Memperkuat Konservasi Laut: Strategi Baru Blue Abadi Fund dalam Siklus ke-5

Penulis

Michael Tuhuteru, Naqliya Arum

Tanggal

1 0 Maret 2025

Blue Abadi Fund (BAF) adalah dana perwalian konservasi yang dikhususkan untuk Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dan lembaga lokal dalam mengelola sumber daya kelautan mereka secara berkelanjutan melalui pendampingan dan penyaluran dana hibah. BAF memiliki dua fasilitas penyaluran hibah, yaitu Hibah Primary dan Hibah Kecil Inovasi.

Di awal tahun 2025, Program Blue Abadi Fund (BAF) kembali hadir dengan siklus ke-5. Program ini terus memperkuat upaya konservasi laut dengan pendekatan yang lebih strategis dan inklusif. Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) diberikan mandat sebagai Administrator Blue Abadi Fund.

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas mitra penerima hibah siklus ke-5, Yayasan KEHATI sebagai Administrator BAF mengadakan dua sesi pelatihan yang dilaksanakan pada dua lokasi berbeda. Sesi pertama diadakan di Royal Mamberamo Hotel, Sorong, pada 26 Februari – 1 Maret 2025, dan sesi kedua berlangsung di Triton Hotel, Manokwari, pada 3 – 6 Maret 2025.

Pembukaan kegiatan pelatihan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat
(Foto : Yayasan KEHATI)

Ibu Selvi sedang menyampaikan Tata Kelola dan Realisasi Penyaluran Hibah
(Foto : Yayasan KEHATI)

Pentingnya Capacity Building bagi Mitra Baru

Pelatihan ini ditujukan bagi seluruh mitra Blue Abadi Fund, baik penerima hibah kategori Inovasi maupun Primary. Namun, dalam kesempatan ini, jumlah peserta terbanyak berasal dari mitra inovasi, yang mayoritas terdiri dari kelompok masyarakat dan yayasan yang beroperasi di daerah seperti Teluk Wondama, Kaimana, dan Fak-Fak.

Pelatihan ini terdiri dari sesi pleno serta sesi kelompok yang membahas dua aspek utama, yaitu Pengelolaan Program dan Pengelolaan Keuangan. Pengelolaan Program mencakup tata kelola hibah BAF, mekanisme dan siklus hibah, serta pelaporan kegiatan dan capaian, sementara Pengelolaan Keuangan mencakup pencatatan dan pelaporan keuangan, pengadaan barang dan jasa, serta praktik simulasi laporan keuangan hibah. Pelatihan ini menggunakan metode interaktif, dengan diskusi kelompok yang dipandu oleh fasilitator berpengalaman, untuk memastikan pemahaman yang lebih baik bagi para peserta. Dengan pendekatan ini, peserta diharapkan dapat memahami tata kelola hibah serta mekanisme pelaporan program dan keuangan secara transparan dan akuntabel, sekaligus mendapatkan wawasan yang lebih mendalam melalui sesi berbagi pengalaman antar mitra.

Salah satu peserta yang sedang mengikuti kegiatan pelatihan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnold Ananta)

Kelompok pengelolaan program keuangan yang sedang mengikuti pelatihan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnold Ananta)

Salah satu aspek utama dalam pelatihan ini adalah capacity building, terutama bagi mitra baru yang pertama kali mendapatkan hibah. Pelatihan ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk berbagi pengalaman, terutama dari mitra yang sudah lebih dulu berpengalaman dalam mengelola hibah dan menjalankan program konservasi. Pelatihan ini juga mendorong adanya sistem pendampingan antar mitra agar setiap peserta dapat saling mendukung dalam implementasi program mereka. Mitra penerima hibah yang terlibat dalam pelatihan ini berasal dari berbagai institusi dan organisasi yang bergerak di bidang konservasi dan pemberdayaan masyarakat. Beberapa di antaranya yang mengikuti kegiatan di Manokwari adalah:

  • Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA)
  • Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah (BLUD UPTD) Pengelolaan KKP Kaimana
  • Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Nusa Matan Fakfak
  • Orang Muda Katolik (OMK) Kaimana
  • Yayasan Meos Papua Lestari (YMPL)
  • Kelompok Pemuda Kobererei, Kampung Uriemi, Kabupaten Teluk Wondama
  • Yayasan Sealam Karya Lestari (SELARAS)

Pembagian peserta untuk pengelolaan program dan pengelolaan keuangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnold Ananta)

Suasana pelatihan di hotel Triton, Manokwari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnold Ananta)

Selain itu, Siklus ke-5 juga memperkuat partisipasi masyarakat adat dan komunitas lokal Papua. Program ini memberikan ruang bagi masyarakat adat agar suara mereka dapat terdengar dan terimplementasi dalam upaya konservasi. Penerima manfaat utama dari program ini adalah masyarakat adat dan komunitas lokal Papua yang tinggal di wilayah konservasi. Mereka juga menjadi penjaga utama ekosistem dalam jangka panjang, sehingga peran aktif mereka sangat krusial dalam keberlanjutan upaya konservasi laut.

Harapan untuk Masa Depan

Beberapa harapan dari program ini kedepannya:

  • Replikasi model konservasi ke wilayah lain dengan cakupan lebih luas.
  • Peningkatan keterlibatan generasi muda dalam menjalankan program konservasi.
  • Meningkatkan daya tarik bagi donor lain untuk turut serta dalam mendukung konservasi laut.
  • Pengembangan kapasitas lembaga dan SDM agar semakin profesional dalam mengelola program konservasi.
  • Dengan strategi baru dan semangat kolaboratif yang lebih kuat, Blue Abadi Fund terus berupaya menjaga keberlanjutan ekosistem laut Indonesia, terutama dengan peran aktif dari masyarakat lokal dan generasi muda sebagai garda terdepannya.

Foto bersama seluruh peserta pelatihan
(Foto : Yayasan KEHATI)

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan para mitra penerima hibah dapat lebih memahami tata kelola program serta pengelolaan keuangan hibah BAF, sehingga tujuan konservasi dan pemberdayaan masyarakat di Bentang Laut Kepala Burung dapat tercapai secara maksimal.

Perubahan Strategis di Siklus ke-5

Dalam siklus ke-5, Rencana Strategis 2023-2028 mulai diimplementasikan dengan peningkatan intervensi perlindungan kawasan dari 3,6 juta hektar menjadi 5,2 juta hektar. Wilayah prioritas konservasi juga bertambah, mencakup :

  • KK Daerah Biak-Numfor(Kawasan Konservasi Daerah Biak-Numfor).
  • KK Nasional Padaido (Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan Padaido).
  • KK Daerah Sorong Selatan (Kawasan Konservasi Seribu Satu Sungai Teoenebikia).
  • KK Daerah Maksegara di Kabupaten Sorong dan Kabupaten Tambrauw.

Pada Siklus ke-5, terdapat 8 mitra penerima Hibah Primary dengan total anggaran Rp 33 miliar, serta 10 mitra penerima Hibah Kecil Inovasi dengan total anggaran Rp 1,5 miliar. Periode hibah berlangsung hingga akhir Mei 2026.

Selain itu, pendekatan pendanaan dalam program ini mengalami perubahan. Jika pada lima tahun pertama BAF berfokus pada penyediaan arus pendanaan jangka panjang yang aman dan stabil, maka pada Rencana Strategis 2023 – 2028, pendanaan BAF akan mengisi gap dan memanfaatkan sumber pendanaan yang ada untuk memastikan bahwa ekosistem dan spesies Bentang Laut Kepala Burung dikelola secara berkelanjutan dan dilindungi oleh penjaga lingkungan setempat, agar memberikan manfaat bagi masyarakat adat dan masyarakat lokal Papua.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya