Kategori
Belum Publish New Template Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat Uncategorized @id

Pelatihan PMNH Periode II Tahun 2026: Membangun Kapasitas Pendamping Masyarakat

Pelatihan PMNH Periode II Tahun 2026: Membangun Kapasitas Pendamping Masyarakat

Penulis

Liana Mongdong

Tanggal

01 Juli 2026

Pelatihan Pendamping Masyarakat dan Narahubung (PMNH) Periode II Tahun 2026 telah dilaksanakan pada 17–19 Juni 2026 bertempat di Ruang Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA). Kegiatan ini menjadi salah satu upaya dalam mendukung pemberdayaan masyarakat di Taman Pesisir (TP) Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya.

Pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang didukung oleh beberapa mitra dan donor, termasuk Program TFCCA. Program TFCCA (Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act), yaitu program kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat yang didukung oleh Konservasi Indonesia (KI) serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Program ini berfokus pada upaya konservasi ekosistem terumbu karang dan penguatan kesejahteraan masyarakat melalui pendekatan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Meskipun kegiatan ini mencakup berbagai materi, pelatihan lebih difokuskan pada teknik produksi produk turunan kelapa, khususnya briket arang dan cocopeat. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas PMNH dalam menguasai teknik pengolahan produk turunan kelapa sebagai upaya pengembangan mata pencaharian alternatif berbasis komoditas unggulan lokal, sekaligus memperkuat dukungan terhadap upaya konservasi penyu yang berkelanjutan.

Kegiatan ini merupakan kegiatan lanjutan setelah melalui tahapan seleksi sebelumnya. Dari total 114 peserta yang mendaftar, sebanyak 20 peserta berhasil lolos seleksi tahap pertama, hingga akhirnya terpilih 9 peserta yang mengikuti tahap pelatihan PMNH Periode II.

Sejalan dengan pelatihan sebelumnya, kegiatan ini bertujuan untuk membekali peserta dengan pemahaman menyeluruh mengenai program, meningkatkan keterampilan teknis di lapangan, serta memperkuat kemampuan dalam bekerja sama secara efektif dan profesional dalam mendukung pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat.

Pada hari pertama pelaksanaan, kegiatan diawali dengan penandatanganan kontrak kerja oleh seluruh peserta bersama Human Resources Development (HRD). Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari Pengelola Program Sains untuk Konservasi (S4C), Fitryanti Pakiding, dan secara resmi dibuka oleh Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA), Freddy Pattiselanno.

Pembukaan pelatihan PMNH oleh Freddy Pattiselanno.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Setelah sesi pembukaan, peserta mengikuti pemaparan lima materi utama yang dirancang untuk memperkuat pemahaman mengenai program pelestarian penyu di TP Jeen Womom, sistem kerja dan pengelolaan program, mekanisme pelaporan kegiatan, administrasi keuangan, serta strategi pendampingan masyarakat melalui program pendidikan formal maupun informal.

Pengenalan Program oleh Kartika Zohar.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pemaparan materi Sistem Keuangan oleh Aflia Pongbatu. 
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Memasuki hari kedua, kegiatan berfokus pada pendalaman pembelajaran di Rumah Belajar, meliputi materi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) dan ComputerEnglish (COMENG). Peserta juga mendapatkan sesi praktik mengajar, pemahaman mengenai indikator dan subindikator pembelajaran di Rumah Belajar, serta proses penilaian berdasarkan indikator tersebut.

Pemaparan materi Pengenalan Indikator dan Subindikator Pembelajaran di Rumah Belajar oleh Alberto Allo.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pemaparan materi Teori Pembuatan Minyak Kelapa Yang Bersih dan Rumah Produksi Minyak Kelapa oleh Fitri Iriani. 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Selain materi pendidikan, peserta juga dibekali pemahaman mengenai program pemberdayaan masyarakat melalui pengenalan produk dan proses pembuatannya. Materi tersebut mencakup Sharing terkait Program Kerajinan Tangan
(Amigurumi, dan Noken HP) , Teori Pembuatan Minyak Kelapa Bersih, serta pengelolaan Rumah produksi Minyak Kelapa yang dapat mendukung peningkatan kapasitas masyarakat Abun, Tobouw, dan Amberbaken. Pada hari yang sama, peserta juga menerima materi Manajemen Dokumentasi Foto dan Persyaratan Dokumentasi sebagai bagian dari pendukung pelaksanaan kegiatan di lapangan.

Pada hari terakhir pelatihan, peserta mendapatkan dua materi penting yang mendukung pelaksanaan program. Materi pertama disampaikan oleh Wilson Palelingan Aman mengenai Teori Pembuatan Turunan Kelapa berupa Cocopeat dan Briket Arang, sekaligus pengenalan mesin penepung arang. Materi kedua mengenai Pengenalan Penyu dan Upaya Konservasinya di TP Jeen Womom disampaikan oleh Asisten Koordinator Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang, Petrus Batubara, sebagai pendukung pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH).

Walaupun kegiatan ini diisi dengan berbagai materi akan tetapi, pelatihan lebih mengutamakan pelatihan teknik produksi turunan kelapa dalam hal ini briket arang dan cocopeat agar PMNH memiliki kapasitas terkait teknik produksi turunan kelapa untuk mengembangkan mata pencaharian alternatif masyarakat berbasis komoditas unggulan lokal sebagai bagian dari penguatan dukungan terhadap konservasi penyu yang berkelanjutan.

Pemaparan materi Teori dan Pembuatan Turunan Kelapa oleh Wilson Palelingan Aman.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pemaparan materi Pengenalan Penyu dan Upaya
Konservasinya di TP Jeen Womom oleh Petrus Batubara.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fitri Iriani)

Usai pelatihan, pada 23 Juni 2026, para peserta melakukan praktik membuat minyak kelapa dan briket arang sebagai persiapan untuk mendukung proses produksi minyak kelapa dan briket arang di kampung pendampingan.

Peserta sedang memarut kelapa menggunakan mesin parut kelapa.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Proses pembakaran tempurung.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Melalui rangkaian pelatihan ini, peserta PMNH diharapkan mampu memahami peran dan tanggung jawabnya dalam mendukung program konservasi serta pemberdayaan masyarakat di TP Jeen Womom. Dengan bekal pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan, para peserta diharapkan dapat menjadi penghubung yang efektif antara program dan masyarakat dalam mewujudkan upaya pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Belum Publish New Template Uncategorized @id

Dari Kampung ke Pasar: Menelusuri Perjalanan Minyak Kelapa Abun

Dari Kampung ke Pasar: Menelusuri Perjalanan Minyak Kelapa Abun

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

14 Januari 2026

Apakah Sobat Lestari  masih ingat dengan cerita berjudul “Minyak Kelapa untuk Konservasi: Ketika Ekonomi Masyarakat dan Penyu Belimbing Bertumbuh Bersama” yang terbit pada akhir November 2025 lalu?

Kisah itu mengawali perjalanan produksi minyak kelapa di sembilan kampung, yang tersebar pada tiga distrik di Kabupaten Tambrauw yaitu Distrik Tobouw, Abun, dan Amberbaken. Sepanjang tahun 2025, produksi dari sembilan kampung itu hampir mencapai 1.500 liter.

Dengan capaian produksi yang signifikan tersebut, tentu muncul pertanyaan penting. Bagaimana hasil produksi ini kemudian dipasarkan dan sampai ke tangan konsumen? Cerita perjalanannya dimulai dari sini.

Minyak dituang ke dalam jerigen untuk dibawa dari kampung ke Manokwari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Tim melakukan pengemasan ke botol minyak kelapa 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Tumpukan jerigen terlihat di dermaga Manokwari, baru saja turun dari kapal Sabuk Nusantara 112. Jerigen-jerigen itu berisi minyak kelapa mentah dari kampung-kampung di Tambrauw, yang merupakan hasil pendampingan tim di lapangan. Iriani dan Mika, anggota tim pemberdayaan yang bertanggung jawab atas pengendalian mutu, pengemasan, dan pemasaran (Quality Control/QC), sudah menunggu kedatangannya.

“Yang dari Wau dan Weyaf sudah datang,” ujar Mika sambil memeriksa dokumen pengiriman. Tugas mereka sungguh penting, yakni memastikan pelanggan mendapat produk terbaik, dan yang lebih utama, agar tersedia modal untuk kembali membeli minyak dari kelompok masyarakat di kampung.

Di dapur QC, proses penyempurnaan dimulai. Iriani dan timnya memeriksa kadar air setiap kiriman. Minyak yang tampak masih mengandung banyak buih kemudian dipanaskan guna memastikan tidak ada lagi sisa air di dalamnya. Selanjutnya, mereka menuang minyak ke dalam penyaring berjaring sangat rapat untuk memisahkan endapan. Proses itu dilakukan hingga yang tersisa hanyalah cairan jernih beraroma kelapa segar. Setelah bersih dan dingin, minyak itu dikemas ke dalam botol berukuran satu liter lalu dilabeli satu per satu.

Tidak berhenti di situ. Setiap botol juga diberi tanda berupa nomor batch produksi dan tanggal kedaluwarsa. “Ini dari kode batch 29 Desember 2025,” catat Iriani sambil menghitung semua botol dan mencocokkannya dengan laporan dari lapangan. Semua harus akurat.

Restock minyak kelapa ke toko Intan Jaya Mart Wosi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Minyak kelapa di pajangan etalase toko Intan Jaya Mart Wosi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Kode “29 Desember 2025” memiliki arti tersendiri dalam sistem pencatatan mereka. Angka 29 berarti ini adalah pengiriman ke-29 dari lapangan, kata Desember menunjukkan bulan pengirimannya, sementara 2025 adalah tahun produksinya. Pemberian kode ini adalah cara Tim QC untuk memastikan bahwa setiap pengiriman memiliki jejak yang tercatat dengan baik.

Minyak yang sudah siap kini melanjutkan perjalanannya. Sebagian diantar ke berbagai toko dengan sistem konsinyasi. Di Manokwari sendiri, setidaknya ada 11 toko yang menjadi titik penjualan Minyak Kelapa Abun. Harga dasarnya adalah Rp39.000,00 per liter, namun harga jual eceran di toko bisa bervariasi, mulai dari Rp42.000,00 hingga Rp49.000,00 per liter.

“Yang di Hadi Supermarket dijual Rp49.000,00,” jelas Iriani sambil menata botol-botol dalam kotak yang akan dibawa. “Sementara di toko seperti Intan Jaya dan Istana Sayur dan Buah 2, harganya Rp42.000,00,” tambahnya.

Persiapan restock minyak kelapa ke toko-toko
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Persiapan restock ke toko Kalawai Mart & Nui Fresh Market
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Selain mengandalkan toko, Tim QC dan Pemasaran juga melayani pengantaran langsung ke pelanggan tetap. Salah satunya adalah Kak Enita Rumansara, yang sudah setia membeli sejak awal produksi. “Ini dua puluh botol untuk bulan ini,” ucap Kak Enita saat menerima minyak pesanannya. Perempuan yang berprofesi sebagai tukang urut di Manokwari itu menjelaskan, “Saya gunakan minyak kelapa ini khusus untuk keperluan pijat.”

Di balik setiap botol yang terjual, ada putaran ekonomi yang terus berdenyut. Uang hasil penjualan mengalir kembali ke kampung, untuk membiayai produksi berikutnya sekaligus mendukung upaya konservasi penyu belimbing yang menjadi bagian tak terpisahkan dari program ini. Dengan demikian, masyarakat mendapat manfaat langsung dari kegiatan konservasi yang mereka lakukan bersama di Taman Pesisir Jeen Womom.

Itulah rangkaian cerita sederhana di balik sebotol Minyak Kelapa Abun. Dari kampung-kampung di pedalaman dan pesisir Papua Barat Daya, minyak ini berlayar ke Manokwari, melalui proses yang penuh ketelitian. Pada akhirnya, ia sampai ke dapur keluarga yang menghargai bukan hanya rasa dan kualitas, tetapi juga setiap cerita di balik tetesannya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Belum Publish Uncategorized @id

Lowongan Kerja Tenaga Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) 2026

Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program

Bergabunglah dalam Program Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya! Apakah Anda ingin berkontribusi langsung dalam pemberdayaan masyarakat di kawasan konservasi? Inilah kesempatan Anda untuk menjadi bagian dari perubahan positif di Distrik Abun, Distrik Tobouw, dan Distrik Amberbaken, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya! Universitas Papua (UNIPA), melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), membuka kesempatan bagi alumni UNIPA dan lulusan perguruan tinggi lainnya untuk bergabung sebagai Tenaga Pemberdayaan Masyarakat di Kawasan Konservasi (PMNH). Dalam program ini, Anda akan berperan aktif dalam meningkatkan kapasitas masyarakat di bidang pendidikan dan perekonomian, serta membantu mereka dalam membangun kehidupan yang lebih berkelanjutan di kawasan konservasi.

Tugas Utama

Melaksanakan pendampingan, fasilitasi, dan koordinasi program di tingkat masyarakat serta menjadi penghubung antara program, masyarakat, dan pemangku kepentingan lokal.

Persyaratan

1. Minimal D3 semua jurusan (diutamakan Pendidikan, Pertanian, dan Pengolahan hasil Pertanian)
2. Pengalaman minimal 1 tahun di bidang pendampingan masyarakat (menjadi nilai lebih).
3. IPK minimal 2,75
4. Bersedia ditempatkan di daerah dengan akses terbatas.
5. Mahir komputer (Microsoft Office, Google Forms)

Kompensasi

1. Gaji pokok kompetitif (min. Rp 3.200.000)
2. BPJS Kesehatan + Asuransi Perjalanan
3. Akomodasi, transportasi, konsumsi ditanggung
4. Pelatihan teknis dan sertifikat

Linimasa

📌 29 Des 2025 – 11 Jan 2026: Pendaftaran & Seleksi Tahap 1
📌 17 Jan 2026: Wawancara (online/offline)
📌 22 Jan 2026: Penandatangan kontrak
📌 23–26 Jan 2026: Pelatihan PMNH

Kuota : 11-12 orang

Periode : 22 Januari – 30 April 2026

Apakah kamu tertarik bekerja untuk meningkatkan kapasitas masyarakat di Kawasan Konservasi melalui pendidikan dan perekonomian?

Jika iya, daftarkan dirimu segera, paling lambat Tanggal 11 Januari 2026 Pukul 23:59 WIT! mungkin kamu orang yang kami butuhkan!

Ada hal yang ingin ditanyakan terkait lowongan ini? Jika iya, hubungi admin kami pada hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIT

Bagikan

Bagikan informasi lowongan kerja ini kepada teman dan sanak saudara Anda melalui sosial media yang Anda miliki!

Kategori
Belum Publish

Dukung Konservasi Penyu di Jeen Womom, LPPM UNIPA melakukan Pendidikan Lingkungan Hidup kepada anak-anak di Rumah Belajar

Dukung Konservasi Penyu di Jeen Womom, LPPM UNIPA melakukan Pendidikan Lingkungan Hidup kepada anak-anak di Rumah Belajar

Penulis

Alberto Yonathan Tangke Allo

Tanggal

18 Juli 2023

Bagaimana kami melakukan kegiatan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH)? Mengapa kami melakukan kegiatan ini? Kali ini kami ingin berbagi kepada para pembaca pengalaman kami dalam mengajarkan PLH kepada anak-anak di rumah belajar.

Kegiatan pendidikan anak di rumah belajar merupakan bagian dari program konservasi Penyu belimbing (Dermochelys coriacea) di Taman Pesisir Tambrauw. Yang melakukan kegiatan adalah kami dari Program Pemberdayaan Masyarakat, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat – Universitas Papua (LPPM – UNIPA). Kegiatan ini memberikan manfaat bagi anak-anak yang tinggal di sekitar kawasan konservasi dengan meningkatkan kapasitas pendidikan anak-anak melalui kegiatan Baca-Tulis-Hitung (Calistung), Pendidikan lingkungan Hidup (PLH), Computer-Bahasa Inggris (Comeng), Perpustakaan keliling, Apotek Hidup & Hidup Sehat.

Karang Sehat
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di rumah belajar dikelola dan dilaksanakan oleh Pendamping Masyarakat dan Narahubung (disingkat: PMNH). Kami mengelola 4 Rumah Belajar (disingkat: RB) yang tersebar pada lima kampung yaitu RB Wau-Weyaf berada pada Kampung Wau dan Kampung Weyaf, ditinggali oleh 3 orang PMNH yang mengajar anak-anak serta hidup dengan masyarakat di kampung.RB Syukwo berada pada Kampung Syukwo, ditinggali 2 orang PMNH. RB Womom berada pada Kampung Womom ditinggali oleh 2 orang PMNH dan RB Resye berada pada Kampung Resye ditinggali oleh 2 orang PMNH.

PMNH Syukwo bersama dengan anak-anak melakukan aksi bagaimana menggali sarang yang terdampak abrasi air laut.(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

PMNH Syukwo bersama dengan anak-anak melakukan aksi bagaimana memindahkan telur penyu yang terdampak abrasi air laut.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan PLH yang diajarkan ke anak-anak di rumah belajar berupa kegiatan teori (pemahaman konsep) dan praktik, berdasarkan 9 indikator yang tersebar menjadi 21 sub indikator pembelajaran PLH. Pengajaran PLH yang dilakukan ke anak-anak minimal 1 kali dalam seminggu dan 1 kali sebulan kegiatan aksi nyata yang diajarkan. Sebagai contoh kegiatan pemahaman konsep yang dilakukan di rumah belajar yaitu Indikator Melakukan Praktik Perlindungan Sarang Penyu. Di rumah belajar diajarkan cara-cara melakukan perlindungan penyu. Kemudian dilakukan aksi nyata dalam bentuk praktik. Di sini kami menampilkan beberapa foto kegiatan aksi nyata yang dilakukan PMNH Syukwo bersama anak-anak sebagai bentuk penguatan materi.

PMNH Syukwo bersama dengan anak-anak melakukan aksi bagaimana menyukur panjang dan lebar penyu yang naik bertelur ke pantai.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan PLH lainnya mengajarkan kepada anak untuk membedakan sampah organik dengan sampah anorganik. Kegiatan ini dilanjutkan dengan aksi nyata memungut sampah yang berserakan di sekitar pantai dan jalan-jalan di kampung.

PMNH Resye mengajar perbedaan sampah organik dan anorganik.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

PMNH Resye bersama dengan anak-anak melakukan aksi pungut sampah anorganik di pinggir pantai.(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

PMNH Resye bersama dengan anak-anak setelah sampah anorganik dipungut kemudian ditimbang untuk mengetahui berapa kg sampah yang terkumpul.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Keterlibatan anak dalam kegiatan PLH terlihat dari grafik berikut, antusias anak pada kampung Resye setiap bulan partisipasi anak yang mengikuti kegiatan PLH semakin meningkat. Pada kampung Wau-Weyaf dan Kampung Syukwo kegiatan PLH bulan Februari – April belum diadakan karena PMNH Wau-Weyaf dan PMNH Syukwo baru berada di lapang pada bulan Mei.

Grafik Keterlibatan Anak

Pembelajaran PLH merupakan salah satu pembelajaran yang dilakukan RB untuk mengajarkan ke anak-anak mencintai lingkungan dan melakukan aksi nyata dalam rangka mendukung kegiatan konservasi penyu. Dalam hal ini anak tidak membuang sampah sembarangan dan mengetahui dampak buruk yang ditimbulkan oleh sampah anorganik jika dibiarkan di lingkungan dan tidak ditangani dengan baik maka membuat tanah menjadi tidak subur karena sampah anorganik sangat susah terurai di dalam tanah dan apabilah sampah anorganik misalnya sampah plastik dibuang ke laut, akan terapung di laut dan terlihat seperti ubur-ubur oleh penyu sehingga apabila penyu memakannya berakibat penyu dapat mati. Pendidikan lingkungan hidup sebaiknya secara dini diajarkan dan dicontohkan ke anak-anak kampung yang tinggal di pesisir pantai agar anak-anak mencintai lingkungan dan ikut terlibat dalam kegiatan konservasi penyu sebagai kekayaan hayati yang dimiliki.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya