Kategori
New Template Uncategorized @id

Pelatihan PMNH Digelar: Perkuat Kesiapan Kerja Lapangan Tahun 2026

Pelatihan PMNH Digelar: Perkuat Kesiapan Kerja Lapangan Tahun 2026

Penulis

Liana Mongdong, Kartika Zohar

Tanggal

08 Februari 2026

Pelatihan Pendamping Masyarakat dan Narahubung (PMNH) telah dilaksanakan pada 28–30 Januari 2026 di Ruang Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA) sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat di Taman Pesisir (TP) Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya.

Pelatihan ini dibuka oleh Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA), Freddy Pattiselanno. Selain 11 orang PMNH, pelatihan ini juga mengikutsertakan 6 mahasiswa yang akan melakukan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) UNIPA. Kegiatan di lapangan dilakukan hingga April 2026.

Kegiatan ini bertujuan untuk membekali peserta dengan pemahaman menyeluruh terkait program, keterampilan teknis lapangan, serta kemampuan bekerja secara kolaboratif dan profesional. Materi yang diberikan mencakup pengenalan program pelestarian penyu, pengelolaan administrasi dan pelaporan keuangan kegiatan, pembagian tim dan lokasi kerja, serta pelaksanaan program pendidikan formal dan informal bagi masyarakat.

Proses tanda tangan kontrak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pemaparan materi pengelolaan keuangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pada hari pertama, sebelum pelatihan dimulai, PMNH melakukan penandatanganan kontrak kerja. Tanda tangan di atas kertas itu bukan sekadar formalitas, melainkan pernyataan komitmen dan tanggung jawab nyata untuk mendampingi masyarakat Jeen Womom.

Setelah menandatangani kontrak, materi yang diterima di hari pertama fokus pada fondasi program. Para peserta diajak mendalami visi misi pelestarian penyu, sistem administrasi dan keuangan yang akuntabel, mekanisme pelaporan lapangan, serta strategi mengelola kegiatan pendidikan melalui rumah belajar. Materi-materi ini menjadi panduan operasional mereka selama empat bulan ke depan.

Hari kedua diisi dengan praktik mengajar Membaca, Menulis, dan Berhitung (Calistung), Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH), teknik dokumentasi kegiatan, pengembangan keterampilan pendukung, serta materi team building dan manajemen konflik. Sementara itu, di hari terakhir, difokuskan pada materi pembuatan minyak kelapa yang bersih dan higienis, pengelolaan rumah produksi, pengenalan biologi penyu dan upaya konservasinya, serta praktik mengajar Computer English (Comeng) untuk anak usia PAUD hingga SD.

Praktik cara mengajar calistung
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Belajar merajut amigurumi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pelatihan ini ditutup oleh Pengelola Program Sains untuk Konservasi, Fitryanti Pakiding, dengan harapan para Pendamping Masyarakat dan Narahubung memiliki kesiapan pengetahuan, keterampilan, serta komitmen yang kuat untuk mendukung keberhasilan dan keberlanjutan program di lapangan.

Dengan bekal yang komprehensif ini, para PMNH dan mahasiswa KKNT UNIPA siap turun ke masyarakat. Mereka bukan hanya menjadi perpanjangan tangan program, tetapi juga mitra belajar dan agen perubahan yang diharapkan dapat menuliskan cerita baru tentang pemberdayaan dan pelestarian di Taman Pesisir Jeen Womom. Perjalanan panjang dimulai dari sini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Kedua PMNH Tahun 2026

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Kedua PMNH Tahun 2026

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah mengikuti tahap seleksi wawancara Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) pada tanggal 22 Januari 2026. Berikut kami sampaikan nama-nama yang pelamar yang telah LOLOS Seleksi Tahap 2. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

1. Daftar nama tersebut akan dihubungi secara personal untuk datang tanda tangan kontrak di kantor.

2. Pelaksanaan Training (Seleksi Akhir) dilakukan di Manokwari, Papua Barat

3. Kandidat pelamar PMNH diundang ke Manokwari untuk mengikuti Training  yang akan dilaksanakan pada tanggal 28 – 30 Januari 2026

4. Bila ada hal yang belum jelas, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836.

Sampai bertemu di Manokwari!

Kategori
Belum Publish New Template Uncategorized @id

Dari Kampung ke Pasar: Menelusuri Perjalanan Minyak Kelapa Abun

Dari Kampung ke Pasar: Menelusuri Perjalanan Minyak Kelapa Abun

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

14 Januari 2026

Apakah Sobat Lestari  masih ingat dengan cerita berjudul “Minyak Kelapa untuk Konservasi: Ketika Ekonomi Masyarakat dan Penyu Belimbing Bertumbuh Bersama” yang terbit pada akhir November 2025 lalu?

Kisah itu mengawali perjalanan produksi minyak kelapa di sembilan kampung, yang tersebar pada tiga distrik di Kabupaten Tambrauw yaitu Distrik Tobouw, Abun, dan Amberbaken. Sepanjang tahun 2025, produksi dari sembilan kampung itu hampir mencapai 1.500 liter.

Dengan capaian produksi yang signifikan tersebut, tentu muncul pertanyaan penting. Bagaimana hasil produksi ini kemudian dipasarkan dan sampai ke tangan konsumen? Cerita perjalanannya dimulai dari sini.

Minyak dituang ke dalam jerigen untuk dibawa dari kampung ke Manokwari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Tim melakukan pengemasan ke botol minyak kelapa 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Tumpukan jerigen terlihat di dermaga Manokwari, baru saja turun dari kapal Sabuk Nusantara 112. Jerigen-jerigen itu berisi minyak kelapa mentah dari kampung-kampung di Tambrauw, yang merupakan hasil pendampingan tim di lapangan. Iriani dan Mika, anggota tim pemberdayaan yang bertanggung jawab atas pengendalian mutu, pengemasan, dan pemasaran (Quality Control/QC), sudah menunggu kedatangannya.

“Yang dari Wau dan Weyaf sudah datang,” ujar Mika sambil memeriksa dokumen pengiriman. Tugas mereka sungguh penting, yakni memastikan pelanggan mendapat produk terbaik, dan yang lebih utama, agar tersedia modal untuk kembali membeli minyak dari kelompok masyarakat di kampung.

Di dapur QC, proses penyempurnaan dimulai. Iriani dan timnya memeriksa kadar air setiap kiriman. Minyak yang tampak masih mengandung banyak buih kemudian dipanaskan guna memastikan tidak ada lagi sisa air di dalamnya. Selanjutnya, mereka menuang minyak ke dalam penyaring berjaring sangat rapat untuk memisahkan endapan. Proses itu dilakukan hingga yang tersisa hanyalah cairan jernih beraroma kelapa segar. Setelah bersih dan dingin, minyak itu dikemas ke dalam botol berukuran satu liter lalu dilabeli satu per satu.

Tidak berhenti di situ. Setiap botol juga diberi tanda berupa nomor batch produksi dan tanggal kedaluwarsa. “Ini dari kode batch 29 Desember 2025,” catat Iriani sambil menghitung semua botol dan mencocokkannya dengan laporan dari lapangan. Semua harus akurat.

Restock minyak kelapa ke toko Intan Jaya Mart Wosi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Minyak kelapa di pajangan etalase toko Intan Jaya Mart Wosi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Kode “29 Desember 2025” memiliki arti tersendiri dalam sistem pencatatan mereka. Angka 29 berarti ini adalah pengiriman ke-29 dari lapangan, kata Desember menunjukkan bulan pengirimannya, sementara 2025 adalah tahun produksinya. Pemberian kode ini adalah cara Tim QC untuk memastikan bahwa setiap pengiriman memiliki jejak yang tercatat dengan baik.

Minyak yang sudah siap kini melanjutkan perjalanannya. Sebagian diantar ke berbagai toko dengan sistem konsinyasi. Di Manokwari sendiri, setidaknya ada 11 toko yang menjadi titik penjualan Minyak Kelapa Abun. Harga dasarnya adalah Rp39.000,00 per liter, namun harga jual eceran di toko bisa bervariasi, mulai dari Rp42.000,00 hingga Rp49.000,00 per liter.

“Yang di Hadi Supermarket dijual Rp49.000,00,” jelas Iriani sambil menata botol-botol dalam kotak yang akan dibawa. “Sementara di toko seperti Intan Jaya dan Istana Sayur dan Buah 2, harganya Rp42.000,00,” tambahnya.

Persiapan restock minyak kelapa ke toko-toko
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Persiapan restock ke toko Kalawai Mart & Nui Fresh Market
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Selain mengandalkan toko, Tim QC dan Pemasaran juga melayani pengantaran langsung ke pelanggan tetap. Salah satunya adalah Kak Enita Rumansara, yang sudah setia membeli sejak awal produksi. “Ini dua puluh botol untuk bulan ini,” ucap Kak Enita saat menerima minyak pesanannya. Perempuan yang berprofesi sebagai tukang urut di Manokwari itu menjelaskan, “Saya gunakan minyak kelapa ini khusus untuk keperluan pijat.”

Di balik setiap botol yang terjual, ada putaran ekonomi yang terus berdenyut. Uang hasil penjualan mengalir kembali ke kampung, untuk membiayai produksi berikutnya sekaligus mendukung upaya konservasi penyu belimbing yang menjadi bagian tak terpisahkan dari program ini. Dengan demikian, masyarakat mendapat manfaat langsung dari kegiatan konservasi yang mereka lakukan bersama di Taman Pesisir Jeen Womom.

Itulah rangkaian cerita sederhana di balik sebotol Minyak Kelapa Abun. Dari kampung-kampung di pedalaman dan pesisir Papua Barat Daya, minyak ini berlayar ke Manokwari, melalui proses yang penuh ketelitian. Pada akhirnya, ia sampai ke dapur keluarga yang menghargai bukan hanya rasa dan kualitas, tetapi juga setiap cerita di balik tetesannya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Loise: Tempat Indah yang Tersembunyi di Pantai Jeen Yessa

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Loise: Tempat Indah yang Tersembunyi di Pantai Jeen Yessa

Penulis

Loise Liberta Loar

Tanggal

06 Januari 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Hai, saya Loise Liberta Loar biasanya dipanggil Loise. Latar belakang pendidikan saya adalah Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Setelah lulus saya mempunyai keinginan yang besar untuk bisa bekerja di tempat yang langsung berinteraksi dengan satwa liar. Saya pun mendapat kesempatan untuk bekerja di Science for Conservation pada tahun 2024 sebagai Tenaga Perlindungan Sarang periode April-Oktober dan ditempatkan di Pantai Batu Rumah. Sebagai Tenaga Perlindungan Sarang di Pantai Batu Rumah tugas utamanya adalah patroli pagi, kegiatannya meliputi mencatat jejak penyu, perlindungan sarang penyu menggunakan metode perlindungan pagar dan perlindungan naungan pakis pada sarang yang telah ditemukan titik peletakan telur penyu (tusuk sarang), serta evaluasi sarang penyu. Saya juga ikut berpartisipasi melakukan patroli malam. Selama mengikuti patroli malam saya mendapatkan kesempatan untuk scan atau mendeteksi nomor Passive Integrated Transponder (PIT) tag pada penyu dan memasang PIT tag pada penyu yang belum memiliki nomor PIT tag, serta mengukur panjang dan lebar karapas penyu. Saya juga membantu mengukur lebar pantai dan suhu pasir, serta mencatat data tersebut di buku maupun di Excel.

Rasa penasaran terhadap penyu dan tempat penyu bertelur tampaknya masih belum terbayarkan, sehingga saya memutuskan untuk kembali mendaftarkan diri. Pada tahun 2025 lalu saya masih diberikan kesempatan untuk bergabung kembali di Science for Conservation sebagai Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2) di Pantai Batu Rumah. Tugas TLP2 mencakup semua pekerjaan di pantai yaitu patroli pagi, patroli malam, menginput data, mengukur panjang pantai dan suhu pasir, serta jam kerjanya pun bertambah. Mengerjakan pekerjaan TLP2 menjadi mudah untuk saya karena semuanya sudah saya pelajari ketika menjadi Tenaga Perlindungan Sarang.

Memasang PIT tag pada induk penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Evaluasi sarang penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bekerja di Pantai Batu Rumah seperti sedang berlibur namun diberikan challenges yang harus diselesaikan sebelum pulang berlibur. Bagaimana tidak, setiap harinya saya berjalan di pantai dengan pemandangan indah sembari menyelesaikan challenge yang diberikan. Ketika melaksanakan challenge di pagi sampai sore hari saya dapat menikmati sunrise, langit biru yang indah dipadu dengan bentang laut yang luas, sunset dan juga pemandangan pantai yang selalu menarik perhatian saya. Sedangkan di malam hari saya dapat melihat Galaksi Bimasakti dengan sangat jelas, langit yang dihiasi dengan berjuta-juta bintang, bulan dan fenomena-fenomena langit yang terjadi di malam hari. Melihat galaksi dan bintang menjadi salah satu hal favorit saya di pantai. Tidak hanya itu saya juga bisa melihat rusa yang keluar ke pantai untuk minum air laut, biawak, lumba-lumba, dan berbagai jenis burung.

Saat merasa jenuh di pantai, saya dan tim bisa berkunjung ke hutan sekadar menikmati keindahan hutan dan kehidupan yang ada di dalamnya, mengunjungi air terjun, ikut memasang dan memeriksa jerat yang dipasang oleh masyarakat. Terkadang hanya tinggal di pos atau tempat tinggal tim saja, saya sudah bisa menghilangkan jenuh dengan melihat berbagai jenis kupu-kupu, burung, ular, kadal, tokek dan juga katak. Hal yang lebih menakjubkan adalah semua yang saya sebut tidak hanya dapat dinikmati di Pantai Batu Rumah tetapi dapat dinikmati di dua pantai lainnya (Pantai Wembrak dan Pantai Warmamedi), dengan kata lain semuanya dapat dinikmati di sepanjang pantai Jeen Yessa.

Perlindungan sarang menggunakan cocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menandai sarang penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Saya juga belajar mengemudi perahu yang menurut saya cukup menguji adrenalin. Adat istiadat masyarakat yang tinggal di sekitar Jeen Yessa juga menarik perhatian saya. Hal yang paling menarik perhatian saya adalah cara mereka memasak menggunakan bambu dan upacara pemanggilan penyu yang sangat unik.

Penyu memiliki daya tarik yang luar biasa bagi sebagian orang yang menyukai satwa. Salah satu hal yang menarik menurut saya adalah perjalanan hidupnya dari anak penyu (tukik) hingga menjadi dewasa. Setelah induk penyu mengubur telur di pantai peneluran, telur akan dibiarkan menetas sendiri dengan bantuan alam sekitarnya. Setelah menjadi tukik dan keluar dari sarang, tukik-tukik itu harus berjuang sendiri melawan predator di darat untuk menuju laut, kemudian ketika sampai di laut, tukik-tukik pun harus menghadapi predator di laut agar bisa bertahan hidup. Setelah menghadapi berbagai ancaman di laut, tukik-tukik pun tumbuh menjadi dewasa dan kembali ke pantai peneluran untuk bertelur. Hal itu menjadi suatu hal menarik yang dapat diteliti lebih lanjut. Keberadaan penyu di pantai Jeen Yessa menarik perhatian sebagian orang, banyak wisatawan yang datang ke pantai ini untuk melihat penyu dan juga keindahan alamnya. Wisatawan yang datang pun ada yang berasal dari mancanegara. Pantai Jeen Yessa dapat dikatakan sebagai aset yang sangat berharga untuk masyarakat setempat dan sudah sepatutnya dijaga kelestariannya. Pemantauan dan perlindungan penyu yang dilakukan Science for Conservation menjadi salah satu tindakan konservasi yang harus terus dilaksanakan agar populasi penyu yang datang ke pantai Jeen Yessa semakin meningkat. Akhir kata lestarikan alam untuk masa depan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring New Template

Konservasi di Kepulauan Misool: Antara Keindahan Alam dan Tantangan Lingkungan

Konservasi di Kepulauan Misool: Antara Keindahan Alam dan Tantangan Lingkungan

Penulis

Jane Lense

Tanggal

04 Januari 2026

Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Kepulauan Misool, yang mencakup bagian selatan dari Raja Ampat, adalah salah satu kawasan konservasi laut paling luas di Raja Ampat, dengan luas sekitar 348.518,74 hektare (sumber: SK Penetapan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2021). Ekosistem di Kepulauan Misool secara ekologis sangat kaya. Raja Ampat secara keseluruhan dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut global. Dari total spesies karang keras dunia, sekitar 75% berada di wilayah Raja Ampat. Keanekaragaman ini mencakup tidak hanya karang dan ikan terumbu, tapi juga moluska, karang lunak, serta fauna besar seperti penyu, manta, dan ikan besar.

Transek Terumbu Karang
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Karang Sehat
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Secara geografis, bentuk pulau dan perairan di Kepulauan Misool mendukung struktur habitat yang kompleks; terumbu di perairan dangkal, beberapa lokasi dengan topografi lereng, laguna yang terlindungi, kawasan karst dan gua laut, bahkan danau-laut (marine lakes) di daratan semu-terisolasi. Contoh unik: Danau Lenmakana, Balbullol, Lenkafal, Keramat, dan Kawarapop, sebuah danau laut di Kepulauan Misool ini menunjukkan bahwa wilayah ini tidak hanya kaya laut, tapi juga punya fitur geografis yang khas. Oleh karena itu, kawasan Kepulauan Misool bukan hanya dikenal sebagai “tempat menyelam yang indah”, tetapi dari sudut ilmiah dan konservasi sebagai “laboratorium alam”: perairan yang kompleks dengan biodiversitas yang sangat tinggi, namun juga sensitif terhadap tekanan lingkungan maupun manusia.

Dengan latar belakang di atas, tim monitoring LPPM UNIPA bersama BLUD UPTD Pengelolaan KKP Kepulauan Raja Ampat sebagai pengelola kawasan, serta beberapa tenaga ahli dari berbagai instansi, kembali ke Kepulauan Misool setelah tiga tahun untuk melakukan pemantauan kembali kondisi karang, ikan, dan lingkungannya. Berikut adalah ringkasan temuan dari 19-23 November 2025 selama 5 hari penyelaman di Kepulauan Misool.

Keragaman Spesies yang Tinggi dan Habitat yang Masih Terjaga.

  • Di beberapa titik, kami mendapati hewan ukuran besar seperti bumphead, napoleon, penyu, hingga pari manta dan keberadaan schooling ikan karang. Hal ini menunjukkan bahwa struktur habitat masih mampu menopang fauna besar.
  • Struktur terumbu, termasuk koloni karang besar dan area dengan tutupan karang yang relatif rapat masih tampak, terutama di beberapa zona dangkal dan curam.
  • Keberadaan kima besar dan adanya indikasi regenerasi (juvenile fish, rekrutmen karang) menunjukkan bahwa proses ekologis dasar masih berjalan; reproduksi, pertumbuhan dan juga keanekaragaman masih terjaga.

Ini semua menunjukkan bahwa sebagian dari Kepulauan Misool masih memiliki kondisi cukup ideal, sesuai dengan karakter wilayah ini sebagai kawasan laut dengan biodiversitas tinggi.

Pari Manta
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Namun ada Sinyal yang Membutuhkan Perhatian.

  • Di beberapa lokasi, terlihat banyak rubble (patahan karang) menunjukkan bahwa ada daerah dengan beban kerusakan, entah dari alam maupun jejak tekanan manusia di masa lalu.
  • Kekeruhan air dan sedimentasi di beberapa titik menghasilkan visibilitas rendah. Hal ini menyulitkan pengamatan, sekaligus bisa menjadi indikator gangguan lingkungan seperti peningkatan sedimen atau gangguan arus.
  • Beberapa lokasi menunjukan tanda terjadinya stres pada komunitas karang, indikator utama adalah dominasi alga akibat suplai sedimen berlebih. Hal ini memberi isyarat bahwa kehidupan lingkungan ini sedang bekerja untuk bertahan.

Membaca Dua Sisi-Antara Harapan dan Realita.

Meskipun dinamika ekosistem selalu berubah, banyak bagian terumbu di kawasan Kepulauan Misool masih menunjukkan ciri-ciri proses ekologis yang berfungsi, seperti pertumbuhan karang baru dan keragaman spesies yang tinggi. Namun, tekanan dan kerusakan di titik-titik tertentu juga menunjukkan bahwa kawasan ini tetap rentan. Hanya karena sebagian besar bagus, bukan berarti keseluruhan aman. Variabilitas spasial dan kondisi lokal bisa berbeda tajam di antara titik satu dengan titik lainnya.

Bagi konservasi, ini berarti dua hal penting:

  1. Monitoring rutin mutlak diperlukan agar perubahan, baik positif maupun negatif, bisa terdeteksi sejak dini.
  2. Intervensi serta pengelolaan yang cermat, baik terhadap aktivitas manusia maupun dampak lingkungan harus diiringi dengan kesadaran bahwa tidak semua habitat bisa dianggap sama kuat.

Secara keseluruhan, Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Misool tetap menunjukkan ketangguhan alamnya, sekaligus mengingatkan bahwa kawasan seindah ini tetap perlu dijaga dengan serius.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Belum Publish Uncategorized @id

Lowongan Kerja Tenaga Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) 2026

Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program

Bergabunglah dalam Program Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya! Apakah Anda ingin berkontribusi langsung dalam pemberdayaan masyarakat di kawasan konservasi? Inilah kesempatan Anda untuk menjadi bagian dari perubahan positif di Distrik Abun, Distrik Tobouw, dan Distrik Amberbaken, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya! Universitas Papua (UNIPA), melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), membuka kesempatan bagi alumni UNIPA dan lulusan perguruan tinggi lainnya untuk bergabung sebagai Tenaga Pemberdayaan Masyarakat di Kawasan Konservasi (PMNH). Dalam program ini, Anda akan berperan aktif dalam meningkatkan kapasitas masyarakat di bidang pendidikan dan perekonomian, serta membantu mereka dalam membangun kehidupan yang lebih berkelanjutan di kawasan konservasi.

Tugas Utama

Melaksanakan pendampingan, fasilitasi, dan koordinasi program di tingkat masyarakat serta menjadi penghubung antara program, masyarakat, dan pemangku kepentingan lokal.

Persyaratan

1. Minimal D3 semua jurusan (diutamakan Pendidikan, Pertanian, dan Pengolahan hasil Pertanian)
2. Pengalaman minimal 1 tahun di bidang pendampingan masyarakat (menjadi nilai lebih).
3. IPK minimal 2,75
4. Bersedia ditempatkan di daerah dengan akses terbatas.
5. Mahir komputer (Microsoft Office, Google Forms)

Kompensasi

1. Gaji pokok kompetitif (min. Rp 3.200.000)
2. BPJS Kesehatan + Asuransi Perjalanan
3. Akomodasi, transportasi, konsumsi ditanggung
4. Pelatihan teknis dan sertifikat

Linimasa

📌 29 Des 2025 – 11 Jan 2026: Pendaftaran & Seleksi Tahap 1
📌 17 Jan 2026: Wawancara (online/offline)
📌 22 Jan 2026: Penandatangan kontrak
📌 23–26 Jan 2026: Pelatihan PMNH

Kuota : 11-12 orang

Periode : 22 Januari – 30 April 2026

Apakah kamu tertarik bekerja untuk meningkatkan kapasitas masyarakat di Kawasan Konservasi melalui pendidikan dan perekonomian?

Jika iya, daftarkan dirimu segera, paling lambat Tanggal 11 Januari 2026 Pukul 23:59 WIT! mungkin kamu orang yang kami butuhkan!

Ada hal yang ingin ditanyakan terkait lowongan ini? Jika iya, hubungi admin kami pada hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIT

Bagikan

Bagikan informasi lowongan kerja ini kepada teman dan sanak saudara Anda melalui sosial media yang Anda miliki!

Kategori
New Template Uncategorized @id

Brian: Peran sebagai Penjaga Sarang yang Mengubah Cara Pandang Saya tentang Penyu

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Penulis

Brian Marcel Crisanto Fatem

Tanggal

17 Desember 2025

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Perkenalkan saya Brian Marcel Crisanto Fatem atau lebih dikenal dengan nama Brian. Asal suku saya dari Sorong namun saya tumbuh besar di Distrik Masni, Kabupaten Manokwari. Tahun ini saya berkesempatan menjadi Tenaga Perlindungan Sarang Pantai Peneluran periode pertama April-Juli 2025. Pada kesempatan kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman saya di Pantai Peneluran Jeen Yessa Kabupaten Tambrauw. Awalnya saya mendapat informasi terkait Tenaga Perlindungan Sarang ini dari kakak tingkat di Universitas Papua (UNIPA) yaitu Kakak Kevin di akhir tahun 2024 yang telah mengikuti program ini di tahun 2023, dan merasa tertarik karena saya penasaran dengan pekerjaan menjaga penyu di pantai peneluran yang diceritakan Kakak Kevin. Latar belakang pendidikan saya sebelumnya yaitu Sarjana Peternakan UNIPA, lulusan tahun 2014.

Tenaga Perlindungan Sarang ini adalah pekerjaan pertama saya setelah lulus kuliah. Sebelumnya saya hanya pernah melihat penyu hijau di Pantai  Sidey, salah satu pantai wisata di Distrik Masni. Kalau boleh jujur, saya juga pernah  melihat masyarakat lokal di salah satu pantai memburu penyu. Namun karena saat itu saya tidak tahu mendalam terkait ancaman kepunahan penyu, saya  tidak menghiraukan perbuatan tersebut.

Bulan Mei 2025, saya dan tim turun lapangan ke Pantai Jeen Womom, tepatnya di dekat Kampung Resye (dahulu disebut Saubeba). Tantangan pertama langsung saya hadapi ketika tiba di pantai peneluran Batu Rumah: saya harus berjalan sekitar 9 km menuju Pantai Wembrak, lokasi kerja saya. Karena masih awal bekerja di pantai peneluran, saya cukup kaget dengan aktivitas berjalan sejauh itu di pasir pantai; kaki saya belum beradaptasi, dan langkah terasa lebih berat karena setiap pijakan membuat telapak kaki saya masuk ke dalam pasir, tidak seperti berjalan di permukaan yang keras. Namun setelah terbiasa, boleh dikatakan saya cukup “rajin berjalan” untuk mendata dan melindungi sarang penyu. Saya ditugaskan di Pantai Wembrak bersama Kakak Tonny Duwiri sebagai koordinator pantai, Mayustilo dan Jackson sebagai tenaga lapangan pantai peneluran, serta Titus dan Nikodemus Yesnat tenaga lokal yang ikut bekerja di pantai. Saya bekerja dari 9 April sampai 11 Juli 2025.

Pantai Wembrak merupakan lokasi kerja yang sangat nyaman untuk saya, karena itu saya sangat rajin berjalan untuk mendata dan melindungi sarang sejak awal saya bertugas. Hampir setiap hari saya melakukan perlindungan sarang yang merupakan tugas utama saya. Selain itu saya juga senang melakukan patroli malam. Bahkan pengalaman yang saya rasa paling menarik adalah ketika belajar cara memasang chip PIT tag karena sangat menantang. Saya membutuhkan beberapa kali percobaan sampai akhirnya benar-benar memahami caranya. Meski tampak sederhana, pemasangan chip PIT tag harus dilakukan pada waktu yang tepat—saat penyu belimbing menghembuskan napas dan terlihat cukup rileks—dan orang yang memasang chip juga harus cukup sigap agar tidak terlambat.

Brian sedang memasang PIT tag pada induk penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Wembrak)

Brian dan anggota tim lainnya sedang mengangkat gulungan cocomesh untuk perlindungan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tonny Duwiri)

Perlindungan sarang juga tidak kalah menantang, khususnya perlindungan sarang menggunakan cocomesh. Perlindungan cocomesh adalah inovasi perlindungan sarang dari tali serat kelapa yang dianyam. Untuk melakukannya, kami harus membawa kayu dan anyaman tali tersebut menuju lokasi sarang penyu yang ditentukan dan merangkainya di atas sarang penyu.

Selama bertugas, saya juga pernah berpindah lokasi kerja untuk membantu tim di Pantai Warmamedi yang terletak di sebelah timur Wembrak. Saat itu, tim Warmamedi membutuhkan tenaga tambahan karena terdapat banyak sarang penyu yang harus dilindungi, sementara mereka harus bergerak cepat untuk mengamankan sarang-sarang tersebut dari predator alami seperti babi hutan, soa-soa, dan anjing. Saya pindah tugas pada bulan Juni 2025 dan bertugas di sana selama satu minggu.

Brian sedang membuat perlindungan sarang dengan metode pagar
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mayustilo Hokoyoku)

Brian melepaskan tukik saat di pantai Wembrak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Wembrak)

Selain bekerja, saya juga berbaur dengan masyarakat lokal yang dengan hangat menerima saya sebagai orang baru. Saya sangat menikmati bekerja di pantai bersama tim Wembrak maupun tim di lokasi lain; meskipun pekerjaan kadang melelahkan, suasana penuh canda membuat semuanya terasa ringan. Kami saling bekerja sama sekaligus bersaing secara positif untuk mencapai target perlindungan sarang. Bekerja di pantai juga mengajarkan saya untuk hidup lebih teratur—bangun pagi, sarapan, bekerja, beristirahat, lalu kembali menjalankan tugas dengan ritme yang jelas dan berkesinambungan.

Terakhir, saat saya selesai dari pantai, saya melihat penyu dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Di awal, saya sempat bertemu dengan orang-orang yang memburu penyu dan tidak mengerti bahayanya. Namun kini saya sadar bahwa penyu adalah spesies yang sangat terancam dan perlu kita lindungi bersama. Jika masih tersedia pilihan makanan lain, saya ingin mengajak siapapun yang masih mengkonsumsi penyu untuk berhenti, demi masa depan anak cucu kita agar mereka tetap bisa melihat penyu hidup di alam bebas.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Minyak Kelapa untuk Konservasi: Ketika Ekonomi Masyarakat dan Penyu Belimbing Bertumbuh Bersama

Minyak Kelapa untuk Konservasi: Ketika Ekonomi Masyarakat dan Penyu Belimbing Bertumbuh Bersama

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

28 November 2025

Sejak diinisiasi pada tahun 2014, produksi minyak kelapa telah menjadi salah satu program pengembangan ekonomi masyarakat yang tumbuh seiring dengan pelaksanaan Konservasi Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) di Taman Pesisir Jeen Womom. Inisiatif ini muncul dari kebutuhan untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah peneluran penyu, sehingga kegiatan konservasi dapat berjalan berdampingan dengan penguatan kesejahteraan komunitas.

Selama bertahun-tahun, proses produksi minyak kelapa berkembang dari kegiatan berskala kecil menjadi usaha yang lebih terstruktur. Perjalanan panjang ini semakin kuat ketika Pemerintah Kabupaten Tambrauw, melalui Dinas Pertanian, memberikan dukungan berupa alat produksi minyak kelapa serta membangun rumah produksi di Kampung Wau dan Weyaf. Kehadiran fasilitas terutama mesin press santan ini membantu masyarakat meningkatkan kualitas dan jumlah produksi secara lebih konsisten.

Proses cincang kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Proses pemarutan kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Memasuki periode Januari hingga akhir Oktober 2025, produksi minyak kelapa mencatat pencapaian yang menggembirakan. Dalam waktu sepuluh bulan, masyarakat dari empat kampung yaitu Resye, Womom, Wau-Weyaf, dan Syukwo, berhasil menghasilkan lebih dari seribu liter minyak kelapa, tepatnya 1.070 liter. Angka ini masih akan terus bertambah hingga akhir tahun. Seluruh proses produksi dilakukan melalui 44 kali kegiatan bersama, yang melibatkan total 87 warga dari keempat kampung tersebut. Yang menarik, perempuan menjadi motor utama dalam usaha ini di mana dari total pelaku, 56 adalah perempuan dan 31 adalah laki-laki, semuanya bekerja aktif mulai dari pengupasan buah kelapa hingga pengemasan minyak dalam kemasan gen untuk dikirim ke Manokwari.

Proses mengambil minyak hasil endapan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Proses memasak minyak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Partisipasi dari masing-masing kampung juga menunjukkan antusiasme yang kuat. Di Kampung Resye, sebanyak 36 orang turut terlibat, sementara di Kampung Womom terdapat 16 orang yang berperan aktif. Kampung Wau-Weyaf menjadi salah satu pusat kegiatan dengan keterlibatan 31 warga, sementara Kampung Syukwo berkontribusi dengan 16 masyarakat. Tingkat partisipasi ini mencerminkan bahwa kegiatan produksi minyak kelapa telah menjadi aktivitas bersama yang menyatukan berbagai kelompok usia dan peran dalam masyarakat.

Dari sisi jumlah produksi, capaian setiap kampung menunjukkan dinamika dan kapasitas lokal yang beragam. Kampung Wau–Weyaf menjadi penghasil terbesar dengan total 750 liter minyak kelapa hingga akhir Oktober. Diikuti oleh Kampung Resye dengan 147,9 liter, Kampung Womom dengan 128 liter, dan Kampung Syukwo dengan 45 liter. Variasi produksi ini mencerminkan perbedaan fasilitas dan dukungan yang tersedia di masing-masing kampung, terutama keberadaan mesin press santan yang merupakan alat pengolahan yang berpengaruh langsung terhadap jumlah minyak yang dapat dihasilkan.

Proses pengukuran minyak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Inisiatif ini tidak hanya memperkuat perekonomian masyarakat tetapi juga berkontribusi langsung pada keberlanjutan konservasi. Dengan terciptanya mata pencaharian alternatif, masyarakat yang tinggal di sekitar pantai-pantai peneluran merasakan manfaat nyata dari keberadaan program konservasi. Mereka bukan hanya menjaga habitat peneluran penyu belimbing, tetapi juga memperoleh kesempatan meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui usaha pengolahan minyak kelapa.

Program ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana konservasi dapat berjalan selaras dengan pembangunan ekonomi lokal dengan menguatkan komunitas, menjaga alam, dan menciptakan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan yang mereka lindungi setiap hari.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Survei New Template

Belajar dari Lapangan: Pelatihan Surveyor Lapangan Survei Sosial di Raja Ampat​

Belajar dari Lapangan: Pelatihan Surveyor Lapangan Survei Sosial di Raja Ampat

Penulis

Jennifer Maleke, Marthinus Rumere, dan Arnoldus Ananta

Tanggal

10 November 2025

Survei sosial merupakan kegiatan pemantauan untuk mengkaji keberhasilan hubungan antara kawasan konservasi dengan masyarakat yang tinggal di dalam maupun di sekitar kawasan tersebut. Survei sosial yang dilakukan meliputi survei rumah tangga, survei gender, focus group discussion (FGD), dan wawancara informan kunci

Pada tahun 2025, tim BHS (Bird’s Head Seascape) Sosek (Sosial-Ekonomi) melaksanakan survei sosial pada 13 kampung di Kawasan Konservasi Teluk Mayalibit, Raja Ampat, sebagai pemantauan pengulangan ke-5 dari kegiatan pemantauan sosial yang telah dilakukan sejak tahun 2010.

Untuk menyukseskan pelaksanaan survei sosial, diadakan pelatihan bagi para surveyor selama tiga hari, dari tanggal 15 hingga 17 Oktober 2025. Pelatihan ini dibuka oleh Pengelola Program Sains Untuk Konservasi, Fitriyanti Pakiding, dengan narasumber Koordinator BHS, Kezia Salosso, serta anggota BHS Sosek, Jennifer Maleke dan Marthinus Rumere. Selain itu, kegiatan ini juga diikuti oleh para enumerator, yaitu Thomas Sembai, Jelly Palle, Spenyel Yenusy, Maria Bame, Jackson Bundah, Rivaldo Heipon, dan Agus Aiwor.

Pada hari pertama, kegiatan dimulai dengan pembukaan resmi oleh Pengelola Program Sains Untuk Konservasi, Fitriyanti Pakiding. Setelah itu, peserta mendapatkan pengantar Survei Sosial BLKB (Bentang Laut Kepala Burung) Papua Tahun 2025, yang mencakup tujuan dan lokasi survei, jenis dan jumlah data yang akan dikumpulkan, serta penjelasan detail mengenai instrumen survei rumah tangga.

Pengelola Program Sains Untuk Konservasi Membuka Pelatihan Surveyor Lapangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jennifer Maleke)

Penjelasan instrumen rumah tangga oleh Koordinator BHS Sosek
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jennifer Maleke)

Memasuki hari kedua, pelatihan dilanjutkan dengan praktik lapangan di Pulau Mansinam. Tim terlebih dahulu melapor kepada aparat kampung setempat, kemudian melaksanakan latihan wawancara survei rumah tangga, focus group discussion (FGD), dan wawancara informan kunci bersama beberapa responden. Kegiatan FGD dan survei rumah tangga dilakukan secara terpisah, di mana FGD dipimpin oleh Koordinator BHS Sosek bersama aparat kampung, beberapa masyarakat, dan tetua adat.

Tim mempersiapkan perlengkapan survei
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Sementara itu, survei rumah tangga dilakukan oleh para enumerator yang terbagi dalam tiga kelompok untuk mewawancarai masing-masing satu penduduk. Sesi ini berlangsung sekitar dua jam. Setelah itu, tim melakukan pembersihan dan pengecekan data untuk memastikan akurasi serta pemahaman para peserta terhadap prosedur survei.

Briefing sebelum pelaksanaan pre-test wawancara survei
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pre-test wawancara FGD
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jennifer Maleke)

Pada hari ketiga, kegiatan difokuskan pada evaluasi dan refleksi hasil pelatihan. Tim melakukan review terhadap hasil try-out atau pre-test, serta mendiskusikan tindak lanjut dari proses wawancara yang telah dilakukan. Sebagai penutup, peserta menyusun rencana kerja lapangan dan mempersiapkan perlengkapan survei yang akan digunakan selama pelaksanaan pemantauan sosial.

Melalui pelatihan ini, para peserta tidak hanya memperdalam keterampilan teknis, tetapi juga membangun pijakan penting untuk menghadirkan hasil pemantauan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat, sekaligus mendukung upaya konservasi sumber daya alam yang mereka jaga.

Pre-test wawancara salah satu penduduk mengunakan survei rumah tangga
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pengecekan dan pembersihan data
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Uncategorized @id

PMNH untuk Kampung Resye: Pendidikan Lingkungan dan Pelestarian Penyu

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

PMNH untuk Kampung Resye: Pendidikan Lingkungan dan Pelestarian Penyu

Penulis

Christian Zakarias Kaisiepo

Tanggal

31 Oktober 2025

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Saat pertama kali saya berlayar di pesisir Kabupaten Tambrauw selama 3 hari 2 malam dengan kapal kecil menuju sebuah kampung yang akan saya tempati sementara, saya langsung merasakan keindahan serta kekayaan alamnya yang begitu khas dan berbeda.

Bagaimana tidak? Kampung yang bernama Saubeba (dalam bahasa Biak) atau Resye (dalam bahasa Abun), yang sebelumnya sama sekali belum saya kenal, ternyata berada di lokasi strategis.

Menikmati senja di Pesisir Kampung Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Terbentang di Samudra Pasifik sekaligus berada dalam kawasan hutan konservasi yang kaya keragaman hayati. Dari hamparan pepohonan luas, aliran sungai kecil dengan mata air segar, beragam satwa yang masih terlindungi di darat, laut, dan udara, hingga budaya masyarakat asli yang tetap menjunjung tinggi bahasa lokal, semuanya membuat saya terkesan. Saat itu juga saya tersadar bahwa kehidupan manusia tidak pernah jauh dan selalu bergantung pada alam di sekitarnya.

Saya berada di Kampung Resye, Kabupaten Tambrauw untuk melaksanakan tugas sebagai Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH). PMNH merupakan bagian dari Program Sains untuk Konservasi (S4C) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (Papua).

Pada suatu hari yang cerah, sebuah pertanyaan muncul di benak saya, “Jika lingkungan yang begitu kaya dan indah ini tidak dijaga oleh manusia sendiri, apa yang akan terjadi kelak?” Waktu itu, saya tengah duduk menikmati segarnya kelapa muda dan menatap indahnya senja yang perlahan tenggelam di ufuk barat pesisir Kampung Resye.

Namun, seiring berjalannya waktu berada di kampung ini, saya mulai menyadari betapa beragamnya kekayaan hayati yang dimilikinya. Dari kehidupan di pesisir pantai, aktivitas berkebun di hutan, hingga statusnya sebagai kawasan konservasi penyu dan berbagai keragaman hayati lainnya, yang mana membuat masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga sumber daya alam dan lingkungan sekitar.

Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH)

Salah satu tugas PMNH adalah mengajar di rumah belajar, termasuk memberikan edukasi lingkungan untuk anak-anak. Edukasi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) mengajak anak-anak untuk memahami bahwa manusia hidup selalu berdampingan dengan alam di sekitar tempat tinggalnya, sehingga kesadaran itu memberi dampak positif bagi keberlangsungan hidup. Dengan mengenal berbagai ekosistem di pesisir pantai maupun hutan, anak-anak dibekali kemampuan menjaga lingkungan agar tetap bersih, asri, dan lestari.

Menonton video tentang kehidupan penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Pembelajaran tentang kehidupan penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Kampung ini dikenal sebagai wilayah yang dekat dengan habitat peneluran penyu, di mana terdapat 4 dari 7 jenis penyu di dunia, termasuk Penyu Belimbing. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat sangat penting untuk menjaga kelestarian populasi penyu yang hampir tergolong punah. Melalui media pembelajaran visual, anak-anak dibekali pemahaman tentang kehidupan penyu, mulai dari membedakan penyu dan kura-kura, mengenal berbagai ancaman yang dihadapi, hingga memahami cara menjaga siklus hidup penyu agar tetap berlanjut, khususnya di sepanjang pesisir Pantai Jeen Yessa.

Pembuatan sarang perlindungan penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Pengenalan jenis-jenis sampah
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Anak-anak di Kampung Resye juga belajar secara langsung untuk cara melakukan perlindungan penyu dari berbagai ancaman. Sebelumnya mereka telah belajar tentang ancaman melalui video dan materi di Rumah Belajar. Dengan mempelajari ancaman, anak-anak dapat memahami siklus hidup penyu yang tidak mudah dilalui. Pengetahuan ini membantu anak-anak belajar tentang apa yang mereka dapat lakukan untuk melindungi penyu

Selain mempelajari siklus hidup penyu, anak-anak juga dibimbing untuk turun ke lapangan dan mempraktikkan pembelajaran melalui pengenalan jenis-jenis sampah, dengan menelaah penyebab yang memengaruhi kebersihan lingkungan, seperti sampah organik dan non-organik. Dengan rasa ingin tahu yang besar, mereka antusias mengamati poster “Do’s & Don’ts”, sekaligus diberi kesempatan menentukan aktivitas legal dan ilegal untuk memahami dampaknya terhadap lingkungan.

Pengumpulan sampah organik dan anorganik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Hasil pengumpulan sampah organik dan anorganik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Setiap benda yang ditemukan sepanjang pesisir pantai menjadi sarana bagi anak-anak untuk belajar membedakan jenis-jenis sampah. Mulai dari dedaunan kering, ranting kayu, dan rumput laut kering, hingga kantong maupun botol plastik, yang jelas memberikan dampak negatif bagi lingkungan sekitar. Oleh karena itu, semangat tinggi anak-anak dalam membersihkan lingkungan menjadi peran penting dalam menumbuhkan kepedulian terhadap alam.

Pada umumnya, anak-anak sangat senang mengikuti pembelajaran langsung di lapangan. Selain menyenangkan, cara ini juga memudahkan mereka memahami setiap materi yang diberikan. Dalam kesempatan ini, anak-anak tidak hanya dibekali pengetahuan tentang lingkungan yang berdampak pada manusia, tetapi juga didorong untuk mengenal interaksi antar ekosistem pesisir, baik komponen biotik maupun abiotik. Rumput laut, misalnya, merupakan salah satu tumbuhan laut yang bermanfaat bagi kehidupan organisme akuatik.  Sementara itu, aliran sungai menjadi elemen penting yang menopang keberlangsungan hidup berbagai ekosistem di sekitarnya. Kedua komponen ini sangat penting untuk diketahui anak-anak, karena mereka hidup di lingkungan yang erat kaitannya dengan komponen-komponen tersebut.

Pengenalan jenis ekosistem abiotic pesisir
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Diskusi singkat bersama wisatawan macanegara
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Berada di Kampung Resye, salah satu kampung di dekat Taman Pesisir (TP) Jeen Womom, memberikan pengalaman yang luar biasa dan sangat berkesan. Peran saya sebagai PMNH tidak hanya mendorong untuk bersikap profesional dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri saya dalam memperkenalkan kepada wisatawan mancanegara bahwa rumah belajar adalah salah satu upaya penting bagi keberlanjutan konservasi penyu di TP Jeen Womom.

Saya merasa bersyukur atas pengalaman berharga selama menjadi PMNH di Kampung Resye. Setiap momen yang saya jalani di sini benar-benar tak ternilai. Saya juga bangga karena pekerjaan ini merupakan investasi penting bagi upaya konservasi penyu, tidak hanya di Papua Barat, tetapi juga untuk dunia. Meski tampak sederhana, pekerjaan ini memberikan dampak luar biasa bagi masa depan bumi.

Berfoto dengan penyu belimbing di wilayah pesisir Jeen Yessa Syuwen
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya