua pantai peneluran, Jeen Yessa dan Jeen Syuab. Sesuai SK Menteri Kelautan dan Perikanan No.53/KEPMEN-KP/2017, luasnya mencapai 32.250,88 Hektar. Pantai peneluran Jeen Yessa terdiri dari tiga pantai peneluran penyu, yaitu Pantai Wembrak, Pantai Batu Rumah, dan Pantai Warmamedi. Mulai tahun 2019, pemilik adat di desa Saubeba, Womom, dan Warmandi menerapkan Sasi Adat*) dengan melarang pengambilan hasil sumber daya alam tertentu, khususnya hewan endemik tertentu dan hewan migrasi. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga kualitas dan populasi satwa langka, termasuk penyu, dari ancaman perburuan manusia di sekitar lokasi bertelur. Selama masa penutupan, masyarakat setempat sepakat untuk melarang perburuan**) spesies endemik tertentu, termasuk empat spesies penyu. Jika mereka menemukan hewan-hewan itu secara tidak sengaja terjerat dan mati dalam perangkap yang mereka buat, mereka akan mencatat dan melaporkannya kepada pemilik adat. Tetapi jika mereka menemukan hewan itu masih hidup, mereka akan melepaskannya.

Pemilik adat sepakat untuk menggelar upacara pembukaan Sasi pada 10 Juni 2021. Namun karena suatu hal, kegiatan diundur menjadi tanggal 11 Juni 2021. Usai upacara, masyarakat setempat dan pemilik adat memasang tali di sekitar pantai peneluran untuk menangkap hewan pemangsa (babi) yang mengancam sarang penyu. UNIPA memfasilitasi kegiatan ini dengan memberikan tali Polyplin (tali 5-7 mm) dan membuat billboard yang menginformasikan para pemburu di pantai Jeen Yessa tentang hewan-hewan tertentu yang dilarang untuk diburu.

Catatan kaki:

*)Sasi merupakan kearifan lokal yang diterapkan oleh masyarakat setempat. Kata sasi berasal dari kata sanksi (saksi), mengandung pengertian larangan pemanfaatan sumber daya alam tertentu tanpa izin dalam waktu tertentu, yang bermanfaat secara ekonomi bagi masyarakat.

**)Kebanyakan orang di daerah ini berburu dan meramu setiap hari; mereka berburu di pantai dan hutan sebagai sumber makanan mereka.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring Konservasi Penyu Belimbing Training

Menggapai Bintang: Kisah Terwujudnya Impian Melalui Penelitian

Menggapai Bintang: Kisah Terwujudnya Impian Melalui Penelitian

Penulis

Elisa Secsio Hendra Putra

Tanggal

28 Maret 2024

Hai, perkenalkan nama saya Elisa Secsio Hendra Putra, biasa dipanggil Sesar. Saya mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Papua (FMIPA-UNIPA) Jurusan Biologi yang melakukan penelitian terkait metode baru perlindungan sarang penyu belimbing (Dermochelys coriacea) menggunakan anyaman sabut kelapa (cocomesh) di pantai Wembrak. Pantai Wembrak merupakan pantai dengan panjang 6 km yang merupakan salah satu pantai peneluran penyu di dalam area Pantai Jeen Yessa, Kabupaten Tambrauw. Melihat penyu merupakan salah satu bucket list saya sejak kecil dan akhirnya saya pun berkesempatan untuk melihatnya secara langsung serta ikut melakukan upaya konservasi penyu lewat penelitian ini. Topik penelitian terkait konservasi penyu belimbing ini telah saya lama persiapkan, sejak semester empat, karena selain saya ingin melihat penyu dan saya senang belajar terkait alam Papua. Banyak perubahan rencana selama saya merancang penelitian ini, mulai dari lokasi, judul, hingga metode penelitiannya. Awalnya saya sedikit khawatir karena penelitian saya ini merupakan penelitian yang bisa dibilang baru. Tim UNIPA di pantai Wembrak menggunakan perlindungan naungan pakis ditambah pagar untuk melindungi sarang secara in situ namun karena keterbatasan tumbuhan pakis di area Pantai Wembrak membuat tim sulit membuat cukup banyak perlindungan ini. Selain hal tersebut, saya juga selalu bertanya selama menjalani penelitian ini apakah penelitian saya akan  berhasil. Saya bersyukur terdapat banyak orang yang mendukung saya. Mereka mengatakan bahwa saya akan menjadi peneliti pertama yang melakukan penelitian dengan metode ini, hal itu membuat saya menjadi semangat dan percaya diri. Setelah semua persiapan seperti mendatangkan bahan, menganyam tali menjadi jaring, membeli kayu dan mempersiapkan diri sendiri, saya pun melakukan petualangan penelitian saya di Tambrauw.

Selama di pantai saya sangat terbantu dengan tim UNIPA dan tenaga patroli lokal yang selalu membantu saya dalam merangkai perlindungan cocomesh ataupun membawa bahan ke lokasi sarang. Kesulitan yang saya alami selama di lapang adalah ketika hujan, beberapa sungai di pantai Wembrak meluap sehingga saya harus menunda kunjungan ke lokasi sarang sampel saya. Lebar sungai di pantai Wembrak sebenarnya tidak terlalu lebar kurang lebih sekitar 40-100 meter namun cukup deras sehingga saya dan tim UNIPA harus menunggu hingga air sungai turun untuk bisa lewat.

Sesar sedang merangkai perlindungan cocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Sesar)

Sesar sedang menanam logger suhu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Sesar)

Setelah kurang lebih tiga bulan melakukan penelitian di Pantai Wembrak hasil yang saya dapatkan tidak mengecewakan semua usaha yang saya lakukan untuk penelitian ini. Selain melakukan penelitian  saya mendapatkan banyak kesempatan belajar hal baru tentang berbagai upaya  konservasi penyu, seperti melakukan kegiatan pemantauan penyu saat malam hari, memasang perlindungan sarang, dan evaluasi sarang. Saya juga diajarkan bagaimana cara mengukur karapas penyu, pemindaian (scanning) Passive Integrated Transponder (PIT tag), dan yang tidak akan pernah saya lupakan adalah pada saat saya memasang PIT tag pada induk penyu untuk pertama kalinya.

Sesar sedang merangkai perlindungan cocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Sesar)

Sesar sedang menanam logger suhu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Sesar)

Hal yang tidak kalah saya syukuri adalah dapat berinteraksi dengan masyarakat setempat di Kampung Resye dan Womom yang sebagian juga bekerja di pantai sebagai tenaga patroli lokal, tenaga perlindungan sarang, pembuat kandang relokasi atau kontribusi lainnya yang membantu kegiatan pemantauan dan perlindungan sarang. Dengan terlibat dalam penelitian ini bersama tim UNIPA belajar tentang kemampuan dan potensi diri yang saya belum ketahui

Karena saya perlu membandingkan sukses penetasan sarang yang dilindungi dengan cocomesh, pakis, dan yang tidak dilindungi dalam penelitian ini, saya harus menunggu sampai masa penetasan sarang di pantai. Sementara menunggu sampel sarang penelitian saya menetas, saya berotasi ke pantai lain yaitu Pantai Batu Rumah dan Warmamedi (dua pantai yang juga bagian dari Pantai Jeen Yessa) untuk belajar ancaman dan metode perlindungan sarang yang berbeda disana. Ketiga pantai ini sangat unik menurut saya karena memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Ditambah, panorama yang begitu memanjakan mata membuat saya lupa akan suasana hiruk pikuk perkotaan. Saya menjadi sangat betah untuk tinggal di pantai hingga tak terasa bahwa sudah waktunya untuk kembali ke kota untuk menyelesaikan skripsi. Pantai Jeen Yessa  membuat saya tidak pernah berhenti berpikir kapan lagi saya bisa kembali lagi ke sana.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Lowongan Kerja Lowongan Kerja

Pengumuman Hasil Seleksi Wawancara KP2, TLP2 dan TMP2 Tahun 2024

Pengumuman Hasil Seleksi Wawancara KP2, TLP2 dan TMP2 Tahun 2024

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi Tenaga Koordinator Pantai Peneluran (KP2), Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2), dan Tenaga Magang Pantai Peneluran (TMP2). Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Wawancara. Kami sampaikan nama-nama yang tersebut dapat diakses melalui web di bawah ini. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang telah terpilih.
Bagi yang belum terpilih, jangan berkecil hati ya. Semoga di masa depan bisa berkesempatan bergabung.

Catatan :

Pelamar KP2: cek di halaman 1

Pelamar TLP2 : cek di halaman 2

Pelamar TMP2 : cek di halaman 3

Kategori
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Sekolah Alam Virtual Balik Lagi dengan Tema yang Fresh!

Sekolah Alam Virtual Balik Lagi dengan Tema yang Fresh!

Penulis

Jane Lense

Tanggal

14 Maret 2024

Hallo Sobat Lestari!

Sekolah Alam Virtual (SAV) hadir kembali di tahun 2024 dengan seri terbaru! Kalau seri kemarin kita diajak untuk melihat keindahan laut, manfaat laut untuk manusia, serta peran manusia untuk menjaga lingkungan laut, di SAV seri terbaru kali ini kami mengangkat tema “Berbagi Cerita Penyu di Taman Pesisir Jeen Womom” yang tidak kalah seru dan menarik, lho!

Melalui platform Zoom dan Youtube, kami bersama para sobat SAV yang hadir dari berbagai daerah di seluruh Indonesia dan dari berbagai kelompok umur, serta latar belakang yang berbeda-beda, bertemu secara virtual dan belajar banyak dari (para) narasumber yang hebat dengan materi serta cerita yang menarik terkait penyu dan upaya perlindungan yang dilakukan di TP Jeen Womom.

Episode pertama SAV di seri yang baru ini dimulai dengan topik “Mengenal Taman Pesisir Jeen Womom dan Kegiatan Pemantauan Penyu” yang berlangsung pada tanggal 16 Februari 2024. Narasumber pada episode pertama ini adalah Kaka Yusup Jentewo, yang adalah tim konservasi pada Program Development Assistant di Program Sains untuk Konservasi (S4C), LPPM Unipa.

Pemaparan materi oleh narasumber
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pemenang kuis SAV episode pertama
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tonny)

Kaka Yusup mengajak kita “jalan-jalan” ke Taman Pesisir Jeen Womom dan melihat aktivitas pemantauan penyu dan perlindungan sarang yang dilakukan oleh tim S4C LPPM Unipa bersama dengan masyarakat lokal disana, yang dilakukan secara rutin dengan tujuan untuk memulihkan dan melestarikan populasi penyu. Lewat materi yang dibagikan oleh Kaka Yusup, sobat SAV jadi tahu kalau lokasi TP Jeen Womom yang berada di Kabupaten Tambrauw itu terbagi menjadi 2 pantai besar, yaitu Pantai Jeen Yessa dan Pantai Jeen Syuab.

Sobat SAV juga mendapat suatu fakta menarik dari materi yang disampaikan oleh Kaka Yusup, kalau Taman Pesisir Jeen Womom menjadi lokasi pantai peneluran penyu belimbing terbesar di Pasifik Barat, lho! Namun, sayangnya populasi penyu belimbing di TP Jeen Womom sudah menurun sejak tahun 1980an. Dengan adanya SAV ini, kita bisa tahu bersama-sama status populasi penyu karena adanya tim yang melakukan pendataan dan pemantauan aktivitas peneluran penyu di TP Jeen Womom. Sobat SAV yang ketinggalan episode pertama kemarin atau ingin menonton ulang SAV kemarin, bisa nonton lagi di sini!

Sekolah Alam Virtual ini seperti yang sudah dilakukan di seri sebelumnya, akan berlanjut dengan episode-episode lain yang baru, pada tema yang masih sama yaitu “Berbagi cerita penyu”, dengan topik-topik yang menarik seperti: a) Perlindungan sarang penyu dan penelitian di TP Jeen Womom; b) Bagaimana kami mengevaluasi sarang penyu di TP Jeen Womom?; c) Sejarah TP Jeen Womom dan bagaimana wisata edukasi di TP Jeen Womom. Jangan lewatkan SAV episode yang akan datang dan pantau terus informasinya di sosial media kami ya!

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

POV Pembi: Si Penyu Belimbing yang Hidup di Laut yang Sehat

POV Pembi: Si Penyu Belimbing yang Hidup di Laut yang Sehat

Penulis

Abigail Lang

Tanggal

13 Maret 2024

Ada 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau biasa dikenal SDGs yang dicetus sejak tahun 2015 oleh Anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dari 17 tujuan tersebut kami mengambil tema ke 14 yaitu “Kehidupan di bawah laut” / “Life Below Water”. Mengakhiri tahun 2023 yang lalu, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua mengadakan kegiatan Sekolah Alam Virtual (SAV) dengan seri Life Below Water. Kegiatan ini dapat diikuti oleh peserta dari seluruh pulau Sabang-Merauke.

Kami memperkenalkan tokoh animasi yang kami beri nama Pembi (singkatan dari Penyu Belimbing yang merupakan salah satu hewan yang tertua di dunia yang memainkan peran penting dalam ekosistem laut). Melalui video yang ditambahkan tokoh Pembi, tim kami di S4C ini, kami melihat adanya kesempatan untuk dapat membagikan pengetahuan sains secara sederhana, yang dapat diterima di semua kalangan dengan menargetkan anak-anak hingga orang dewasa. Selain video edukasi, kami menciptakan nuansa asyik dengan mempelajari kehidupan bawah laut secara runut yang dibagi ke dalam 5 episode.

Penyampaian materi SAV Episode 2
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tokoh Animasi Pembi: Penyu Belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Secara singkatnya melalui tokoh Pembi, kami memberikan gambaran sudut pandang seekor tukik penyu belimbing yang bercerita secara holistik tentang pentingnya laut dalam kehidupan manusia maupun makhluk hidup di sekitarnya. Melihat dari aktivitas manusia seperti pembuangan sampah sembarangan, polusi udara yang drastis dan overfishing saat ini laut telah rusak sehingga berdampak terhadap ekosistem laut. Untuk menjaga laut, diperlukan tindakan berkelanjutan seperti pelestarian sumber daya laut, pengurangan limbah plastik dan penerapan kebijakan yang mendukung hal tersebut. Di sini, peran pemerintah sangat penting dalam menegakkan regulasi ketat serta memberikan edukasi kepada masyarakat.

Dalam kegiatan ini kami mengundang narasumber yang memiliki pengalaman terkait dengan bidang mereka masing-masing tentang kondisi laut. Narasumber yang kami undang umumnya bekerja di wilayah Papua dan Sulawesi. Kesadaran tentang pentingnya laut ternyata tidak hanya dari penggiat konservasi ataupun dari instansi saja, namun dari kalangan yang memiliki latar belakang pendidikan/pekerjaan yang berbeda. SAV ini kami lakukan mulai dari promosi di beberapa platform sosial media, kemudian peserta melakukan pendaftaran melalui Google form, sampai pada hari kegiatannya melalui Zoom dan live stream YouTube.

Episode Nama Program Narasumber Asal Institusi Waktu
1 Apa gunanya laut untuk kita? Deasy N Lontoh LPPM UNIPA Jumat, 6 Oktober 2023
2 Benarkah laut kita sedang rusak? Ratna N Kuswara FFI – Site Tanah Papua Jumat, 27 Oktober 2023
3 Apa akibatnya kalau laut kita rusak? Samuel L Opa Institut Sains Teknologi Esa Trinita Jumat, 17 November 2023
4 Apa yang bisa aku buat untuk laut? Toto R Darwinto KOMPAK (Komunitas Pecinta Alam dan Kemanusiaan) Jumat, 15 Desember 2023
5 Apa pemerintah juga jaga laut kita? Rahel Randa Dinas Kelautan dan Perikanan Papua Barat Jumat, 26 Januari 2024

Apabila Sobat Lestari tertarik membaca materi dalam SAV ini, Sobat Lestari bisa mengunduhnya di sini.

Post Test: Pemenang SAV Episode 1
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Penyampaian materi SAV Episode 5
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Rangkaian kegiatan SAV ini meliputi: pembukaan – pre test – video pembi – materi – post test dan terakhir yaitu ajakan untuk ke SAV berikutnya. Hasil dari kegiatan SAV untuk seri Life Below Water ini mendapat respon yang positif. Tujuan diadakannya pre-test dan post-test melalui media Kahoot, yaitu untuk melihat tingkat keberhasilan pengetahuan melalui materi yang disampaikan. Kami menyusun 4 pertanyaan mudah dan kami memberikan souvenir menarik untuk pemenang SAV yang mengikuti kegiatan kami!

Harapannya SAV ini dapat meningkatkan kesadaran tidak hanya dari penggiat, namun juga siapa saja yang bisa ikut terlibat dalam menjaga laut tetap dalam kondisi sehat.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Inisiasi Konservasi Penyu di Papua New Guinea

Dimulainya Kembali Kegiatan Pemantauan Penyu di Teluk Huon, Papua New Guinea!

Dimulainya Kembali Kegiatan Pemantauan Penyu di Teluk Huon, Papua New Guinea

Penulis

Yusup Jentewo

Tanggal

9 Maret 2024

Teluk Huon, Provinsi Morobe, Papua New Guinea diketahui merupakan pantai peneluran kedua terpenting bagi penyu belimbing di sekitar wilayah Samudra Pasifik bagian barat. Namun sayangnya kegiatan pemantauan di wilayah ini telah berhenti cukup lama, kurang lebih 10 tahun yang lalu. Tim Universitas Papua (UNIPA) sejak tahun 2022 melakukan berbagai upaya koordinasi untuk memulai kembali kegiatan pemantauan di Teluk Huon. Pada bulan Januari 2023 lalu, tim UNIPA sempat pergi ke kota Lae di Papua New Guinea dan berkunjung ke dua kampung di Teluk Huon yaitu Kampung Lababia dan Kampung Busama. Kunjungan dimaksudkan untuk bertemu stakeholder penting di kota Lae menyampaikan maksud memulai kegiatan monitoring dan mengumpulkan aspirasi dari masyarakat kampung. Berita selengkapnya di sini.

Tindak lanjut dari kunjungan tersebut adalah pada akhir November 2023 tim UNIPA kembali melakukan kunjungan kedua di tahun tersebut. Kunjungan kali ini diwakili oleh Yusup Jentewo dan Tonny Duwiri selama kurang lebih tiga minggu. Tim tiba di kota Lae tanggal 28 November 2023, dan bertemu dengan John Ben selaku Field Coordinator dalam project ini. Tanggal 30 November tim langsung turun ke Kampung Lababia. Tim berangkat bersama Councillor Kampung Lababia (istilah yang serupa dengan kepala kampung). Sesampainya di sana, tim berdiskusi dengan perwakilan orang-orang tua di kampung serta beberapa masyarakat kampung yang dahulu terlibat dalam kegiatan pemantauan di program sebelumnya kami diizinkan untuk memulai kegiatan pemantauan di Kampung Lababia. Musim ini kegiatan pemantauan difokuskan pada Kampung Lababia, untuk Kampung Busama masih dalam tahapan koordinasi. Kampung Lababia juga masuk di dalam wilayah konservasi Kamiali Wildlife Management Area yang luasnya mencapai 69 ribu hektar dan mencakup daratan serta perairan.

Yusup berbicara di pertemuan masyarakat kampung Lababia
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tonny)

Pertemuan dengan Tua-Tua Kampung
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tonny)

Hari Sabtu siang tanggal 2 Desember 2023 koordinator pemantauan di Kampung Lababia yaitu Jack Nala mengumpulkan beberapa masyarakat yang pernah terlibat di pemantauan sebelumnya ataupun beberapa masyarakat yang baru untuk mengikuti materi penyegaran tentang teknik-teknik pemantauan dan lembar data yang dipakai. Untuk membedakan masyarakat yang pernah terlibat di pemantauan ini dengan masyarakat yang baru bergabung, maka para ranger lama disebut sebagai Team Leader (pimpinan tim) dan masyarakat baru yang terlibat disebut sebagai ranger. Pemantauan di pantai peneluran Kampung Lababia melibatkan seluruh keluarga di kampung dengan membagi waktu tugasnya ke dalam rotasi satu mingguan. Terdapat 9 anggota masyarakat yang berlaku sebagai rangers dan 3 team leaders yang bekerja setiap rotasi. Para ranger sangat antusias dengan materi yang diberikan oleh John Ben, Yusup dan Tonny dibuktikan dengan banyaknya yang bertanya dan mereka ingin benar-benar mengetahui terkait protokol yang dipakai serta perbedaannya dengan sebelumnya.

Yusup berbicara di pertemuan masyarakat kampung Lababia
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tonny)

Pantai peneluran penyu belimbing di Kampung Lababia terbagi dalam 6 sektor pantai, dimana satu sektor berjarak 1 kilometer. Sektor pantai 1 sampai 4 dapat dipantau dengan berjalan kaki dari perkampungan namun untuk ke sektor pantai 5 dan 6 harus melewati dua kali kecil yang bernama Arengke dan Biloi. Rangers yang memantau di sektor 5 dan 6 menggunakan perahu dayung untuk ke lokasi tersebut. Setelah melakukan penyegaran materi, malam harinya para rangers langsung memulai kegiatan pemantauan penyu dengan melakukan patroli malam untuk memantau indukan penyu yang naik ke pantai.

John Ben akan melakukan monitoring dan evaluasi (monev) setiap minggu ke Kampung Lababia untuk memastikan kegiatan pemantauan berjalan baik dan memberikan penyegaran materi setiap minggu untuk anggota masyarakat yang baru terlibat. Saat tulisan ini dibuat rotasi di Kampung Lababia telah berjalan sebanyak 13 kali dan sudah lebih dari 150 sarang yang terdata di pantai peneluran Lababia.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Lowongan Kerja Lowongan Kerja

Pengumuman Hasil Seleksi Training Perekrutan PMNH 2024

Pengumuman Hasil Seleksi Training Perekrutan PMNH 2024

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah mengikuti tahap seleksi training Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) pada tanggal 26-28 Februari 2024. Berikut kami sampaikan nama-nama pelamar yang telah LULUS Tahap SELEKSI TRAINING. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

1. Kandidat akan menerima dan menandatangani kontrak pada hari Senin, 04 Maret 2024

2. Bila ada hal yang belum jelas, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cerita Perjalanan dan Kerja Tim Pemantauan Penyu Di Awal Musim Ombak

Cerita Perjalanan dan Kerja Tim Pemantauan Penyu Di Awal Musim Ombak

Penulis

Petrus Batubara

Tanggal

22 Februari 2024

Pada hari Kamis tanggal 1 November 2023 kami Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA berangkat dari Manokwari ke Tambrauw untuk mulai melakukan monitoring di musim ombak (Oktober 2023-Maret 2024). Tujuan kami adalah Pantai Jeen Syuab di Distrik Abun yang berdekatan dengan kampung Wau-Weyaf. Kami menggunakan transportasi laut yaitu kapal Sabuk Nusantara 112 dan berangkat dari Pelabuhan Manokwari pukul 23:03 WIT. Perjalanan ini menempuh waktu sekitar 18 jam, esok harinya kami tiba di kampung Wau-Weyaf pada pukul 17:00 WIT.

Kapal berhenti tepat di perairan depan kampung. Karena tidak ada dermaga untuk kapal bersandar, kami menunggu perahu yang akan menjemput kami perbekalan dan perlengkapan kerja yang kami simpan di gudang kapal. Perahu pun tidak lama datang dan bersandar di samping kapal berdekatan dengan tangga. Setelah itu kami melanjutkan menurunkan muatan barang kami dari kapal ke perahu untuk diantar ke kampung.

Tim mempersiapkan logistik dan makanan untuk dibawa ke lapangan
(Foto : Fian/S4C_LPPM UNIPA)

Kapal Sabuk Nusantara
(Foto : Yusup/S4C_LPPM UNIPA)

Kapal bersandar di Kampung Wau Weyaf
(Foto : Mike/S4C_LPPM UNIPA)

Waktu menunjukan pukul 18:00 WIT hari sudah gelap, tim pun sesuai rencana bermalam di kampung Weyaf dan menginap di rumah belajar yang juga merupakan rumah yang dipergunakan oleh tim Pemberdayaan Masyarakat Program Sains untuk Konservasi. Keesokan paginya pukul 09:00 WIT tim bersiap-siap untuk melakukan perjalanan dari kampung Weyaf ke Pantai Jeen Syuab. Kami menggunakan perahu untuk mengantarkan tim ke pantai peneluran dua kali karena barang-barang yang cukup banyak. Seringkali di musim ombak, kami harus bersandar di bagian pantai yang cukup jauh dari pos dan membawa barang yang cukup banyak dan berat dengan berjalan kaki. Namun kali ini tim sangat bersyukur untuk kondisi laut yang teduh dan bersahabat sehingga perahu yang digunakan bisa bersandar dengan baik di pantai tepat di depan pos. Tim segera menurunkan barang-barang dari perahu dan mengangkutnya langsung ke pos.

Musim ini jumlah kru yang bekerja sebanyak 6 orang, antara lain yang bertugas sebagai Koordinator Pantai Jeen Syuab Petrus Pieter Batubara dan dibantu oleh Johni Mau, Muhamad Faisal, Thomas Hombahomba, Bernadus Duwit dan Mayustilo Abraham Hokoyoku. Satu orang lagi yaitu Tonny Duwiri bergabung di bulan Januari.

Kandang relokasi di musim ombak
(Foto : Petrus Batubara/S4C_LPPM UNIPA)

Bulan Oktober hingga Maret kami sebut sebagai musim ombak, karena pada musim ini ombak dan gelombang pasang sangat tinggi dan mengakibatkan banyak sarang penyu terendam air laut. Ada banyak penyu yang naik bertelur di pantai Jeen Syuab selama musim ini dan sebagian besar sarang akan terendam dan hanyut terbawa oleh air pasang yang sangat tinggi. Oleh sebab itu kami harus memindahkan sarang-sarang yang terancam tersebut ke kandang relokasi untuk mengamankannya.

Tim sedang melakukan briefing di depan pos pantai Jeen Syuab
(Foto : Thomas/S4C_LPPM UNIPA)

Petrus Batubara sedang berkoordinasi dengan salah seorang tenaga lokal pemindahan sarang
(Foto : Thomas/S4C_LPPM UNIPA)

Pada tanggal 3 November 2023, hari pertama tim berada di pos, tim melakukan pembersihan halaman pos lalu melakukan briefing bersama untuk menyamakan persepsi dan merencanakan pekerjaan. Kegiatan di hari pertama dimulai dengan memasang logger suhu (alat pencatat suhu otomatis di pantai) di beberapa titik pantai dan melakukan monitoring harian untuk mendata sarang-sarang di pantai. Tim juga melakukan pengecekan kandang relokasi sarang yang sudah menetas lalu mengevaluasi sarang tersebut. Terdapat satu sarang penyu belimbing yang juga kami pindahkan pada hari pertama ini ke kandang relokasi. Malam harinya tim melakukan patroli malam untuk memantau indukan penyu yang naik bertelur.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya