Kategori
New Template Uncategorized @id

Khofifah: Dari Konservasi ke Kontemplasi​

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Khofifah: Dari Konservasi ke Kontemplasi

Penulis

Khofifah Indah Pratiwi Syahrudin

Tanggal

11 Februari 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Panggilan yang Membawa ke Timur

Semuanya berawal dari sebuah postingan di Instagram milik Science for Conservation yang di-repost salah satu akun komunitas konservasi di Sulawesi Tengah tentang pembukaan lowongan kru pantai peneluran penyu. Awalnya aku tidak berniat untuk mendaftar, tetapi ada sesuatu yang menarik perhatian dan membuatku mencoba melengkapi semua berkas. Tak ada ekspektasi besar untuk diterima, namun Tuhan berkehendak lain.

Aku berangkat dari Sulawesi menuju Manokwari—tempat yang bahkan belum pernah kupijak sebelumnya. Perjalanan ini terasa seperti keputusan besar, karena aku datang tanpa siapa-siapa, hanya membawa keyakinan dan rasa ingin tahu tentang dunia konservasi, khususnya penyu.

Aku pernah meneliti kura-kura saat kuliah, dan dari situlah muncul pertanyaan sederhana: “Bagaimana kalau kali ini aku belajar dari penyu?” Akhirnya, aku tiba di pantai tempat aku akan tinggal selama berbulan-bulan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di pasir, aku terdiam lama—menyadari bahwa langkah kecil ini akan menjadi awal dari perjalanan besar.

Foto bersama tamu dari luar negeri yang ingin melihat penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Foto bersama tim pantai dan tim pemberdayaan masyarakat S4C
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kehidupan di Lapangan: Antara Dini Hari dan Cahaya Bulan

Kehidupan di pantai dimulai ketika kebanyakan orang sedang tidur. Setiap malam pukul sepuluh, kami memulai patroli di bawah cahaya bulan, berjalan menyusuri pasir sejauh beberapa kilometer hingga dini hari. Suara ombak dan gelapnya menyesuaikan diri.

Malam-malam itu menjadi saksi untuk pertama kalinya aku menemukan jejak penyu, lalu bertemu langsung dengan penyu belimbing pertamaku—raksasa lembut yang membuatku kagum, gugup sekaligus takut. Saat memasang Passive Integrated Transponder (PIT) tag untuk pertama kali, aku menangis. Sebab aku takut menyakiti penyu belimbing tersebut, tetapi setelah aku berhasil melakukan pemasangan chip pada induk penyu belimbing aku sadar bahwa, aku sedang menjadi bagian kecil dari upaya menjaga kehidupan.

Keesokan harinya, kami melindungi sarang-sarang penyu. Ada sarang yang harus dipindahkan karena terlalu dekat dengan ombak, ada yang diberi pagar daun pakis agar aman dari predator. Di sanalah aku belajar bahwa setiap tindakan kecil, seperti menancapkan pagar atau memindahkan telur, punya arti besar untuk kelangsungan hidup mereka.

Rasa lelah terbayar setiap kali melihat tukik menetas dan berlari menuju laut. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan—seolah setiap langkah kecil mereka membawa pesan bahwa kehidupan selalu menemukan jalannya.

Khofifah dan tim melakukan pengukuran terhadap penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tukik penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Khofifah Pratiwi)

Interaksi dan Toleransi: Cerita di Balik Konservasi

Awalnya, beradaptasi dengan tim bukan hal yang mudah. Logat mereka cepat, nada bicara tinggi, dan aku sempat mengira mereka marah. Namun ternyata, itulah cara mereka menunjukkan keakraban. Lama-kelamaan, suasana berubah. Dari yang awalnya pendiam, aku menjadi orang yang suka bercanda, ikut tertawa, bahkan saling roasting satu sama lain.

Aku satu-satunya yang muslim di antara mereka semua di awal musim, akan tetapi mereka menerimaku sepenuhnya. Mereka menghargai waktuku untuk ibadah dan sebaliknya, dan aku belajar bahwa perbedaan bukan penghalang, melainkan justru memperkaya. Dari mereka, aku belajar banyak hal: tentang keterbukaan, tentang cara berkomunikasi yang jujur, dan tentang keluarga yang bisa terbentuk tanpa ikatan darah.

Di sisi lain, aku juga menyadari bahwa pendidikan di sekitar pantai peneluran memegang peran penting. Di salah satu kampung di sekitar pantai peneluran penyu, ada sekolah yang hanya memiliki satu atau dua guru untuk mengajar beberapa kelas sekaligus. Di tengah keterbatasan itu Science for Conservation juga menghadirkan rumah belajar—tempat anak-anak bisa menambah pengetahuan mereka di sore hari. Dari sana aku sadar, konservasi bukan hanya tentang menjaga penyu, tetapi juga tentang memberdayakan manusia agar tumbuh bersama alamnya.

Ombak, Arus dan Keberanian

Tak semua hari di pantai berjalan dengan tenang. Ada hari-hari ketika laut bergelombang tinggi dan arus terasa kuat. Saat itu, keberanian diuji. Aku masih ingat momen ketika kami harus mendorong perahu ke laut, menghitung waktu di antara ombak agar tidak terbalik. Terkadang mesin perahu tidak mau menyala, membuat detak jantungku berpacu. Tetapi setiap kali perahu berhasil menembus ombak, ada rasa lega dan bangga yang sulit dijelaskan. Dari laut, aku belajar bahwa keberanian bukan berarti tanpa rasa takut, tetapi tentang tetap bergerak meski takut ada.

Foto bersama setelah mencari udang di sungai
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Penutup: Menjaga yang Hidup, Menemukan yang Bermakna

Lima bulan di pantai peneluran penyu mengubah banyak hal dalam diriku. Aku yang dulu ragu kini lebih percaya diri, lebih berani, dan lebih memahami arti kesabaran. Konservasi bukan hanya tentang menjaga penyu, hutan, atau laut, tetapi juga tentang menjaga nurani manusia agar tetap peka terhadap kehidupan.

Dari pasir yang lembut hingga ombak yang keras, aku belajar bahwa setiap bentuk kehidupan punya caranya sendiri untuk bertahan, dan tugas kita hanyalah menghormati ritme itu. Setiap tukik yang dilepaskan ke laut mengingatkanku bahwa menjaga kehidupan juga berarti berani melepaskan—melepaskan ego, ketakutan, dan keinginan untuk selalu mengendalikan.

Dari pantai ini, aku tidak hanya menemukan makna konservasi, tetapi juga menemukan diriku yang lebih utuh. Bahwa menjaga alam, sejatinya, adalah belajar hidup selaras dengannya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Pelatihan PMNH Digelar: Perkuat Kesiapan Kerja Lapangan Tahun 2026

Pelatihan PMNH Digelar: Perkuat Kesiapan Kerja Lapangan Tahun 2026

Penulis

Liana Mongdong, Kartika Zohar

Tanggal

08 Februari 2026

Pelatihan Pendamping Masyarakat dan Narahubung (PMNH) telah dilaksanakan pada 28–30 Januari 2026 di Ruang Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA) sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat di Taman Pesisir (TP) Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya.

Pelatihan ini dibuka oleh Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA), Freddy Pattiselanno. Selain 11 orang PMNH, pelatihan ini juga mengikutsertakan 6 mahasiswa yang akan melakukan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) UNIPA. Kegiatan di lapangan dilakukan hingga April 2026.

Kegiatan ini bertujuan untuk membekali peserta dengan pemahaman menyeluruh terkait program, keterampilan teknis lapangan, serta kemampuan bekerja secara kolaboratif dan profesional. Materi yang diberikan mencakup pengenalan program pelestarian penyu, pengelolaan administrasi dan pelaporan keuangan kegiatan, pembagian tim dan lokasi kerja, serta pelaksanaan program pendidikan formal dan informal bagi masyarakat.

Proses tanda tangan kontrak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pemaparan materi pengelolaan keuangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pada hari pertama, sebelum pelatihan dimulai, PMNH melakukan penandatanganan kontrak kerja. Tanda tangan di atas kertas itu bukan sekadar formalitas, melainkan pernyataan komitmen dan tanggung jawab nyata untuk mendampingi masyarakat Jeen Womom.

Setelah menandatangani kontrak, materi yang diterima di hari pertama fokus pada fondasi program. Para peserta diajak mendalami visi misi pelestarian penyu, sistem administrasi dan keuangan yang akuntabel, mekanisme pelaporan lapangan, serta strategi mengelola kegiatan pendidikan melalui rumah belajar. Materi-materi ini menjadi panduan operasional mereka selama empat bulan ke depan.

Hari kedua diisi dengan praktik mengajar Membaca, Menulis, dan Berhitung (Calistung), Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH), teknik dokumentasi kegiatan, pengembangan keterampilan pendukung, serta materi team building dan manajemen konflik. Sementara itu, di hari terakhir, difokuskan pada materi pembuatan minyak kelapa yang bersih dan higienis, pengelolaan rumah produksi, pengenalan biologi penyu dan upaya konservasinya, serta praktik mengajar Computer English (Comeng) untuk anak usia PAUD hingga SD.

Praktik cara mengajar calistung
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Belajar merajut amigurumi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pelatihan ini ditutup oleh Pengelola Program Sains untuk Konservasi, Fitryanti Pakiding, dengan harapan para Pendamping Masyarakat dan Narahubung memiliki kesiapan pengetahuan, keterampilan, serta komitmen yang kuat untuk mendukung keberhasilan dan keberlanjutan program di lapangan.

Dengan bekal yang komprehensif ini, para PMNH dan mahasiswa KKNT UNIPA siap turun ke masyarakat. Mereka bukan hanya menjadi perpanjangan tangan program, tetapi juga mitra belajar dan agen perubahan yang diharapkan dapat menuliskan cerita baru tentang pemberdayaan dan pelestarian di Taman Pesisir Jeen Womom. Perjalanan panjang dimulai dari sini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template

Catatan Si Karang

Catatan Si Karang

Penulis

Habema Monim

Tanggal

3 Februari 2026

Aku tumbuh perlahan, jauh lebih lambat daripada waktu yang dipahami manusia. Setiap tahun, tubuhku hanya bertambah beberapa milimeter lapisan tipis kalsium yang merekam suhu laut, kejernihan air, dan cahaya matahari. Aku tidak bisa berpindah ketika arus membawa lumpur atau panas datang terlalu lama. Aku hanya bertahan, diam, dan mencatat dengan caraku sendiri.

Dulu, kehidupan di sekitarku terasa seimbang. Ikan herbivora memakan alga yang mencoba menutup tubuhku, ikan besar melintas seperti penjaga yang setia, dan larva karang muda menemukan tempat untuk tumbuh. Kini, keseimbangan itu mulai goyah. Ikan-ikan semakin jarang, alga tumbuh lebih cepat, dan ruang bernapas makin sempit. Dari atas permukaan, laut ini mungkin masih tampak indah. Namun keindahan sering kali menipu.

Aku tidak bisa berteriak ketika warnaku memudar akibat panas yang berlebihan. Aku tidak bisa memberi tanda ketika alga mulai mengalahkanku sedikit demi sedikit. Perubahanku berlangsung pelan, nyaris tak terlihat, tetapi pasti. Tanpa seseorang yang mau mengamati dan mencatat, penderitaanku akan dianggap biasa atau bahkan tidak ada.

Warnaku yang Memudar
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Alga  yang Mulai Mengalahkanku
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Suatu hari, manusia datang. Mereka turun perlahan, membawa meteran, papan tulis, dan kamera. Mereka membentangkan garis lurus di atas tubuhku dan menghitung apa yang hidup, apa yang mati, dan apa yang mulai berubah. Mereka menyebutnya Reef Health Monitoring. Aku tidak mengerti istilah itu, tetapi aku merasakan kehati-hatian mereka. Mereka tidak merusak, hanya mengamati. Seolah mereka tahu bahwa setiap sentuhan yang salah bisa menjadi luka baru bagiku.

Mereka yang Datang
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Tahun demi tahun, mereka datang kembali ke tempat yang sama. Mereka mencatat tutupan karang hidup, jumlah ikan yang hadir dan yang lainnya. Dari sudut pandangku, kunjungan itu adalah satu-satunya saat ketika perubahan sunyiku diperhatikan. Dari sudut pandang mereka, data itu menjadi bukti: ”bahwa terumbu tidak rusak secara tiba-tiba, tetapi menurun perlahan ketika tekanan dibiarkan terus terjadi”.

Ketika laut memanas dan aku memutih, mereka mencatatnya. Ketika ikan herbivora berkurang dan alga meningkat, mereka menuliskannya. Mereka mengubah tubuhku menjadi angka dan grafik, tetapi justru melalui itulah ceritaku didengar. Tanpa monitoring, manusia mungkin hanya akan datang saat aku telah runtuh menjadi puing.

Aku yang Sehat (Foto: Loka PSPL Sorong/Prehadi)

Aku hanyalah satu karang kecil di antara ribuan, tetapi dataku menjadi bagian dari kisah ekosistem yang lebih besar. Dari catatan-catatan itu, manusia mulai memahami bahwa pengelolaan laut tidak bisa didasarkan pada apa yang terlihat sesaat, melainkan pada perubahan yang terukur dari waktu ke waktu. Reef Health Monitoring adalah bahasa yang menjembatani dunia mereka dan dunia kami.

Aku tidak tahu bagaimana masa depan kami dan laut ini. Namun selama masih ada yang datang untuk mengamati, mencatat, dan belajar, masih ada harapan bahwa catatan sunyiku tidak berakhir sia-sia.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Kedua PMNH Tahun 2026

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Kedua PMNH Tahun 2026

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah mengikuti tahap seleksi wawancara Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) pada tanggal 22 Januari 2026. Berikut kami sampaikan nama-nama yang pelamar yang telah LOLOS Seleksi Tahap 2. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

1. Daftar nama tersebut akan dihubungi secara personal untuk datang tanda tangan kontrak di kantor.

2. Pelaksanaan Training (Seleksi Akhir) dilakukan di Manokwari, Papua Barat

3. Kandidat pelamar PMNH diundang ke Manokwari untuk mengikuti Training  yang akan dilaksanakan pada tanggal 28 – 30 Januari 2026

4. Bila ada hal yang belum jelas, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836.

Sampai bertemu di Manokwari!

Kategori
Lowongan Kerja New Template

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Pertama PMNH Tahun 2026​

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Pertama PMNH Tahun 2026

 

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Tahap Pertama. Dari hasil seleksi tersebut 24 pelamar dinyatakan LULUS. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri tahap seleksi selanjutnya, harap diperiksa dengan saksama. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Wawancara dilaksanakan secara online melalui zoom

2. Peserta diharapkan telah hadir 10 menit sebelum waktu wawancara

3. Teknis pelaksanaan wawancara akan disampaikan melalui WAG sehingga pastikan anda telah tergabung dalam WAG yang diperoleh ketika mendaftar pertama kali

4. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya

Kategori
Belum Publish New Template Uncategorized @id

Dari Kampung ke Pasar: Menelusuri Perjalanan Minyak Kelapa Abun

Dari Kampung ke Pasar: Menelusuri Perjalanan Minyak Kelapa Abun

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

14 Januari 2026

Apakah Sobat Lestari  masih ingat dengan cerita berjudul “Minyak Kelapa untuk Konservasi: Ketika Ekonomi Masyarakat dan Penyu Belimbing Bertumbuh Bersama” yang terbit pada akhir November 2025 lalu?

Kisah itu mengawali perjalanan produksi minyak kelapa di sembilan kampung, yang tersebar pada tiga distrik di Kabupaten Tambrauw yaitu Distrik Tobouw, Abun, dan Amberbaken. Sepanjang tahun 2025, produksi dari sembilan kampung itu hampir mencapai 1.500 liter.

Dengan capaian produksi yang signifikan tersebut, tentu muncul pertanyaan penting. Bagaimana hasil produksi ini kemudian dipasarkan dan sampai ke tangan konsumen? Cerita perjalanannya dimulai dari sini.

Minyak dituang ke dalam jerigen untuk dibawa dari kampung ke Manokwari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Tim melakukan pengemasan ke botol minyak kelapa 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Tumpukan jerigen terlihat di dermaga Manokwari, baru saja turun dari kapal Sabuk Nusantara 112. Jerigen-jerigen itu berisi minyak kelapa mentah dari kampung-kampung di Tambrauw, yang merupakan hasil pendampingan tim di lapangan. Iriani dan Mika, anggota tim pemberdayaan yang bertanggung jawab atas pengendalian mutu, pengemasan, dan pemasaran (Quality Control/QC), sudah menunggu kedatangannya.

“Yang dari Wau dan Weyaf sudah datang,” ujar Mika sambil memeriksa dokumen pengiriman. Tugas mereka sungguh penting, yakni memastikan pelanggan mendapat produk terbaik, dan yang lebih utama, agar tersedia modal untuk kembali membeli minyak dari kelompok masyarakat di kampung.

Di dapur QC, proses penyempurnaan dimulai. Iriani dan timnya memeriksa kadar air setiap kiriman. Minyak yang tampak masih mengandung banyak buih kemudian dipanaskan guna memastikan tidak ada lagi sisa air di dalamnya. Selanjutnya, mereka menuang minyak ke dalam penyaring berjaring sangat rapat untuk memisahkan endapan. Proses itu dilakukan hingga yang tersisa hanyalah cairan jernih beraroma kelapa segar. Setelah bersih dan dingin, minyak itu dikemas ke dalam botol berukuran satu liter lalu dilabeli satu per satu.

Tidak berhenti di situ. Setiap botol juga diberi tanda berupa nomor batch produksi dan tanggal kedaluwarsa. “Ini dari kode batch 29 Desember 2025,” catat Iriani sambil menghitung semua botol dan mencocokkannya dengan laporan dari lapangan. Semua harus akurat.

Restock minyak kelapa ke toko Intan Jaya Mart Wosi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Minyak kelapa di pajangan etalase toko Intan Jaya Mart Wosi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Kode “29 Desember 2025” memiliki arti tersendiri dalam sistem pencatatan mereka. Angka 29 berarti ini adalah pengiriman ke-29 dari lapangan, kata Desember menunjukkan bulan pengirimannya, sementara 2025 adalah tahun produksinya. Pemberian kode ini adalah cara Tim QC untuk memastikan bahwa setiap pengiriman memiliki jejak yang tercatat dengan baik.

Minyak yang sudah siap kini melanjutkan perjalanannya. Sebagian diantar ke berbagai toko dengan sistem konsinyasi. Di Manokwari sendiri, setidaknya ada 11 toko yang menjadi titik penjualan Minyak Kelapa Abun. Harga dasarnya adalah Rp39.000,00 per liter, namun harga jual eceran di toko bisa bervariasi, mulai dari Rp42.000,00 hingga Rp49.000,00 per liter.

“Yang di Hadi Supermarket dijual Rp49.000,00,” jelas Iriani sambil menata botol-botol dalam kotak yang akan dibawa. “Sementara di toko seperti Intan Jaya dan Istana Sayur dan Buah 2, harganya Rp42.000,00,” tambahnya.

Persiapan restock minyak kelapa ke toko-toko
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Persiapan restock ke toko Kalawai Mart & Nui Fresh Market
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Selain mengandalkan toko, Tim QC dan Pemasaran juga melayani pengantaran langsung ke pelanggan tetap. Salah satunya adalah Kak Enita Rumansara, yang sudah setia membeli sejak awal produksi. “Ini dua puluh botol untuk bulan ini,” ucap Kak Enita saat menerima minyak pesanannya. Perempuan yang berprofesi sebagai tukang urut di Manokwari itu menjelaskan, “Saya gunakan minyak kelapa ini khusus untuk keperluan pijat.”

Di balik setiap botol yang terjual, ada putaran ekonomi yang terus berdenyut. Uang hasil penjualan mengalir kembali ke kampung, untuk membiayai produksi berikutnya sekaligus mendukung upaya konservasi penyu belimbing yang menjadi bagian tak terpisahkan dari program ini. Dengan demikian, masyarakat mendapat manfaat langsung dari kegiatan konservasi yang mereka lakukan bersama di Taman Pesisir Jeen Womom.

Itulah rangkaian cerita sederhana di balik sebotol Minyak Kelapa Abun. Dari kampung-kampung di pedalaman dan pesisir Papua Barat Daya, minyak ini berlayar ke Manokwari, melalui proses yang penuh ketelitian. Pada akhirnya, ia sampai ke dapur keluarga yang menghargai bukan hanya rasa dan kualitas, tetapi juga setiap cerita di balik tetesannya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Uji Coba Buku dan Video ke Sekolah

Uji Coba Produk Informasi ke Sekolah di Manokwari

Penulis

Noviyanti

Tanggal

20 Januari 2026

Mengawali tahun 2026, kami melakukan uji coba beberapa produk informasi ke sekolah-sekolah di Manokwari. Produk informasi ini terdiri dari buku cerita bergambar, komik, dan video edukasi yang ditujukan untuk kelompok usia yang berbeda.

 

Buku cerita bergambar dan komik kami rancang bersama tim dari Program Studi Desain Komunikasi Visual, Institut Teknologi Sepuluh November (Prodi DKV ITS) Surabaya. Kami sangat senang akhirnya bisa melihat buku-buku ini hadir secara fisik. Sebelumnya, proses perancangan dilakukan secara daring bersama mahasiswa dan dosen dari Prodi DKV ITS. Kedua mahasiswa yang berperan sebagai illustrator buku adalah Farah Jinan Huwaida dan Anak Agung Sagung Laksmi Dharmika Yowani. Dalam proses ini, ide dan pengalaman lapangan dari tim kami diterjemahkan ke dalam bentuk visual dan cerita yang dekat dengan dunia anak dan remaja.

 

Buku cerita bergambar berjudul Petualangan Pembi si Penyu Belimbing ditujukan untuk anak usia 7–12 tahun. Pembi adalah nama karakter penyu belimbing yang kami ciptakan. Buku ini bercerita tentang seekor mama penyu yang bertelur di pantai, hingga akhirnya tukik-tukik menetas dan berlari menuju laut. Salah satu tukik bernama Pembi berhasil mencapai laut dengan selamat. Melalui cerita ini, anak-anak diajak mengenal peran penting manusia dalam menjaga sarang telur penyu, baik dari predator di darat maupun dari ancaman suhu pasir yang terlalu tinggi.

Anak-anak sekolah dasar membaca buku cerita bergambar 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Para siswa SD mengisi mini kuis 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Salah satu halaman buku yang menampilkan Pembi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Berbeda dengan buku cerita bergambar, kami juga menyusun sebuah komik edukasi berjudul Jejak Penyu Belimbing: Belajar dari Laut, Menjaga BLKB. Buku ini ditujukan untuk anak usia pra-remaja (13–15 tahun). Komik ini bercerita tentang dua tokoh pra-remaja, Kristina dan Obed, yang belajar berbagai informasi tentang penyu dari seorang tokoh dewasa bernama Bapa Ayub. Beberapa topik yang dibahas dalam komik ini antara lain perbedaan penyu dan kura-kura, jenis-jenis penyu, serta persebaran penyu di berbagai belahan dunia.

Untuk kelompok usia remaja (16–18 tahun), kami mengembangkan sebuah video edukasi. Video ini berisi informasi tentang jenis-jenis penyu yang bertelur di Papua, peran penting penyu bagi ekosistem laut, serta bahaya mengonsumsi daging dan telur penyu. Ketiga materi outreach ini disusun dengan pendekatan budaya Papua. Karakter dalam buku dan komik digambarkan dengan raut wajah dan postur orang asli Papua, sementara bahasa tulisan dan lisan menggunakan dialek Papua Melayu.

Hasil visual edukasi – Buku cerita bergambar dan komik 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Ketiga produk ini dirancang untuk berbagi informasi tentang upaya perlindungan penyu di Taman Pesisir Jeen Womom, dengan sasaran utama generasi muda, di mana pun mereka berada. Sebelum disebarluaskan secara lebih luas, kami merasa penting untuk menguji langsung materi-materi ini kepada siswa. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa pesan pelestarian penyu dapat dipahami dengan baik, relevan dengan kehidupan mereka, dan disampaikan dengan cara yang menarik sesuai usia.

Oleh karena itu, pada 9, 12, dan 13 Januari 2026, kami mengunjungi tiga kelas VII di SMP Negeri 6 Manokwari, satu kelas III di SD Santa Sisilia Manokwari, serta satu kelas XII di SMA Negeri 1 Manokwari. Jumlah kelas yang dikunjungi menyesuaikan ketersediaan waktu dan persetujuan dari masing-masing pihak sekolah. Secara keseluruhan, sebanyak 123 siswa terlibat dalam uji coba materi edukasi ini. Siswa SD diminta membaca buku cerita bergambar, siswa SMP membaca komik, sedangkan siswa SMA menonton video edukasi.

Nonton bareng video edukasi siswa SMA Negeri 1
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Naqliya Arum)

Uji coba komik – siswa SMP Negeri 6 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Hasil Uji Coba

Kami mengajukan pertanyaan sebelum dan setelah para siswa membaca buku atau menonton video. Pertanyaan kami susun menggunakan informasi yang ada pada buku dan video. Hasil uji coba menunjukkan bahwa ketiga materi edukasi ini berhasil meningkatkan pengetahuan siswa di semua jenjang. Pada siswa SD, nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 43,47% sebelum membaca buku menjadi 85,86% setelahnya. Pada siswa SMP, nilai rata-rata meningkat dari 16,85% menjadi 58,33% setelah membaca komik. Sementara itu, pada siswa SMA, nilai rata-rata meningkat dari 57,93% menjadi 89,66% setelah menonton video edukasi.

Selain peningkatan pengetahuan, hasil kuesioner juga menunjukkan respons yang sangat positif dari siswa. Sebagian besar siswa menilai materi yang mereka terima menarik, mudah dipahami, dan relevan dengan kehidupan mereka, khususnya karena menggunakan pendekatan visual dan budaya Papua. Pada siswa SMP dan SMA, materi edukasi juga mendorong kepedulian terhadap penyu dan lingkungan laut, serta menumbuhkan keinginan untuk ikut menjaga penyu dan wilayah pesisir.

Uji coba ini menjadi langkah awal yang penting bagi kami sebelum materi-materi edukasi ini digunakan secara lebih luas. Melalui proses ini, kami belajar bahwa pendekatan yang sesuai usia, visual yang kuat, serta kedekatan budaya memiliki peran besar dalam membantu generasi muda memahami dan peduli terhadap isu konservasi. Kami berharap buku, komik, dan video ini dapat terus digunakan sebagai sarana belajar dan berbagi cerita tentang penyu belimbing dan upaya pelestariannya, tidak hanya di Papua, tetapi juga di berbagai wilayah.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Loise: Tempat Indah yang Tersembunyi di Pantai Jeen Yessa

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Loise: Tempat Indah yang Tersembunyi di Pantai Jeen Yessa

Penulis

Loise Liberta Loar

Tanggal

06 Januari 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Hai, saya Loise Liberta Loar biasanya dipanggil Loise. Latar belakang pendidikan saya adalah Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Setelah lulus saya mempunyai keinginan yang besar untuk bisa bekerja di tempat yang langsung berinteraksi dengan satwa liar. Saya pun mendapat kesempatan untuk bekerja di Science for Conservation pada tahun 2024 sebagai Tenaga Perlindungan Sarang periode April-Oktober dan ditempatkan di Pantai Batu Rumah. Sebagai Tenaga Perlindungan Sarang di Pantai Batu Rumah tugas utamanya adalah patroli pagi, kegiatannya meliputi mencatat jejak penyu, perlindungan sarang penyu menggunakan metode perlindungan pagar dan perlindungan naungan pakis pada sarang yang telah ditemukan titik peletakan telur penyu (tusuk sarang), serta evaluasi sarang penyu. Saya juga ikut berpartisipasi melakukan patroli malam. Selama mengikuti patroli malam saya mendapatkan kesempatan untuk scan atau mendeteksi nomor Passive Integrated Transponder (PIT) tag pada penyu dan memasang PIT tag pada penyu yang belum memiliki nomor PIT tag, serta mengukur panjang dan lebar karapas penyu. Saya juga membantu mengukur lebar pantai dan suhu pasir, serta mencatat data tersebut di buku maupun di Excel.

Rasa penasaran terhadap penyu dan tempat penyu bertelur tampaknya masih belum terbayarkan, sehingga saya memutuskan untuk kembali mendaftarkan diri. Pada tahun 2025 lalu saya masih diberikan kesempatan untuk bergabung kembali di Science for Conservation sebagai Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2) di Pantai Batu Rumah. Tugas TLP2 mencakup semua pekerjaan di pantai yaitu patroli pagi, patroli malam, menginput data, mengukur panjang pantai dan suhu pasir, serta jam kerjanya pun bertambah. Mengerjakan pekerjaan TLP2 menjadi mudah untuk saya karena semuanya sudah saya pelajari ketika menjadi Tenaga Perlindungan Sarang.

Memasang PIT tag pada induk penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Evaluasi sarang penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bekerja di Pantai Batu Rumah seperti sedang berlibur namun diberikan challenges yang harus diselesaikan sebelum pulang berlibur. Bagaimana tidak, setiap harinya saya berjalan di pantai dengan pemandangan indah sembari menyelesaikan challenge yang diberikan. Ketika melaksanakan challenge di pagi sampai sore hari saya dapat menikmati sunrise, langit biru yang indah dipadu dengan bentang laut yang luas, sunset dan juga pemandangan pantai yang selalu menarik perhatian saya. Sedangkan di malam hari saya dapat melihat Galaksi Bimasakti dengan sangat jelas, langit yang dihiasi dengan berjuta-juta bintang, bulan dan fenomena-fenomena langit yang terjadi di malam hari. Melihat galaksi dan bintang menjadi salah satu hal favorit saya di pantai. Tidak hanya itu saya juga bisa melihat rusa yang keluar ke pantai untuk minum air laut, biawak, lumba-lumba, dan berbagai jenis burung.

Saat merasa jenuh di pantai, saya dan tim bisa berkunjung ke hutan sekadar menikmati keindahan hutan dan kehidupan yang ada di dalamnya, mengunjungi air terjun, ikut memasang dan memeriksa jerat yang dipasang oleh masyarakat. Terkadang hanya tinggal di pos atau tempat tinggal tim saja, saya sudah bisa menghilangkan jenuh dengan melihat berbagai jenis kupu-kupu, burung, ular, kadal, tokek dan juga katak. Hal yang lebih menakjubkan adalah semua yang saya sebut tidak hanya dapat dinikmati di Pantai Batu Rumah tetapi dapat dinikmati di dua pantai lainnya (Pantai Wembrak dan Pantai Warmamedi), dengan kata lain semuanya dapat dinikmati di sepanjang pantai Jeen Yessa.

Perlindungan sarang menggunakan cocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menandai sarang penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Saya juga belajar mengemudi perahu yang menurut saya cukup menguji adrenalin. Adat istiadat masyarakat yang tinggal di sekitar Jeen Yessa juga menarik perhatian saya. Hal yang paling menarik perhatian saya adalah cara mereka memasak menggunakan bambu dan upacara pemanggilan penyu yang sangat unik.

Penyu memiliki daya tarik yang luar biasa bagi sebagian orang yang menyukai satwa. Salah satu hal yang menarik menurut saya adalah perjalanan hidupnya dari anak penyu (tukik) hingga menjadi dewasa. Setelah induk penyu mengubur telur di pantai peneluran, telur akan dibiarkan menetas sendiri dengan bantuan alam sekitarnya. Setelah menjadi tukik dan keluar dari sarang, tukik-tukik itu harus berjuang sendiri melawan predator di darat untuk menuju laut, kemudian ketika sampai di laut, tukik-tukik pun harus menghadapi predator di laut agar bisa bertahan hidup. Setelah menghadapi berbagai ancaman di laut, tukik-tukik pun tumbuh menjadi dewasa dan kembali ke pantai peneluran untuk bertelur. Hal itu menjadi suatu hal menarik yang dapat diteliti lebih lanjut. Keberadaan penyu di pantai Jeen Yessa menarik perhatian sebagian orang, banyak wisatawan yang datang ke pantai ini untuk melihat penyu dan juga keindahan alamnya. Wisatawan yang datang pun ada yang berasal dari mancanegara. Pantai Jeen Yessa dapat dikatakan sebagai aset yang sangat berharga untuk masyarakat setempat dan sudah sepatutnya dijaga kelestariannya. Pemantauan dan perlindungan penyu yang dilakukan Science for Conservation menjadi salah satu tindakan konservasi yang harus terus dilaksanakan agar populasi penyu yang datang ke pantai Jeen Yessa semakin meningkat. Akhir kata lestarikan alam untuk masa depan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring New Template

Konservasi di Kepulauan Misool: Antara Keindahan Alam dan Tantangan Lingkungan

Konservasi di Kepulauan Misool: Antara Keindahan Alam dan Tantangan Lingkungan

Penulis

Jane Lense

Tanggal

04 Januari 2026

Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Kepulauan Misool, yang mencakup bagian selatan dari Raja Ampat, adalah salah satu kawasan konservasi laut paling luas di Raja Ampat, dengan luas sekitar 348.518,74 hektare (sumber: SK Penetapan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2021). Ekosistem di Kepulauan Misool secara ekologis sangat kaya. Raja Ampat secara keseluruhan dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut global. Dari total spesies karang keras dunia, sekitar 75% berada di wilayah Raja Ampat. Keanekaragaman ini mencakup tidak hanya karang dan ikan terumbu, tapi juga moluska, karang lunak, serta fauna besar seperti penyu, manta, dan ikan besar.

Transek Terumbu Karang
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Karang Sehat
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Secara geografis, bentuk pulau dan perairan di Kepulauan Misool mendukung struktur habitat yang kompleks; terumbu di perairan dangkal, beberapa lokasi dengan topografi lereng, laguna yang terlindungi, kawasan karst dan gua laut, bahkan danau-laut (marine lakes) di daratan semu-terisolasi. Contoh unik: Danau Lenmakana, Balbullol, Lenkafal, Keramat, dan Kawarapop, sebuah danau laut di Kepulauan Misool ini menunjukkan bahwa wilayah ini tidak hanya kaya laut, tapi juga punya fitur geografis yang khas. Oleh karena itu, kawasan Kepulauan Misool bukan hanya dikenal sebagai “tempat menyelam yang indah”, tetapi dari sudut ilmiah dan konservasi sebagai “laboratorium alam”: perairan yang kompleks dengan biodiversitas yang sangat tinggi, namun juga sensitif terhadap tekanan lingkungan maupun manusia.

Dengan latar belakang di atas, tim monitoring LPPM UNIPA bersama BLUD UPTD Pengelolaan KKP Kepulauan Raja Ampat sebagai pengelola kawasan, serta beberapa tenaga ahli dari berbagai instansi, kembali ke Kepulauan Misool setelah tiga tahun untuk melakukan pemantauan kembali kondisi karang, ikan, dan lingkungannya. Berikut adalah ringkasan temuan dari 19-23 November 2025 selama 5 hari penyelaman di Kepulauan Misool.

Keragaman Spesies yang Tinggi dan Habitat yang Masih Terjaga.

  • Di beberapa titik, kami mendapati hewan ukuran besar seperti bumphead, napoleon, penyu, hingga pari manta dan keberadaan schooling ikan karang. Hal ini menunjukkan bahwa struktur habitat masih mampu menopang fauna besar.
  • Struktur terumbu, termasuk koloni karang besar dan area dengan tutupan karang yang relatif rapat masih tampak, terutama di beberapa zona dangkal dan curam.
  • Keberadaan kima besar dan adanya indikasi regenerasi (juvenile fish, rekrutmen karang) menunjukkan bahwa proses ekologis dasar masih berjalan; reproduksi, pertumbuhan dan juga keanekaragaman masih terjaga.

Ini semua menunjukkan bahwa sebagian dari Kepulauan Misool masih memiliki kondisi cukup ideal, sesuai dengan karakter wilayah ini sebagai kawasan laut dengan biodiversitas tinggi.

Pari Manta
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Namun ada Sinyal yang Membutuhkan Perhatian.

  • Di beberapa lokasi, terlihat banyak rubble (patahan karang) menunjukkan bahwa ada daerah dengan beban kerusakan, entah dari alam maupun jejak tekanan manusia di masa lalu.
  • Kekeruhan air dan sedimentasi di beberapa titik menghasilkan visibilitas rendah. Hal ini menyulitkan pengamatan, sekaligus bisa menjadi indikator gangguan lingkungan seperti peningkatan sedimen atau gangguan arus.
  • Beberapa lokasi menunjukan tanda terjadinya stres pada komunitas karang, indikator utama adalah dominasi alga akibat suplai sedimen berlebih. Hal ini memberi isyarat bahwa kehidupan lingkungan ini sedang bekerja untuk bertahan.

Membaca Dua Sisi-Antara Harapan dan Realita.

Meskipun dinamika ekosistem selalu berubah, banyak bagian terumbu di kawasan Kepulauan Misool masih menunjukkan ciri-ciri proses ekologis yang berfungsi, seperti pertumbuhan karang baru dan keragaman spesies yang tinggi. Namun, tekanan dan kerusakan di titik-titik tertentu juga menunjukkan bahwa kawasan ini tetap rentan. Hanya karena sebagian besar bagus, bukan berarti keseluruhan aman. Variabilitas spasial dan kondisi lokal bisa berbeda tajam di antara titik satu dengan titik lainnya.

Bagi konservasi, ini berarti dua hal penting:

  1. Monitoring rutin mutlak diperlukan agar perubahan, baik positif maupun negatif, bisa terdeteksi sejak dini.
  2. Intervensi serta pengelolaan yang cermat, baik terhadap aktivitas manusia maupun dampak lingkungan harus diiringi dengan kesadaran bahwa tidak semua habitat bisa dianggap sama kuat.

Secara keseluruhan, Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Misool tetap menunjukkan ketangguhan alamnya, sekaligus mengingatkan bahwa kawasan seindah ini tetap perlu dijaga dengan serius.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Survei New Template

Jejak Sosial dari Teluk Mayalibit​

Jejak Sosial dari Teluk Mayalibit

Tim monitoring sosial Teluk Mayalibit 2025

Penulis

Jeniffer Maleke dan Elisa Putra

Tanggal

30 Desember 2025

Kawasan konservasi tidak pernah berdiri sendiri. Di dalam dan di sekitarnya, ada masyarakat yang hidup, beraktivitas, dan berinteraksi langsung dengan alam setiap hari. Oleh karena itu, memahami hubungan antara kawasan konservasi dan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya pengelolaan yang berkelanjutan.

Pada tahun 2025, kami kembali melaksanakan monitoring sosial masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Teluk Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya. Monitoring sosial merupakan kegiatan pemantauan yang dilakukan untuk mengkaji keberhasilan hubungan antara kawasan konservasi dengan masyarakat yang tinggal di dalam maupun sekitar kawasan tersebut.

Rivaldo Heipon dan Jelly Palle sedang mewawancarai salah seorang warga di Kampung Warsambin
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Agustinus Aiwor dan Jackson Bundah sedang mewawancarai salah seorang warga di Kampung Arawai
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kezia Salosso)

Bersama Masyarakat di Teluk Mayalibit

Kegiatan ini dilaksanakan oleh 11 orang tim lapangan, yang terdiri atas 4 staf program—Kezia Salosso, Arnoldus Ananta, Marthinus Rumere, dan Jeniffer Maleke—serta 7 enumerator, yaitu Agustinus Aiwor, Jackson Bundah, Jelly Palle, Maria Bame, Rivaldo Heipon, Spenyel Yenusy, dan Thomas Sembai.

Spenyel Yenusy dan Maria Bame sedang mewawancarai salah seorang warga di Kampung Warsambin
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jennifer Maleke)

Jeniffer Maleke sedang mewawancarai salah seorang warga di Kampung Warimak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Selama berada di lapangan, tim banyak berinteraksi dengan masyarakat setempat serta aparat kampung. Interaksi ini menjadi bagian penting dari proses monitoring, sekaligus ruang belajar bersama untuk memahami kehidupan masyarakat yang berada di dalam kawasan konservasi maupun wilayah sekitarnya.

Waktu dan Lokasi Kegiatan

Seluruh rangkaian kegiatan lapangan dilaksanakan selama satu bulan, yaitu pada 23 Oktober hingga 19 November 2025, di Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Teluk Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya. Kawasan ini merupakan bagian dari Kawasan Konservasi Area II dalam Kawasan Konservasi Perairan Raja Ampat sebagaimana ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 13/KEPMEN-KP/2021 Tahun 2021.

Dalam periode tersebut, tim mengunjungi 13 kampung, dengan dua kampung berada di luar kawasan konservasi dan digunakan sebagai daerah kontrol untuk melengkapi proses pengumpulan informasi.

Pemandangan sore hari di Kampung Kabui
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Ebi (udang kering)–salah satu hasil laut Kampung Beo
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Kezia Salosso)

Monitoring sebagai Peninjauan Berkala

Monitoring sosial tahun 2025 ini merupakan pengulangan kelima sejak survei dasar (Baseline Survey) tahun 2010. Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari peninjauan berkala untuk melihat bagaimana kondisi sosial masyarakat berubah dari waktu ke waktu. Perubahan ekologi yang dipengaruhi oleh perubahan iklim, serta interaksi masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam, menjadi latar belakang penting dilakukannya monitoring ini. Melalui kegiatan ini, dilakukan pula peninjauan terhadap tata kelola sumber daya perairan sebagai referensi dalam pengelolaan KKP yang bersifat dinamis.

Proses Pengumpulan Data

Dalam pelaksanaannya, tim melakukan pengumpulan data kondisi sosial masyarakat melalui wawancara rumah tangga. Selain itu, informasi mengenai tata kelola sumber daya perairan dikumpulkan melalui diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD) dan wawancara dengan informan kunci. Kegiatan ini juga mencakup upaya untuk mempelajari peran perempuan di dalam kawasan KKP dan wilayah sekitarnya, sebagai bagian dari gambaran sosial masyarakat secara menyeluruh.

Kezia Salosso dan Marthinus Rumere melakukan diskusi kelompok terarah bersama beberapa anggota masyarakat di Kampung Beo
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Jackson Bundah)

Diskusi kelompok terarah bersama beberapa anggota masyarakat di Kampung Warimak
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Menjadi Dasar Pengelolaan ke Depan

Dari rangkaian kegiatan ini, kami memperoleh gambaran mengenai dinamika sosial masyarakat serta bagaimana masyarakat menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan. Informasi yang terkumpul akan diolah lebih lanjut dan digunakan sebagai dasar penyusunan rekomendasi pengelolaan KKP ke depan.

Melalui monitoring sosial ini, upaya pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Teluk Mayalibit diharapkan dapat terus mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat, seiring dengan upaya menjaga keberlanjutan kawasan konservasi.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya