Kategori
New Template Uncategorized @id

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1 KP2, TLP2 dan TPS Tahun 2026

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1 KP2, TLP2 dan TPS Tahun 2026

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Tahap 1. Dari hasil seleksi Tahap 1, sebanyak 11 orang calon KP2, 13 orang calon TLP2, dan 7 orang calon TPS dinyatakan lulus, dengan total keseluruhan 31 orang. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri Tahap SELEKSI TAHAP 2. Dokumen tersebut terdiri dari 2 halaman, harap diperiksa dengan saksama. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Wawancara dilaksanakan secara online melalui zoom pada tanggal 26 Maret 2026

2. Peserta diharapkan telah hadir 10 menit sebelum waktu wawancara di ruang zoom
yang telah disediakan (link zoom menyusul)

3. Teknis pelaksanaan wawancara akan disampaikan melalui WAG sehingga pastikan
anda telah tergabung dalam WAG yang diperoleh ketika mendaftar pertama kali

4. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring New Template

Yaku Danyel Bafat: Menjaga dan Melindungi Penyu di Jeen Syuab Selama Musim Teduh dan Musim Ombak

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Yaku Danyel Bafat: Menjaga dan Melindungi  Penyu  di Jeen Syuab Selama Musim Teduh dan  Musim Ombak 

Penulis

Danyel Bafat

Tanggal

05 Maret 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Halo teman-teman, perkenalkan saya Danyel Bafat. Banyak teman atau orang terdekat biasa memanggil saya dengan sebutan Dani atau Niel. Saya bergabung dalam Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA pada tahun 2024. Tepat pada tanggal 15 April 2024, saya resmi menjadi tim pantai (kru) dan ditempatkan di Pos Jeen Syuab untuk dua musim, yaitu musim teduh dan musim ombak. Sebagai penjelasan, Pantai Jeen Syuab memiliki dua musim peneluran, yaitu musim teduh pada bulan April hingga September dan musim ombak pada bulan Oktober hingga Maret. Saya menjadi Tenaga Lapangan Pantai Peneluran (TLP2) di Pantai Jeen Syuab dari April 2024 hingga Maret 2026.

Pengalaman ini sangat berharga bagi saya. Sejak kecil, saya sering melihat penyu dewasa dan telur penyu karena saya berasal dari kampung yang berdekatan dengan pantai peneluran penyu Jeen Syuab, tetapi belum pernah melihat tukik (anak penyu). Baru setelah bergabung sebagai kru, saya bisa melihat dan memegang tukik hasil relokasi sarang yang dipindahkan ke kandang relokasi.  Tujuan saya bergabung dalam tim pantai Program Sains untuk Konservasi, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA) adalah untuk belajar dan bekerja dalam upaya konservasi penyu di Kabupaten Tambrauw yang kini terancam akibat perburuan daging penyu serta pengambilan telur untuk dikonsumsi maupun diperjualbelikan. Saya percaya dengan hadirnya LPPM UNIPA, penyu di Tambrauw dapat selamat dari berbagai ancaman tersebut. Penyu sangat penting bagi ekosistem laut dan juga menjadi kebanggaan masyarakat Tambrauw serta Tanah Papua.

Dalam upaya ini, UNIPA juga berkomitmen untuk terus meningkatkan keterlibatan masyarakat lokal dalam kegiatan di pantai peneluran. Berbagai perannya termasuk yang sudah berjalan seperti penyediaan kandang relokasi, tenaga pemindahan sarang, dan patroler lokal yang berkontribusi penting dalam kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang.

Pengukuran kedalaman logger suhu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Herman Ayomi)

Tim sedang merelokasi sarang yang terancam pasang surut
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pantai Jeen Syuab)

Saat pertama tiba di Pos Wermon, saya dilatih oleh Kakak Jhoni Mau (TLP2 lama) dan Petrus Batubara (Koordinator Pantai) mengenai aktivitas monitoring malam: mengukur penyu, melakukan scan, dan memasang penanda pada penyu baru. Pagi hari biasanya kami berolahraga sambil melakukan monitoring jejak penyu, menikmati pemandangan pantai yang indah, dan suara ombak yang merdu. Seiring berjalannya waktu, saya semakin terbiasa melakukan monitoring malam secara mandiri hingga pagi hari.

Dalam monitoring malam, saya bertemu banyak penyu baru dan juga penyu lama dengan nomor penanda PIT (Passive Integrated Transponder) tag berawalan 12 dan 13. Penyu lama ini biasa disebut “orang lama” karena sudah naik sejak tahun 2010–2015. Bahkan saya pernah bertemu penyu lama dengan PIT tag tanggal 25 Januari 2006. Menariknya, penyu baru yang dipasang penanda bisa kembali naik hingga 7 kali dalam sebulan selama masih bertelur. Dari sini saya belajar bahwa tidak semua penyu hilang setelah naik. Mereka hanya pergi mencari makan atau kawin hingga ke Amerika atau tempat lain, tapi tetap kembali ke Pantai Jeen Syuab sebagai tempat ternyaman untuk bertelur. Selain penyu belimbing, saya juga sering bertemu penyu sisik, penyu hijau, dan jenis penyu kecil lainnya yang biasanya naik paling banyak pada bulan April hingga Juni.

Pengukuran lebar karapas penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pantai Jeen Syuab)

Proses scan penanda PIT Tag kepada penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pantai Jeen Syuab)

Suatu kebanggaan bagi saya saat bekerja di musim teduh adalah ketika dilatih dan dipercaya membawa perahu Vien, menjaga genset pos, mengontrol sarang relokasi, serta menginput data untuk dikirim ke kantor. Tantangan terbesar adalah saat monitoring malam, kadang bertemu dengan hewan melata yang berbahaya, seperti ular, dan buaya. Saat membawa perahu, salah hitung ombak bisa berbahaya karena ombak bisa masuk ke perahu. Kadang saat menjemput barang di kapal, kami harus berhadapan dengan gelombang besar dan angin kencang. Namun, kami selalu percaya masih dalam lindungan Tuhan.

Tantangan di musim ombak berbeda. Pantai hanya selebar 10 meter dengan tebing curam. Setiap hari Sabtu kami berjalan kaki pulang-pergi sejauh 12 km menuju kampung untuk mengikuti ibadah Minggu. Biarpun bekerja keras di pantai peneluran, kami senang ketika kembali ke kampung, selain beribadah, juga berjumpa dengan masyarakat lain untuk berbagi cerita.

Dalam upaya melindungi penyu dan sarangnya di Pantai Jeen Syuab, saya menyadari bahwa penyu belimbing telah memilih pesisir Pantai Jeen Womom di Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw sebagai tempat yang nyaman untuk bertelur. Ini menjadi berkat sekaligus kepercayaan bagi kita untuk memastikan mereka tetap merasa aman di pantai ini, sehingga terus kembali untuk bertelur di masa mendatang.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Heading

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Kedua PMNH Periode Kedua Tahun 2026​

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Kedua PMNH Periode Kedua Tahun 2026 Twitter Facebook Whatsapp Salam Lestari…Kami mengucapkan terima kasih untuk semua ...
/
Behind the Scene SCIPOD: Ketika Tiga Sudut Pandang Harus Jadi Satu Cerita

Behind the Scene SCIPOD: Ketika Tiga Sudut Pandang Harus Jadi Satu Cerita

Behind the Scene SCIPOD: Ketika Tiga Sudut Pandang Harus Jadi Satu Cerita PenulisAbigail LangTanggal9 Juni 2026 Proses editing tidak bisa dilepaskan dari ...
/

“Setuju Sekali!”: Awal Mimpi Om Jen untuk Menjaga Laut Namatota

“Setuju Sekali!”: Awal Mimpi Om Jen untuk Menjaga Laut Namatota PenulisHabema MonimTanggal09 Juni 2026 “Ma… kalau saya jadi dive master ...
/

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Pertama PMNH Periode Kedua Tahun 2026

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Pertama PMNH Periode Kedua Tahun 2026 Twitter Facebook Whatsapp  Salam Lestari…Kami mengucapkan terima kasih untuk semua ...
/
Menjadi Host SCIPOD: Ketika Cerita Lapangan Datang Sendiri

Menjadi Host SCIPOD: Ketika Cerita Lapangan Datang Sendiri

Menjadi Host SCIPOD: Ketika Cerita Lapangan Datang Sendiri PenulisAbigail LangTanggal5 Juni 2026 Ada hal-hal yang tak sepenuhnya bisa ditangkap oleh ...
/
Pelatihan Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang

Pelatihan Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua Pelatihan ...
/
Kategori
Monitoring Sosial Survei New Template

Musim yang Berubah, Kehidupan Pesisir Terdampak

Musim yang Berubah, Kehidupan Pesisir Terdampak

Penulis

Jeniffer Maleke, Rafly Rumere, Kezia Salosso, Arnoldus Ananta

Tanggal

16 Februari 2026

“Bapa/Mama/Saudara/i, kami ingin mengajak untuk bersama-sama mengamati perubahan cuaca dan iklim yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Apakah Bapa/Mama/Saudara/i pernah merasakan adanya pergeseran pola cuaca? Apakah perubahan tersebut berdampak pada mata pencaharian utama Bapa/Mama/Saudara/i, baik secara positif maupun negatif?” Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah beberapa contoh pertanyaan yang kami lontarkan dalam survei sosial. Pertanyaan tersebut menjadi penting untuk dipahami, mengingat cuaca merupakan kondisi atmosfer jangka pendek yang dapat berubah setiap saat (jam, hari, minggu), sementara iklim adalah pola cuaca rata-rata yang berlangsung dalam jangka waktu panjang (tahunan) di suatu wilayah.

Keindahan alam yang menjadi ciri khas suatu daerah tidak sepenuhnya terlepas dari ancaman perubahan iklim. Raja Ampat, yang dikenal luas dengan bentang alamnya yang indah dan kekayaan lautnya, dalam beberapa tahun terakhir mengalami perubahan kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi. Perubahan ini hadir dalam bentuk yang sederhana, namun nyata dan semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Secara umum, perubahan iklim merujuk pada perubahan jangka panjang pada pola cuaca dan suhu bumi. Dalam kajian ilmiah, perubahan iklim sering dikaitkan dengan meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem dan pergeseran musim. Namun, bagi masyarakat pesisir, perubahan tersebut lebih dulu dirasakan sebagai perubahan cuaca harian yang memengaruhi aktivitas dan penghidupan mereka.

Kepulauan Kofiau, Raja Ampat, menjadi salah satu wilayah di mana perubahan cuaca dan musim semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas masyarakat, terutama berkebun, melaut, serta mengolah kopra, menjadi bagian yang terdampak langsung oleh perubahan tersebut. Musim hujan kini terasa lebih sering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sementara waktu datangnya musim angin, khususnya angin selatan, tidak lagi dapat diprediksi mengikuti “perhitungan orang tua dulu”. Pola musim yang dahulu menjadi pegangan dalam menentukan waktu melaut perlahan berubah, menciptakan ketidakpastian yang terus dirasakan oleh masyarakat.

Nelayan sedang mendayung di Kampung Balal
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Proses penjemuran ikan asin di Kampung Balal
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jelly Palle)

Berdasarkan pengamatan selama survei lapangan pada tahun 2025, perubahan cuaca memberi dampak yang beragam. Selain waktu musim yang berubah, curah hujan juga semakin meningkat. Di satu sisi, curah hujan yang tinggi membuat tanaman di kebun tumbuh lebih subur. Namun disisi lain, hujan yang berlangsung terus-menerus justru membatasi aktivitas masyarakat.

Saat hujan turun, masyarakat kesulitan pergi berkebun karena lokasi kebun yang jauh dari kampung serta medan yang tidak mendukung. Nelayan juga tidak dapat beraktivitas secara maksimal. Kondisi cuaca yang tidak stabil membuat mereka tidak bisa melaut jauh dan sering kali hanya mencari hasil laut sebatas untuk konsumsi keluarga. Proses penjemuran ikan untuk dijadikan ikan asin pun menjadi sulit dilakukan dan membutuhkan waktu lebih lama hingga siap dipasarkan. Terhambatnya aktivitas ini turut memengaruhi kondisi ekonomi keluarga.

Ketergantungan masyarakat pada alam tidak hanya terlihat dari aktivitas melaut dan berkebun, tetapi juga dari kegiatan pembuatan serta penjualan kopra. Perubahan cuaca, terutama hujan yang berkepanjangan, memengaruhi kelancaran proses pembuatannya, mulai dari pengumpulan kelapa hingga proses pengasapan atau pengeringan untuk menghasilkan kopra.

Dampak perubahan cuaca juga terlihat langsung pada kondisi lingkungan kampung. Saat hujan turun dalam waktu lama atau ketika cuaca ekstrem terjadi, air tergenang di dalam kampung, terutama di wilayah pinggiran pantai, bahkan hingga masuk ke rumah-rumah masyarakat. Selain itu, abrasi pantai semakin dirasakan. Pengikisan garis pantai dan genangan air yang semakin sering menimbulkan kekhawatiran akan keberlanjutan ruang hidup masyarakat pesisir.

Genangan air pasca hujan yang terjadi di Kampung Deer
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Genangan air pasca hujan yang terjadi di Kampung Deer
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Ketidakpastian cuaca turut berdampak pada akses dan mobilitas. Ketika cuaca ekstrem terjadi, kapal yang beroperasi di kampung-kampung tidak selalu dapat mencapai tujuan dan terkadang harus kembali ke Sorong. Kondisi ini membuat masyarakat semakin merasakan keterbatasan akses, terutama dalam situasi darurat atau ketika ada kebutuhan mendesak.

Cerita dari Kepulauan Kofiau mengajak kita untuk kembali merenung: apakah perubahan cuaca dan musim yang dirasakan masyarakat pesisir ini merupakan bagian dari perubahan iklim yang sedang berlangsung, atau ada faktor lain yang turut memperbesar risiko yang mereka hadapi? Apa pun jawabannya, Kepulauan Kofiau menunjukkan bahwa masyarakat pesisir berada di garis depan dalam menghadapi dampak perubahan cuaca dan iklim. Perubahan ini bukan sekadar isu global, melainkan kenyataan yang setiap hari memengaruhi cara masyarakat hidup, bekerja, dan bertahan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Khofifah: Dari Konservasi ke Kontemplasi​

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Khofifah: Dari Konservasi ke Kontemplasi

Penulis

Khofifah Indah Pratiwi Syahrudin

Tanggal

11 Februari 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Panggilan yang Membawa ke Timur

Semuanya berawal dari sebuah postingan di Instagram milik Science for Conservation yang di-repost salah satu akun komunitas konservasi di Sulawesi Tengah tentang pembukaan lowongan kru pantai peneluran penyu. Awalnya aku tidak berniat untuk mendaftar, tetapi ada sesuatu yang menarik perhatian dan membuatku mencoba melengkapi semua berkas. Tak ada ekspektasi besar untuk diterima, namun Tuhan berkehendak lain.

Aku berangkat dari Sulawesi menuju Manokwari—tempat yang bahkan belum pernah kupijak sebelumnya. Perjalanan ini terasa seperti keputusan besar, karena aku datang tanpa siapa-siapa, hanya membawa keyakinan dan rasa ingin tahu tentang dunia konservasi, khususnya penyu.

Aku pernah meneliti kura-kura saat kuliah, dan dari situlah muncul pertanyaan sederhana: “Bagaimana kalau kali ini aku belajar dari penyu?” Akhirnya, aku tiba di pantai tempat aku akan tinggal selama berbulan-bulan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di pasir, aku terdiam lama—menyadari bahwa langkah kecil ini akan menjadi awal dari perjalanan besar.

Foto bersama tamu dari luar negeri yang ingin melihat penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Foto bersama tim pantai dan tim pemberdayaan masyarakat S4C
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kehidupan di Lapangan: Antara Dini Hari dan Cahaya Bulan

Kehidupan di pantai dimulai ketika kebanyakan orang sedang tidur. Setiap malam pukul sepuluh, kami memulai patroli di bawah cahaya bulan, berjalan menyusuri pasir sejauh beberapa kilometer hingga dini hari. Suara ombak dan gelapnya menyesuaikan diri.

Malam-malam itu menjadi saksi untuk pertama kalinya aku menemukan jejak penyu, lalu bertemu langsung dengan penyu belimbing pertamaku—raksasa lembut yang membuatku kagum, gugup sekaligus takut. Saat memasang Passive Integrated Transponder (PIT) tag untuk pertama kali, aku menangis. Sebab aku takut menyakiti penyu belimbing tersebut, tetapi setelah aku berhasil melakukan pemasangan chip pada induk penyu belimbing aku sadar bahwa, aku sedang menjadi bagian kecil dari upaya menjaga kehidupan.

Keesokan harinya, kami melindungi sarang-sarang penyu. Ada sarang yang harus dipindahkan karena terlalu dekat dengan ombak, ada yang diberi pagar daun pakis agar aman dari predator. Di sanalah aku belajar bahwa setiap tindakan kecil, seperti menancapkan pagar atau memindahkan telur, punya arti besar untuk kelangsungan hidup mereka.

Rasa lelah terbayar setiap kali melihat tukik menetas dan berlari menuju laut. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan—seolah setiap langkah kecil mereka membawa pesan bahwa kehidupan selalu menemukan jalannya.

Khofifah dan tim melakukan pengukuran terhadap penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tukik penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Khofifah Pratiwi)

Interaksi dan Toleransi: Cerita di Balik Konservasi

Awalnya, beradaptasi dengan tim bukan hal yang mudah. Logat mereka cepat, nada bicara tinggi, dan aku sempat mengira mereka marah. Namun ternyata, itulah cara mereka menunjukkan keakraban. Lama-kelamaan, suasana berubah. Dari yang awalnya pendiam, aku menjadi orang yang suka bercanda, ikut tertawa, bahkan saling roasting satu sama lain.

Aku satu-satunya yang muslim di antara mereka semua di awal musim, akan tetapi mereka menerimaku sepenuhnya. Mereka menghargai waktuku untuk ibadah dan sebaliknya, dan aku belajar bahwa perbedaan bukan penghalang, melainkan justru memperkaya. Dari mereka, aku belajar banyak hal: tentang keterbukaan, tentang cara berkomunikasi yang jujur, dan tentang keluarga yang bisa terbentuk tanpa ikatan darah.

Di sisi lain, aku juga menyadari bahwa pendidikan di sekitar pantai peneluran memegang peran penting. Di salah satu kampung di sekitar pantai peneluran penyu, ada sekolah yang hanya memiliki satu atau dua guru untuk mengajar beberapa kelas sekaligus. Di tengah keterbatasan itu Science for Conservation juga menghadirkan rumah belajar—tempat anak-anak bisa menambah pengetahuan mereka di sore hari. Dari sana aku sadar, konservasi bukan hanya tentang menjaga penyu, tetapi juga tentang memberdayakan manusia agar tumbuh bersama alamnya.

Ombak, Arus dan Keberanian

Tak semua hari di pantai berjalan dengan tenang. Ada hari-hari ketika laut bergelombang tinggi dan arus terasa kuat. Saat itu, keberanian diuji. Aku masih ingat momen ketika kami harus mendorong perahu ke laut, menghitung waktu di antara ombak agar tidak terbalik. Terkadang mesin perahu tidak mau menyala, membuat detak jantungku berpacu. Tetapi setiap kali perahu berhasil menembus ombak, ada rasa lega dan bangga yang sulit dijelaskan. Dari laut, aku belajar bahwa keberanian bukan berarti tanpa rasa takut, tetapi tentang tetap bergerak meski takut ada.

Foto bersama setelah mencari udang di sungai
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Penutup: Menjaga yang Hidup, Menemukan yang Bermakna

Lima bulan di pantai peneluran penyu mengubah banyak hal dalam diriku. Aku yang dulu ragu kini lebih percaya diri, lebih berani, dan lebih memahami arti kesabaran. Konservasi bukan hanya tentang menjaga penyu, hutan, atau laut, tetapi juga tentang menjaga nurani manusia agar tetap peka terhadap kehidupan.

Dari pasir yang lembut hingga ombak yang keras, aku belajar bahwa setiap bentuk kehidupan punya caranya sendiri untuk bertahan, dan tugas kita hanyalah menghormati ritme itu. Setiap tukik yang dilepaskan ke laut mengingatkanku bahwa menjaga kehidupan juga berarti berani melepaskan—melepaskan ego, ketakutan, dan keinginan untuk selalu mengendalikan.

Dari pantai ini, aku tidak hanya menemukan makna konservasi, tetapi juga menemukan diriku yang lebih utuh. Bahwa menjaga alam, sejatinya, adalah belajar hidup selaras dengannya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Pelatihan PMNH Digelar: Perkuat Kesiapan Kerja Lapangan Tahun 2026

Pelatihan PMNH Digelar: Perkuat Kesiapan Kerja Lapangan Tahun 2026

Penulis

Liana Mongdong, Kartika Zohar

Tanggal

08 Februari 2026

Pelatihan Pendamping Masyarakat dan Narahubung (PMNH) telah dilaksanakan pada 28–30 Januari 2026 di Ruang Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA) sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat di Taman Pesisir (TP) Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya.

Pelatihan ini dibuka oleh Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA), Freddy Pattiselanno. Selain 11 orang PMNH, pelatihan ini juga mengikutsertakan 6 mahasiswa yang akan melakukan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) UNIPA. Kegiatan di lapangan dilakukan hingga April 2026.

Kegiatan ini bertujuan untuk membekali peserta dengan pemahaman menyeluruh terkait program, keterampilan teknis lapangan, serta kemampuan bekerja secara kolaboratif dan profesional. Materi yang diberikan mencakup pengenalan program pelestarian penyu, pengelolaan administrasi dan pelaporan keuangan kegiatan, pembagian tim dan lokasi kerja, serta pelaksanaan program pendidikan formal dan informal bagi masyarakat.

Proses tanda tangan kontrak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pemaparan materi pengelolaan keuangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pada hari pertama, sebelum pelatihan dimulai, PMNH melakukan penandatanganan kontrak kerja. Tanda tangan di atas kertas itu bukan sekadar formalitas, melainkan pernyataan komitmen dan tanggung jawab nyata untuk mendampingi masyarakat Jeen Womom.

Setelah menandatangani kontrak, materi yang diterima di hari pertama fokus pada fondasi program. Para peserta diajak mendalami visi misi pelestarian penyu, sistem administrasi dan keuangan yang akuntabel, mekanisme pelaporan lapangan, serta strategi mengelola kegiatan pendidikan melalui rumah belajar. Materi-materi ini menjadi panduan operasional mereka selama empat bulan ke depan.

Hari kedua diisi dengan praktik mengajar Membaca, Menulis, dan Berhitung (Calistung), Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH), teknik dokumentasi kegiatan, pengembangan keterampilan pendukung, serta materi team building dan manajemen konflik. Sementara itu, di hari terakhir, difokuskan pada materi pembuatan minyak kelapa yang bersih dan higienis, pengelolaan rumah produksi, pengenalan biologi penyu dan upaya konservasinya, serta praktik mengajar Computer English (Comeng) untuk anak usia PAUD hingga SD.

Praktik cara mengajar calistung
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Belajar merajut amigurumi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pelatihan ini ditutup oleh Pengelola Program Sains untuk Konservasi, Fitryanti Pakiding, dengan harapan para Pendamping Masyarakat dan Narahubung memiliki kesiapan pengetahuan, keterampilan, serta komitmen yang kuat untuk mendukung keberhasilan dan keberlanjutan program di lapangan.

Dengan bekal yang komprehensif ini, para PMNH dan mahasiswa KKNT UNIPA siap turun ke masyarakat. Mereka bukan hanya menjadi perpanjangan tangan program, tetapi juga mitra belajar dan agen perubahan yang diharapkan dapat menuliskan cerita baru tentang pemberdayaan dan pelestarian di Taman Pesisir Jeen Womom. Perjalanan panjang dimulai dari sini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template

Catatan Si Karang

Catatan Si Karang

Penulis

Habema Monim

Tanggal

3 Februari 2026

Aku tumbuh perlahan, jauh lebih lambat daripada waktu yang dipahami manusia. Setiap tahun, tubuhku hanya bertambah beberapa milimeter lapisan tipis kalsium yang merekam suhu laut, kejernihan air, dan cahaya matahari. Aku tidak bisa berpindah ketika arus membawa lumpur atau panas datang terlalu lama. Aku hanya bertahan, diam, dan mencatat dengan caraku sendiri.

Dulu, kehidupan di sekitarku terasa seimbang. Ikan herbivora memakan alga yang mencoba menutup tubuhku, ikan besar melintas seperti penjaga yang setia, dan larva karang muda menemukan tempat untuk tumbuh. Kini, keseimbangan itu mulai goyah. Ikan-ikan semakin jarang, alga tumbuh lebih cepat, dan ruang bernapas makin sempit. Dari atas permukaan, laut ini mungkin masih tampak indah. Namun keindahan sering kali menipu.

Aku tidak bisa berteriak ketika warnaku memudar akibat panas yang berlebihan. Aku tidak bisa memberi tanda ketika alga mulai mengalahkanku sedikit demi sedikit. Perubahanku berlangsung pelan, nyaris tak terlihat, tetapi pasti. Tanpa seseorang yang mau mengamati dan mencatat, penderitaanku akan dianggap biasa atau bahkan tidak ada.

Warnaku yang Memudar
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Alga  yang Mulai Mengalahkanku
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Suatu hari, manusia datang. Mereka turun perlahan, membawa meteran, papan tulis, dan kamera. Mereka membentangkan garis lurus di atas tubuhku dan menghitung apa yang hidup, apa yang mati, dan apa yang mulai berubah. Mereka menyebutnya Reef Health Monitoring. Aku tidak mengerti istilah itu, tetapi aku merasakan kehati-hatian mereka. Mereka tidak merusak, hanya mengamati. Seolah mereka tahu bahwa setiap sentuhan yang salah bisa menjadi luka baru bagiku.

Mereka yang Datang
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Tahun demi tahun, mereka datang kembali ke tempat yang sama. Mereka mencatat tutupan karang hidup, jumlah ikan yang hadir dan yang lainnya. Dari sudut pandangku, kunjungan itu adalah satu-satunya saat ketika perubahan sunyiku diperhatikan. Dari sudut pandang mereka, data itu menjadi bukti: ”bahwa terumbu tidak rusak secara tiba-tiba, tetapi menurun perlahan ketika tekanan dibiarkan terus terjadi”.

Ketika laut memanas dan aku memutih, mereka mencatatnya. Ketika ikan herbivora berkurang dan alga meningkat, mereka menuliskannya. Mereka mengubah tubuhku menjadi angka dan grafik, tetapi justru melalui itulah ceritaku didengar. Tanpa monitoring, manusia mungkin hanya akan datang saat aku telah runtuh menjadi puing.

Aku yang Sehat (Foto: Loka PSPL Sorong/Prehadi)

Aku hanyalah satu karang kecil di antara ribuan, tetapi dataku menjadi bagian dari kisah ekosistem yang lebih besar. Dari catatan-catatan itu, manusia mulai memahami bahwa pengelolaan laut tidak bisa didasarkan pada apa yang terlihat sesaat, melainkan pada perubahan yang terukur dari waktu ke waktu. Reef Health Monitoring adalah bahasa yang menjembatani dunia mereka dan dunia kami.

Aku tidak tahu bagaimana masa depan kami dan laut ini. Namun selama masih ada yang datang untuk mengamati, mencatat, dan belajar, masih ada harapan bahwa catatan sunyiku tidak berakhir sia-sia.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Kedua PMNH Tahun 2026

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Kedua PMNH Tahun 2026

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah mengikuti tahap seleksi wawancara Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) pada tanggal 22 Januari 2026. Berikut kami sampaikan nama-nama yang pelamar yang telah LOLOS Seleksi Tahap 2. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

1. Daftar nama tersebut akan dihubungi secara personal untuk datang tanda tangan kontrak di kantor.

2. Pelaksanaan Training (Seleksi Akhir) dilakukan di Manokwari, Papua Barat

3. Kandidat pelamar PMNH diundang ke Manokwari untuk mengikuti Training  yang akan dilaksanakan pada tanggal 28 – 30 Januari 2026

4. Bila ada hal yang belum jelas, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836.

Sampai bertemu di Manokwari!

Kategori
Lowongan Kerja New Template

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Pertama PMNH Tahun 2026​

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Pertama PMNH Tahun 2026

 

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Tahap Pertama. Dari hasil seleksi tersebut 24 pelamar dinyatakan LULUS. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri tahap seleksi selanjutnya, harap diperiksa dengan saksama. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Wawancara dilaksanakan secara online melalui zoom

2. Peserta diharapkan telah hadir 10 menit sebelum waktu wawancara

3. Teknis pelaksanaan wawancara akan disampaikan melalui WAG sehingga pastikan anda telah tergabung dalam WAG yang diperoleh ketika mendaftar pertama kali

4. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya

Kategori
Belum Publish New Template Uncategorized @id

Dari Kampung ke Pasar: Menelusuri Perjalanan Minyak Kelapa Abun

Dari Kampung ke Pasar: Menelusuri Perjalanan Minyak Kelapa Abun

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

14 Januari 2026

Apakah Sobat Lestari  masih ingat dengan cerita berjudul “Minyak Kelapa untuk Konservasi: Ketika Ekonomi Masyarakat dan Penyu Belimbing Bertumbuh Bersama” yang terbit pada akhir November 2025 lalu?

Kisah itu mengawali perjalanan produksi minyak kelapa di sembilan kampung, yang tersebar pada tiga distrik di Kabupaten Tambrauw yaitu Distrik Tobouw, Abun, dan Amberbaken. Sepanjang tahun 2025, produksi dari sembilan kampung itu hampir mencapai 1.500 liter.

Dengan capaian produksi yang signifikan tersebut, tentu muncul pertanyaan penting. Bagaimana hasil produksi ini kemudian dipasarkan dan sampai ke tangan konsumen? Cerita perjalanannya dimulai dari sini.

Minyak dituang ke dalam jerigen untuk dibawa dari kampung ke Manokwari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Tim melakukan pengemasan ke botol minyak kelapa 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Tumpukan jerigen terlihat di dermaga Manokwari, baru saja turun dari kapal Sabuk Nusantara 112. Jerigen-jerigen itu berisi minyak kelapa mentah dari kampung-kampung di Tambrauw, yang merupakan hasil pendampingan tim di lapangan. Iriani dan Mika, anggota tim pemberdayaan yang bertanggung jawab atas pengendalian mutu, pengemasan, dan pemasaran (Quality Control/QC), sudah menunggu kedatangannya.

“Yang dari Wau dan Weyaf sudah datang,” ujar Mika sambil memeriksa dokumen pengiriman. Tugas mereka sungguh penting, yakni memastikan pelanggan mendapat produk terbaik, dan yang lebih utama, agar tersedia modal untuk kembali membeli minyak dari kelompok masyarakat di kampung.

Di dapur QC, proses penyempurnaan dimulai. Iriani dan timnya memeriksa kadar air setiap kiriman. Minyak yang tampak masih mengandung banyak buih kemudian dipanaskan guna memastikan tidak ada lagi sisa air di dalamnya. Selanjutnya, mereka menuang minyak ke dalam penyaring berjaring sangat rapat untuk memisahkan endapan. Proses itu dilakukan hingga yang tersisa hanyalah cairan jernih beraroma kelapa segar. Setelah bersih dan dingin, minyak itu dikemas ke dalam botol berukuran satu liter lalu dilabeli satu per satu.

Tidak berhenti di situ. Setiap botol juga diberi tanda berupa nomor batch produksi dan tanggal kedaluwarsa. “Ini dari kode batch 29 Desember 2025,” catat Iriani sambil menghitung semua botol dan mencocokkannya dengan laporan dari lapangan. Semua harus akurat.

Restock minyak kelapa ke toko Intan Jaya Mart Wosi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Minyak kelapa di pajangan etalase toko Intan Jaya Mart Wosi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Kode “29 Desember 2025” memiliki arti tersendiri dalam sistem pencatatan mereka. Angka 29 berarti ini adalah pengiriman ke-29 dari lapangan, kata Desember menunjukkan bulan pengirimannya, sementara 2025 adalah tahun produksinya. Pemberian kode ini adalah cara Tim QC untuk memastikan bahwa setiap pengiriman memiliki jejak yang tercatat dengan baik.

Minyak yang sudah siap kini melanjutkan perjalanannya. Sebagian diantar ke berbagai toko dengan sistem konsinyasi. Di Manokwari sendiri, setidaknya ada 11 toko yang menjadi titik penjualan Minyak Kelapa Abun. Harga dasarnya adalah Rp39.000,00 per liter, namun harga jual eceran di toko bisa bervariasi, mulai dari Rp42.000,00 hingga Rp49.000,00 per liter.

“Yang di Hadi Supermarket dijual Rp49.000,00,” jelas Iriani sambil menata botol-botol dalam kotak yang akan dibawa. “Sementara di toko seperti Intan Jaya dan Istana Sayur dan Buah 2, harganya Rp42.000,00,” tambahnya.

Persiapan restock minyak kelapa ke toko-toko
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Persiapan restock ke toko Kalawai Mart & Nui Fresh Market
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Selain mengandalkan toko, Tim QC dan Pemasaran juga melayani pengantaran langsung ke pelanggan tetap. Salah satunya adalah Kak Enita Rumansara, yang sudah setia membeli sejak awal produksi. “Ini dua puluh botol untuk bulan ini,” ucap Kak Enita saat menerima minyak pesanannya. Perempuan yang berprofesi sebagai tukang urut di Manokwari itu menjelaskan, “Saya gunakan minyak kelapa ini khusus untuk keperluan pijat.”

Di balik setiap botol yang terjual, ada putaran ekonomi yang terus berdenyut. Uang hasil penjualan mengalir kembali ke kampung, untuk membiayai produksi berikutnya sekaligus mendukung upaya konservasi penyu belimbing yang menjadi bagian tak terpisahkan dari program ini. Dengan demikian, masyarakat mendapat manfaat langsung dari kegiatan konservasi yang mereka lakukan bersama di Taman Pesisir Jeen Womom.

Itulah rangkaian cerita sederhana di balik sebotol Minyak Kelapa Abun. Dari kampung-kampung di pedalaman dan pesisir Papua Barat Daya, minyak ini berlayar ke Manokwari, melalui proses yang penuh ketelitian. Pada akhirnya, ia sampai ke dapur keluarga yang menghargai bukan hanya rasa dan kualitas, tetapi juga setiap cerita di balik tetesannya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Uji Coba Buku dan Video ke Sekolah

Uji Coba Produk Informasi ke Sekolah di Manokwari

Penulis

Noviyanti

Tanggal

20 Januari 2026

Mengawali tahun 2026, kami melakukan uji coba beberapa produk informasi ke sekolah-sekolah di Manokwari. Produk informasi ini terdiri dari buku cerita bergambar, komik, dan video edukasi yang ditujukan untuk kelompok usia yang berbeda.

 

Buku cerita bergambar dan komik kami rancang bersama tim dari Program Studi Desain Komunikasi Visual, Institut Teknologi Sepuluh November (Prodi DKV ITS) Surabaya. Kami sangat senang akhirnya bisa melihat buku-buku ini hadir secara fisik. Sebelumnya, proses perancangan dilakukan secara daring bersama mahasiswa dan dosen dari Prodi DKV ITS. Kedua mahasiswa yang berperan sebagai illustrator buku adalah Farah Jinan Huwaida dan Anak Agung Sagung Laksmi Dharmika Yowani. Dalam proses ini, ide dan pengalaman lapangan dari tim kami diterjemahkan ke dalam bentuk visual dan cerita yang dekat dengan dunia anak dan remaja.

 

Buku cerita bergambar berjudul Petualangan Pembi si Penyu Belimbing ditujukan untuk anak usia 7–12 tahun. Pembi adalah nama karakter penyu belimbing yang kami ciptakan. Buku ini bercerita tentang seekor mama penyu yang bertelur di pantai, hingga akhirnya tukik-tukik menetas dan berlari menuju laut. Salah satu tukik bernama Pembi berhasil mencapai laut dengan selamat. Melalui cerita ini, anak-anak diajak mengenal peran penting manusia dalam menjaga sarang telur penyu, baik dari predator di darat maupun dari ancaman suhu pasir yang terlalu tinggi.

Anak-anak sekolah dasar membaca buku cerita bergambar 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Para siswa SD mengisi mini kuis 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Salah satu halaman buku yang menampilkan Pembi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Berbeda dengan buku cerita bergambar, kami juga menyusun sebuah komik edukasi berjudul Jejak Penyu Belimbing: Belajar dari Laut, Menjaga BLKB. Buku ini ditujukan untuk anak usia pra-remaja (13–15 tahun). Komik ini bercerita tentang dua tokoh pra-remaja, Kristina dan Obed, yang belajar berbagai informasi tentang penyu dari seorang tokoh dewasa bernama Bapa Ayub. Beberapa topik yang dibahas dalam komik ini antara lain perbedaan penyu dan kura-kura, jenis-jenis penyu, serta persebaran penyu di berbagai belahan dunia.

Untuk kelompok usia remaja (16–18 tahun), kami mengembangkan sebuah video edukasi. Video ini berisi informasi tentang jenis-jenis penyu yang bertelur di Papua, peran penting penyu bagi ekosistem laut, serta bahaya mengonsumsi daging dan telur penyu. Ketiga materi outreach ini disusun dengan pendekatan budaya Papua. Karakter dalam buku dan komik digambarkan dengan raut wajah dan postur orang asli Papua, sementara bahasa tulisan dan lisan menggunakan dialek Papua Melayu.

Hasil visual edukasi – Buku cerita bergambar dan komik 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Ketiga produk ini dirancang untuk berbagi informasi tentang upaya perlindungan penyu di Taman Pesisir Jeen Womom, dengan sasaran utama generasi muda, di mana pun mereka berada. Sebelum disebarluaskan secara lebih luas, kami merasa penting untuk menguji langsung materi-materi ini kepada siswa. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa pesan pelestarian penyu dapat dipahami dengan baik, relevan dengan kehidupan mereka, dan disampaikan dengan cara yang menarik sesuai usia.

Oleh karena itu, pada 9, 12, dan 13 Januari 2026, kami mengunjungi tiga kelas VII di SMP Negeri 6 Manokwari, satu kelas III di SD Santa Sisilia Manokwari, serta satu kelas XII di SMA Negeri 1 Manokwari. Jumlah kelas yang dikunjungi menyesuaikan ketersediaan waktu dan persetujuan dari masing-masing pihak sekolah. Secara keseluruhan, sebanyak 123 siswa terlibat dalam uji coba materi edukasi ini. Siswa SD diminta membaca buku cerita bergambar, siswa SMP membaca komik, sedangkan siswa SMA menonton video edukasi.

Nonton bareng video edukasi siswa SMA Negeri 1
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Naqliya Arum)

Uji coba komik – siswa SMP Negeri 6 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Hasil Uji Coba

Kami mengajukan pertanyaan sebelum dan setelah para siswa membaca buku atau menonton video. Pertanyaan kami susun menggunakan informasi yang ada pada buku dan video. Hasil uji coba menunjukkan bahwa ketiga materi edukasi ini berhasil meningkatkan pengetahuan siswa di semua jenjang. Pada siswa SD, nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 43,47% sebelum membaca buku menjadi 85,86% setelahnya. Pada siswa SMP, nilai rata-rata meningkat dari 16,85% menjadi 58,33% setelah membaca komik. Sementara itu, pada siswa SMA, nilai rata-rata meningkat dari 57,93% menjadi 89,66% setelah menonton video edukasi.

Selain peningkatan pengetahuan, hasil kuesioner juga menunjukkan respons yang sangat positif dari siswa. Sebagian besar siswa menilai materi yang mereka terima menarik, mudah dipahami, dan relevan dengan kehidupan mereka, khususnya karena menggunakan pendekatan visual dan budaya Papua. Pada siswa SMP dan SMA, materi edukasi juga mendorong kepedulian terhadap penyu dan lingkungan laut, serta menumbuhkan keinginan untuk ikut menjaga penyu dan wilayah pesisir.

Uji coba ini menjadi langkah awal yang penting bagi kami sebelum materi-materi edukasi ini digunakan secara lebih luas. Melalui proses ini, kami belajar bahwa pendekatan yang sesuai usia, visual yang kuat, serta kedekatan budaya memiliki peran besar dalam membantu generasi muda memahami dan peduli terhadap isu konservasi. Kami berharap buku, komik, dan video ini dapat terus digunakan sebagai sarana belajar dan berbagi cerita tentang penyu belimbing dan upaya pelestariannya, tidak hanya di Papua, tetapi juga di berbagai wilayah.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya