Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Inisiasi Konservasi Penyu di Papua New Guinea New Template Uncategorized @id

Leatherback Monitoring Continues on the Huon Coast, Papua New Guinea

Leatherback Monitoring Continues on the Huon Coast, Papua New Guinea

Author

Yusuf Adrian Jentewo

Date

23 Oktober 2025

In April 2025, Huon Coast Leatherback Turtle Project (HCLTP) wrapped up the second monitoring season at Lababia nesting beach, in Huon Gulf, Papua New Guinea. The first monitoring was conducted from December 2023 until March 2024. The Huon Gulf coastline is the second-largest nesting site for the Western Pacific leatherback sea turtle (Dermochelys coriacea), following West Papua, which hosts the highest nesting density for this population. This gulf is located in Morobe province, specifically within the Huon District. This sub-population is listed as critically endangered on The International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List (2013) and urgently needs protection in its vital habitats.

To protect leatherback turtles along the Huon Gulf coast, the Huon Coast Leatherback Turtle Project (HCLTP) was launched in 2022 by the Ocean Ecology Network, with the University of Papua as the implementing partner. During the latest nesting season, monitoring was conducted from 16 November 2024 to 8 April 2025. A total of 147 people from Lababia Village participated, working in rotating teams of 13 each week. The community showed strong enthusiasm for the project, as it provided meaningful employment through work as local rangers. Beyond direct income, the project also strengthened the local economy, as earnings from the rangers circulated within the community and supported local livelihoods.

Lababia Rangers after their weekly refresher training
(Photo : HCLTP Team)

One of the Kamiali Wildlife Management Area (WMA) leaders signed a Memorandum of Understanding (MoU) with the Ocean Ecology Network
(Photo : HCLTP Team)

On 13 November 2024, leaders of the Kamiali Wildlife Management Area (WMA) signed a Memorandum of Understanding (MoU) with the Ocean Ecology Network, witnessed by village elders and community members. The agreement formalized the community’s trust and support for the project in their area. Through the MoU, the project committed to implementing its activities with transparency and inclusivity. In return, the community pledged their support by appointing local representatives to serve as rangers each week, helping ensure the work was carried out with dedication and responsibility.

Field Coordinator John Ben worked tirelessly to ensure the program ran smoothly on the ground. Throughout the nesting season, he traveled almost every week from Lae to Lababia, working closely with Lababia Coordinator Jack Nala to oversee local rangers who patrolled the nesting beach daily. The rangers recorded every nest and protected vulnerable ones from threats such as dogs, invasive plants, and high waves. They also built bamboo grids to prevent predators from digging up nests and relocated nests that were at risk due to environmental conditions. These efforts were critical in increasing hatchling survival and supporting leatherback population recovery.

Lababia Coordinator briefing rangers
(Photo : HCLTP Team)

Leatherback turtle nest protected from predators using a bamboo grid
(Photo : HCLTP Team)

The team recorded a significant rise in nesting activity this season, with 221 leatherback nests laid—an increase from 174 nests in 2023–2024. Of these, 152 nests were protected, representing 69% of the total, compared to 119 nests (68%) in the previous season. This progress is largely due to the extended monitoring period, which enabled more complete data collection and increased the number of recorded nests. While the previous season covered only four months (December–March), the 2024–2025 season was successfully extended to nearly six months (November–April).

Share this post

Related News

Our Videos

Other Categories

Other News

Kategori
New Template Uncategorized @id

Rumah Belajar Womom: Pendidikan Nonformal untuk Literasi, Kreativitas, dan Ekopedagogi​

Rumah Belajar Womom: Pendidikan Nonformal untuk Literasi, Kreativitas, dan Ekopedagogi

Penulis

Kristina Ifana Rahail

Tanggal

18 September 2025

Sebuah rumah kecil sederhana berdinding papan ternyata memberi manfaat dan dampak besar bagi generasi penerus Kampung Womom. Melalui Program Pemberdayaan Masyarakat Science for Conservation (S4C), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua menghadirkan sekolah nonformal yang kami sebut Rumah Belajar Womom, atau kerap dikenal anak-anak dan masyarakat setempat sebagai “Rumah Les”.

Di Rumah Belajar Womom, proses pembelajaran didampingi oleh para pengajar yang tergabung dalam Tim PMNH (Pemberdayaan Masyarakat dan Narahubung). Tim ini tidak hanya mengajar di Kampung Womom, tetapi juga di beberapa kampung lainnya yang bertugas di wilayah sekitar pantai peneluran penyu di Taman Pesisir Jeen Womom.

Rumah Belajar ini berdiri di tengah Kampung Womom, Distrik Tobouw, Kabupaten Tambrauw. Tujuan pendiriannya adalah membantu meningkatkan kemampuan literasi anak, pendidik, dan masyarakat setempat agar pembelajaran dapat berlangsung kapan saja dan di mana saja. Dengan adanya rumah belajar, proses belajar diharapkan tidak terbatas pada ruang kelas formal. Sebab sejatinya, belajar tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi dapat berlangsung di berbagai tempat, salah satunya di Rumah Belajar Womom.

Belajar baca, tulis dan hitung
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Rumah Belajar ini berdiri di tengah Kampung Womom, Distrik Tobouw, Kabupaten Tambrauw. Tujuan pendiriannya adalah membantu meningkatkan kemampuan literasi anak, pendidik, dan masyarakat setempat agar pembelajaran dapat berlangsung kapan saja dan di mana saja. Dengan adanya rumah belajar, proses belajar diharapkan tidak terbatas pada ruang kelas formal. Sebab sejatinya, belajar tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi dapat berlangsung di berbagai tempat, salah satunya di Rumah Belajar Womom.

Belajar Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) tentang penyu (Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan belajar mengajar di Rumah Belajar Womom biasanya dimulai pukul 16.00 WIT hingga selesai. Kelas baca dan tulis dilaksanakan setiap Senin, sedangkan kelas hitung setiap Selasa. Dalam kelas baca dan tulis, anak-anak diajarkan mengenal huruf dan mendengarkan cerita. Agar pembelajaran lebih interaktif, kami menggunakan kartu huruf. Anak-anak diminta mengenali huruf, lalu menyebutkan nama benda atau hewan yang diawali huruf yang mereka pegang. Demikian pula dalam kelas hitung, anak-anak diperkenalkan angka dengan cara yang sama, menggunakan kartu sebagai media belajar.

Setiap Rabu, kami mengajarkan anak-anak menggunakan komputer dan belajar Bahasa Inggris di Rumah Belajar Womom. Kegiatan ini bertujuan memberi kesempatan bagi anak-anak yang belum mendapatkan pelajaran Komputer dan Bahasa Inggris di sekolah, agar tetap dapat mengenal dan mempelajarinya. Harapannya, mereka mampu mengoperasikan komputer secara dasar serta memahami kosakata dan

Belajar menghitung
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Belajar computer-english
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

percakapan sederhana dalam bahasa Inggris sebagai bekal menghadapi perkembangan zaman. Kehidupan anak-anak Rumah Belajar Womom sangat dekat dengan alam. Mereka tinggal di pesisir pantai yang menjadi habitat peneluran penyu. Kami pun berinisiatif mengajarkan mereka cara menjaga dan melindungi penyu serta spesies lain di lingkungan sekitar, baik yang dilindungi maupun tidak, agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.

Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH): mengenal ekosistem pesisir
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Perpustakaan keliling
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Baca Juga:

Belajar Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) tentang penyu (Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Selain belajar PLH tentang penyu, Rumah Belajar Womom juga memiliki materi PLH bulanan dari series 1 hingga series 5. Dalam pembelajaran ini, anak-anak diajarkan mengenal jenis sampah organik dan anorganik, memahami ekosistem pesisir, mengenali hewan di sekitar tempat tinggal, mengetahui berbagai sumber air, serta mengenal tumbuhan dan tanaman di lingkungan mereka.

Pada kelas perpustakaan keliling, kami mengenalkan anak-anak terhadap berbagai jenis buku, membacakan dongeng, dan membuat peta cerita.

Tujuannya agar mereka mampu menanggapi bacaan serta menghubungkannya dengan diri sendiri, bacaan lain, dan dunia di sekitar mereka. Hidup di atas tanah yang kaya akan sumber daya alam, baik flora maupun fauna, kami mengajak anak-anak mengenal berbagai tanaman yang berkhasiat bagi kesehatan sekaligus dapat digunakan sebagai bumbu dapur. Anak-anak diajarkan membuat media tanam di sekitar halaman Rumah Belajar Womom, lalu diajak mengambil tanaman yang dapat dijadikan ramuan. Mereka tampak sangat antusias menanam kembali tanaman tersebut di halaman rumah masing-masing. Anak-anak juga terlihat paham mengenai jenis tanaman yang bermanfaat untuk kesehatan maupun sebagai bumbu masak. Dengan tangan-tangan kecil mereka, tanaman dipilah dengan lihai dan ditanam pada media yang telah disiapkan.

Hidup sehat: sikat gigi dan cuci tangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Hidup sehat: makan bubur kacang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menggambar dan mewarnai
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Rumah Belajar Womom kami mengajarkan pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi serta menjaga kebersihan diri melalui kebiasaan mencuci tangan dan menyikat gigi. Kegiatan di Rumah Belajar Womom tidak hanya berfokus pada pelajaran sekolah, tetapi juga menghadirkan aktivitas seru melalui ruang kreasi. Anak-anak bebas menggambar dan mewarnai apa saja yang terlintas di pikiran mereka. Tujuannya agar mereka dapat mengekspresikan diri serta menuangkan gagasan dan imajinasi ke dalam bentuk gambar.

Kehadiran Rumah Belajar di Kampung Womom mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan memberikan dampak positif yang nyata. Di kampung yang tergolong kecil ini, jumlah kepala keluarga yang terdaftar sebenarnya sebanyak 21 KK (Data survei Tahun 2021). Namun, saat ini dalam pelaksanaan kegiatan pendampingan di lapangan, hanya ditemukan 8 KK yang benar-benar tinggal menetap. Kondisi ini juga berpengaruh pada jumlah anak yang mengikuti kegiatan di Rumah Belajar, yaitu sebanyak 7 orang anak.

Tangkapan peta Kampung Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Meskipun jumlahnya tidak banyak, semangat mereka luar biasa. Setiap kali jam belajar dimulai, anak-anak selalu datang dengan penuh antusias, duduk rapi, dan siap menerima pelajaran baru. Mereka tidak hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga mendapatkan pengalaman berharga melalui pengenalan komputer, bahasa Inggris, hingga kegiatan belajar dari alam sekitar. Hal yang menarik, antusiasme ini tidak hanya terlihat dari anak-anak, tetapi juga dari para orang tua. Mereka kerap hadir untuk menyaksikan anak-anak belajar, bahkan memberi dukungan agar anak-anak tetap semangat. Suasana kebersamaan ini menjadi bukti bahwa meskipun Kampung Womom kecil dan jumlah anak yang ada terbatas, semangat untuk belajar dan berkembang tidak pernah surut. Justru dari keterbatasan itulah tumbuh sebuah harapan besar—bahwa setiap anak berhak mendapat kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan meraih masa depan yang lebih baik.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring New Template Uncategorized @id

Wayag di Persimpangan: Surga Raja Ampat yang Terancam

Wayag di Persimpangan: Surga Raja Ampat yang Terancam

Penulis

Habema Monim

Tanggal

16 September 2025

Apa yang terbersit di pikiran Anda jika ditawari mengunjungi salah satu tempat paling eksotis di dunia, yaitu Wayag? Tempat yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata impian bagi banyak orang ini berada di Raja Ampat, Papua. Wayag memiliki keunikan yang jika berada di puncaknya mata kita akan disuguhi batu karst ikonik berbentuk seperti jamur yang menjulang dari dalam air berwarna biru nan indah. Pemandangan ini tentu sering muncul pada promosi-promosi wisata dan berbagai media sosial.

Bagi para penyelam, Wayag tidak hanya menawarkan keindahan pulau-pulaunya, tetapi juga keindahan bawah laut yang tak tertandingi. Laut Wayag menawarkan berjuta keindahan yang akan selalu dikenang para penyelam. Karang berwarna khas tumbuh di tepian dasar perairan yang berbentuk dinding atau wall akibat dari kejernihan air dan juga cahaya matahari yang menembus langsung ke dasar perairan. Keunikan ini membuat banyak hewan langka mudah dijumpai, seperti blacktip reef shark, whitetip reef shark, wobbegong, penyu hijau, penyu sisik, ikan bumphead, ikan napoleon, lumba-lumba, pari manta, hingga berbagai jenis ikan yang berenang bergerombol (schooling).

Penyu sisik di salah satu titik penyelaman
(Foto : Loka PSPL Sorong/Prehadi)

Pari manta yang sedang mencari makan tetapi terdapat banyak sampah yang hanyut
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Pada perjalanan monitoring kali ini, kami mengunjungi Wayag dan sekitarnya selama 4 hari, dari tanggal 6 hingga 9 Juni 2025. Banyak hal menarik yang kami jumpai, tidak hanya di permukaan perairan tetapi juga saat penyelaman. Schooling ikan selalu terlihat, begitu pula hewan khas seperti blacktip reef shark, whitetip reef shark, wobegong, penyu hijau, penyu sisik, ikan bumphead, ikan napoleon, dan pari manta. Kehadiran hewan-hewan ini bukan kebetulan, melainkan didukung oleh pantauan visual langsung kami bahwa kondisi karangnya masih terjaga dengan baik.

Baca juga : Belajar Sambil Bertualang: Pelajaran Berharga di Pantai Peneluran – Bagian 1

Akan tetapi, akhir-akhir ini Raja Ampat mendapat perhatian khusus dari penjuru negeri hingga mancanegara akibat pertambangan yang sedang beroperasi. Bagaimana tidak, sebagai jantung keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia, tambang membuat semua mata menaruh perhatian akan keindahan serta keunikan yang sedang mengalami ancaman nyata. Perjalanan monitoring kami yang semula nyaman dengan temuan menarik berubah mencekam karena keberadaan tambang dan ulah manusia yang tidak peduli lingkungan, terbukti dengan ditemukannya sampah hanyut di permukaan perairan

Temuan karang memutih di salah satu lokasi penyelaman
(Foto : Loka PSPL Sorong/Prehadi)

Temuan karang memutih di salah satu lokasi penyelaman
(Foto : Loka PSPL Sorog/Prehadi)

Beberapa spot penyelaman favorit dunia sekaligus titik pengamatan kesehatan karang berada berdekatan dengan salah satu pulau pusat pertambangan. Ancaman ini memang belum terlihat jelas, tetapi dari pola arus yang ada diperkirakan akan berdampak langsung dalam waktu yang tidak lama. Tidak hanya ancaman dari aktivitas pertambangan, wilayah yang merupakan lokasi pari manta mencari makan (feeding) dan membersihkan diri dari ikan-ikan kecil dari parasit atau kotoran di tubuhnya (cleaning) ini pun mengalami ancaman berupa sampah plastik yang banyak ditemukan mengapung di permukaan perairan. Mirisnya, sampah-sampah tersebut hanyut bersamaan dengan aktivitas pari manta dan penyu yang sedang mencari makan

Salah satu titik pengamatan kondisi kesehatan karang dengan latar lokasi tambang nikel di Pulau Kawe, Raja Ampat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Siput Drupella diatas karang yang telah mati dan tutupi alga
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Selain bekerja, Vio juga senang menikmati suasana alam di pantai peneluran. Keindahan sunset dan sunrise adalah waktu favoritnya, di mana langit berwarna jingga dan pepohonan bertemu pantai serta laut, menciptakan landscape yang menakjubkan.

Selain ancaman nyata di permukaan perairan, ekosistem di dasar perairan juga terancam, terutama adalah temuan karang yang memutih serta banyaknya siput Drupella. Temuan ini dapat menyebabkan kematian karang sehingga fungsi dari ekosistem terumbu karang menurun atau bahkan dapat hilang hingga hewan yang harusnya berasosiasi di terumbu karang juga pun ikut hilang

Dari temuan menarik dan ancaman yang mulai terlihat ini, kita harus memilih: apakah Wayag di masa depan tetap menampilkan keunikan dan keindahan ekosistemnya ataukah hanya menjadi cerita belaka. “Keputusan kita saat ini menentukan masa depan alam kita”

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Uncategorized @id

Perempuan dalam Rantai Ekonomi Perikanan Lokal

Perempuan dalam Rantai Ekonomi Perikanan Lokal

Penulis

Jeniffer Maleke, Marthinus Rumere, Arnoldus Ananta

Tanggal

7 Agustus 2025

Di Kampung Deer, Distrik Kofiau, Raja Ampat, ada satu nama yang hampir dikenal semua orang. Ialah Mama Ance Watem, perempuan tangguh, bersuara lantang, penuh semangat, dan tak pernah ragu menyuarakan pendapatnya. Ia adalah perempuan yang menjalani berbagai peran sekaligus, dengan tanggung jawab besar di pundaknya.

Saat hari baru dimulai, Mama Ance sudah bersiap di ketinting kecil miliknya, perahu bermesin sederhana yang ia beli dari hasil kerja kerasnya sendiri. Ia turun melaut saat fajar dan kadang baru kembali ke kampung ketika matahari telah terbenam. Kalian pasti tidak percaya bahwa seorang perempuan membawa sebuah ketinting, tapi itu nyata. Tujuannya? Mencari ikan. Tangkapannya kadang untuk dikonsumsi keluarga, kadang untuk dijual. Akan tetapi, bukan itu saja yang membuatnya istimewa.

Mama Ance juga menjalankan peran penting sebagai salah satu plasma ikan hidup di kampung, yaitu perantara antara nelayan kampung dan kapal pengangkut ikan hidup (jolor) yang datang rutin, biasanya sebulan sekali. Ikan-ikan hasil tangkapan nelayan ditampung dalam keramba miliknya, lalu disalurkan ke kapal tersebut. Ia bertanggung jawab penuh atas kelancaran izin angkut ikan, kualitas ikan hidup yang diserahkan, dan proses negosiasi pembayaran. Jika ada ikan yang tak sesuai standar, Mama Ance pula yang harus bertanggung jawab. Namun, semua itu ia jalani dengan serius dan tanpa mengeluh.

“Plasma adalah orang yang mengurus izin angkut ikan ke kapal penadah. Kalau kedapatan ikan yang dibawa hasil bom atau potas, ikan akan dikembalikan dan plasma akan diberi teguran, kapal berikut tidak bisa membawa ikan, kunjungan setelahnya baru bisa bawa ikan lagi,” cerita Mama Ance dalam wawancara.

Foto Keramba
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Lebih dari itu, peran Mama Ance dalam pasar ikan hidup di Distrik Kofiau sangat penting. Ia bukan hanya penampung ikan di satu kampung. Di tingkat distrik, ia menjadi salah satu aktor penting yang menjaga kontinuitas pasokan ikan hidup dari Distrik Kofiau ke pasar yang lebih luas, terutama untuk komoditas bernilai tinggi seperti ikan kerapu. Keberadaannya memastikan bahwa nelayan di kampung-kampung kecil tetap bisa menjual hasil tangkapannya ke pembeli besar yang datang dari luar daerah. Sebagai perempuan yang aktif di posisi strategis ini, kehadiran Mama Ance juga berkontribusi pada stabilitas ekonomi kampung. Banyak nelayan kecil yang tidak memiliki akses langsung ke pembeli luar mengandalkan jasa dan kepercayaan yang ia bangun.

Sebagai seorang ibu tunggal, ia juga membesarkan anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Di sela aktivitasnya sebagai nelayan, ia juga merupakan petani kopra dan aktif dalam kegiatan sosial keagamaan. Ia menjadi pengasuh anak-anak PAR (Persekutuan Anak dan Remaja) di Sekolah Minggu dan menjadi pengurus PW (Persekutuan Wanita) di gereja

Waktunya terbagi antara laut, ladang, dan kegiatan sosial. Saat cuaca mendukung, ia akan turun ke laut, menangkap ikan dengan kail dan nelon (tali pancing) miliknya. Ikan-ikan yang ditangkap ditampung dalam tempat khusus yang dibuatnya dalam ketinting. Setelah sampai di darat, ia akan memisahkan ikan hidup yang ditangkapnya ke dalam keramba sederhana yang dibuat untuk menampung ikan sebelum kapal pengangkut masuk ke kampung. Ketika cuaca berubah dan laut tak bersahabat, Mama Ance akan memilih turun ke kebun, mengurus kopra sebagai sumber penghasilan utama keluarga.

“Kalau mancing biasanya ke ujung tanjung. Cari ikan dari pagi sampai siang baru pulang untuk masak. Kalau sudah lelah di laut, langsung ke kebun untuk cek lahan,” tuturnya.

Seorang ibu yang hendak pergi memancing ikan hidup
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Seorang ibu dalam perjalanan pulang ke kampung setelah melaut
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Mama Ance tidak dapat menangkap ikan setiap bulan. Ada saat ketika sedang lelah, ia hanya mampu mengurus ikan dari nelayan lain yang dibawa untuk dijual melalui perahu jolor yang merapat ke kampung. Melalui proses itu, ia tetap menjalankan tugasnya sebagai plasma, walau tak selalu ada ikan miliknya yang terjual.

Menjadi plasma bukan hal yang umum bagi perempuan di banyak tempat. Namun, Mama Ance menunjukkan bahwa kepercayaan, keberanian, dan relasi baik dengan masyarakat bisa membuka ruang bagi perempuan untuk terlibat aktif dalam ekonomi kelautan. Perannya tidak hanya soal mengangkut ikan, ia adalah salah satu simpul penting dalam jaringan perdagangan ikan hidup di kampung. Ia tahu kapan kapal datang, tahu siapa yang punya tangkapan bagus, dan tahu bagaimana memastikan semua nelayan mendapatkan bayaran yang layak. Ia menjadi bukti bahwa perempuan punya tempat penting dalam rantai ekonomi lokal, meskipun seringkali tak terlihat di permukaan.

Cerita Mama Ance bukan sekadar kisah tentang laut atau hasil tangkapan. Ini adalah cerita tentang ketekunan seorang perempuan dalam menghadapi tantangan, mengisi ruang-ruang yang kerap didominasi laki-laki, dan menjadi figur yang dipercaya oleh banyak orang. Perjalanan Mama Ance mengajarkan kita satu hal penting bahwa pemberdayaan tidak selalu harus datang dari luar. Terkadang, ia tumbuh dari dalam, dari seorang perempuan yang bekerja dengan hati, membangun relasi, dan menggerakkan ekonomi lokal dengan cara-cara yang mungkin sederhana, tapi berdampak nyata.

Berita Lainnya

Kategori
Uncategorized @id

Memperkuat Konservasi Laut: Strategi Baru Blue Abadi Fund dalam Siklus ke-5

Memperkuat Konservasi Laut: Strategi Baru Blue Abadi Fund dalam Siklus ke-5

Penulis

Michael Tuhuteru, Naqliya Arum

Tanggal

1 0 Maret 2025

Blue Abadi Fund (BAF) adalah dana perwalian konservasi yang dikhususkan untuk Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dan lembaga lokal dalam mengelola sumber daya kelautan mereka secara berkelanjutan melalui pendampingan dan penyaluran dana hibah. BAF memiliki dua fasilitas penyaluran hibah, yaitu Hibah Primary dan Hibah Kecil Inovasi.

Di awal tahun 2025, Program Blue Abadi Fund (BAF) kembali hadir dengan siklus ke-5. Program ini terus memperkuat upaya konservasi laut dengan pendekatan yang lebih strategis dan inklusif. Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) diberikan mandat sebagai Administrator Blue Abadi Fund.

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas mitra penerima hibah siklus ke-5, Yayasan KEHATI sebagai Administrator BAF mengadakan dua sesi pelatihan yang dilaksanakan pada dua lokasi berbeda. Sesi pertama diadakan di Royal Mamberamo Hotel, Sorong, pada 26 Februari – 1 Maret 2025, dan sesi kedua berlangsung di Triton Hotel, Manokwari, pada 3 – 6 Maret 2025.

Pembukaan kegiatan pelatihan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat
(Foto : Yayasan KEHATI)

Ibu Selvi sedang menyampaikan Tata Kelola dan Realisasi Penyaluran Hibah
(Foto : Yayasan KEHATI)

Pentingnya Capacity Building bagi Mitra Baru

Pelatihan ini ditujukan bagi seluruh mitra Blue Abadi Fund, baik penerima hibah kategori Inovasi maupun Primary. Namun, dalam kesempatan ini, jumlah peserta terbanyak berasal dari mitra inovasi, yang mayoritas terdiri dari kelompok masyarakat dan yayasan yang beroperasi di daerah seperti Teluk Wondama, Kaimana, dan Fak-Fak.

Pelatihan ini terdiri dari sesi pleno serta sesi kelompok yang membahas dua aspek utama, yaitu Pengelolaan Program dan Pengelolaan Keuangan. Pengelolaan Program mencakup tata kelola hibah BAF, mekanisme dan siklus hibah, serta pelaporan kegiatan dan capaian, sementara Pengelolaan Keuangan mencakup pencatatan dan pelaporan keuangan, pengadaan barang dan jasa, serta praktik simulasi laporan keuangan hibah. Pelatihan ini menggunakan metode interaktif, dengan diskusi kelompok yang dipandu oleh fasilitator berpengalaman, untuk memastikan pemahaman yang lebih baik bagi para peserta. Dengan pendekatan ini, peserta diharapkan dapat memahami tata kelola hibah serta mekanisme pelaporan program dan keuangan secara transparan dan akuntabel, sekaligus mendapatkan wawasan yang lebih mendalam melalui sesi berbagi pengalaman antar mitra.

Salah satu peserta yang sedang mengikuti kegiatan pelatihan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnold Ananta)

Kelompok pengelolaan program keuangan yang sedang mengikuti pelatihan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnold Ananta)

Salah satu aspek utama dalam pelatihan ini adalah capacity building, terutama bagi mitra baru yang pertama kali mendapatkan hibah. Pelatihan ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk berbagi pengalaman, terutama dari mitra yang sudah lebih dulu berpengalaman dalam mengelola hibah dan menjalankan program konservasi. Pelatihan ini juga mendorong adanya sistem pendampingan antar mitra agar setiap peserta dapat saling mendukung dalam implementasi program mereka. Mitra penerima hibah yang terlibat dalam pelatihan ini berasal dari berbagai institusi dan organisasi yang bergerak di bidang konservasi dan pemberdayaan masyarakat. Beberapa di antaranya yang mengikuti kegiatan di Manokwari adalah:

  • Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA)
  • Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah (BLUD UPTD) Pengelolaan KKP Kaimana
  • Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Nusa Matan Fakfak
  • Orang Muda Katolik (OMK) Kaimana
  • Yayasan Meos Papua Lestari (YMPL)
  • Kelompok Pemuda Kobererei, Kampung Uriemi, Kabupaten Teluk Wondama
  • Yayasan Sealam Karya Lestari (SELARAS)

Pembagian peserta untuk pengelolaan program dan pengelolaan keuangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnold Ananta)

Suasana pelatihan di hotel Triton, Manokwari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnold Ananta)

Selain itu, Siklus ke-5 juga memperkuat partisipasi masyarakat adat dan komunitas lokal Papua. Program ini memberikan ruang bagi masyarakat adat agar suara mereka dapat terdengar dan terimplementasi dalam upaya konservasi. Penerima manfaat utama dari program ini adalah masyarakat adat dan komunitas lokal Papua yang tinggal di wilayah konservasi. Mereka juga menjadi penjaga utama ekosistem dalam jangka panjang, sehingga peran aktif mereka sangat krusial dalam keberlanjutan upaya konservasi laut.

Harapan untuk Masa Depan

Beberapa harapan dari program ini kedepannya:

  • Replikasi model konservasi ke wilayah lain dengan cakupan lebih luas.
  • Peningkatan keterlibatan generasi muda dalam menjalankan program konservasi.
  • Meningkatkan daya tarik bagi donor lain untuk turut serta dalam mendukung konservasi laut.
  • Pengembangan kapasitas lembaga dan SDM agar semakin profesional dalam mengelola program konservasi.
  • Dengan strategi baru dan semangat kolaboratif yang lebih kuat, Blue Abadi Fund terus berupaya menjaga keberlanjutan ekosistem laut Indonesia, terutama dengan peran aktif dari masyarakat lokal dan generasi muda sebagai garda terdepannya.

Foto bersama seluruh peserta pelatihan
(Foto : Yayasan KEHATI)

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan para mitra penerima hibah dapat lebih memahami tata kelola program serta pengelolaan keuangan hibah BAF, sehingga tujuan konservasi dan pemberdayaan masyarakat di Bentang Laut Kepala Burung dapat tercapai secara maksimal.

Perubahan Strategis di Siklus ke-5

Dalam siklus ke-5, Rencana Strategis 2023-2028 mulai diimplementasikan dengan peningkatan intervensi perlindungan kawasan dari 3,6 juta hektar menjadi 5,2 juta hektar. Wilayah prioritas konservasi juga bertambah, mencakup :

  • KK Daerah Biak-Numfor(Kawasan Konservasi Daerah Biak-Numfor).
  • KK Nasional Padaido (Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan Padaido).
  • KK Daerah Sorong Selatan (Kawasan Konservasi Seribu Satu Sungai Teoenebikia).
  • KK Daerah Maksegara di Kabupaten Sorong dan Kabupaten Tambrauw.

Pada Siklus ke-5, terdapat 8 mitra penerima Hibah Primary dengan total anggaran Rp 33 miliar, serta 10 mitra penerima Hibah Kecil Inovasi dengan total anggaran Rp 1,5 miliar. Periode hibah berlangsung hingga akhir Mei 2026.

Selain itu, pendekatan pendanaan dalam program ini mengalami perubahan. Jika pada lima tahun pertama BAF berfokus pada penyediaan arus pendanaan jangka panjang yang aman dan stabil, maka pada Rencana Strategis 2023 – 2028, pendanaan BAF akan mengisi gap dan memanfaatkan sumber pendanaan yang ada untuk memastikan bahwa ekosistem dan spesies Bentang Laut Kepala Burung dikelola secara berkelanjutan dan dilindungi oleh penjaga lingkungan setempat, agar memberikan manfaat bagi masyarakat adat dan masyarakat lokal Papua.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Uncategorized @id

Dari Inspirasi Hingga Juara: Perjalanan Tim Amigurumi dalam Lomba Papedanomics

Dari Inspirasi Hingga Juara: Perjalanan Tim Amigurumi dalam Lomba Papedanomics

Penulis

Jane Lense, Michael Tuhuteru

Tanggal

23 September 2024

Perjalanan kami dalam lomba Papedanomics berawal dari satu momen yang sederhana namun berkesan. PAPEDANOMICS 2024 sendiri merupakan sebuah rangkaian kegiatan inspiratif yang diinisiasi oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat, ISEI Papua Barat dan SDGs Center Universitas Papua. Pelaksanaan PAPEDANOMICS bertujuan untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan ekonomi dan sosial di Tanah Papua menuju Papua Emas 2045.

Pendaftaran lomba Young Enterpreneur Competition (Business Plan Competition) dibuka mulai 20 Juni hingga 23 Agustus 2024, namun baru pada 21 Agustus kami mengetahui informasi tentang lomba ini—hanya dua atau tiga hari sebelum pendaftaran ditutup. Saat itu, kami didorong oleh Kak Tika, salah satu senior kami di kantor S4C (akronim yang biasa kami gunakan untuk Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA-Red), untuk mengikuti lomba tersebut. Tanpa ragu, kami pun mulai menyusun draft proposal, meski waktu yang tersedia sangat terbatas.

Proposal yang kami ajukan berkisar pada ide bisnis yang sederhana namun penuh makna: amigurumi keychain, yaitu gantungan kunci yang terbuat dari rajutan tangan. Ide ini terinspirasi dari hasil karya salah satu tenaga PM di kantor kami, yang membuat rajutan berbentuk penyu. Karya tersebut memukau kami, dan dari sana kami terpikir untuk mengembangkan ide ini menjadi lebih besar—sesuatu yang bisa membawa dampak positif, baik secara sosial maupun lingkungan.

Amigurumi keychain yang sudah jadi yang berbentuk penyu, lucu dan unik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Jennifer Maleke sedang mempresentasikan Amigurumi Keychain di depan penonton dan juri
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Bukan Sekadar Bisnis, Ini adalah Misi Sosial dan Konservasi

Visi kami dalam bisnis ini tidak semata-mata mencari keuntungan. Kami ingin menggabungkan seni tangan yang indah dengan pesan penting mengenai pelestarian lingkungan dan hewan-hewan yang dilindungi. Produk yang kami buat ini tidak hanya akan menjadi karya seni, tetapi juga menjadi sarana edukasi tentang pentingnya menjaga alam dan spesies yang terancam punah.

Lebih dari itu, kami ingin bisnis ini juga memberikan dampak sosial nyata. Dalam proses produksinya, kami merencanakan untuk melibatkan anak-anak panti asuhan di Manokwari. Kami ingin memberikan kesempatan kepada anak-anak dan remaja di sana untuk mengembangkan keterampilan yang bisa membantu mereka meraih kemandirian ekonomi. Dengan melibatkan mereka dalam pembuatan amigurumi, kami berharap dapat memberdayakan mereka, membuka peluang bagi masa depan yang lebih baik.

Selain itu, sebagian dari hasil penjualan produk ini akan disalurkan untuk mendukung upaya konservasi hewan yang dilindungi. Dengan demikian, setiap pembelian produk ini tidak hanya mendukung usaha kami, tetapi juga membawa dampak positif bagi alam dan masyarakat.

Kejutan Manis: Menjadi Finalis di Antara 350 Peserta

Tanggal 2 September menjadi hari yang penuh kejutan bagi kami. Dari sekitar 350 kelompok yang mendaftar, kami diumumkan sebagai salah satu dari lima finalis dengan proposal terbaik! Sungguh sebuah pencapaian yang tidak terduga, terutama mengingat waktu persiapan kami yang sangat singkat—hanya dua hari. Namun, berkat kerja keras dan dukungan penuh dari teman-teman kantor, khususnya Ibu Fitry dan Kak Tika, kami berhasil mencapainya.

Menjadi finalis tentu bukan akhir dari perjalanan kami. Kami harus mempersiapkan presentasi yang akan dibawakan di depan juri pada 11 September. Waktu yang tersisa kami manfaatkan untuk menyusun materi dan berlatih agar dapat menyampaikan ide kami dengan baik dan meyakinkan.

Para peserta dan para penonton yang datang memenuhi aula UNIPA
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Antusiasme mahasiswa dan mahasiswi yang hadir untuk menyaksikan kegiatan ini sangat luar biasa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Hari Penentuan: Presentasi di Hadapan Juri

Akhirnya, tibalah hari yang dinanti-nantikan, 11 September. Tim kami diwakili oleh Jennifer Maleke untuk mempresentasikan proposal bisnis kami di hadapan juri dan audiens, setelah empat finalis lainnya. Rasa gugup dan takut jelas kami rasakan, namun kami sudah berusaha sebaik mungkin dalam latihan. Dengan percaya diri, Jeniffer menyampaikan proposal kami dengan lancar dan jelas, seperti yang telah kami persiapkan selama beberapa hari terakhir.

Tanggapan dari juri dan audiens sangat positif. Meskipun tidak banyak pertanyaan yang diajukan, mereka sangat mengapresiasi konsep dan ide bisnis yang kami tawarkan. Dukungan yang kami terima membuat kami merasa semakin yakin bahwa apa yang kami tawarkan bukan sekadar proposal bisnis biasa, tetapi juga sebuah misi yang lebih besar.

Momen Terbaik: Menjadi Juara 2

Perjalanan singkat namun penuh makna ini memberikan pelajaran berharga bagi kami. Ide yang baik, meski dimulai dari hal kecil, bisa tumbuh menjadi sesuatu yang besar ketika dijalankan dengan semangat, kerja keras, dan dukungan dari orang-orang di sekitar. Kemenangan ini bukan hanya milik kami, tetapi juga milik setiap orang yang turut mendukung dan percaya pada kami.

Puncak acara Papedanomics jatuh pada 12 September, dengan pengumuman pemenang di Swissbel Hotel. Deg-degan rasanya saat nama-nama finalis disebutkan satu per satu. Ketika nama kami diumumkan sebagai juara kedua dari tiga proposal terbaik, perasaan bangga dan syukur tak bisa dibendung. Kami tidak hanya berhasil melewati tantangan, tetapi juga membuktikan bahwa ide kami dihargai dan diakui sebagai salah satu yang terbaik.

Dengan penghargaan ini, kami berharap dapat melanjutkan rencana bisnis kami, memberikan dampak sosial yang nyata, dan terus berkontribusi dalam pelestarian alam. Papedanomics hanyalah awal dari perjalanan panjang yang akan kami tempuh, dan kami sangat bersemangat untuk mewujudkan setiap langkah yang sudah kami rencanakan.

Jennifer yang sedang mempresentasikan amigurumi keychain kepada penonton dan dewan juri
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Penyerahan hadiah Juara Kedua dari tiga proposal terbaik kepada Jennifer
(Foto : BI Papua Barat)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Uncategorized @id

Pelajar Pancasila: Aksi Nyata dalam Menjaga Lingkungan dan Masa Depan

Pelajar Pancasila: Aksi Nyata dalam Menjaga Lingkungan dan Masa Depan

Penulis

Michael Tuhuteru

Tanggal

18 September 2024

Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) adalah inisiatif pendidikan yang bertujuan untuk membentuk generasi pelajar Indonesia yang memiliki karakter kuat sesuai nilai-nilai Pancasila serta siap menghadapi tantangan abad ke-21. Program ini tidak hanya menekankan pada aspek kognitif, tetapi juga mengembangkan karakter, sikap, dan identitas diri pelajar sebagai warga negara yang mandiri dan berkepribadian. P5 menekankan pentingnya keseimbangan antara pengetahuan akademik dan kecakapan hidup non-akademik, di mana peserta didik dilatih untuk mengalami pembelajaran secara langsung melalui metode berbasis proyek.

Kegiatan P5 di SMP Negeri 6 Manokwari dilaksanakan selama empat minggu berturut-turut pada bulan Agustus 2024, dengan fokus pada siswa kelas 9. Setiap minggunya, kegiatan penyuluhan diadakan dengan dukungan narasumber dan pendamping di masing-masing kelas 9A hingga 9I. Materi yang disampaikan setiap minggu mengangkat tema yang berkaitan dengan lingkungan dan keberlanjutan, mulai dari pengenalan ekosistem, ancaman terhadap sumber daya alam, hingga solusi konkret yang bisa dilakukan untuk menjaga alam, seperti pengolahan sampah organik.

Pertemuan di ruang meeting sekolah sebelum memulai semua aktivitas di sekolah bersama para narasumber, guru dan volunteer
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Salah satu narasumber dosen dari Universitas Papua yang sementara membawakan materi kepada para siswa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Pada minggu pertama, materi bertemakan “Mengenal Alam di Sekitar Kita” menyoroti pentingnya memahami ekosistem yang ada di sekitar siswa. Minggu kedua dilanjutkan dengan tema “Ancaman yang Dihadapi Sumber Daya Kita,” yang membahas dampak negatif aktivitas manusia terhadap lingkungan. Minggu ketiga mengangkat tema “Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Sumber Daya Alam Kita,” yang mengajak siswa berpartisipasi dalam menjaga lingkungan melalui tindakan sederhana, seperti penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Pada minggu terakhir, siswa diperkenalkan pada Teknik Pengolahan Sampah Organik untuk membuat pupuk kompos dan pupuk cair organik, yang bisa dimanfaatkan di rumah maupun sekolah.

Narasumber Universitas Papua yang sedang membawakan salah satu materi kepada siswa siswi di depan kelas
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Narasumber Universitas Papua yang sedang membawakan salah satu materi kepada siswa siswi di depan kelas
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Narasumber yang sedang membawakan ice breaking agar siswa tidak terlalu tegang dan bisa fokus ke materi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Para siswa yang sedang asik menikmati games ice breaking
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Untuk mengukur pemahaman siswa, setiap pertemuan disertai pre-test dan post-test yang dilakukan melalui aplikasi Kahoot. Hasil tes menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan. Beberapa kelas mengalami peningkatan besar pada post-test, meskipun ada juga kelas yang mengalami kendala teknis, seperti keterbatasan perangkat dan gangguan jaringan. Meskipun begitu, hasil umumnya menunjukkan keberhasilan kegiatan ini dalam meningkatkan pengetahuan siswa akan pentingnya menjaga lingkungan.

Siswa siswi yang sedang fokus mengikut games kahoot untuk bisa mendapatkan hadiah menarik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Penyerahan hadiah pemenang games kahoot oleh narasumber
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Dukungan dari pihak sekolah juga sangat berperan dalam kesuksesan kegiatan ini. Sekolah menyediakan sarana seperti proyektor dan kabel roll, serta konsumsi bagi para narasumber dan pendamping. Selain itu, tim pelaksana juga dibantu oleh volunteer yang turut mendampingi kegiatan di kelas, memastikan semua berjalan lancar dari awal hingga akhir.

Secara keseluruhan, kegiatan P5 di SMP Negeri 6 Manokwari ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa tentang pentingnya pelestarian lingkungan. Para siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga pengalaman praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kami berharap melalui kegiatan ini, mereka akan menjadi agen perubahan yang peduli terhadap kelestarian alam dan siap berkontribusi bagi kemajuan Indonesia yang mandiri, berdaulat, dan berkepribadian sesuai nilai-nilai Pancasila.

Sayuran sisa rumah tangga yang dibawa oleh siswa siswi dipotong kecil-kecil untuk dipakai membuat kompos
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Sayuran dan daun-daun kering dimasukan ke dalam ember sebagai wadah tempat pembuatan kompos
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Semangat para siswa siswi SMPN 6 Manokwari dalam membuat kompos
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Semangat para siswa siswi SMPN 6 Manokwari dalam membuat kompos
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Uncategorized @id

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi dan Informasi Seleksi Wawancara KP2, TLP2 dan TMP2 Tahun 2024

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi dan Informasi Seleksi Wawancara KP2, TLP2 dan TMP2 Tahun 2024

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Administrasi. Dari hasil seleksi administrasi tersebut 24 Orang pada posisi Koordinator Pantai Peneluran (KP2), 70 Orang pada posisi Tenaga Lapangan Pantai Peneluran (TLP2), dan 13 Orang pada posisi Tenaga Magang Pantai Peneluran (TMP2) dinyatakan LULUS. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri Tahap SELEKSI WAWANCARA. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Wawancara dilaksanakan secara online melalui zoom pada tanggal 20-21 Maret 2024

2. Peserta diharapkan memperhatikan room, tanggal dan jam wawancara dengan cermat

3. Peserta diharapkan telah hadir 10 menit sebelum waktu wawancara di ruang zoom yang telah disediakan (link zoom menyusul)

4. Teknis pelaksanaan wawancara akan disampaikan melalui WAG sehingga pastikan Anda telah tergabung dalam WAG yang diperoleh ketika mendaftar pertama kali

5. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya. Sampai bertemu di seleksi selanjutnya.

Catatan :

Pelamar KP2: cek di halaman 1

Pelamar TLP2 : cek di halaman 2-4

Pelamar TMP2 : cek di halaman 5

Kategori
Uncategorized @id

Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Dana Hibah BAF untuk Mitra Penerima Dana Hibah di Manokwari

Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Dana Hibah BAF untuk Mitra Penerima Dana Hibah di Manokwari

Penulis

Noviyanti

Tanggal

22 Agustus 2023

“Pada pendanaan BAF Siklus 3 kami menerima pelatihan yang sama lewat Zoom; tapi yang sekarang (Pendanaan BAF Siklus 4), karena bertemu langsung kami jadi lebih mudah paham bagaimana melakukan pelaporan yang baik ungkap Deny Mampioper dari Yayasan Meos Papua Lestari. Deny adalah salah satu peserta “Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Dana Hibah Program Blue Abadi Fund” yang diselenggarakan di Hotel Triton, Manokwari.

Blue Abadi Fund (BAF) adalah dana perwalian konservasi yang dikhususkan untuk Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dan lembaga lokal untuk mengelola sumber daya kelautan mereka secara berkelanjutan melalui pendampingan dan penyaluran dana hibah. BAF memiliki 2 (dua) fasilitas penyaluran hibah, yaitu fasilitas Hibah Primary dan Hibah Kecil Inovasi. Apabila Sobat Lestari ingin tahu lebih banyak mengenai Blue Abadi Fund dapat mengunjungi website mereka di sini.

Perwakilan Mitra BAF melakukan praktek pembuatan form dan pencatatan keuangan pada template laporan keuangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Perwakilan Mitra BAF melakukan praktek pembuatan form dan pencatatan keuangan pada template laporan keuangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pada pendanaan BAF Siklus ke-4 ini, Yayasan KEHATI selaku administrator BAF mengundang perwakilan Mitra Penerima Hibah BAF Siklus 4 untuk mengikuti kegiatan “Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Dana Hibah Program Blue Abadi Fund”. Kegiatan ini bertujuan memastikan persamaan persepsi dan pemahaman mengenai pengelolaan program dan administrasi keuangan terkait dukungan pendanaan Blue Abadi Fund Siklus 4, baik pada tahap persiapan, pelaksanaan, hingga pelaporan. Perwakilan Mitra Penerima Hibah BAF yang diundang adalah: 1) LPPM UNIPA, 2) Perkumpulan Bentang Nusantara (BENTARA) Papua, 3) Kelompok Usaha Wisata Wadowun Beberin Aisandami, 4) Yayasan Pengelolaan Lokal Kawasan Laut Indonesia (Indonesia Locally Managed Marine Area–ILMMA), 5) Kelompok Pengelola Sasi Kampung Menarbu, dan 6) Yayasan Meos Papua Lestari (YMPL). Kegiatan dilaksanakan selama 3 hari, yaitu Jumat, Sabtu, Senin/ 11, 12, dan 14 Agustus 2023 di Hotel Triton, Manokwari.

Ibu Gita Gemilang selaku fasilitator sedang memberikan materi mengenai praktek pembuatan matrik capaian BAF
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menurut Gita Gemilang, Tim Leader BAF dari Yayasan KEHATI, pendampingan kepada institusi lokal di BLKB secara rutin dilakukan oleh Yayasan KEHATI selaku administrator BAF. Sebelum siklus Pendanaan BAF dimulai, Yayasan KEHATI selalu melakukan kegiatan Sosialisasi mengenai Program Hibah BAF, menyampaikan Arahan Prioritas dan Penyusunan Proposal kepada institusi lokal di wilayah BLKB yang melakukan kegiatan perlindungan dan pengelolaan berkelanjutan untuk menjamin kelestarian ekosistem BLKB. Institusi lokal yang ditargetkan berasal dari organisasi Masyarakat sipil Papua, organisasi nirlaba, kelompok masyarakat, organisasi keagaaman, lembaga pendidikan tinggi, lembaga penelitian universitas, dewan adat, dan lembaga terkait lainnya. Kemudian selama siklus pendanaan BAF, pendampingan dilakukan kepada Mitra Penerima Hibah BAF.

Ibu Dariani Matualage bersama Ibu Deasy Lontoh dari LPPM UNIPA sedang melakukan praktek pembuatan matrik capaian BAF
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kami dari Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA, selaku salah satu Mitra Penerima Hibah Primary BAF, menilai bahwa kegiatan rutin ini tetap memberikan manfaat kepada kami. Kami mencatat beberapa hal-hal penting yang disampaikan oleh para fasilitator yang dapat kami gunakan untuk perbaikan pelaksanaan dan pelaporan program, serta pencatatan dan pelaporan keuangan yang akan kami terapkan di siklus ini. Dalam beberapa diskusi dengan mitra penerima hibah BAF, kami memanfaatkan kesempatan ini untuk berbagi cerita dan pengalaman terkait pengelolaan program dan pelaporan keuangan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Uncategorized @id

Pengumuman Penundaan Hasil Seleksi Wawancara Tahun 2023

Pengumuman Penundaan Hasil Seleksi Wawancara Tahun 2023

Karena banyaknya kandidat yang kami seleksi, proses seleksi wawancara MASIH BERLANGSUNG. Untuk itu kami MENUNDA pengumuman hasil seleksi wawancara menjadi 23 Maret 2023.

Pengumuman Hasil Seleksi Wawancara DITUNDA menjadi tanggal 23 Maret 2023.

Kami berharap para pelamar bersabar menunggu hasil seleksi wawancara dari kami. Terima kasih atas pengertiannya.

PosisiLaki-lakiPerempuanDomisili Tanah PapuaDomisili luar Tanah PapuaTotal
KP2Jumlah total berkas masuk3618193554
KP2Jumlah kandidat lolos seleksi tahap 171538
KP2Jumlah kandidat yang hadir dalam wawancara71538
TLP2Jumlah total berkas masuk60554570115
TLP2Jumlah kandidat lolos seleksi tahap 1187111425
TLP2Jumlah kandidat yang hadir dalam wawancara164101020
TMP2Jumlah total berkas masuk1924182543
TMP2Jumlah kandidat lolos seleksi tahap 12318172441
TMP2Jumlah kandidat yang hadir dalam wawancara1510151025
PMNHJumlah total berkas masuk2646403272
PMNHJumlah kandidat lolos seleksi tahap 11330162743
PMNHJumlah kandidat yang hadir dalam wawancara825161733

Jumlah total berkas masuk: 284
Jumlah kandidat lolos seleksi tahap 1: 117
Jumlah kandidat yang hadir dalam wawancara: 86