Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Rumah Belajar Abun: Merajut Impian Melalui Komputer dan Bahasa Inggris

Rumah Belajar Abun: Merajut Impian Melalui Komputer dan Bahasa Inggris

Penulis

Aflia Pongbatu, Kartika Zohar

Tanggal

25 Agustus 2023

Rumah Belajar Abun adalah mimpi indah yang menjadi kenyataan bagi anak-anak di kawasan Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Di bawah naungan Sains untuk Konservasi dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua, program pendidikan informal ini bertujuan memberikan manfaat berharga bagi anak-anak usia Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) di lima kampung yang beruntung berada dekat pantai peneluran Penyu Belimbing.

Inilah kehebatan Rumah Belajar Abun: menawarkan pelajaran yang tak hanya berkutat pada literasi dan lingkungan hidup, namun juga membuka pintu dunia teknologi dan Bahasa Inggris bagi anak-anak. Bagaimana tidak, di sana mereka belajar mengenal komputer sejak dini! Ide menarik ini muncul dari para orang tua di Kampung Resye yang memahami betapa pentingnya penguasaan teknologi di era modern. Dengan semangat tak kenal lelah, mereka berusaha memastikan anak-anak mereka memiliki kesempatan yang sama untuk bermain dengan komputer dan merajut impian masa depan yang gemilang.

Pembelajaran Comeng di Rumah Belajar Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Belajar Comeng di Rumah Belajar Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Meskipun dana terbatas sempat menjadi rintangan, semangat tak pernah padam. Berkat dukungan dari Seacology, Rumah Belajar Abun di Kampung Resye dan Womom kini dilengkapi dengan tiga unit laptop dan satu unit infokus untuk pembelajaran komputer. Ini adalah awal dari perubahan yang luar biasa. Namun, bukan hanya dua kampung ini yang mendambakan keajaiban teknologi, Kampung Wau-Weyaf dan Syukwo juga turut berharap anak-anak mereka mendapatkan kesempatan serupa. Berkat dukungan dari International Seafood Sustainability Foundation (ISSF) dan Blue Abadi Fund (BAF), mimpi itu menjadi nyata! Dua unit komputer tambahan berhasil dihadirkan untuk RB Wau-Weyaf dan RB Syukwo, mengantar para anak menuju masa depan yang penuh harapan. Namun angka ini tentu belum dapat mengimbangi jumlah anak rumah belajar yang mencapai 120-an anak.

Belajar Comeng di Rumah Belajar Syukwo
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tak pelak, semangat belajar anak-anak kian berkobar. Di antara keterbatasan perangkat dan pasokan listrik yang terbatas, mereka tetap semangat mengikuti pelajaran komputer dan Bahasa Inggris. Pembelajaran komputer dimulai dari yang paling dasar, dari cara menghidupkan dan mematikan komputer, hingga memahami perangkat keras dan pengoperasian Microsoft Office. Sedangkan pembelajaran Bahasa Inggris tak kalah seru! Dalam rangkaian 12 sub indikator, mereka diajarkan segala hal, mulai dari alfabet hingga operasi matematika. Pada tahun 2023, muncul ide untuk menggabungkan kedua pembelajaran ini menjadi satu, dengan nama Computer & English (COMENG), untuk mengatasi keterbatasan waktu pembelajaran yang terbatas. Walaupun jadwal kadang berliku, semangat mereka tetap tak tergoyahkan.

Rumah Belajar Abun adalah cerita keberanian dan keteguhan hati. Para pendamping masyarakat tak pernah berhenti memberikan yang terbaik bagi anak-anak. Mereka memberikan pengajaran intensif dan bahkan turut mendukung penyediaan listrik di kampung dengan membayar iuran agar genset kampung dapat beroperasi. Ketika cuaca cerah menyinari kampung, mereka dengan cerdik memanfaatkannya untuk mengisi daya baterai. Saat mendengar genset warga beroperasi pada malam hari, mereka tak segan-segan untuk menumpang mengisi daya laptop demi membuka jendela masa depan anak-anak.

Tentu, perjuangan ini belum berakhir. Rumah Belajar Abun membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, lembaga, dan organisasi untuk terus menerus memberikan dedikasi terbaik bagi anak-anak di Kawasan Pesisir Jeen Womom. Mari bersama-sama mencerdaskan generasi penerus bangsa. Mari menciptakan dunia di mana setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan mewujudkan impian mereka. Jika kita bergandengan tangan, kita pasti bisa mencapainya!”

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Kisah Pengajar dari Rumah Belajar Abun: Belajar untuk Mengajar tentang Penyu

Kisah Pengajar dari Rumah Belajar Abun: Belajar untuk Mengajar tentang Penyu

Penulis

Evanora Awom, Alfin Sraun

Tanggal

09 Agustus 2023

Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) merupakan materi yang wajib diajarkan di Rumah Belajar Abun. Salah satunya adalah pengenalan mengenai penyu dengan beberapa sub indikator pembelajaran yang memerlukan pengamatan secara langsung di pantai peneluran. Untuk memperlengkapi kami sebagai tim Pendamping Masyarakat (PM) Womom yang akan mengajar PLH, maka kami diberi kesempatan untuk belajar secara langsung tentang penyu di Pantai Peneluran Penyu Belimbing

Alfin (kiri) seorang Sarjana Peternakan mengajar PLH di Rumah Belajar sejak 2021 dan Evanora (sisi kanan) seorang Sarjana Manajemen Keuangan mengajar PLH sejak Mei 2023. Sebelum melakukan tugas sebagai PM, mereka telah dibekali dengan pengetahuan terkait penyu dan upaya konservasi yang dilakukan. Seiring berjalannya waktu saat mereka mengajar PLH, ternyata teori yang mereka dapatkan belum secara maksimal membantu untuk mengajar tentang PLH kepada anak-anak. Mereka masih kesulitan untuk bercerita bagaimana upaya perlindungan penyu dari panas, dan ancaman predator karena mereka belum melihatnya secara langsung.

Berdasarkan hasil koordinasi yang dilakukan, kami diarahkan untuk melengkapi form Rencana Perjalanan ke Pantai Pasir Panjang atau Pantai Peneluran penyu. Harapannya ketika kami melihat dan belajar secara langsung dapat menambah pengetahuan serta memberikan insight yang baru dalam memberikan materi terkait PLH Penyu. Pada hari kamis tanggal 27 Juli 2023 kami melakukan perjalanan dengan berjalan kaki dari kampung Womom ke Pantai Peneluran yang terdekat, yaitu Pantai Wembrak dengan waktu tempuh sekitar satu jam perjalanan. Walaupun lokasi Pantai ini tergolong cukup dekat, namun perbatasan antara kampung dan pantai sangat terjal, terdapat sebuah gunung yang cukup membuat kami kehabisan nafas. Ketika kami selesai mendaki ke gunung tersebut, kami akan menghela nafas dan berkata “Ado Mama!” saking beratnya mendaki. Itu sebabnya gunung itu diberi nama gunung Ado Mama.

Adapun kegiatan yang kami lakukan selama berada di Pantai Peneluran (wembrak) yaitu: Doom sarang, protect sarang, monitoring malam, evaluasi sarang dan melakukan Pengukuran suhu cocomesh.

Doom sarang merupakan proses pemindahan telur dari batas air pasang ke darat. Adapun proses awal adalah mencari letak telur Penyu dengan cara menusuk sarang menggunakan besi. Proses penusukan atau pencarian letak telur biasanya dilakukan oleh orang yang berpengalaman (ahli) untuk meminimalisir kerusakan telur penyu. Setelah menemukan telur, selanjutnya dilakukan penggalian sarang dan pengukuran kedalaman sarang, telur kemudian diangkat, dipisahkan dan dihitung berdasarkan jenis normal dan abnormal.  Telur yang sudah dihitung dimasukkan atau dipindahkan ke dalam sarang baru yang sudah dibuat. Kedalaman sarang baru yang dibuat biasanya berukuran 70 cm hingga 75 cm karena jika ukuran yang dibuat lebih dalam biasanya tukik tidak dapat keluar dari sarang.

Proses pengambilan telur dari sarang untuk diangkat, dipisahkan dan dihitung berdasarkan telur yang normal dan abnormal
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Proses Doom sarang telur Penyu untuk memindahkan telur dari batas air pasang ke darat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pada hari yang sama kami juga ikut serta melakukan proses Protect sarangProtect sarang merupakan proses melindungi telur dari sinar matahari ataupun hewan predator. Bahan Protect yang digunakan biasanya adalah kayu, daun kelapa dan daun palem atau yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan daun pakis. Tata cara Protect sendiri yaitu kayu ditanam pada pasir sekuat mungkin membentuk lingkaran serta diberikan celah atau pintu sebagai jalan keluar bagi tukik (anak penyu).

Tidak hanya protect sarang, salah satu hal yang penting dilakukan yaitu Melakukan monitoring malam, berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan kami selama 2 hari, Proses monitoring malam biasanya dilakukan pukul 21.00 WIT hingga pukul 04.00 WIT. Namun waktu mulai patroli dan waktu patroli berakhir biasanya patroller (orang yang melakukan monitoring) sesuaikan dgn aktivitas penyu malam sebelumnya. Misalnya kalau malam sebelumnya penyu naik pada pukul 8, berarti mereka mulai lebih awal dan mungkin pukul 3 sudah sepi dan mereka istirahat. Atau sebaliknya kalau penyu naik agak telat pada pukul 12, mereka bisa mulai patroli malam pukul 12 lalu patroli sampai subuh dan lanjut lindungi sarang. Monitoring malam dilakukan untuk mengetahui jumlah penyu yang naik untuk bertelur di Pantai peneluran. Penyu yang naik biasanya discan untuk mengetahui apakah penyu tersebut sudah pernah bertelur di pantai peneluran atau belum, jika belum patroller akan melakukan pengukuran karapas penyu dengan cara berdiri diantara karapas dan fliper dengan tujuan agar tidak terkena fliper penyu. Kami sendiri tidak sempat melakukan proses Pengukuran, scan dan pitag hanya mengamati dan mendengarkan penjelasan langsung dari patroller.

Proses penggalian sarang telur Penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Proses protect sarang telur Penyu menggunakan daun kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pada tanggal 28 Juli 2023 kami ikut serta dalam proses Evaluasi sarang. Proses Evaluasi sarang adalah proses pengecekan telur yang menetas menjadi tukik dan juga bertujuan untuk membantu mengeluarkan tukik dari sarang. Proses ini biasanya dilakukan pada sarang telur yang telah berumur kurang lebih 2 bulan 2 minggu (74 hari). Pada saat proses evaluasi dilakukan teman-teman patroller dan kami mendapati beberapa telur yang tidak menetas dikarenakan terkena akar petatas pantai, ada juga telur yang tidak dapat menetas karena pasir yang panas dan di temukan tukik yang mati karena tidak dapat keluar dari sarang.

Selain kegiatan Doom sarang, protect sarang, monitoring malam serta Evaluasi sarang, kami juga ikut melakukan pengukuran suhu pada sarang Penelitian cocomesh. pengukuran suhu ini dilakukan sebanyak 3 kali dalam sehari. Masing- masing pada pukul 05.00 WIT hingga 06.00 WIT (pagi); 14.00 hingga 15.00 WIT (siang) serta 20.00 hingga 21.00 WIT (malam). Cocomesh yang merupakan turunan dari pemanfaat kelapa, dibuat untuk melindungi sarang penyu dengan tujuan mengurangi pemakaian daun Pakis. Efektivitas penggunakan cocomesh untuk melindungi sarang penyu masih dalam tahap penelitian. Setelah melakukan proses pengamatan selama dua hari, pada tanggal 29 Juli 2023 kami melakukan perjalanan kembali ke Rumah Belajar Womom. Dalam perjalanan kembali ke kampung, kami berkesempatan melepas sebanyak 3 tukik dari sarang relokasi ke pantai.

Penggunaan cocomesh untuk melindungi sarang telur Penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pengukuran suhu pada sarang telur Penyu yang menggunakan cocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Perjalanan ini memberikan beberapa pengetahuan baru bagi kami yang akan mengajar PLH Penyu kepada anak-anak di kampung. Pengetahuan ini meningkatkan kepercayaan diri kami untuk dapat mengajar PLH Penyu dengan lebih baik kepada anak-anak di Rumah Belajar.

Proses evaluasi sarang telur Penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Telur Penyu yang rusak karena suhu pasir yang terlalu panas
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Pendidikan Dasar Calistung sebagai salah satu dukungan kepada anak-anak di wilayah Konservasi Penyu Taman Pesisir Jeen Womom

Pendidikan Dasar Calistung sebagai salah satu dukungan kepada anak-anak di wilayah Konservasi Penyu Taman Pesisir Jeen Womom

Penulis

Alberto Y. T. Allo, Kartika Zohar

Tanggal

31 Juli 2023

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua, melalui Program Sains untuk Konservasi secara konsisten sejak tahun 2013 melakukan Pendidikan informal bagi anak-anak usia sekolah dasar yang berada di lima kampung di Distrik Abun dan Distrik Tobouw Kabupaten Tambrauw dalam bidang pendidikan dasar baca-tulis-hitung (Calistung)

Adapun lima kampung tersebut adalah kampung Resye, Womom, dan Syukwo yang memiliki masing-masing satu Rumah Belajar (RB), Adapun namanya sesuai dengan nama kampung lokasi dimana RB tersebut berada. Sedangkan Kampung Wau dan Weyaf digabung dalam satu RB Wau-Weyaf. Kelima kampung ini terletak dekat dengan Kawasan Konservasi Taman Pesisir Jeen Womom, sebuah kawasan pantai peneluran terbesar bagi penyu belimbing (Dermochelys coriacea) di Kepala Burung Papua.

Aktifitas Anak-anak Belajar Baca pada RB Wau-Weyaf.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Sejak awal tahun ini hingga akhir Juli, kegiatan pembelajaran kepada anak-anak yang berusia Sekolah Dasar (SD) di lokasi ini dilakukan oleh tenaga pendamping masyarakat dan narahubung (PMNH) yang merupakan guru di Rumah Belajar dan juga sebagai fasilitator lapang.

Aktifitas Anak-anak Belajar Baca pada RB Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Anak-anak datang ke rumah belajar setelah selesai pembelajaran di sekolah atau pada sore hari. Bagian pendidikan dasar yang diajarkan di RB yaitu literasi dasar berupa baca, tulis, dan hitung (calistung). Pembelajaran Calistung yang kami laksanakan di RB berbeda dengan di SD. Di RB pembelajaran informal yang lebih mengutamakan bagaimana menumbuh kembangkan minat dan kemauan anak belajar, memberikan kebebasan kepada anak dalam belajar, PMNH memosisikan diri sebagai teman belajar dan mengajak anak dengan bermain sambil belajar agar dapat menyukai pelajaran yang diajarkan melalui permainan yang menyenangkan serta didukung dengan media-media permainan yang tersedia RB seperti permainan huruf dan angka, poster angka dan huruf, dan mainan lain yang dapat membuat anak senang datang belajar.

Aktifitas Anak-anak Belajar Hitung pada RB Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Aktifitas Anak-anak Belajar Tulis pada RB Syukwo.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Berdasarkan data kehadiran sejak Februari hingga Juni 2023 sebanyak 95 anak, terdiri dari laki-laki sebanyak 60 anak dan perempuan sebanyak 35 anak yang tercatat mengikuti pembelajaran literasi dasar di RB. Pelaksanaan pembelajaran membaca, berhitung, dan menulis yang diajarkan kepada anak-anak di RB selalu mengacu pada sub indikator pembelajaran yang telah disusun. Sub indikator ini membantu para PMNH untuk dapat mengajar dan memperoleh informasi kemampuan para peserta di RB.

Adapun sub indikator yang diajar pada pembelajaran membaca, berhitung, dan menulis adalah sebagai berikut:

Sub Indikator Menulis

Sub Indikator Membaca

Sub Indikator Menghitung

Pendidikan dasar calistung ini merupakan bagian dari Upaya konservasi penyu yang dilakukan di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Anak-anak yang diajar merupakan generasi pelanjut dimasa depan yang memperoleh manfaat secara langsung dengan mendapat pembelajaran tambahan yang dapat digunakan dalam pendidikan dasar dan pendidikan lanjut anak nantinya.

Bagaimana hasil pembelajaran anak-anak ini? Tunggu pada tulisan selanjutnya ya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Cerita Pendamping Masyarakat dari Kampung Womom: Sukacita dan Tantangan Melayani di Bidang Pendidikan

Cerita Pendamping Masyarakat dari Kampung Womom: Sukacita dan Tantangan Melayani di Bidang Pendidikan

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Penulis

Armandho Rumpaidus

Tanggal

23 Desember 2022

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Suara unggas mulai melantun, udara pagi hari yang dingin begitu menusuk hingga ke tulang. Namun bersama dengan hadirnya mentari, pertanda hari ‘kan segera dimulai. Saling membangunkan antara guru dan murid adalah rutinitas setiap hari sekolah, saling mengecek apakah semua sudah mandi dan mengenakan seragam sesuai hari penggunaannya menjadi hal wajib.

Inilah kisah saya sebagai PMNH (Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program) bersama anak-anak di Kampung Womom, Distrik Tobouw, Kabupaten Tambrauw. Saat hari sekolah, saling membangunkan dan mengecek apakah para murid yang tinggal di Kampung Womom sudah mandi pagi serta menggunakan seragam hingga saling menunggu untuk berangkat ke sekolah menjadi rutinitas kami.

Foto Bersama Anak-anak SD dari Kampung Womom
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Foto di Depan Papan Nama Kampung Womom Distrik Tobouw
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Perjalanan ke sekolah biasanya kami tempuh dalam waktu 15-20 menit dari Kampung Womom hingga tiba di halaman sekolah. Jam 07.00 WIT merupakan waktu dimana kami akan mulai berjalan dari Kampung Womom ke Kampung Resye, jarak tempuh sekitar 600-700 meter. SD terdekat dari Kampung Womom hanya ada di Kampung Resye. Perjalanan ke sekolah hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki melewati pantai. Jangan harap anak-anak murid mau pakai sepatu saat berjalan ke sekolah, medan yang kami lewati membuat sepatu hanya akan digunakan saat kami tiba di Kampung Resye.

Ketika berjalan kaki ke sekolah bersama para murid, alangkah bahagianya kami jika air sedang meti (air laut surut). Berjalan melewati pasir pantai akan terasa begitu santai dan bebas untuk bercerita, kadang juga kami akan bernyanyi lagu yang kami tau. Atau sekedar saling bertukar dan belajar kosakata dalam bahasa daerah kami masing-masing (Bahasa Biak dan Abun), bahkan bercerita tentang harapan dan cita-cita mereka di masa depan. Tetapi situasi akan sangat menegangkan apabila di pagi hari air sedang naik (air laut pasang), drama hitung-menghitung ombak serta lari-larian demi menghindari terjangan ombak akan terjadi selama perjalanan ke sekolah. Jika sebelumnya pada malam hari turun hujan lebat, maka di pagi hari kami harus melewati 2 muara kali yang meluap ke laut. Jika intensitas air kali deras dan dalam, maka menggendong anak murid melewati kali tentu harus dilakukan. Itulah kisah paling seru. Semua demi pendidikan.

Andarias N. Yesawen Belajar Komputer di Rumah Belajar
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Hermina)

Kegiatan Belajar mengajar Komputer di Rumah Belajar
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Anak-anak Kampung Womom yang bersekolah di SD YPK Lahai-Roi Saubeba berjumlah 3 orang, yakni Beren Yekwam (kelas 6), Andarias Novaldo Yesawen (kelas 3) dan Piter Yekwam (kelas 3). Saya bersama rekan PMNH, Hermina G. Langoday, yang bertugas di Kampung Womom bergantian mengajar di sekolah setiap 2 hari sekali. Oleh karena itu, saya mendapatkan jatah 3 hari dalam seminggu mengajar di sekolah.

Inilah kisah saya sebagai PMNH di Kampung Womom selama bulan April-Oktober. Tantangan ke sekolah memang berat. Tetapi semua demi pendidikan, karena buahnya pasti manis.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Kemampuan Belajar Anak Secara Umum di Rumah Belajar Konservasi Penyu

Kemampuan Belajar Anak Secara Umum di Rumah Belajar Konservasi Penyu

Penulis

Alberto Y. T. Allo

Tanggal

20 Desember 2022

Apa Saja Kegiatan di Rumah Belajar Kami?

Program Pemberdayaan Masyarakat pada bidang pendidikan terus berlanjut, pada tahun 2022 periode I dilaksanakan selama bulan April-September 2022. Program Pemberdayaan Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat-Universitas Papua (LPPM – UNIPA) menugaskan empat tim pendamping masyarakat dan narahubung program (disingkat ‘PMNH’) untuk mendukung program konservasi penyu belimbing di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Bentuk dukungan memberi manfaat bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi dengan meningkatkan kapasitas pendidikan anak-anak.

Di bidang pendidikan, ada dua program utama yaitu mendukung program pendidikan formal (PMNH membantu mengajar di Sekolah Dasar) dan program pendidikan informal (PMNH mengajar di rumah belajar). Pada tulisan ini yang akan kita bahas tentang program pendidikan Informal di rumah belajar. Rumah belajar adalah sebuah rumah tempat anak-anak di kampung datang belajar pada sore hari dan rumah tersebut juga sebagai rumah tempat tinggal para PMNH di lapang. Pendidik atau guru di rumah belajar adalah PMNH. Mereka adalah alumni minimal D3 yang direkrut dan diberikan pelatihan sebelum melaksanakan tugasnya pada masing-masing rumah belajar.

Pembelajaran Berhitung
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yana Rumbrawer)

Kegiatan Belajar Mengajar PLH di Kampung Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pada tahun 2021 intervensi pendidikan yang diberikan masih terbatas pada 3 lokasi rumah belajar dan pelajaran yang dievaluasi pada 5 bidang pelajaran (Baca, Tulis, Hitung, Bahasa Inggris, dan Pendidikan Lingkungan Hidup) dan 1 bidang pelajaran masih diajarkan secara terbatas hanya di Rumah Belajar Resye yaitu pembelajaran komputer dasar.

Sedangkan pada tahun 2022, rumah belajar sudah berada di 4 lokasi yaitu Rumah Belajar Kampung Wau-Weyaf, Rumah Belajar Kampung Syukwo, Rumah Belajar Kampung Womom, dan Rumah Belajar Kampung Resye. Di tahun ini pembelajaran yang diberikan kepada anak di semua rumah belajar sebanyak 6 pelajaran, dimana pelajaran Komputer Dasar menjadi pelajaran baru bagi beberapa rumah belajar.

Kegiatan lain di rumah belajar yang dilaksanakan tetapi tidak diambil nilai evaluasinya yaitu kegiatan perpustakaan keliling (meningkatkan literasi baca anak melalui buku cerita dan dongeng); kegiatan kebersihan pribadi (cuci tangan pakai sabun dan sikat gigi yang benar); dan kegiatan Apotek hidup (Mengajarkan cara menanam tanaman obat di pekarangan rumah).

Seperti Apa Kemampuan Anak di Rumah Belajar?

Seperti apa kemampuan anak secara umum di masing-masing rumah belajar? Berikut kami buat kompulasi cerita perwakilan beberapa anak yang disampaikan secara langsung oleh PMNH yang mengajar di sana selama 5 bulan.

Namanya Kundrat. Ia adalah salah satu anak dari Rumah Belajar Resye. Pada awal bulan April 2022, Kundrat Yesnath bersekolah di kelas 4 SD YPK Lachai-Roy Resye. Pada bulan April, PMNH bertanya apakah Kundrat pernah melihat komputer atau laptop, ia menjawab pernah melihat fotonya dari telepon selular (handphone) tetapi belum pernah memegang langsung atau mengoperasikannya. Sebelum pembelajaran Komputer Dasar dilakukan test kemampuan pengoperasian komputer dasar, ia memperoleh nilai kemampuan 37.5% (berada dalam kategori Tidak Bisa (TB)). Artinya Kundrat belum bisa mengoperasikan komputer. Walaupun demikian, Kundrat sangat rajin mengikuti Pembelajaran Komputer Dasar. Dalam pembelajaran, setiap anak diberikan kesempatan untuk langsung praktik menggunakan komputer/laptop. Kundrat mampu mengikuti semua pembelajaran dengan baik. Dan pada evaluasi akhir di bulan September 2022, Kundrat memperoleh kemampuan 100% dalam kategori Bisa (B) dari semua sub indikator yang diajarkan. Kundrat sudah dapat mengoperasikan komputer dengan  sangat baik. Misalnya menyalakan dan mematikan komputer, menyebutkan dan membedakan perangkat keras komputer yang satu dengan yang lain. Selain itu dapat membuka dan menutup MS.Word, MS.Excel dan MS.Power Point dan juga dapat menyimpan file (save as) yang telah dikerjakan (mengetik, memasukan foto, gambat, video dan audio).

Lain lagi cerita dari Aldo. Ia bersekolah di sekolah yang sama dengan Kundrat, ia duduk di bangku kelas 3 SD. Andarias Novaldo Yesawen, atau biasa dipanggil Aldo, tinggal di Kampung Womom. Kampung ini bersebelahan dengan kampung tempat Kundrat tinggal. Pada evaluasi pembelajaran sebelum periode dimulai, kemampuan Aldo berada pada angka 25% dalam kategori Tidak Bisa (TB). Secara spesifik Aldo belum punya pengetahuan dasar Bahasa Inggris mengenai huruf, abjad, nama hewan, makanan, warna, salam, nama hari, waktu, serta benda-benda di sekitar rumah dan sekolah. Setelah diajarkan kurang lebih 5 bulan, nilai evaluasi akhir Aldo meningkat menjadi 75% dalam kategori Bisa (B).  Artinya Aldo sudah bisa menyebutkan huruf, abjad, salam, nama hewan (yang ada di kampung), nama hari dalam Bahasa Inggris.

Dari Rumah Belajar Syukwo, kami mengenal Sance. Sance Dorce Yesnath berada di kelas 6 SD Negeri Warmandi. Dalam kemampuan awal berhitung Sance Yesnath berada pada 21.05% dalam kategori Tidak Bisa (TB). Artinya bahwa ada beberapa Sub Indikator yang Sance belum mengerti pada awal pertemuan, diantaranya masih kesulitan dalam mengenal angka ratusan ribu dan angka jutaan. Karena semangat belajar yang tinggi dari Sance dan diajarkan berulang-ulang, Sance dapat mengerti dengan cukup baik angka ratusan ribu dan angka jutaan. Sance memperoleh evaluasi 100% dalam kategori Bisa (B). Artinya Sance sudah bisa melakukan operasi penjumlahan, pengurangan, pembagian dan perkalian menggunakan angka pecahan campuran berdasarkan sub indikator yang diajarkan.

Dari Rumah Belajar Wau-Weyaf, Yohanis Jokser memiliki kemampuan membaca yang sangat menonjol. Saat April 2022, Yohanis Jokser berada di kelas 4 SD Inpres 36 Wau. Kemampuan awal membaca Yohanis berada pada 28.57% dalam kategori Tidak Bisa (TB). Artinya bahwa ada beberapa Sub Indikator yang Yohanis belum mengerti pada awal pertemuan, diantaranya mengeja ketika mendapatkan kalimat yang sulit, namun masih belum bisa dalam penggunaan tanda baca dan menggunakan intonasi yang tepat sesuai tanda baca. Setelah belajar membaca di selama kurang lebih 5 bulan, dengan giat dan rajin Yohanis datang belajar membaca sehingga diperoleh evaluasi akhir 100% dalam kategori Bisa (B). Artinya Yohanis sudah bisa membaca tanpa dengan mengeja dan membaca menggunakan tanda baca.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Bagaimana kemampuan membaca para siswa di Rumah Belajar UNIPA pada Periode April – September tahun 2022?

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Bagaimana kemampuan membaca para siswa di Rumah Belajar UNIPA pada Periode April – September tahun 2022?

Penulis

Kartika Widya Zohar dan Aflia Pongbatu

Tanggal

6 Desember 2022

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Buku adalah jendela untuk melihat dunia. Salah satu cara membuka jendela dunia tersebut adalah dengan membaca. Kemampuan membaca sangat penting untuk kehidupan sehari-hari bagi seorang individu. Berdasarkan pemahaman ini, pembelajaran membaca telah menjadi bagian yang diajarkan pada kegiatan belajar mengajar informal yang dilakukan di Rumah Belajar UNIPA yang terletak di Distrik Abun dan Distrik Tobouw Kabupaten Tambrauw.

Program Sains untuk Konservasi Lembaga Penelitian Universitas Papua secara konsisten telah berkomitmen untuk memajukan Pendidikan bagi anak-anak usia sekolah dengan menyediakan fasilitas Rumah Belajar sejak tahun 2013 lalu. Pada tahun 2022 ini terdapat 4 fasilitas rumah belajar yang melayani total 5 kampung yaitu Kampung Wau, Weyaf, Syukwo (Warmandi), Womom, dan Resye (Saubeba).

Berdasarkan data dari lapangan, terdapat total 117 anak yang terdata telah mengikuti pembelajaran membaca pada 4 lokasi Rumah Belajar. Anak-anak ini diajar oleh 2-3 orang tenaga pendamping masyarakat yang bertugas pada setiap lokasi Rumah Belajar.

Kegiatan Membaca di RB. Wau-Weyaf
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan Membaca di RB. Womom
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Pada kemampuan membaca terdapat 14 Sub Indikator yang disusun untuk membantu proses pembelajaran. 14 Sub indikator ini kemudian akan dinilai dengan 3 kategori yaitu:

  • BISA (ditunjukan dengan kemampuan peserta didik dengan benar (80-100%) melakukan/menunjukan sub indikator penilaian diujikan.
  • KURANG BISA (ditunjukan dengan kemampuan peserta didik dengan kurang benar (50 – 79%) melakukan/menunjukan sub indikator penilaian yang diujikan.
  • TIDAK BISA (ditunjukan dengan kemampuan peserta didik tidak dapat melakukan (0-49%) melakukan/menunjukan sub indikator penilaian yang diujikan.

Pada periode April – September 2022 ini kami mendata berapa jumlah rata-rata siswa yang berada pada kategori BISA untuk setiap sub indikator pembelajaran yang diberikan. Berdasarkan data tersebut kami memperoleh data bahwa sub indikator yang paling mudah yaitu sub indikator B1 (menyebut abjad secara berurutan A-Z) terdapat total rata-rata 41 orang anak yang berada di kategori BISA. Jumlah ini sekitar 35,04% dari total anak yang datang ke Rumah Belajar. Sedangkan pada sub indikator yang paling sulit yaitu sub indikator B14 (menyebutkan dengan benar setiap kalimat dalam sebuah paragraf menggunakan tanda baca dengan benar – intonasi, tanda baca dapat terdengar/diketahui) terdapat total rata-rata 3 orang anak yang berada pada kategori BISA, jumlah ini hanya 2,56% dari total anak yang datang ke rumah belajar.

Kemampuan membaca peserta didik dapat meningkat apabila di tahun berikutnya para siswa dapat lebih giat lagi datang belajar membaca pada fasilitas Rumah Belajar yang telah disediakan. Kehadiran di Rumah Belajar masih menjadi salah satu tantangan bagi para peserta didik untuk meningkatkan kemampuan membacanya. Kabar baiknya, kami melihat perkembangan dari 2-3 orang peserta didik yang belum dapat membaca sama sekali, tetapi mereka telah dapat mengenal huruf dan mengeja perlahan setelah tekun belajar di Rumah Belajar. Kami berharap di masa depan akan ada lebih banyak peserta didik yang meningkat kemampuan membacanya dengan fasilitas Rumah Belajar UNIPA yang berada di kampung-kampung ini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Menjembatani jurang digital, UNIPA mengenalkan komputer untuk anak-anak di TP Jeen Womom

Menjembatani jurang digital, UNIPA mengenalkan komputer untuk anak-anak di TP Jeen Womom

Penulis

Alberto Yonathan Tangke Allo, Kartika Widya Zohar

Tanggal

22 Agustus 2022

Mungkin sebagian besar dari kita tidak bisa lepas dari laptop/komputer dalam aktivitas sehari-hari. Namun faktanya, akses terhadap laptop/komputer tidak bisa dinikmati semua masyarakat kampung tempat kami melakukan kegiatan Pemberdayaan Masyarakat di TP Jeen Womom. Menjembatani jurang digital sangatlah penting, mengingat bahwa memastikan kesetaraan akses pada informasi dan pengetahuan adalah salah satu target Sustainable Development Goals pada poin ke-9.

Pada tahun 2021, pembelajaran komputer di Rumah Belajar kami lakukan sebagai pilot project di Kampung Resye. Hal ini didasari dari masukkan masyarakat Kampung Resye pada saat evaluasi akhir tahun 2020 untuk melakukan pengenalan komputer dan software office kepada anak-anak mereka. Respon yang sangat baik kami peroleh dari masyarakat di kampung ini. Bahkan pada evaluasi akhir tahun 2021, masyarakat dari 4 kampung lainnya (Wau, Weyaf, Syukwo, dan Womom) menyampaikan hal yang sama, yaitu meminta pembelajaran komputer untuk anak-anak mereka.

Belajar Komputer di kampung Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Belajar Komputer di kampung Syukwo
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pembelajaran komputer yang diajarkan adalah tingkat dasar dengan tujuan mengenalkan komputer dan cara pengoperasiannya sedini mungkin kepada anak usia sekolah. Untuk membantu menilai kemampuan peserta didik, pada tahun 2022 terdapat 8 sub indikator yang meliputi cara menyalakan/mematikan komputer, mengetahui bagian-bagian hardware (perangkat keras), cara membuka dan menutup program Ms.Office, dan cara menyimpan file serta mengoperasikan secara dasar 3 program pada Ms. Office (Ms.Word, Ms.Power Point, dan Ms.Excel). Terdapat empat kategori penilaian yaitu BISA (B), KURANG BISA (KB), TIDAK BISA (TB), dan BELUM DIAJARKAN (0).

Pada periode pertama tahun ini kami mendata sedikitnya terdapat 25 anak yang rutin mengikuti pembelajaran komputer dan dapat dilakukan evaluasi perubahan kemampuannya. Anak-anak yang datang ke rumah Belajar mengoperasikan komputer secara bergantian berdasarkan sub indikator pembelajaran yang telah disusun. Pada umumnya pembelajaran komputer dilakukan 2 – 3 kali/seminggu untuk semua anak di rumah belajar; ini tidak termasuk jika ada anak-anak yang datang secara individu dan ingin belajar komputer.

Anak-anak Kampung Syukwo belajar komputer
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kendala utama dalam pelaksanaan pembelajaran komputer adalah keterbatasan listrik. Umumnya sumber listrik di kampung bergantung pada ketersediaan bahan bakar dan keadaaan mesin pembangkit listrik yang digunakan untuk seluruh kampung. Di rumah belajar terdapat sel surya (Solar cell) sebagai pembangkit listrik. Sayangnya jika paparan cahaya matahari berkurang akibat hujan, maka daya pada sel surya tidak cukup kuat untuk menyalakan komputer.

Untuk melihat perkembangan kemampuan setiap anak, kami merencanakan melakukan pre-test (telah dilakukan bulan April), uji perkembangan kemampuan sementara (telah dilakukan bulan Juni), dan uji perkembangan kemampuan akhir (direncanakan bulan September). Hasil evaluasi saat ini sedang kami olah. Namun secara umum kami mendapat kabar baik! Kami mendengar pengumuman yang disampaikan setelah Ibadah Minggu Pagi di Gereja di Kampung Resye bahwa anak-anak dari Kampung Resye lebih baik dalam mengoperasikan komputer dibandingkan anak-anak di kampung lain saat assessment bagi siswa Sekolah Dasar kelas 5. Assessment ini diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Tambrauw di Sausapor. Menurut pengumuman tersebut, anak-anak ini lebih baik karena mereka telah mengenal komputer di Rumah Belajar UNIPA. Ini berita yang mengharukan dan menyenangkan bagi kami.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Berbagi Cerita Proses Seleksi Staf baru Program Sains untuk Konservasi

Berbagi Cerita Proses Seleksi Staf baru Program Sains untuk Konservasi

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/berbagi-cerita-proses-seleksi-staf-baru-program-sains-untuk-konservasi” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/berbagi-cerita-proses-seleksi-staf-baru-program-sains-untuk-konservasi” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/berbagi-cerita-proses-seleksi-staf-baru-program-sains-untuk-konservasi” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Tanggal

28 April 2022

Penulis

Noviyanti & Naqliya Arum Permata

Tanggal

28 April 2022

Penulis

Noviyanti & Naqliya Arum Permata

Program Sains untuk Konservasi melalui Lembaga Penelitian dan dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua adalah sebuah program yang bertujuan menjadi pusat data dan informasi yang mendukung proses pengambilan kebijakan untuk pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua. Pada tanggal 24 Februari 2022 Program Sains untuk Konservasi membuka lowongan kerja bagi lulusan D3 hingga S2 untuk terlibat dalam pelaporan kegiatan monitoring di Bentang Laut Kepala Burung-Papua dan melakukan upaya konservasi penyu belimbing yang holistik di Kabupaten Tambrauw.

Salah satu kegiatan saat seleksi training PMNH
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Terdapat 8 jenis lowongan kerja yang dibuka, diantaranya adalah Asisten Koordinator Program Komunikasi (AKPK), Tenaga Pengemasan dan Pemasaran Produk (TP3), Program Development Assistant (PDA), Tenaga Magang Pantai Peneluran (TMP2), Asisten Koordinator Penelitian (AKP), Koordinator Pantai Peneluran (KP2), Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) dan juga Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2). Beberapa lowongan kerja ini sendiri dapat dilihat pada laman Website kami yaitu www.science4conservation.com. Terhitung sejak tanggal 24 Februari 2022 Website kami, terutama pada halaman lowongan kerja sudah dilihat lebih dari 2000 kali. Kami juga mempromosikan lowongan kerja tersebut melalui beberapa akun sosial media kami.

Penandatanganan Kontrak Kerja PMNH
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pada hari terakhir penerimaan berkas, yaitu tanggal 5 Maret 2022, kami menerima total 317 berkas pelamar. Kemudian pada tanggal 14 – 15 Maret 2022, dilakukan seleksi wawancara bagi pelamar yang lolos pada seleksi berkas. Total jumlah pelamar yang diundang mengikuti seleksi tahap wawancara adalah 102 pelamar. Proses wawancara ini sendiri dilakukan secara daring menggunakan platform Zoom. Namun ada beberapa pelamar yang diwawancarai menggunakan platform WhatsApp Video call karena berada di lokasi yang jaringan internetnya kurang mendukung untuk wawancara melalui Zoom.

NoPosisi lowongan kerja yang dibukaJumlah Berkas yang diterimaJumlah Pelamar yang lolos seleksi administrasi Jumlah pelamar yang lolos seleksi wawancara & training
1Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH)59229
2Program Development Assistan (PDA)1741
3Asisten Koordinator Penelitian (AKP)5381
4Koordinator Pantai Peneluran (KP2)42115
5Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2)65166
6Tenaga Magang Pantai Peneluran (TMP2)26219
7Asisten Koordinator Program Komunikasi (AKPK)47161
8Tenaga Pengemasan dan Pemasaran Produk (TP3)841
Total31710233
NoPosisi lowongan kerja yang dibukaJumlah Berkas yang diterimaJumlah Pelamar yang lolos seleksi administrasi Jumlah pelamar yang lolos seleksi wawancara & training
1Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH)59229
2Program Development Assistan (PDA)1741
3Asisten Koordinator Penelitian (AKP)5381
4Koordinator Pantai Peneluran (KP2)42115
5Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2)65166
6Tenaga Magang Pantai Peneluran (TMP2)26219
7Asisten Koordinator Program Komunikasi (AKPK)47161
8Tenaga Pengemasan dan Pemasaran Produk (TP3)841
Total31710233

Khusus untuk PMNH, setelah melalui tahap seleksi wawancara mereka lanjut ke tahap pelatihan. Terdapat 13 peserta pelatihan PMNH yang dinyatakan lolos pada tahap seleksi wawancara dan 9 orang diantaranya lolos tahap pelatihan. Kegiatan pelatihan dilakukan 4 hari pada tanggal 22 – 24 dan 28 Maret 2022. Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk memperkenalkan kepada PMNH tujuan kegiatan dan membekali mereka keahlian spesifik yang mereka butuhkan selama berada di lapangan.

Beberapa materi yang disampaikan antara lain: latar belakang Program Sains untuk Konservasi, memperkenalkan penyu dan upaya konservasi yang dilakukan di TP Jeen Womom, gambaran umum program pemberdayaan masyarakat di Kab. Tambrauw, teknik mengajar calistung, bahasa inggris, komputer dan pendidikan lingkungan hidup kepada anak-anak, pembuatan minyak kelapa yang bersih, pelaporan dan pelaksanaan monitoring dan evaluasi kegiatan.

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/berbagi-cerita-proses-seleksi-staf-baru-program-sains-untuk-konservasi” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]
[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/berbagi-cerita-proses-seleksi-staf-baru-program-sains-untuk-konservasi” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]
[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/berbagi-cerita-proses-seleksi-staf-baru-program-sains-untuk-konservasi” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Ikuti Survei

Bantu kami meningkatkan kualitas informasi hasil monitoring sosial dan ekologi di BLKB-Papua.

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Evaluasi Kegiatan Pendampingan Periode Februari – Juni 2021

Evaluasi Kegiatan Pendampingan Periode Februari – Juni 2021

Tanggal

1 Desember 2021

Penulis

Jhonatan Alberto Allo

Pada tahun 2021, Program Pemberdayaan Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat-Universitas Papua (LPPM – UNIPA) menugaskan tiga tim pendamping masyarakat (disingkat ‘PM’) untuk mendukung program konservasi penyu belimbing di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Bentuk dukungan memberi manfaat bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi dengan meningkatkan kapasitas pendidikan anak-anak dan membantu masyarakat setempat dalam memproduksi dan menjual minyak kelapa.

membaca buku_edit

Di bidang pendidikan, ada dua program utama yaitu mendukung pendidikan formal dan informal. Misalnya, di sekolah umum, staff PM membantu guru mengajar di beberapa kelas. Mereka melakukannya karena jumlah guru PNS* di sekolah-sekolah sangat minim. Selain mengajar di sekolah, staff PM juga memberikan pendidikan informal di rumah-rumah belajar. Beberapa kegiatan di rumah belajar antara lain:

  • Mengajarkan keterampilan dasar membaca, menulis, matematika, dan bahasa Inggris.
  • Menyediakan perpustakaan keliling.
  • Mengajarkan kebersihan pribadi.
  • Mengajarkan cara menanam tanaman obat.

Kami menggunakan tiga indikator untuk mengevaluasi program pemberdayaan di bidang pendidikan yaitu:

  1. Peningkatan kemampuan anak di kelas baca, tulis, dan hitung
  2. Keaktifan anak menghadiri kelas baca, tulis, dan hitung
  3. Jumlah hari aktif belajar-mengajar di sekolah

Pada periode I (Februari – Juni 2021) jumlah anak yang terlibat dalam rumah belajar di Saubeba-Womom sebanyak 55 orang, di Warmandi sebanyak 22 orang dan di Wau-Weyaf sebanyak 39 orang.

Gambar 1. Grafik persentase kemampuan anak yang lulus sebelum dan sesudah diberikan pembelajaran di rumah belajar.

Berdasarkan grafik 1, terdapat peningkatan hasil belajar pada hampir semua kelas pada tiga rumah belajar. Namun ada satu kelas, yaitu kelas baca di Rumah belajar Wau-Weyaf yang tidak mengalami peningkatan hasil belajar.

Grafik 2

Gambar 2. Grafik rata-rata kehadiran anak di rumah belajar

Berdasarkan grafik 2, terdapat peningkatan hasil belajar pada hampir semua kelas pada tiga rumah belajar. Namun ada satu kelas, yaitu kelas baca di Rumah belajar Wau-Weyaf yang tidak mengalami peningkatan hasil belajar.

Tabel 1 memperlihatkan bahwa SD YPK Lachai Roy Saubeba memiliki jumlah hari libur sekolah yang paling banyak dibandingkan sekolah lain. Libur sekolah umumnya karena ada acara adat atau acara keagamaan di kampung.

Di bidang peningkatan perekonomian bagi masyarakat lokal, terdapat 9 keluarga yang terlibat dalam pengolahan minyak kelapa. Untuk satu liter minyak kelapa yang diproduksi, mereka menerima bayaran sebesar Rp. 25.000 dari LPPM UNIPA. Staf PM kemudian membawa minyak kelapa ini ke Manokwari untuk dijual. Selama pendampingan masyarakat berhasil mengolah 153.5 liter minyak kelapa dengan rata-rata pendapatan yang diperoleh masing-masing keluarga sebesar Rp 426.389,-

Tujuan pemberdayaan masyarakat di bidang pendidikan adalah untuk meningkatkan kemampuan dasar membaca, menulis, dan matematika anak melalui kegiatan di sekolah dasar dan rumah belajar. Sedangkan pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dengan memanfaatkan kelapa sebagai sumber daya alam yang melimpah di desa menjadi minyak kelapa. Minyak kelapa merupakan pilihan terbaik karena memiliki umur simpan yang lama dan nilai jual yang lebih tinggi.

Masyarakat menilai bahwa program konservasi penyu belimbing membawa banyak manfaat bagi mereka. Pertama, kegiatan staf PM di rumah belajar dan sekolah dasar bermanfaat bagi anak-anaknya dan membantu para guru PNS. Selain itu, mereka sangat mendukung program pengolahan minyak kelapa karena masyarakat bisa mendapatkan penghasilan tambahan.

Kedepannya, masyarakat Saubeba-Womom berharap LPPM UNIPA memberikan pelatihan dasar komputer bagi aparat desa. Demikian pula masyarakat Warmandi berharap LPPM UNIPA menyediakan mesin parut kelapa untuk menghasilkan minyak kelapa yang lebih banyak. Sementara itu, masyarakat Wau-Weyaf berharap LPPM UNIPA bisa membantu kelompok yang baru dibentuk (Konsim) agar lebih terorganisir dan profesional dalam mengolah minyak kelapa.

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Cerita Lapang : Mahasiswa KKN UNIPA di Kampung Waibem, Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw

Pendidikan

Foto : Tim Abun Pemberdayaan

Universitas Papua, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, melalui Divisi Pembangunan Berkelanjutan kembali mengirim 1 tim mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyata) ke Kampung Waibem. Untuk periode 11 Januari – 11 Maret 2018. Kegiatan KKN merupakan mata kuliah yang menjadi salah satu syarat dalam mendapat gelar Sarjana di UNIPA. Terdapat 7 mahasiswa KKN yang berasal dari berbagai disiplin ilmu, yaitu: Fakultas Teknologi Pertanian, Fakultas Kehutanan, Fakultas Teknik Pertambangan & Perminyakan, Fakultas Ekonomi & Bisnis, dan Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan. Kampung Waibem, secara administrasi merupakan bagian dari Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw. Kampung Waibem juga merupakan ibukota dari Distrik Abun. Sebelumnya, UNIPA telah mengirim mahasiswa KKN pada tiga kampung lainnya (Saubeba-Womom, Warmandi, dan Wau-Weyaf).

Mahasiswa KKN UNIPA di Kampung Waibem bekerja pada 8 bidang yaitu: (1) Bidang sarana dan prasarana, (2) Bidang administrasi kampung, (3) Bidang lingkungan, (4) Bidang Kesehatan, (5) Bidang pendidikan, (6) Bidang keagamaan, (7) Bidang ekonomi sosial budaya, dan (8) Bidang pertanian. Kegiatan KKN juga merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh UNIPA. Serah terima mahasiswa KKN dilakukan pada 12 Januari 2018, pada acara serah terima ini dilakukan presentasi singkat tentang rencana kerja sekaligus perkenalan antara tim KKN dan masyarakat setempat. Acara serah terima ini juga dihadiri oleh kepala Distrik Abun. Masyarakat sangat berterima kasih atas kehadiran mahasiswa KKN di Kampung Waibem, terutama dalam membantu pada bidang pendidikan. Kampung Waibem telah dua kali menerima mahasiswa KKN sebagai bentuk kerjasama antara UNIPA dan pemerintah Distrik Abun pada pengelolaan Taman Pesisir Jeen Womom. “Kami berharap bahwa kerjasama UNIPA dengan pemerintah distrik Abun dapat terus berjalan dengan baik, supaya anak-anak bisa datang kapan saja ke kampung Waibem dan ada mahasiswa KKN lagi”, ujar Kepala Distrik Abun menutup acara serah terima.