Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Membawa Produk Lokal Papua Barat dalam Ajang Pameran Dagang Internasional

Konservasi di Kepulauan Misool: Antara Keindahan Alam dan Tantangan Lingkungan

Penulis

Monika Jupiter Arung Padang

Tanggal

15 November 2022

Trade Expo Indonesia merupakan pameran dagang terbesar di Indonesia yang diselenggarakan setiap tahunnya. Pada tahun 2022 ini dilaksanakan Trade Expo Indonesia yang ke-37 di Indonesia Convention Exhibition, BSD Jakarta. Pameran dagang ini berjenis Bisnis to Bisnis, yang bertujuan untuk mencari para buyer dari luar negeri sehingga mampu melaksanakan kerjasama dengan para pelaku usaha (Exhibitor) di Indonesia.

Stand UMKM Sanus Coconut di Trade Expo Indonesia
(Foto: Panitia Pelaksana)

Penampakan Stand Sanus Coconut di Trade Expo Indonesia
(Foto: Panitia Pelaksana)

Melalui Kementerian Perdagangan Republik Indonesia setiap provinsi di Indonesia mengutus 2 UMKM terbaik dari setiap daerah untuk mengikuti ajang pameran dagang terbesar di Indonesia ini. Pada kesempatan ini UMKM Sanus Coconut yang merupakan pengembangan dari Produk Lokal Abun (produk hasil binaan Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA), diberikan kesempatan oleh Dinas Perdagangan Provinsi Papua Barat sebagai salah satu perwakilan UMKM dari Papua Barat. Beberapa UMKM yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini seperti CV. Gaya Warna dari Bali, Qonita Care dan Maluku, PT. Indo Tropical Group dari Jawa Tengah, Raja Patin dari Sumatera dan beberapa UMKM lainnya. Sebelum mengikuti Pameran Trade Expo Indonesia, 64 peserta UMKM dari 34 provinsi yang di bawah Dinas Perdagangan melakukan diklat di Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia dan Jasa Perdagangan di Jakarta. Diklat ini dilakukan pada 14 – 17 Oktober 2022 dengan berbagai materi yang berkaitan dengan pameran internasional maupun cara melakukan ekspor.

Berfoto bersama teman-teman UMKM dari berbagai daerah
(Foto : Panitia Pelaksana)

Setelah mengikuti diklat, UMKM perwakilan setiap provinsi ini mengikuti pameran dagang Indonesia atau biasa disebut Trade Expo Indonesia. Kegiatan ini berlangsung pada 19 – 23 Oktober 2022 di ICE BSD, Jakarta. Pameran ini diikuti oleh Warga Negara Indonesia dan Warga Negara Asing. Selain para UMKM yang dilakukan oleh Dinas Perdagangan setiap Provinsi, para-Exhibitor juga berasal dari UMKM binaan Bank Indonesia, UMKM binaan Pertamina, Perum Bulog, PT. Dua Kelinci dan berbagai perusahaan yang ada di Indonesia baik yang berasal dari bidang food & beverages, digital & services, fashion & accessories, furniture & home decor, health care & beauty, manufacture dan medical equipment. Pada kegiatan Trade Expo Indonesia ini, Sanus Coconut Oil berhasil menjual sekitar 26 Liter minyak kelapa. Selain melakukan pemasaran langsung, selama kegiatan dilakukan pertukaran kartu nama antara Sanus Coconut dan beberapa buyer yang tertarik dengan produk minyak kelapa seperti Bapak Wirawan Hartawan selaku direktur dari PT. Hydro Farm Indonesia, Andy Hoang (Mr.) selaku Sales & Purchasing Manager dari Agrinuts Vietnam Trading Co., LTD dan beberapa buyer lainnya.

Foto bersama teman-teman UMKM dari 34 Provinsi
(Foto: Panitia Pelaksana)

Foto bersama teman-teman UMKM dari 34 Provinsi
(Foto : Panitia Pelaksana)

Menurut saya, kegiatan ini sangat menarik dan berharga. Bisa bertemu dengan orang-orang yang asalnya dari Sabang sampai Merauke. Pelajaran yang saya dapatkan ini tidak semudah saya dapatkan begitu saja, saya banyak belajar melakukan display pameran yang diurutkan sesuai dengan jenisnya dan bisa mempelajari cara melakukan ekspor produk mulai dari penentuan harga, cara pembayaran sampai tahap pembuatan sales contract. Selain itu, mengikuti kegiatan ini menambah relasi saya dengan berbagai UMKM dari setiap provinsi di Indonesia, serta saya dapat melakukan komunikasi langsung dengan para buyer yang berasal dari berbagai negara yang mengunjungi stan Sanus Coconut. Di sisi lain, melalui EXPO ini saya melihat potensi minyak kelapa yang besar yang jika dikembangkan dengan baik dapat memberikan manfaat tidak hanya bagi petani kelapa tetapi juga bagi pelaku UMKM yang mengolah kelapa dan turunannya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Menikmati event dalam pameran Produk Unggulan Sains untuk Konservasi di UNIPA

Konservasi di Kepulauan Misool: Antara Keindahan Alam dan Tantangan Lingkungan

Penulis

Abigail Lang, Federika Kondororik, Habema Monim

Tanggal

10 November 2022

Dalam rangka Dies Natalis UNIPA yang ke 22, kami dari Program Sains untuk Konservasi (S4C) di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Papua (LPPM UNIPA) ikut berpartisipasi dalam pameran produk unggulan. Pameran ini berlangsung pada tanggal 1 & 2 November 2022 di Aula UNIPA. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan untuk meningkatkan daya kreatif dan potensi yang dimiliki oleh setiap insan yang mengabdi pada Universitas Papua sehingga diharapkan dapat menghasilkan karya inovasi yang berguna kedepannya.

Dalam kesempatan ini kami menampilkan hasil-hasil kerjasama kami dengan masyarakat, pemerintah dan mitra konservasi. Selama kegiatan berlangsung, kami menjual produk-produk inovasi yang dibuat sendiri oleh masyarakat lokal Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw, seperti noken dan minyak lokal Abun. Minyak lokal Abun ini pada umumnya digunakan untuk keperluan seperti minyak pada umumnya, yaitu untuk memasak dan noken yang ditampilkan dengan gambar penyu serta gambar menarik lainnya. Pameran ini memiliki tujuan sesuai dengan judulnya, yaitu “Pameran Inovasi dan Produk Unggulan”.

Siswa SMA yang tertarik dengan noken yang dipajang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Mahasiswa

Mahasiswa yang tertarik melihat buku-buku
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Di samping itu, kegiatan ini tentunya tidak kalah menarik dengan program-program lainnya. Selain menjual produk inovasi, kami membagikan buku berjudul: Status dan Tren Sosial Masyarakat 2019, Jejaring Kawasan Konservasi Perairan BLKB 2010-2019, Profil Kampung 2010-2017 Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Profil Kampung 2010-2017 Teluk Mayalibit & Selat Dampier, dan banyak lainnya. Kami berharap penerima buku dapat membacanya dan menjadi acuan untuk keperluan studi ataupun informasi lainnya.

Mahasiswa

Salah satu pengunjung yang membeli minyak kelapa
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Di samping itu, kegiatan ini tentunya tidak kalah menarik dengan program-program lainnya. Selain menjual produk inovasi, kami membagikan buku berjudul: Status dan Tren Sosial Masyarakat 2019 Jejaring Kawasan Konservasi Perairan BLKB 2010-2019, Profil Kampung 2010-2017 Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Profil Kampung 2010-2017 Teluk Mayalibit & Selat Dampier, dan banyak lainnya. Kami berharap penerima buku dapat membacanya dan menjadi acuan untuk keperluan studi ataupun informasi lainnya.

Di dalam stand kami juga memberikan informasi pengenalan alat selam (scuba) sebagai tambahan ilmu bagi pengunjung stand. Pengenalan alat selam ini kami sampaikan untuk melengkapi rasa penasaran pengunjung yang melihat video program monitoring ekologi.

Siswa SMA yang tertarik mendengar tentang pembahasan alat-alat selam
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Mahasiswa

Salah satu siswa SMK yang sedang mencoba menggunakan alat selam lengkap
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Pengetahuan dasar tentang penyu kami sampaikan dengan cara bermain ular tangga. Cara memainkan ular tangga ini sama saja seperti permainan ular tangga pada umumnya, namun ada banyak pertanyaan untuk meningkatkan wawasan pemain maupun informasi yang kami sampaikan tentang penyu, telur penyu, tukik, dan apa saja ancaman dari manusia, ancaman dari lingkungan, serta ancaman dari hewan yang sudah kami isi dalam beberapa kotak ular tangga. Pemenang dari permainan ini mendapatkan souvenir dari kami. Kami tak lupa menanyakan informasi baru apa saja yang mereka dapatkan ketika bermain. Kebanyakan pengunjung mengenal ancaman penyu di alam dari permainan ini.

Pada pagi hari kami mendapatkan kunjungan dari siswa SMA dari berbagai sekolah di Manokwari. Para mahasiswa dan orang dewasa kebanyakan hadir di siang hingga sore hari. Kami juga dikunjungi oleh para mahasiswa dari luar Papua karena pada saat pelaksanaan kegiatan ada mahasiswa dari luar Papua yang sedang melaksanakan kegiatan Kampus Merdeka di UNIPA.

Siswa SMA yang asik bermain permainan ular tangga
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Mahasiswa

Mahasiswa yang asik menikmati permainan ular tangga
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Meskipun terlihat seperti permainan untuk anak-anak tapi baik pengunjung remaja maupun dewasa sangat menikmati permainan ular tangga. Mereka banyak menanyakan tentang penyu dan beberapa di antaranya tertarik untuk melihat penyu secara langsung. Kegiatan seperti ini tentunya dapat membawa dampak positif seperti relasi yang dibangun antara pengunjung dan kami di program S4C, saling berbagi pengetahuan sehingga pesan-pesan kami tersampaikan kepada pengunjung yang datang ke stan kami.

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Minyak Kelapa, Salah Satu Penghasilan Masyarakat di Sekitar Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw.

Minyak Kelapa, Salah Satu Penghasilan Masyarakat di Sekitar Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw.

Penulis

Monica Arung Padang, Kartika Zohar

Tanggal

8 September 2022

Taman Pesisir Jeen Womom di Kabupaten Tambrauw selain menjadi rumah bagi spesies penyu terbesar di dunia (Dermochelys coriaceae) juga memiliki komoditi hasil pertanian yang sangat bermanfaat yaitu kelapa (Cocos nucifera). Sebagai kawasan yang berada di bagian pesisir tidak heran jika jumlah kelapa di daerah ini melimpah.

Kegiatan pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan oleh program Sains Untuk Konservasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA). LPPM UNIPA melakukan kegiatan ini untuk membantu meningkatkan pendapatan masyarakat dengan memberikan pendampingan berupa proses pengolahan kelapa menjadi minyak kelapa.

Proses Ekstrasi Santan di Kampung Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA / Sandona Kuwei)

Proses Parut Kelapa bersama Anggota Kelompok Narwastu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yana Rumbrawer)

Untuk memanfaatkan potensi kelapa yang melimpah ini Program Sains Untuk Konservasi memberikan pendampingan kepada masyarakat lokal daerah pesisir Tambrauw yang ada di 2 Distrik yaitu Distrik Abun (Kampung Syukwo/Warmandi, Wau dan Weyaf) serta Distrik Tobouw (Kampung Resye dan Womom) untuk mengolah hasil pertanian berupa kelapa.

Minyak Kelapa merupakan produk lokal pertama masyarakat Distrik Abun dan Tobouw yang terbuat dari kelapa asli.  Produk ini diproduksi oleh masyarakat lokal yang tergabung kedalam kelompok – kelompok pengolahan dan didampingi oleh Pendamping Masyarakat. Proses produksi minyak kelapa ini masih menggunakan peralatan sederhana namun tetap memperhatikan sanitasi kebersihan selama proses produksi.

Hingga pertengahan tahun ini terdapat 6 kelompok masyarakat yang memproduksi sekitar 250-an liter minyak kelapa dan memperoleh pendapatan sebesar Rp. 6.375.000. Meskipun jumlah ini tidak begitu besar, namun jumlah ini telah memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat dan mereka juga telah belajar untuk konsisten memproduksi minyak kelapa di masing-masing kampung. Produk yang dihasilkan kemudian dijual di Manokwari. Program Sains untuk Konservasi juga telah melakukan penjualan melalui market place Tokopedia, sehingga konsumen yang berada di luar Manokwari dapat dengan mudah produk ini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Cerita dari Lapang: Monitoring dan Evaluasi Program Pemberdayaan Masyarakat di Taman Pesisir Jeen Womom Tahun 2022

Cerita dari Lapang: Monitoring dan Evaluasi Program Pemberdayaan Masyarakat di Taman Pesisir Jeen Womom Tahun 2022

Penulis

Kartika Zohar, Fitryanti Pakiding

Tanggal

26 Juli 2022

Program Pemberdayaan Masyarakat yang dilaksanakan di kampung-kampung di sekitar Taman Pesisir (TP) Jeen Womom oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) melalui Program Sains untuk Konservasi (S4C) merupakan bagian yang erat kaitannya dengan upaya konservasi penyu di pantai ini. TP Jeen Womom di Kabupaten Tambrauw Papua Barat merupakan rumah bagi spesies penyu terbesar yaitu penyu belimbing (Dermochelys coriacea) dan tiga spesies penyu lainnya yaitu penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea). Secara administrasi, TP Jeen Womom diapit oleh 5 kampung yang termasuk ke dalam dua distrik. Kampung Wau, Weyaf, dan Syukwo (dulu Warmandi) terdaftar menjadi bagian dari Distrik Abun, sedangkan Kampung Womom dan Kampung Resye (dulu Saubeba) telah menjadi bagian dari Distrik Tobouw (sebelumnya Distrik Abun). Program pemberdayaan yang dilakukan di kampung-kampung dalam bentuk peningkatan perekonomian melalui pengolahan dan kerajinan tangan serta melalui pendidikan (baik formal maupun informal), salah satunya kegiatan Rumah Belajar.

Ketua Program Sains untuk Konservasi Ibu Fitryanti Pakiding sedang menjelaskan kegiatan produksi minyak kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Dokumentasi diskusi bersama dengan Sekretaris Kampung Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Pada pertengahan tahun ini (6-8 Juli 2022), Program S4C bersama Ketua LPPM UNIPA dan Wakil Rektor IV UNIPA (Bidang Perencanaan dan Kerjasama UNIPA) serta para mitra mengunjungi kampung-kampung dan pantai peneluran TP Jeen Womom. Kunjungan ini merupakan bagian dari monitoring dan evaluasi pelaksanaan program yang telah dilakukan juga sebagai upaya untuk meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi TP Jeen Womom. Para mitra yang terlibat dalam perjalanan ini yaitu Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Papua Barat bersama Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) TP Jeen Womom, juga Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Papua Barat. Rombongan berkunjung ke 3 lokasi yang menjadi pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat yaitu Kampung Resye (dulu Saubeba), Kampung Womom, dan Kampung Wau-Weyaf.

Rombongan banyak berdiskusi dan melihat secara langsung lokasi pelaksanaan kegiatan. Selain berkenalan dengan setiap anggota tim pada setiap lokasi, rombongan juga berdiskusi bagaimana proses produksi minyak kelapa dan jumlah produksi setiap bulan serta tantangan-tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan program di lapang. Kunjungan rombongan untuk monitoring dan evaluasi telah memberikan masukan-masukan segar untuk pelaksanaan program ke depannya serta peluang-peluang kerjasama untuk meningkatkan kualitas dari pelaksanaan program pada setiap lokasi. Harapannya kunjungan ini juga dapat menjadi kegiatan rutin untuk lebih meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi di TP Jeen Womom.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Produk Lokal Abun berpartisipasi mendukung pelaksanaan side event W20 (Women 20) yang merupakan bagian dari G20 Indonesia Presidency 2022 di Manokwari, Papua Barat.

Produk Lokal Abun berpartisipasi mendukung pelaksanaan side event W20 (Women 20) yang merupakan bagian dari G20 Indonesia Presidency 2022 di Manokwari, Papua Barat.

Penulis

Monika Arung Padang & Kartika Zohar

Tanggal

27 Juni 2022

Group of Twenty atau G20 merupakan sebuah forum utama kerja sama ekonomi internasional yang beranggotakan negara-negara dengan perekonomian besar di dunia yang terdiri dari 19 negara utama dan satu lembaga Uni Eropa. Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggara G20 yang diselenggarakan sejak 1 Desember 2021 hingga Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) November 2022. Dalam hal ini Papua Barat menjadi tuan rumah tempat pelaksanaan side event W20 (Women 20) yang merupakan bagian dari G20 Indonesia Presidency 2022.

Dalam rangka mendukung Provinsi Papua Barat sebagai tuan rumah event Y20 (Youth 20) dan W20 (Women 20), Fakultas Kehutanan Universitas Papua bekerja sama dengan GIZ Forclime melaksanakan acara Talkshow Y20 dan W20 Forclime Internship Programme: Supporting Papua’s Green Future & Perempuan dalam Pengelolaan Hutan Lestari di Tanah Papua. Pada kegiatan yang dilaksanakan pada 20 – 21 Mei 2022 ini terdapat pameran hasil hutan bukan kayu dan produk-produk hasil olahan lainnya.

Booth Produk Lokal Abun Pada Pameran bertema Cultural Exhibition, Manokwari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kartika Zohar)

Gubernur Papua Barat mengunjungi dan berdiskusi di Booth Produk Lokal Abun tentang Produk Noken Abun
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Monica Arung Padang)

Event Pameran lainnya diselenggarakan oleh Pihak Bank Indonesia dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang bertema “Cultural Exhibition”. Pameran ini diikuti oleh para pelaku UMKM di Papua Barat. Pelaksanaan pameran ini dibagi menjadi dua bagian yaitu W20 dan Y20. Kegiatan W20 dilaksanakan pada 9 – 11 Juni 2022 sedangkan Y20 dilaksanakan pada 17 – 18 Juni di Manokwari City Mall. Kegiatan W20 ini dihadiri langsung oleh Gubernur Papua Barat, Komjen Pol (Purn.) Drs. Paulus Waterpauw, M.Si. dan beberapa delegasi seperti Angkie Yudistia (Staf Khusus Presiden Bidang Disabilitas), Perwakilan Perempuan Indonesia dan beberapa delegasi lainnya.

Produk Lokal Abun berpartisipasi dalam dua event yang diselenggarakan tersebut dengan hadir memperkenalkan produk-produk hasil pendampingan masyarakat di Distrik Abun dan Tobouw Kabupaten Tambrauw. Produk yang dihadirkan berupa minyak kelapa dan noken. Minyak kelapa dan noken yang dihasilkan merupakan bagian dari manfaat upaya perlindungan penyu bagi anggota masyarakat yang berada di kampung-kampung yang terletak di sekitar pantai peneluran Taman Pesisir Jeen Womom (TP Jeen Womom).

Pada dua event ini Produk Lokal Abun juga telah menggunakan fitur transaksi QRIS. Hasil penjualan produk pada kedua event ini cukup tinggi dibandingkan penjualan harian diluar event. Terdapat total 38 botol minyak kelapa kemasan 1 liter dan 31 buah noken dengan motif penyu dijual dalam dua event ini. Selain menjual produk, tim pemberdayaan masyarakat yang terlibat langsung dalam event pameran ini juga aktif menyampaikan informasi terkait upaya perlindungan penyu yang dilakukan di Kawasan TP Jeen Womom kepada pengunjung booth. Penyampaian informasi diberikan melalui leaflet tentang penyu dan diskusi dengan para pengunjung booth tentang penyu yang berada di TP Jeen Womom.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Seutas Cerita di Distrik Abun dari Tenaga Pengolahan dan Pemasaran Produk

Seutas Cerita di Distrik Abun dari Tenaga Pengolahan dan Pemasaran Produk

Penulis

Naqliya Arum Permata & Monica Jupiter Arung Padang

Tanggal

31 Mei 2022

Salah satu hasil dari program Pemberdayaan Masyarakat yang Program Sains untuk Konservasi lakukan adalah Minyak Kelapa Abun. Produk ini diproduksi oleh masyarakat lokal yang terbentuk dalam kelompok dan didampingi oleh Pendamping Masyarakat yang tersebar di beberapa kampung pada dua distrik Abun dan Tobouw, yaitu Kampung Wau, Weyaf, Warmandi, Resye (dulu Saubeba) dan Womom.

Lewat tulisan ini, Monica Jupiter Arung Padang sebagai Tenaga Pengolahan dan Pemasaran Produk pada tim Pemberdayaan Masyarakat akan membagikan pengalamannya ketika pertama kali berkunjung ke distrik Abun. Perjalanan dari Manokwari ke distrik Abun sendiri memakan waktu kurang lebih 3 hari 2 malam menggunakan kapal laut. Pada tanggal 22 April 2022 tepatnya pukul 22.00 WIT, kapal laut yang membawa Monica dan anggota tim lainnya bertolak meninggalkan Manokwari.

Proses Pelewangan Kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Monica dan tim tiba di Kampung Resye pada siang hari tanggal 24 April 2022. Mereka disambut dengan hangat oleh masyarakat di kampung tersebut. Malam harinya, mereka pergi ke kampung Womom untuk membawa peralatan kebutuhan rumah belajar yang ada di kampung tersebut. Perjalanan dari kampung Resye ke Womom ditempuh dengan berjalan kaki kurang lebih 20 sampai 30 menit. Keesokan harinya, Monica dan tim membantu merapikan rumah belajar yang terletak di kampung Womom. Setelah selesai merapikan rumah belajar, mereka kembali lagi ke kampung Resye untuk melakukan pengolahan minyak kelapa.

Proses Pengeluaran Tempurung Kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Percobaan pembuatan cocopeat dan cocofiber
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tanggal 26 April 2022, tim monev pemberdayaan, Pendamping Masyarakat Resye, tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang dan masyarakat sekitar mulai melakukan pengolahan minyak kelapa. Minyak kelapa yang akan diolah menggunakan sekitar 250 butir kelapa. Kelapa yang digunakan diambil dari hasil hutan yang terletak di kampung tersebut. Pertama, yang dilakukan untuk membuat Minyak Kelapa adalah mengupas serabut buah kelapa dan kemudian dibawa ke rumah belajar untuk mengupas tempurung batok kelapa. Tempurung kelapa yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan untuk percobaan pembuatan cocopeat dan cocofiber. Kelapa yang sudah dikupas lalu dibersihkan menggunakan air bersih yang mengalir. Kelapa yang sudah bersih langsung diparut kemudian dicampur air agar menjadi santan dan didiamkan selama satu malam. Tanggal 27 April 2022, mereka mulai memasak santan yang telah didiamkan selama satu malam. Hasil pemasakan santan inilah yang akan menjadi Minyak Kelapa dan dibawa ke Manokwari.

“Jangan ragu untuk mendatangi tempat-tempat baru yang dapat menambah wawasan dan juga bertemu serta berinteraksi dengan orang-orang baru, meskipun tempat-tempat tersebut jauh dari tempat tinggal kita – Monica”

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Showcasing produk UMKM Papua Barat – Bank Indonesia Papua Barat Dukung Penjualan Produk UMKM melalui Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia

Showcasing produk UMKM Papua Barat – Bank Indonesia Papua Barat Dukung Penjualan Produk UMKM melalui Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia

Penulis

Aflia Pongbatu, Naqliya Arum Permata, Noviyanti dan Yulitha Sa’bi

Tanggal

9 Maret 2022

UMKM adalah Usaha Mikro Kelas Menengah, UMKM dapat dijalankan oleh individu, rumah tangga, maupun badan usaha kecil. Bank Indonesia turut mendukung pengembangan Produk UMKM melalui Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI). Salah satu wujud respon nyata yang Bank Indonesia Papua Barat lakukan adalah menyelenggarakan kegiatan Showcasing produk UMKM di Papua Barat. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari, tanggal 24 – 26 Februari 2022 di Manokwari City Mall.

Miniatur Penyu dari UMKM Dekranasda
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tujuan dilakukannya kegiatan adalah agar masyarakat di Papua Barat semakin mengenal dan mau menggunakan produk lokal, untuk mengakselerasi transformasi digital UMKM, meningkatkan permintaan terhadap produk ekonomi kreatif buatan UMKM Papua Barat. Dalam pembukaan kegiatan ini, Kepala Kantor Perwakilan BI Papua Barat, Rut W. Eka Trisilowati, menyampaikan bahwa Kantor Perwakilan BI Papua Barat menargetkan 35 ribu pelaku usaha/pedagang atau merchant menggunakan “Quick Response Code Indonesia Standard” (QRIS) di Papua Barat pada 2022. Beberapa UMKM yang ikut serta dalam kegiatan ini, di antaranya UMKM Bank Indonesia, Dinkop UMKM Papua Barat, Disperindagkop Manokwari, Kopi Papua Barat dan masih banyak lagi UMKM lainnya.

Program Sains untuk Konservasi LPPM Unipa juga ikut terlibat dalam kegiatan ini. Pada kesempatan ini kami memasarkan produk minyak kelapa dan juga tas noken yang merupakan hasil dari kegiatan Pemberdayaan Masyarakat di Distrik Abun. Beberapa pengunjung pameran mengatakan bahwa, mereka sudah mengenal atau mengetahui produk minyak kelapa dari Distrik Abun. Produk lainnya seperti kopi, teh, sabun, keripik pisang, roti dan lain-lain juga dipasarkan oleh UMKM lainnya yang ikut meramaikan kegiatan ini.

Suasana saat penyiapan booth
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Suasana saat penyiapan booth
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Melaui rangkaian kegiatan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) ini, diharapkan mampu memberikan nilai tambah dan juga dapat memperluas akses pemasaran bagi UMKM Papua Barat.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Kunjungan Bank Indonesia, UNIPA, PT Barco dan Pemerintah Daerah ke Tambrauw: Peninjauan Rencana Pembentukan Kelompok Petani Kelapa Penghasil Kopra

Kunjungan Bank Indonesia, UNIPA, PT Barco dan Pemerintah Daerah ke Tambrauw: Peninjauan Rencana Pembentukan Kelompok Petani Kelapa Penghasil Kopra

Tanggal

24 Januari 2022

Penulis

Fitryanti Pakiding dan Kartika Zohar

Kabupaten Tambrauw merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Papua Barat. 11 dari 29 distrik di wilayah ini, terletak di daerah pesisir dan merupakan penghasil kelapa yang cukup besar. Potensi kelapa dimanfaatkan oleh masyarakat setempat, namun pemanfaatannya masih belum dapat meningkatkan perekonomian penduduk karena minimnya pasar yang dapat membeli.

Sejak tahun 2010, UNIPA bersama para mitra pendukung telah melakukan Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat sebagai bagian dari upaya konservasi penyu di Distrik Abun. Distrik ini merupakan salah satu distrik di Kabupaten Tambrauw. Kegiatan Pemberdayaan masyarakat diawali dengan survey sosial. Setelah survey selesai, kegiatan dilanjutkan dengan menempatkan 2-3 orang dalam satu grup pada 3 lokasi yang terpisah untuk mengajarkan masyarakat di 5 kampung untuk mengolah kelapa menjadi minyak kelapa. Kegiatan ini telah memberikan pengalaman dan pembelajaran yang baik terkait metode transfer pengetahuan kepada masyarakat lokal.

Diskusi bersama kepala Kampung Hopmare, Kepala Distrik Kwoor, dan Masyarakat di Hopmare terkait potensi kelapa dan jumlah produksi kopra yang dapat dihasilkan

(foto : s4c lppm unipa)

Pak Y. Fonataba (Kadis Pertanian PB) bersama Pak Thomas (Kadis Pertanian Tambrauw) dan Pak Rivanda (Buyer PT Barco) sedang melihat hasil kopra pada salah satu penampungan kopra di Sausapor

(foto : s4c lppm unipa)

Pada tahun 2021 Bank Indonesia Cabang Papua Barat bersama Pemerintah Kabupaten Tambrauw, Dinas Pertanian Provinsi Papua Barat, dan PT Barco (sebagai pihak buyer) melakukan inisiasi pengembangan Kelompok Petani Penghasil Kopra di Kabupaten Tambrauw. Kegiatan dilakukan di Kota Sorong dan Kabupaten Tambrauw. Program Sains untuk Konservasi UNIPA dilibatkan dalam inisiasi ini sebagai mitra yang telah berkontribusi dalam pengembangan masyarakat di Distrik Abun sejak 2013 lalu. UNIPA terlibat dalam audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Tambrauw dan mendampingi kunjungan ke kelompok petani kopra di Distrik Kwoor, Werur, dan Abun pada tanggal 26-29 April 2021.

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Evaluasi Kegiatan Pendampingan Periode Februari – Juni 2021

Evaluasi Kegiatan Pendampingan Periode Februari – Juni 2021

Tanggal

1 Desember 2021

Penulis

Jhonatan Alberto Allo

Pada tahun 2021, Program Pemberdayaan Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat-Universitas Papua (LPPM – UNIPA) menugaskan tiga tim pendamping masyarakat (disingkat ‘PM’) untuk mendukung program konservasi penyu belimbing di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Bentuk dukungan memberi manfaat bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi dengan meningkatkan kapasitas pendidikan anak-anak dan membantu masyarakat setempat dalam memproduksi dan menjual minyak kelapa.

membaca buku_edit

Di bidang pendidikan, ada dua program utama yaitu mendukung pendidikan formal dan informal. Misalnya, di sekolah umum, staff PM membantu guru mengajar di beberapa kelas. Mereka melakukannya karena jumlah guru PNS* di sekolah-sekolah sangat minim. Selain mengajar di sekolah, staff PM juga memberikan pendidikan informal di rumah-rumah belajar. Beberapa kegiatan di rumah belajar antara lain:

  • Mengajarkan keterampilan dasar membaca, menulis, matematika, dan bahasa Inggris.
  • Menyediakan perpustakaan keliling.
  • Mengajarkan kebersihan pribadi.
  • Mengajarkan cara menanam tanaman obat.

Kami menggunakan tiga indikator untuk mengevaluasi program pemberdayaan di bidang pendidikan yaitu:

  1. Peningkatan kemampuan anak di kelas baca, tulis, dan hitung
  2. Keaktifan anak menghadiri kelas baca, tulis, dan hitung
  3. Jumlah hari aktif belajar-mengajar di sekolah

Pada periode I (Februari – Juni 2021) jumlah anak yang terlibat dalam rumah belajar di Saubeba-Womom sebanyak 55 orang, di Warmandi sebanyak 22 orang dan di Wau-Weyaf sebanyak 39 orang.

Gambar 1. Grafik persentase kemampuan anak yang lulus sebelum dan sesudah diberikan pembelajaran di rumah belajar.

Berdasarkan grafik 1, terdapat peningkatan hasil belajar pada hampir semua kelas pada tiga rumah belajar. Namun ada satu kelas, yaitu kelas baca di Rumah belajar Wau-Weyaf yang tidak mengalami peningkatan hasil belajar.

Grafik 2

Gambar 2. Grafik rata-rata kehadiran anak di rumah belajar

Berdasarkan grafik 2, terdapat peningkatan hasil belajar pada hampir semua kelas pada tiga rumah belajar. Namun ada satu kelas, yaitu kelas baca di Rumah belajar Wau-Weyaf yang tidak mengalami peningkatan hasil belajar.

Tabel 1 memperlihatkan bahwa SD YPK Lachai Roy Saubeba memiliki jumlah hari libur sekolah yang paling banyak dibandingkan sekolah lain. Libur sekolah umumnya karena ada acara adat atau acara keagamaan di kampung.

Di bidang peningkatan perekonomian bagi masyarakat lokal, terdapat 9 keluarga yang terlibat dalam pengolahan minyak kelapa. Untuk satu liter minyak kelapa yang diproduksi, mereka menerima bayaran sebesar Rp. 25.000 dari LPPM UNIPA. Staf PM kemudian membawa minyak kelapa ini ke Manokwari untuk dijual. Selama pendampingan masyarakat berhasil mengolah 153.5 liter minyak kelapa dengan rata-rata pendapatan yang diperoleh masing-masing keluarga sebesar Rp 426.389,-

Tujuan pemberdayaan masyarakat di bidang pendidikan adalah untuk meningkatkan kemampuan dasar membaca, menulis, dan matematika anak melalui kegiatan di sekolah dasar dan rumah belajar. Sedangkan pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dengan memanfaatkan kelapa sebagai sumber daya alam yang melimpah di desa menjadi minyak kelapa. Minyak kelapa merupakan pilihan terbaik karena memiliki umur simpan yang lama dan nilai jual yang lebih tinggi.

Masyarakat menilai bahwa program konservasi penyu belimbing membawa banyak manfaat bagi mereka. Pertama, kegiatan staf PM di rumah belajar dan sekolah dasar bermanfaat bagi anak-anaknya dan membantu para guru PNS. Selain itu, mereka sangat mendukung program pengolahan minyak kelapa karena masyarakat bisa mendapatkan penghasilan tambahan.

Kedepannya, masyarakat Saubeba-Womom berharap LPPM UNIPA memberikan pelatihan dasar komputer bagi aparat desa. Demikian pula masyarakat Warmandi berharap LPPM UNIPA menyediakan mesin parut kelapa untuk menghasilkan minyak kelapa yang lebih banyak. Sementara itu, masyarakat Wau-Weyaf berharap LPPM UNIPA bisa membantu kelompok yang baru dibentuk (Konsim) agar lebih terorganisir dan profesional dalam mengolah minyak kelapa.

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Monitoring dan Evaluasi Lapang Periode Maret 2020 : Program Pemberdayaan Masyarakat di Distrik Abun

Pada semester pertama di Tahun 2020, Program pemberdayaan masyarakat kembali dilaksanakan. Kami menempatkan 8 tenaga pada 3 lokasi (Kampung Wau-Weyaf, Kampung Warmandi, dan Kampung Saubeba-Womom) untuk menjalankan program dengan fokus pada bidang pendidikan dan peningkatan perekonomian masyarakat. Monitoring dan evaluasi (monev) dilakukan setiap bulan berjalan sebagai bagian dari kontrol terhadap pelaksanaan kegiatan dan diskusi-diskusi tantangan yang dihadapi serta solusi yang mungkin bisa diterapkan. Kegiatan monev pada bulan Maret 2020 dilaksanakan pada tiga lokasi dengan tujuan menyampaikan program kepada anggota masyarakat dan diskusi-diskusi terkait dinamika di lapangan.

Monitoring dan Evaluasi Lapang Periode Maret 2020 (CoE)

Foto : S4C

Kegiatan monev pada 12-21 Maret 2020 ini juga bertujuan untuk memastikan tim di lapang memiliki bahan bakar cadangan untuk situasi yang mendesak seperti sakit atau hal lain yang tidak dapat ditunda keberangkatan/perjalanan keluar dari lapang. Tantangan bahwa ketiga lokasi berada di daerah yang minim transportasi dan ditambah dengan bahan bakar minyak yang tidak dapat diangkut melalui kapal penumpang Sabuk Nusantara 112, menjadikan perjalanan menggunakan mobil melalui jalan darat merupakan satu-satunya pilihan yang terbaik untuk monev.

Pada tanggal 12-16 Maret kegiatan monev dilakukan di lokasi pertama yaitu Kampung Wau dan Weyaf, 1618 Maret dilaksanakan di Kampung Warmandi, dan 18-20 Maret bertempat di Kampung Saubeba dan Womom, lalu perjalanan dari Kampung Saubeba kembali ke Manokwari menggunakan Kapal Sabuk Nusantara 112, dan tiba pada pukul 11:00 WIT.

Pada tanggal 12-16 Maret kegiatan monev dilakukan di lokasi pertama yaitu Kampung Wau dan Weyaf, 1618 Maret dilaksanakan di Kampung Warmandi, dan 18-20 Maret bertempat di Kampung Saubeba dan Womom, lalu perjalanan dari Kampung Saubeba kembali ke Manokwari menggunakan Kapal Sabuk Nusantara 112, dan tiba pada pukul 11:00 WIT.

Penyampaian informasi terkait kegiatan di Kampung Wau dan Weyaf dilaksanakan setelah ibadah minggu pagi bertempat pada gedung gereja, sedangkan penyampaian informasi kepada masyrakat di Kampung Warmandi, Kampung Saubeba, dan Kampung Womom dalam bentuk diskusi, Selain itu, pelaksana monev juga terlibat aktif dalam implementasi program selama di lapang dan aktif membangun komunikasi untuk mengetahui dinamika yang terjadi di masing-masing lokasi.

(Oleh: Kartika Zohar)