
Monitoring Sosial Masyarakat di KKPD Kepulauan Kofiau-Boo, Raja Ampat
Penulis
Chintia R. Tumbio, Dedi D. Morin, Demianus O. Ambarau, Margaretha M.Y Wakum, Marthinus J. Rumere, Richard J. Tamba
Tanggal
25 Agustus 2021
“Kenapa anak dorang datang jauh-jauh dari Manokwari untuk belajar dari torang? Bukannya di Manokwari ada laut juga to?” (mengapa kalian datang dari jauh untuk belajar dari kami, padahal di Manokwari juga terdapat laut?). “Anak ko sekolah peternakan tapi kenapa ko tanya-tanya tentang laut?” (Anda belajar peternakan, tetapi mengapa anda bertanya tentang kelautan?). “Setelah anak dong tanya-tanya begini, terus hasilnya untuk torang di kampung apa?” (setelah survei ini, apa yang akan diterima oleh masyarakat di kampung?). Ini adalah beberapa pertanyaan responden yang cukup membekas dan membuat kami sedikit memeras otak sebelum memberi jawaban.
Enumerator survei sosial masyarakat 2021
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Kami berenam sebagai enumerator survei sosial masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan Kofiau-Boo menghabiskan 38 hari di lapangan. Kami berkunjung ke 8 kampung dan bertanya kepada 302 Kepala Keluarga sebagai responden kami. Entah sudah berapa kilometer telah kami jalani, dan berapa banyak perjalanan di laut menggunakan body (perahu tanpa semang) yang telah kami lakukan. Lautan bagai kaca atau berbuih karena ombak sudah menjadi pemandangan yang biasa bagi kami.
Kadang rasa jenuh itu muncul, terutama setelah kami berjalan seharian dan bertanya kepada 6 sampai 8 orang, atau saat tidak ada listrik atau sinyal telepon seluler di kampung, atau saat sebagian besar responden kami sedang berada di dusun kelapa untuk membuat kopra.
Namun, tantangan itu terbayarkan dengan pemandangan alam yang indah, kesempatan untuk berkunjung ke tempat-tempat yang baru, dan sambutan hangat masyarakat saat kami berada di kampung. Perjalanan kami di KKPD Kepulauan Kofiau-Boo telah berakhir, namun kami akan tetap mengingat alamnya dan keramahan masyarakat di setiap kampung.
Persiapan tim untuk berpindah kampung menggunakan perahu milik masyarakat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Terima kasih buat anak dorang karena sudah datang jauh-jauh untuk belajar dari torang. Semoga pekerjaan ini bisa bermanfaat untuk anak dorang masa depan, juga untuk tong punya anak cucu yang akan jaga laut di Kofiau sini” (terima kasih karena anda telah datang untuk belajar dari kami. Semoga pekerjaan ini bermanfaat untuk masa depan anda, termasuk anak cucu kami yang akan menjaga laut Kofiau), kata seorang responden saat mengakhiri wawancara dengan kami.
Bagikan Tulisan
Berita Terkait
Video Kami
Kategori Lainnya
Berita Lainnya
