Kategori
Belum Publish Uncategorized @id

Catatan Si Karang

Catatan Si Karang

Penulis

Habema Monim

Tanggal

14 Januari 2026

Aku tumbuh perlahan, jauh lebih lambat daripada waktu yang dipahami manusia. Setiap tahun, tubuhku hanya bertambah beberapa milimeter lapisan tipis kalsium yang merekam suhu laut, kejernihan air, dan cahaya matahari. Aku tidak bisa berpindah ketika arus membawa lumpur atau panas datang terlalu lama. Aku hanya bertahan, diam, dan mencatat dengan caraku sendiri.

Dulu, kehidupan di sekitarku terasa seimbang. Ikan herbivora memakan alga yang mencoba menutup tubuhku, ikan besar melintas seperti penjaga yang setia, dan larva karang muda menemukan tempat untuk tumbuh. Kini, keseimbangan itu mulai goyah. Ikan-ikan semakin jarang, alga tumbuh lebih cepat, dan ruang bernapas makin sempit. Dari atas permukaan, laut ini mungkin masih tampak indah. Namun keindahan sering kali menipu.

Aku tidak bisa berteriak ketika warnaku memudar akibat panas yang berlebihan. Aku tidak bisa memberi tanda ketika alga mulai mengalahkanku sedikit demi sedikit. Perubahanku berlangsung pelan, nyaris tak terlihat, tetapi pasti. Tanpa seseorang yang mau mengamati dan mencatat, penderitaanku akan dianggap biasa atau bahkan tidak ada.

Karang Memudar (Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Karang Tertuup Alga (Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Suatu hari, manusia datang. Mereka turun perlahan, membawa meteran, papan tulis, dan kamera. Mereka membentangkan garis lurus di atas tubuhku dan menghitung apa yang hidup, apa yang mati, dan apa yang mulai berubah. Mereka menyebutnya ”Reef Health Monitoring”. Aku tidak mengerti istilah itu, tetapi aku merasakan kehati-hatian mereka. Mereka tidak merusak, hanya mengamati. Seolah mereka tahu bahwa setiap sentuhan yang salah bisa menjadi luka baru bagiku.

Pengambilan Data Karang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Tahun demi tahun, mereka datang kembali ke tempat yang sama. Mereka mencatat tutupan karang hidup, jumlah ikan yang hadir dan yang lainnya. Dari sudut pandangku, kunjungan itu adalah satu-satunya saat ketika perubahan sunyiku diperhatikan. Dari sudut pandang mereka, data itu menjadi bukti: ”bahwa terumbu tidak rusak secara tiba-tiba, tetapi menurun perlahan ketika tekanan dibiarkan terus terjadi”.

Ketika laut memanas dan aku memutih, mereka mencatatnya. Ketika ikan herbivora berkurang dan alga meningkat, mereka menuliskannya. Mereka mengubah tubuhku menjadi angka dan grafik, tetapi justru melalui itulah ceritaku didengar. Tanpa monitoring, manusia mungkin hanya akan datang saat aku telah runtuh menjadi puing.

Hamparan Karang Sehat (Foto : Loka PSPL Sorong/Prehadi)

Aku hanyalah satu karang kecil di antara ribuan, tetapi dataku menjadi bagian dari kisah ekosistem yang lebih besar. Dari catatan-catatan itu, manusia mulai memahami bahwa pengelolaan laut tidak bisa didasarkan pada apa yang terlihat sesaat, melainkan pada perubahan yang terukur dari waktu ke waktu. Reef Health Monitoring adalah bahasa yang menjembatani dunia mereka dan dunia kami.

Aku tidak tahu bagaimana masa depan kami dan laut ini. Namun selama masih ada yang datang untuk mengamati, mencatat, dan belajar, masih ada harapan bahwa catatan sunyiku tidak berakhir sia-sia.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Belum Publish Uncategorized @id

Dari Kampung ke Pasar: Menelusuri Perjalanan Minyak Kelapa Abun

Dari Kampung ke Pasar: Menelusuri Perjalanan Minyak Kelapa Abun

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

14 Januari 2026

Apakah Sobat Lestari  masih ingat dengan cerita berjudul “Minyak Kelapa untuk Konservasi: Ketika Ekonomi Masyarakat dan Penyu Belimbing Bertumbuh Bersama” yang terbit pada akhir November 2025 lalu?

