Kategori
Monitoring Sosial Survei

Kolaborasi bersama Para Pakar: Saatnya Membawa Data Lapangan pada Lembar Publikasi Ilmiah

Kolaborasi bersama Para Pakar: Saatnya Membawa Data Lapangan

pada Lembar Publikasi Ilmiah

Tanggal

2 Desember 2021

Penulis

Maya Paembonan, Kezia Salosso dan Dariani Matualage

Pada tahun ini, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA) mengadakan kegiatan Kolaborasi Ilmiah bersama peneliti di lingkup UNIPA. Kegiatan ini dilakukan untuk memanfaatkan data yang telah dikumpulkan dari monitoring sosial di Bentang Laut Kepala Burung Papua sejak tahun 2010. Melalui Kolaborasi ini diharapkan pada akhir tahun 2021 dapat dihasilkan tulisan-tulisan yang akan dipublikasikan pada jurnal ilmiah, baik di tingkat nasional maupun internasional. Para peneliti adalah staf dosen senior (sebagai koordinator tim) dan staf dosen junior (sebagai penulis utama atau anggota tim).

Pendaftaran kandidat penulis dilakukan pada 6 Mei hingga 13 Mei 2021. Terdapat 30 pendaftar atau staf dosen yang mengajukan diri, namun  tidak semua dapat terlibat karena terdapat beberapa kriteria yang tidak dipenuhi seperti level jabatan lektor dan bidang keahlian. Peserta yang telah lulus selanjutnya mengikuti pertemuan perdana pada tanggal 20 Mei secara virtual guna melakukan penyamaan persepsi. Tahap ini penting karena para peneliti akan memperoleh informasi tentang pelaksanaan monitoring (termasuk metode dan jenis data), serta variabel data yang dikumpulkan selama survei.

Terdapat enam topik yang ditawarkan dalam kolaborasi ini, yaitu Ketahanan Pangan, Gender, Ekonomi Masyarakat Pesisir, Perikanan Berkelanjutan, Tata Kelola Kawasan Konservasi Perairan, dan Budaya. Dari enam topik, terdapat 14 sub-topik yang dapat dikembangkan menjadi publikasi ilmiah. Para peneliti diberikan kesempatan untuk menulis judul yang sesuai dengan sub-topik tersebut.

Bagi peneliti yang bersedia untuk tetap terlibat dalam kolaborasi ini diwajibkan menyusun suatu concept note sesuai dengan topik yang dipilih. Concept note ini terdiri dari topik yang dipilih, isu penting yang ingin ditulis, pertanyaan penelitian, hipotesis, jenis data serta analisis yang akan digunakan, bagaimana data diinterpretasikan dan ditampilkan pada paper, serta target jurnal untuk publikasi. Terdapat 18 Concept Notes yang diperoleh dari enam topik utama dalam kolaborasi ini. Selanjutnya, setiap tim akan mengembangkan Concept Notes tersebut menjadi tulisan-tulisan ilmiah terkait monitoring sosial di BLKB Papua.

Berita Lainnya

Enumerator survei sosial masyarakat 2021 (Foto: S4C LPPM UNIPA)

Chintia R. Tumbio, Dedi D. Morin, Demianus O. Ambarau, Margaretha M.Y Wakum, Marthinus J. Rumere, Richard J. Tamba – Agustus 25, 2021

Kategori
Monitoring Sosial Survei

Monitoring Sosial Masyarakat di KKPD Kepulauan Kofiau-Boo, Raja Ampat

Monitoring Sosial Masyarakat di KKPD Kepulauan Kofiau-Boo, Raja Ampat

Penulis

Chintia R. Tumbio, Dedi D. Morin, Demianus O. Ambarau, Margaretha M.Y Wakum, Marthinus J. Rumere, Richard J. Tamba

Tanggal

25 Agustus 2021

“Kenapa anak dorang datang jauh-jauh dari Manokwari untuk belajar dari torang? Bukannya di Manokwari ada laut juga to?” (mengapa kalian datang dari jauh untuk belajar dari kami, padahal di Manokwari juga terdapat laut?). “Anak ko sekolah peternakan tapi kenapa ko tanya-tanya tentang laut?” (Anda belajar peternakan, tetapi mengapa anda bertanya tentang kelautan?). “Setelah anak dong tanya-tanya begini, terus hasilnya untuk torang di kampung apa?” (setelah survei ini, apa yang akan diterima oleh masyarakat di kampung?). Ini adalah beberapa pertanyaan responden yang cukup membekas dan membuat kami sedikit memeras otak sebelum memberi jawaban. 

Enumerator survei sosial masyarakat 2021 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kami berenam sebagai enumerator survei sosial masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan Kofiau-Boo menghabiskan 38 hari di lapangan. Kami berkunjung ke 8 kampung dan bertanya kepada 302 Kepala Keluarga sebagai responden kami. Entah sudah berapa kilometer telah kami jalani, dan berapa banyak perjalanan di laut menggunakan body (perahu tanpa semang) yang telah kami lakukan. Lautan bagai kaca atau berbuih karena ombak sudah menjadi pemandangan yang biasa bagi kami.

Kadang rasa jenuh itu muncul, terutama setelah kami berjalan seharian dan bertanya kepada 6 sampai 8 orang, atau saat tidak ada listrik atau sinyal telepon seluler di kampung, atau saat sebagian besar responden kami sedang berada di dusun kelapa untuk membuat kopra.

Namun, tantangan itu terbayarkan dengan pemandangan alam yang indah, kesempatan untuk berkunjung ke tempat-tempat yang baru, dan sambutan hangat masyarakat saat kami berada di kampung. Perjalanan kami di KKPD Kepulauan Kofiau-Boo telah berakhir, namun kami akan tetap mengingat alamnya dan keramahan masyarakat di setiap kampung.

Persiapan tim untuk berpindah kampung menggunakan perahu milik masyarakat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Terima kasih buat anak dorang karena sudah datang jauh-jauh untuk belajar dari torang. Semoga pekerjaan ini bisa bermanfaat untuk anak dorang masa depan,  juga untuk tong punya anak cucu yang akan jaga laut di Kofiau sini” (terima kasih karena anda telah datang untuk belajar dari kami. Semoga pekerjaan ini bermanfaat untuk masa depan anda, termasuk anak cucu kami yang akan menjaga laut Kofiau), kata seorang responden saat mengakhiri wawancara dengan kami.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Survei

Monitoring Sosial Masyarakat Tahun 2019 : Cerita Lapangan dari Kaimana, Selat Dampier dan Teluk Mayalibit

Monitoring Sosial Masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) tahun 2019 merupakan kegiatan penelitian yang secara rutin telah dilakukan oleh Universitas Papua (UNIPA) sejak tahun 2010. Pada tahun ini, survei lapangan dilakukan di tiga (3) lokasi yaitu KKP Selat Dampier dan KKP Teluk Mayalibit (Kabupaten Raja Ampat), serta KKP Kaimana (Kabupaten Kaimana). UNIPA bekerjasama dengan Blue Abadi Fund (BAF) dan RARE sebagai sponsor untuk pelaksanaan survei lapangan.

1 Tim UNIPA terdiri dari 4 orang koordinator lapangan dan 13 orang enumerator yang melakukan pengumpulan data sejak tanggal 3 Mei sampai dengan 18 Juni 2019. Pengumpulan data lapangan dilakukan melalui survei rumah tangga (Household Survey/HH), diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion/FGD) dan wawancara informan kunci (Key Informant Interview/KII). Total data yang dikumpulkan adalah 1.248 HH, 6 FGD, dan 8 KII (Tabel 1).

Tabel  Jumlah Data  Survei Tahun 2019

Tim UNIPA melakukan kunjungan ke 47 kampungdi tiga KKP. Terdapat 17 kampung survei di KKP Kaimana, yaitu: Murano, Marsi, Maimai, Lobo, Lumira, Kamaka,Namatota, Nariki, Boiya, Rurumo, Bamana,Siawatan, Nusaulan, Adijaya, Kambala, Yarona,dan Tanggaromi. Di KKP Selat Dampier, tim berkunjung ke 25 kampung, yaitu: Arefi Selatan, Arefi Timur, Yensawai Timur, Yensawai Barat,Amdui, Yenanas, Weiman, Kapatlab, Jefman Barat,Jefman Timur, Wailebet, Solol, Wamega, Arar,Yeflio, Urbinasopen, Mnier, Puper,Saonek, Sapokren, Yenbeser, Sawinggrai, Kurkapa, Sauandarek, dan Arborek.

Monitoring Sosial 2019 (1)
Monitoring Sosial 2019 (2)
Monitoring Sosial 2019 (4)

(Foto : Tim Monitoring Sosial)

Sementara di KKP Teluk Mayalibit, tim mendatangi kampungYensner, Mumes, Araway, Beo, dan Lopintol. Kampung-kampungini merupakan kampungyang termasuk dalam KKP maupun yangtelah ditetapkan sebagai kontrol dari KKP. Kerjasama, dukungan dan kepercayaan yang baik dari berbagai elemen (pemerintah kabupaten dan kampung, masyarakat kampung, serta BAF dan RARE sebagai sponsorutama) adalah kunci keberhasilan pelaksanaan kegiatan monitoring pada tahun ini di Bentang Laut Kepala Burung Papua. Dengan pengumpulan data yang baik dan berkesinambungan, diharapkan dapat tersedia informasi untuk penetapan dan pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan yangmemberikan manfaat baik secara ekologi (lingkungan) maupun kepada masyarakat yangberada di dalam dan sekitar KKP.

(Oleh : Marjan Bato, Joice  Pangulimang, Penina M. Maryen & Abidin P. Mayalibit)

Kategori
Monitoring Sosial Survei

Cerita Lapang Kegiatan Survei Sosial Masyarakat di Taman Nasional Teluk Cenderawasih Tahun 2017

Daerah Perlindungan Laut atau Marine Protected Area (MPA) adalah salah satu bentuk pengelolaan sumberdaya laut yang bertujuan untuk pengelolaan perikanan dan konservasi sumberdaya hayati secara berkelanjutan. Diharapkan bahwa dengan adanya MPA maka sumberdaya laut dapat terpelihara dengan baik. Namun, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana tingkat kesejahteraan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar wilayah tersebut? Apakah MPA memberikan dampak yang positif bagi peningkatan kesejahteraan mereka? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini maka Universitas Papua (UNIPA) telah bekerjasama dengan WWF US pada tahun 2010-2016, dan pada tahun 2017 ini UNIPA kembali bekerjasama dengan Blue Abadi Fund melalui Yayasan Keanekaragaman Hayati untuk melaksanakan kegiatan monitoring yang sama.

Monitoring sosial pada tahun 2010 sampai tahun 2016 dilakukan di 6 (enam) MPA yaitu Teluk Mayalibit, Selat Dampier, Kaimana, Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Kofiau dan Misool. Indicator penilaian yang digunakan dalam kegiatan survei ini meliputi tingkat pendidikan, ekonomi, kesehatan, pemberdayaan politik dan budaya masyarakat daerah pesisir. Pada tahun 2017 kembali dilakukan monitoring sosial di Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC)

Wawancara Oleh Tim BHS

Foto : Tim BHS Monitoring Sosial Unipa

Survei sosial ini berlangsung pada tanggal 16 November sampai dengan 21 Desember 2017 yang diikuti oleh 10 orang dari UNIPA, yang terdiri dari 2 orang koordinator lapangan dan 8 orang enumerator. Koordinator lapangan adalah staf dosen dari UNIPA sedangkan enumerator terdiri dari 1 orang mahasiswa dan 7 orang alumni. Ke-10 orang tersebut terbagi menjadi 2 tim, dimana masing-masing tim terdiri dari 5 orang. Tim pertama melakukan survei di Kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten Nabire. Mereka melakukan survei di kampung Saribi, Supmander, Masyara, Wansra, Rawar, Pakreki, Yembepon Yembeba, Napan Yaur, Goni, Bawei, Yeretuar, Napan, Weinami dan Masipawa. Sementara tim kedua melakukan survei di Kabupaten Wondama, tepatnya mereka mengunjungi kampung Dusner, Sasirei, Nanimori, Ambumi, Torey, Rasiei, Syeiwar, Yomber, Nordiwar, Waprak/Saref, Yomakan, Senebuay, Yariari, Iseren, Weititindau, Yembekiri I dan Yembekiri II.

Pengambilan data dilakukan menggunakan metode wawancara secara langsung terhadap responden. Tahap awal adalah tim mendata nama-nama kepala keluarga yang berada di kampung survei, kemudian tim melakukan sampling untuk menentukan responden terpilih.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, dapat dilihat bahwa sebagian besar masyarakat melakukan kegiatan melaut sebagai sumber pendapatan keluarga yang utama. Hal ini didukung oleh sumberdaya laut yang banyak di sekitar tempat tinggal mereka. Sedangkan sebagian masyarakat lainnya memilih bertani/berkebun, menjadi buruh bangunan, pegawai negeri sipil dan melakukan pekerjaan lain yang menghasilkan upah.

Masih kurangnya tenaga pengajar dan ahli kesehatan menjadi kendala di kampung-kampung survei. Semua kampung yang dikunjungi telah memiliki bangunan sekolah (sekolah dasar), namun jumlah tenaga pengajar masih kurang. Demikian halnya dibidang kesehatan. Terdapat PUSTU dan puskesmas yang dibangun oleh pemerintah di kampung-kampung tersebut. Namun beberapa pustu tidak memiliki tenaga medis dan beberapa puskesmas tidak memiliki dokter. Keterbatasan obat juga masih menjadi kendala. Akibatnya, masyarakat merasa kesulitan untuk berobat, terutama yang berada di kampung Goni, Napan Yaur dan Bawei karena letak geografis serta akses ke kota Nabire yang masih terbatas.

Hal lainnya adalah, masyarakat dapat menyebutkan atau menjelaskan factor-faktor yang menjadi ancaman terhadap laut mereka serta tindakan-tindakan yang perlu diambil untuk mengurangi dampak kerusakan laut.

(Oleh : Joice Pangulimang )

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Survei

Survei Sosial Masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan Teluk Mayalibit

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Papua (LPPM UNIPA) bekerja sama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI), RARE, dan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Kabupaten Raja Ampat telah melakukan survei sosial masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan Teluk Mayalibit (KKP Telma), Raja Ampat. Kampung-kampung yang disurvei yaitu kampung Warsamdin, Yensner, Mumes, Lopintol, Kalitoko, Arawai, Beo, Kabilol, Go, Waifoi, Wairemak, Wagelas, dan tiga kampung yang berada di luar KKP Telma yaitu Kabui, Wauyai, dan Kapadiri sebagai daerah kontrol. Total kepala keluarga yang disurvei berjumlah 406 KK. Kegiatan survei sosial masyarakat di KKP Telma sebelumnya telah dilakukan pada tahun 2010, 2012, 2014 dan dilakukan pada tahun 2017. Survei ini kemudian akan dilakukan pada tahun-tahun selanjutnya untuk melihat dampak kawasan konservasi terhadap sosial ekonomi masyarakat di Bentang Laut Kepala Burung khususnya pada lingkup masyarakat yang berada di Teluk Mayalibit.

Pelaksanaan kegiatan survei sosial masyarakat berlangsung pada tanggal 10 Oktober – 31 November 2017. Tim survei terdiri dari mahasiswa, alumni, assisten dosen, dan dosen UNIPA yang telah mengikuti pelatihan pengambilan data. Survei yang dilakukan berupa wawancara terstruktur terhadap kepala keluarga yang dilakukan oleh 8 orang enumerator dan 2 orang assisten koordinator lapangan (mahasiswa, alumni, dan assisten dosen UNIPA) dengan menggunakan kuisioner yang telah disiapkan. Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) terhadap kumpulan masyarakat dilakukan oleh 2 orang supervisi/koordinator lapangan (dosen UNIPA)

Wawancara di Salah satu rumah tangga di Teluk Mayalibit

Foto : Tim BHS Monitoring Sosial Unipa

Kuisioner yang telah disiapkan berisi sejumlah pertanyaan terkait karaketeristik rumahtangga, kegiatan mencari ikan, keadaan ekonomi keluarga, kesehatan, kondisi ketahanan pangan, pemberdayaan politik, organisasi kemasyarakatan, pendidikan, dan budaya. Sementara FGD yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui tingkat kepatuhan masyarakat terhadap aturan- aturan KKP. Tindak lanjut dari proses FGD yaitu dilakukan wawancara kepada informan kunci atau key informant (KII). Seseorang yang dipilih sebagai KII merupakan seseorang yang dianggap mengetahui asal usul pembentukan KKP Telma dan aturan-aturannya. Data yang telah dikumpulkan di lapangan akan diolah dan dianalisis lebih lanjut untuk dapat melihat dampak keseluruhan dari keberadaan KKP.

Pengambilan data lapangan oleh tim survei telah berhasil dilaksanakan dan telah masuk pada tahap penginputan dan pembersihan data, yang selanjutnya akan dilakukan analisis data dan penjabaran hasil survei. Secara keseluruhan kampung yang telah ditargetkan untuk kegiatan survei sosial masyarakat telah tercapai, namun terdapat beberapa kendala berupa posisi geografis setiap kampung yang dipisahkan oleh laut, sehingga memerlukan biaya transportasi yang tinggi serta terdapat satu kampung target survei yang harus melewati gunung (Kampung Go ke Kampung Kapadiri) sehingga tim harus bekerja lebih keras untuk berpindah kampung. Kendala lainnya yang ditemui di lapangan yaitu terdapat satu kampung yaitu Kampung Wauyai yang sebagian masyarakatnya tidak berada di kampung (kegiatan luar kampung). Kegiatan survei sosial masyarakat di KKP TELMA akan terus dilakukan di tahun-tahun selanjutnya agar data yang dikumpulkan dapat mengambarkan dan menjelaskan keefektifan dari keberadaan kawasan konservasi perairan terhadap masyarakat. Harapan dari keberhasilan kegiatan survei ini yaitu adanya pengelolaan yang baik dan berkelanjutan bagi kawasan serta masyarakat Teluk Mayalibit.

(Oleh: Irman Rumengan )

Berita Lainnya

3. Wawancara HH

Dahlia G.R Menufandu – Juni 25, 2019

Tim BHS MPA Unipa 2015

Ari M. Mahoklory dan Nova Mandatjan – Juni 25, 2019

Monitoring Sosial 2019 (1)

Marjan Bato, Joice  Pangulimang, Penina M. Maryen & Abidin P. Mayalibit – Juni 25, 2019