Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Menjadi Tenaga Perlindungan Sarang di Pantai Jeen Syuab

Menjadi Tenaga Perlindungan Sarang di Pantai Jeen Syuab

Penulis

Denis Papua Baransano

Tanggal

22 Desember 2023

Hai! Perkenalkan nama saya Denis Papua Baransano atau biasa  dipanggil Denis. Saya berasal dari suku Biak namun tinggal dan besar di Manokwari, dan saya lulus dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Papua (UNIPA) di kota Manokwari Provinsi Papua Barat. Basic ilmu yang saya pelajari saat berkuliah adalah Ilmu Kelautan, karena saya tertarik dengan pekerjaan konservasi laut. Saya mendapat informasi terkait lowongan sebagai tenaga perlindungan sarang ini dari Instagram Program Sains untuk Konservasi (S4C). Saya lalu mendaftar dan akhirnya diterima. Saya bersama tenaga perlindungan sarang lain selanjutnya mendapat pembekalan mengenai penyu dan pekerjaan yang akan dilakukan. Saya ditempatkan di pantai Jeen Syuab untuk periode periode Juni sampai Juli lalu dilanjutkan untuk periode Agustus sampai September tahun 2023. Saya bekerja bersama tim dan tinggal di posko lapangan di pantai peneluran.

Saya bersyukur dapat melihat secara langsung habitat peneluran empat jenis penyu yang bertelur di pantai ini. Di lapangan saya belajar cara menandai sarang, mengukur pasang surut pantai, mencatat data monitoring malam, monitoring pagi, melindungi sarang penyu belimbing,  serta menandai penyu dengan PIT tag. Itu semua dilakukan untuk dapat memonitoring peneluran penyu dengan baik dan data yang dikumpulkan dapat digunakan untuk upaya pelestarian penyu.

 

Denis sedang mengukur indukan penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi saya adalah pada saat pertama saya bertemu penyu belimbing ketika melakukan monitoring malam. Saya berjalan bersama tim membawa meteran kain, scanner, alat PIT tag dan senter kepala. Monitoring dilakukan ke arah sektor kecil (arah timur dari posko) dengan harapan ada penyu belimbing yang akan naik untuk bertelur, pada saat jalan tiba-tiba ada seekor penyu belimbing naik ke pantai menggali sarang untuk bertelur. Setelah penyu bertelur, dengan santai saya mendekati penyu tersebut, hal yang pertama dilakukan adalah melakukan scan untuk mengetahui apakah penyu tersebut sudah memiliki PIT tag. Setelah dicek ternyata penyu tersebut adalah penyu yang belum memiliki PIT tag. Saya selanjutnya menyiapkan penanda PIT tag dan menandai penyu belimbing diajari tim yang sudah lebih berpengalaman. Setelah itu saya memakai scanner untuk melihat nomor ID dan mencatat di buku monitoring, saya lanjut mengukur panjang dan lebar karapas penyu belimbing dan mencatatnya dalam buku. Hal tersebut menjadi pengalaman yang sangat mendebarkan sekaligus sangat menarik karena langsung berinteraksi dengan penyu belimbing yang mempunyai ukuran sangat besar. Penandaan penyu ini bertujuan untuk memperkirakan jumlah indukan yang naik ke pantai karena satu indukan dapat naik lebih dari sekali dalam satu musim peneluran.

Dari keterlibatan saya dalam kegiatan ini, saya menyadari bahwa kegiatan yang dilakukan tim S4C sangat positif dan juga sangat bermanfaat bagi masyarakat. Saya berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut agar penyu di Kabupaten Tambrauw dapat lestari.

Sekian dan terima kasih. Salam lestari.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Belajar dari Malam yang Gelap: Inspirasi dan Keterlibatan Ronsiwer Awom dalam Konservasi Penyu di Pantai Jeen Yessa

Belajar dari Malam yang Gelap: Inspirasi dan Keterlibatan Ronsiwer Awom dalam Konservasi Penyu di Pantai Jeen Yessa

Penulis

Ronsiwer S. Allibay Awom

Tanggal

8 Desember 2023

Hai perkenalkan nama saya Ronsiwer S. Allibay Awom biasa dipanggil Iwe, saya berasal dari Nabire dan merupakan lulusan dari Universitas Papua di Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Saya adalah tenaga perlindungan sarang pada musim teduh periode akhir (Agustus-September) di pantai Jeen Yessa atau lebih spesifiknya di pantai Warmamedi. Awal bergabung dengan tim perlindungan penyu di pantai Jeen Yessa dari program Sains untuk Konservasi (S4C) LPPM UNIPA saya mendapat informasi dari senior saya lalu saya mendaftar dan mengikuti seleksi berkas dan wawancara, akhirnya saya dinyatakan lulus. Sebelum saya dan teman lainnya turun lapangan, kami mengikuti pelatihan selama empat hari di Manokwari. Karena saya bertugas pada periode ketiga maka saya harus menunggu selama empat bulan yaitu di bulan Agustus untuk turun ke lapangan, namun tidak membuat saya patah semangat.

Ronsiwer melakukan pengukuran kedalaman sarang pada saat evaluasi sukses penetasan sarang di Warmamedi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Ronsiwer melakukan pengukuran indukan penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Saat berada di lapangan ternyata banyak pengalaman dan hal baru yang saya dapatkan selama bekerja di pantai, seperti melihat secara langsung penyu bertelur. Saya juga belajar cara melindungi sarang penyu, menulis data monitoring, mengukur panjang dan lebar penyu, evaluasi sukses penetasan sarang penyu, menandai penyu dengan PIT tag, menulis pita untuk menandai sarang penyu, dan mengidentifikasi sarang penyu. Hal-hal tersebut kami lakukan, ada beberapa hal yang sebenarnya bukan tanggung jawab saya namun karena ingin belajar maka saya juga ingin melakukannya. Pengalaman yang paling saya ingat saat awal bekerja adalah monitoring malam sendirian dengan suasana pantai yang gelap dan sunyi dengan jarak monitoring yang cukup jauh sekitar 8-10 km untuk total kami berjalan setiap malam. Kami berjalan selama kurang lebih 4-5 jam, tidak terasa karena kadang kami membagi kelompok jalan. Rasa takut dan lelah pasti ada namun semua terbayar ketika menemukan penyu yang akan bertelur. Melihat hewan langka ini secara langsung dan menjaganya bertelur memberikan kepuasan tersendiri bagi saya.

Saat bekerja di pantai Jeen Yessa, saya juga merasakan suasana baru bersama teman-teman S4C dan masyarakat lokal yang baik hati seperti keluarga. Saya merasa bangga kepada masyarakat adat pesisir pantai Jeen Womom yang terlibat langsung dengan kegiatan konservasi. Mereka ikut memantau aktivitas peneluran penyu dan juga melindungi sarang penyu. Tidak hanya penyu yang berusaha dilindungi masyarakat setempat, juga satwa lain dengan aturan adat setempat dan juga gereja dengan Sasi. Saya berharap, kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang, dan kepedulian masyarakat adat terhadap kekayaan alam yang ada di pesisir pantai Jeen Womom akan terus berlanjut karena sangat berdampak baik bagi kehidupan satwa yang ada dan juga bagi kehidupan masyarakat sekitar.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cerita Tenaga Perlindungan Sarang : Konster Mans Yansen Toni Jadilah Anak Muda yang Terus Belajar dan Menjaga Alam Sekitar

Cerita Tenaga Perlindungan Sarang : Konster Mans Yansen Toni Jadilah Anak Muda yang Terus Belajar dan Menjaga Alam Sekitar

Penulis

Konster Toni

Tanggal

24 September 2023

Halo, perkenalkan nama saya Konster Mans Yansen Toni sering dipanggil Toni. Saya adalah salah satu tenaga perlindungan sarang di pantai Wembrak pada musim teduh 2023. Awal mula bergabung dengan tim perlindungan penyu Program Sains untuk Konservasi, LPPM UNIPA saat mendapatkan info lowongan dari salah satu dosen saya di grup Whatsapp. Puji Tuhan setelah melalui seleksi berkas dan wawancara saya dinyatakan lolos menjadi tenaga perlindungan sarang penyu. Kami diberikan pembekalan di Manokwari dan turun ke lapangan di tanggal 2 Mei 2023. Kami menggunakan kapal Sabuk Nusantara 112 selama 2 hari perjalanan, sampai di Kampung Resye yang merupakan kampung berdekatan dengan pantai peneluran. Kami melanjutkan perjalanan ke pos Batu Rumah dengan menggunakan perahu dan dilanjutkan berjalan kaki 9 km ke pos Wembrak.

Toni membawa Perahu
(Foto : Konster Toni/S4C_LPPM UNIPA)

Toni dan Ai Mesak membuat perlindungan sarang
(Foto : Tonny Duwiri/S4C_LPPM UNIPA)

Saya mendapat banyak ilmu dan pengalaman menjalani empat bulan (April-Juli) bekerja di pantai Wembrak.  Salah satu yang berkesan adalah belajar mengidentifikasi lokasi sarang bersama Ai Mesak (Ai berarti bapak dalam bahasa Abun) salah seorang patroler lokal di Wembrak. Ketika Ai sedang mengidentifikasi lokasi sarang penyu belimbing saya penasaran untuk belajar hal tersebut. Saya pun meminta Ai Mesak untuk mengajarkan saya dan Ai mau mengajarkannya. Ai mengidentifikasi lokasi sarang dengan menggunakan tiang besi berukuran panjang 2 meter dan ketebalan 10 mm. Awalnya Ai membedakan areal kamuflase dan areal sarang lalu Ai menusuk areal sarang dengan besi dan merasakan keberadaan tepat telur. Ai menyuruh saya untuk merasakan besi tersebut ketika di bawahnya terdapat telur, ternyata berbeda ketika hanya pasir. Bersama Ai Mesak saya belajar dalam waktu satu hari dan akhirnya saya bisa mengidentifikasi lokasi sarang penyu belimbing sendiri. Suatu pengalaman yang tidak akan saya dapatkan di tempat lain.

Hal lain yang saya suka saat di lapangan adalah ketika kapal masuk di kampung lalu kami menjemput bahan makanan dan perlengkapan bulanan yang dikirim dari kantor. Kapal akan berlabuh di depan kampung dan kami akan menjemput barang dengan perahu. Kami pun membantu masyarakat untuk memuat hasil kebun mereka ke atas kapal untuk dibawa ke Sorong. Saya juga sangat senang diajarkan membawa perahu oleh kakak Ben (anggota tim di pos Batu Rumah). Buat saya membawa perahu adalah hal yang baru karena saya memang bukan berasal dari wilayah pesisir. Membawa perahu juga bukanlah hal yang mudah dimana kita harus bisa membaca situasi ombak dan gelombang laut. Saya juga menyadari bahwa seorang motoris (pembawa perahu) memiliki tanggung jawab yang besar untuk keselamatan tim saat di perahu.

Pesan saya untuk para pemuda yang membaca cerita saya, jangan bosan untuk belajar hal-hal baru dan teruslah mencari ilmu dan pengalaman untuk bekal nanti dimanapun kita berada.

“Cintailah dan jagalah alam sekitarmu maka alam pun akan menjaga mu” – Konster Toni

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cerita lapang : Menjadi Tenaga Perlindungan Sarang Penyu di Pantai Warmamedi

Cerita lapang : Menjadi Tenaga Perlindungan Sarang Penyu di Pantai Warmamedi

Penulis

Kevin Juliand Suruan

Tanggal

22 September 2023

Haii…Perkenalkan nama saya Kevin Juliand Suruan biasa dipanggil Kevin, saya berasal dari  Biak, lulusan dari Fakultas Kehutanan Universitas Papua (UNIPA) di Kota Manokwari Provinsi Papua Barat. Basic minat saya saat berkuliah adalah Konservasi Sumber Daya Hutan karena saya sangat tertarik dengan pekerjaan di bidang konservasi. Suatu waktu saya mendapatkan info lowongan kerja dari Program Sains untuk Konservasi (S4C) LPPM UNIPA untuk bekerja di pantai peneluran penyu belimbing (Dermochelys coriacea) di Tambrauw.

Saya akhirnya mendaftar di posisi Tenaga Perlindungan Sarang, puji Tuhan saya lolos verifikasi berkas dan seleksi wawancara. Sebelum turun lapangan saya bersama teman-teman yang lolos seleksi mengikuti pelatihan selama empat hari di kantor program di Manokwari.  Kami mendapatkan banyak materi mengenai LPPM UNIPA dan program Sains untuk Konservasi yang berada di bawahnya. Pengenalan jenis penyu dan jejak penyu serta metode pemantauan penyu dan perlindungan sarang, alat-alat yang digunakan, cara penulisan data dan beberapa materi lainnya. Penyampaian materi dari tim S4C sangat baik dan mudah untuk dimengerti, bahkan bagi saya yang tidak punya latar belakang ilmu di bidang kelautan atau biologi.

Kevin sedang membuat perlindungan pagar
(Foto :Kevin Suruan/S4C_LPPM UNIPA)

Membuat perlindungan sarang penyu kecil
(Foto : Kevin-Suruan/S4C_LPPM UNIPA)

Saya ditempatkan di pantai Warmamedi untuk periode April sampai Mei lalu dilanjutkan untuk periode selanjutnya di Juni sampai Juli. Saya bekerja di pantai Warmamedi bersama satu koordinator pantai, dua tenaga lapangan, satu patroler lokal dan satu tenaga perlindungan sarang lokal. Selama menjalani masa kerja saya merasakan suasana baru bersama tim S4C dan masyarakat lokal yang sangat baik seperti keluarga. Begitu banyak ilmu dan pengalaman baru yang saya dapatkan selama bekerja di pantai  seperti secara langsung melihat habitat bertelur dan jejak penyu belimbing, penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea). Saya pun belajar cara menulis pita penanda sarang, mencatat data monitoring, melindungi sarang penyu belimbing, membantu percobaan perlindungan sarang penyu lekang, evaluasi sarang, pengukuran penyu belimbing serta mencoba  menandai penyu dengan PIT tag dan mendeteksi individu penyu yang ditandai dengan scanner.

Kegiatan ini membuat saya belajar bagaimana masyarakat adat ikut terlibat secara langsung dalam upaya konservasi penyu yang berdampak positif bagi kehidupan mereka. Tidak hanya itu beberapa hewan lain juga dilindungi dengan sasi dari pihak adat dan gereja. Sasi mengatur pelarangan pengambilan sumber daya alam selama periode waktu tertentu dengan tujuan memberikan kesempatan bagi margasatwa bertumbuh berkembang biak.  Harapan saya, kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang di Tambrauw dapat terus berjalan karena memberikan dampak positif bagi konservasi penyu serta masyarakat sekitarnya.

Sekian tulisan dari saya dan terima kasih, salam konservasi.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Belajar Sambil Bertualang: Pelajaran Berharga di Pantai Peneluran – Bagian 2

Belajar Sambil Bertualang: Pelajaran Berharga di Pantai Peneluran – Bagian 2

Penulis

Noritha Murafer, Sandona Kuwei

Tanggal

20 September 2023

Tulisan ini merupakan bagian kedua dari kisah perjalanan yang ditulis oleh Noritha Murafer. Simak bagian pertama di sini.

Kami sangat takjub melihat penyu belimbing dengan ukuran yang sangat besar di hadapan kami. Saya, Sandona dan Thomas duduk sekitar 100 meter dari penyu dan menunggu penyu tersebut melakukan bodypit*) untuk bertelur. Agar penyu tidak terganggu, kami tetap menyalakan senter merah dan berbicara seperlunya dengan volume suara yang cukup kecil. Hampir 1 jam kami menunggu penyu belimbing tersebut melakukan bodypit*) sampai dengan bertelur dan mulai menguburkan sarangnya. Thomas bergegas mengambil meteran gulung di sakunya untuk mengukur panjang dan lebar karapas penyu belimbing serta melakukan scan pada bahu penyu tersebut. Kemudian, karena waktu masih cukup, saya dan Sandona diajak untuk mempraktikkannya cara mengukur panjang dan lebar karapas secara bergantian. Kami mengukur panjang karapas: 161 cm dan lebar karapas: 131 cm. Besar sekali toh?!

Proses Scan Penyu Belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Thomas juga ajarkan kami untuk scan nomor PIT TAG menggunakan alat scanner yang disentuhkan ke bagian bahu kiri dan kanan penyu. Alat scan berbunyi dan kami melihat nomor pada alat itu, pertanda bahwa penyu belimbing tersebut sudah pernah naik bertelur di Taman Pesisir Jeen Womom dan ditandai. Kami juga diajar untuk menulis aktivitas yang telah kami lakukan tadi di buku kecil yang biasanya dibawa oleh tim monitoring penyu. Setelah melihat penyu belimbing melakukan kamuflase*), kami memberi tanda pada sarang baru tersebut dengan menanam 3 kayu agar keesokan pagi tim monitoring melakukan perlindungan sarang. Kami berpisah dengan penyu itu. Penyu kembali ke laut dan kami melanjutkan perjalanan kami menyusuri tepi Pantai Warmamedi.

Dalam gelap malam, dari kejauhan kami melihat ada cahaya senter merah menyala sebanyak tiga kali, Ini adalah tanda bahwa tim monitoring di tempat itu melihat penyu belimbing yang naik bertelur. Kami berjalan maju ke arah cahaya senter tersebut dan ternyata benar ada seorang anak magang yang bernama Iwe sedang menunggu penyu tersebut bertelur! Saya dan Sandona beristirahat sejenak sambil melihat penyu tersebut bertelur dan tim monitoring melakukan tugasnya. Penyu belimbing kedua yang kami temui ini adalah penyu yang belum pernah bertelur di TP Jeen Womom sehingga harus dipasang PIT TAG pada bahunya. Thomas memercayakan tugas pemasangan PIT TAG kepada Iwe.

Malam semakin larut, kami harus melanjutkan perjalanan. Tepat pukul 03:00 dini hari saya, Sandona, Thomas dan Iwe tiba di Pos Warmamedi. Kami berempat masing-masing menaruh barang bawaan kemudian beristirahat di Pos Warmamedi.

Perlindungan Sarang. Keesokan harinya, kami memulai perjalanan kembali bersama teman-teman kru*) Warmamedi. Tim di pos ini adalah Elvritha, Abe, Thomas, Iwe dan Faisal. Untuk kegiatan ini saya dan Sandona dibimbing langsung oleh koordinator tim Warmamedi yaitu Muhamad Faisal untuk melakukan perlindungan sarang tersebut. Untuk pembelajaran hari ini, kami akan diajarkan untuk melakukan perlindungan sarang dengan pagar, pakis 1 atau 2 lapis. Menurut informasi dari teman-teman kru*), Sebenarnya di Warmamedi hanya diberlakukan 1 perlindungan yaitu pagar karena ancaman terbesar di pantai ini adalah dari hewan pemangsa telur seperti anjing, babi, biawak, dll. Sedangkan untuk suhu pasir sendiri di Warmamedi relatif normal dan tidak perlu memberikan naungan dengan pakis 1 lapis atau 2 lapis. Namun, Faisal akan tetap mengajarkan kami 3 cara perlindungan tersebut. Kami berjalan dan kini tiba di tempat sarang penyu yang akan dilindungi. Sandona dan Iwe sibuk memotong tanaman pakis hutan, selanjutnya Faisal mengarahkan kami untuk mulai melakukan perlindungan sarang penyu belimbing dengan berpatokan pada diameter sarang yang telah dibuat. Setelahnya Faisal mengajar kami cara mengukur pasang surut air laut dan evaluasi sarang penyu lekang. Ternyata penyu kecil seperti lekang, hijau, dan sisik tidak memiliki telur abnormal. Ini berbeda dengan penyu belimbing yang memiliki telur abnormal. Hari pun semakin sore dan kami harus pulang. Perjalanan pulang kami kembali ke Pos Warmamedi ditemani oleh senja yang begitu indah dan perlahan mulai terbenam.

Penjelasan perlindungan sarang Penyu oleh Bernadus Duwit kepada PM
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Membuat perlindungan sarang Penyu Belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Waktu berlalu begitu cepat banyak yang sudah kami pelajari bersama kru*) di pantai peneluran. Kini tiba saatnya kami harus kembali ke Rumah Belajar Kampung Syukwo tempat Kami bertugas sebagai Tenaga Pendamping Masyarakat. Terima kasih atas waktu dan kesempatan yang diberikan kepada kami untuk belajar dan melihat Penyu secara langsung. Semoga semua pembelajaran ini menjadi bekal bagi kami untuk mengajar pendidikan lingkungan hidup tentang penyu menjadi lebih baik lagi.

*) Bodypit adalah istilah proses pembuatan sarang penyu

*) Kamuflase adalah cara yang biasa dilakukan oleh penyu setelah bertelur untuk menyamarkan jejak sarangnya dari musuh.

*) Kru adalah istilah yang kami gunakan untuk teman-teman kami yang bertugas melakukan kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Belajar Sambil Bertualang: Pelajaran Berharga di Pantai Peneluran – Bagian 1

Belajar Sambil Bertualang: Pelajaran Berharga di Pantai Peneluran – Bagian 1

Penulis

Noritha Murafer, Sandona Kuwei

Tanggal

19 September 2022

Ilmu itu harus diperbaharui dan bahkan harus belajar dari orang lain sebagai sumbernya. Karena itulah saya dan Sandona, yang sehari-harinya mengajar tentang penyu kepada anak-anak di rumah belajar berkunjung ke Pantai Peneluran untuk belajar tentang perlindungan penyu pada teman kami yang bertugas di sana. Sebelumnya, teman kami Alfin dan Evanora juga melakukan hal yang sama di bulan Juli. Tujuan kami sama: belajar agar kami lebih baik lagi ketika mengajar tentang penyu.

Noritha Murafer (Sarjana Informatika) dan Sandona Kuwei (Sarjana Kehutanan) adalah Pendamping Masyarakat yang bekerja di Kampung Syukwo, Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw. Sebelum melakukan tugas sebagai PM, mereka telah dibekali dengan pengetahuan terkait penyu dan upaya konservasi yang dilakukan. Seiring berjalannya waktu saat mereka mengajar PLH, ternyata teori yang mereka dapatkan belum secara maksimal membantu untuk mengajar tentang PLH kepada anak-anak. Mereka masih kesulitan untuk bercerita bagaimana upaya perlindungan penyu dari panas, dan ancaman predator karena mereka belum melihatnya secara langsung.

Kalau Alfin dan Evanora berjalan kaki selama 1 jam dari kampung ke Pantai Jeen Yessa, kami harus naik perahu motor selama 1 jam untuk tiba di lokasi yang sama karena kampung tempat kami bertugas jaraknya lumayan jauh dari pantai peneluran. Kami berangkat pada hari Minggu, 13 Agustus 2023, pukul 15.00 WIT.  Selama kurang lebih 1 jam perjalanan kami disuguhkan begitu banyak pemandangan yang menyejukkan mata dengan keindahannya. Dari kejauhan terlihat hamparan gunung nan tinggi yang dihiasi oleh hijaunya rimbunan dedaunan dari pepohonan. Terlihat kawanan ikan sedang berenang, bermain bersama di laut seakan turut menghantar perjalanan kami menuju Pantai Jeen Yessa. Pukul 16.10 WIT kami tiba di Pos Batu Rumah, disambut oleh teman-teman yang bertugas di sana.

Mengukur pasang surut
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Selama di sana, kami banyak bercerita tentang kegiatan kru di pantai. Kru adalah istilah yang kami gunakan untuk teman-teman kami yang bertugas melakukan kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang. Menurut informasi yang kami terima, di Pantai Batu Rumah biasanya menerapkan 3 cara perlindungan sarang yaitu:
1) pagar (melindungi sarang dari predator);
2) pakis 1 lapis (melindungi sarang dari suhu pasir tinggi);
3) pakis 2 lapis (melindungi sarang dari suhu pasir tinggi juga, namun hasilnya dibandingkan dengan perlindungan dengan pakis 1 lapis).
Ancaman terbesar bagi sarang penyu belimbing di pantai ini kebanyakan karena suhu pasir yang tinggi dibandingkan dari hewan predator. Hewan-hewan yang datang kebanyakan mengincar sarang penyu kecil seperti penyu hijau, penyu sisik ataupun penyu lekang.

Evaluasi sukses penetasan sarang menjadi hal pertama yang kami pelajari. Kami memulai evaluasi sarang dengan membongkar kayu/pagar dan tanaman-tanaman pakis yang digunakan untuk melindungi sarang tersebut. Setelah itu dilanjutkan dengan menggali sarang untuk menghitung jumlah telur yang berhasil menetas. Semua kegiatan evaluasi sarang harus dicatat di buku catatan. Catatan ini membantu kami mengetahui tingkat keberhasilan sarang maupun faktor-faktor yang mempengaruhinya. Setelah evaluasi, semua telur dan cangkang yang gagal menetas atau telur abnormal harus dikuburkan kembali ke dalam sarang dan sarang ditutup kembali.

Pada saat evaluasi sarang penyu belimbing, kami berjumpa dengan tukik yang keluar dari sarangnya. Sungguh senangnya hati ini, untuk pertama kalinya kami melihat tukik penyu belimbing yang hidup secara langsung dan untuk pertama kalinya juga kami melepaskan tukik ke laut dengan harapan semoga mereka selamat dari bahaya di laut.

Evaluasi sarang Penyu Belimbing di Pantai Warmamedi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Evaluasi sarang Penyu Belimbing di Pantai Warmamedi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Monitoring Malam. Jarum jam menunjukkan pukul 22:05 WIT, kegelapan menyelimuti bumi, bulan pun seakan enggan untuk menampakkan cahayanya. Hanya terdengar desiran suara ombak yang begitu kuat mengikis pasir dan batu di tepian pantai. Kami diajak salah seorang kru, Thomas Homba-Homba, untuk melakukan monitoring malam. Kami bertiga bergegas meninggalkan Pos Batu Rumah, menyusuri tepi Pantai Batu Rumah menuju Pantai Warmamedi. Satu harapan kami ketika keluar dari pos: semoga torang baku dapat dengan penyu belimbing yang naik ke pantai untuk bertelur! Kami dibekali sebuah senter kepala yang biasanya dipakai oleh patroler untuk melakukan monitoring malam. Meskipun senter ini memiliki dua warna lampu yaitu putih dan merah, yang boleh kami nyalakan hanya lampu merah. Sebab penyu sangat sensitif terhadap cahaya yang berwarna putih sehingga dapat mengganggu aktivitas penyu yang naik ke pantai untuk bertelur. Dalam perjalanan kami melihat jejak penyu yang naik ke pantai. Kata Thomas ini jejak penyu hijau. Jejaknya hampir sama dengan jejak penyu belimbing, perbedaannya hanya terdapat pada lebar jejaknya. Penyu belimbing memiliki jejak lebih lebar atau besar sedangkan penyu hijau agak kecil. Berkat jejak tersebut, kami berhasil menemukan seekor penyu hijau yang naik ke pantai untuk bertelur. Ini merupakan penyu dewasa pertama yang saya lihat di pantai peneluran.

Setelah puas melihat penyu hijau, kami bertiga pun melanjutkan perjalanan untuk monitoring. Kami juga menerima informasi dari teman-teman kru bahwa ada beberapa penyebab kenapa penyu gagal meletakkan telurnya di pantai; di antaranya karena akar tumbuhan di sekitar pantai yang menghambat proses pembuatan sarang penyu, pasir yang terlalu kering sehingga gugur ke dalam sarang yang sedang digali penyu, pantai yang kotor, atau ada cahaya putih dari senter atau lampu yang membuat penyu merasa terganggu/terancam.

Monitoring malam di pantai Warmamedi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Mengukur lebar karapas Penyu Belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Sekitar 20 menit kami berjalan dan akhirnya di depan pandangan kami terlihat seekor penyu belimbing!!! Kami berjalan maju dan mendekatinya dengan perlahan, tentunya hanya menggunakan senter dengan cahaya berwarna merah. Saat mendekati penyu belimbing, Thomas memberitahukan beberapa hal penting yang harus mereka catat ketika bertemu penyu ataupun jejak penyu: 1) mencatat waktu saat menemukan penyu tersebut, 2) nomor sektor, 3) aktivitas yang dilakukan penyu saat ketemu, 4) keberadaan sarang, 5) panjang dan lebar karapas penyu, 6) scan nomor PIT TAG atau memasang PIT TAG jika penyu belum memilikinya, 7) keterangan lainnya jika terdapat luka ataupun hal-hal lain di tubuh penyu tersebut.

Sungguh suatu pemandangan yang sangat menyentuh!! Kami Tim Pendamping Masyarakat Kampung Syukwo yang selama ini bercerita dan mengajar anak-anak di rumah belajar tentang penyu belimbing melalui informasi yang kami terima dari pembekalan awal, dari buku, dan dari internet, pada akhirnya kami bisa melihat penyu belimbing dewasa tepat di depan mata kami!!!

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Kunjungan Kerja Lapangan Tim Yayasan Penyu Papua di Taman Pesisir Jeen Womom

Kunjungan Kerja Lapangan Tim Yayasan Penyu Papua di Taman Pesisir Jeen Womom

Penulis

Deasy Lontoh

Tanggal

05 September 2023

Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi dan penyu adalah salah satu jenis satwa laut yang hidup di perairan laut, pantai-pantai, dan di pulau-pulau kecil yang tersebar di wilayah ini. Penyu belimbing, hijau, lekang, dan sisik bertelur di pantai-pantai yang ada di BLKB. Yayasan Penyu Papua (YPP) telah bekerja untuk melestarikan penyu hijau (Chelonia mydas) di Pulau Piai dan Pulau Sayang di Raja Ampat sejak tahun 2006. Untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan tim YPP, maka mereka mengunjungi lokasi kerja tim LPPM UNIPA yang juga berupaya dalam pelestarian penyu.

Kunjungan tim YPP berlangsung pada tanggal 22-25 Agustus 2023. Lima staf YPP termasuk Ketua, Ferdiel Ballamu, memulai kunjungan mereka di Rumah Belajar UNIPA di Kampung Resye dan Womom. Pendamping masyarakat dan narahubung (PMNH) LPPM UNIPA berbagi mengenai materi ajar pendidikan lingkungan hidup dan instrumen lainnya seperti permainan. Tim YPP menyaksikan bagaimana para PMNH memandu anak-anak Kampung Resye dalam permainan Dunia Penyu, modifikasi dari permainan ular tangga, yang mengajarkan ancaman-ancaman terhadap penyu. Selain itu, tenaga PMNH berbagi tentang pengelolaan Rumah Belajar secara umum dan aktivitas pemberdayaan masyarakat lainnya, seperti proses produksi minyak kelapa. Sebelum meninggalkan Rumah Belajar, tim YPP menyumbangkan crayon dan lembar mewarnai bertema penyu untuk dipakai di Rumah Belajar.

Foto bersama tim Yayasan Penyu Papua di depan Rumah Belajar di Kampung Womom.(Kredit foto: Yayasan Penyu Papua).

Tenaga pendamping masyarakat dan narahubung LPPM UNIPA berbagi tentang materi ajar Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) yang dilaksanakan di Rumah Belajar. (Kredit foto: Yayasan Penyu Papua)

Tim YPP menyaksikan permainan Dunia Penyu dengan anak-anak dari Kampung Resye.
(Kredit foto: Yayasan Penyu Papua)

Proses mengukur minyak kelapa bersama tim YPP.
(Kredit foto: S4C-LPPM UNIPA)

Dari Kampung Resye dan Womom, tim YPP meneruskan perjalanan ke Pantai Jeen Yessa. Di Pantai Warmamedi, tim YPP membantu evaluasi sukses penetasan pada beberapa sarang penyu belimbing, menyelamatkan 72 tukik penyu belimbing dalam sarang dan melepaskannya, patroli malam, dan berdiskusi dengan koordinator tim Warmamedi tentang pengelolaan data dalam tim dan database. Tim YPP meninjau kandang relokasi di Pantai Wembrak dan memberikan petunjuk-petunjuk agar kandang relokasi dapat dikelola lebih baik. Tim Wembrak juga menunjukkan penelitian tentang naungan cocomesh yang sedang berlangsung. Karena pada malam pertama, tim YPP belum bertemu induk penyu belimbing, mereka turut melakukan patroli malam di Pantai Batu Rumah pada malam terakhir. Namun karena aktivitas peneluran penyu belimbing sudah sangat berkurang menjelang akhir musim peneluran, tim YPP juga tidak berhasil bertemu induk belimbing di Batu Rumah.

Tim YPP membantu tim UNIPA melaksanakan evaluasi sukses penetasan sarang penyu belimbing di Pantai Warmamedi
(Kredit foto: Yayasan Penyu Papua).

Tim YPP membantu tim UNIPA melaksanakan evaluasi sukses penetasan sarang penyu belimbing di Pantai Warmamedi (Kredit foto: Yayasan Penyu Papua).

Tim YPP meninjau kandang relokasi di Pantai Wembrak dan memberikan petunjuk-petunjuk agar kandang relokasi dapat dikelola lebih baik. (Kredit foto: Yayasan Penyu Papua)

Koordinator tim Warmamedi berbagi tentang pengelolaan data dan database (Kredit foto: Yayasan Penyu Papua)

Selama empat hari kunjungan, banyak diskusi yang terjadi antara tim YPP dan tim LPPM UNIPA. Harapannya, tim YPP mendapatkan pengetahuan dan pembelajaran baru yang dapat membantu upaya pelestarian penyu di Pulau Piai dan Pulau Sayang. Tim LPPM UNIPA pun mendapatkan petunjuk-petunjuk yang berguna dari tim YPP untuk meningkatkan efektivitas kegiatan pelestarian penyu di Jeen Yessa.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Inovasi Perlindungan Penyu Kecil di Pantai Warmamedi

Inovasi Perlindungan Penyu Kecil di Pantai Warmamedi

Penulis

Yusup Jentewo, Deasy Lontoh, Muhammad Faisal

Tanggal

30 Agustus 2023

Tenaga Perlindungan Sarang Menganyam Perlindungan Sarang Penyu Kecil
(Foto : Faisal/S4C_LPPM UNIPA)

Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) merupakan fokus perlindungan tim UNIPA di pantai Jeen Yessa dan pantai Jeen Syuab, Kabupaten Tambrauw. Namun tim juga tidak mau menutup mata dengan sarang penyu lain yang terdapat di kedua pantai tersebut. Diketahui terdapat empat jenis penyu yang bertelur di pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab yaitu penyu belimbing, penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Tahun lalu tim telah mencoba melindungi sarang penyu lekang dengan metode pagar yang digunakan untuk melindungi sarang penyu belimbing, namun masih terdapat 57 sarang penyu lekang yang dimangsa babi hutan, anjing dan soasoa atau sekitar 6% dari jumlah sarang penyu lekang di rentan April-September 2022. Hal ini terjadi karena sarang penyu lekang tidak terlalu dalam hanya berkisar antara 32 sampai 54 cm dengan rata-rata 42,4 cm (data LPPM UNIPA tahun 2022).

Koordinator pantai Warmamedi, Muhamad Faisal, memimpin tim lapangan pantai Warmamedi dalam inovasi metode perlindungan sarang penyu kecil, dan tim Warmamedi sangat bersemangat dalam mencoba metode perlindungan ini pada sarang penyu lekang karena telah melihat banyak sarang penyu lekang yang dimangsa. Tim Warmamedi membuat perlindungan sarang dengan menggunakan kayu yang lebih panjang dan ditanam lebih dalam, sekitar 30 cm, dengan diameter 60 cm lalu menganyam atau mengikat kayu perlindungan tersebut dengan tali hutan. Antara Mei dan Juli 2023, tim Warmamedi telah melindungi 45 sarang penyu lekang dengan metode pagar ini dan memilih 45 sarang penyu lekang yang tidak dilindungi sebagai kontrol. Rataan sukses penetasan sarang penyu lekang yang dilindungi dan kontrol akan dibandingkan untuk melihat keefektifan metode yang diterapkan.

Foto sarang Penyu Belimbing dirusak
(Foto : Yusup/S4C_LPPM UNIPA)

Foto tukik Penyu Lekang
(Foto : Yusup/S4C_LPPM UNIPA)

“Memang karena ini perlindungan baru yang kami coba, terdapat beberapa hal yang harus kami perhatikan seperti menusuk kayu dengan lebih dalam dan mengikat tali hutan ke kayu dengan kuat” kata Faisal menjelaskan tantangan dalam membuat perlindungan penyu lekang.

Faisal mengikat Tali Hutan di Perlindungan Penyu Kecil
(Foto : Faisal/S4C_LPPM UNIPA)

Perlindungan Penyu Kecil Hampir Selesai
(Foto : Faisal/S4C_LPPM UNIPA)

Harapan dari metode perlindungan yang dikembangkan ini dapat melindungi sarang penyu lekang dengan efektif sehingga dapat diadopsi di pantai lain.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cerita Musim Teduh dari Pantai Jeen Yessa di Tahun 2022

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Cerita Musim Teduh dari Pantai Jeen Yessa di Tahun 2022

Penulis

Tonny Duwiri

Tanggal

12 Desember 2025

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Provinsi Papua Barat yang berada di timur Indonesia merupakan lokasi peneluran penyu penting untuk keberlangsungan penyu di alam. Salah satu kabupaten yang menjadi lokasi krusial bagi peneluran penyu adalah Kabupaten Tambrauw. Kabupaten yang diresmikan tahun 2009 ini memiliki dua pantai peneluran utama bagi penyu. Dua pantai tersebut adalah Pantai Jeen Yessa (dahulu disebut Jamursba Medi) dan Pantai Jeen Syuab (dahulu disebut Wermon). Kedua pantai ini masuk dalam Kawasan Taman Pesisir Jeen Womom yang ditetapkan tahun 2017 melalui SK Menteri Kelautan dan Perikanan. Kawasan ini menjadi habitat peneluran empat jenis penyu yaitu penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu hijau (Chelonia mydas), dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata).

Nama Saya Tonny Duwiri sering dipanggil “Todu”. Pada musim teduh (April-September) tahun ini, saya dipercayakan sebagai koordinator pantai Jeen Yessa. Salah satu pantai di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Saya bergabung di tim Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA sejak tahun 2018. Bersama masyarakat lokal dari Kampung Resye dan Womom kami secara aktif melaksanakan kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang pada setiap musim peneluran. Pada musim ini, tim UNIPA yang bertugas di pantai Jeen Yessa berjumlah 12 orang, terdiri dari 9 orang laki-laki dan 3 orang perempuan.

Tonny Duwiri
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bersama sekitar 23 orang masyarakat lokal yang terlibat sebagai pemilik hak ulayat, patroler lokal, tenaga magang, tenaga relokasi sarang dan penyedia kandang relokasi. Seluruh tim dan masyarakat terbagi dalam tiga lokasi kerja menurut tiga bagian pantai di Jeen Yessa yaitu pantai Wembrak, pantai Batu Rumah, dan pantai Warmamedi. Di masing-masing pantai juga terdapat koordinator pantai yang mengkoordinir kegiatan di pantai tersebut, untuk Wembrak saya juga bertugas sebagai koordinator pantai ini, lalu untuk Batu Rumah ada Johni Mau dan Warmamedi ada Mesak Adadikam sebagai koordinator disana.

Saat merasa jenuh di pantai, saya dan tim bisa berkunjung ke hutan sekadar menikmati keindahan hutan dan kehidupan yang ada di dalamnya, mengunjungi air terjun, ikut memasang dan memeriksa jerat yang dipasang oleh masyarakat. Terkadang hanya tinggal di pos atau tempat tinggal tim saja, saya sudah bisa menghilangkan jenuh dengan melihat berbagai jenis kupu-kupu, burung, ular, kadal, tokek dan juga katak. Hal yang lebih menakjubkan adalah semua yang saya sebut tidak hanya dapat dinikmati di Pantai Batu Rumah tetapi dapat dinikmati di dua pantai lainnya (Pantai Wembrak dan Pantai Warmamedi), dengan kata lain semuanya dapat dinikmati di sepanjang pantai Jeen Yessa.

Sarang-sarang penyu di pantai ini perlu dilindungi karena terancam beberapa ancaman serius di pantai. Beberapa ancaman bagi sarang penyu di Pantai Jeen Yessa adalah suhu pasir tinggi, predasi oleh babi, anjing, dan biawak (Pakiding dkk, 2022). Uniknya masing-masing pantai memiliki ancaman terhadap sarang penyu yang berbeda. Seperti di pantai Wembrak ancaman utama terhadap sarang penyu adalah suhu pasir tinggi. Logger suhu yang ditempatkan di pantai ini menunjukan rata-rata suhu pantai di Wembrak adalah 32,0°C, lebih tinggi dari suhu pantai Batu Rumah dan Warmamedi (Data 2021). Hal tersebut membuat kami menerapkan metode perlindungan naungan pakis (Cycas sp.) untuk menghalau paparan sinar matahari ke sarang dan juga dengan bantuan masyarakat membuat 2 kandang relokasi karena tingkat sukses penetasan yang sangat rendah di beberapa sektor. Untuk pantai Batu Rumah ancaman utama yang ditemui adalah suhu pasir tinggi dan predasi oleh babi, anjing dan biawak hal tersebut membuat tim melakukan metode perlindungan naungan pakis serta metode pagar dimana ditempatkan kayu mengelilingi sarang untuk mengantisipasi hewan-hewan tersebut merusak sarang. Sedangkan untuk pantai Warmamedi, suhu pasir tidak menjadi ancaman di sana melainkan predasi oleh babi. Untuk melindungi sarang di Warmamedi, tim menggunakan metode pagar.

Patroler Lokal sedang mencari letak sarang
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Tony)

Kru melakukan scan PIT tag kepada induk penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tony)

Kru Membuat Perlindungan Pagar untuk Sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tomas)

Dari proses pemantauan aktivitas peneluran di musim ini diketahui terdapat 4128 sarang penyu di pantai Jeen Yessa dan 1669 merupakan sarang penyu belimbing (59%) dan sisanya sarang penyu lekang (33%), penyu hijau (5%) dan penyu sisik (3%). Kami juga mendata indukan yang memakai pantai Jeen Yessa untuk bertelur dengan menandai dengan Passive Integrated Transponder (PIT) tag, berhasil terdata sebanyak 402 indukan penyu belimbing, 133 diantaranya adalah indukan yang baru mendapatkan tag dan 269 indukan terdata kembali dari pemasangan tag di musim-musim sebelumnya.

Jumlah sarang yang dilindungi pada musim teduh tahun ini mencapai total 877 sarang (53% dari keseluruhan sarang penyu belimbing). Perlindungan sarang ini secara umum menghasilkan sukses penetasan yang lebih baik dibandingkan dengan sarang asli yang dibiarkan (sarang kontrol). Sukses penetasan sarang-sarang yang dilindungi diketahui dari hasil evaluasi sukses penetasan lebih tinggi dibanding sarang kontrol di ketiga pantai. Estimasi produksi tukik yang dihasilkan dari kegiatan perlindungan sarang di pantai Jeen Yessa mencapai jumlah 89.648 tukik di musim ini. Harapannya generasi-generasi penyu ini dapat membantu peningkatan populasi penyu belimbing di masa depan. Hasil ini merupakan buah dari kerja keras tim bersama masyarakat lokal yang terlibat aktif. Suatu kebahagian tersendiri bagi tim dimana sarang-sarang yang dilindungi menghasilkan tukik yang banyak. Beberapa data ini telah kami paparkan di tengah masyarakat kampung Resye dan Womom pada tanggal 17 September 2022 untuk memberi tahu semua masyarakat terkait hasil kerja yang tim bersama anggota masyarakat lakukan pada musim ini. Secara umum masyarakat sangat senang dengan pekerjaan di pantai dan berharap agar mereka dapat terus melakukan kegiatan-kegiatan ini di musim-musim mendatang.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cerita Musim Teduh: Menilik Aktivitas Pemantauan dan Perlindungan Sarang di Pantai Jeen Syuab

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Cerita Musim Teduh: Menilik Aktivitas Pemantauan dan Perlindungan Sarang di Pantai Jeen Syuab

Penulis

Petrus Pieter Batubara

Tanggal

22 November 2022

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Halo! Perkenalkan nama saya Petrus Pieter Batubara, akrab disapa teman-teman dengan  panggilan Ompet. Saya dipercayakan sebagai Koordinator Pantai Jeen Syuab (dahulu disebut pantai Wermon) pada musim peneluran April-September 2022. Pantai Jeen Syuab merupakan satu dari dua pantai peneluran penting bagi penyu belimbing (Dermochelys coriacea) di Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat. Saya telah bergabung dalam tim sejak tahun 2013 dan cukup punya pengalaman dalam beberapa musim peneluran sebagai anggota tim pemantauan penyu dan perlindungan sarang di Taman Pesisir Jeen Womom.

Foto tim Jeen Syuab musim teduh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tim LPPM Universitas Papua (UNIPA) di pantai Jeen Syuab berjumlah enam orang yang terdiri dari saya sebagai koordinator pantai, lalu Yonas Saidui, Paitu Tomas Yesyak, dan Hermanus Maklon Ayomi sebagai tenaga lapangan dan tenaga magang, yaitu Osorio Mariano S. S. Embulaba dan Mayustilo Abraham Hokoyoku. Kami bekerja bersama kurang lebih 24 masyarakat lokal dari Kampung Wau dan Kampung Weyaf (dua kampung di dekat pantai) dalam berbagai aktivitas di pantai. Masyarakat yang terlibat  adalah 4 orang pemilik pantai, 6 patroler lokal yang bergantian setiap bulan, dan 2 pemuda sebagai tenaga magang. Para patroler lokal bertanggung jawab mencatat jejak penyu dan menandai posisi sarang penyu. Dalam sehari patroler lokal dapat menandai 5 sampai 10 posisi sarang dengan menggunakan besi stainless untuk merasakan pasir diatas sarang.

Memindahkan sarang ke dalam kandang relokasi merupakan metode melindungi sarang-sarang penyu belimbing dari invasi akar Ipomoea sp. di pantai Jeen Syuab. Empat orang masyarakat lokal menyediakan kandang relokasi dan 12 anggota masyarakat lokal dengan antusias membantu memindahkan telur dari sarang alami ke sarang buatan dalam kandang relokasi. Tenaga relokasi dapat memindahkan sarang sebanyak 10 sarang dalam sehari dan dilakukan secara individual maupun berkelompok. Keterlibatan wanita pun meningkat di musim ini diketahui 9 dari 12 orang yang terlibat sebagai tenaga relokasi adalah perempuan (75%). Mereka membantu upaya perlindungan sarang di pantai dan upah yang diterima pun dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka.

Tim melakukan crosscheck data di pos
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Bapak Lukas sedang menandai sarang Penyu Belimbing
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Musim peneluran tahun ini sangat luar biasa menurut saya, di awal musim jumlah aktivitas penyu sudah cukup banyak, di setiap malam tercatat terdapat 3-5 individu penyu yang naik untuk bertelur. Dua bulan awal yaitu bulan April dan Mei tercatat 127 sarang penyu belimbing dan 41 individu yang terdata dan terus meningkat sampai mencapai 773 sarang. Ditemui total 218 individu di akhir September, 90 individu baru terdata dan 128 telah terdata di musim sebelumnya. Bukan hanya penyu belimbing namun kami juga menemui sarang penyu lain seperti 5 sarang penyu hijau (Chelonia mydas), 5 sarang penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan 134 sarang penyu lekang (Lepidochelys olivacea).

Musim ini terdapat enam kandang relokasi yang dibuat oleh masyarakat lokal yang mengakomodir 517 sarang penyu belimbing, dan diketahui jumlah telur yang dipindahkan ke dalam kandang relokasi sebanyak 38.259 telur. Terdapat pula 45 sarang kontrol yang ditandai untuk menjadi perbandingan dengan sarang yang dilindungi. Selain memindahkan sarang ke kandang relokasi, tim juga harus mengontrol kandang relokasi dari pemangsa alami seperti anjing yang berusaha masuk ke dalam kandang untuk memakan telur penyu. Kurang lebih masa inkubasi telur yaitu selama 60 hari kemudian sarang siap untuk menetas, pekerjaan selanjutnya adalah mengevaluasi sarang yang sudah menetas untuk meninjau seberapa berhasilnya metode yang dilakukan melindungi sarang. Dari kegiatan evaluasi sukses penetasan diketahui rata-rata sukses penetasan di kandang relokasi pantai Jeen Syuab di musim ini adalah 49%, jauh lebih tinggi dibanding sukses penetasan sarang kontrol yang hanya mencapai 3%. Diartikan bahwa penggunaan kandang relokasi di Jeen Syuab berhasil meningkatkan penetasan telur penyu belimbing disana. Diestimasikan tukik yang berhasil menetas dari sarang pada musim ini adalah sebanyak 19008 tukik.

Yemima Bame dan Oktovina Jokson sedang menggali sarang buatan
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Petrus Batubara)

Penyu Belimbing bertelur dipagi hari
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Tim UNIPA melakukan presentasi di tengah masyarakat
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Keberhasilan yang kami dapat ini terjadi karena antusiasme dan kekompakan dari tim dan masyarakat lokal yang terlibat dalam upaya pemantauan penyu dan perlindungan sarang. Hasil kegiatan kami ini telah kami paparkan di tengah masyarakat kampung Wau dan Weyaf pada tanggal 24 September 2022 di Balai Kampung Weyaf, agar seluruh masyarakat dapat mengetahui kegiatan konservasi yang dilakukan di pantai Jeen Syuab dengan terbuka. Masyarakat memberikan apresiasi mendengar paparan kami dan berharap agar di musim-musim peneluran selanjutnya tim UNIPA dapat terus bekerja di pantai bersama masyarakat dalam menjaga penyu.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya