Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Pemaparan Hasil Kegiatan Reef Health Monitoring di TNTC tahun 2021

Pemaparan Hasil Kegiatan Reef Health Monitoring di TNTC tahun 2021

Penulis

Habema Monim, Dariani Matualage, Noviyanti

Tanggal

23 Maret 2022

Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) dalam melaksanakan fungsi pemantauan di kawasan TNTC melakukan kegiatan Reef Health Monitoring (RHM) pada tanggal 10-23 Desember 2021. Tujuan monitoring kesehatan karang ini adalah untuk mendapatkan data terkini kesehatan terumbu karang di Taman Nasional Teluk Cenderawasih dan lokasi lain sebagai pembanding serta memberikan informasi status kesehatan terumbu karang yang diperlukan untuk menilai efektifitas pelaksanaan sistem zonasi dan rencana pengelolaan TNTC. Tim yang terlibat dalam kegiatan RHM ini adalah Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Universitas Papua, dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara.

(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan protokol yang dikembangkan oleh Green dan Wilson dan dimodifikasi oleh Ahmadia dkk (2013). Kesehatan karang dinilai dari 2 komponen, yaitu kondisi ikan yang diukur dengan metode Underwater Visual Census dan tutupan karang yang diukur dengan metode Point Intercept Transect.

(Foto : Mulyadi-BBTNTC)

(Foto : Mulyadi-BBTNTC)

Pemaparan hasil kegiatan RHM dilakukan pada hari Senin, 7 Maret 2022 dengan mengundang pejabat struktural dan fungsional lingkup BBTNTC, tim RHM TNTC 2021, dan tim RHM Bentang Laut Kepala Burung Papua. Kegiatan berlangsung secara tatap muka di ruang rapat BBTNTC dan secara online melalui Zoom. Hasil pemantauan ini menunjukkan secara umum kondisi karang dalam keadaan sehat, namun ditemukan adanya kompetisi alga, predasi dan penyakit karang walaupun dalam jumlah yang kecil. Kondisi komunitas ikan cukup baik, namun ada kecenderungan penurunan biomassa ikan Herbivora. Selama monitoring, ditemukan beberapa kelompok ikan Lalosi (Caesionidae), Siganidae dan Scarini dalam jumlah yang besar. Selain itu ditemukan juga ikan hiu dan duyung di lokasi yang berbeda.

Informasi selengkapnya dapat diakses di situs BBTNTC di sini

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Perjalanan 18 Hari Mengelilingi Kawasan Konservasi Perairan di Raja Ampat

Perjalanan 18 Hari Mengelilingi Kawasan Konservasi Perairan di Raja Ampat

Penulis

Tim Monitoring Ekologi

Tanggal

21 Agustus 2021

18 hari pemantauan kesehatan karang di Kawasan Konservasi Perairan Raja Ampat menjadi pengalaman yang sangat berharga untuk kami. Keseruan dan kesulitan selama kegiatan pemantauan menjadi cerita unik dan menarik. Lokasi penyelaman yang memiliki arus kuat menjadi tantangan bagi kami, karena protokol pemantauan yang mengharuskan pemasangan 3 transek meteran untuk pengamatan kondisi karang dan pemasangan 5 transek meteran untuk pengamatan kondisi ikan di kedalaman 10 meter.

Untuk pengamatan ikan ditambah dengan metode berenang jauh selama 20 menit pada kedalaman yang relatif dangkal, sekitar 3-5 meter. Selain arus, kami juga menghadapi kondisi perairan yang bergelombang sehingga menyusahkan kami menuju ke lokasi penyelaman. Selain kendala yang dialami, kami juga merasakan keseruan dalam mengambil data di wilayah yang memiliki kondisi karang bagus dan ikan karang yang banyak. Pada beberapa lokasi, kami dapat berjumpa dengan Manta, penyu, hiu, dan ikan dalam jumlah yang banyak.

Berenang bersama kumpulan ikan di Jelly Sawanderek
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

“Keseruan dan kesulitan selama kegiatan pemantauan menjadi cerita unik dan menarik. Lokasi penyelaman yang memiliki arus kuat menjadi tantangan bagi kami. Selain kendala yang dialami, kami juga merasakan keseruan dalam mengambil data di wilayah yang memiliki kondisi karang bagus dan ikan karang yang banyak.”

Kegiatan pemantauan dimulai dari Kota Sorong menggunakan kapal KLM Kurabesi Explorer. Kami mulai mengambil data di sekitar Teluk Mayalibit dan melanjutkan pelayaran ke Kepulauan Ayau-Asia yang letaknya berada di bagian utara Raja Ampat. Di wilayah ini, tim melapor ke aparat militer yang bertugas menjaga kawasan terluar Indonesia sebelum melakukan pemantauan. 

Di Kawasan Ayau-Asia kami menemukan banyak ikan dalam jumlah besar, tetapi kami juga menemukan ada nelayan yang menangkap penyu. Perjalanan dilanjutkan ke Kepulauan Wayag. Kondisi perairan Wayag yang bergelombang menjadi tantangan tersendiri bagi kami dalam mengambil data. Namun demikian, naik ke  puncak Wayag dan bermain dengan Hiu di pinggir pantai sekitar pos penjagaan Wayag merupakan hal yang sangat menyenangkan bagi kami.

Kami melanjutkan perjalanan ke Kepulauan Kofiau-Boo yang berada di bagian paling barat Kabupaten Raja Ampat. Di daerah ini, kami menemukan bekas bom baru yang menghancurkan terumbu karang. Tetapi, kami juga masih menemukan hiu di beberapa lokasi. Kurang lebih 5 jam kapal berlabuh di Pelabuhan Kofiau untuk mengisi air dan kami melakukan pemeriksaan kesehatan, karena beberapa anggota tim mulai merasa kurang sehat. Lokasi terakhir pemantauan kesehatan karang adalah di Kawasan sekitar Selat Dampier. Di sini tim menemukan masih banyak Hiu, terutama di sekitar Tanjung Lampu, dekat dengan kampung Solol. Di sekitar Perairan Selat Sagawin kami juga menemukan  Paus. Setelah melakukan penyelaman rekreasi di Jetty Sawandarek dan berfoto dengan penyu dan kumpulan ikan, kami menuju ke Kota Sorong untuk kembali ke rumah kami masing-masing.

Kawanan hiu di sekitar pos penjagaan di Wayag

Kawanan hiu di sekitar pos penjagaan di Wayag
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pengambilan Data Karang
(Foto : Mulyadi/BBTNTC)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Penyusunan Laporan Hasil Monitoring Ekologi di KKPD Kaimana Distrik Buruway Tahun 2019

Penyusunan Laporan Hasil Monitoring Ekologi di KKPD Kaimana Distrik Buruway Tahun 2019

Penulis

Dariani Matualage, Irman Rumengan, Habema Monim dan Purwanto

Tanggal

25 Juni 2019

Monitoring Kesehatan Karang di KKPD Kaimana Distrik Buruway telah selesai dilakukan. Hasil dari monitoring tersebut perlu dianalisis untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi ekologi wilayah Buruway, baik status maupun trennya. Kondisi ekologi yang dianalisis adalah tutupan karang dan biomassa ikan. Tutupan karang yang dimaksud terdiri dari tutupan Karang Keras hidup (Hard Coral), Karang Lunak (Soft Coral), Patahan Karang (Rubble), Karang Mati (Dead Coral), CCA (Crustose Coralline Algae), dan Karang Memutih (Bleached Coral) dan Alga lain (Other Algae). Sedangkan biomassa ikan terdiri dari biomassa 2 jenis ikan, yaitu ikan yang termasuk perikanan kunci (Karnivora/Carnivore) terdiri dari Ikan Kerapu (Serranidae), Kakap (Lutjanidae), dan Bibir Tebal (Haemulidae) serta ikan yang termasuk dalam famili ikan fungsional (Herbivora/herbivore), yaitu Ikan Butana (Acanthuridae), Kakatua (Scaridae) dan Baronang (Siganidae).

Penyelesaian laporan ini dilakukan hingga 1 bulan setelah tim selesai melakukan monitoring, yaitu pada Tanggal 8 Mei 2019. Berbeda halnya dengan pembuatan laporan monitoring kesehatan karang, laporan status ekologi membutuhkan waktu yang lebih panjang, yaitu sekitar 1 hingga 2 bulan. Hal ini disebabkan karena data yang akan dianalisis terlebih dahulu harus melalui pembersihan dan kontrol kualitas data. Hasil analisis data selanjutnya dibuat dalam bentuk tabel dan grafik baik status maupun tren tutupan karang dan biomassa ikan. Khusus untuk laporan status ekologi KKPD Kaimana Distrik Buruway saat ini hanya dibuat untuk status ekologi, sedangkan tren belum dapat dilakukan karena analisis tren ekologi menggunakan data pada titik penyelaman yang sama,  yaitu 28 titik untuk tahun monitoring 2011, 2015 dan 2019, sedangkan data untuk monitoring yang tahun ini hanya berasal dari 22 titik penyelaman dan terdapat 6 titik lokasi penyelaman yang tidak dapat diambil datanya karena cuaca yang tidak mendukung. Laporan Status ekologi di KKPD Kaimana Distrik Buruway dibuat oleh tim UNIPA, yaitu Purwanto, Irman Rumengan, Habema Monim dan Dariani Matualage di Manokwari pada Tanggal 20 hingga 24 Mei 2019. Hasil analisis data memperlihatkan bahwa baik tutupan karang maupun kondisi ikan sangat beragam antar lokasi dan antar zona, dengan rata-rata tutupan karang keras sebesar 25,9% dengan simpangan baku 3,9%, rata-rata biomassa ikan karnivora sebesar 154,9 kg/ha dengan simpangan baku 29,4 kg/ha dan rata-rata biomassa ikan herbivora sebesar 177,1 kg/ha dengan simpangan baku 54,8 kg/ha.

(Foto : Tim BHS Monitoring Ekologi Unipa)

Rata-rata persentase tutupan karang keras (a), biomassa famili perikanan penting/target (b), dan biomassa famili ikan fungsional penting (c) masing-masing di lokasi KKPD Distrik Buruway Tahun 2019

Hasil monitoring kesehatan karang dibuat dalam bentuk dua laporan, yaitu laporan Monitoring Kesehatan karang di KKPD Kaimana Distrik Buruway yang berisi keadaan karang dan ikan yang ditemui pada saat monitoring dan laporan status ekologi KKPD Kaimana Distrik Buruway yang berisi hasil analisis data monitoring serta rekomendasi yang diberikan terkait dengan hasil monitoring yang diperoleh. Pembuatan laporan monitoring kesehatan karang dilakukan berdasarkan hasil evaluasi harian tim monitoring pada saat di lapangan serta evaluasi pada akhir trip monitoring. Pembuatan laporan monitoring kesehatan karang di KKPD Kaimana Distrik Buruway telah dilakukan oleh Tim monitoring yang berasal dari UNIPA (Purwanto, Irman Rumengan, Habema Monim, Dariani Matualage, Daud Orisoe, dan Nelly Sayori) bekerjasama dengan tim monitoring yang berasal dari TNC (Awaludinnoer), CI (Ronald Mambrasar, dan Nugraha Maulana), BBTNTC (Mulyadi, dan La Hamid), PEMDA Kabupaten Kaimana (Yantje Malaiholo, Abraham Aponno, dan William Furima).

Rata-rata Tutupan Karang per kategori, biomassa famili perikanan penting dan biomassa famili ikan fungsional penting

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Monitoring Kesehatan Karang di Kawasan Konservasi Perairan Daerah Kaimana Distrik Buruway, Papua Barat

Monitoring Kesehatan Karang di Kawasan Konservasi Perairan Daerah Kaimana Distrik Buruway, Papua Barat

Penulis

Tim Monitoring Ekologi

Tanggal

25 Maret 2019

Serangkaian kegiatan monitoring ekosistem terumbu karang telah dilaksanakan sejak tahun 2009 di beberapa kawasan konservasi perairan yang ada di Bentang Laut Kepala Burung Papua (BLKB), salah satunya adalah di Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Kaimana Distrik Buruway, Papua Barat.

Distrik Buruway berada di bagian selatan perairan kepala burung Papua dan berada di antara kabupaten Fak-Fak dan Kabupaten Kaimana. Kegiatan monitoring kesehatan karang merupakan kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap 2 – 4 tahun sekali untuk mengukur efektifitas pengelolaan di jejaring KKP yang berada di kawasan BLKB Papua secara umum dan mengetahui data terkini terkait tutupan karang, biomassa ikan, aktivitas perikanan di kawasan, serta kejadian-kejadian aktual yang didapatkan selama pemantauan.

(Foto : Tim BHS Ekologi Unipa)

Pelaksanaan monitoring kesehatan karang di KKPD Kaimana Distrik Buruway dan perairan sekitar ini telah dilaksanakan pada tanggal 26 Maret – 4 April 2019 dengan melibatkan berbagai instansi diantaranya Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat dan Kabupaten Kaimana (1 orang), Dinas Pariwisata Kabupaten Kaimana (1 orang), Distrik Kabupaten Kaimana (1 orang), Conservation Internasional (CI-Indonesia) (2 orang), The Nature Conservacy (TNC-Indonesia) (1 orang), Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) (2 orang), klub selam Faknik FPIK UNIPA (1 orang), serta Universitas Papua (5 orang) yang merupakan koordinatorpelaksanaan kegiatan monitoring (Gambar 1. Team monitoring)

Monitoring dilakukan dengan menggunakan protokol Coral Reef Monitoring Protocol for Assessing Marine Protected Areas in the Coral Triangle yang dikembangkan oleh Wilson dan Green, 2009 dan dimodifikasi oleh Ahmadia et al.,2013. Pada panduan monitoring tersebut, pengumpulan data tutupan karang dan biomassa ikan dilakukan pada kedalaman 8-10 meter.

Data tutupan karang diambil menggunakan metode Point Intercept Transect (PIT) dengan panjang transek 50 meter dan jumlah pengulangan 3 kali. Data yang diambil yaitu bentuk pertumbuhan karang pada interval titik 0,5 meter sepanjang gelaran transek. Data biomassa ikan dan kepadatan ikan diambil menggunakan kombinasi antara metode Underwater Visual Census (UVC) dan belt transect dengan panjang transek 50 meter, lebar 5 meter untuk ikan kecil (≤35 cm) dan lebar 20 meter untuk ikan besar (>35 cm) dengan jumlah pengulangan 5 kali, serta ditambah dengan timeswim pada kedalaman 5 meter selama 20 menit

Kondisi Karang
(Foto : Tim BHS Ekologi Unipa)

Kelompok Ikan Pinjalo
(Foto : Tim BHS Ekologi Unipa)

Pelaksanaan monitoring kesehatan terumbu karang menggunakan kapal Live On Board (LOB) KLM Kurabesi Explorer Nusantara sebagai base tim monitoring dan didukung 3 speedboat kecil (dinggi) untuk mobilisasi tim monitoring ke 28 lokasi atau site penyelaman yang direncanakan dan beberapa lokasi lainnya.

Hasil monitoring secara umum menemukan kondisi ikan pada sebagian besar site penyelaman relative rendah, baik jenis maupun jumlahnya jika dibandingkan dengan kawasan konservasi lain di BLKB. Beberapa sites seperti  Reef Keramat, Reep Taruri 2, Buka Karu dan Niney tercatat memiliki ikan relatif lebih banyak jika dibandingkan sites lainnya. Sedikitnya jumlah dan jenis ikan yang ditemukan pada saat penyelaman diperkirakan karena masih sering terjadi penangkapan ikan yanberlebihan dan kadang menggunakan alat yang merusak, seperti bom dan bius oleh nelayan luar (informasi dari masyarakat).

Gelombang yang tinggi dan jarak pandang (visibility) yang rendah pada saat monitoring, diperkirakan berpengaruh juga terhadap jumlah dan jenis ikan yang tercatat.  Ikan hiu karang sirip hitam (Carcharhinus melanopterus/blacktip reef shark), Penyu hijau (Chelonia mydas), Napoleon (Cheilinus undulatus), Bumphead parrotfish (Bolbometopon muricatum) ditemukan di beberapa sites seperti Pulau Paniki, Niney, Reep Keramat dan Reef Taruri 2. Ikan Kerapu Kertang atau Giant Grouper (Epinephelus lanceolatus) yang berukuran antara 1 hingga 2 meter ditemukan di site Tanjung Batu Kerbau dan Reef Taruri 2. Ikan Kerapu Kertang atau Giant Grouper (Epinephelus lanceolatus) yang berukuran antara 1 hingga 2 meter ditemukan di site Tanjung Batu Kerbau dan Reef Taruri 2.

Beberapa jenis ikan yang ditemukan berkelompok (schooling) yaitu ikan kakap spesies Pinjalo pinjalo, Barakuda (Sphryna sp), Bubara (Caranx sp),  Caesio sp, dll.  Selain itu juga  ditemukan Hiu Paus atau Whale Shark (Rhincodon typus) di perairan Nusa Ulan dan kelompok lumba-lumba selama perjalanan ke lokasi penyelaman. Pada beberapa sites penyelaman juga ditemukan lionfish, namun jumlahnya masih sangat sedikit.

Secara umum kondisi karang sedang hingga buruk. Tim menemukan bekas bom baru di site Reef Kerang dan Reef Panjang dan banyak ditemukan patahan karang lama yang sudah mulai ditumbuhi oleh alga. Pada beberapa site penyelaman lainnya ditemukan juga adanya Hydroid dan dominasi rubble atau patahan karang. Patahan karang, pasir dan alga ditemukan di hampir seluruh site penyelaman. Pada beberapa lokasi penyelaman, jarak pandang kurang baik, hanya berkisar antara 3-5 meter.

Kendala selama pelaksanaan monitoring adalah gelombang laut yang tinggi, bahkan di beberapa site dapat mencapai 2 – 3 meter sehingga menyulitkan tim monitoring menuju ke lokasi penyelaman dan mengambil data. Hal ini mengakibatkan  terdapat 6 site penyelaman yang belum dapat diambil datanya. Selain itu adanya pemilik hak ulayat wilayah atau petuanan yang mengharuskan ijin kegiatan dengan membayar sejumlah uang menjadi kendala pada saat pelaksanaan monitoring, karena belum disosialisasikan dengan baik dan tidak ada aturan resminya.

Lokasi Monitoring
(Foto : Tim BHS Ekologi Unipa)

Kegiatan tim monitoring selanjutnya adalah menganalisis data monitoring sehingga menghasilkan informasi mengenai tren dan status tutupan karang dan biomassa ikan yang dapat digunakan oleh pengelola kawasan konservasi sebagai pertimbangan dalam mengambil kebijakan pengelolaan. Hasil Analisa data ini juga digunakan untuk membuat laporan teknis untuk keperluan diseminasi, publikasi dan komunikasi yang lebih luas, baik untuk masyarakat umum, penyumbang dana dan mitra terkait sehingga dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi dalam pengelolaan kawasan konservasi.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Monitoring Kesehatan Karang di KKPD Kepulauan Ayau-Asia

Monitoring dilaksanakan dengan menggunakan live aboard – KLM Jaya selama 9 hari pada tanggal 8 – 16 Mei 2018. KLM Jaya digunakan sebagai home-based tim monitoring dan dilengkapi dengan 2 dinghy untuk mendukung pelaksanaan monitoring. Speedboat Indaf dari pos pengawasan Ayau Kecil dan Insonem dari Ayau Besar, digunakan untuk mendukung kegiatan monitoring sehingga dapat berjalan lebih cepat dan untuk meningkatkan keterlibatan dan rasa memiliki kegiatan monitoring dari masyarakat lokal dan tim monitoring BLUD-UPTD Raja Ampat.KKPD Kepulauan Ayau-Asia, dan Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Survei tambahan tentang penyakit karang dilakukan oleh Dr. Ofri Johan – ahli dan peneliti peyakit karang dari Balai Riset Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Tim Ekologi Ayau

Foto : Tim BHS Monitoring Ekologi Unipa

Tim Ekologi Ayau 2

Foto : Tim BHS Monitoring Ekologi Unipa

Beberapa catatan yang menarik dari temuan tim monitoring adalah :

Komunitas Ikan :

  • Secara umum komunitas ikan dalam kondisi yang sehat dengan indikasi masih ditemukan ikan carnivore atau predator ukuran besar sepeti ikan kerapu, kakap, hiu, bubara, dan ikan jenis herbivore (ikan baronang, kulit pasir dan kakatua) serta ikan-ikan ukuran kecil lainnya, seperti ikan lalosi dan ikan oci.
  • Ikan napoleon (Cheilinus undulatus) ditemukan dibeberapa lokasi dalam kelompok yang cukup besar (15 – 20 ekor) dan diduga akan melakukan pemijahan.
  • Ikan kerapu saiseng (Pletropomus areolatus) ditemukan dalam kelompok besar di A022 – Tanjung Pulau Miarin – Kepulauan Asia dan di A002 – Abor di dekat Ayau Kecil. Kedua lokasi ini merupakan lokasi pemijahan ikan yang masih fungsional tidak hanya bagi ikan kerapu, tetapi juga beberapa jenis ikan lainnya.
  • Ikan Hiu – hanya ditemukan di beberapa lokasi diperkirakan jumlah dan populasinya lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil monitoring di KKP lainnya di Raja Ampat.
  • Di beberapa lokasi ditemukan ikan pogo jenis Yellowfin triggerfish (Pseudobalistes flavimarginatus) dalam kelompok dan menunjukkan tanda-tanda pemijahan.

Terumbu karang :

  • Kepulauan Ayau dan Asia merupakan wilayah paling utara di Raja Ampat yang relative terbuka dan selalu terkena gelombang di semua musim sehingga pertumbuhan karang sedikit berbeda dengan wilayah lain di Raja Ampat yang relatof terlindung. Di Ayau beberapa lokasi didominasi oleh karang keras yang merayap atau menjalar yang tumbuh di lereng terumbu. Terumbu karang cabang seperti jenis Acropora relative sedikit jika dibandingkan dengan lokasi lain di Raja Ampat.
  • Secara umum karang dalam kondisi sehat – tidak ditemukan (sangat sedikit) penyakit karang, tidak ada bleaching/pemutihan karang.
  • Tidak ditemukan rubble baru bekas bom atau karang rusak akibat bius
  • Macro algae jenis Halimeda banyak ditemukan di Pulau Fani dan juga ditemukan adanya kompetisi pertumbuhan antara karang dengan sponge dan algae di beberapa lokasi monitoring.

Dari survei penyakit karang didapatkan kesimpulan sementara bahwa wilayah KKP Kepulauan Ayau -Asia sangat sehat jika dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia. Hanya ditemukan 1 koloni yang terkena Black Band Disease di Pulau Fani di Kepulauan Asia. Penyakit karang lain yang ditemukan adalah White Syndrome dan Skeletal Eroding Band tetapi dalam jumlah dan persentase yang sangat kecil. Ditemukan juga Drupella – gastropoda atau jenis siput atau kerang pemakan karang ditemukan di beberapa sites monitoring. Drupella secara alami merupakan hewan pengontrol pertumbuhan beberapa famili karang yang relative cepat, tetapi jika populasi nya cukup besar dapat menjadi indikasi kuat terjadinya gangguan ekosistem terumbu karang.

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Monitoring kesehatan karang Raja ampat tahun 2018

Monitoring kesehatan karang Raja ampat tahun 2018

Monitoring dilaksanakan dengan menggunakan live aboard – KLM Kurabesi Explorer selama 24 hari tanggal 1-24 Maret 2018. Tim monitoring berhasil melakukan penyelaman di 127 titik atau sites yang terdiri dari:

  • 107 sites monitoring dan
  • 20 sites tambahan untuk eksplorasi, menyelam bersama mitra, foto hunting, latihan dan fun diving

KLM Kurabesi Explorer digunakan sebagai home-based tim monitoring dan dilengkapi dengan 2 dinghy untuk mendukung pelaksanaan monitoring. Speedboat tambahan dari pos pengawasan kawasan konservasi terdekat, digunakan untuk mendukung kegiatan monitoring sehingga dapat berjalan lebih cepat dan untuk meningkatkan keterlibatan dan rasa memiliki bagi masyarakat lokal dan tim monitoring BLUD-UPTD Raja Ampat.

Lokasi dan waktu pelaksanaan monitoring adalah sebagai berikut:

  • Training tim monitoring ,28 Februari 2018 (kantor TNC Sorong)
  • Wayag dan sekitarnya, 1 – 5 Maret 2018
  • Dampier & Teluk Mayalibit, 6 – 12 Maret dan 17 – 23 Maret 2018
  • Kofiau dan Boo, 13 – 16 Maret 2018

Tim monitoring terdiri dari 27 orang (25 laki-laki & 2 perempuan) dari 12 instansi

Beberapa catatan yang menarik dari temuan tim monitoring adalah ;

Komunitas Ikan :

  • Secara umum komunitas ikan dalam kondisi yang sehat dan seimbang, karena masih ditemukan ikan carnivore atau predator ukuran besar sepeti ikan kerapu, kakap, hiu, bubara, dan ikan jenis herbivore (ikan baronang, kulit pasir dan kakatua) serta ikan- ikan ukuran kecil lainnya, seperti ikan puri dan ikan oci.
  • Ikan Hiu – hampir ditemukan di setiap penyelaman, beberapa lokasi yang menjadi highlight adalah: Black Rock – Selat Sagewin tercatat oleh tim monitoring (Rudi) sebanyak 62 ekor hiu pada sekali penyelaman. Beberapa sites yang ditemukan lebih dari 10 ekor hiu dalam sekali penyelaman adalah di Tanjung Lampu – Solol (Elvis), Taka dekat Pulau Senapan (Pur), Wamei – Kofiau (Pur), Wambong Kecil (Pur) dan Andarek (Rudi).
  • Schooling atau ikan yang berkelompok besar, secara sekilas sepertinya berkurang. Tim monitoring mengamati berkurangnya ikan-ikan target monitoring yang dalam kelompok besar dibandingkan dengan monitoring sebelumnya.

Terumbu karang :

  • Secara umum karang dalam kondisi sehat – tidak ditemukan (sangat sedikit) penyakit karang, tidak ada bleaching/pemutihan karang.
  • Tidak ditemukan rubble baru bekas bom atau karang rusak akibat bius
  • Dominasi karang foliose (lembaran) di D37, dominasi rubble di L18, Hydroid banyak ditemukan di Arefi (Batanta).
  • Xenia overgrowth di Selat Sagewin
  • Sponge overgrowth di D46 (Batanta Selatan / Yennanas)
  • Crown of Thorn Starfish (CoTS) atau bintang laut berduri pemakan karang ditemukan pada saat tim monitoring diving di Teluk Kabui. Informasi dari dive operator terdapat outbreak CoTS di Saonek (Besar dan Monde) – tetapi ketika tim monitoring melakukan diving di Saonek tidak ditemukan outbreak CoTS.

Beberapa sites monitoring tidak dapat diambil datanya karena alasan teknis dan operasional seperti dominasi lumpur, low visibility dan habitat buaya (1 site di dalam Teluk Mayalibit), gelombang dan arus keras (Dona Carmalita – Kofiau, Pulau Nelayan – Dampier) dan 6 sites di Kepulauan Fam karena mis-komunikasi, tim monitoring mengira sudah diambil datanya pada saat monitoring Misool dan lokasi kontrol pada bulan Oktober 2017. Pada beberapa sites arus sangat kencang sehingga tidak dapat melakukan long-swim dan transek tidak lengkap (Wayag) dan juga posisi GPS yang tidak tepat di lokasi terumbu karang.

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Survei Potensi Perairan di Distrik Menarbu, Taman Nasional Teluk Cendrawasih

Kegiatan survei potensi perairan telah dilaksanakan pada tanggal 21 – 23 November 2017 oleh tim gabungan dari Balai Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BTNTC), WWF-ID site Wasior, CoE- UNIPA, dan masyarakat Kampung Menarbu dan Waar Distrik Menarbu. Terdapat 5 titik penyelaman yaitu, Batu Hanyut, Pulau Yarifu, Pulau Nukub, Menara Suar, dan Reef Panjang. Pada 5 titik penyelaman tersebut hanya pada 3 titik (P. Yarifu, Menara Suar, dan Reef Panjang) yang dilakukan pengambilan data menggunakan metode Point Intercept Transek (PIT) untuk melihat kondisi terumbu karang dan Belt Transek untuk melihat biomass ikan, sedangkan 2 titik lainnya (P. Nukub dan Batu Hanyut) menggunakan metode explore visual. Data yang diambil berupa data tutupan karang, biomass ikan, kehadiran invertebrata, serta biota maupun lokasi yang menarik untuk keperluan perlindungan (sasi) dan wisata bawah laut.

Hasil yang diperoleh yaitu, tutupan karang keras hidup pada Pulau Yarifu sebesar 43% (cukup baik), Menara Suar sebesar 56,3 % (Baik), dan Reef Panjang sebesar 41 % (cukup baik). Hasil pengamatan ikan yang didapatkan pada Pulau Yarifu yaitu didominasi oleh ikan Lalosi (Caesionidae) 560,9 kg/ha dan ikan Kakap (Lutjanidae) 350,8 kg/ha, Menara Suar didominasi oleh ikan Lalosi 328,1 kg/ha dan ikan Kakatua (Scaridae) 357,1 kg/ha, serta Reef Panjang didominasi oleh ikan Kakap 1551,9 kg/ha, ikan Lalosi 97,9 kg/ha dan ikan Bibir Tebal (Haemulidae) 167,8 kg/ha.

Secara keseluruhan semua lokasi survei memiliki potensi yang sangat baik untuk wisata bawah laut dan berpotensi dijadikan lokasi sasi oleh masyarakat. Selain survei di perairan, survei potensi juga dilakukan pada wilayah daratan dengan hasil survei yaitu terdapat beberapa lokasi menarik seperti air terjun, lukisan dinding, batu keramat, tulang belulang leluhur, pasir pantai yang berpotensi dijadikan lokasi wisata darat.

Survei Potensi Perairan

Foto : Tim BHS Monitoring Ekologi Unipa

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Monitoring Kesehatan Karang di KKPD Misool dan Lokasi Kontrol

Di KKP Misool seperti di KKP di Bentang Laut Kepala Burung, monitoring kesehatan karang dilakukan secara rutin setiap dua atau tiga tahun untuk menilai keberhasilan pengelolaan KKP. Mulai tahun 2017, Center of Excellence – Divisi Pembangunan Berkelanjutan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyakat, Universitas Papua dipercaya memimpin kegiatan monitoring kesehatan karang di seluruh Bentang Laut Kepala Burung dengan sumber pendanan yang berasal dari USAID melalui Yayasan Kehati. Kegiatan moni- toring di KKP Misool dan lokasi kontrol dilakukan pada tanggal 26 September – 10 Oktober 2017 dengan menggunakan KLM Kurabesi.

Photo by Abdi W Hasan from CI

Foto : Tim BHS Monitoring Sosial Unipa

Terdapat total 76 titik penyelaman yang ber- hasil didata oleh tim monitoring yang terdiri dari para ahli dan praktisi dari Univesitas Papua, DKP Provinsi Papua Barat, UPTD-BLUD DKP Raja Ampat, Balai Taman Nasional Teluk Cenderawasih, TNC, CI dan WWF. Kegiatan monitoring kali ini juga didukung oleh tim patroli masyarakat dari Kepulauan Fam, Yayasan Misool Baseftin serta sukarelawan dari Universitas Diponegoro Semarang dan Universitas Wageningan – Belanda

Hasil monitoring di KKP Misool menunjukkan terumbu karang dalam kondisi yang sehat karena tidak ditemukan karang memutih atau coral bleaching, penyakit karang dan karang mati atau rubble yang baru akibat aktivitas pengeboman ikan. Demikian juga ikan dalam kondisi yang sehat, rantai makanan dalam kondisi seimbang karena masih banyak Ikan-ikan ukuran kecil maupun ikan predator ukuran besar seperti: hiu, kerapu, kakap dan napoleon serta penyu terlihat hampir di semua titik penyelaman. Bahkan di beberapa titik, tim monitoring menemukan ikan pari manta, mobula dan juga ikan dalam kelompok dengan jumlah besar seperti kakatua (Scaridae), kulit pasir (Acanthuridae), oci (Caesionidae), puri (Engraulidae), kakap (Lutjanidae), barakuda (Sphyraenidae) dan bubara (Carangidae).

Walaupun secara umum terumbu karang dalam kondisi yang sehat, tetapi ada hal negatif yang ditemukan dan menjadi kekhawatiran tim monitoring, yaitu adanya satu titik di lokasi kontrol di luar KKP yang terdapat banyak bintang laut ber- duri pemakan karang atau Crown of Thorn Starfish (Acanthaster plancii). Walaupun jumlahnya belum melewati ambang batas atau outbreak yang membahayakan terumbu karang, tetapi banyaknya bintang laut ini mengindikasikan keseimbangan ekosistem yang terganggu. Hal negatif lain adalah banyaknya sampah plastik yang ditemukan oleh tim monitoring, terutama di dua titik penyelaman di dekat Kota Sorong.

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Monitoring Kesehatan Karang di Perairan Teluk Triton KKPD Kaimana

Perairan Kabupaten Kaimana yang terletak di bagian selatan Bentang Laut Kepala Burung, dikenal memiliki keanekaragaman hayati lout yang tinggi. Marine Rapid Assessment pada 2006 menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki 471 spesies karang, 1003 spesies ikan, dan biomassa ikan komersial yang terbesar di kawasan Asia Tenggara, yaitu sekitar 228 ton/km2. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Pemerintah Daerah Kabupaten Kaimana menetapkan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLDJ dengan Peraturan Bupati Nomor 4 Tahun 2008. Peraturan ini kemudian diperkuat dengan penetapan Peraturan Bupati Nomor 4 Tahun 2012 tentang Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPDJ Kabupaten Kaimana. Luas wilayah yang dicanangkan menjadi KKPD Kaimana adalah meliputi seluruh perairan sejauh 4 mil lout dari garis pantai terakhir pulau terluar. Secora administrasi, KKPD Kaimana termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Kaimana yang berbatasan langsung dengan Laut Arafuru di bagian selatan dan Kabupaten Nabire di bagian utara. Pemantauan kesehatan terumbu karang telah dilaksanakan pada tahun 2013 di Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPDJ Kaimana, diantaranya meliputi wilayah perairan Teluk Triton dan sekitarnya. Untuk mengevaluasi keberhasilan program pengelolaan KKPD Kaimana maka dilakukan kegiatan monitoring ekosistem terumbu karang setiap 2 – 4 tahun sekali.

Monitoring Kesehatan Karang di Perairan Teluk Triton KKPD Kaimana

Foto : nhidayat/CI

Pada tanggal 20-26 November 2016, UNIPA melalui Divisi Center of Excellence untuk Pembangunan Berkelanjutan (CoE) bekerjasama dengan beberapa Lembaga Sosial Masyarakat di wilayah Bentang Laut Kepala Burung (Cl, TNC dan WWF ID) serta melibatkan beberapa instansi terkait di lingkup Pemerintah Kabupaten Kaimana diantaranya Dinos Kelautan dan Perikanan dan Dinos Pariwisata Kabupaten Kaimana untuk melakukan monitoring bersama di wilayah perairan Teluk Triton yang temasuk dalam KKPD Kabupaten Kaimana. Monitoring ini dilakukan untuk mengetahui pola perubahan dari kondisi ekosistem terumbu karang, komunitas ikan karang, potensi invertebrata ekonomis penting (biota sasi) dan kondisi oseanografi fisik perairan. Metode pengambilan data menggunakan Reef Health Monitoring Protocol (Green and Wilson, 2009) dengan melakukan penyelaman di 26 lokasi, yang terbentang dari Teluk Bitsyari di bagian barat hingga Pulau Dramai di bagian timur. Lokasi ini dipilih untuk mendapatkan keterwakilan dari zona di dalam Wilayah Pengelolaan Kaimana KKPD Kaimana

Semua lokasi pengamatan tersebar pada empat zonasi di perairan lout WP Kaimana. yaitu sembilan lokasi di Zona Tabungan Ikon (ZTI). tujuh lokasi di Zona Sasi (ZS). delapan lokasi di Zona Pemanfaatan Tradisional (ZPT). don duo lokasi di Zona Perikanan Berkelanjutan don Budidaya (ZPBB). Hasil kegiatan monitoring ini selanjutnya akan di desiminasikan melalui lokakarya ke seluruh stakeholder terkait. Disseminasi ini utamanya dilakukan ke pemerintah daerah melalui instansi terkait dan Lembaga Sosial Masyarakt (LSM) di bidang konservasi yang merupakan stakholders primer. Hal ini dilakukan untuk memberikan gambaran umum tentang status don kondisi terkini potensi sumberdaya yang terdapat di wilayah bentang lout kepala burung. Selain sebagai sarana untuk berkoordinasi dengan instansi don lembaga penyedia data don informasi, wadah ini juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengevaluasi don mensinergikan program-program yang akan dilaksanakan. utamanya kegiatan monitoring kondisi ekologi terumbu karang don ekosistem lainnnya serta kondisi sosial masyarakat di wilayah cakupan pengelolaan kawasan konservasi perairan Bentang Laut Kepala Burung.

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Monitoring Terumbu Karang di KKPD Kawe, Selat Dampier, Teluk Mayalibit dan di Luar KKPD Raja Ampat

Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) Raja Am pat dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Raja Ampat No. 27 Tahun 2008 tentang Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabu paten Raja Am pat dan dijabarkan melalui Peraturan Bupati Raja Ampat No. 5 Tahun 2009 tentang Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Raja Ampat. Dalam peraturan 1n1 disebutkan kawasan konservasi tersebut meliputi Kepulauan Ayau-Asia, Kawe, Selat Dampier, Teluk Mayalibit, Kepulauan Kofiau-Boo dan Misool Timur Selatan.

Raja Am pat menjadi rumah bagi 69,21 % spesies karang dunia, dimana ditemukan 553 jenis karang (Veron et al., 2009) dan dua diantaranya merupakan jenis endemik Raja Ampat dari keluarga Acroporidae yaitu Montipora delacatula dan Montipora verruculosus (DeVantier et al., 2009). Sela in itu ditemukan setidaknya 41 jenis dari 90 genus karang lunak Alcyonacean dari 14 Fam iii (Donnelly et al., 2002). Di wilayah ini juga ditemukan 699 jenis moluska dan menjadi rumah bagi 5 jenis penyu (McKenna et al., 2002), setidaknya 1.505 jenis ikan karang (Allen dan Erdmann, 2012; update Erdmann, 2013) dan rumah bagi 15 jenis mamalia laut yang terdiri dari 14 jenis cetacean (13 jenis paus dan lumba-lumba) dan 1 jenis duyung (Dugong dugon) (Kahn, 2007). Salah satu pemicu keanekaragaman yang luar biasa ini adalah tingginya keragaman habitat mulai dari lamun, mangove, terumbu karang di perairan dangkal (termasuk terumbu karang tepi, penghalang, patch dan atoll) hingga celah dalam antar pulau-pulau kecil utama. Dengan tingkat keragaman hayati yang begitu tinggi, para ilmuwan menyebut Kepulauan Raja Ampat yang terletak di wilayah bentang laut kepala bu rung (Bird’s Head Seascape) ini sebagai jantung Segitiga Ka rang Dunia.

Monitoring Terumbu Karang di KKPD Kawe, Selat Dampier, Teluk Mayalibit  dan di Luar KKPD Raja Ampat

Foto : Tim BHS Monitoring Ekologi Unipa

Serangkaian kegiatan monitoring ekosistem terumbu karang telah dilaksanakan sejak tahun 2009 di Kabupaten Raja Ampat kemudian dilakukan setiap 2-4 tahun sekali. Monitoring ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengumpulkan data ilmiah dalam rangka mengevaluasi keberhasilan program pengelolaan Kawasan Konservasi perairan Daerah di Raja Ampat. Maret 2016, UNIPA melalui Divisi Center of Excellence (CoE) bekerjasama dengan beberapa Lembaga Sosial Masyarakat di wilayah bentang laut kepala burung (CI, TNC dan WWF-ID) melakukan monitoring bersama di beberapa Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKPD) Raja Ampat yang meliputi KKPD Kawe, Selat Dampier, Teluk Mayalibit dan di Luar KKPD Raja Ampat untuk mengetahui pola perubahan dari kondisi ekosistem terumbu karang di dalam dan di luar Kawasan Konservasi, potensi invertebrata ekonomis penting (biota sasi) dan kondisi oseanografi fisik perairan.

Selain itu, kegiatan ini juqa menjadi sarana peningkatan pengetahuan serta pemahaman bagi para pemangku kepentingan tentang kondisi lingkungan ekosistem terumbu karang dan pentingnya melaksanakan monitoring lingkungan secara berkala. Pada kesempatan ini, perwakilan dari beberapa intansi terkait meliputi UPTD BLUD Raja Ampat, KSDA Raja Am pat dan KKPN Raja Ampat terlibat dalam kegiatan monitoring ini. Metode pengambilan data menggunakan Reef Health Monitoring Protocol (Green and Wilson, 2009) dengan melakukan penyelaman di 93 titik pengamatan yang tersebar dalam wilayah KKPD Kawe, Selat Dampier, Teluk Mayalibit dan di Luar KKPD Raja Ampat. Beberapa kebutuhan data yang diamati meliputi substrat dasar terumbu karang, komunitas ikan karang, biota sasi dan data oseanografi serta deskripsi lingkungan.

Hasil kegiatan monitoring ini akan di disseminasikan melalui lokakarya ke seluruh stakeholders terkait. Disseminasi ini utamanya dilakukan ke pemerintah daerah melalui instansi terkait dan Lembaga Sosial Masyarakt (LSM) di bidang konservasi yang merupakan stakholders primer. Hal ini dilakukan untuk memberikan gambaran umum tentang status dan kondisi terkini potensi sumberdaya yang terdapat di wilayah bentang laut kepala burung. Selain sebagai sarana untuk berkoordinasi dengan instansi dan lembaga penyedia data dan informasi, wadah ini juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengevaluasi dan mensinergikan program-program yang akan dilaksanakan, utamanya kegiatan monitoring kondisi ekologi terumbu karang dan ekosistem lainnya serta kondisi sosial masyarakat di wilayah cakupan pengelolaan kawasan konservasi perairan bentang laut kepala burung.