Kategori
Belum Publish Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat Uncategorized @id

Pelatihan Amigurumi Penyu: Pelatihan di Wau dan Weyaf

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Wau dan Weyaf

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

14 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Setelah perjalanan yang melelahkan, pelatihan pun dimulai. Pada bagian ini, kita melihat bagaimana para peserta di Wau dan Weyaf belajar dari nol, menghadapi kesulitan, lalu perlahan menunjukkan ketekunan yang luar biasa. Klik disini untuk membaca bagian awal perjalanan tim menuju lokasi agar cerita ini terasa lebih utuh.

Pagi itu, langit masih mendung. Namun, Balai Kampung Wau mulai ramai dengan kedatangan para peserta. Saya menghitung satu per satu: 21 orang ibu-ibu dan remaja perempuan datang dengan langkah penuh rasa ingin tahu. Ada yang membawa anak kecil di gendongan, ada yang datang bersama tetangganya sambil tertawa kecil. Mereka duduk di kursi-kursi plastik yang telah kami atur sebelumnya. Beberapa dari mereka bahkan belum pernah memegang jarum rajut seumur hidup.

Maria memulai dengan sabar. “Ini namanya magic ring,” katanya sambil memperagakan. “Ini fondasi awal untuk merajut. Kalau cincin ajaib ini sudah kuat, nanti penyu kita bisa berdiri dengan bagus.”

Maria pelatih Amigurumi sedang menjelaskan cara membuat magic ring kepada seorang ibu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Proses pembuatan magic ring
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Ibu-ibu mengamati dengan serius. Ada yang mengerutkan kening, ada yang maju mendekat agar lebih jelas. Satu per satu mereka mencoba. Beberapa kali benang terlepas, simpul kendor, bahkan ada yang tertawa karena jari-jarinya terasa kaku.

“Ibu, santai saja,” kata Maria sambil membetulkan posisi kait (hook) di tangan seorang peserta. “Ini latihan, tidak perlu terburu-buru.”

Hari pertama diisi dengan latihan magic ring dan tusuk tunggal (single crochet). Prosesnya pelan, penuh koreksi, tapi semuanya serius. Saya melihat salah satu ibu bernama Ibu Flirce Bonsapia terus mengulang-ulang meskipun tangannya sudah sedikit gemetar. “Saya tidak mau menyerah,” katanya.

Maria melatih Mama Jack
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Maria sedang menghitung jahitan Mama Maria
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Tidak semua peserta berhasil menguasai magic ring di pelatihan hari ini, tetapi mereka bersepakat untuk melanjutkan sore hari di rumah belajar. “Tidak apa-apa, yang penting belajar,” kata Mama Jack sambil merapikan benangnya. Kami kemudian bubar dan pulang ketika jarum jam menunjukkan pukul 14.25 WIT.

Hari kedua, ketiga, dan keempat kami lanjutkan. Setelah magic ring, Maria mengajarkan cara membuat kepala, lalu flipper (sirip), dan karapaks (punggung). Setiap bagian membutuhkan ketelitian yang berbeda. Peserta mulai memahami pola, meskipun masih ada yang tertukar antara increase (teknik dalam merajut yang digunakan untuk menambah jumlah tusukan dalam satu baris atau putaran) dan decrease (teknik dalam merajut yang digunakan untuk mengurangi jumlah tusukan pada baris atau putaran tertentu).

Yang menarik perhatian saya adalah inisiatif mereka sendiri. Beberapa peserta datang ke rumah belajar setelah pelatihan di hari pertama. Mereka datang setelah mengurus anak dan memasak, lalu duduk di ruang belakang sambil merajut. Saya melihat Maria yang melatih, sabar mendampingi mereka hingga sore menjelang magrib.

Ibu Poppy Yessa sedang menyatukan bagian-bagian penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Ibu Aplena Anari di Weyaf yang berhasil membuat Amigurumi pertamanya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

“Kami ingin cepat selesai, Kaka Ibu,” kata salah satu dari mereka sambil memperlihatkan karapaks yang hampir jadi. “Supaya bisa segera dipasang kait kuncinya.”

Dari proses belajar yang penuh kesabaran, mulai terlihat bahwa pelatihan ini bukan sekadar kegiatan biasa. Ada semangat, ada kemauan untuk terus mencoba, dan ada harapan kecil yang mulai tumbuh dari setiap tusukan benang. Klik disini (TBA) untuk melihat bagaimana pelatihan juga berlangsung di Resye dan Womom, serta bagaimana cerita ini berujung pada makna ketekunan dan kemandirian.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Belum Publish New Template Uncategorized @id

Dari Kampung ke Pasar: Menelusuri Perjalanan Minyak Kelapa Abun

Dari Kampung ke Pasar: Menelusuri Perjalanan Minyak Kelapa Abun

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

14 Januari 2026

Apakah Sobat Lestari  masih ingat dengan cerita berjudul “Minyak Kelapa untuk Konservasi: Ketika Ekonomi Masyarakat dan Penyu Belimbing Bertumbuh Bersama” yang terbit pada akhir November 2025 lalu?

Kisah itu mengawali perjalanan produksi minyak kelapa di sembilan kampung, yang tersebar pada tiga distrik di Kabupaten Tambrauw yaitu Distrik Tobouw, Abun, dan Amberbaken. Sepanjang tahun 2025, produksi dari sembilan kampung itu hampir mencapai 1.500 liter.

Dengan capaian produksi yang signifikan tersebut, tentu muncul pertanyaan penting. Bagaimana hasil produksi ini kemudian dipasarkan dan sampai ke tangan konsumen? Cerita perjalanannya dimulai dari sini.

Minyak dituang ke dalam jerigen untuk dibawa dari kampung ke Manokwari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Tim melakukan pengemasan ke botol minyak kelapa 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Tumpukan jerigen terlihat di dermaga Manokwari, baru saja turun dari kapal Sabuk Nusantara 112. Jerigen-jerigen itu berisi minyak kelapa mentah dari kampung-kampung di Tambrauw, yang merupakan hasil pendampingan tim di lapangan. Iriani dan Mika, anggota tim pemberdayaan yang bertanggung jawab atas pengendalian mutu, pengemasan, dan pemasaran (Quality Control/QC), sudah menunggu kedatangannya.

“Yang dari Wau dan Weyaf sudah datang,” ujar Mika sambil memeriksa dokumen pengiriman. Tugas mereka sungguh penting, yakni memastikan pelanggan mendapat produk terbaik, dan yang lebih utama, agar tersedia modal untuk kembali membeli minyak dari kelompok masyarakat di kampung.

Di dapur QC, proses penyempurnaan dimulai. Iriani dan timnya memeriksa kadar air setiap kiriman. Minyak yang tampak masih mengandung banyak buih kemudian dipanaskan guna memastikan tidak ada lagi sisa air di dalamnya. Selanjutnya, mereka menuang minyak ke dalam penyaring berjaring sangat rapat untuk memisahkan endapan. Proses itu dilakukan hingga yang tersisa hanyalah cairan jernih beraroma kelapa segar. Setelah bersih dan dingin, minyak itu dikemas ke dalam botol berukuran satu liter lalu dilabeli satu per satu.

Tidak berhenti di situ. Setiap botol juga diberi tanda berupa nomor batch produksi dan tanggal kedaluwarsa. “Ini dari kode batch 29 Desember 2025,” catat Iriani sambil menghitung semua botol dan mencocokkannya dengan laporan dari lapangan. Semua harus akurat.

Restock minyak kelapa ke toko Intan Jaya Mart Wosi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Minyak kelapa di pajangan etalase toko Intan Jaya Mart Wosi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Kode “29 Desember 2025” memiliki arti tersendiri dalam sistem pencatatan mereka. Angka 29 berarti ini adalah pengiriman ke-29 dari lapangan, kata Desember menunjukkan bulan pengirimannya, sementara 2025 adalah tahun produksinya. Pemberian kode ini adalah cara Tim QC untuk memastikan bahwa setiap pengiriman memiliki jejak yang tercatat dengan baik.

Minyak yang sudah siap kini melanjutkan perjalanannya. Sebagian diantar ke berbagai toko dengan sistem konsinyasi. Di Manokwari sendiri, setidaknya ada 11 toko yang menjadi titik penjualan Minyak Kelapa Abun. Harga dasarnya adalah Rp39.000,00 per liter, namun harga jual eceran di toko bisa bervariasi, mulai dari Rp42.000,00 hingga Rp49.000,00 per liter.

“Yang di Hadi Supermarket dijual Rp49.000,00,” jelas Iriani sambil menata botol-botol dalam kotak yang akan dibawa. “Sementara di toko seperti Intan Jaya dan Istana Sayur dan Buah 2, harganya Rp42.000,00,” tambahnya.

Persiapan restock minyak kelapa ke toko-toko
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Persiapan restock ke toko Kalawai Mart & Nui Fresh Market
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Selain mengandalkan toko, Tim QC dan Pemasaran juga melayani pengantaran langsung ke pelanggan tetap. Salah satunya adalah Kak Enita Rumansara, yang sudah setia membeli sejak awal produksi. “Ini dua puluh botol untuk bulan ini,” ucap Kak Enita saat menerima minyak pesanannya. Perempuan yang berprofesi sebagai tukang urut di Manokwari itu menjelaskan, “Saya gunakan minyak kelapa ini khusus untuk keperluan pijat.”

Di balik setiap botol yang terjual, ada putaran ekonomi yang terus berdenyut. Uang hasil penjualan mengalir kembali ke kampung, untuk membiayai produksi berikutnya sekaligus mendukung upaya konservasi penyu belimbing yang menjadi bagian tak terpisahkan dari program ini. Dengan demikian, masyarakat mendapat manfaat langsung dari kegiatan konservasi yang mereka lakukan bersama di Taman Pesisir Jeen Womom.

Itulah rangkaian cerita sederhana di balik sebotol Minyak Kelapa Abun. Dari kampung-kampung di pedalaman dan pesisir Papua Barat Daya, minyak ini berlayar ke Manokwari, melalui proses yang penuh ketelitian. Pada akhirnya, ia sampai ke dapur keluarga yang menghargai bukan hanya rasa dan kualitas, tetapi juga setiap cerita di balik tetesannya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Belum Publish Uncategorized @id

Lowongan Kerja Tenaga Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) 2026

Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program

Bergabunglah dalam Program Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya! Apakah Anda ingin berkontribusi langsung dalam pemberdayaan masyarakat di kawasan konservasi? Inilah kesempatan Anda untuk menjadi bagian dari perubahan positif di Distrik Abun, Distrik Tobouw, dan Distrik Amberbaken, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya! Universitas Papua (UNIPA), melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), membuka kesempatan bagi alumni UNIPA dan lulusan perguruan tinggi lainnya untuk bergabung sebagai Tenaga Pemberdayaan Masyarakat di Kawasan Konservasi (PMNH). Dalam program ini, Anda akan berperan aktif dalam meningkatkan kapasitas masyarakat di bidang pendidikan dan perekonomian, serta membantu mereka dalam membangun kehidupan yang lebih berkelanjutan di kawasan konservasi.

Tugas Utama

Melaksanakan pendampingan, fasilitasi, dan koordinasi program di tingkat masyarakat serta menjadi penghubung antara program, masyarakat, dan pemangku kepentingan lokal.

Persyaratan

1. Minimal D3 semua jurusan (diutamakan Pendidikan, Pertanian, dan Pengolahan hasil Pertanian)
2. Pengalaman minimal 1 tahun di bidang pendampingan masyarakat (menjadi nilai lebih).
3. IPK minimal 2,75
4. Bersedia ditempatkan di daerah dengan akses terbatas.
5. Mahir komputer (Microsoft Office, Google Forms)

Kompensasi

1. Gaji pokok kompetitif (min. Rp 3.200.000)
2. BPJS Kesehatan + Asuransi Perjalanan
3. Akomodasi, transportasi, konsumsi ditanggung
4. Pelatihan teknis dan sertifikat

Linimasa

📌 29 Des 2025 – 11 Jan 2026: Pendaftaran & Seleksi Tahap 1
📌 17 Jan 2026: Wawancara (online/offline)
📌 22 Jan 2026: Penandatangan kontrak
📌 23–26 Jan 2026: Pelatihan PMNH

Kuota : 11-12 orang

Periode : 22 Januari – 30 April 2026

Apakah kamu tertarik bekerja untuk meningkatkan kapasitas masyarakat di Kawasan Konservasi melalui pendidikan dan perekonomian?

Jika iya, daftarkan dirimu segera, paling lambat Tanggal 11 Januari 2026 Pukul 23:59 WIT! mungkin kamu orang yang kami butuhkan!

Ada hal yang ingin ditanyakan terkait lowongan ini? Jika iya, hubungi admin kami pada hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIT

Bagikan

Bagikan informasi lowongan kerja ini kepada teman dan sanak saudara Anda melalui sosial media yang Anda miliki!

Kategori
Belum Publish

Dukung Konservasi Penyu di Jeen Womom, LPPM UNIPA melakukan Pendidikan Lingkungan Hidup kepada anak-anak di Rumah Belajar

Dukung Konservasi Penyu di Jeen Womom, LPPM UNIPA melakukan Pendidikan Lingkungan Hidup kepada anak-anak di Rumah Belajar

Penulis

Alberto Yonathan Tangke Allo

Tanggal

18 Juli 2023

Bagaimana kami melakukan kegiatan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH)? Mengapa kami melakukan kegiatan ini? Kali ini kami ingin berbagi kepada para pembaca pengalaman kami dalam mengajarkan PLH kepada anak-anak di rumah belajar.

Kegiatan pendidikan anak di rumah belajar merupakan bagian dari program konservasi Penyu belimbing (Dermochelys coriacea) di Taman Pesisir Tambrauw. Yang melakukan kegiatan adalah kami dari Program Pemberdayaan Masyarakat, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat – Universitas Papua (LPPM – UNIPA). Kegiatan ini memberikan manfaat bagi anak-anak yang tinggal di sekitar kawasan konservasi dengan meningkatkan kapasitas pendidikan anak-anak melalui kegiatan Baca-Tulis-Hitung (Calistung), Pendidikan lingkungan Hidup (PLH), Computer-Bahasa Inggris (Comeng), Perpustakaan keliling, Apotek Hidup & Hidup Sehat.

Karang Sehat
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di rumah belajar dikelola dan dilaksanakan oleh Pendamping Masyarakat dan Narahubung (disingkat: PMNH). Kami mengelola 4 Rumah Belajar (disingkat: RB) yang tersebar pada lima kampung yaitu RB Wau-Weyaf berada pada Kampung Wau dan Kampung Weyaf, ditinggali oleh 3 orang PMNH yang mengajar anak-anak serta hidup dengan masyarakat di kampung.RB Syukwo berada pada Kampung Syukwo, ditinggali 2 orang PMNH. RB Womom berada pada Kampung Womom ditinggali oleh 2 orang PMNH dan RB Resye berada pada Kampung Resye ditinggali oleh 2 orang PMNH.

PMNH Syukwo bersama dengan anak-anak melakukan aksi bagaimana menggali sarang yang terdampak abrasi air laut.(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

PMNH Syukwo bersama dengan anak-anak melakukan aksi bagaimana memindahkan telur penyu yang terdampak abrasi air laut.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan PLH yang diajarkan ke anak-anak di rumah belajar berupa kegiatan teori (pemahaman konsep) dan praktik, berdasarkan 9 indikator yang tersebar menjadi 21 sub indikator pembelajaran PLH. Pengajaran PLH yang dilakukan ke anak-anak minimal 1 kali dalam seminggu dan 1 kali sebulan kegiatan aksi nyata yang diajarkan. Sebagai contoh kegiatan pemahaman konsep yang dilakukan di rumah belajar yaitu Indikator Melakukan Praktik Perlindungan Sarang Penyu. Di rumah belajar diajarkan cara-cara melakukan perlindungan penyu. Kemudian dilakukan aksi nyata dalam bentuk praktik. Di sini kami menampilkan beberapa foto kegiatan aksi nyata yang dilakukan PMNH Syukwo bersama anak-anak sebagai bentuk penguatan materi.

PMNH Syukwo bersama dengan anak-anak melakukan aksi bagaimana menyukur panjang dan lebar penyu yang naik bertelur ke pantai.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan PLH lainnya mengajarkan kepada anak untuk membedakan sampah organik dengan sampah anorganik. Kegiatan ini dilanjutkan dengan aksi nyata memungut sampah yang berserakan di sekitar pantai dan jalan-jalan di kampung.

PMNH Resye mengajar perbedaan sampah organik dan anorganik.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

PMNH Resye bersama dengan anak-anak melakukan aksi pungut sampah anorganik di pinggir pantai.(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

PMNH Resye bersama dengan anak-anak setelah sampah anorganik dipungut kemudian ditimbang untuk mengetahui berapa kg sampah yang terkumpul.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Keterlibatan anak dalam kegiatan PLH terlihat dari grafik berikut, antusias anak pada kampung Resye setiap bulan partisipasi anak yang mengikuti kegiatan PLH semakin meningkat. Pada kampung Wau-Weyaf dan Kampung Syukwo kegiatan PLH bulan Februari – April belum diadakan karena PMNH Wau-Weyaf dan PMNH Syukwo baru berada di lapang pada bulan Mei.

Grafik Keterlibatan Anak

Pembelajaran PLH merupakan salah satu pembelajaran yang dilakukan RB untuk mengajarkan ke anak-anak mencintai lingkungan dan melakukan aksi nyata dalam rangka mendukung kegiatan konservasi penyu. Dalam hal ini anak tidak membuang sampah sembarangan dan mengetahui dampak buruk yang ditimbulkan oleh sampah anorganik jika dibiarkan di lingkungan dan tidak ditangani dengan baik maka membuat tanah menjadi tidak subur karena sampah anorganik sangat susah terurai di dalam tanah dan apabilah sampah anorganik misalnya sampah plastik dibuang ke laut, akan terapung di laut dan terlihat seperti ubur-ubur oleh penyu sehingga apabila penyu memakannya berakibat penyu dapat mati. Pendidikan lingkungan hidup sebaiknya secara dini diajarkan dan dicontohkan ke anak-anak kampung yang tinggal di pesisir pantai agar anak-anak mencintai lingkungan dan ikut terlibat dalam kegiatan konservasi penyu sebagai kekayaan hayati yang dimiliki.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya