Perempuan dalam Rantai Ekonomi Perikanan Lokal

Penulis

Jeniffer Maleke, Marthinus Rumere, Arnoldus Ananta

Tanggal

7 Agustus 2025

Di Kampung Deer, Distrik Kofiau, Raja Ampat, ada satu nama yang hampir dikenal semua orang. Ialah Mama Ance Watem, perempuan tangguh, bersuara lantang, penuh semangat, dan tak pernah ragu menyuarakan pendapatnya. Ia adalah perempuan yang menjalani berbagai peran sekaligus, dengan tanggung jawab besar di pundaknya.

Saat hari baru dimulai, Mama Ance sudah bersiap di ketinting kecil miliknya, perahu bermesin sederhana yang ia beli dari hasil kerja kerasnya sendiri. Ia turun melaut saat fajar dan kadang baru kembali ke kampung ketika matahari telah terbenam. Kalian pasti tidak percaya bahwa seorang perempuan membawa sebuah ketinting, tapi itu nyata. Tujuannya? Mencari ikan. Tangkapannya kadang untuk dikonsumsi keluarga, kadang untuk dijual. Akan tetapi, bukan itu saja yang membuatnya istimewa.

Mama Ance juga menjalankan peran penting sebagai salah satu plasma ikan hidup di kampung, yaitu perantara antara nelayan kampung dan kapal pengangkut ikan hidup (jolor) yang datang rutin, biasanya sebulan sekali. Ikan-ikan hasil tangkapan nelayan ditampung dalam keramba miliknya, lalu disalurkan ke kapal tersebut. Ia bertanggung jawab penuh atas kelancaran izin angkut ikan, kualitas ikan hidup yang diserahkan, dan proses negosiasi pembayaran. Jika ada ikan yang tak sesuai standar, Mama Ance pula yang harus bertanggung jawab. Namun, semua itu ia jalani dengan serius dan tanpa mengeluh.

“Plasma adalah orang yang mengurus izin angkut ikan ke kapal penadah. Kalau kedapatan ikan yang dibawa hasil bom atau potas, ikan akan dikembalikan dan plasma akan diberi teguran, kapal berikut tidak bisa membawa ikan, kunjungan setelahnya baru bisa bawa ikan lagi,” cerita Mama Ance dalam wawancara.

Foto Keramba
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Lebih dari itu, peran Mama Ance dalam pasar ikan hidup di Distrik Kofiau sangat penting. Ia bukan hanya penampung ikan di satu kampung. Di tingkat distrik, ia menjadi salah satu aktor penting yang menjaga kontinuitas pasokan ikan hidup dari Distrik Kofiau ke pasar yang lebih luas, terutama untuk komoditas bernilai tinggi seperti ikan kerapu. Keberadaannya memastikan bahwa nelayan di kampung-kampung kecil tetap bisa menjual hasil tangkapannya ke pembeli besar yang datang dari luar daerah. Sebagai perempuan yang aktif di posisi strategis ini, kehadiran Mama Ance juga berkontribusi pada stabilitas ekonomi kampung. Banyak nelayan kecil yang tidak memiliki akses langsung ke pembeli luar mengandalkan jasa dan kepercayaan yang ia bangun.

Sebagai seorang ibu tunggal, ia juga membesarkan anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Di sela aktivitasnya sebagai nelayan, ia juga merupakan petani kopra dan aktif dalam kegiatan sosial keagamaan. Ia menjadi pengasuh anak-anak PAR (Persekutuan Anak dan Remaja) di Sekolah Minggu dan menjadi pengurus PW (Persekutuan Wanita) di gereja

Waktunya terbagi antara laut, ladang, dan kegiatan sosial. Saat cuaca mendukung, ia akan turun ke laut, menangkap ikan dengan kail dan nelon (tali pancing) miliknya. Ikan-ikan yang ditangkap ditampung dalam tempat khusus yang dibuatnya dalam ketinting. Setelah sampai di darat, ia akan memisahkan ikan hidup yang ditangkapnya ke dalam keramba sederhana yang dibuat untuk menampung ikan sebelum kapal pengangkut masuk ke kampung. Ketika cuaca berubah dan laut tak bersahabat, Mama Ance akan memilih turun ke kebun, mengurus kopra sebagai sumber penghasilan utama keluarga.

“Kalau mancing biasanya ke ujung tanjung. Cari ikan dari pagi sampai siang baru pulang untuk masak. Kalau sudah lelah di laut, langsung ke kebun untuk cek lahan,” tuturnya.

Seorang ibu yang hendak pergi memancing ikan hidup
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Seorang ibu dalam perjalanan pulang ke kampung setelah melaut
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Mama Ance tidak dapat menangkap ikan setiap bulan. Ada saat ketika sedang lelah, ia hanya mampu mengurus ikan dari nelayan lain yang dibawa untuk dijual melalui perahu jolor yang merapat ke kampung. Melalui proses itu, ia tetap menjalankan tugasnya sebagai plasma, walau tak selalu ada ikan miliknya yang terjual.

Menjadi plasma bukan hal yang umum bagi perempuan di banyak tempat. Namun, Mama Ance menunjukkan bahwa kepercayaan, keberanian, dan relasi baik dengan masyarakat bisa membuka ruang bagi perempuan untuk terlibat aktif dalam ekonomi kelautan. Perannya tidak hanya soal mengangkut ikan, ia adalah salah satu simpul penting dalam jaringan perdagangan ikan hidup di kampung. Ia tahu kapan kapal datang, tahu siapa yang punya tangkapan bagus, dan tahu bagaimana memastikan semua nelayan mendapatkan bayaran yang layak. Ia menjadi bukti bahwa perempuan punya tempat penting dalam rantai ekonomi lokal, meskipun seringkali tak terlihat di permukaan.

Cerita Mama Ance bukan sekadar kisah tentang laut atau hasil tangkapan. Ini adalah cerita tentang ketekunan seorang perempuan dalam menghadapi tantangan, mengisi ruang-ruang yang kerap didominasi laki-laki, dan menjadi figur yang dipercaya oleh banyak orang. Perjalanan Mama Ance mengajarkan kita satu hal penting bahwa pemberdayaan tidak selalu harus datang dari luar. Terkadang, ia tumbuh dari dalam, dari seorang perempuan yang bekerja dengan hati, membangun relasi, dan menggerakkan ekonomi lokal dengan cara-cara yang mungkin sederhana, tapi berdampak nyata.

Berita Lainnya