Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Showcasing produk UMKM Papua Barat – Bank Indonesia Papua Barat Dukung Penjualan Produk UMKM melalui Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia

Showcasing produk UMKM Papua Barat – Bank Indonesia Papua Barat Dukung Penjualan Produk UMKM melalui Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia

Penulis

Aflia Pongbatu, Naqliya Arum Permata, Noviyanti dan Yulitha Sa’bi

Tanggal

9 Maret 2022

UMKM adalah Usaha Mikro Kelas Menengah, UMKM dapat dijalankan oleh individu, rumah tangga, maupun badan usaha kecil. Bank Indonesia turut mendukung pengembangan Produk UMKM melalui Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI). Salah satu wujud respon nyata yang Bank Indonesia Papua Barat lakukan adalah menyelenggarakan kegiatan Showcasing produk UMKM di Papua Barat. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari, tanggal 24 – 26 Februari 2022 di Manokwari City Mall.

Miniatur Penyu dari UMKM Dekranasda
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tujuan dilakukannya kegiatan adalah agar masyarakat di Papua Barat semakin mengenal dan mau menggunakan produk lokal, untuk mengakselerasi transformasi digital UMKM, meningkatkan permintaan terhadap produk ekonomi kreatif buatan UMKM Papua Barat. Dalam pembukaan kegiatan ini, Kepala Kantor Perwakilan BI Papua Barat, Rut W. Eka Trisilowati, menyampaikan bahwa Kantor Perwakilan BI Papua Barat menargetkan 35 ribu pelaku usaha/pedagang atau merchant menggunakan “Quick Response Code Indonesia Standard” (QRIS) di Papua Barat pada 2022. Beberapa UMKM yang ikut serta dalam kegiatan ini, di antaranya UMKM Bank Indonesia, Dinkop UMKM Papua Barat, Disperindagkop Manokwari, Kopi Papua Barat dan masih banyak lagi UMKM lainnya.

Program Sains untuk Konservasi LPPM Unipa juga ikut terlibat dalam kegiatan ini. Pada kesempatan ini kami memasarkan produk minyak kelapa dan juga tas noken yang merupakan hasil dari kegiatan Pemberdayaan Masyarakat di Distrik Abun. Beberapa pengunjung pameran mengatakan bahwa, mereka sudah mengenal atau mengetahui produk minyak kelapa dari Distrik Abun. Produk lainnya seperti kopi, teh, sabun, keripik pisang, roti dan lain-lain juga dipasarkan oleh UMKM lainnya yang ikut meramaikan kegiatan ini.

Suasana saat penyiapan booth
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Suasana saat penyiapan booth
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Melaui rangkaian kegiatan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) ini, diharapkan mampu memberikan nilai tambah dan juga dapat memperluas akses pemasaran bagi UMKM Papua Barat.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Kunjungan Bank Indonesia, UNIPA, PT Barco dan Pemerintah Daerah ke Tambrauw: Peninjauan Rencana Pembentukan Kelompok Petani Kelapa Penghasil Kopra

Kunjungan Bank Indonesia, UNIPA, PT Barco dan Pemerintah Daerah ke Tambrauw: Peninjauan Rencana Pembentukan Kelompok Petani Kelapa Penghasil Kopra

Penulis

Fitryanti Pakiding dan Kartika Zohar

Tanggal

24 Januari 2022

Kabupaten Tambrauw merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Papua Barat. 11 dari 29 distrik di wilayah ini, terletak di daerah pesisir dan merupakan penghasil kelapa yang cukup besar. Potensi kelapa dimanfaatkan oleh masyarakat setempat, namun pemanfaatannya masih belum dapat meningkatkan perekonomian penduduk karena minimnya pasar yang dapat membeli.

Sejak tahun 2010, UNIPA bersama para mitra pendukung telah melakukan Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat sebagai bagian dari upaya konservasi penyu di Distrik Abun. Distrik ini merupakan salah satu distrik di Kabupaten Tambrauw. Kegiatan Pemberdayaan masyarakat diawali dengan survey sosial. Setelah survey selesai, kegiatan dilanjutkan dengan menempatkan 2-3 orang dalam satu grup pada 3 lokasi yang terpisah untuk mengajarkan masyarakat di 5 kampung untuk mengolah kelapa menjadi minyak kelapa. Kegiatan ini telah memberikan pengalaman dan pembelajaran yang baik terkait metode transfer pengetahuan kepada masyarakat lokal.

Diskusi bersama kepala Kampung Hopmare, Kepala Distrik Kwoor, dan Masyarakat di Hopmare terkait potensi kelapa dan jumlah produksi kopra yang dapat dihasilkan
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Pak Y. Fonataba (Kadis Pertanian PB) bersama Pak Thomas (Kadis Pertanian Tambrauw) dan Pak Rivanda (Buyer PT Barco) sedang melihat hasil kopra pada salah satu penampungan kopra di Sausapor
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Pada tahun 2021 Bank Indonesia Cabang Papua Barat bersama Pemerintah Kabupaten Tambrauw, Dinas Pertanian Provinsi Papua Barat, dan PT Barco (sebagai pihak buyer) melakukan inisiasi pengembangan Kelompok Petani Penghasil Kopra di Kabupaten Tambrauw. Kegiatan dilakukan di Kota Sorong dan Kabupaten Tambrauw. Program Sains untuk Konservasi UNIPA dilibatkan dalam inisiasi ini sebagai mitra yang telah berkontribusi dalam pengembangan masyarakat di Distrik Abun sejak 2013 lalu. UNIPA terlibat dalam audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Tambrauw dan mendampingi kunjungan ke kelompok petani kopra di Distrik Kwoor, Werur, dan Abun pada tanggal 26-29 April 2021.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Evaluasi Kegiatan Pendampingan Periode Februari – Juni 2021

Evaluasi Kegiatan Pendampingan Periode Februari – Juni 2021

Penulis

Jhonatan Alberto Allo

Tanggal

1 Desember 2021

Pada tahun 2021, Program Pemberdayaan Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat-Universitas Papua (LPPM – UNIPA) menugaskan tiga tim pendamping masyarakat (disingkat ‘PM’) untuk mendukung program konservasi penyu belimbing di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Bentuk dukungan memberi manfaat bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi dengan meningkatkan kapasitas pendidikan anak-anak dan membantu masyarakat setempat dalam memproduksi dan menjual minyak kelapa.

Di bidang pendidikan, ada dua program utama yaitu mendukung pendidikan formal dan informal. Misalnya, di sekolah umum, staff PM membantu guru mengajar di beberapa kelas. Mereka melakukannya karena jumlah guru PNS* di sekolah-sekolah sangat minim. Selain mengajar di sekolah, staff PM juga memberikan pendidikan informal di rumah-rumah belajar. Beberapa kegiatan di rumah belajar antara lain:

  • Mengajarkan keterampilan dasar membaca, menulis, matematika, dan bahasa Inggris.
  • Menyediakan perpustakaan keliling.
  • Mengajarkan kebersihan pribadi.
  • Mengajarkan cara menanam tanaman obat.

Membaca buku
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kami menggunakan tiga indikator untuk mengevaluasi program pemberdayaan di bidang pendidikan yaitu:

  1. Peningkatan kemampuan anak di kelas baca, tulis, dan hitung
  2. Keaktifan anak menghadiri kelas baca, tulis, dan hitung
  3. Jumlah hari aktif belajar-mengajar di sekolah

Pada periode I (Februari – Juni 2021) jumlah anak yang terlibat dalam rumah belajar di Saubeba-Womom sebanyak 55 orang, di Warmandi sebanyak 22 orang dan di Wau-Weyaf sebanyak 39 orang.

Gambar 1. Grafik persentase kemampuan anak yang lulus sebelum dan sesudah diberikan pembelajaran di rumah belajar.

Gambar 2. Grafik rata-rata kehadiran anak di rumah belajar

Berdasarkan grafik 1, terdapat peningkatan hasil belajar pada hampir semua kelas pada tiga rumah belajar. Namun ada satu kelas, yaitu kelas baca di Rumah belajar Wau-Weyaf yang tidak mengalami peningkatan hasil belajar.

Berdasarkan grafik 2, terdapat peningkatan hasil belajar pada hampir semua kelas pada tiga rumah belajar. Namun ada satu kelas, yaitu kelas baca di Rumah belajar Wau-Weyaf yang tidak mengalami peningkatan hasil belajar.

Tabel1. jumlah hari aktif dan hari libur di sekolah pada Februari-Juni 2021

Tabel 1 memperlihatkan bahwa SD YPK Lachai Roy Saubeba memiliki jumlah hari libur sekolah yang paling banyak dibandingkan sekolah lain. Libur sekolah umumnya karena ada acara adat atau acara keagamaan di kampung.

Di bidang peningkatan perekonomian bagi masyarakat lokal, terdapat 9 keluarga yang terlibat dalam pengolahan minyak kelapa. Untuk satu liter minyak kelapa yang diproduksi, mereka menerima bayaran sebesar Rp. 25.000 dari LPPM UNIPA. Staf PM kemudian membawa minyak kelapa ini ke Manokwari untuk dijual. Selama pendampingan masyarakat berhasil mengolah 153.5 liter minyak kelapa dengan rata-rata pendapatan yang diperoleh masing-masing keluarga sebesar Rp 426.389,-

Tabel 2. Jumlah produksi minyak kelapa periode I

Tujuan pemberdayaan masyarakat di bidang pendidikan adalah untuk meningkatkan kemampuan dasar membaca, menulis, dan matematika anak melalui kegiatan di sekolah dasar dan rumah belajar. Sedangkan pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dengan memanfaatkan kelapa sebagai sumber daya alam yang melimpah di desa menjadi minyak kelapa. Minyak kelapa merupakan pilihan terbaik karena memiliki umur simpan yang lama dan nilai jual yang lebih tinggi.

Masyarakat menilai bahwa program konservasi penyu belimbing membawa banyak manfaat bagi mereka. Pertama, kegiatan staf PM di rumah belajar dan sekolah dasar bermanfaat bagi anak-anaknya dan membantu para guru PNS. Selain itu, mereka sangat mendukung program pengolahan minyak kelapa karena masyarakat bisa mendapatkan penghasilan tambahan.

Kedepannya, masyarakat Saubeba-Womom berharap LPPM UNIPA memberikan pelatihan dasar komputer bagi aparat desa. Demikian pula masyarakat Warmandi berharap LPPM UNIPA menyediakan mesin parut kelapa untuk menghasilkan minyak kelapa yang lebih banyak. Sementara itu, masyarakat Wau-Weyaf berharap LPPM UNIPA bisa membantu kelompok yang baru dibentuk (Konsim) agar lebih terorganisir dan profesional dalam mengolah minyak kelapa.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Monitoring dan Evaluasi Lapang Periode Maret 2020 : Program Pemberdayaan Masyarakat di Distrik Abun

Monitoring dan Evaluasi Lapang Periode Maret 2020 : Program Pemberdayaan Masyarakat di Distrik Abun

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

23 Maret 2020

Pada semester pertama di Tahun 2020, Program pemberdayaan masyarakat kembali dilaksanakan. Kami menempatkan 8 tenaga pada 3 lokasi (Kampung Wau-Weyaf, Kampung Warmandi, dan Kampung Saubeba-Womom) untuk menjalankan program dengan fokus pada bidang pendidikan dan peningkatan perekonomian masyarakat. Monitoring dan evaluasi (monev) dilakukan setiap bulan berjalan sebagai bagian dari kontrol terhadap pelaksanaan kegiatan dan diskusi-diskusi tantangan yang dihadapi serta solusi yang mungkin bisa diterapkan. Kegiatan monev pada bulan Maret 2020 dilaksanakan pada tiga lokasi dengan tujuan menyampaikan program kepada anggota masyarakat dan diskusi-diskusi terkait dinamika di lapangan.

Transek Terumbu Karang
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Kegiatan monev pada 12-21 Maret 2020 ini juga bertujuan untuk memastikan tim di lapang memiliki bahan bakar cadangan untuk situasi yang mendesak seperti sakit atau hal lain yang tidak dapat ditunda keberangkatan/perjalanan keluar dari lapang. Tantangan bahwa ketiga lokasi berada di daerah yang minim transportasi dan ditambah dengan bahan bakar minyak yang tidak dapat diangkut melalui kapal penumpang Sabuk Nusantara 112, menjadikan perjalanan menggunakan mobil melalui jalan darat merupakan satu-satunya pilihan yang terbaik untuk monev.

Pada tanggal 12-16 Maret kegiatan monev dilakukan di lokasi pertama yaitu Kampung Wau dan Weyaf, 16-18 Maret dilaksanakan di Kampung Warmandi, dan 18-20 Maret bertempat di Kampung Saubeba dan Womom, lalu perjalanan dari Kampung Saubeba kembali ke Manokwari menggunakan Kapal Sabuk Nusantara 112, dan tiba pada pukul 11:00 WIT.

Penyampaian informasi terkait kegiatan di Kampung Wau dan Weyaf dilaksanakan setelah ibadah minggu pagi bertempat pada gedung gereja, sedangkan penyampaian informasi kepada masyrakat di Kampung Warmandi, Kampung Saubeba, dan Kampung Womom dalam bentuk diskusi, Selain itu, pelaksana monev juga terlibat aktif dalam implementasi program selama di lapang dan aktif membangun komunikasi untuk mengetahui dinamika yang terjadi di masing-masing lokasi.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Lokakarya Para Pihak dalam Pengembangan Kabupaten Konservasi dan Masyarakat Adat di Tambrauw, Papua Barat

Lokakarya Para Pihak dalam Pengembangan Kabupaten Konservasi dan Masyarakat Adat di Tambrauw, Papua Barat

Penulis

Sinus Keroman,Kartika Zohar, dan Yairus Swabra

Tanggal

28 Januari 2020

Lokakarya mitra dalam pengembangan Kabupaten Konservasi dan masyarakat hukum adat dilakukan di Fef, Ibukota Kabupaten Tambrauw, pada tanggal, 28 Januari 2020. Pertemuan rutin ini merupakan kegiatan Kelompok Kerja (Pokja) Pemerintah Kabupaten Tambrauw. Keanggotaan dalam Pokja terdiri dari Organisasi Perangkap Daerah (OPD) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Ketua Pokja adalah Sekertaris Daerah Kabupaten Tambrauw. Lokakarya biasanya dilakukan setiap awal atau akhir tahun (menyesuaikan dengan kegiatan mitra dan pemerintah).

Peserta yang hadir pada pertemuan ini sebanyak 30 orang terdiri dari OPD dan mitra kerja pemerintah Kabupaten Tambrauw. Kegiatan ini dibuka oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Tambrauw Bapak, Engelbertus Kocu, S.Hut., M.Si dan ditutup oleh Asisten II, Bapak Saur Sitomorang. Dalam sambutannya Setda Tambrauw berpesan agar, (a).LSM lokal yang mendampingi kegiatan pemetaan wilayah adat segera dilakukan di seluruh Kabupaten Tambrauw sehingga pengerjaan pembangunan berdasarkan alokasi wilayah, (b). Pembangunan berfokus pada penyebaran 6 (enam) suku di wilayah Kabupaten Tambrauw, (c). Pemetaan wilayah adat secara menyeluruh di kabupaten Tambrauw mulai dari Fef, Bamusbama dan seluruh wilayah Kabupaten Tambrauw, (d). Akan ada pembahasan RTRW dan RDTR pada Bulan Mei 2020, sehingga OPD dan mitra kerja Kabupaten Tambrauw diharapkan hadir dalam pertemuan tersebut, (e). Dalam pertemuan ini (28 Januari 2020), menghasilkan rekomendasi pemetaan wilayah sehingga Tahun 2020, pemerintah membangun berdasarkan alokasi area wilayah adat, area konservasi dan area pembangunan.

Foto : S4C

Dalam pertemuan ini beberapa narasumber yang mempresentasikan hasil capaian kegiatan dan rencana ke depan diantaranya Akawoun (LSM lokal Tambrauw) yang mendampingi pemetaan wilayah adat, Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) Bogor, Yayasan WWF Indonesia Site Papua, LPPM-UNIPA, dan Samdhana Institut. Masing-masing menyampaikan hasil kegiatan Tahun 2019 dan rencana kerja Tahun 2020. Selain itu OPD juga memberikan pandangan terutama komitmen dalam kerangka pembangunan Kabupaten Tambrauw berbasis konservasi dan masyarakat adat. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan merumuskan hasil pertemuan.

Rumusan yang dihasilkan pada pertemuan diantaranya: (1). Pemerintah daerah Kabupaten Tambrauw diminta untuk segera menyelesaikan sengketa kepemilikan lahan di wilayah Kabupaten Tambrauw agar mendukung Kabupaten Konservasi dan masyarakat adat, (2). Sinkronisasi pembahasan tim revisi  RTRW  dan tim RDTR  bersama mitra  dan Pemda Tambrauw dalam   bentuk lokakarya   lanjutan sesuai pengaturan oleh pemerintah daerah, (3). Alokasi dana APBD untuk mendukung kerja mitra lokal  (Akawuon) dalam  musyawarah adat penentuan batas-batas wilayah adat,  (4). Percepatan Penyelesaian SK   Bupati Tambrauw   tentang Panitia Masyarakat Hukum Adat, (5). Penyelesaian dokumen master plan Dokumen Kabupaten Tambrauw sebagai kabupaten konservasi, (6). Penertiban kegiatan LSM yang ada di pantai Jeen Womom, (7). Terkait dengan pembiayaan pertemuan lanjutan  akan di fasilitasi oleh mitra pemerintah pada Bulan Mei 2020, (8). Adanya rekomendasi   dan pemberitahuan   dari   setiap LSM  terkait   dengan pekerjaan di lapangan di   Kabupaten Tambrauw, (9). Penyampaian laporan program kerja Tahun   2019 dan Rencana   Kerja Tahun 2020 oleh Mitra  LSM yang bekerja di Tambrauw kepada Bupati, 10). Perda penggunaan lahan di kabupaten Tambrauw segera di susun oleh Pemda, (11). Penyusunan Peraturan Bupati tentang petunjuk pelaksanaan Perda, (12). Salah satu tugas pokok dan fungsI Masyarakat Adat akan diusulkan untuk masukan pada Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Periode Maret-April 2019 : Program Pemberdayaan Masyarakat – Blue Abadi Fund (BAF) Siklus 2

Kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Periode Maret-April 2019 : Program Pemberdayaan Masyarakat - Blue Abadi Fund (BAF) Siklus 2

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

25 Juli 2019

Sebagai salah satu upaya mendukung upaya konservasi penyu belimbing di Papua Barat, Universitas Papua melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat pada kampung-kampung yang terletak dekat dengan pantai peneluran penyu belimbing di Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw -Papua Barat.

Manfaat yang akan didapat masyarakat, diantaranya: anak-anak usia sekolah meningkat dalam kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, masyarakat belajar teknik mengolah pangan untuk memperpanjang umur simpan hasil pertanian serta mengajarkan cara hidup sehat sederhana terutama bagi anak-anak. Terdapat 9 orang Pendamping Masyarakat (PM) yang kemudian akan melakukan kegiatan pendampingan di setiap kampung untuk periode Maret hingga Agustus 2019 dengan melakukan program-program yang telah disampaikan pada Pelatihan Pendamping Masyarakat (25-27 Juli 2019). Selama periode Maret hingga Agustus 2019, terdapat 3 tim yang akan bekerja pada 3 kampung.

Selama periode tersebut juga akan dilakukan monitoring dan evaluasi setiap bulan yang berfungsi memastikan program-program yang direncanakan dapat diimplementasi dengan baik di lapang. Pada Monev I (25 Maret – 10 April), hasil yang diperoleh :

  • Surat pengantar pemberitahuan telah di diberikan kepada aparat kampung dan pihak sekolah pada ketiga kampung melalui PM Masyarakat yang berangkat pada Kamis, 21 Maret 2019.
  • Pertemuan bersama masyarakat di Kampung Wau-Weyaf terjadi pada 31 Maret 2019, diskusi tentang kegiatan pemberdayaan (kegiatan rumah belajar, kegiatan pembuatan noken, dan kegiatan pembuatan minyak kelapa), di lakukan di Gedung Gereja Wau. Hasilnya: Masyarakat tertarik untuk ikut melakukan kegiatan dengan besaran jasa yang dibayarkan.
  • Pertemuan bersama masyarakat di Kampung Saubeba terjadi pada 1 April 2019, yang diwakili oleh pemilik ulayat/tua-tua kampung (Bpk. Benyamitus Yessa), mendiskusikan terkait kegiatan di Rumah Belajar, Kegiatan pembuatan noken, dan kegiatan pembuatan minyak kelapa. Hasilnya: Kegiatan di Rumah Belajar akan tetap dilakukan meskipun kegiatan belajar mengajar di Sekolah Dasar di Saubeba akan diliburkan terkait dengan PEMILU, Perayaan Paskah, dan UAS Sekolah Dasar (estimasi dari kepala sekolah dasar bahwa lama libur adalah 2 bulan).
  • Pertemuan di Kampung Warmandi tidak terjadi dengan masyarakat karena anggota masyarakat sebagian besar sedang ke Sausapor dikarenakan ada duka. Diskusi hanya terjadi dengan 2 keluarga saja, terutama untuk kegiatan rumah belajar.
  • Pengurusan penyewaan rumah di Kampung Warmandi yang telah disetujui sebesar Rp. 300.000/bulan, penyewaan dilakukan selama 6 bulan (Jan-Juni 2019), serta Diskusi bersama dengan salah satu pemilik ulayat di Pantai Wermon yaitu Mama Tabitha Yesnath terkait pembayaran jasa untuk 8 bulan.
  • Salah satu contoh yaitu penulisan yang benar pada lembar kwitansi dan nota belanja yang digunakan. Proses audit berjalan lancar dan diakhiri dengan exit meeting antara pihak auditor, perwakilan yayasan KEHATI dan seluruh staff Pelaksana Program Sains untuk Konservasi.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Seleksi dan Pelatihan Pendamping Masyarakat Distrik Abun Periode Februari – Mei 2018

Seleksi dan Pelatihan Pendamping Masyarakat Distrik Abun Periode Februari - Mei 2018

Penulis

Tim Pemberdayaan Masyarakat

Tanggal

25 Mei 2018

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat melalui Divisi Pembangunan Berkelanjutan. Kembali mengadakan pelatihan yang dikhususkan bagi Pendamping Masyarakat (PM) Distrik Abun. Pelatihan ini memberi penguatan kapasitas bagi para PM yang nantinya bertugas meningkatkan kapasitas masyarakat di lima kampung binaan UNIPA di distrik Abun Kabupaten Tambrauw Papua Barat yaitu kampung Saubeba, kampung Womom, kampung Warmandi, kampung Wau, kampung Saubeba. Yang kemudian kami merjer karena berdekatan lokasi yaitu kami sebut kampung Saubeb-Womom, kampung Warmandi, dan kampung Wau-Weyaf. Tahapan seleksi penerimaan Pendamping Masyarakat dilakukan secara transparan dan objektif melalui tahapan penyampaian informasi penerimaan calon PM melalui media sosial dan pengumuman di setiap fakultas dlingkungan UNIPA. Tahapan-tahapan seleksi penerimaan calom PM yaitu Tahap pertama, pengumuman penerimaan calon pendamping masyarakat melalui media sosial dan selebaran. Tahap kedua, penerimaan berkas dan seleksi berkas. Tahap ketiga, seleksi wawancara, dan tahap keempat atau yang terakhir, pelatihan calon PM. Berkas lamaran yang masuk bukan hanya dari alumni UNIPA tetapi ada juga dari luar alumni UNIPA yang ada di Papua Barat dan Papua serta diluar pulau Papua. Kegiatan Pelatihan dimulai pada tanggal 30 Januari sampai dengan 2 Februari 2018 di ruang rapat Divisi Pembangunan Berkelanjutan, dibuka langsung oleh Bapak Charli Wanggai (Sekretaris LPPM). Dari 12 orang yang dinyatakan layak mengikuti pelatihan PM, hanya 10 orang yang berasal dari alumni UNIPA yang mengikuti pelatihan PM dari awal sampai selesai.

Foto : Tim Pemberdayaan Masyarakat

Pendamping masyarakat yang nantinya dipilih terdiri dari 2 kategori yaitu kategori pendamping lapang sebanyak 6 orang dan kategori pendamping pemasaran sebanyak 2 orang. Jadi pendamping yang dinyatakan lulus dalam pelatihan sebanyak 8 orang. Materi pelatihan yang diberikan secara garis besar terbagi atas 3 bagian yaitu pertama, Program Trip Februari-Mei 2018 terdiri dari sejarah singkat terbentuknya kampung binaan UNIPA di distrik Abun dan teknis capaian program serta tupoksi PM. Kedua, materi pertanian dan pendidikan yang terdiri dari Pertanian sederhana bercocok tanam sayuran dan pembuatan pupuk kompus serta pengelolaan rumah belajar. Ketiga, materi pengolahan terdiri dari praktik pembuatan kripik pisang dengan berbagai rasa dan praktik pembuatan minyak kelapa. Materi-materi yang diberikan sudah dirancang sedemikian rupa sehingga diharapkan apabila peserta PM mengikuti semua pelatihan yang diberikan dapat dijadikan bekal PM melakukan tugas dan tanggungjawab dikampung-kampung yang ditempatkan nantinya. Kegiatan ini ditutup secara resmi oleh ketua Divisi Pembangunan Berkelanjutan Ibu Fitriyanti Pakiding, Ph.D berpesan bahwa peserta yang nantinya terpilih sebagai pendamping masyarakat merupakan perpanjangan tangan dari Tim Abun yang bekerja di kampung dan merupakan ujung tombak program kerja dan melakukan pendamping masyarakat di kampung, bekerjasama secara tim, dan menjaga kesehatan serta pendamping harus menjaga nama baik UNIPA.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Seleksi dan Pelatihan Pendamping Lapang Abun Periode September – Desember 2017

Seleksi dan Pelatihan Pendamping Lapang Abun Periode September - Desember 2017

Penulis

Tim Pemberdayaan Masyarakat

Tanggal

18 Desember 2017

Seleksi dan pelatihan Pendamping Masyarakat (PM) Abun merupakan salah satu agenda kegiatan dari Divisi Pembangunan Berkelanjutan LPPM UNIPA. Tujuan diadakan seleksi dan pelatihan PM Abun adalah mencari calon PM yang kompeten dibidangnya, siap menjalankan program kerja, dan mempunyai hati untuk melayani masayarakat di Distrik Abun. Untuk memperlengkapi para pendamping masyarakat maka dilaksanakan pelatihan, dalam pelatihan materi pendampingan diberikan baik dalam segi teori maupun praktik sehingga para pendamping masyarakat dapat memahami tugas dan tanggungjawabnya. Masyarakat yang dilayani berada pada kampung Wau-Weyaf, Kampung Warmandi, dan kampung Saubeba. Kampung tersebut terletak dekat dengan daerah peneluruan Penyu Belimbing sehingga daerah tersebut ditetapkan sebagai daerah konservasi. Kampung-kampung ini merupakan kampung binaan UNIPA yang terletak di distrik Abun Kabupaten Tambrauw Papua Barat. Terdapat pendamping masyarakat yang akan ditugaskan untuk tinggal dan hidup bersama dengan masyarakat dikampung sehingga diharapkan dapat meningkatkan kapasitas masyarakat lokal. Tahapan seleksi penerimaan PM dilakukan secara transparan dan objektif yang diikuti oleh 22 calon PM. Tahap pertama, pengumuman penerimaan calon pendamping masyarakat melalui media sosial dan selebaran pengumuman yang ditempel pada setiap gedung di lingkungan UNIPA.

Foto : Tim Abun Pemberdayaan

Tahap kedua, penerimaan berkas dan seleksi berkas. Tahap ketiga, seleksi wawancara, dan tahap yang terakhir pelatihan. Pelaksanaan pelatihan PM Abun diikuti oleh 8 orang calon PM, dilaksanakan pada tanggal 6-11 September 2017, yang dibuka secara resmi oleh ketua LPPM UNIPA, Dr. Ir. Nurhaidah Iriany Sinaga, M.Si. Kegiatan hari pertama sampai dengan hari ketiga diisi dengan materi-materi yang sesuai dengan fokus program, secara garis besar dibagi atas 3 bagian yaitu materi tentang pemahaman PM menjalankan tugasnya, materi tentang pendidikan anak di rumah belajar, dan materi tentang bercocok tanam yang sifatnya tentatif. Diadakan di ruang rapat Divisi Pembangunan Berkelanjutan Rektorat Lama UNIPA dan kegiatan hari keempat diisi dengan focus program peningkatan sumberdaya lokal yaitu praktik mengolah pisang dan pembuatan minyak kelapa yang diadakan di Laboratorium Pengolahan Fakultas Teknologi Pertanian UNIPA. Dari serangkaian kegiatan seleksi dan pelatihan calon PM kemudian ditentukan yang layak sebagai PM terpilih sebanyak 7 orang (4 orang laki-laki dan 3 orang perempuan). Kegiatan pelatihan pendamping lapang Abun ini ditutup secara resmi oleh ketua Divisi Pembangunan Berkelanjutan Dr. Fitryanti Pakiding dengan pesan bahwa pekerjaan ini adalah pelayanan ke masyarakat, oleh karena itu PM akan tinggal dan bekerja dengan masyarakat di kampung kurang lebih 3 bulan, sangat diharapkan PM menjaga nama baik almamater UNIPA, PM saling bekerjasama secara tim dan saling menjaga kesehatan masing-masing, serta menjalankan tugas dan tanggungjawabnya dengan baik dan benar sebagai PM Abun.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Penguatan Kapasitas Tenaga Pendamping Lapang untuk Kampung Binaan UNIPA di Distrik Abun

Penguatan Kapasitas Tenaga Pendamping Lapang untuk Kampung Binaan UNIPA di Distrik Abun

Penulis

Outreach

Tanggal

23 Februari 2017

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat melalui Divisi Center of Excellence (CoE) untuk Pembangunan Berkelanjutan kembali mengadakan pelatihan yang dikhususkan bagi tenaga pendamping masyarakat distrik Abun. Pelatihan ini memberi penguatan kapasitas bagi para tenaga pendamping yang nantinya bertugas meningkatkan kapasitas masyarakat di tiga kampung binaan UNIPA. Kegiatan pelatihan yang dibuka oleh Dr. Fitryanti Pakiding sebagai Ketua Divisi CoE diadakan sejak 30 Januari 2017 di ruang rapat divisi CoE. Materi-materi pelatihan yang diberikan secara garis besar dibagi atas tiga bagian. Bagian pertama, terkait pemahaman pendamping dalam menjalankan tugasnya meliputi materi program kerja, wilayah kerja, dan tugas pokok pendamping, materi teknik komunikasi dan negosiasi, dan materi teknik penulisan jurnal dan laporan keuangan.

(Foto:S4C_LPPM UNIPA)

Bagian kedua, terkait pendidikan bagi anak-anak diantaranya; materi pendidikan lingkungan hidup dan kemah sahabat penyu, pengelolaan rumah belajar, teori dan praktik cara membaca dan menulis, teori dan praktik cara mengajar berhitung. Bagian yang ketiga berhubungan dengan pengolahan hasil pertanian yang mendatangkan pendapatan tambahan bagi masyarakat diantaranya materi budidaya sayuran menggunakan teknik hidroponikdan teknik vertikultur, praktik pengolaham pisang menjadi keripik dan sale, dan praktik pembuatan minyak kelapa. Materi yang diberikan dirancang dengan memberikan praktek agar para peserta lebih paham dalam pelaksanaan di lapangan nantinya. Materi pengolahan dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Teknologi Pertanian, hal ini dimaksudkan agar teori pengolahan yang diberikan dapat langsung dipraktekkan terutama terkait dengan mutu hasil olahan. Pelatihan periode diikuti delapan orang calon pendamping. Namun satu diantaranya mengundurkan diri dari kegiatan. Para pendamping masyarakat direncanakan bertugas mendampingi masyarakat di distrik Abun selama kurang lebih empat bulan. Kegiatan pelatihan ini ditutup secara resmi oleh Sekretaris LPPM UNIPA yaitu Lukas Y. Sonbait, S.Pt, M.Sc berpesan pada peserta yang lulus, yang akan tinggal dan bekerja dengan masyarakat Abun, agar selalu menjaga nama baik UNIPA, bekerjasama dalam tim, menjaga kesehatan, serta menjalankan tanggungjawabnya dengan baik dan benar.

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Menjaga Penyu Belimbing Dibentang Laut Kepala Burung Melalui Pemberdayaan Perekonomian Masyarakat Pemilik Pantai Peneluran

Menjaga Penyu Belimbing Dibentang Laut Kepala Burung Melalui Pemberdayaan Perekonomian Masyarakat Pemilik Pantai Peneluran

Penulis

Deasy Lontoh

Tanggal

25 November 2016

Masyarakat kampung memiliki peran startegis dalam pengelolaan sumberdaya alam, namun tingkat kemiskinan yang tinggi menghambat masyarakat lokal dalam mendukung penuh upaya konservasi. Masyarakat Abun adalah pemilik pantai Jamursba Medi dan Wermon, dua pantai peneluran penting bagi penyu belimbing di Pasifik. Walau terletak di wilayah pesisir, sumber penghasilan utama masyarakat adalah bertani dan berburu. Pemasaran hasil pertanian dan buruan menjadi kendala utama karena lokasi kampung-kampung yang terisolasi dengan akses transportasi yang sangat terbatas dan jadwal yang tidak menentu. Keterbatasan akses transportasi sangat mempengaruhi kemampuan menjual produk pertanian karena sifat produk pertanian yang mudah rusak. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi masalah akses pemasaran yang sulit adalah dengan memperpanjang umur simpan produk hasil pertanian. Dengan dukungan dana hibah INOVASI dari Conservation International, CoE menempatkan tiga tenaga pendamping di Distrik Abun (satu orang perkampung) yang bertugas untuk melatih masyarakat membuat minyak kelapa dan keripik pisang secara higienis dan membawa produk olahan tersebut dari kampung ke Manokwari. Kelapa dan pisang merupakan komoditi unggulan di Abun. Antara Mei dan September, para pendamping telah melakukan 7 kali perjalanan produksi, dan telah menghasilkan ±169 liter minyak kelapa dan ±42 kg keripik pisang. Penghasilan tambahan yang diberikan kepada masyarakat dalam periode tersebut berkisar sekitar Rp.8.000.000,- yang meliputi pembelian bahan baku dan pembayaran transportasi dengan perahu masyarakat. Supaya keuntungan dirasakan masyarakat luas, para pendamping pengolahan membeli kepala atau pisang dari keluarga yang berbeda-beda dalam setiap proses produksi. Di Manokwari, produk-produk tersebut kemudian dikemas, diberikan label, dan dipasarkan oleh pendamping pemasaran. Sekitar 29kg keripik pisang dan 140 liter minyak kelapa telah dijual. Keripik dijual dalam kemasan 150gram seharga Rp.10.000 per bungkus, dan minyak kelapa dijual seharga Rp.15.000 per botol 500ml, Rp.30.000 per botol 1 liter, dan Rp.100.000 per botol 5 liter. Selain dipasarkan dilingkungan kampus UNIPA, minyak kelapa dipasarkan di dua kios dan keripik pisang di 10 kios di daerah Amban, Manokwari. Salah satu tujuan program pemberdayaan perekonomian masyarakat lokal di Abun adalah proses pengolahan yang mengarah ke orientasi industri baik skala mikro maupun kecil. Strategi yang demikian diharapkan dapat memberikan dampak peningkatan yang signifikan bagi perekonomian masyarakat. Setelah memiliki kondisi perekonomian keluarga yang lebih baik, diharapkan peran serta masyarakat dalam program konservasi penyu belimbing pun akan semakin meningkat.

Berita Lainnya