Kisah itu mengawali perjalanan produksi minyak kelapa di sembilan kampung, yang tersebar pada tiga distrik di Kabupaten Tambrauw yaitu Distrik Tobouw, Abun, dan Amberbaken. Sepanjang tahun 2025, produksi dari sembilan kampung itu hampir mencapai 1.500 liter.

Dengan capaian produksi yang signifikan tersebut, tentu muncul pertanyaan penting. Bagaimana hasil produksi ini kemudian dipasarkan dan sampai ke tangan konsumen? Cerita perjalanannya dimulai dari sini.

Minyak dituang ke dalam jerigen untuk dibawa dari kampung ke Manokwari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Tim melakukan pengemasan ke botol minyak kelapa 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Tumpukan jerigen terlihat di dermaga Manokwari, baru saja turun dari kapal Sabuk Nusantara 112. Jerigen-jerigen itu berisi minyak kelapa mentah dari kampung-kampung di Tambrauw, yang merupakan hasil pendampingan tim di lapangan. Iriani dan Mika, anggota tim pemberdayaan yang bertanggung jawab atas pengendalian mutu, pengemasan, dan pemasaran (Quality Control/QC), sudah menunggu kedatangannya.

“Yang dari Wau dan Weyaf sudah datang,” ujar Mika sambil memeriksa dokumen pengiriman. Tugas mereka sungguh penting, yakni memastikan pelanggan mendapat produk terbaik, dan yang lebih utama, agar tersedia modal untuk kembali membeli minyak dari kelompok masyarakat di kampung.

Di dapur QC, proses penyempurnaan dimulai. Iriani dan timnya memeriksa kadar air setiap kiriman. Minyak yang tampak masih mengandung banyak buih kemudian dipanaskan guna memastikan tidak ada lagi sisa air di dalamnya. Selanjutnya, mereka menuang minyak ke dalam penyaring berjaring sangat rapat untuk memisahkan endapan. Proses itu dilakukan hingga yang tersisa hanyalah cairan jernih beraroma kelapa segar. Setelah bersih dan dingin, minyak itu dikemas ke dalam botol berukuran satu liter lalu dilabeli satu per satu.

Tidak berhenti di situ. Setiap botol juga diberi tanda berupa nomor batch produksi dan tanggal kedaluwarsa. “Ini dari kode batch 29 Desember 2025,” catat Iriani sambil menghitung semua botol dan mencocokkannya dengan laporan dari lapangan. Semua harus akurat.

Restock minyak kelapa ke toko Intan Jaya Mart Wosi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Minyak kelapa di pajangan etalase toko Intan Jaya Mart Wosi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Kode “29 Desember 2025” memiliki arti tersendiri dalam sistem pencatatan mereka. Angka 29 berarti ini adalah pengiriman ke-29 dari lapangan, kata Desember menunjukkan bulan pengirimannya, sementara 2025 adalah tahun produksinya. Pemberian kode ini adalah cara Tim QC untuk memastikan bahwa setiap pengiriman memiliki jejak yang tercatat dengan baik.

Minyak yang sudah siap kini melanjutkan perjalanannya. Sebagian diantar ke berbagai toko dengan sistem konsinyasi. Di Manokwari sendiri, setidaknya ada 11 toko yang menjadi titik penjualan Minyak Kelapa Abun. Harga dasarnya adalah Rp39.000,00 per liter, namun harga jual eceran di toko bisa bervariasi, mulai dari Rp42.000,00 hingga Rp49.000,00 per liter.

“Yang di Hadi Supermarket dijual Rp49.000,00,” jelas Iriani sambil menata botol-botol dalam kotak yang akan dibawa. “Sementara di toko seperti Intan Jaya dan Istana Sayur dan Buah 2, harganya Rp42.000,00,” tambahnya.

Persiapan restock minyak kelapa ke toko-toko
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Persiapan restock ke toko Kalawai Mart & Nui Fresh Market
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Selain mengandalkan toko, Tim QC dan Pemasaran juga melayani pengantaran langsung ke pelanggan tetap. Salah satunya adalah Kak Enita Rumansara, yang sudah setia membeli sejak awal produksi. “Ini dua puluh botol untuk bulan ini,” ucap Kak Enita saat menerima minyak pesanannya. Perempuan yang berprofesi sebagai tukang urut di Manokwari itu menjelaskan, “Saya gunakan minyak kelapa ini khusus untuk keperluan pijat.”

Di balik setiap botol yang terjual, ada putaran ekonomi yang terus berdenyut. Uang hasil penjualan mengalir kembali ke kampung, untuk membiayai produksi berikutnya sekaligus mendukung upaya konservasi penyu belimbing yang menjadi bagian tak terpisahkan dari program ini. Dengan demikian, masyarakat mendapat manfaat langsung dari kegiatan konservasi yang mereka lakukan bersama di Taman Pesisir Jeen Womom.

Itulah rangkaian cerita sederhana di balik sebotol Minyak Kelapa Abun. Dari kampung-kampung di pedalaman dan pesisir Papua Barat Daya, minyak ini berlayar ke Manokwari, melalui proses yang penuh ketelitian. Pada akhirnya, ia sampai ke dapur keluarga yang menghargai bukan hanya rasa dan kualitas, tetapi juga setiap cerita di balik tetesannya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Belum Publish Uncategorized @id

Uji Coba Buku dan Video ke Sekolah

Uji Coba Produk Informasi ke Sekolah di Manokwari

Penulis

Noviyanti

Tanggal

20 Januari 2026

Mengawali tahun 2026, kami melakukan uji coba beberapa produk informasi ke sekolah-sekolah di Manokwari. Produk informasi ini terdiri dari buku cerita bergambar, komik, dan video edukasi yang ditujukan untuk kelompok usia yang berbeda.

 

Buku cerita bergambar dan komik kami rancang bersama tim dari Program Studi Desain Komunikasi Visual, Institut Teknologi Sepuluh November (Prodi DKV ITS) Surabaya. Kami sangat senang akhirnya bisa melihat buku-buku ini hadir secara fisik. Sebelumnya, proses perancangan dilakukan secara daring bersama mahasiswa dan dosen dari Prodi DKV ITS. Kedua mahasiswa yang berperan sebagai illustrator buku adalah Farah Jinan Huwaida dan Anak Agung Sagung Laksmi Dharmika Yowani. Dalam proses ini, ide dan pengalaman lapangan dari tim kami diterjemahkan ke dalam bentuk visual dan cerita yang dekat dengan dunia anak dan remaja.

 

Buku cerita bergambar berjudul Petualangan Pembi si Penyu Belimbing ditujukan untuk anak usia 7–12 tahun. Pembi adalah nama karakter penyu belimbing yang kami ciptakan. Buku ini bercerita tentang seekor mama penyu yang bertelur di pantai, hingga akhirnya tukik-tukik menetas dan berlari menuju laut. Salah satu tukik bernama Pembi berhasil mencapai laut dengan selamat. Melalui cerita ini, anak-anak diajak mengenal peran penting manusia dalam menjaga sarang telur penyu, baik dari predator di darat maupun dari ancaman suhu pasir yang terlalu tinggi.

Anak-anak sekolah dasar membaca buku cerita bergambar 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Para siswa SD mengisi mini kuis 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Salah satu halaman buku yang menampilkan Pembi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Berbeda dengan buku cerita bergambar, kami juga menyusun sebuah komik edukasi berjudul Jejak Penyu Belimbing: Belajar dari Laut, Menjaga BLKB. Buku ini ditujukan untuk anak usia pra-remaja (13–15 tahun). Komik ini bercerita tentang dua tokoh pra-remaja, Kristina dan Obed, yang belajar berbagai informasi tentang penyu dari seorang tokoh dewasa bernama Bapa Ayub. Beberapa topik yang dibahas dalam komik ini antara lain perbedaan penyu dan kura-kura, jenis-jenis penyu, serta persebaran penyu di berbagai belahan dunia.

Untuk kelompok usia remaja (16–18 tahun), kami mengembangkan sebuah video edukasi. Video ini berisi informasi tentang jenis-jenis penyu yang bertelur di Papua, peran penting penyu bagi ekosistem laut, serta bahaya mengonsumsi daging dan telur penyu. Ketiga materi outreach ini disusun dengan pendekatan budaya Papua. Karakter dalam buku dan komik digambarkan dengan raut wajah dan postur orang asli Papua, sementara bahasa tulisan dan lisan menggunakan dialek Papua Melayu.

Hasil visual edukasi – Buku cerita bergambar dan komik 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Ketiga produk ini dirancang untuk berbagi informasi tentang upaya perlindungan penyu di Taman Pesisir Jeen Womom, dengan sasaran utama generasi muda, di mana pun mereka berada. Sebelum disebarluaskan secara lebih luas, kami merasa penting untuk menguji langsung materi-materi ini kepada siswa. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa pesan pelestarian penyu dapat dipahami dengan baik, relevan dengan kehidupan mereka, dan disampaikan dengan cara yang menarik sesuai usia.

Oleh karena itu, pada 9, 12, dan 13 Januari 2026, kami mengunjungi tiga kelas VII di SMP Negeri 6 Manokwari, satu kelas III di SD Santa Sisilia Manokwari, serta satu kelas XII di SMA Negeri 1 Manokwari. Jumlah kelas yang dikunjungi menyesuaikan ketersediaan waktu dan persetujuan dari masing-masing pihak sekolah. Secara keseluruhan, sebanyak 123 siswa terlibat dalam uji coba materi edukasi ini. Siswa SD diminta membaca buku cerita bergambar, siswa SMP membaca komik, sedangkan siswa SMA menonton video edukasi.

Nonton bareng video edukasi siswa SMA Negeri 1
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Naqliya Arum)

Uji coba komik – siswa SMP Negeri 6 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Hasil Uji Coba

Kami mengajukan pertanyaan sebelum dan setelah para siswa membaca buku atau menonton video. Pertanyaan kami susun menggunakan informasi yang ada pada buku dan video. Hasil uji coba menunjukkan bahwa ketiga materi edukasi ini berhasil meningkatkan pengetahuan siswa di semua jenjang. Pada siswa SD, nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 43,47% sebelum membaca buku menjadi 85,86% setelahnya. Pada siswa SMP, nilai rata-rata meningkat dari 16,85% menjadi 58,33% setelah membaca komik. Sementara itu, pada siswa SMA, nilai rata-rata meningkat dari 57,93% menjadi 89,66% setelah menonton video edukasi.

Selain peningkatan pengetahuan, hasil kuesioner juga menunjukkan respons yang sangat positif dari siswa. Sebagian besar siswa menilai materi yang mereka terima menarik, mudah dipahami, dan relevan dengan kehidupan mereka, khususnya karena menggunakan pendekatan visual dan budaya Papua. Pada siswa SMP dan SMA, materi edukasi juga mendorong kepedulian terhadap penyu dan lingkungan laut, serta menumbuhkan keinginan untuk ikut menjaga penyu dan wilayah pesisir.

Uji coba ini menjadi langkah awal yang penting bagi kami sebelum materi-materi edukasi ini digunakan secara lebih luas. Melalui proses ini, kami belajar bahwa pendekatan yang sesuai usia, visual yang kuat, serta kedekatan budaya memiliki peran besar dalam membantu generasi muda memahami dan peduli terhadap isu konservasi. Kami berharap buku, komik, dan video ini dapat terus digunakan sebagai sarana belajar dan berbagi cerita tentang penyu belimbing dan upaya pelestariannya, tidak hanya di Papua, tetapi juga di berbagai wilayah.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Belum Publish Uncategorized @id

Lowongan Kerja Tenaga Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) 2026

Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program

Bergabunglah dalam Program Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya! Apakah Anda ingin berkontribusi langsung dalam pemberdayaan masyarakat di kawasan konservasi? Inilah kesempatan Anda untuk menjadi bagian dari perubahan positif di Distrik Abun, Distrik Tobouw, dan Distrik Amberbaken, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya! Universitas Papua (UNIPA), melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), membuka kesempatan bagi alumni UNIPA dan lulusan perguruan tinggi lainnya untuk bergabung sebagai Tenaga Pemberdayaan Masyarakat di Kawasan Konservasi (PMNH). Dalam program ini, Anda akan berperan aktif dalam meningkatkan kapasitas masyarakat di bidang pendidikan dan perekonomian, serta membantu mereka dalam membangun kehidupan yang lebih berkelanjutan di kawasan konservasi.

Tugas Utama

Melaksanakan pendampingan, fasilitasi, dan koordinasi program di tingkat masyarakat serta menjadi penghubung antara program, masyarakat, dan pemangku kepentingan lokal.

Persyaratan

1. Minimal D3 semua jurusan (diutamakan Pendidikan, Pertanian, dan Pengolahan hasil Pertanian)
2. Pengalaman minimal 1 tahun di bidang pendampingan masyarakat (menjadi nilai lebih).
3. IPK minimal 2,75
4. Bersedia ditempatkan di daerah dengan akses terbatas.
5. Mahir komputer (Microsoft Office, Google Forms)

Kompensasi

1. Gaji pokok kompetitif (min. Rp 3.200.000)
2. BPJS Kesehatan + Asuransi Perjalanan
3. Akomodasi, transportasi, konsumsi ditanggung
4. Pelatihan teknis dan sertifikat

Linimasa

📌 29 Des 2025 – 11 Jan 2026: Pendaftaran & Seleksi Tahap 1
📌 17 Jan 2026: Wawancara (online/offline)
📌 22 Jan 2026: Penandatangan kontrak
📌 23–26 Jan 2026: Pelatihan PMNH

Kuota : 11-12 orang

Periode : 22 Januari – 30 April 2026

Apakah kamu tertarik bekerja untuk meningkatkan kapasitas masyarakat di Kawasan Konservasi melalui pendidikan dan perekonomian?

Jika iya, daftarkan dirimu segera, paling lambat Tanggal 11 Januari 2026 Pukul 23:59 WIT! mungkin kamu orang yang kami butuhkan!

Ada hal yang ingin ditanyakan terkait lowongan ini? Jika iya, hubungi admin kami pada hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIT

Bagikan

Bagikan informasi lowongan kerja ini kepada teman dan sanak saudara Anda melalui sosial media yang Anda miliki!

Kategori
Belum Publish

Dukung Konservasi Penyu di Jeen Womom, LPPM UNIPA melakukan Pendidikan Lingkungan Hidup kepada anak-anak di Rumah Belajar

Dukung Konservasi Penyu di Jeen Womom, LPPM UNIPA melakukan Pendidikan Lingkungan Hidup kepada anak-anak di Rumah Belajar

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/lppm-unipa-melakukan-pendidikan-lingkungan-hidup-kepada-anak-anak-di-rumah-belajar” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/lppm-unipa-melakukan-pendidikan-lingkungan-hidup-kepada-anak-anak-di-rumah-belajar” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Tanggal

18 Juli 2023

Penulis

Alberto Yonathan Tangke Allo

Tanggal

18 Juli 2023

Penulis

Alberto Yonathan Tangke Allo

Bagaimana kami melakukan kegiatan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH)? Mengapa kami melakukan kegiatan ini? Kali ini kami ingin berbagi kepada para pembaca pengalaman kami dalam mengajarkan PLH kepada anak-anak di rumah belajar.
Kegiatan pendidikan anak di rumah belajar merupakan bagian dari program konservasi Penyu belimbing (Dermochelys coriacea) di Taman Pesisir Tambrauw. Yang melakukan kegiatan adalah kami dari Program Pemberdayaan Masyarakat, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat – Universitas Papua (LPPM – UNIPA). Kegiatan ini memberikan manfaat bagi anak-anak yang tinggal di sekitar kawasan konservasi dengan meningkatkan kapasitas pendidikan anak-anak melalui kegiatan Baca-Tulis-Hitung (Calistung), Pendidikan lingkungan Hidup (PLH), Computer-Bahasa Inggris (Comeng), Perpustakaan keliling, Apotek Hidup & Hidup Sehat.

PMNH Syukwo bersama dengan anak-anak melakukan aksi membuat penyu dari pasir. (Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di rumah belajar dikelola dan dilaksanakan oleh Pendamping Masyarakat dan Narahubung (disingkat: PMNH). Kami mengelola 4 Rumah Belajar (disingkat: RB) yang tersebar pada lima kampung yaitu RB Wau-Weyaf berada pada Kampung Wau dan Kampung Weyaf, ditinggali oleh 3 orang PMNH yang mengajar anak-anak serta hidup dengan masyarakat di kampung.RB Syukwo berada pada Kampung Syukwo, ditinggali 2 orang PMNH. RB Womom berada pada Kampung Womom ditinggali oleh 2 orang PMNH dan RB Resye berada pada Kampung Resye ditinggali oleh 2 orang PMNH.

PMNH2

PMNH Syukwo bersama dengan anak-anak melakukan aksi bagaimana menggali sarang yang terdampak abrasi air laut.(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

PMNH3

PMNH Syukwo bersama dengan anak-anak melakukan aksi bagaimana memindahkan telur penyu yang terdampak abrasi air laut.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan PLH yang diajarkan ke anak-anak di rumah belajar berupa kegiatan teori (pemahaman konsep) dan praktik, berdasarkan 9 indikator yang tersebar menjadi 21 sub indikator pembelajaran PLH. Pengajaran PLH yang dilakukan ke anak-anak minimal 1 kali dalam seminggu dan 1 kali sebulan kegiatan aksi nyata yang diajarkan. Sebagai contoh kegiatan pemahaman konsep yang dilakukan di rumah belajar yaitu Indikator Melakukan Praktik Perlindungan Sarang Penyu. Di rumah belajar diajarkan cara-cara melakukan perlindungan penyu. Kemudian dilakukan aksi nyata dalam bentuk praktik. Di sini kami menampilkan beberapa foto kegiatan aksi nyata yang dilakukan PMNH Syukwo bersama anak-anak sebagai bentuk penguatan materi.

PMNH Syukwo bersama dengan anak-anak melakukan aksi bagaimana menyukur panjang dan lebar penyu yang naik bertelur ke pantai.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan PLH lainnya mengajarkan kepada anak untuk membedakan sampah organik dengan sampah anorganik. Kegiatan ini dilanjutkan dengan aksi nyata memungut sampah yang berserakan di sekitar pantai dan jalan-jalan di kampung.

PMNH Resye mengajar perbedaan sampah organik dan anorganik.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

PMNH7

PMNH Resye bersama dengan anak-anak melakukan aksi pungut sampah anorganik di pinggir pantai.(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

PMNH8

PMNH Resye bersama dengan anak-anak setelah sampah anorganik dipungut kemudian ditimbang untuk mengetahui berapa kg sampah yang terkumpul.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Keterlibatan anak dalam kegiatan PLH terlihat dari grafik berikut, antusias anak pada kampung Resye setiap bulan partisipasi anak yang mengikuti kegiatan PLH semakin meningkat. Pada kampung Wau-Weyaf dan Kampung Syukwo kegiatan PLH bulan Februari – April belum diadakan karena PMNH Wau-Weyaf dan PMNH Syukwo baru berada di lapang pada bulan Mei.

Pembelajaran PLH merupakan salah satu pembelajaran yang dilakukan RB untuk mengajarkan ke anak-anak mencintai lingkungan dan melakukan aksi nyata dalam rangka mendukung kegiatan konservasi penyu. Dalam hal ini anak tidak membuang sampah sembarangan dan mengetahui dampak buruk yang ditimbulkan oleh sampah anorganik jika dibiarkan di lingkungan dan tidak ditangani dengan baik maka membuat tanah menjadi tidak subur karena sampah anorganik sangat susah terurai di dalam tanah dan apabilah sampah anorganik misalnya sampah plastik dibuang ke laut, akan terapung di laut dan terlihat seperti ubur-ubur oleh penyu sehingga apabila penyu memakannya berakibat penyu dapat mati. Pendidikan lingkungan hidup sebaiknya secara dini diajarkan dan dicontohkan ke anak-anak kampung yang tinggal di pesisir pantai agar anak-anak mencintai lingkungan dan ikut terlibat dalam kegiatan konservasi penyu sebagai kekayaan hayati yang dimiliki.

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/lppm-unipa-melakukan-pendidikan-lingkungan-hidup-kepada-anak-anak-di-rumah-belajar” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/lppm-unipa-melakukan-pendidikan-lingkungan-hidup-kepada-anak-anak-di-rumah-belajar” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/lppm-unipa-melakukan-pendidikan-lingkungan-hidup-kepada-anak-anak-di-rumah-belajar” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Ikuti Survei

Bantu kami meningkatkan kualitas informasi hasil monitoring sosial dan ekologi di BLKB-Papua.

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya