Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring Konservasi Penyu Belimbing Training

Menggapai Bintang: Kisah Terwujudnya Impian Melalui Penelitian

Menggapai Bintang: Kisah Terwujudnya Impian Melalui Penelitian

Penulis

Elisa Secsio Hendra Putra

Tanggal

28 Maret 2024

Hai, perkenalkan nama saya Elisa Secsio Hendra Putra, biasa dipanggil Sesar. Saya mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Papua (FMIPA-UNIPA) Jurusan Biologi yang melakukan penelitian terkait metode baru perlindungan sarang penyu belimbing (Dermochelys coriacea) menggunakan anyaman sabut kelapa (cocomesh) di pantai Wembrak. Pantai Wembrak merupakan pantai dengan panjang 6 km yang merupakan salah satu pantai peneluran penyu di dalam area Pantai Jeen Yessa, Kabupaten Tambrauw. Melihat penyu merupakan salah satu bucket list saya sejak kecil dan akhirnya saya pun berkesempatan untuk melihatnya secara langsung serta ikut melakukan upaya konservasi penyu lewat penelitian ini. Topik penelitian terkait konservasi penyu belimbing ini telah saya lama persiapkan, sejak semester empat, karena selain saya ingin melihat penyu dan saya senang belajar terkait alam Papua. Banyak perubahan rencana selama saya merancang penelitian ini, mulai dari lokasi, judul, hingga metode penelitiannya. Awalnya saya sedikit khawatir karena penelitian saya ini merupakan penelitian yang bisa dibilang baru. Tim UNIPA di pantai Wembrak menggunakan perlindungan naungan pakis ditambah pagar untuk melindungi sarang secara in situ namun karena keterbatasan tumbuhan pakis di area Pantai Wembrak membuat tim sulit membuat cukup banyak perlindungan ini. Selain hal tersebut, saya juga selalu bertanya selama menjalani penelitian ini apakah penelitian saya akan  berhasil. Saya bersyukur terdapat banyak orang yang mendukung saya. Mereka mengatakan bahwa saya akan menjadi peneliti pertama yang melakukan penelitian dengan metode ini, hal itu membuat saya menjadi semangat dan percaya diri. Setelah semua persiapan seperti mendatangkan bahan, menganyam tali menjadi jaring, membeli kayu dan mempersiapkan diri sendiri, saya pun melakukan petualangan penelitian saya di Tambrauw.

Selama di pantai saya sangat terbantu dengan tim UNIPA dan tenaga patroli lokal yang selalu membantu saya dalam merangkai perlindungan cocomesh ataupun membawa bahan ke lokasi sarang. Kesulitan yang saya alami selama di lapang adalah ketika hujan, beberapa sungai di pantai Wembrak meluap sehingga saya harus menunda kunjungan ke lokasi sarang sampel saya. Lebar sungai di pantai Wembrak sebenarnya tidak terlalu lebar kurang lebih sekitar 40-100 meter namun cukup deras sehingga saya dan tim UNIPA harus menunggu hingga air sungai turun untuk bisa lewat.

Sesar sedang merangkai perlindungan cocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Sesar)

Sesar sedang menanam logger suhu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Sesar)

Setelah kurang lebih tiga bulan melakukan penelitian di Pantai Wembrak hasil yang saya dapatkan tidak mengecewakan semua usaha yang saya lakukan untuk penelitian ini. Selain melakukan penelitian  saya mendapatkan banyak kesempatan belajar hal baru tentang berbagai upaya  konservasi penyu, seperti melakukan kegiatan pemantauan penyu saat malam hari, memasang perlindungan sarang, dan evaluasi sarang. Saya juga diajarkan bagaimana cara mengukur karapas penyu, pemindaian (scanning) Passive Integrated Transponder (PIT tag), dan yang tidak akan pernah saya lupakan adalah pada saat saya memasang PIT tag pada induk penyu untuk pertama kalinya.

Sesar sedang merangkai perlindungan cocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Sesar)

Sesar sedang menanam logger suhu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Sesar)

Hal yang tidak kalah saya syukuri adalah dapat berinteraksi dengan masyarakat setempat di Kampung Resye dan Womom yang sebagian juga bekerja di pantai sebagai tenaga patroli lokal, tenaga perlindungan sarang, pembuat kandang relokasi atau kontribusi lainnya yang membantu kegiatan pemantauan dan perlindungan sarang. Dengan terlibat dalam penelitian ini bersama tim UNIPA belajar tentang kemampuan dan potensi diri yang saya belum ketahui

Karena saya perlu membandingkan sukses penetasan sarang yang dilindungi dengan cocomesh, pakis, dan yang tidak dilindungi dalam penelitian ini, saya harus menunggu sampai masa penetasan sarang di pantai. Sementara menunggu sampel sarang penelitian saya menetas, saya berotasi ke pantai lain yaitu Pantai Batu Rumah dan Warmamedi (dua pantai yang juga bagian dari Pantai Jeen Yessa) untuk belajar ancaman dan metode perlindungan sarang yang berbeda disana. Ketiga pantai ini sangat unik menurut saya karena memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Ditambah, panorama yang begitu memanjakan mata membuat saya lupa akan suasana hiruk pikuk perkotaan. Saya menjadi sangat betah untuk tinggal di pantai hingga tak terasa bahwa sudah waktunya untuk kembali ke kota untuk menyelesaikan skripsi. Pantai Jeen Yessa  membuat saya tidak pernah berhenti berpikir kapan lagi saya bisa kembali lagi ke sana.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Lowongan Kerja Lowongan Kerja

Pengumuman Hasil Seleksi Wawancara KP2, TLP2 dan TMP2 Tahun 2024

Pengumuman Hasil Seleksi Wawancara KP2, TLP2 dan TMP2 Tahun 2024

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi Tenaga Koordinator Pantai Peneluran (KP2), Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2), dan Tenaga Magang Pantai Peneluran (TMP2). Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Wawancara. Kami sampaikan nama-nama yang tersebut dapat diakses melalui web di bawah ini. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang telah terpilih.
Bagi yang belum terpilih, jangan berkecil hati ya. Semoga di masa depan bisa berkesempatan bergabung.

Catatan :

Pelamar KP2: cek di halaman 1

Pelamar TLP2 : cek di halaman 2

Pelamar TMP2 : cek di halaman 3

Kategori
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Sekolah Alam Virtual Balik Lagi dengan Tema yang Fresh!

Sekolah Alam Virtual Balik Lagi dengan Tema yang Fresh!

Penulis

Jane Lense

Tanggal

14 Maret 2024

Hallo Sobat Lestari!

Sekolah Alam Virtual (SAV) hadir kembali di tahun 2024 dengan seri terbaru! Kalau seri kemarin kita diajak untuk melihat keindahan laut, manfaat laut untuk manusia, serta peran manusia untuk menjaga lingkungan laut, di SAV seri terbaru kali ini kami mengangkat tema “Berbagi Cerita Penyu di Taman Pesisir Jeen Womom” yang tidak kalah seru dan menarik, lho!

Melalui platform Zoom dan Youtube, kami bersama para sobat SAV yang hadir dari berbagai daerah di seluruh Indonesia dan dari berbagai kelompok umur, serta latar belakang yang berbeda-beda, bertemu secara virtual dan belajar banyak dari (para) narasumber yang hebat dengan materi serta cerita yang menarik terkait penyu dan upaya perlindungan yang dilakukan di TP Jeen Womom.

Episode pertama SAV di seri yang baru ini dimulai dengan topik “Mengenal Taman Pesisir Jeen Womom dan Kegiatan Pemantauan Penyu” yang berlangsung pada tanggal 16 Februari 2024. Narasumber pada episode pertama ini adalah Kaka Yusup Jentewo, yang adalah tim konservasi pada Program Development Assistant di Program Sains untuk Konservasi (S4C), LPPM Unipa.

Pemaparan materi oleh narasumber
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pemenang kuis SAV episode pertama
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tonny)

Kaka Yusup mengajak kita “jalan-jalan” ke Taman Pesisir Jeen Womom dan melihat aktivitas pemantauan penyu dan perlindungan sarang yang dilakukan oleh tim S4C LPPM Unipa bersama dengan masyarakat lokal disana, yang dilakukan secara rutin dengan tujuan untuk memulihkan dan melestarikan populasi penyu. Lewat materi yang dibagikan oleh Kaka Yusup, sobat SAV jadi tahu kalau lokasi TP Jeen Womom yang berada di Kabupaten Tambrauw itu terbagi menjadi 2 pantai besar, yaitu Pantai Jeen Yessa dan Pantai Jeen Syuab.

Sobat SAV juga mendapat suatu fakta menarik dari materi yang disampaikan oleh Kaka Yusup, kalau Taman Pesisir Jeen Womom menjadi lokasi pantai peneluran penyu belimbing terbesar di Pasifik Barat, lho! Namun, sayangnya populasi penyu belimbing di TP Jeen Womom sudah menurun sejak tahun 1980an. Dengan adanya SAV ini, kita bisa tahu bersama-sama status populasi penyu karena adanya tim yang melakukan pendataan dan pemantauan aktivitas peneluran penyu di TP Jeen Womom. Sobat SAV yang ketinggalan episode pertama kemarin atau ingin menonton ulang SAV kemarin, bisa nonton lagi di sini!

Sekolah Alam Virtual ini seperti yang sudah dilakukan di seri sebelumnya, akan berlanjut dengan episode-episode lain yang baru, pada tema yang masih sama yaitu “Berbagi cerita penyu”, dengan topik-topik yang menarik seperti: a) Perlindungan sarang penyu dan penelitian di TP Jeen Womom; b) Bagaimana kami mengevaluasi sarang penyu di TP Jeen Womom?; c) Sejarah TP Jeen Womom dan bagaimana wisata edukasi di TP Jeen Womom. Jangan lewatkan SAV episode yang akan datang dan pantau terus informasinya di sosial media kami ya!

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

POV Pembi: Si Penyu Belimbing yang Hidup di Laut yang Sehat

POV Pembi: Si Penyu Belimbing yang Hidup di Laut yang Sehat

Penulis

Abigail Lang

Tanggal

13 Maret 2024

Ada 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau biasa dikenal SDGs yang dicetus sejak tahun 2015 oleh Anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dari 17 tujuan tersebut kami mengambil tema ke 14 yaitu “Kehidupan di bawah laut” / “Life Below Water”. Mengakhiri tahun 2023 yang lalu, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua mengadakan kegiatan Sekolah Alam Virtual (SAV) dengan seri Life Below Water. Kegiatan ini dapat diikuti oleh peserta dari seluruh pulau Sabang-Merauke.

Kami memperkenalkan tokoh animasi yang kami beri nama Pembi (singkatan dari Penyu Belimbing yang merupakan salah satu hewan yang tertua di dunia yang memainkan peran penting dalam ekosistem laut). Melalui video yang ditambahkan tokoh Pembi, tim kami di S4C ini, kami melihat adanya kesempatan untuk dapat membagikan pengetahuan sains secara sederhana, yang dapat diterima di semua kalangan dengan menargetkan anak-anak hingga orang dewasa. Selain video edukasi, kami menciptakan nuansa asyik dengan mempelajari kehidupan bawah laut secara runut yang dibagi ke dalam 5 episode.

Penyampaian materi SAV Episode 2
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tokoh Animasi Pembi: Penyu Belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Secara singkatnya melalui tokoh Pembi, kami memberikan gambaran sudut pandang seekor tukik penyu belimbing yang bercerita secara holistik tentang pentingnya laut dalam kehidupan manusia maupun makhluk hidup di sekitarnya. Melihat dari aktivitas manusia seperti pembuangan sampah sembarangan, polusi udara yang drastis dan overfishing saat ini laut telah rusak sehingga berdampak terhadap ekosistem laut. Untuk menjaga laut, diperlukan tindakan berkelanjutan seperti pelestarian sumber daya laut, pengurangan limbah plastik dan penerapan kebijakan yang mendukung hal tersebut. Di sini, peran pemerintah sangat penting dalam menegakkan regulasi ketat serta memberikan edukasi kepada masyarakat.

Dalam kegiatan ini kami mengundang narasumber yang memiliki pengalaman terkait dengan bidang mereka masing-masing tentang kondisi laut. Narasumber yang kami undang umumnya bekerja di wilayah Papua dan Sulawesi. Kesadaran tentang pentingnya laut ternyata tidak hanya dari penggiat konservasi ataupun dari instansi saja, namun dari kalangan yang memiliki latar belakang pendidikan/pekerjaan yang berbeda. SAV ini kami lakukan mulai dari promosi di beberapa platform sosial media, kemudian peserta melakukan pendaftaran melalui Google form, sampai pada hari kegiatannya melalui Zoom dan live stream YouTube.

Episode Nama Program Narasumber Asal Institusi Waktu
1 Apa gunanya laut untuk kita? Deasy N Lontoh LPPM UNIPA Jumat, 6 Oktober 2023
2 Benarkah laut kita sedang rusak? Ratna N Kuswara FFI – Site Tanah Papua Jumat, 27 Oktober 2023
3 Apa akibatnya kalau laut kita rusak? Samuel L Opa Institut Sains Teknologi Esa Trinita Jumat, 17 November 2023
4 Apa yang bisa aku buat untuk laut? Toto R Darwinto KOMPAK (Komunitas Pecinta Alam dan Kemanusiaan) Jumat, 15 Desember 2023
5 Apa pemerintah juga jaga laut kita? Rahel Randa Dinas Kelautan dan Perikanan Papua Barat Jumat, 26 Januari 2024

Apabila Sobat Lestari tertarik membaca materi dalam SAV ini, Sobat Lestari bisa mengunduhnya di sini.

Post Test: Pemenang SAV Episode 1
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Penyampaian materi SAV Episode 5
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Rangkaian kegiatan SAV ini meliputi: pembukaan – pre test – video pembi – materi – post test dan terakhir yaitu ajakan untuk ke SAV berikutnya. Hasil dari kegiatan SAV untuk seri Life Below Water ini mendapat respon yang positif. Tujuan diadakannya pre-test dan post-test melalui media Kahoot, yaitu untuk melihat tingkat keberhasilan pengetahuan melalui materi yang disampaikan. Kami menyusun 4 pertanyaan mudah dan kami memberikan souvenir menarik untuk pemenang SAV yang mengikuti kegiatan kami!

Harapannya SAV ini dapat meningkatkan kesadaran tidak hanya dari penggiat, namun juga siapa saja yang bisa ikut terlibat dalam menjaga laut tetap dalam kondisi sehat.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Inisiasi Konservasi Penyu di Papua New Guinea

Dimulainya Kembali Kegiatan Pemantauan Penyu di Teluk Huon, Papua New Guinea!

Dimulainya Kembali Kegiatan Pemantauan Penyu di Teluk Huon, Papua New Guinea

Penulis

Yusup Jentewo

Tanggal

9 Maret 2024

Teluk Huon, Provinsi Morobe, Papua New Guinea diketahui merupakan pantai peneluran kedua terpenting bagi penyu belimbing di sekitar wilayah Samudra Pasifik bagian barat. Namun sayangnya kegiatan pemantauan di wilayah ini telah berhenti cukup lama, kurang lebih 10 tahun yang lalu. Tim Universitas Papua (UNIPA) sejak tahun 2022 melakukan berbagai upaya koordinasi untuk memulai kembali kegiatan pemantauan di Teluk Huon. Pada bulan Januari 2023 lalu, tim UNIPA sempat pergi ke kota Lae di Papua New Guinea dan berkunjung ke dua kampung di Teluk Huon yaitu Kampung Lababia dan Kampung Busama. Kunjungan dimaksudkan untuk bertemu stakeholder penting di kota Lae menyampaikan maksud memulai kegiatan monitoring dan mengumpulkan aspirasi dari masyarakat kampung. Berita selengkapnya di sini.

Tindak lanjut dari kunjungan tersebut adalah pada akhir November 2023 tim UNIPA kembali melakukan kunjungan kedua di tahun tersebut. Kunjungan kali ini diwakili oleh Yusup Jentewo dan Tonny Duwiri selama kurang lebih tiga minggu. Tim tiba di kota Lae tanggal 28 November 2023, dan bertemu dengan John Ben selaku Field Coordinator dalam project ini. Tanggal 30 November tim langsung turun ke Kampung Lababia. Tim berangkat bersama Councillor Kampung Lababia (istilah yang serupa dengan kepala kampung). Sesampainya di sana, tim berdiskusi dengan perwakilan orang-orang tua di kampung serta beberapa masyarakat kampung yang dahulu terlibat dalam kegiatan pemantauan di program sebelumnya kami diizinkan untuk memulai kegiatan pemantauan di Kampung Lababia. Musim ini kegiatan pemantauan difokuskan pada Kampung Lababia, untuk Kampung Busama masih dalam tahapan koordinasi. Kampung Lababia juga masuk di dalam wilayah konservasi Kamiali Wildlife Management Area yang luasnya mencapai 69 ribu hektar dan mencakup daratan serta perairan.

Yusup berbicara di pertemuan masyarakat kampung Lababia
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tonny)

Pertemuan dengan Tua-Tua Kampung
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tonny)

Hari Sabtu siang tanggal 2 Desember 2023 koordinator pemantauan di Kampung Lababia yaitu Jack Nala mengumpulkan beberapa masyarakat yang pernah terlibat di pemantauan sebelumnya ataupun beberapa masyarakat yang baru untuk mengikuti materi penyegaran tentang teknik-teknik pemantauan dan lembar data yang dipakai. Untuk membedakan masyarakat yang pernah terlibat di pemantauan ini dengan masyarakat yang baru bergabung, maka para ranger lama disebut sebagai Team Leader (pimpinan tim) dan masyarakat baru yang terlibat disebut sebagai ranger. Pemantauan di pantai peneluran Kampung Lababia melibatkan seluruh keluarga di kampung dengan membagi waktu tugasnya ke dalam rotasi satu mingguan. Terdapat 9 anggota masyarakat yang berlaku sebagai rangers dan 3 team leaders yang bekerja setiap rotasi. Para ranger sangat antusias dengan materi yang diberikan oleh John Ben, Yusup dan Tonny dibuktikan dengan banyaknya yang bertanya dan mereka ingin benar-benar mengetahui terkait protokol yang dipakai serta perbedaannya dengan sebelumnya.

Yusup berbicara di pertemuan masyarakat kampung Lababia
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tonny)

Pantai peneluran penyu belimbing di Kampung Lababia terbagi dalam 6 sektor pantai, dimana satu sektor berjarak 1 kilometer. Sektor pantai 1 sampai 4 dapat dipantau dengan berjalan kaki dari perkampungan namun untuk ke sektor pantai 5 dan 6 harus melewati dua kali kecil yang bernama Arengke dan Biloi. Rangers yang memantau di sektor 5 dan 6 menggunakan perahu dayung untuk ke lokasi tersebut. Setelah melakukan penyegaran materi, malam harinya para rangers langsung memulai kegiatan pemantauan penyu dengan melakukan patroli malam untuk memantau indukan penyu yang naik ke pantai.

John Ben akan melakukan monitoring dan evaluasi (monev) setiap minggu ke Kampung Lababia untuk memastikan kegiatan pemantauan berjalan baik dan memberikan penyegaran materi setiap minggu untuk anggota masyarakat yang baru terlibat. Saat tulisan ini dibuat rotasi di Kampung Lababia telah berjalan sebanyak 13 kali dan sudah lebih dari 150 sarang yang terdata di pantai peneluran Lababia.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Lowongan Kerja Lowongan Kerja

Pengumuman Hasil Seleksi Training Perekrutan PMNH 2024

Pengumuman Hasil Seleksi Training Perekrutan PMNH 2024

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah mengikuti tahap seleksi training Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) pada tanggal 26-28 Februari 2024. Berikut kami sampaikan nama-nama pelamar yang telah LULUS Tahap SELEKSI TRAINING. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

1. Kandidat akan menerima dan menandatangani kontrak pada hari Senin, 04 Maret 2024

2. Bila ada hal yang belum jelas, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cerita Perjalanan dan Kerja Tim Pemantauan Penyu Di Awal Musim Ombak

Cerita Perjalanan dan Kerja Tim Pemantauan Penyu Di Awal Musim Ombak

Penulis

Petrus Batubara

Tanggal

22 Februari 2024

Pada hari Kamis tanggal 1 November 2023 kami Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA berangkat dari Manokwari ke Tambrauw untuk mulai melakukan monitoring di musim ombak (Oktober 2023-Maret 2024). Tujuan kami adalah Pantai Jeen Syuab di Distrik Abun yang berdekatan dengan kampung Wau-Weyaf. Kami menggunakan transportasi laut yaitu kapal Sabuk Nusantara 112 dan berangkat dari Pelabuhan Manokwari pukul 23:03 WIT. Perjalanan ini menempuh waktu sekitar 18 jam, esok harinya kami tiba di kampung Wau-Weyaf pada pukul 17:00 WIT.

Kapal berhenti tepat di perairan depan kampung. Karena tidak ada dermaga untuk kapal bersandar, kami menunggu perahu yang akan menjemput kami perbekalan dan perlengkapan kerja yang kami simpan di gudang kapal. Perahu pun tidak lama datang dan bersandar di samping kapal berdekatan dengan tangga. Setelah itu kami melanjutkan menurunkan muatan barang kami dari kapal ke perahu untuk diantar ke kampung.

Tim mempersiapkan logistik dan makanan untuk dibawa ke lapangan
(Foto : Fian/S4C_LPPM UNIPA)

Kapal Sabuk Nusantara
(Foto : Yusup/S4C_LPPM UNIPA)

Kapal bersandar di Kampung Wau Weyaf
(Foto : Mike/S4C_LPPM UNIPA)

Waktu menunjukan pukul 18:00 WIT hari sudah gelap, tim pun sesuai rencana bermalam di kampung Weyaf dan menginap di rumah belajar yang juga merupakan rumah yang dipergunakan oleh tim Pemberdayaan Masyarakat Program Sains untuk Konservasi. Keesokan paginya pukul 09:00 WIT tim bersiap-siap untuk melakukan perjalanan dari kampung Weyaf ke Pantai Jeen Syuab. Kami menggunakan perahu untuk mengantarkan tim ke pantai peneluran dua kali karena barang-barang yang cukup banyak. Seringkali di musim ombak, kami harus bersandar di bagian pantai yang cukup jauh dari pos dan membawa barang yang cukup banyak dan berat dengan berjalan kaki. Namun kali ini tim sangat bersyukur untuk kondisi laut yang teduh dan bersahabat sehingga perahu yang digunakan bisa bersandar dengan baik di pantai tepat di depan pos. Tim segera menurunkan barang-barang dari perahu dan mengangkutnya langsung ke pos.

Musim ini jumlah kru yang bekerja sebanyak 6 orang, antara lain yang bertugas sebagai Koordinator Pantai Jeen Syuab Petrus Pieter Batubara dan dibantu oleh Johni Mau, Muhamad Faisal, Thomas Hombahomba, Bernadus Duwit dan Mayustilo Abraham Hokoyoku. Satu orang lagi yaitu Tonny Duwiri bergabung di bulan Januari.

Kandang relokasi di musim ombak
(Foto : Petrus Batubara/S4C_LPPM UNIPA)

Bulan Oktober hingga Maret kami sebut sebagai musim ombak, karena pada musim ini ombak dan gelombang pasang sangat tinggi dan mengakibatkan banyak sarang penyu terendam air laut. Ada banyak penyu yang naik bertelur di pantai Jeen Syuab selama musim ini dan sebagian besar sarang akan terendam dan hanyut terbawa oleh air pasang yang sangat tinggi. Oleh sebab itu kami harus memindahkan sarang-sarang yang terancam tersebut ke kandang relokasi untuk mengamankannya.

Tim sedang melakukan briefing di depan pos pantai Jeen Syuab
(Foto : Thomas/S4C_LPPM UNIPA)

Petrus Batubara sedang berkoordinasi dengan salah seorang tenaga lokal pemindahan sarang
(Foto : Thomas/S4C_LPPM UNIPA)

Pada tanggal 3 November 2023, hari pertama tim berada di pos, tim melakukan pembersihan halaman pos lalu melakukan briefing bersama untuk menyamakan persepsi dan merencanakan pekerjaan. Kegiatan di hari pertama dimulai dengan memasang logger suhu (alat pencatat suhu otomatis di pantai) di beberapa titik pantai dan melakukan monitoring harian untuk mendata sarang-sarang di pantai. Tim juga melakukan pengecekan kandang relokasi sarang yang sudah menetas lalu mengevaluasi sarang tersebut. Terdapat satu sarang penyu belimbing yang juga kami pindahkan pada hari pertama ini ke kandang relokasi. Malam harinya tim melakukan patroli malam untuk memantau indukan penyu yang naik bertelur.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Uncategorized @id

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi dan Informasi Seleksi Wawancara KP2, TLP2 dan TMP2 Tahun 2024

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi dan Informasi Seleksi Wawancara KP2, TLP2 dan TMP2 Tahun 2024

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Administrasi. Dari hasil seleksi administrasi tersebut 24 Orang pada posisi Koordinator Pantai Peneluran (KP2), 70 Orang pada posisi Tenaga Lapangan Pantai Peneluran (TLP2), dan 13 Orang pada posisi Tenaga Magang Pantai Peneluran (TMP2) dinyatakan LULUS. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri Tahap SELEKSI WAWANCARA. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Wawancara dilaksanakan secara online melalui zoom pada tanggal 20-21 Maret 2024

2. Peserta diharapkan memperhatikan room, tanggal dan jam wawancara dengan cermat

3. Peserta diharapkan telah hadir 10 menit sebelum waktu wawancara di ruang zoom yang telah disediakan (link zoom menyusul)

4. Teknis pelaksanaan wawancara akan disampaikan melalui WAG sehingga pastikan Anda telah tergabung dalam WAG yang diperoleh ketika mendaftar pertama kali

5. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya. Sampai bertemu di seleksi selanjutnya.

Catatan :

Pelamar KP2: cek di halaman 1

Pelamar TLP2 : cek di halaman 2-4

Pelamar TMP2 : cek di halaman 5

Kategori
Lowongan Kerja Lowongan Kerja

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap I dan Informasi Seleksi Wawancara Surveyor Lapangan Tahun 2024

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap I dan Informasi Seleksi Wawancara Surveyor Lapangan Tahun 2024

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Administrasi. Dari hasil seleksi administrasi tersebut 22 orang dinyatakan LULUS. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri Tahap SELEKSI WAWANCARA. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

 

1. Wawancara akan dilaksanakan tanggal 22-23 Februari 2024

2. Wawancara dilakukan secara online dan offline (khusus yang berdomisili di Manokwari)

3. Peserta yang Lulus Tahap Wawancara akan dihubungi secara langsung (WhatsApp Group)

4. Bila ada hal-hal yang kurang jelas, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

 

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya.

Kategori
Lowongan Kerja Lowongan Kerja

Pengumuman Hasil Seleksi Wawancara PMNH Tahun 2024

Pengumuman Hasil Seleksi Wawancara PMNH Tahun 2024

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah mengikuti tahap seleksi wawancara Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) pada tanggal 13 Februari 2024. Berikut kami sampaikan nama-nama pelamar yang telah LULUS Tahap SELEKSI WAWANCARA dan terpilih sebagai KANDIDAT UTAMA. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

1. Pelaksanaan Training dan Seleksi Akhir dilakukan di Manokwari, Papua Barat

2. Kandidat pelamar PMNH diundang ke Manokwari untuk mengikuti Training & Seleksi Akhir yang akan dilaksanakan pada tanggal 26 – 28 Februari 2024

3. Peserta yang diundang dalam Training dan Seleksi Akhir diwajibkan mengisi form kesediaan pada link berikut: paling lambat tanggal 21 Februari 2024 pukul 17.00 WIT

4. Peserta yang namanya tidak tercantum di atas akan masuk ke dalam Daftar Tunggu dan akan dihubungi paling lambat 22 Februari 2024, jika terpilih mengikuti seleksi tahap selanjutnya

5. Bila ada hal yang belum jelas, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Sampai bertemu di Manokwari!