Kategori
New Template Outreach

Behind the Scene SCIPOD: Ketika Tiga Sudut Pandang Harus Jadi Satu Cerita

Behind the Scene SCIPOD: Ketika Tiga Sudut Pandang Harus Jadi Satu Cerita

Penulis

Abigail Lang

Tanggal

9 Juni 2026

Proses editing tidak bisa dilepaskan dari orang-orang yang duduk di depan kamera bersama kami: narasumber yang membawa cerita lapangan dan tim yang memastikan semuanya terekam dengan baik. Justru dari sanalah semua file mentah itu lahir.

Inilah yang saya pelajari ketika masuk dalam proses editing SCIPOD (Science Podcast). Dimulai pada akhir tahun 2025 di Sains untuk Konservasi, SCIPOD menjadi salah satu sarana pembicaraan tentang ilmu, cerita lapang, dan data yang disampaikan dengan lebih hidup. Tujuannya, yaitu menceritakan banyak hal yang dihadapi di balik dunia kerja konservasi.

Sebelum sampai pada tahap itu, ada ritual kecil yang selalu terjadi sebelum rekaman dimulai. Saya akan melempar pertanyaan ke sana-sini. Saya bukan sebagai bos yang memberi perintah, tetapi sebagai rekan yang tahu bahwa tanpa mata dan tangan tim, semuanya bisa berantakan.

“Mas, tolong lihat microphone sudah tersambung belum?” tanyaku pada Mas Sesar, yang selalu jadi orang pertama yang diandalkan untuk urusan teknis.

“Li, itu di 3 kamera POV coba lihat, sudah sesuai grid-nya?” tanyaku pada Liya, yang matanya sangat teliti untuk memastikan komposisi kamera tidak melenceng.

Lalu aku pun bertanya pada rekan satunya lagi, Kei, yang cukup detail untuk urusan perlengkapan pendukung. “Kei, baterai tab untuk logo sudah aman?”

Tanpa Mas Sesar, Liya, dan Kei, saya tidak akan bisa menjalankan ini sendirian. Di sisi lain, saya juga tidak pernah mencoba berpura-pura bisa.

Pengecekan posisi dan komposisi tiga kamera/handphone
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yulia Andriani)

Time keeper menyiapkan penanda durasi sesi rekaman.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Abigail Lang)

Jauh sebelum kamera menyala, ada banyak tangan yang telah lebih dahulu bekerja di balik layar. Kak Trisye dengan telaten menyusun jadwal bersama para narasumber, memastikan setiap pihak menemukan waktu yang selaras tanpa celah miskomunikasi. Sementara itu, Kak Novi dan Kak Yeni mendampingi kami sejak naskah masih berupa draf awal. Memberi masukan, menangkap bagian yang belum utuh, dan perlahan membentuknya menjadi versi yang lebih matang. Mereka adalah para koordinator yang mungkin tidak tampak di layar, namun tanpanya, apa yang akhirnya terlihat tak akan pernah terwujud.

Podcast ini direkam menggunakan tiga sudut kamera sekaligus—tiga sudut pandang, tiga perspektif, dan tiga berkas video dengan ukuran yang dapat mencapai gigabita.

Di antara semua itu, ada satu hal yang tidak boleh luput dari perhatian sebelum rekaman bahkan dimulai: baterai mikrofon. Mikrofon harus dipastikan punya daya yang cukup untuk merekam dari awal sampai akhir. Suatu waktu, pernah terjadi error pada proses perekaman podcast. Kualitas suara bermasalah di tengah rekaman yang sedang berjalan. Itu bukan sekadar gangguan teknis kecil. Sesi harus dihentikan. Suasana yang sudah terbangun menjadi buyar dan semua orang harus mengulang dari awal. Sejak saat itu, mengecek baterai mikrofon menjadi tahapan wajib yang tidak pernah kami lewatkan.

Selama proses rekaman berlangsung, ada satu peran lain yang sering luput dari perhatian, yaitu time keeper. Di balik kamera, menuliskan sisa waktu—10 menit lagi, 5 menit lagi, atau waktu hampir habis. Tanpa perlu memotong percakapan, tanda sederhana itu membantu host dan narasumber menjaga ritme diskusi agar tetap berjalan sesuai alur yang telah direncanakan. 

Proses perekaman audio selama sesi podcast SCIPOD.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Abigail Lang)

Persiapan peralatan dokumentasi dan produksi.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Barulah setelah rekaman selesai, tantangan berikutnya dimulai.

Sebelum proses penyuntingan benar-benar dimulai, seluruh berkas tersebut perlu dikonversi ke format yang memungkinkan kolaborasi tim. Setelah semua file siap, barulah Filmora dibuka.

Di sinilah tantangan sesungguhnya terasa. Timeline yang terbuka di depan layar bukan sekadar deretan klip, melainkan tiga versi realita yang harus dirangkaikan menjadi satu alur yang enak ditonton. Setiap kali narasumber atau host berbicara, saya harus memutuskan, kamera siapa yang seharusnya tampil sekarang? POV mana yang paling tepat untuk momen ini?

Memotong di titik yang pas itu tidak sesederhana yang terdengar. Membuka frame di timeline harus benar-benar ngena. Terlalu cepat terasa patah, terlalu lambat terasa bertele-tele. Belum lagi soal set ruangan yang harus konsisten dari satu kamera ke kamera lain, supaya penonton tidak merasa sedang berpindah-pindah tempat setiap kali sudut berganti.

Proses penyuntingan episode menggunakan Filmora.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Proses editing tidak berhenti pada video yang selesai dipotong dan disusun. Ujung dari semua pekerjaan ini adalah konten yang bisa menjangkau orang. Oleh karena itu, kami juga membuat materi iklan yang dirancang khusus untuk Instagram dan TikTok. Tujuannya, supaya orang yang melihatnya penasaran, lalu bergerak menonton versi lengkapnya di YouTube atau mendengarkan di platform podcast.

Dari file mentah bergiga-giga hingga satu konten iklan yang siap tayang, itulah perjalanan panjang yang terjadi jauh setelah rekaman selesai dan jauh sebelum episode benar-benar sampai ke telinga pendengar.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Training New Template

Pelatihan Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang

Pelatihan Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang

Penulis

Liana Mongdong

Tanggal

25 Juni 2026

Pelatihan Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang telah dilaksanakan pada 19–20 Mei 2026 di Pantai Jeen Syuab dan 26–27 Mei 2026 di Pantai Jeen Yessa. Kedua lokasi tersebut berada di kawasan Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya. Pelatihan ini merupakan bagian dari kegiatan yang didukung oleh beberapa mitra dan donor, termasuk program TFCCA. Program TFCCA (Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act) merupakan program kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat yang didukung oleh Konservasi Indonesia (KI) serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dalam upaya mendukung konservasi ekosistem terumbu karang dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Melalui program ini, berbagai kegiatan konservasi dan pemberdayaan masyarakat dilaksanakan, termasuk penguatan kapasitas tenaga lapangan dalam mendukung upaya perlindungan ekosistem pesisir.

 

Pada umumnya, pelatihan bagi tim pelaksana program pemantauan penyu dan perlindungan sarang diselenggarakan di Manokwari. Namun, pada musim ini sebagian besar tenaga lapangan yang direkrut merupakan tenaga lokal yang berasal dari kampung-kampung di sekitar Pantai Jeen Syuab dan Pantai Jeen Yessa. Oleh karena itu, pelatihan dilaksanakan langsung di lokasi pantai peneluran agar lebih mudah menjangkau peserta, sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka untuk belajar dan berlatih secara langsung di lapangan sesuai dengan kondisi kerja yang akan dihadapi selama program berlangsung. 

Selain Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang, dua perwakilan dari Tim Outreach, serta Koordinator Tim Humas, kegiatan ini juga dihadiri oleh masyarakat setempat, pemilik hak ulayat, perwakilan pemerintah desa, dan perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tambrauw.

Pada Sabtu, 16 Mei 2026, tim program berangkat dari Manokwari menuju pantai peneluran menggunakan Kapal Sabuk Nusantara (Sanus) 112. Setelah menempuh perjalanan hampir 24 jam, tim beristirahat selama satu hari di Kampung Wau sebelum mempersiapkan pelatihan di Pantai Jeen Syuab pada Senin, 18 Mei 2026.

Untuk mendukung pelaksanaan pelatihan, Sains untuk Konservasi menghadirkan sejumlah pemateri yang kompeten sesuai bidangnya. Materi pelatihan disampaikan oleh Deasy Lontoh sebagai Koordinator Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang; Yairus Swabra, Arfiandra Andika Wanaputra, dan Petrus Batubara sebagai Asisten Koordinator Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang; serta Elisa Secsio Hendra Putra sebagai Asisten Koordinator Produk Informasi. Selain penyampaian materi teknis, peserta juga menerima sosialisasi dari Abraham Leleran selaku Koordinator Humas dan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tambrauw.

Peserta mengisi pre-test.
(Foto : S4C_LPPM UNPA/Liana Mongdong)

Sosialisasi dari Humas Sains untuk Konservasi.
(Foto : S4C_LPPM UNPA/Liana Mongdong)

Dalam kedua pelatihan tersebut, tenaga lapangan lokal dan non lokal yang bertugas di pantai peneluran mengikuti pre-test sebelum pelatihan dan post-test pada akhir kegiatan. Tes ini dilakukan untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan selama pelatihan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 94% dari 35 tenaga lapangan yang mengikuti kedua tes tersebut mengalami peningkatan pemahaman berdasarkan perbandingan nilai pre-test dan post-test. Selain tenaga lapangan, sejumlah masyarakat setempat juga turut mengikuti beberapa sesi materi dan sosialisasi, termasuk sosialisasi PADIATAPA.

Pelatihan Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang di Jeen Syuab yang dilaksanakan di Pantai Wermon, diawali dengan sesi perkenalan antarpeserta. Sesi ini bertujuan membangun kebersamaan sekaligus memperkuat koordinasi tim. Setelah itu, peserta mengikuti sosialisasi dari Humas, kemudian menerima materi untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengenali jenis-jenis penyu, melakukan identifikasi penyu di lapangan, serta memahami berbagai ancaman terhadap penyu di habitat alaminya.

Rangkaian kegiatan pada hari kedua mencakup pemaparan materi Pengenalan Teknik Dokumentasi, Praktik Pemindahan Sarang, Evaluasi sarang, dan Patroli Pagi. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembahasan program kerja serta sosialisasi dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tambrauw. Pada malam hari, peserta melaksanakan praktik patroli malam sebagai bentuk penerapan pengetahuan yang telah diperoleh selama pelatihan.

Pemaparan program kerja.
(Foto : S4C_LPPM UNPA/Liana Mongdong)

Setelah pelatihan di Jeen Syuab selesai, tim melanjutkan perjalanan menuju Jeen Yessa untuk mempersiapkan pelaksanaan pelatihan berikutnya. Di lokasi ini, kegiatan hari pertama berlangsung lebih singkat karena menyesuaikan waktu kedatangan tenaga lapangan lokal yang harus menempuh perjalanan dari kampung menggunakan perahu. Usai sesi perkenalan yang dimulai pada siang hari, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi dari Humas, penyampaian materi tentang pengenalan jenis-jenis penyu dan berbagai ancamannya, serta praktik pelaksanaan patroli malam.

Materi Mengenal Penyu oleh Deasy Lontoh.
(Foto : S4C_LPPM UNPA/Liana Mongdong)

Keesokan harinya, peserta menerima materi tentang Teknik Dokumentasi dan Identifikasi Penyu, kemudian mengikuti praktik Perlindungan Sarang, Evaluasi dan Selokasi Sarang, serta praktik Patroli Pagi. Seluruh rangkaian kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas tenaga lapangan lokal dalam mendukung pemantauan dan perlindungan penyu secara berkelanjutan.

Materi Patroli Pagi oleh Yairus Swabra.
(Photo: S4C_LPPM UNPA/Liana Mongdong )

Materi Relokasi Kandang dan Evaluasi oleh Petrus Batubara.
(Photo: S4C_LPPM UNPA/Maurens Sundoy )

Penguatan kapasitas tersebut menjadi langkah penting dalam mendukung konservasi penyu, khususnya penyu belimbing. Selain memperkuat keterampilan teknis di lapangan, kegiatan ini juga mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian sumber daya pesisir di kawasan Taman Pesisir Jeen Womom bagi generasi mendatang.

 

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Outreach

Menjadi Host SCIPOD: Ketika Cerita Lapangan Datang Sendiri

Menjadi Host SCIPOD: Ketika Cerita Lapangan Datang Sendiri

Penulis

Abigail Lang

Tanggal

5 Juni 2026

Ada hal-hal yang tak sepenuhnya bisa ditangkap oleh naskah, sebaik apa pun itu ditulis. Emosi yang sesungguhnya seperti rasa terkejut, tawa yang lepas, atau jeda kecil sebelum seseorang menjawab, hanya benar-benar hadir ketika dua orang duduk berhadapan dan saling berbicara.

Inilah yang saya pelajari setiap kali duduk sebagai host untuk SCIPOD (Science Podcast). Dimulai pada akhir tahun 2025 di Sains untuk Konservasi, SCIPOD menjadi salah satu sarana pembicaraan tentang ilmu, cerita lapang, dan data yang disampaikan dengan lebih hidup. Tujuannya, yaitu menceritakan banyak hal yang dihadapi di balik dunia kerja konservasi.

Dari beberapa percakapan yang mengalir di SCIPOD, ada momen-momen kecil yang tertinggal dan membekas.

Recording podcast episode 2 bersama Kak Habema Monim
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yulia Andriani)

Recording podcast episode 4 bersama Kak Kesy Salosso
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yulia Andriani)

Di episode ini, saya berbincang dengan Kak Bema sebagai narasumber yang bercerita tentang metode Reef Health Monitoring (RHM). Di atas kertas, prosesnya terdengar rapi dan terukur: penyelam turun, foto diambil, fakta dan kondisi di lapangan dikumpulkan. Namun, di balik alur yang tampak sistematis itu, selalu ada kejadian-kejadian tak terduga di lapangan.

Ada satu cerita yang sebelumnya tidak saya ketahui. Frame, alat bantu dalam pengambilan foto transek, pernah jatuh ke dasar laut. Di tengah penyelaman, pada kedalaman yang tak memungkinkan seseorang berlama-lama, alat itu terlepas dan tenggelam.

Saya tak perlu bertanya banyak. Cara Kak Bema menceritakannya sudah cukup menggambarkan semuanya. Ada sisa rasa kesal yang kini mulai reda, bercampur dengan tawa yang akhirnya bisa muncul setelah semuanya berlalu. Begitulah kerja di lapangan. Tidak selalu berjalan sesuai rencana, bahkan untuk hal-hal yang tampak sederhana. Dari laut, percakapan kemudian membawa saya ke darat, ke cerita yang tak kalah menantang, meski bentuknya sangat berbeda.

Pada episode selanjutnya, saya berbincang dengan Kak Kesy sebagai narasumber. Pada sesi ini Kak Kesy membawa saya pada cerita tentang pemantauan kesejahteraan masyarakat melalui survei. Sekilas, pekerjaan ini mungkin terlihat seperti “sekadar bertanya”. Namun dari cerita Kak Kesy, saya mulai memahami bahwa kenyataannya jauh lebih kompleks.

Di balik setiap pertanyaan, ada waktu, tenaga, dan kesabaran yang tidak sedikit. Untuk satu kali wawancara dengan satu responden, waktu yang dibutuhkan bisa mencapai empat puluh menit, bahkan hingga satu jam. Satu orang, satu sesi, satu jam penuh. Dan pekerjaan tidak berhenti di situ. Setelah selesai di satu kampung, tim harus melanjutkan ke kampung berikutnya, membawa tumpukan kuesioner, menempuh jarak yang tidak selalu mudah, dan menghadapi kondisi yang sering kali tak terduga.

Saat mendengarkan cerita itu, saya membayangkannya pelan-pelan. Tiba-tiba, angka-angka dalam laporan survei terasa memiliki bobot yang berbeda, lebih hidup, sekaligus lebih berat. Dari sanalah saya mulai melihat bahwa apa yang kita temui hari ini sering kali merupakan hasil dari proses panjang yang jarang terlihat.

Podcast episode 6 bersama Kak Kartika Zohar
Source: Youtube – Science4conservation

Di podcast episode keenam, yaitu perbincangan dengan Kak Tika sebagai narasumber, dia berbicara tentang berbagai inovasi yang bisa dikembangkan di kampung. Bagi saya, kata “inovasi” terdengar segar dan penuh harapan. Namun, ada cerita di baliknya yang membuat saya sejenak terdiam. Inovasi ternyata tidak lahir begitu saja. Hal tersebut tumbuh dari proses yang panjang.

Jauh sebelum inovasi-inovasi itu berjalan, kampung-kampung itu telah lebih dulu dipelajari melalui survei. Bukan baru kemarin, melainkan sejak tahun 2010. Ibu Fitry dan Ibu Haidi sudah hadir sejak saat itu. Memahami kondisi lapangan dan membangun dasar yang kuat, bahkan sebelum program ini memiliki bentuk seperti sekarang. Inovasi yang hari ini tampak baru, sesungguhnya tumbuh dari rentetan waktu, lebih dari satu dekade kerja yang sering kali tidak terlihat.

Dari semua percakapan itu, saya semakin memahami satu hal. Di balik setiap lembar evaluasi, program, dan hasil yang kita lihat hari ini, selalu ada cerita manusia yang menyertainya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Lowongan Kerja Lowongan Kerja New Template

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Kedua PMNH Periode Kedua Tahun 2026​

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Kedua PMNH Periode Kedua Tahun 2026

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah mengikuti tahap seleksi wawancara Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) pada tanggal 22 Januari 2026. Berikut kami sampaikan nama-nama yang pelamar yang telah LOLOS Seleksi Tahap 2. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

1. Daftar nama tersebut akan dihubungi secara personal untuk datang tanda tangan kontrak di
kantor pada hari Rabu, 17 Juni 2026.

2. Pelaksanaan Training akan dilakukan di kantor Sains untuk Konservasi di Manokwari, Papua
Barat.

3. Kandidat pelamar PMNH diundang ke Manokwari untuk mengikuti Training yang akan
dilaksanakan pada tanggal 17-19 Juni 2026.

4. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836.

Sampai bertemu di Manokwari!

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring New Template

“Setuju Sekali!”: Awal Mimpi Om Jen untuk Menjaga Laut Namatota

“Setuju Sekali!”: Awal Mimpi Om Jen untuk Menjaga Laut Namatota

Penulis

Habema Monim

Tanggal

09 Juni 2026

“Ma… kalau saya jadi dive master dan jadi dive guide, Mama setuju kah tidak?”
“Setuju sekali!”

Itulah sepenggal percakapan hangat antara sepasang suami istri di sebuah rumah sederhana di pesisir Kampung Namatota, Kaimana. Percakapan yang menjadi awal dari sebuah mimpi besar.

Selama lima hari, pada 15 – 19 April 2026, saya bersama tim melaksanakan kegiatan monitoring kesehatan karang atau yang dikenal sebagai Reef Health Monitoring (RHM) di perairan sekitar Kampung Namatota. Tim kami terdiri dari empat tenaga ahli dan lima tenaga lokal. Salah satu  tenaga lokal adalah Jen, yang akrab disapa Om Jen.

Om Jen saat terlibat dalam briefing tim
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Foto bersama om Jen dan tim RHM
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Om Jen merupakan salah seorang penyelam dari kelompok POKDARWIS (Kelompok Sadar Wisata) yang dibentuk di Kampung Namatota. Ini adalah pertama kalinya ia terlibat dalam kegiatan RHM (Reef Health Monitoring). Pengalaman tersebut memberinya banyak pelajaran baru, meskipun tidak tanpa tantangan.

“Awalnya saya takut salah,” ujar Om Jen. “Saya juga masih takut menyelam di tempat baru, apalagi yang dalam dan ada gua. Tapi justru itu jadi pengalaman yang baik untuk saya.”

Rasa takut itu perlahan berubah menjadi semangat belajar. Saat saya menanyakan harapannya ke depan, Om Jen menyampaikan keinginannya dengan penuh antusias. “Pertama, saya ingin menyelam lebih baik lagi, karena saya rasa masih kurang,” ujarnya. “Saya juga lihat kakak-kakak pegang kamera, foto dan video di bawah laut. Saya ingin ke depan bisa begitu juga, bisa mendokumentasikan keindahan bawah laut Namatota.”

Om Jen saat membantu tim dalam pengisian tabung
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Om Jen saat bersiap untuk melakukan penyelaman
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Ia juga menceritakan pengalamannya saat menyelam bersama salah satu anggota tim. “Selama menyelam, saya selalu buddy dengan Kakak Bema. Dia selalu pegang papan tulis, ada kertas dan di kertas itu ada tulisan tapi ada kotak-kotak juga di dalamnya, lalu Kakak Bema selalu mencatat. Saya sering intip dari belakang dan penasaran, apa yang dicatat. Jadi, saya juga ingin bisa belajar mencatat data seperti itu. Sekarang saya memang hanya gulung-gulung transek saja, tapi kalau ada RHM lagi, saya tidak hanya lihat-lihat lagi, tidak gulung-gulung transek saja tapi bisa ikut ambil data.”

Lebih dari itu, Om Jen memiliki cita-cita yang besar, yaitu menjadi seorang dive master bersertifikat resmi. Baginya, sertifikasi bukan hanya sekadar pengakuan, tetapi juga sebuah peluang. “Kalau saya sudah punya sertifikat, saya bisa jadi guide, bisa foto-foto bawah laut, bisa ambil data. Kalau ada kapal wisata datang, saya juga bisa ikut sebagai guide.”

Saat ditanya pesannya untuk rekan-rekan lain di kampungnya, Om Jen menjawab dengan tegas namun penuh harapan. “Jangan jadi penonton saja. Ini tempat kita, ini laut kita. Kakak-kakak yang datang ini membantu mengangkat potensi tempat kita. Setelah itu, tugas kita yang kelola. Jadi mari kita belajar dari pengalaman yang ada dan bergerak maju.”

Om Jen saat membantu tim memasang transek pengamatan
(Foto : BBTNTC/Mulyadi)

Om Jen saat membantu tim memasang transek pengamatan
(Foto : BBTNTC/Mulyadi)

Di akhir percakapan, Om Jen kembali mengingat momen sederhana yang justru menjadi sumber motivasi terbesarnya. “Satu kali saya duduk di teras rumah dengan maitua (istri). Lalu saya tanya, Ma… kalau saya jadi dive master dan jadi guide, mama setuju kah tidak? Dan dia jawab, setuju sekali!”. Jawaban singkat itu menjadi dorongan besar bagi Om Jen untuk terus melangkah, mengejar mimpi, dan tumbuh bersama laut yang telah menjadi bagian dari hidupnya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Lowongan Kerja Lowongan Kerja New Template

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Pertama PMNH Periode Kedua Tahun 2026

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Pertama PMNH Periode Kedua Tahun 2026

 

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Tahap Pertama. Dari hasil seleksi tersebut 20 pelamar dinyatakan LULUS. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri tahap seleksi selanjutnya, harap diperiksa dengan saksama. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Wawancara dilaksanakan secara offline (bagi yang berdomisili di Manokwari) atau online (bagi
yang berdomisili di luar Manokwari) melalui zoom pada hari Selasa, 09 Juni 2026.

2. Peserta diharapkan telah hadir 10 menit sebelum waktu wawancara (link zoom dan waktu
menyusul).

3. Teknis pelaksanaan wawancara akan disampaikan melalui WAG sehingga pastikan anda telah tergabung dalam WAG yang diperoleh ketika mendaftar pertama kali.

4. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Mengajar: Sebuah Profesi yang Berdenyut di Ruang Hati

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Mengajar: Sebuah Profesi yang Berdenyut di Ruang Hati

Penulis

Thomas Sembai

Tanggal

16 Mei 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Tambrauw, sebuah wilayah dengan visualisasi pegunungan, perbukitan, lembah yang elok, hutan, sungai panjang berkelok, serta lautan dan garis pantai panjang yang merupakan habitat penyu. Di pesisir Pantai Abun terdapat dua kampung kecil, tempat suara ombak dan angin menjadi lagu sehari-hari. Keduanya dipisahkan jalan setapak: bagian barat Kampung Wau, bagian timur Kampung Weyaf. Meski berbeda nama, masyarakatnya hidup berdampingan dan terhubung erat. Kedua kampung ini terletak di teluk yang berhadapan dengan laut, dengan kehidupan yang bergantung pada hasil alam yang melimpah, tanpa listrik, serta fasilitas pendidikan dan kesehatan yang terbatas.

Di antara kedua kampung itu berdiri sebuah rumah sederhana berdinding setengah tembok dan papan. Setiap sore rumah itu ramai oleh anak-anak. Rumah itu bukan sekolah resmi, tanpa seragam, lonceng, maupun ijazah. Namun, di sanalah pendidikan tumbuh dan memberi harapan bagi masa depan anak-anak.

Rumah sederhana itu dikenal sebagai rumah belajar, sarana pendidikan bagi anak-anak. Setiap sore mereka berkumpul untuk belajar dengan suasana santai dan menyenangkan. Kegiatan diawali dan diakhiri dengan doa bersama. Materi yang dipelajari meliputi baca-tulis, hitung, Computer-English (COMENG), pendidikan lingkungan hidup (PLH), serta ekstrakurikuler. Rumah belajar ini juga dilengkapi perpustakaan mini. Di sana, tidak ada rasa takut salah. Anak-anak bebas bertanya dan berdiskusi tentang hal-hal yang mereka temui setiap hari.

Thomas Sembai diberikan kesempatan untuk mengajar di sekolah

(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Anak-anak belajar cara melindungi sarang penyu dalam praktik PLH Penyu

(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

 

Di kampung, anak-anak dan orang tua lebih mengenal kami sebagai “guru”, meskipun peran kami adalah PMNH (Pendamping Masyarakat dan Narahubung). Karena itu, bersama Ottow, Titin, dan saya membagi tugas serta jadwal mengajar dari Senin hingga Sabtu. Adapun kelas dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelas kecil yang terdiri dari anak-anak SD kelas 1-2 yang diajarkan oleh Titin, kelas sedang yang terdiri dari anak-anak SD kelas 3-4 yang diajarkan oleh saya, dan kelas besar yang terdiri dari anak-anak SD kelas 5-6 yang diajarkan oleh Ottow. Jadwal pembelajaran yang diajarkan adalah hari Senin baca-tulis, Selasa hitung, Rabu Computer-English, Kamis pendidikan lingkungan hidup (PLH penyu dan PLH series 1-3 setiap akhir bulan), Jumat review materi, dan Sabtu ekstrakurikuler (apotek hidup, perpustakaan keliling, mencuci tangan, menggosok gigi, dan makan bersama). Kami tidak hanya mengajar di rumah belajar saja, melainkan kami juga diberikan kesempatan untuk mengajar di sekolah sesuai jadwal yang sudah ditetapkan.

Dalam proses pembelajaran, banyak tantangan yang dialami, seperti menemukan karakter anak-anak yang berbeda, banyak anak-anak yang ikut orang tua pergi dulang emas saat libur, dan membantu orang tua mencari nafkah yang membuat mereka tidak hadir di rumah belajar. Setiap sore, kami berkeliling kampung, menyapa dan mengajak anak-anak untuk datang ke rumah belajar dan mengikuti pembelajaran. Setiap kelas yang diajar rata-rata paling banyak anak-anak adalah delapan orang dan paling sedikit satu orang, walaupun dengan kondisi seperti itu pembelajaran tetap dilakukan terkecuali anak-anak tidak ada yang datang ke rumah belajar untuk ikut pembelajaran.

Mengajar anak-anak tentang Computer – English

(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Pendidikan Lingkungan Hidup Bulanan tentang Abiotik dan Biotik

(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Mengajar adalah panggilan hati, sebuah misi untuk menyalakan cahaya dalam diri manusia lain. Di balik setiap pelajaran yang disampaikan, ada empati, kesabaran, dan cinta yang tidak bisa dihitung dengan angka. Profesi lain mungkin berurusan dengan benda, sistem, atau angka. Tapi guru berurusan dengan jiwa manusia – sesuatu yang halus, rapuh, dan berharga. Itulah mengapa mengajar memerlukan hati yang tulus, bukan hanya kemampuan akademik. Ilmu tanpa hati hanya menjadi hafalan, sedangkan hati tanpa ilmu mudah kehilangan arah.

Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tapi menanamkan nilai. Seorang guru sejati tahu bahwa setiap anak datang dengan latar belakang, luka, dan potensi yang berbeda. Ia tidak memperlakukan mereka sebagai angka dalam rapor, melainkan sebagai pribadi yang sedang bertumbuh. Ia melihat lebih dalam daripada nilai ujian, karena mengetahui bahwa karakter jauh lebih penting daripada sekadar kepintaran. Guru yang mengajar dengan hati tidak hanya menuntun anak-anak untuk memahami pelajaran, tetapi juga memahami dirinya sendiri. Ia membimbing bukan untuk menjadikan anak-anak seperti dirinya, melainkan untuk membantu anak-anak menemukan versinya sendiri. Inilah yang membuat setiap kelas yang diisinya terasa hidup, karena ada cinta yang menyapa, bukan sekadar instruksi yang diperintahkan.

Mengajar anak-anak tentang baca-tulis

(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Tidak ada murid yang sama, ada yang cepat menangkap pelajaran, ada yang butuh waktu. Ada yang tenang, ada yang berisik. Guru biasa mungkin mudah lelah menghadapi perbedaan itu, tapi guru yang mengajar dengan hati melihatnya sebagai ladang pengertian. Ia tahu bahwa setiap anak punya jalan tumbuhnya sendiri, dan tugasnya bukan menyeragamkan, tapi mendampingi. Ketika hati terlibat, pengajaran berubah menjadi proses kemanusiaan. Guru tidak sekadar menilai, tetapi juga mendengarkan. Ia tidak hanya menegur, tetapi juga memahami alasan di balik perilaku. Dari kesabaran itulah lahir kepercayaan, hal yang jauh lebih berharga daripada sekadar penghormatan formal di dalam kelas.

Dari rumah belajar sederhana itu, lahir mimpi-mimpi baru bagi setiap orang yang berhak untuk belajar dan berkembang. Cerita kampung di pesisir itu adalah tentang perjuangan di tengah keterbatasan, tentang anak-anak yang berlari mengejar mimpi di antara pasir, ombak dan angin. Di sana, pendidikan bukan sekadar belajar di kelas, tetapi juga tentang harapan bahwa suatu hari, mereka bisa membawa perubahan bagi kampung yang mereka cintai.

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Resye dan Womom

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Resye dan Womom

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

30 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Semangat belajar tidak hanya hadir di Kampung Wau dan Weyaf,  Klik disini untuk membaca cerita pelatihan di Kampung Wau dan Weyaf. Pada bagian terakhir ini, cerita berlanjut ke Kampung Resye dan Womom, lalu ditutup dengan refleksi tentang kerja keras, ketekunan, dan harapan yang lahir dari proses sederhana.

Sementara kami di Kampung Wau dan Weyaf sibuk dengan pelatihan, tim lain bergerak di Kampung Resye dan Womom. Mereka memulai pada tanggal 17 Maret 2026, dengan jumlah peserta 9 orang yang terdiri dari ibu-ibu dan remaja perempuan. Saya tidak berada di sana secara langsung, tetapi dari update yang masuk, semangat peserta tidak kalah besar.

Hermina Langoday pelatih amigurumi di Kampung Resye sedang menghitung jumlah anyaman amigurumi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Potrosina Daunema)

Ibu Bastian Yekwam sedang menyulam
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Potrosina Daunema)

“Mereka juga mengalami kesulitan di awal,” kata Ina, PMNH yang melatih membuat amigurumi, saat kami berkomunikasi lewat WhatsApp. “Tetapi setelah beberapa kali mencoba, mulai ada yang menangkap polanya.”

Meskipun tim monev tidak dapat tiba di Kampung Resye dan Womom karena cuaca laut yang buruk, kegiatan pelatihan amigurumi penyu berhasil dilakukan. Proses pendampingan di lapangan masih terus dilakukan, tim PMNH setempat rutin mengunjungi para peserta untuk melihat perkembangan dan memberi koreksi jika ada yang lupa tahapannya.

Sampai pada akhir Maret ini, kami menghitung berapa banyak yang benar-benar berhasil menyelesaikan satu amigurumi penyu utuh dari awal hingga akhir. Kami menghitung bersama: untuk lokasi Kampung Wau dan Weyaf ada 2 orang yang berhasil menyelesaikan amigurumi penyu pertama mereka. Sedangkan di lokasi Kampung Resye dan Womom, lima orang ibu dan remaja perempuan berhasil. Mereka masing-masing lalu berfoto sambil memegang gantungan kunci amigurumi penyu hasil karya sendiri dengan bangga.

Kerajinan tangan sering dianggap remeh oleh sebagian orang. Tetapi di kampung-kampung terpencil seperti Wau, Weyaf, Resye, dan Womom, amigurumi bukan sekadar hobi. Ini adalah pintu kecil menuju kemandirian ekonomi. Setiap tusukan benang bisa menjadi awal dari penghasilan tambahan. Setiap penyu yang selesai adalah bukti bahwa mereka bisa menciptakan sesuatu yang bernilai.

Bastiana Yekwam di Kampung Womom yang berhasil membuat amigurumi pertamanya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Hermina Langoday)

Ibu Vince Yeum di Kampung Resye yang berhasil membuat amigurumi pertamanya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Hermina Langoday)

Saat malam hari ketika kami bersiap untuk perjalanan kembali ke Manokwari besok pagi dengan kapal, Maria mendekati saya dan berkata, “Ibu-ibu ini luar biasa. Bahkan ketika hari sudah gelap dan tidak ada penerangan yang baik, mereka tetap melanjutkan amigurumi-nya. Dan akhirnya mereka selesai. Ternyata mereka gigih.”

Saya mengangguk. Usaha tidak menghianati hasil, itulah yang saya tulis dalam catatan kecil saya malam itu. Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa ketekunan tidak mengenal medan. Ketekunan menemukan jalannya, meskipun harus dimulai dari sebuah cincin ajaib dan tusuk tunggal.

Dari goyangan Kapal Sabuk Nusantara 112 yang menguji nyali, gelombang yang membuat kami mabuk laut, hingga senyum bangga para perempuan saat menyelesaikan amigurumi pertama mereka, semua terasa berarti. Meskipun ini tahun ketiga belas saya melayani dan melakukan perjalanan ke lokasi-lokasi ini, selalu ada cerita yang berbeda dari setiap perjalanan yang saya lakukan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Wau dan Weyaf

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Wau dan Weyaf

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

22 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Setelah perjalanan yang menantang dari Manokwari menuju Tambrauw, tim yang akan memberi pelatihan Amigurumi bersiap memulai pelatihan. Pada bagian ini, kita melihat bagaimana para peserta di Kampung Wau dan Weyaf belajar dari nol, menghadapi kesulitan, lalu perlahan menunjukkan ketekunan yang luar biasa. Klik disini untuk membaca bagian awal perjalanan tim menuju lokasi agar cerita ini terasa lebih utuh.

Pagi itu, langit masih mendung. Namun, Balai Kampung Wau mulai ramai dengan kedatangan para peserta. Saya menghitung satu per satu: 21 orang ibu-ibu dan remaja perempuan datang dengan langkah penuh rasa ingin tahu. Ada yang membawa anak kecil di gendongan, ada yang datang bersama tetangganya sambil tertawa kecil. Mereka duduk di kursi-kursi plastik yang telah kami atur sebelumnya. Beberapa dari mereka bahkan belum pernah memegang jarum rajut seumur hidup.

Maria memulai dengan sabar. “Ini namanya magic ring,” katanya sambil memperagakan. “Ini fondasi awal untuk merajut. Kalau cincin ajaib ini sudah kuat, nanti penyu kita bisa berdiri dengan bagus.”

Maria pelatih Amigurumi sedang menjelaskan cara membuat magic ring kepada seorang ibu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Proses pembuatan magic ring
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Ibu-ibu mengamati dengan serius. Ada yang mengerutkan kening, ada yang maju mendekat agar lebih jelas. Satu per satu mereka mencoba. Beberapa kali benang terlepas, simpul kendor, bahkan ada yang tertawa karena jari-jarinya terasa kaku.

“Ibu, santai saja,” kata Maria sambil membetulkan posisi kait (hook) di tangan seorang peserta. “Ini latihan, tidak perlu terburu-buru.”

Hari pertama diisi dengan latihan magic ring dan tusuk tunggal (single crochet). Prosesnya pelan, penuh koreksi, tapi semuanya serius. Saya melihat salah satu ibu bernama Ibu Flirce Bonsapia terus mengulang-ulang meskipun tangannya sudah sedikit gemetar. “Saya tidak mau menyerah,” katanya.

Maria yang sedang menunjukan hitungan magic ring kepada Mama Jack
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Maria sedang menghitung jahitan Mama Maria
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Tidak semua peserta berhasil menguasai magic ring di pelatihan hari ini, tetapi mereka bersepakat untuk melanjutkan sore hari di rumah belajar. “Tidak apa-apa, yang penting belajar,” kata Mama Jack sambil merapikan benangnya. Kami kemudian bubar dan pulang ketika jarum jam menunjukkan pukul 14.25 WIT.

Hari kedua, ketiga, dan keempat kami lanjutkan. Setelah magic ring, Maria mengajarkan cara membuat kepala, lalu flipper (sirip), dan karapaks (punggung). Setiap bagian membutuhkan ketelitian yang berbeda. Peserta mulai memahami pola, meskipun masih ada yang tertukar antara increase (teknik dalam merajut yang digunakan untuk menambah jumlah tusukan dalam satu baris atau putaran) dan decrease (teknik dalam merajut yang digunakan untuk mengurangi jumlah tusukan pada baris atau putaran tertentu).

Yang menarik perhatian saya adalah inisiatif mereka sendiri. Beberapa peserta datang ke rumah belajar setelah pelatihan di hari pertama. Mereka datang setelah mengurus anak dan memasak, lalu duduk di ruang belakang sambil merajut. Saya melihat Maria yang melatih, sabar mendampingi mereka hingga sore menjelang magrib.

Salah satu Amigurumi yang telah selesai dibuat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Ibu Aplena Anari di Weyaf yang berhasil membuat Amigurumi pertamanya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

“Kami ingin cepat selesai, Kaka Ibu,” kata salah satu dari mereka sambil memperlihatkan karapaks yang hampir jadi. “Supaya bisa segera dipasang kait kuncinya.”

Dari proses belajar yang penuh kesabaran, mulai terlihat bahwa pelatihan ini bukan sekadar kegiatan biasa. Ada semangat, ada kemauan untuk terus mencoba, dan ada harapan kecil yang mulai tumbuh dari setiap tusukan benang. Klik disini (TBA) untuk melihat bagaimana pelatihan juga berlangsung di Kampung Resye dan Womom, serta bagaimana cerita ini berujung pada makna ketekunan dan kemandirian.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Akhir KP2, TLP2, dan TPS Tahun 2026

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Akhir KP2, TLP2, dan TPS Tahun 2026

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Tahap Pertama. Dari hasil seleksi tersebut 19 pelamar dinyatakan LOLOS. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri tahap seleksi selanjutnya, harap diperiksa dengan saksama. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Kandidat diundang untuk mengikuti pembekalan sesuai dengan posisi yang dilamar. Jadwal pelaksanaan pembekalan untuk masing-masing posisi dapat dilihat pada file PDF pengumuman

2. Peserta yang dinyatakan lolos seleksi wawancara diwajibkan mengisi form kesediaan klik di sini, paling lambat pada hari Jumat, 17 April 2026 pukul 16.00 WIT

3. Peserta yang namanya tidak tercantum di atas akan masuk ke dalam Daftar Tunggu dan akan dihubungi jika terpilih paling lambat pada hari Selasa, 21 April 2026

4. Bila ada hal yang belum jelas, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836