Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Inisiasi Konservasi Penyu di Papua New Guinea New Template Uncategorized @id

Leatherback Monitoring Continues on the Huon Coast, Papua New Guinea

Leatherback Monitoring Continues on the Huon Coast, Papua New Guinea

Author

Yusuf Adrian Jentewo

Date

23 Oktober 2025

In April 2025, Huon Coast Leatherback Turtle Project (HCLTP) wrapped up the second monitoring season at Lababia nesting beach, in Huon Gulf, Papua New Guinea. The first monitoring was conducted from December 2023 until March 2024. The Huon Gulf coastline is the second-largest nesting site for the Western Pacific leatherback sea turtle (Dermochelys coriacea), following West Papua, which hosts the highest nesting density for this population. This gulf is located in Morobe province, specifically within the Huon District. This sub-population is listed as critically endangered on The International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List (2013) and urgently needs protection in its vital habitats.

To protect leatherback turtles along the Huon Gulf coast, the Huon Coast Leatherback Turtle Project (HCLTP) was launched in 2022 by the Ocean Ecology Network, with the University of Papua as the implementing partner. During the latest nesting season, monitoring was conducted from 16 November 2024 to 8 April 2025. A total of 147 people from Lababia Village participated, working in rotating teams of 13 each week. The community showed strong enthusiasm for the project, as it provided meaningful employment through work as local rangers. Beyond direct income, the project also strengthened the local economy, as earnings from the rangers circulated within the community and supported local livelihoods.

Lababia Rangers after their weekly refresher training
(Photo : HCLTP Team)

One of the Kamiali Wildlife Management Area (WMA) leaders signed a Memorandum of Understanding (MoU) with the Ocean Ecology Network
(Photo : HCLTP Team)

On 13 November 2024, leaders of the Kamiali Wildlife Management Area (WMA) signed a Memorandum of Understanding (MoU) with the Ocean Ecology Network, witnessed by village elders and community members. The agreement formalized the community’s trust and support for the project in their area. Through the MoU, the project committed to implementing its activities with transparency and inclusivity. In return, the community pledged their support by appointing local representatives to serve as rangers each week, helping ensure the work was carried out with dedication and responsibility.

Field Coordinator John Ben worked tirelessly to ensure the program ran smoothly on the ground. Throughout the nesting season, he traveled almost every week from Lae to Lababia, working closely with Lababia Coordinator Jack Nala to oversee local rangers who patrolled the nesting beach daily. The rangers recorded every nest and protected vulnerable ones from threats such as dogs, invasive plants, and high waves. They also built bamboo grids to prevent predators from digging up nests and relocated nests that were at risk due to environmental conditions. These efforts were critical in increasing hatchling survival and supporting leatherback population recovery.

Lababia Coordinator briefing rangers
(Photo : HCLTP Team)

Leatherback turtle nest protected from predators using a bamboo grid
(Photo : HCLTP Team)

The team recorded a significant rise in nesting activity this season, with 221 leatherback nests laid—an increase from 174 nests in 2023–2024. Of these, 152 nests were protected, representing 69% of the total, compared to 119 nests (68%) in the previous season. This progress is largely due to the extended monitoring period, which enabled more complete data collection and increased the number of recorded nests. While the previous season covered only four months (December–March), the 2024–2025 season was successfully extended to nearly six months (November–April).

Share this post

Related News

Our Videos

Other Categories

Other News

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring New Template

Dari Manokwari ke Warmamedi: Cerita Vio Menjaga Penyu

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Dari Manokwari ke Warmamedi: Cerita Vio Menjaga Penyu

Penulis

Yusuf Adrian Jentewo

Tanggal

22 September 2025

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Angelica Violin Karubaba, atau sering dipanggil Vio oleh teman-temannya, merupakan anak Manokwari yang berkesempatan menjadi tenaga magang di periode pertama bulan Mei-Juli 2025. Ini sedikit cerita terkait magang Vio di salah satu peneluran penyu Tambrauw, yaitu Pantai Warmamedi. Pada awalnya, ia mendapat informasi terkait magang ini dari grup PAM (Persekutuan Anggota Muda) gereja dan merasa tertarik karena ia belum pernah melihat penyu secara langsung. Walaupun ini bukan pekerjaan pertamanya, magang ini adalah pekerjaan di bidang konservasi laut pertama bagi Vio.

Tenaga magang merupakan salah satu posisi di tim Monitoring Penyu dan Perlindungan Sarang, Program Sains untuk Konservasi, LPPM Universitas Papua (UNIPA) di pantai peneluran Jeen Womom. Posisi ini berfokus menunjang usaha perlindungan sarang penyu. Vio membantu melindungi sarang-sarang penyu di Pantai Warmamedi dengan dua metode, yaitu pagar untuk sarang penyu belimbing dan percobaan perlindungan fiber glass untuk penyu sisik. Di Pantai Warmamedi, Vio bertugas bersama Spenyel (koordinator pantai), Denis (tenaga lapangan), Antho (tenaga lapangan), dan Kofifa (tenaga lapangan).

Vio menulis papan nomor sektor di Pos Warmamedi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Violin Karubaba)

Selain fokus pada perlindungan sarang, Vio juga terlibat dalam pekerjaan lain seperti patroli malam. Aktivitas ini bertujuan mendata individu penyu yang naik ketika malam. Saat patroli, tim berjalan di sepanjang pantai pada malam hari. Aktivitas ini menarik bagi Vio karena ia dapat merasakan uniknya berjalan, duduk, dan memantau penyu bersama tim. Vio juga beberapa kali berkesempatan membantu menandai penyu dengan PIT (Passive Integrated Transpondertag. Awalnya, hal ini menantang baginya. Namun, setelah diajari beberapa kali oleh teman timnya, ia pun dapat melakukannya.

Seperti motivasinya di awal, di pantai Vio berhasil berjumpa langsung dengan penyu, bukan hanya satu jenis melainkan empat jenis. Pada malam pertama patroli, ia menemukan penyu lekang yang sedang bertelur. Di malam ketiga, ia berjumpa dengan penyu belimbing dan penyu hijau. Penyu hijau yang ia lihat sangat sensitif ketika didekati. Di antara keempat jenis penyu, yang paling jarang terlihat adalah penyu sisik. Vio beruntung melihatnya langsung saat berenang di pinggir kapal. Menurutnya, penyu merupakan hewan yang sangat cantik dan perlu dilestarikan.

Vio mengukur lebar karapas penyu belimbing menggunakan meteran saku
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Violin Karubaba)

Vio memindai PIT tag pada penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Violin Karubaba)

Baca juga : Belajar Sambil Bertualang: Pelajaran Berharga di Pantai Peneluran – Bagian 1

Seperti layaknya pekerjaan di lapangan, tidak semua menyenangkan. Vio pernah mengalami sakit di lapangan pada bulan Mei. Dia mengalami demam dan sakit lambung karena adaptasi dengan pekerjaan. Vio sampai harus dilarikan ke puskesmas di Kwor (pusat distrik) dan selanjutnya ke Manokwari. Namun, di situlah dia melihat kekompakan teman-teman yang saling membantu dan memperhatikannya. Akhirnya, ia dapat kembali bergabung dengan tim pada awal Juni.

Tim Monev bersama dengan Tim PMNH di Kampung Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tonny Duwiri)

Selain bekerja, Vio juga senang menikmati suasana alam di pantai peneluran. Keindahan sunset dan sunrise adalah waktu favoritnya, di mana langit berwarna jingga dan pepohonan bertemu pantai serta laut, menciptakan landscape yang menakjubkan.

Selama tiga bulan bekerja di lapangan, Vio semakin mengenal satwa penyu secara langsung dan menumbuhkan rasa sayang terhadap hewan ini. Dia sangat menyayangkan masih ada orang yang berburu penyu di lokasi lain. Dia pun mengapresiasi pekerjaan tim lapangan di pantai peneluran yang ia sebut “di luar prediksi” karena sangat berdedikasi dalam menjaga penyu dan melindungi sarang-sarang di sana.

Akhir kata, Vio dalam wawancaranya mengucapkan terima kasih atas kesempatan bekerja sebagai tenaga magang ini, dan apabila terdapat hal yang tidak berkenan selama dia bekerja, ia mohon maaf sebesar-besarnya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring New Template

Pari Manta dan Ancaman di Jalur Migrasi Raja Ampat

Pari Manta dan Ancaman di Jalur Migrasi Raja Ampat

Penulis

Jane Lense

Tanggal

17 September 2025

Raja Ampat dikenal dunia sebagai wilayah dengan keindahan laut yang sulit ditandingi dan kekayaan hayati yang luar biasa. Gugusan pulau dan perairannya menjadi habitat bagi ribuan spesies, mulai dari terumbu karang yang bervariasi hingga megafauna seperti pari manta dan penyu. Salah satu kawasan ikoniknya adalah Kepulauan Wayag di Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) Waigeo Sebelah Barat yang tersohor berkat tebing karst menjulang dan laut biru jernih. Namun, di balik pesonanya, perairan Wayag menyimpan kisah penting tentang keberlangsungan hidup megafauna laut yang kini terus menghadapi ancaman.

Pada Juni 2025, Tim Monitoring Ekologi Sains untuk Konservasi LPPM Universitas Papua bersama BLUD UPTD Raja Ampat dan para mitra yaitu: Loka PSPL Sorong, BKKPN Kupang Satker Raja Ampat, BBTN Teluk Cenderawasih, Dinas P2KP Papua Barat Daya, Yayasan Konservasi Indonesia dan warga lokal di Raja Ampat melakukan pemantauan kesehatan karang di Waigeo. Hasil visual memperlihatkan kondisi bervariasi, sebagian membaik, sebagian terdampak. Namun, momen paling berkesan terjadi ketika tim menjumpai pari manta di perairan Kepulauan Waigeo Sebelah Barat. Beberapa ekor pari manta melayang anggun mengikuti arus, tubuh raksasanya tampak tenang di dalam air, seolah bergerak tanpa usaha. Panjang tubuhnya melebihi 3 meter dengan bentangan sayap hampir dua kali tinggi manusia dewasa. Gerakannya lambat, seperti tarian di dalam air. Pola hitam putih di punggungnya pun unik, layaknya sidik jari alami yang menjadi penanda tiap individu. Meski berukuran raksasa, pari manta adalah ikan jinak tanpa sengat seperti kerabat pari lainnya, hanya kalah besar dari sesama raksasa laut, Hiu Paus (Rhincodon typus).

Tiga ekor pari manta sedang “perawatan” di cleaning station Eagle Rock
(Foto : UPTD BLUD Raja Ampat/Imanuel Mofu)

Pari manta, salah satu megafauna laut Indonesia yang dilindungi, terdiri atas tiga spesies, dua di antaranya masih dapat ditemukan di perairan Indonesia. Salah satu spesies, pari manta hynei (Mobula hynei), telah dianggap punah. Dua spesies yang tersisa adalah pari manta oseanik (Mobula birostris) dan pari manta karang (Mobula alfredi). Namun, keduanya kini resmi berstatus genting atau terancam punah (endangered species) menurut Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) sejak 2022, karena populasinya terus menurun akibat berbagai faktor ancaman.

Raja Ampat menjadi rumah bagi pari manta di sejumlah lokasi yang dikenal sebagai cleaning station. Pulau Uranie, Pulau Bag, Eagle Rock, dan titik-titik lain menjadi titik perhentian penting bagi spesies ini. Pada penelitian Conservation International, McCoy (2024: Spatial connectivity of reef manta rays across the Raja Ampat archipelago, Indonesia. R. Soc. Open Sci.11230895) mengungkap adanya jalur migrasi yang menghubungkan lokasi-lokasi tersebut, membentuk manta superhighway. Ibarat jalan tol di darat, jalur ini menghubungkan berbagai titik penting di laut yang dilalui pari manta dalam perjalanannya. Di sepanjang “jalan tol” laut ini, terdapat lokasi khusus yang disebut cleaning station–semacam “rest area” alami yang memungkinkan pari manta beristirahat, membersihkan diri dengan bantuan ikan-ikan kecil, bersosialisasi, sekaligus bertemu populasi lain.

Kemunculan pari manta di permukaan di perairan Wayag
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Kemunculan pari manta di permukaan di perairan Wayag
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Namun, ancaman nyata mengintai ekosistem ini. “Rumah” pari manta di Kepulauan Wayag berdekatan dengan Pulau Kawe yang memiliki aktivitas tambang nikel, membawa risiko besar. Sedimentasi dari limpasan hujan di area tambang berpotensi mengubur terumbu karang, merusak fungsi cleaning station, serta mengganggu ketersediaan makanan pari manta. Kehilangan satu titik penting seperti Eagle Rock dapat memutus rantai migrasi, memengaruhi perilaku makan, dan menurunkan populasi pari manta di Raja Ampat. Ironisnya, Eagle Rock berada di luar kawasan konservasi laut resmi, sehingga tidak mendapatkan perlindungan penuh dari ancaman tersebut.

Kehadiran pari manta yang melintas anggun di wilayah ini, bersamaan dengan temuan visual terkait ancaman ekosistem seperti sedimentasi, menjadi pengingat bagi kami bahwa upaya perlindungan laut harus mencakup seluruh fungsi habitat—bukan sekadar menjaga terumbu karang atau membatasi aktivitas penangkapan ikan. Perlindungan juga berarti memahami keterkaitan antar spesies, jalur migrasi, dan titik-titik penting yang mungkin berada di luar kawasan konservasi resmi. Menjaga kesehatan ekosistem laut mutlak diperlukan. Pari manta tidak akan datang ke perairan yang tercemar atau rusak. Mereka membutuhkan laut yang sehat, sebagaimana manusia membutuhkan udara bersih.

Seekor pari manta sedang berenang dengan tenang dan anggun
(Foto : Loka PSPL Sorong/Prehadi)

Pari manta yang melintas di perairan Raja Ampat adalah simbol laut yang sehat. Setiap gerak sayapnya mengingatkan kita bahwa melindungi mereka berarti menjaga keseimbangan ekosistem, yang menjadi sumber kehidupan bagi banyak makhluk. Superhighway atau jalur laut para manta harus tetap aman, agar generasi mendatang masih dapat menyaksikan makhluk ini “melayang” bebas di birunya laut Raja Ampat.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Lebih dari Penanda Waktu: Kalender sebagai Media Edukasi Konservasi Laut Papua

Lebih dari Penanda Waktu: Kalender sebagai Media Edukasi Konservasi Laut Papua

Penulis

Liana Mongdong

Tanggal

30 Agustus 2025

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) melakukan diseminasi informasi yang didesain dalam bentuk kalender kepada pemerintah daerah, institusi pendidikan, dan masyarakat umum di Kota Sorong serta Kabupaten Raja Ampat pada bulan Agustus 2025. Informasi yang dimuat dalam kalender tersebut berupa data hasil monitoring ekologi dan sosial-ekonomi pada tahun 2019 hingga 2022 di wilayah Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Raja Ampat. Kalender ini juga menampilkan hasil kegiatan pemantauan penyu, perlindungan sarang, dan pemberdayaan masyarakat di Taman Pesisir Jeen Womom pada tahun 2024.

Seluruh data monitoring sosial-ekonomi, ekologi, penyu, dan kegiatan pemberdayaan masyarakat tersebut merupakan bagian dari aktivitas Program Sains untuk Konservasi yang dilaksanakan oleh LPPM UNIPA bersama mitra konservasi di Bentang Laut Kepala Burung Papua. Meskipun dibagikan pada bulan Agustus 2025, kalender ini tetap relevan karena berlaku untuk periode Juli 2025 hingga Juni 2026.

Diseminasi di SMA N 3 Sorong
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Diseminasi di Wilayah Raja Ampat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Mengapa kalender? 

Kalender dipilih sebagai salah satu produk diseminasi karena memiliki banyak keunggulan:

1. Fungsi praktis

Kalender digunakan oleh semua kalangan untuk mencatat tanggal, acara, maupun pengingat penting. Karena bermanfaat untuk digunakan sehari-hari, orang cenderung menyimpannya dan menggunakannya sepanjang tahun.

2. Desain informatif dan menarik

Kalender tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu, tetapi juga dapat dikemas dengan gambar serta informasi edukatif yang menarik perhatian.

3. Mudah terlihat dan bertahan lama

Kalender bisa dicetak dalam berbagai ukuran dan biasanya ditempel di dinding atau diletakkan di meja. Berbeda dengan brosur atau pamflet yang mudah terselip atau terbuang, kalender akan terus terlihat dan memberi pesan berulang kepada penggunanya.

Informasi kalender bulan Juli 2025
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Informasi kalender bulan Agustus 2025
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Penasaran? Yuk, kita lihat isinya!

1. Fakta mengagumkan di lembar pertama

Pada lembar pertama tersaji informasi tentang Bentang Laut Kepala Burung Papua, seperti luasnya kawasan konservasi laut, hamparan terumbu karang yang menjadi bagian penting dari total karang dunia, hingga kehidupan masyarakat pesisir dengan keragaman suku dan bahasa. Lautnya menjadi rumah bagi ratusan jenis ikan, berbagai spesies paus dan lumba-lumba (cetacea), serta penyu yang setiap tahun datang untuk bertelur.

2. Peta kawasan konservasi

Lembar kedua menampilkan peta Bentang Laut Kepala Burung Papua. Dari peta ini, terlihat sebaran wilayah perlindungan, dari pesisir hingga laut lepas, yang semuanya berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem.

3. Manfaat konservasi laut

Lembar ketiga menjelaskan manfaat kawasan konservasi: menjaga ekosistem dan keanekaragaman hayati (manfaat ekologis), memperkuat hubungan sosial masyarakat pesisir, hingga mendukung ekonomi berkelanjutan, seperti perikanan ramah lingkungan dan ekowisata.

4. Tantangan menjaga laut

Lembar keempat menguraikan kondisi lingkungan serta aktivitas merugikan dari manusia yang berpengaruh terhadap kesehatan laut. Dengan memahami keduanya, kita dapat merancang langkah-langkah tepat agar laut tetap sehat dan produktif.

5. Kegiatan lapangan

Lembar kelima hingga kedua belas menampilkan dokumentasi kegiatan nyata di lapangan, antara lain:

  • Hasil monitoring ekologi pada beberapa area di KKP Raja Ampat
  • Hasil survei kesejahteraan masyarakat pada beberapa area di KKP Raja Ampat
  • Hasil monitoring ekologi pada SAP Waigeo Sebelah Barat
  • Upaya konservasi penyu belimbing yang holistik di Taman Pesisir Jeen Womom

Informasi kalender bulan September 2025
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Informasi kalender bulan Oktober 2025
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Semua ini menjadi bukti nyata bahwa konservasi tidak hanya tentang menjaga alam, tetapi juga membangun keberlanjutan hidup masyarakat. Kalender ini lebih dari sekadar penanda waktu. Ia adalah jendela pengetahuan dan pengingat tentang pentingnya menjaga laut serta kehidupan yang bergantung padanya. Setiap lembar membuka wawasan baru, setiap gambar dan cerita mengajak kita untuk peduli.

Informasi kalender bulan Desember 2025
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Informasi kalender bulan Juni 2026
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Di samping itu, kalender ini diharapkan menjadi pengingat sehari-hari bahwa konservasi adalah tanggung jawab bersama agar laut tetap lestari, habitat penyu terpelihara, dan generasi mendatang dapat menikmati kekayaan alam Papua.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Uncategorized @id

Perempuan dalam Rantai Ekonomi Perikanan Lokal

Perempuan dalam Rantai Ekonomi Perikanan Lokal

Penulis

Jeniffer Maleke, Marthinus Rumere, Arnoldus Ananta

Tanggal

7 Agustus 2025

Di Kampung Deer, Distrik Kofiau, Raja Ampat, ada satu nama yang hampir dikenal semua orang. Ialah Mama Ance Watem, perempuan tangguh, bersuara lantang, penuh semangat, dan tak pernah ragu menyuarakan pendapatnya. Ia adalah perempuan yang menjalani berbagai peran sekaligus, dengan tanggung jawab besar di pundaknya.

Saat hari baru dimulai, Mama Ance sudah bersiap di ketinting kecil miliknya, perahu bermesin sederhana yang ia beli dari hasil kerja kerasnya sendiri. Ia turun melaut saat fajar dan kadang baru kembali ke kampung ketika matahari telah terbenam. Kalian pasti tidak percaya bahwa seorang perempuan membawa sebuah ketinting, tapi itu nyata. Tujuannya? Mencari ikan. Tangkapannya kadang untuk dikonsumsi keluarga, kadang untuk dijual. Akan tetapi, bukan itu saja yang membuatnya istimewa.

Mama Ance juga menjalankan peran penting sebagai salah satu plasma ikan hidup di kampung, yaitu perantara antara nelayan kampung dan kapal pengangkut ikan hidup (jolor) yang datang rutin, biasanya sebulan sekali. Ikan-ikan hasil tangkapan nelayan ditampung dalam keramba miliknya, lalu disalurkan ke kapal tersebut. Ia bertanggung jawab penuh atas kelancaran izin angkut ikan, kualitas ikan hidup yang diserahkan, dan proses negosiasi pembayaran. Jika ada ikan yang tak sesuai standar, Mama Ance pula yang harus bertanggung jawab. Namun, semua itu ia jalani dengan serius dan tanpa mengeluh.

“Plasma adalah orang yang mengurus izin angkut ikan ke kapal penadah. Kalau kedapatan ikan yang dibawa hasil bom atau potas, ikan akan dikembalikan dan plasma akan diberi teguran, kapal berikut tidak bisa membawa ikan, kunjungan setelahnya baru bisa bawa ikan lagi,” cerita Mama Ance dalam wawancara.

Foto Keramba
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Lebih dari itu, peran Mama Ance dalam pasar ikan hidup di Distrik Kofiau sangat penting. Ia bukan hanya penampung ikan di satu kampung. Di tingkat distrik, ia menjadi salah satu aktor penting yang menjaga kontinuitas pasokan ikan hidup dari Distrik Kofiau ke pasar yang lebih luas, terutama untuk komoditas bernilai tinggi seperti ikan kerapu. Keberadaannya memastikan bahwa nelayan di kampung-kampung kecil tetap bisa menjual hasil tangkapannya ke pembeli besar yang datang dari luar daerah. Sebagai perempuan yang aktif di posisi strategis ini, kehadiran Mama Ance juga berkontribusi pada stabilitas ekonomi kampung. Banyak nelayan kecil yang tidak memiliki akses langsung ke pembeli luar mengandalkan jasa dan kepercayaan yang ia bangun.

Sebagai seorang ibu tunggal, ia juga membesarkan anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Di sela aktivitasnya sebagai nelayan, ia juga merupakan petani kopra dan aktif dalam kegiatan sosial keagamaan. Ia menjadi pengasuh anak-anak PAR (Persekutuan Anak dan Remaja) di Sekolah Minggu dan menjadi pengurus PW (Persekutuan Wanita) di gereja

Waktunya terbagi antara laut, ladang, dan kegiatan sosial. Saat cuaca mendukung, ia akan turun ke laut, menangkap ikan dengan kail dan nelon (tali pancing) miliknya. Ikan-ikan yang ditangkap ditampung dalam tempat khusus yang dibuatnya dalam ketinting. Setelah sampai di darat, ia akan memisahkan ikan hidup yang ditangkapnya ke dalam keramba sederhana yang dibuat untuk menampung ikan sebelum kapal pengangkut masuk ke kampung. Ketika cuaca berubah dan laut tak bersahabat, Mama Ance akan memilih turun ke kebun, mengurus kopra sebagai sumber penghasilan utama keluarga.

“Kalau mancing biasanya ke ujung tanjung. Cari ikan dari pagi sampai siang baru pulang untuk masak. Kalau sudah lelah di laut, langsung ke kebun untuk cek lahan,” tuturnya.

Seorang ibu yang hendak pergi memancing ikan hidup
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Seorang ibu dalam perjalanan pulang ke kampung setelah melaut
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Mama Ance tidak dapat menangkap ikan setiap bulan. Ada saat ketika sedang lelah, ia hanya mampu mengurus ikan dari nelayan lain yang dibawa untuk dijual melalui perahu jolor yang merapat ke kampung. Melalui proses itu, ia tetap menjalankan tugasnya sebagai plasma, walau tak selalu ada ikan miliknya yang terjual.

Menjadi plasma bukan hal yang umum bagi perempuan di banyak tempat. Namun, Mama Ance menunjukkan bahwa kepercayaan, keberanian, dan relasi baik dengan masyarakat bisa membuka ruang bagi perempuan untuk terlibat aktif dalam ekonomi kelautan. Perannya tidak hanya soal mengangkut ikan, ia adalah salah satu simpul penting dalam jaringan perdagangan ikan hidup di kampung. Ia tahu kapan kapal datang, tahu siapa yang punya tangkapan bagus, dan tahu bagaimana memastikan semua nelayan mendapatkan bayaran yang layak. Ia menjadi bukti bahwa perempuan punya tempat penting dalam rantai ekonomi lokal, meskipun seringkali tak terlihat di permukaan.

Cerita Mama Ance bukan sekadar kisah tentang laut atau hasil tangkapan. Ini adalah cerita tentang ketekunan seorang perempuan dalam menghadapi tantangan, mengisi ruang-ruang yang kerap didominasi laki-laki, dan menjadi figur yang dipercaya oleh banyak orang. Perjalanan Mama Ance mengajarkan kita satu hal penting bahwa pemberdayaan tidak selalu harus datang dari luar. Terkadang, ia tumbuh dari dalam, dari seorang perempuan yang bekerja dengan hati, membangun relasi, dan menggerakkan ekonomi lokal dengan cara-cara yang mungkin sederhana, tapi berdampak nyata.

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Meilani: Menghadapi Tantangan, Menemukan Makna

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Meilani: Menghadapi Tantangan, Menemukan Makna

Penulis

Meilani Ravenska

Tanggal

12 Agustus 2025

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Perjalanan saya sebagai Pendamping Masyarakat dimulai di Kampung Resye-Womom, tempat tanpa internet, listrik, atau kendaraan. Di sana, saya menghadapi tantangan baru sebagai pengajar, sesuatu yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Jika Sobat Lestari belum membaca cerita pertama tentang bagaimana saya mengatasi rasa gugup dan menyesuaikan diri mengajar anak-anak, simak kisah saya di bagian pertama perjalanan ini.

Petualangan lain terjadi saat kami diajak ikut kerja bakti di kebun dekat Kali Wemak pada pukul 10.00 WIT. Saya kira tempat itu dekat, tetapi ternyata perjalanan memakan waktu sekitar satu jam, melewati tebing batu dengan air pasang. Saya tidak menyesal, malah menikmati perjalanan itu meski penuh rintangan. Kami memanjat tebing, melewati hutan, dan menyusuri kali kecil sembari menangkap udang bersama anak-anak.

Saat melintasi kali yang diterangi cahaya di balik pepohonan, hati saya tenang, dan saya teringat lagu, “Seindah siang disinari terang, cara Tuhan mengasihiku.” Setibanya di kebun, kami membagi tugas: pria membabat kebun, wanita memasak. Saya membantu mama-mama mengupas dan memarut pisang muda. Setelah selesai, saya dan anak-anak Rumah Belajar mandi di kali. Mereka mahir berenang dan meminta untuk lompat ke air dari pundak saya.

Saya mulai terbiasa dengan tugas sebagai Pendamping Masyarakat, belajar bersosialisasi dengan orang baru. Di sini, saya merasa kami semua pemula dan saling melengkapi. Saya sering berkumpul dengan warga untuk kerja bakti atau bercanda sambil menikmati teh panas.

Kelompok 1 berusaha menyelesaikan permainan puzzle
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Perlombaan memasukkan air ke dalam baskom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Saat pertengahan April 2025, kami mulai mempersiapkan perayaan Paskah. Pada 17 April, kami mengadakan kegiatan di SD YPK Lachai-Roy Saubeba, seperti menyanyi bersama, bercerita, dan bermain puzzle untuk kelas remaja. Saya dan Tian -rekan Pendamping Masyarakat- menangani kelas remaja, dan meski puzzle tak selesai dalam waktu yang ditentukan, kami tetap senang melihat antusiasme mereka. Pada 19 April, kegiatan dilanjutkan dengan permainan di pantai, seperti estafet air dan tarik tambang. Saya ikut serta dan merasa bahagia melihat kegembiraan anak-anak.

Setelah itu, kami mengadakan nonton bersama, meski sempat terkendala karena proyektor yang tidak lengkap. Tapi dengan bantuan Tian dan Valen -rekan Pendamping Masyarakat-, kami berhasil membagi kelompok dan nonton dengan satu laptop per kelompok. Malam harinya, kami mengadakan Cerdas Cermat Alkitab (CCA), yang berlangsung hingga larut malam.

Nonton bersama film “Kasih Terbesar” di GKI Lachai-Roy Saubeba
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan CCA di GKI Lachai-Roy Saubeba
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pagi-pagi saat pawai obor untuk perayaan Paskah, saya merasa lelah, namun ikut merasakan kebersamaan dan cinta tanpa syarat. Setelah itu, kami melanjutkan dengan ibadah fajar di gereja. Sore harinya, meski sudah pukul 17.00, kami latihan menyanyi untuk ibadah Paskah kedua dengan antusiasme yang tinggi, meski sempat terlewatkan oleh beberapa orang.

Kedekatan kami dengan anak-anak semakin erat. Saya dan Tian sering berkumpul bersama mereka untuk bersantai dan menikmati pemandangan pantai setelah kegiatan. Saat libur sekolah berakhir, saya mulai mengajar di sekolah sebagai guru untuk kelas III & IV, meski harus mengajar dua kelas sekaligus. Mereka belajar dengan semangat meski terbatas, dan saya bangga dengan keinginan mereka untuk mencoba.

Latihan lagu untuk dinyanyikan pada perayaan Paskah kedua
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan belajar mengajar di SD YPK Lachai-Roy Saubeba
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Meskipun saya tidak pernah membayangkan menjadi Pendamping Masyarakat, tugas ini membawa saya pada pengalaman yang luar biasa. Mereka menjadi keluarga baru bagi saya, memberi saya sayur dan daging, dan mengajarkan arti cukup yang lebih luas. Di sini, saya belajar untuk merajut asa bersama mereka di tempat terpencil.

Tantangan ini menjadi anugerah bagi saya, dan saya merasa ini adalah pilihan tepat meski penuh kesulitan. Seperti yang dikatakan Prof. Bagus Muljadi -Putra Betawi yang saat ini menjadi Dosen di University of Nottingham, Inggris-, “Tujuan hidup sebenarnya adalah makna.” Saya berani keluar dari zona nyaman untuk melihat dunia dari perspektif yang berbeda, memberi kontribusi kecil di kampung ini.

Saya meminjam lirik lagu Tulus -nama vokalis solo terkenal saat ini di Indonesia-, “Dimanapun kalian berada, kukirimkan terima kasih tuk warna dalam hidupku dan banyak kenangan indah.” Salam hangat dari saya, Pendamping Masyarakat.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Jendela Dunia dari Kampung Kecil: Perjalanan Literasi di Tambrauw

Jendela Dunia dari Kampung Kecil: Perjalanan Literasi di Tambrauw

Penulis

Potrosina Etty Daunema, Kartika Zohar

Tanggal

18 Juli 2025

Salah satu anak dari Kampung Wau-Weyaf sedang membaca buku
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Di sebuah daerah pesisir kepala burung, Kabupaten Tambrauw, Distrik Abun, terdapat dua kampung kecil bernama Wau dan Weyaf. Kampung ini hanya dipisahkan oleh jalan setapak, tetapi kehidupan masyarakatnya sangat terhubung erat. Di tengah-tengah kampung, berdiri sebuah rumah belajar sederhana yang menjadi pusat kegiatan edukatif bagi anak-anak. Di dalamnya terdapat perpustakaan mini, dengan rak-rak buku kayu yang dibuat dari papan seadanya.

Meski sederhana, perpustakaan ini sangat berharga. Rak bukunya memang tetap di tempat, tetapi fungsinya dinamis dan interaktif. Tim Pemberdayaan Masyarakat datang secara berkala, membawa semangat baru dan buku-buku segar untuk anak-anak. Koleksi buku yang dibawa pun beragam, mulai dari buku pelajaran, cerita rakyat, novel anak, hingga komik edukatif. Tujuan kami sederhana: meningkatkan literasi dan minat baca anak-anak di kampung Wau dan Weyaf.

Setiap hari Sabtu menjadi waktu yang paling dinantikan. Anak-anak berkumpul di rumah belajar dengan wajah ceria, siap mendengarkan dongeng atau cerita rakyat yang kami bacakan. Kegiatan dimulai dengan memperkenalkan buku baru, kemudian kami membacakan ceritanya dengan ekspresi dan suara yang penuh semangat. Anak-anak duduk melingkar, mendengarkan dengan saksama, tertawa, bertanya, dan bahkan menirukan suara tokoh dalam cerita.

Tak hanya di dalam ruangan, kegiatan perpustakaan juga dilakukan di luar ruangan. Anak-anak diajak menikmati pembelajaran di alam terbuka, menjadikan suasana belajar lebih menyenangkan dan segar.

Baca juga : Cahaya Harapan di Wau Weyaf

Yang membuat kami bangga, anak-anak kini mulai menunjukkan minat besar terhadap dunia membaca. Mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi mulai membaca sendiri. Bagi yang sudah lancar membaca, mereka mengambil buku dari rak, membacanya, menggambar tokoh dan hewan dalam cerita, bahkan mencoba menjelaskan isi cerita dengan kata-kata mereka sendiri. Semua ini menjadi bukti bahwa kegiatan sederhana ini telah membuka pintu imajinasi dan pengetahuan bagi anak-anak.

Perpustakaan Mini di Rumah Belajar Kampung Wau-Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menuliskan Isi Bacaan pada Cerita oleh Anak-Anak Kampung Wau-Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bagi kami, perpustakaan bukan sekadar tempat membaca. Ini adalah jembatan antara kampung dan dunia luar—tempat anak-anak belajar bermimpi dan bercita-cita. Harapan kami sederhana: semoga dari rumah belajar kecil ini, lahir generasi muda yang cerdas, kreatif, gemar membaca, dan mencintai ilmu pengetahuan. Karena membaca adalah jendela dunia untuk memperluas wawasan dan membangun masa depan bangsa.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring New Template

Jackson: Menjaga Penyu di Pantai Wembrak

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Jackson: Menjaga Penyu di Pantai Wembrak

Penulis

Jackson Bundah

Tanggal

13 Juli 2025

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Halo Sobat Lestari! perkenalkan saya Jackson Bundah, tetapi banyak yang memanggil saya dengan sebutan “Jacky” dan “Jek”. Sebelum saya bergabung di Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang, saya pernah bergabung dalam tim yang lain di Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA. Sejak tahun 2023 hingga Februari 2025, saya bergabung dalam tim BHS (Bird’s Head Seascape) Sosial Ekonomi. Dan terhitung bulan Maret 2025 saya diberi kesempatan untuk bergabung bersama kru pantai (begitu istilah yang diberikan untuk kami yang bekerja memantau dan melindungi sarang penyu di pantai). Ini adalah pengalaman baru bagi saya. Alasan saya tertarik bergabung dalam tim ini adalah karena saya ingin memperluas wawasan dan pengalaman saya dibidang konservasi, khususnya di bidang pelestarian penyu yang unik dan penuh tantangan. Saya percaya bahwa pelestarian penyu tidak hanya penting bagi keseimbangan ekosistem laut, tapi juga menjadi bagian dari warisan alam yang harus kita jaga bersama. Apalagi penyu yang akan saya temui adalah penyu belimbing, si penjelajah laut dari pesisir Papua hingga ke pesisir Amerika Serikat! Saya sangat takjub saat pertama kali menginjakan kaki di Pantai Jeen Yessa karena tidak menyangka bahwa pantainya memiliki pemandangan yang sangat bagus dan memanjakan mata. Selain itu, banyak hal baru serta tantangan seru dan menarik yang saya dapatkan selama bekerja di Pantai Jeen Yessa. Siapa sangka, saya yang jarang melihat penyu dan hanya mengenal penyu dari cerita teman-teman, pada akhirnya bekerja untuk konservasi penyu di salah satu pantai peneluran terbesar di Pasifik Barat! Saya ditugaskan di Pos Pemantauan Pantai Wembrak, Jeen Yessa. Salah satu pengalaman yang paling seru bagi saya adalah ketika kami harus mengantar bahan makanan dan beberapa kebutuhan ke pos-pos di pantai lain menggunakan perahu. Sebelum menepi ke pantai atau saat mau keluar dari pantai, kami harus menghitung deburan ombak yang datang agar perahu kami tidak dimasuki air atau agar tidak terbalik bila ada ombak besar.  Kalau salah perhitungan, sudah pasti perahu bisa terbalik; kru pantai menyebutnya dengan istilah “salto biawak”, hal penting yang saya pelajari adalah cara menyiapkan bama (bahan makanan) atau perlengkapan pos di setiap pantai dengan benar agar semua perlengkapan aman dan tidak mudah rusak. Selain itu, saya juga harus belajar menghitung ombak dengan teliti sebelum masuk ke pantai. Kalau salah perhitungan, sudah pasti perahu bisa terbalik seperti salto biawak, yang tentu sangat berbahaya. Kadang, ketika ombak sedang besar, saya harus mendorong perahu ke laut dengan cara menggantungkan badan di perahu supaya tetap seimbang dan tidak terbawa arus. Pengalaman ini sangat menantang sekaligus mengajarkan saya untuk selalu waspada dan beradaptasi dengan kondisi laut yang sangat dinamis.

Salah satu momen yang paling berkesan adalah saat saya pertama kali melihat penyu bertelur di Pantai Wembrak. Melihat langsung proses penyu bertelur adalah pengalaman yang jarang didapatkan banyak orang. Meskipun awalnya saya sempat takut, terutama saat melihat penyu belimbing yang ukurannya cukup besar, perlahan rasa takut itu hilang dan saya mulai terbiasa dengan kehadiran mereka. Momen itu membuat saya semakin mengagumi keindahan dan keajaiban alam yang tersembunyi di balik pantai yang saya kunjungi. Selain penyu belimbing, di sana saya bertemu dengan beberapa jenis penyu lainnya seperti penyu lekang dan penyu hijau.

Mengukur panjang karapas induk penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Mengukur lebar karapas induk penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pantai Wembrak hingga Pantai Batu Rumah menjadi tempat favorit saya untuk berlatih menjaga kebugaran. Area ini saya anggap sebagai sport center karena di sini saya tidak perlu mencari tempat lain untuk olahraga. Kondisi pantai yang asik dan suasananya yang mendukung membuat saya nyaman berlatih setiap hari. Selain itu, berlatih di tengah alam terbuka seperti pantai membuat saya merasa lebih segar dan semangat, berbeda dengan berolahraga di tempat gym atau lapangan biasa. Pantai ini juga memberikan energi positif yang membantu saya tetap optimal dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Selain pengalaman dan latihan fisik, saya juga mendapatkan banyak teman baru dari tiga pantai yang saya kunjungi. Mereka adalah teman-teman yang asik dan memiliki banyak cerita unik tentang kehidupan di pesisir. Selain itu, saya juga bertemu dengan orang-orang kampung yang sangat ramah dan bersahabat. Interaksi dengan mereka membuat pengalaman saya semakin berwarna dan menyenangkan. Mereka selalu menyambut saya dengan hangat, memberikan bantuan, dan berbagi cerita tentang budaya serta kebiasaan setempat yang saya anggap sangat menarik.

Memasang chip pada induk penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menandai sarang penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Dari keseluruhan perjalanan ini, saya belajar banyak hal tidak hanya tentang alam dan tantangan fisik, tapi juga tentang nilai kebersamaan dan kekeluargaan. Setiap pantai dan orang-orang yang saya temui membawa warna dan pelajaran baru dalam hidup saya. Pengalaman ini membuat saya merasa lebih dekat dengan alam sekaligus memperkaya wawasan sosial saya. Saya sangat bersyukur bisa merasakan langsung keindahan dan keunikan dari pantai-pantai tersebut, serta bertemu dengan teman-teman dan masyarakat lokal yang begitu ramah dan hangat. Sampai disini perkenalan singkat dari saya, jangan pernah bosan untuk membaca cerita seru kami dari pantai peneluran, jika teman teman pembaca ada waktu kesempatan, mari! datang dan berkunjung di Pantai Jeen Yessa, melihat penyu dan menikmati indahnya alam Papua di sini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Melani: Kalahkan Gugup, Mengajar dengan Hati di Kampung Penyu

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Melani: Kalahkan Gugup, Mengajar dengan Hati di Kampung Penyu

Penulis

Meilani Ravenska

Tanggal

12 Juli 2025

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Langit tampak bersahabat, tak memunculkan cahaya pekatnya kala bertandang ke  suatu tempat yang bagiku tak pernah masuk dalam list tuk dipijaki. Kampung Resye-Womom, Distrik Tobouw, Kabupaten Tambrauw. Inilah nama tempat baru yang kupijak, sebuah tempat tanpa jaringan internet, tak tampak tiang listrik, serta kendaraan. Disinilah cerita baru dan jejak kenangan terukir sebagai seorang Pendamping Masyarakat (PM).

Rabu, 26 Maret 2025 dan waktu menunjukkan pukul 11.00 WIT. Di atas kapal KM Sabuk Nusantara 112 yang mengantarkanku tiba di kampung ini, saya berdiri di bentangan luas megah yang menyamankan mata, dengan lautan biru  menyejukkan sanubari yang terbentang luas menyapa membentuk samudera, beserta hamparan hutan yang menyimpan misteri kekayaannya. Dari kejauhan, saya menatap kampung yang tepat berada di depan.

Setibanya kapal berlabuh, saya beserta tim lainnya pun hendak turun dari kapal.  Oh iya, jangan membayangkan kami turun langsung menginjakkan kaki di dermaga, tentu saja tak seperti itu. Sebuah perahu dari kampung menjemput kami dan itu artinya kapal berada jauh lepas pantai. Hmmmm, pemandangan baru dan menjadi satu bagian menarik bagiku karena belum pernah seperti itu sebelumnya.

Setibanya di daratan Kampung Resye, tak jauh dari posisi kami berdiri setelah turun dari perahu, tampak beberapa anak-anak dari Rumah Belajar sedang menanti kedatangan kami dan membantu mengangkat barang-barang dari perahu. Worwer dan Celine, dua nama pertama yang saya dengar dan ingat kala Putri, salah seorang tim monev (monitoring evaluasi) menyapa mereka.

Melihat mereka dengan karakter yang berbeda, tanpa berbekal pengalaman mengajar dan pemberdayaan yang minim, saya pun agak wanti-wanti dan diserbu pertanyaan dalam pikiran, “Mengajar? Benarkah ini? Bukankah ini hal yang tak pernah ingin saya lakukan?”. Ok, saya berusaha meredam suara-suara rumit itu dan menenangkan diri sembari beberes Rumah Belajar bersama teman-teman lain yang tampak berantakan karena telah ditinggalkan begitu lama.

Beberapa hari kemudian, pada pagi yang tenang kala fajar perlahan muncul di ufuk timur memancarkan sinarnya yang lembut ke seluruh penjuru kampung disertai alunan ombak, perlahan saya mengangkat tubuh mungil saya dari perasaan rumit yang menghampiri sembari berkata dalam hati, “Tenang saja, semua akan baik-baik saja,” ujar saya kala masih menerka-nerka, apakah benar ini pilihan tepat yang saya pilih?

Duduk bersama warga
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kebersamaan bersama anak-anak pada sore hari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Saya pun keluar menghampiri dunia yang tenang, tak begitu riuh bak di kota sembari mengecap aroma kampung yang teduh dan membiarkan angin sejuk menyapa wajah saya. Saya pun melihat ke sekeliling, mengamati aktivitas pagi di tempat ini. Tampak bagi saya, seorang mama (panggilan akrab dalam dialek Papua Melayu untuk wanita Papua usia paruh baya) yang sedang menyapu hamparan dedaunan kering pada halaman rumahnya, beberapa mama dan bapa yang lalu lalang hendak pergi ke kebun, dan anak-anak yang telah berada di sekitar pantai untuk bermain dan berenang. Waaahhh, pemandangan yang begitu berbeda sekali dengan perkotaan.

Seusai pemandangan teduh pagi hari, saya tiba pada sore yang begitu riuh. Tampak masyarakat yang bermain bola voli dan sepakbola berteman cahaya keemasan yang tersipu malu hendak pergi. Aaahhh, saya menikmati pemandangan tersebut sembari mencerca tiap adegan yang saya lihat, riuh yang bisa saya terima seolah saya berada pada masa kecil kembali, yang dipenuhi dengan permainan di luar ruangan seperti itu.

Kini langkah saya terhenti di pinggiran pantai yang disertai lantunan ombak yang menggulung imaji, bak musik yang memecahkan lamunanku. Deburan ombak, desiran angin, dan mentari kian membumi membiaskan siluetnya yang tak sia-sia mengesun rona jingga, menyuguhkan keteduhan pinggir pantai. Saya pun menerima ketenangan yang ditawarinya, keheningan yang menggandeng saya berbicara pada diri sendiri. Bebas, benar-benar bebas tanpa drama yang saling beradu. Pikir saya semuanya tampak membaik sejauh ini, saya hanya perlu keluar dari zona nyaman dan cerita dari rumah yang berbeda. “Bukankah hal seperti ini yang kamu inginkan, Mei?”, ujar pikir saya. Gelap di langit pun jadi pertanda cahaya mulai redup dan riuh pun ikut serta membumi. Dengan hati yang penuh syukur pada pemandangan di sekitarku, saya pun melangkah pergi kembali ke Rumah Belajar.

Senin, 31 Maret 2025. Hari bersejarah bagi saya, hahaha. Ini kali pertama pengalaman saya dalam hal mengajar, bahkan tak pernah ada dalam benak saya hal ini akan terjadi. Saya tak pernah suka dipanggil dengan kata “guru”, sebab bagi saya itu sebuah kata yang terlalu sulit dengan tanggung jawabnya sebagai pendidik. Tampak terlihat oleh saya rak telur yang kosong, sehingga saya pun mulai menghitung apa bisa sebanyak 26 abjad? Dan ya, ternyata jumlah telurnya bisa sebanyak 26. Lekas saya ambil kertas dan mengguntingnya dengan pola telur, lalu menulis abjad A-Z dan menempelkannya pada rak telur. Setelah itu, saya membuat abjad lagi pada kertas memo berwarna dan berpola hati yang ditempelkan dengan lidi pada masing-masing huruf untuk ditancapkan pada rak telur yang khusus berhuruf vokal.

Hari pertama KBM di Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Rumah belajar Kampung Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Baiklah, rasanya seperti ini ya mengajar dengan beban terdapat anak yang belum bisa membaca ditambah lagi harus berkeliling kampung untuk mencari anak-anak supaya bisa belajar. Tetapi, akhirnya saya bisa melakukan hal ini dan saya rasa tidak terlalu buruk untuk percobaan pertama dalam hal mengajar. Saya pun semakin menikmati hal ini hari demi hari dan sepertinya saya mulai terbiasa dengan rutinitas itu.

Akhirnya, tantangan mengajar pun bisa saya lewati secara perlahan-lahan, walau bagi saya itu berat. Antusias dan semangat yang mereka miliki untuk belajar menjadi alasan saya bertahan. Wajah anak-anak yang sedang merajut asa dan senang belajar, walau harus dibatasi oleh keikutsertaan mereka ke kebun membantu orang tuanya, bahkan harus menimang adiknya. Mereka seolah tak punya waktu belajar di rumah, terlihat lebih sering menimang dibanding ditimang, tetapi itulah realita yang dihadapi tepat di depan saya. Saya pun sadar itulah peran kami di sini, di tempat dengan situasi seperti yang saya hadapi dan ternyata selama ini arti cukup itu terlalu sempit bagi saya. Ini merupakan petualangan bagi saya yang tak pernah saya jumpai sebelumnya.

Perjalanan mengajar memang penuh tantangan, tapi petualangan saya belum usai sampai di situ. Di bagian berikutnya, saya akan berbagi pengalaman lain yang tak kalah seru dan bermakna bersama warga kampung. Simak ceritanya di sini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Kekayaan Alam Raja Ampat: Temuan Selama Monitoring Ekosistem Laut di Ayau dan Asia

Kekayaan Alam Raja Ampat: Temuan Selama Monitoring Ekosistem Laut di Ayau dan Asia

Penulis

Jane Lense

Tanggal

11 Juli 2025

Kawasan Konservasi Perairan Ayau dan Asia, yang terletak di jantung Raja Ampat, Papua Barat, merupakan rumah bagi salah satu sistem atol terbesar di Indonesia. Wilayah ini menyimpan kekayaan ekosistem laut yang luar biasa, mulai dari spesies laut karismatik, habitat penting bagi pertumbuhan ikan-ikan muda (Nursery ground), hingga terumbu karang yang menjadi fondasi kehidupan bawah laut. Keanekaragaman hayati dan produktivitas ekosistemnya menjadikan Ayau dan Asia sebagai kawasan konservasi yang sangat bernilai, baik secara ekologis maupun ekonomis.

Pada tanggal 2-3 Juni 2025, tim Reef Health Monitoring melakukan survei ekologi selama dua hari di kawasan ini. Tim ini terdiri dari 13 orang yang berasal dari berbagai instansi, yaitu Sains untuk Konservasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Papua (LPPM UNIPA), Unit Pelaksana Teknis Daerah Badan Layanan Umum Daerah Raja Ampat (UPTD BLUD Raja Ampat), Konservasi Indonesia (KI), Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Sorong (Loka PSPL Sorong), Balai Kawasan Pelestarian Pesisir dan Laut Kupang Satker Raja Ampat (BKPPN Kupang Satker Raja Ampat), Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Papua Barat Daya (DP2KP Papua Barat Daya), dan Balai Besar Taman Nasional Teluk Cendrawasih (BBTNTC). Kegiatan Reef Health Monitoring (RHM) ini didanai dan disponsori oleh Blue Abadi Fund. Hasil pemantauan memperlihatkan dua sisi yang kontras: di satu sisi, keajaiban alam yang memesona; di sisi lain, ancaman ekologis yang mulai muncul. Keindahan kawasan ini tercermin dari temuan berbagai spesies karismatik seperti Napoleon wrasse (Cheilinus undulatus) yang terpantau hampir di setiap lokasi pengamatan, dengan ukuran bervariasi antara 28-80 cm. Beberapa area bahkan diidentifikasi sebagai tempat tumbuh kembangnya spesies ini. Tak kalah menarik, tim juga mencatat kehadiran Penyu sisik (Eretmochelys imbricata) sebanyak empat ekor, serta Penyu hijau (Chelonia mydas) yang berenang bebas di perairan dangkal berkarang.

Ikan-ikan muda (Nursery ground)
(Foto : BBTNTC/Mulyadi)

Ikan napoleon (Cheilinus undulatus)
(Foto : Loka PSPL Sorong/Prehadi)

Lebih jauh, ekosistem laut Ayau dan Asia juga menunjukkan produktivitas tinggi dengan ditemukannya populasi kerapu muda berukuran 10-20 cm serta schooling kakap (Lutjanus gibbus) yang jumlahnya hingga mencapai 1.000 ekor. Beberapa spesies ikan lain seperti kakap (Lutjanus kasmira) dan ikan kulit pasir (Acanthuridae/Naso hexacanthus) turut menghiasi perairan. Tidak hanya itu, kehadiran predator puncak seperti whitetip reef shark (Triaenodon obesus), blacktip shark (Carcharhinus melanopterus), grey reef shark (Carcharhinus amblyrhynchos), pari (stingray) dan barakuda (Actinopterygii) menandakan bahwa rantai makanan laut di kawasan ini masih berjalan dengan baik. Lingkungan perairan yang bersih, jarak pandang yang sangat baik, serta terumbu karang sehat di beberapa titik menjadi bukti betapa pentingnya kawasan ini sebagai habitat alami berbagai biota laut.

Schooling ikan kakap (Lutjanus gibbus)
(Foto : Loka PSPL Sorong/Prehadi)

Blacktip shark (Carcharhinus melanopterus)
(Foto : BLUD KKP Raja Ampat/Imanuel)

Namun di balik keindahan tersebut, tim juga mencatat sejumlah tantangan ekologis yang perlu mendapat perhatian serius. Salah satu ancaman utama adalah ledakan populasi Siput drupella yang berpotensi merusak jaringan karang hidup dan memperlambat pertumbuhannya. Selain itu, dominasi alga Halimeda serta sedimentasi yang menutupi permukaan karang juga menjadi faktor penghambat pertumbuhan terumbu karang. Beberapa lokasi bahkan menunjukkan karang yang patah (rubble) akibat gelombang besar, serta adanya indikasi awal pemutihan karang (coral bleaching), khususnya di perairan dangkal yang terpapar ombak tinggi.

Di tengah upaya monitoring ini, tim juga menghadapi tantangan lapangan yang tidak ringan. Saat hendak melanjutkan pengambilan data ke titik di Pulau Fani, salah satu pulau luar yang berada di sisi utara kawasan konservasi, tim harus membatalkan perjalanan karena kondisi cuaca yang memburuk secara tiba-tiba. Pulau Fani sendiri terletak di bagian paling utara dari Kepulauan Ayau-Asia, menghadap langsung ke Samudra Pasifik dan jauh dari pemukiman utama. Posisi geografisnya yang terbuka dan terpapar langsung angin timur membuat wilayah ini sangat rentan terhadap perubahan cuaca ekstrem, terutama saat musim angin timur sedang berlangsung.

Alga halimeda
(Foto : Puspita)

Karang keras yang mulai memutih
(Foto : BLUD KKP Raja Ampat/Imanuel)

Pada saat tim bersiap berlayar dari Ayau Besar menuju Pulau Fani, hujan deras disertai angin kencang melanda kawasan perairan. Setelah berdiskusi dengan kapten kapal, cruise leader kapal EcoExplorer, serta warga lokal dari Ayau, diputuskan untuk tidak melanjutkan pelayaran demi keselamatan seluruh tim. Keputusan ini menggambarkan pentingnya mempertimbangkan faktor keselamatan dalam setiap kegiatan lapangan, terutama di kawasan perairan yang terbuka dan jauh dari perlindungan geografis.

Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun Kawasan Konservasi Ayau dan Asia masih sangat kaya akan keanekaragaman hayati, tetapi kawasan ini tetap bisa mengalami tekanan dari lingkungan. Karena itu, penting untuk terus memantau kondisi laut, menyesuaikan cara pengelolaannya, dan melibatkan masyarakat sekitar. Konservasi laut bukan hanya soal melindungi, tapi juga memahami kondisi alam, menghadapi tantangan, dan merawat laut bersama-sama agar tetap terjaga untuk generasi mendatang. Mari kita jaga bersama kekayaan alam Raja Ampat—surga bawah laut yang luar biasa dan sangat berharga.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya