Belajar dari Malam yang Gelap: Inspirasi dan Keterlibatan Ronsiwer Awom dalam Konservasi Penyu di Pantai Jeen Yessa

Bagikan Tulisan

Tanggal

8 Desember 2022

Penulis

Ronsiwer S. Allibay Awom

Tanggal

8 Desember 2022

Penulis

Ronsiwer S. Allibay Awom

Hai perkenalkan nama saya Ronsiwer S. Allibay Awom biasa dipanggil Iwe, saya berasal dari Nabire dan merupakan lulusan dari Universitas Papua di Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Saya adalah tenaga perlindungan sarang pada musim teduh periode akhir (Agustus-September) di pantai Jeen Yessa atau lebih spesifiknya di pantai Warmamedi. Awal bergabung dengan tim perlindungan penyu di pantai Jeen Yessa dari program Sains untuk Konservasi (S4C) LPPM UNIPA saya mendapat informasi dari senior saya lalu saya mendaftar dan mengikuti seleksi berkas dan wawancara, akhirnya saya dinyatakan lulus. Sebelum saya dan teman lainnya turun lapangan, kami mengikuti pelatihan selama empat hari di Manokwari. Karena saya bertugas pada periode ketiga maka saya harus menunggu selama empat bulan yaitu di bulan Agustus untuk turun ke lapangan, namun tidak membuat saya patah semangat.

Ronsiwer melakukan pengukuran kedalaman sarang pada saat evaluasi sukses penetasan sarang di Warmamedi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Ronsiwer melakukan pengukuran indukan penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Saat berada di lapangan ternyata banyak pengalaman dan hal baru yang saya dapatkan selama bekerja di pantai, seperti melihat secara langsung penyu bertelur. Saya juga belajar cara melindungi sarang penyu, menulis data monitoring, mengukur panjang dan lebar penyu, evaluasi sukses penetasan sarang penyu, menandai penyu dengan PIT tag, menulis pita untuk menandai sarang penyu, dan mengidentifikasi sarang penyu. Hal-hal tersebut kami lakukan, ada beberapa hal yang sebenarnya bukan tanggung jawab saya namun karena ingin belajar maka saya juga ingin melakukannya. Pengalaman yang paling saya ingat saat awal bekerja adalah monitoring malam sendirian dengan suasana pantai yang gelap dan sunyi dengan jarak monitoring yang cukup jauh sekitar 8-10 km untuk total kami berjalan setiap malam. Kami berjalan selama kurang lebih 4-5 jam, tidak terasa karena kadang kami membagi kelompok jalan. Rasa takut dan lelah pasti ada namun semua terbayar ketika menemukan penyu yang akan bertelur. Melihat hewan langka ini secara langsung dan menjaganya bertelur memberikan kepuasan tersendiri bagi saya.

Saat bekerja di pantai Jeen Yessa, saya juga merasakan suasana baru bersama teman-teman S4C dan masyarakat lokal yang baik hati seperti keluarga. Saya merasa bangga kepada masyarakat adat pesisir pantai Jeen Womom yang terlibat langsung dengan kegiatan konservasi. Mereka ikut memantau aktivitas peneluran penyu dan juga melindungi sarang penyu. Tidak hanya penyu yang berusaha dilindungi masyarakat setempat, juga satwa lain dengan aturan adat setempat dan juga gereja dengan Sasi. Saya berharap, kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang, dan kepedulian masyarakat adat terhadap kekayaan alam yang ada di pesisir pantai Jeen Womom akan terus berlanjut karena sangat berdampak baik bagi kehidupan satwa yang ada dan juga bagi kehidupan masyarakat sekitar.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.