Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Kunjungan Bank Indonesia, UNIPA, PT Barco dan Pemerintah Daerah ke Tambrauw: Peninjauan Rencana Pembentukan Kelompok Petani Kelapa Penghasil Kopra

Kunjungan Bank Indonesia, UNIPA, PT Barco dan Pemerintah Daerah ke Tambrauw: Peninjauan Rencana Pembentukan Kelompok Petani Kelapa Penghasil Kopra

Penulis

Fitryanti Pakiding dan Kartika Zohar

Tanggal

24 Januari 2022

Kabupaten Tambrauw merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Papua Barat. 11 dari 29 distrik di wilayah ini, terletak di daerah pesisir dan merupakan penghasil kelapa yang cukup besar. Potensi kelapa dimanfaatkan oleh masyarakat setempat, namun pemanfaatannya masih belum dapat meningkatkan perekonomian penduduk karena minimnya pasar yang dapat membeli.

Sejak tahun 2010, UNIPA bersama para mitra pendukung telah melakukan Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat sebagai bagian dari upaya konservasi penyu di Distrik Abun. Distrik ini merupakan salah satu distrik di Kabupaten Tambrauw. Kegiatan Pemberdayaan masyarakat diawali dengan survey sosial. Setelah survey selesai, kegiatan dilanjutkan dengan menempatkan 2-3 orang dalam satu grup pada 3 lokasi yang terpisah untuk mengajarkan masyarakat di 5 kampung untuk mengolah kelapa menjadi minyak kelapa. Kegiatan ini telah memberikan pengalaman dan pembelajaran yang baik terkait metode transfer pengetahuan kepada masyarakat lokal.

Diskusi bersama kepala Kampung Hopmare, Kepala Distrik Kwoor, dan Masyarakat di Hopmare terkait potensi kelapa dan jumlah produksi kopra yang dapat dihasilkan
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Pak Y. Fonataba (Kadis Pertanian PB) bersama Pak Thomas (Kadis Pertanian Tambrauw) dan Pak Rivanda (Buyer PT Barco) sedang melihat hasil kopra pada salah satu penampungan kopra di Sausapor
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Pada tahun 2021 Bank Indonesia Cabang Papua Barat bersama Pemerintah Kabupaten Tambrauw, Dinas Pertanian Provinsi Papua Barat, dan PT Barco (sebagai pihak buyer) melakukan inisiasi pengembangan Kelompok Petani Penghasil Kopra di Kabupaten Tambrauw. Kegiatan dilakukan di Kota Sorong dan Kabupaten Tambrauw. Program Sains untuk Konservasi UNIPA dilibatkan dalam inisiasi ini sebagai mitra yang telah berkontribusi dalam pengembangan masyarakat di Distrik Abun sejak 2013 lalu. UNIPA terlibat dalam audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Tambrauw dan mendampingi kunjungan ke kelompok petani kopra di Distrik Kwoor, Werur, dan Abun pada tanggal 26-29 April 2021.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Diseminasi Monitoring Sosial Diseminasi

Webinar Series BLKB: Pembelajaran Monitoring dan Evaluasi Dampak setelah Satu Dekade Survei

Webinar Series BLKB: Pembelajaran Monitoring dan Evaluasi Dampak setelah Satu Dekade Survei

Penulis

Kezia Salosso dan Dariani Matualage

Tanggal

8 Desember 2021

LPPM Universitas Papua bersama para mitra (Duke University, Arizona State University, dan The World Wildlife Fund Amerika Serikat) kembali berkolaborasi dalam kegiatan webinar series secara virtual. Webinar ini merupakan wadah sharing pembelajaran terkait monitoring dan evaluasi dampak untuk kegiatan survei ekologi dan sosial di Kawasan Konservasi Perairan di Bentang Laut Kepala Burung.

Terdapat enam episode Webinar Series yang dilakukan selama kurun Mei-Juni 2021, dan menghadirkan lima orang pembicara utama. Secara khusus Dr. David Gill (Duke University) membahas teori dasar manajemen KKP dan evaluasi dampak pengelolaan KKP. Pada sesi lainnya, Dr. Duong Lee (Duke University dan The World Bank) menjelaskan teori dan analisis dampak sosial. Secara sederhana Dr. Lee memberikan ilustrasi bagaimana menentukan indikator yang sesuai untuk melakukan analisis dampak sosial.

Pemaparan materi oleh narasumber

Sementara itu, Purwanto mewakili tim Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA memaparkan hasil kajian yang telah dilakukan untuk monitoring ekologi di BLKB. Beberapa grafik dan temuan di lapangan juga ditampilkan kepada peserta, dan keterkaitannya dengan fenomena perubahan iklim yang diduga berdampak secara global di wilayah perairan. Masih terkait ekologi, Dr. Dominic Andradi-Brown (WWF USA) pada sesi lain berbicara tentang kajian dampak ekologi, bagaimana indikator dipilih, dan bagaimana analisis dilakukan. Sementara itu, pada episode terakhir, Kelly Klaborn (Arizona State University) secara khusus menjelaskan bagaimana data ekologi dan sosial digabungkan untuk menyusun kajian dampak terkait KKP.

Penggunaan analisis statistik yang bervariasi menjadi topik yang menarik bagi para peserta yang sebagian besar merupakan staf pengajar dari UNIPA. Selain itu, pemilihan indikator-indikator untuk keperluan analisis serta kondisi di KKP atau lapangan yang dinamis sepanjang tahun monitoring juga tidak luput dari perhatian peserta untuk didiskusikan.

Diharapkan melalui webinar ini, para peserta dapat memperoleh teori dasar tentang penyusunan kajian monitoring dan evaluasi wilayah perairan. Semoga kegiatan ini juga menjadi motivasi bagi para peneliti untuk menyusun tulisan-tulisan ilmiah menggunakan data hasil monitoring ekologi dan sosial di BLKB Papua.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Webinar Series BLKB: Pembelajaran Monitoring dan Evaluasi Dampak setelah Satu Dekade Survei

Tanggal

8 Desember 2021

Penulis

Kezia Salosso dan Dariani Matualage

LPPM Universitas Papua bersama para mitra (Duke University, Arizona State University, dan The World Wildlife Fund Amerika Serikat) kembali berkolaborasi dalam kegiatan webinar series secara virtual. Webinar ini merupakan wadah sharing pembelajaran terkait monitoring dan evaluasi dampak untuk kegiatan survei ekologi dan sosial di Kawasan Konservasi Perairan di Bentang Laut Kepala Burung.

Terdapat enam episode Webinar Series yang dilakukan selama kurun Mei-Juni 2021, dan menghadirkan lima orang pembicara utama. Secara khusus Dr. David Gill (Duke University) membahas teori dasar manajemen KKP dan evaluasi dampak pengelolaan KKP. Pada sesi lainnya, Dr. Duong Lee (Duke University dan The World Bank) menjelaskan teori dan analisis dampak sosial. Secara sederhana Dr. Lee memberikan ilustrasi bagaimana menentukan indikator yang sesuai untuk melakukan analisis dampak sosial.

Pemaparan materi oleh narasumber

Sementara itu, Purwanto mewakili tim Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA memaparkan hasil kajian yang telah dilakukan untuk monitoring ekologi di BLKB. Beberapa grafik dan temuan di lapangan juga ditampilkan kepada peserta, dan keterkaitannya dengan fenomena perubahan iklim yang diduga berdampak secara global di wilayah perairan. Masih terkait ekologi, Dr. Dominic Andradi-Brown (WWF USA) pada sesi lain berbicara tentang kajian dampak ekologi, bagaimana indikator dipilih, dan bagaimana analisis dilakukan. Sementara itu, pada episode terakhir, Kelly Klaborn (Arizona State University) secara khusus menjelaskan bagaimana data ekologi dan sosial digabungkan untuk menyusun kajian dampak terkait KKP.

Penggunaan analisis statistik yang bervariasi menjadi topik yang menarik bagi para peserta yang sebagian besar merupakan staf pengajar dari UNIPA. Selain itu, pemilihan indikator-indikator untuk keperluan analisis serta kondisi di KKP atau lapangan yang dinamis sepanjang tahun monitoring juga tidak luput dari perhatian peserta untuk didiskusikan.

Diharapkan melalui webinar ini, para peserta dapat memperoleh teori dasar tentang penyusunan kajian monitoring dan evaluasi wilayah perairan. Semoga kegiatan ini juga menjadi motivasi bagi para peneliti untuk menyusun tulisan-tulisan ilmiah menggunakan data hasil monitoring ekologi dan sosial di BLKB Papua.

Kategori
Outreach - Conservation Goes to School

Satu Setengah Jam untuk Belajar Laut

Satu Setengah Jam untuk Belajar Laut

Penulis

Halter Karubaba

Tanggal

7 Desember 2021

Tidak terasa kita sudah berada di pertengahan tahun 2021. Pada tanggal 16 Juni 2021, kami dari tim Outreach Program Sains untuk Konservasi Universitas Papua sangat senang karena telah berkesempatan melaksanakan pendidikan kelautan kepada pelajar di Kampung Pam, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat

Sebanyak 172 anak-anak dan remaja berpartisipasi dalam acara ini. Kami menggunakan ruang tunggu pelabuhan dan halaman rumah masyarakat untuk melaksanakan kegiatan ini. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat pengetahuan mereka tentang pengelolaan zonasi di Kawasan Konservasi Perairan (KKP); memperkenalkan biota laut seperti karang, ikan, dan lain-lain di sekitarnya; dan mendorong mereka untuk melindungi keanekaragaman hayati laut di wilayah mereka.

Pendidikan kelautan berlangsung selama kurang lebih 1 jam 30 menit. Kami melakukan tiga kegiatan dan membagi peserta ke dalam 3 kelompok berdasarkan usia mereka. Kelompok pertama adalah kelompok remaja dimana mereka melakukan permainan simulasi yang bertujuan untuk memperkenalkan sistem zonasi KKP. Kelompok kedua adalah kelompok pelajar SD kelas 3-6, dimana mereka bermain papan permainan untuk mengenali potensi dan ancaman ekosistem laut. Kelompok ketiga adalah kelompok siswa TK dan pelajar SD kelas 1-3, mereka mewarnai biota laut seperti terumbu karang dan ikan laut.

Aktivitas peserta bermain games Raja Lautan
(Foto : S4C LPPM UNIPA)

Membagi kelompok untuk bermain games menangkap ikan
(Foto : S4C LPPM UNIPA)

Henny Lesnussa, Susi Marini dan Halter Karubaba adalah staf Program Sains untuk Konservasi yang melakukan kegiatan pendidikan kelautan ini. Tim juga dibantu oleh staf dari BLUD UPTD Raja Ampat. Para aparat kampung, pengasuh sekolah minggu serta masyarakat juga hadir mendampingi peserta selama kegiatan berlangsung.

Kami senang dan merasa dihargai karena banyak pihak memberikan dukungan untuk membantu tim menyampaikan pengumuman, mengumpulkan peserta, dan mempersiapkan tempat untuk kegiatan sosialisasi pada hari penjangkauan laut.

Kegiatan ini sangat berkesan bagi kami. Kami menikmati keramahan orang-orang di desa. Untuk pertama kalinya, tim outreach berkunjung untuk melakukan marine outreach di KKP Kepulauan Fam. Meskipun permainannya terlihat sederhana, banyak orang dewasa dan anak-anak berkumpul di tempat kegiatan untuk bermain dan belajar.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Survei

Cerita dari Lapang: Survey Sosial di Kawasan Konservasi Perairan Daerah Teluk Mayalibit (ending)

Cerita dari Lapang: Survey Sosial di Kawasan Konservasi Perairan Daerah Teluk Mayalibit (ending)

Penulis

Chintia R. Tumbio, Dedi D. Morin, Demianus O. Ambarau, Margaretha M.Y Wakum, Marthinus J. Rumere, Richard J. Tamba

Tanggal

6 Desember 2021

Tim Program Sains untuk Konservasi LPPM Universitas Papua kembali melakukan perjalanan di Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Teluk Mayalibit selama bulan Maret-April. Kami pergi ke 13 kampung, yaitu Warsambin, Lopintol, Kalitoko, Kabilol, Go, Beo, Arawai, Waifoi, Yensner, Kapadiri, dan Kabui. Kami bertemu dan melakukan wawancara terhadap 290 kepala keluarga atau responden tentang kehidupan sehari-hari mereka, termasuk aktivitas di laut.

Terkenal sebagai wilayah penghasil dan pemasok Ikan Lema atau Ikan Kembung terbesar di Raja Ampat, perjalanan kami di KKPD Teluk Mayalibit memberikan cerita atau kesan yang sangat beragam. Tidak seperti perjalanan kami sebelumnya di KKPD Kepulauan Kofiau-Boo, kami tidak mengalami kendala cuaca di Teluk Mayalibit karena sebagian besar kampung terletak di dalam teluk.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Training

Pemasangan Tag dan Sensus Populasi Pari Manta di Perairan Raja Ampat

Pemasangan Tag dan Sensus Populasi Pari Manta di Perairan Raja Ampat

Penulis

Irman Rumengan

Tanggal

3 Desember 2021

Pari manta merupakan aset berharga bagi industri wisata bahari di Taman Laut Raja Ampat. Sebagai salah satu habitat inti Pari Manta, Raja Ampat memiliki unit pengelolaan yang berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait untuk mengelola dan melindungi keanekaragaman hayati di kawasan ini. Oleh karena itu, studi tentang pola pergerakan Pari Manta dan sensus penduduk di Raja Ampat sangat penting untuk memperkuat kebijakan nasional dan menerapkan peraturan internasional. Salah satu gap informasi yang diperlukan mengenai Pari Manta adalah adalah pola pergerakan Pari Manta usia juvenile.

Luasnya Taman Laut Raja Ampat membutuhkan strategi kerja bersama dalam memantau pergerakan dan sensus populasi Pari Manta. Melalui Coral Reef Rehabilitation and Management Program – Coral Triangle Initiative (COREMAP – CTI) Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) World Bank Project, Yayasan Reef Check Indonesia berencana untuk mensosialisasikan rencana untuk melakukan studi tentang pola pergerakan dan sensus Pari Manta di Raja Ampat. Dilakukan dengan pelaksanaan pemasangan tag satelit dan sensus populasi Pari Manta di Raja Ampat.

Foto ID Pari Manta
(Foto: Irman Rumengan – S4C_LPPM UNIPA)

Proses pengambilan foto id manta
(Foto : Irman Rumengan – S4C_LPPM UNIPA)

Sebelum manta tagging dan sensus dimulai, tim berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan mitra pada 26 April 2021 di Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten Raja Ampat (BAPPEDA). Selanjutnya, kegiatan penandaan dan pencacahan pari manta dilakukan mulai 27 April hingga 1 Mei 2021 di Raja Ampat, tepatnya di Hol Gam, Dayan, Yefnabi, dan Arborek. Reef Check Indonesia hadir dalam kegiatan ini sebagai koordinator pelaksanaan kegiatan; CI Raja Ampat dan Balai Taman Laut Raja Ampat (BLUD) sebagai instruktur penandaan manta dan sensus; BKKPN Kupang di wilayah kerja Raja Ampat dan Universitas Papua sebagai mitra penelitian di wilayah Raja Ampat; dan masyarakat lokal sebagai informan lokal mengenai data kemunculan Pari Manta di Selat Dampier.

Hasilnya, tim berhasil memasang tag satelit pada 11 manta dan sensus 12 manta melalui foto identitas (foto ID). Kendala yang dihadapi selama penandaan dan sensus adalah rendahnya visibilitas perairan sehingga mempengaruhi hasil foto ID, dan arus kuat yang menghambat pemasangan tag. Rencana selanjutnya adalah mengambil lebih banyak foto ID Pari Manta dan memasang tag satelit sebanyak mungkin pada individu baru yang belum ditandai.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Pemasangan Tag dan Sensus Populasi Pari Manta di Perairan Raja Ampat

Tanggal

3 Desember 2021

Penulis

Irman Rumengan

Pari manta merupakan aset berharga bagi industri wisata bahari di Taman Laut Raja Ampat. Sebagai salah satu habitat inti Pari Manta, Raja Ampat memiliki unit pengelolaan yang berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait untuk mengelola dan melindungi keanekaragaman hayati di kawasan ini. Oleh karena itu, studi tentang pola pergerakan Pari Manta dan sensus penduduk di Raja Ampat sangat penting untuk memperkuat kebijakan nasional dan menerapkan peraturan internasional. Salah satu gap informasi yang diperlukan mengenai Pari Manta adalah adalah pola pergerakan Pari Manta usia juvenile.

Luasnya Taman Laut Raja Ampat membutuhkan strategi kerja bersama dalam memantau pergerakan dan sensus populasi Pari Manta. Melalui Coral Reef Rehabilitation and Management Program – Coral Triangle Initiative (COREMAP – CTI) Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) World Bank Project, Yayasan Reef Check Indonesia berencana untuk mensosialisasikan rencana untuk melakukan studi tentang pola pergerakan dan sensus Pari Manta di Raja Ampat. Dilakukan dengan pelaksanaan pemasangan tag satelit dan sensus populasi Pari Manta di Raja Ampat.

Foto ID Pari Manta

(foto:irman rumengan)

Proses pengambilan foto id manta

(foto:irman rumengan)

Sebelum manta tagging dan sensus dimulai, tim berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan mitra pada 26 April 2021 di Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten Raja Ampat (BAPPEDA). Selanjutnya, kegiatan penandaan dan pencacahan pari manta dilakukan mulai 27 April hingga 1 Mei 2021 di Raja Ampat, tepatnya di Hol Gam, Dayan, Yefnabi, dan Arborek. Reef Check Indonesia hadir dalam kegiatan ini sebagai koordinator pelaksanaan kegiatan; CI Raja Ampat dan Balai Taman Laut Raja Ampat (BLUD) sebagai instruktur penandaan manta dan sensus; BKKPN Kupang di wilayah kerja Raja Ampat dan Universitas Papua sebagai mitra penelitian di wilayah Raja Ampat; dan masyarakat lokal sebagai informan lokal mengenai data kemunculan Pari Manta di Selat Dampier.

Hasilnya, tim berhasil memasang tag satelit pada 11 manta dan sensus 12 manta melalui foto identitas (foto ID). Kendala yang dihadapi selama penandaan dan sensus adalah rendahnya visibilitas perairan sehingga mempengaruhi hasil foto ID, dan arus kuat yang menghambat pemasangan tag. Rencana selanjutnya adalah mengambil lebih banyak foto ID Pari Manta dan memasang tag satelit sebanyak mungkin pada individu baru yang belum ditandai.

Kategori
Monitoring Sosial Survei

Kolaborasi bersama Para Pakar: Saatnya Membawa Data Lapangan pada Lembar Publikasi Ilmiah

Kolaborasi bersama Para Pakar: Saatnya Membawa Data Lapangan

pada Lembar Publikasi Ilmiah

Tanggal

2 Desember 2021

Penulis

Maya Paembonan, Kezia Salosso dan Dariani Matualage

Pada tahun ini, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA) mengadakan kegiatan Kolaborasi Ilmiah bersama peneliti di lingkup UNIPA. Kegiatan ini dilakukan untuk memanfaatkan data yang telah dikumpulkan dari monitoring sosial di Bentang Laut Kepala Burung Papua sejak tahun 2010. Melalui Kolaborasi ini diharapkan pada akhir tahun 2021 dapat dihasilkan tulisan-tulisan yang akan dipublikasikan pada jurnal ilmiah, baik di tingkat nasional maupun internasional. Para peneliti adalah staf dosen senior (sebagai koordinator tim) dan staf dosen junior (sebagai penulis utama atau anggota tim).

Pendaftaran kandidat penulis dilakukan pada 6 Mei hingga 13 Mei 2021. Terdapat 30 pendaftar atau staf dosen yang mengajukan diri, namun  tidak semua dapat terlibat karena terdapat beberapa kriteria yang tidak dipenuhi seperti level jabatan lektor dan bidang keahlian. Peserta yang telah lulus selanjutnya mengikuti pertemuan perdana pada tanggal 20 Mei secara virtual guna melakukan penyamaan persepsi. Tahap ini penting karena para peneliti akan memperoleh informasi tentang pelaksanaan monitoring (termasuk metode dan jenis data), serta variabel data yang dikumpulkan selama survei.

Terdapat enam topik yang ditawarkan dalam kolaborasi ini, yaitu Ketahanan Pangan, Gender, Ekonomi Masyarakat Pesisir, Perikanan Berkelanjutan, Tata Kelola Kawasan Konservasi Perairan, dan Budaya. Dari enam topik, terdapat 14 sub-topik yang dapat dikembangkan menjadi publikasi ilmiah. Para peneliti diberikan kesempatan untuk menulis judul yang sesuai dengan sub-topik tersebut.

Bagi peneliti yang bersedia untuk tetap terlibat dalam kolaborasi ini diwajibkan menyusun suatu concept note sesuai dengan topik yang dipilih. Concept note ini terdiri dari topik yang dipilih, isu penting yang ingin ditulis, pertanyaan penelitian, hipotesis, jenis data serta analisis yang akan digunakan, bagaimana data diinterpretasikan dan ditampilkan pada paper, serta target jurnal untuk publikasi. Terdapat 18 Concept Notes yang diperoleh dari enam topik utama dalam kolaborasi ini. Selanjutnya, setiap tim akan mengembangkan Concept Notes tersebut menjadi tulisan-tulisan ilmiah terkait monitoring sosial di BLKB Papua.

Berita Lainnya

Enumerator survei sosial masyarakat 2021 (Foto: S4C LPPM UNIPA)

Chintia R. Tumbio, Dedi D. Morin, Demianus O. Ambarau, Margaretha M.Y Wakum, Marthinus J. Rumere, Richard J. Tamba – Agustus 25, 2021

Kategori
Monitoring Ekologi Training

Sosialisasi Rencana Pendataan Hasil Tangkapan Elasmobranchii Melalui Enumerasi Di Lokasi Pendaratan Perikanan Di Provinsi Papua Barat

Sosialisasi Rencana Pendataan Hasil Tangkapan Elasmobranchii Melalui Enumerasi

di Lokasi Pendaratan Perikanan di Provinsi Papua Barat

Tanggal

2 Desember 2021

Penulis

Irman Rumengan

Perikanan Elasmobranchii (hiu dan pari) merupakan salah satu komoditas penting di dunia. Indonesia merupakan salah satu penyumbang komoditi perikanan yang diperhitungkan terutama dalam perdagangan sirip hiu. Di Indonesia, komoditas ini mulai meningkat sejak tahun 1980an dan mencapai puncaknya pada tahun 2000, untuk kemudian mulai menunjukkan kecenderungan penurunan walaupun berfluktuasi. Penguatan kajian dan pengelolaan pemanfaatan hiu dan pari yang berkelanjutan perlu dilakukan. Hal ini dalam rangka memperkuat kebijakan nasional dan implementasi ketentuan internasional. Salah satu yang masih perlu diisi adalah pendataan pendaratan perikanan.

Sebagai habitat penting bagi hiu dan pari, Perairan Raja Ampat perlu mendapatkan perhatian terkait aktivitas pemanfaatan perikanan hiu dan pari. Pendaratan perikanan hiu dan pari jarang, bahkan tidak ada, ditemukan di Kabupaten Raja Ampat, sehingga perlu dilakukan strategi lain dalam melakukan pencatatan pendaratan perikanan hiu dan pari, salah satunya dengan melakukan enumerasi pendaratan perikanan di Sorong dan sekitarnya. Termasuk pencatatan pendaratan pada perusahaan-perusahaan tertentu. Hal tersebut mendorong perlu dilakukannya sosialisasi pendataan hasil tangkapan elasmobranchii melalui enumerasi di Papua Barat.

Seorang pengusaha perikanan memegang daging hiu yang telah diolah

(foto: irman rumengan)

Armada kapal yang digunakan untuk menangkap hiu

(foto: irman rumengan)

Kegiatan sosialisasi yang telah dilaksanakan pada tanggal 24 April 2021 bertempat di kota Sorong dan telah diikuti oleh perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian PPN/Bappenas, LPSPL Sorong, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat, DKP Kota Sorong, Kepala Pelabuhan Perikanan Klademak, Kepala UPTD Pelabuhan Perikanan Pantai  Sorong, Kelompok Nelayan, Kelompok Pengusaha Kapal Perikanan, Kelompok Koperasi Perikanan, Perwakilan Universitas Papua, dan Conservation International Indonesia.

Dalam kegiatan sosialisasi, pihak pemerintah maupun pihak kelompok nelayan berdiskusi terkait perkembangan penangkapan hiu di perairan Papua Barat dimana termasuk lokasi penangkapan, armada kapal yang digunakan, jenis elasmobranchii yang tertangkap, regulasi terkait perlindungan elasmobranchii, dan pasaran penjualan elasmobranchii di Indonesia maupun luar Indonesia.

Kendala yang ada dalam perlindungan elasmobranchii di Papua Barat yaitu regulasi yang tidak jelas mengenai jenis-jenis elasmobranchii yang dilindungi dan juga regulasi terkait jumlah yang diperbolehkan untuk ditangkap. Sehingga untuk kedepannya pendataan mengenai jumlah elasmobranchii yang ditangkap dan didaratkan di Pelabuhan perikanan perlu dilakukan. Adapun hasil kesepakatan bersama yaitu akan ada petugas khusus yang mendata pendaratan elasmobranchii di Pelabuhan perikanan dan jika memungkinkan, akan ada petugas pendataan yang akan ikut selama penangkapan di laut. Selain itu kelompok nelayan dan pengusaha perikanan yang selama ini menangkap jenis ikan elasmobranchii bersedia bekerja sama untuk memberikan data hasil tangkapan.

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Evaluasi Kegiatan Pendampingan Periode Februari – Juni 2021

Evaluasi Kegiatan Pendampingan Periode Februari – Juni 2021

Tanggal

1 Desember 2021

Penulis

Jhonatan Alberto Allo

Pada tahun 2021, Program Pemberdayaan Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat-Universitas Papua (LPPM – UNIPA) menugaskan tiga tim pendamping masyarakat (disingkat ‘PM’) untuk mendukung program konservasi penyu belimbing di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Bentuk dukungan memberi manfaat bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi dengan meningkatkan kapasitas pendidikan anak-anak dan membantu masyarakat setempat dalam memproduksi dan menjual minyak kelapa.

membaca buku_edit

Di bidang pendidikan, ada dua program utama yaitu mendukung pendidikan formal dan informal. Misalnya, di sekolah umum, staff PM membantu guru mengajar di beberapa kelas. Mereka melakukannya karena jumlah guru PNS* di sekolah-sekolah sangat minim. Selain mengajar di sekolah, staff PM juga memberikan pendidikan informal di rumah-rumah belajar. Beberapa kegiatan di rumah belajar antara lain:

  • Mengajarkan keterampilan dasar membaca, menulis, matematika, dan bahasa Inggris.
  • Menyediakan perpustakaan keliling.
  • Mengajarkan kebersihan pribadi.
  • Mengajarkan cara menanam tanaman obat.

Kami menggunakan tiga indikator untuk mengevaluasi program pemberdayaan di bidang pendidikan yaitu:

  1. Peningkatan kemampuan anak di kelas baca, tulis, dan hitung
  2. Keaktifan anak menghadiri kelas baca, tulis, dan hitung
  3. Jumlah hari aktif belajar-mengajar di sekolah

Pada periode I (Februari – Juni 2021) jumlah anak yang terlibat dalam rumah belajar di Saubeba-Womom sebanyak 55 orang, di Warmandi sebanyak 22 orang dan di Wau-Weyaf sebanyak 39 orang.

Gambar 1. Grafik persentase kemampuan anak yang lulus sebelum dan sesudah diberikan pembelajaran di rumah belajar.

Berdasarkan grafik 1, terdapat peningkatan hasil belajar pada hampir semua kelas pada tiga rumah belajar. Namun ada satu kelas, yaitu kelas baca di Rumah belajar Wau-Weyaf yang tidak mengalami peningkatan hasil belajar.

Grafik 2

Gambar 2. Grafik rata-rata kehadiran anak di rumah belajar

Berdasarkan grafik 2, terdapat peningkatan hasil belajar pada hampir semua kelas pada tiga rumah belajar. Namun ada satu kelas, yaitu kelas baca di Rumah belajar Wau-Weyaf yang tidak mengalami peningkatan hasil belajar.

Tabel 1 memperlihatkan bahwa SD YPK Lachai Roy Saubeba memiliki jumlah hari libur sekolah yang paling banyak dibandingkan sekolah lain. Libur sekolah umumnya karena ada acara adat atau acara keagamaan di kampung.

Di bidang peningkatan perekonomian bagi masyarakat lokal, terdapat 9 keluarga yang terlibat dalam pengolahan minyak kelapa. Untuk satu liter minyak kelapa yang diproduksi, mereka menerima bayaran sebesar Rp. 25.000 dari LPPM UNIPA. Staf PM kemudian membawa minyak kelapa ini ke Manokwari untuk dijual. Selama pendampingan masyarakat berhasil mengolah 153.5 liter minyak kelapa dengan rata-rata pendapatan yang diperoleh masing-masing keluarga sebesar Rp 426.389,-

Tujuan pemberdayaan masyarakat di bidang pendidikan adalah untuk meningkatkan kemampuan dasar membaca, menulis, dan matematika anak melalui kegiatan di sekolah dasar dan rumah belajar. Sedangkan pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dengan memanfaatkan kelapa sebagai sumber daya alam yang melimpah di desa menjadi minyak kelapa. Minyak kelapa merupakan pilihan terbaik karena memiliki umur simpan yang lama dan nilai jual yang lebih tinggi.

Masyarakat menilai bahwa program konservasi penyu belimbing membawa banyak manfaat bagi mereka. Pertama, kegiatan staf PM di rumah belajar dan sekolah dasar bermanfaat bagi anak-anaknya dan membantu para guru PNS. Selain itu, mereka sangat mendukung program pengolahan minyak kelapa karena masyarakat bisa mendapatkan penghasilan tambahan.

Kedepannya, masyarakat Saubeba-Womom berharap LPPM UNIPA memberikan pelatihan dasar komputer bagi aparat desa. Demikian pula masyarakat Warmandi berharap LPPM UNIPA menyediakan mesin parut kelapa untuk menghasilkan minyak kelapa yang lebih banyak. Sementara itu, masyarakat Wau-Weyaf berharap LPPM UNIPA bisa membantu kelompok yang baru dibentuk (Konsim) agar lebih terorganisir dan profesional dalam mengolah minyak kelapa.

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Training

Cerita dari tenaga magang: Pengalaman Magang Konservasi Penyu Belimbing di Jamursba Medi, Kecamatan Abun, Kabupaten Tambrauw

Cerita dari tenaga magang: Pengalaman Magang Konservasi Penyu Belimbing di Jamursba Medi, Kecamatan Abun, Kabupaten Tambrauw

Penulis

Thomas Hombahomba

Tanggal

30 November 2021

Bersama penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Saya ingin berbagi pengalaman saat melakukan magang di program Konservasi Penyu Belimbing di Jamursba Medi, Kabupaten Tambrauw. Semua berawal ketika saya membaca iklan magang yang ditawarkan oleh LPPM UNIPA, kampus asal saya. Setelah saya melamar dan mengikuti proses wawancara, saya terpilih sebagai salah satu peserta magang untuk program tersebut. Sebelum turun ke lapangan, kami mengikuti rangkaian pelatihan membuat shelter/perlindungan sarang penyu belimbing dan mendirikan tenda.

Kami berangkat ke Kabupaten Tambrauw menggunakan transportasi laut, kapal Sabuk Nusantara 112. Anggota tim perlindungan dan pemantauan penyu dan anggota tim pemberdayaan masyarakat menemani kami dalam perjalanan. Sesampainya di Desa Saubeba, kami menginap di kamp tim pemberdayaan masyarakat. Kami bermalam untuk menunggu anggota tim lain yang berangkat dari Manokwari ke Saubeba dengan kapal fiber. Keesokan harinya kami menghadiri kebaktian di gereja Lahai Roi. Setelah ibadah, kami mengadakan pertemuan untuk membahas perjalanan kami ke lokasi.

Dalam waktu sebulan di pantai Jamursba Medi, saya dan anggota tim sudah membersihkan Pos Batu Rumah. Pantai ini diberi nama “Batu Rumah” karena di pinggir pantai terdapat batu besar berbentuk seperti rumah (batu dalam Bahasa: Batu, rumah dalam Bahasa: Rumah). Setelah itu, kami memperbaiki Pos di Pantai Warmamedi dan Pantai Wembrak. Dari Pos Batu Rumah kami harus berjalan kaki ke Warmamedi dan Wembrak. Sebagai tenaga magang tugas saya membantu anggota tim dalam mengumpulkan data pasang surut mingguan, logger pasang surut, pasang patok tambahan, pemasangan petak, dan pemantauan malam di pantai Wembrak. Sepanjang kegiatan saya berkenalan dengan beberapa warga lokal seperti Bapak Mesak, Bapak Musa, Bapak Korinus dan Om Yan yang biasa kami panggil dengan “Ai” (“Ai” dalam bahasa lokal Abun berarti “Bapak”).

Banyak pengalaman menyenangkan dan menarik yang saya dapatkan selama berada di lapangan. Saya berjalan kaki dari Pos Wembrak menuju Desa Womom dan Saubeba dan harus melalui tanjakan. Saya melakukan patroli malam dengan Kaka Todu dan Kaka Mesak di Pantai Wembrak. Saya berkesempatan melihat langsung penyu belimbing dewasa. Saya belajar mengoperasikan kapal fiber. Saya mengambil begitu banyak gambar matahari terbenam dan matahari terbit. Saya membawa pisang dari lokbon (bekas perusahaan kayu) ke Saubeba. Saya berbagi cerita dan lelucon dengan anggota tim dan petugas patroli lokal (Om Piter, Kaka Todu, Kaka Mesak, Kaka Fian, Kaka Ronal, Kaka Faizal, Sister Namy, Om Yan, Bapak Korinus, Bapak Mesak, Bapak Moses, dan pekerja masyarakat di Desa). Masih banyak cerita dan pengalaman seru yang belum pernah saya temukan di tempat lain sebelumnya. Saya berharap KKP ini akan terus sama sehingga anak cucu kita dapat mengalami hal yang sama seperti kita.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Lowongan Kerja

Perekrutan Tenaga Magang Mei-September 2021 (Ditutup)

Perekrutan Tenaga Magang Mei-September 2021

Universitas Papua melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM UNIPA) memberikan peluang kepada para pemuda dan pemudi untuk menjadi Tenaga Magang bagi Program Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang di Taman Pesisir Jeen Womom, Distrik Abun, Kab. Tambrauw untuk periode Mei – September 2021.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan produksi tukik dengan melakukan perlindungan sarang dari berbagai ancaman. Produksi tukik yang tinggi secara konsisten dalam jangka panjang diharapkan dapat membantu memulihkan populasi penyu di Papua Barat.

Persyaratan :

  • Usia maksimal 30 tahun dibuktikan dengan KTP
  • Lulusan D3 atau S1 dari berbagai jurusan dibuktikan dengan ijazah pendidikan terakhir
  • Melampirkan transkrip nilai pendidikan terakhir
  • Melampirkan CV/riwayat hidup
  • Melampirkan BPJS Kesehatan
  • Diutamakan pelamar dari Manokwari

Keuntungan :

  • Tersedia 4 posisi tenaga magang per bulan
  • Kesempatan bekerja di pantai yang terpencil dan indah
  • Kesempatan belajar teknik memantau peneluran penyu dan melindungi sarang
  • Berkontribusi pada konservasi penyu
  • Pendapatan Rp. 1.500.000,- per bulan
  • Transportasi, konsumsi, akomodasi, dan asuransi kecelakaan selama magang ditanggung

Jadwal Seleksi

  • Penerimaan Berkas (2-12 April 2021)
  • Pengumuman Hasil Seleksi Berkas (14 April 2021)
  • Wawancara (15-16 April 2021)
  • Pengumuman Hasil Wawancara (19 April 2021)
  • Pelatihan (21-23 April 2021)

Lakukan pendaftaran pada link di bawah ini :

Sekretariat :
Sains Untuk Konservasi
Jln.Brawijaya No.250 Makalew
Manokwari-Papua Barat

Narahubung (via WA) :
Trisye Hamatia    : 0852 4411 1101
Ronald Ayatanoi : 0852 5407 1005