Kategori
Uncategorized @id

Pengumuman Lulus Seleksi Tahap 2 Calon Pendamping Masyarakat (Periode Oktober-Desember 2019)

Pengumuman Lulus Seleksi Tahap 2 Calon Pendamping Masyarakat

(Periode Oktober-Desember 2019)

Pengelola kegiatan pemberdayaan masyarakat di Distrik Abun Kabupaten Tambrauw, telah melaksanakan tahap seleksi ke-2 yaitu Wawancara pada hari Senin, 23 September dari pukul 09.00-15.00 WIT di Kantor Divisi Pembangunan Berkelanjutan. Calon Pendamping Masyarakat yang mengikuti seleksi sebanyak 14 orang dan yang dinyatakan LULUS untuk lanjut pada seleksi pelatihan sebanyak 10 orang.

Silahkan download  daftar nama lolos seleksi di bawah ini :

Kami mengucapkan selamat kepada Sdr/i untuk lolos pada seleksi wawancara. Tahap selanjutnya Kami mengundang Sdr/i untuk hadir dan mengikuti kegiatan Pelatihan Pendamping Masyarakat yang akan dilaksanakan pada 25-27 September 2019 bertempat di Kantor Divisi Pembangunan Berkelanjutan. Kegiatan Pelatihan akan berlangsung mulai jam 09:00 – 17:00. Para peserta dimohon untuk berpakaian rapi dan sopan serta hadir 15 menit sebelum pelatihan dimulai.

WAKTU SELEKSI PELATIHAN

Tanggal 25-27 September 2019

Pukul 09.00-17.00 WIT

Sekretariat :
Center of Excellence for Sustainable Development in Papua
Jln.Brawijaya No.250 Makalew
Manokwari-Papua Barat

Narahubung :
Alberto T.Allo : 0812 3575 8357
Kartika Zohar : 0812 4765 9743

Kategori
Uncategorized @id

Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan di Bentang Laut Kepala Burung Papua Barat dengan World Bank Scorecard

Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan di Bentang Laut Kepala Burung Papua Barat dengan World Bank Scorecard

Kawasan Konservasi Perairan (KKP) di wilayah Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) Papua dan Papua Barat dibentuk dengan tujuan untuk melindungi dan melestarikan keanekaragaman hayati laut sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara berkelanjutan. Sejak Tahun 2009 evaluasi pengelolan KKP dilakukan secara rutin, sehingga dapat diketahui efektivitas pengelolaan KKP dalam mencapai tujuan pengelolaannya. Penilaian pengelolaan di wilayah BLKB selama ini dilakukan dengan menggunakan dua perangkat, yaitu Scorecard dari Bank Dunia (World Bank Scorecard) dan Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau Pulau Kecil (EKKP3K).

Penilaian ini dilakuan setiap tahun pada 9 KKP, yaitu KKPD Raja Ampat yang terdiri dari KKPD Teluk Mayalibit, KKPD Selat Dampier, KKPD Kepulauan Ayau, KKPD Kofiau-Pulau Boo dan KKPD Misool, KKPD Kaimana, KKPN SAP Waigeo Sebelah Barat, Taman Nasional TelukCenderawasih, dan Kawasan Taman Pesisir Jeen Womom (Abun, Tambrauw). Pada Tahun 2018, telah dilakukan penghitungan nilai World Bank Scorecard berdasarkan enam tahapan tersebut dengan melihat hasil pengelolaan EKKP3K yang telah dilakukan pada akhir Tahun 2018. Penghitungan ini dilakukan oleh tim dari UNIPA (Purwanto, Irman Rumengan, Dariani Matualage, Habema Monim) dan TNC (Awaludinnoer). Hasil dari penghitungan ini menunjukkan bahwa secara umum terjadi peningkatan skor penilaian, walaupun jika dilihat berdasarkan masing-masing tahap pengelolaan terdapat penurunan skor di beberapa KKP, yaitu pada tahapan konteks untuk Taman Nasional Teluk Cenderawasih dan KKPD Kofiau-Pulau Boo,  dan tahapan hasil untuk KKPD Selat Dampier.

(Oleh : Dariani Matualage, Purwanto, Irman Rumengan, Habema F. Monim)

[qode_button_v2 target=”_self” hover_effect=”” gradient=”no” text=”Post Sebelumnya” color=”#1e73be” hover_color=”#6d97bf” link=”https://science4conservation.com/lokakarya-penilaian-efektivitas-pengelolaan-kawasan-konservasi-perairan-di-bentang-laut-kepala-burung-papua/”]
Kategori
Uncategorized @id

Monitoring Kesehatan Karang di Taman Nasional Teluk Cendrawasih

Monitoring Kesehatan Karang di Taman Nasional Teluk Cendrawasih

Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) merupakan kawasan konservasi perairan di Bentang Laut Kepala Burung Papua, seluas 1,4 juta hektar dan terbesar kedua di Indonesia. TNTC ditetapkan pada tahun 2002 dan merupakan salah satu taman nasional  laut tertua di Indonesia. Monitoring kesehatan karang Teluk Cenderawasih dilaksanakan selama 10 hari  mulai tanggal 12 hingga 21 Juli 2018. Pelaksanaan kegiatan ini sedikit mundur dari jadwal yang direncanakan bulan Mei 2018 karena alasan teknis.

Wawan Mangile (TNC)

Foto : Wawan Mangile/TNC

Karang Yang Sehat - Wawan Mangile (TNC)

Foto : Wawan Mangile/TNC

Perjalanan RHM menggunakan kapal KM Gurano Bintang yang sekaligus menjadi base untuk tim selama kegiatan  ini berlangsung. Total site yang diambil datanya sebanyak 35 Site. Satu titik kontrol tidak diambil karena tidak mendapat izin dari pemilik hak ulayat dan masyarakat setempat.

Beberapa catatan yang menarik dari temuan tim monitoring adalah ;

Komunitas Ikan :

  • Hiu hanya  ditemukan  di 6 site  yaitu  : Pulau Yoop, Pulau  Roswar, Pulau  Anggrameos, Tanjung Mangguar, dan depan kampung Siren.
  • Shooling Ikan Kulit Pasir atau famili Naso spp., Kakap atau Lutjanidae. dan ikan lalosi atau Caesionidae ditemukan di site Anggrameos
  • Schooling Ikan Bubara spesies Caranx sexfasciatus atau big-eye trevally di lokasi Tanjung Warsumbin dan Caranx ignobilis atau giant trevally di Nutabar.

Komunitas Terumbu karang :

  • Masih maraknya penggunaan bom ikan, setidaknya ditemukan 4 bekas bom baru selama monitoring
  • Di beberapa lokasi ditemukan kompetisi antara alga, sponge dan karang
  • Ditemukan predasi karang dari bintang laut berduri atau COTs dan kerang Drupella tetapi dalam jumlah yang sedikit.
  • Secara umum penyakit karang belum mengancam ekosistem terumbu karang di TNTC
  • Pelanggaran zonasi, tim menemukan kapal wisata dan kapal nelayan yang masuk ke Zona Inti
[qode_button_v2 target=”_self” hover_effect=”” gradient=”no” text=”Post Sebelumnya” link=”https://science4conservation.com/monitoring-kesehatan-karang-di-kkpd-kepulauan-ayau-asia/” color=”#1e73be” hover_color=”#6d97bf”]
[qode_button_v2 target=”_self” hover_effect=”” gradient=”no” text=”Post Selanjutnya” link=”https://science4conservation.com/monitoring-kesehatan-karang-di-wayag-teluk-mayalibit-selat-dampier-kofiau/” color=”#1e73be” hover_color=”#6d97bf” margin=”0px 0px 0px 45px”]
Kategori
Uncategorized @id

Cerita Lapang Kegiatan Survei Sosial Masyarakat di Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Cerita Lapang Kegiatan Survei Sosial Masyarakat di Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Tanggal

1 Juli 2017

Penulis

Joice Pangulimang

Daerah Perlindungan Laut atau Marine Protected Area (MPA) adalah salah satu bentuk pengelolaan sumberdaya laut yang bertujuan untuk pengelolaan perikanan dan konservasi sumberdaya hayati. Dengan adanya MPA, maka sumberdaya laut dapat terpelihara dengan baik. Namun bagaimana dengan kesejahteraan penduduk yang tinggal di wilayah tersebut? Apakah MPA memberikan dampak yang baik bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat yang bermukim di sekitar wilayah MPA? Untuk menjawab pertanyaan- pertanyaan tersebut maka Universitas Papua (UNIPA) bekerjasama dengan WWF US pada tahun 2010-2016, dan tahun 2017 UNIPA bekerjasama dengan yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI) dalam rangka melaksanakan monitoring mengenai dampak sosial keberadaan MPA.

Monitoring sosial dilakukan sejak tahun 2010 hingga tahun 2017 di 6 MPA yaitu MPA Teluk Mayalibit, Selat Dampier, Kaimana, Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Kofiau dan Misool. Kegiatan monitoring ini mencakup tingkat pendidikan, ekonomi, kesehatan, pemberdayaan politik dan budaya masyarakat daerah pesisir. Pada tahun 2017 kembali dilakukan monitoring sosial di MPA Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) yang merupakan kerjasama antara UNIPA dan KEHATI, mencakup kondisi pendidikan, ekonomi, kesehatan, pemberdayaan politik dan budaya.

Survei sosial ini berlangsung selama 16 November sampai 21 Desember 2017 yang diikuti oleh 10 orang tim UNIPA yang terdiri dari 2 orang koordinator lapang dan 8 orang enumerator. Koordinator lapang adalah staf dari UNIPA sedangkan enumerator terdiri dari 1 orang mahasiswa dan 7 orang alumni. Ke-10 orang tersebut terbagi menjadi 2 tim yang masing-masing tim terdiri dari 5 orang. Tim pertama melakukan kegiatan di Kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten Nabire tepatnya di kampung Saribi, Supmander, Masyara, Wansra, Rawar, Pakreki, Yembepon Yembeba, Napan Yaur, Goni, Bawei, Yeretuar, Napan, Weinami dan Masipawa sela- ma lebih dari 4 minggu. Sedangkan tim kedua melakukan survei di kampung Dusner, Sasirei, Nanimori, Ambumi, Torey, Rasiei, Syeiwar, Yomber, Nordiwar, Waprak/Saref, Yomakan, Senebuay, Yariari, Iseren, Weititindau, Yembekiri I dan Yembekiri II.

Wawancara Oleh Tim BHS

Foto : Tim BHS Monitoring Sosial Unipa

Metode yang digunakan dalam survei ini adalah pendataan rumah tangga, sampling dan wawancara terhadap rumah tangga yang terpilih dalam sampling.

Dari pengamatan langsung di lapangan, gambaran sederhana yang dapat disampaikan adalah sebagaian besar masyarakat memilih melaut sebagai sumber pendapatan keluarga. Hal tersebut didukung oleh sumberdaya laut yang ada di sekitar tempat tinggal mereka. Sedangkan sebagian masyarakat lainnya memilih bertani/berkebun, buruh bangunan, pegawai negeri sipil dan pekerjaan lain yang menghasilkan upah.

Dari segi pendidikan, semua kampung sudah memiliki sekolah meskipun tenaga guru sangat terbatas atau kurang dari standar. Demikian halnya dengan pustu yang disediakan oleh pemerintah. Dengan kata lain, sudah tersedia pustu di setiap kampung dan puskesmas di setiap kecamatan tetapi masih terdapat sebagian pustu yang tidak memiliki tenaga medis dan puskesmas yang tidak memiliki dokter serta keterbatasan persediaan obat-obatan. Hal ini membuat masyarakat cukup kesulitan, terutama mereka yang tinggal di kampung Goni, Napan Yaur dan Bawei karena akses ke Kota Nabire sangat terbatas sehingga mereka tidak bisa mendapatkan perawatan dan pengobatan yang lebih baik.

Pengetahuan masyarakat tentang lingkungan pada setiap kampung survei, dapat dikategorikan cukup baik. Terbukti dari pernyataan mereka yang menyatakan tentang hal apa saja yang dapat merusak laut dan bagaimana cara untuk menjaga laut sehingga tidak rusak.