Kategori
New Template Uncategorized @id

Rumah Belajar Womom: Pendidikan Nonformal untuk Literasi, Kreativitas, dan Ekopedagogi​

Rumah Belajar Womom: Pendidikan Nonformal untuk Literasi, Kreativitas, dan Ekopedagogi

Penulis

Kristina Ifana Rahail

Tanggal

18 September 2025

Sebuah rumah kecil sederhana berdinding papan ternyata memberi manfaat dan dampak besar bagi generasi penerus Kampung Womom. Melalui Program Pemberdayaan Masyarakat Science for Conservation (S4C), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua menghadirkan sekolah nonformal yang kami sebut Rumah Belajar Womom, atau kerap dikenal anak-anak dan masyarakat setempat sebagai “Rumah Les”.

Di Rumah Belajar Womom, proses pembelajaran didampingi oleh para pengajar yang tergabung dalam Tim PMNH (Pemberdayaan Masyarakat dan Narahubung). Tim ini tidak hanya mengajar di Kampung Womom, tetapi juga di beberapa kampung lainnya yang bertugas di wilayah sekitar pantai peneluran penyu di Taman Pesisir Jeen Womom.

Rumah Belajar ini berdiri di tengah Kampung Womom, Distrik Tobouw, Kabupaten Tambrauw. Tujuan pendiriannya adalah membantu meningkatkan kemampuan literasi anak, pendidik, dan masyarakat setempat agar pembelajaran dapat berlangsung kapan saja dan di mana saja. Dengan adanya rumah belajar, proses belajar diharapkan tidak terbatas pada ruang kelas formal. Sebab sejatinya, belajar tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi dapat berlangsung di berbagai tempat, salah satunya di Rumah Belajar Womom.

Belajar baca, tulis dan hitung
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Rumah Belajar ini berdiri di tengah Kampung Womom, Distrik Tobouw, Kabupaten Tambrauw. Tujuan pendiriannya adalah membantu meningkatkan kemampuan literasi anak, pendidik, dan masyarakat setempat agar pembelajaran dapat berlangsung kapan saja dan di mana saja. Dengan adanya rumah belajar, proses belajar diharapkan tidak terbatas pada ruang kelas formal. Sebab sejatinya, belajar tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi dapat berlangsung di berbagai tempat, salah satunya di Rumah Belajar Womom.

Belajar Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) tentang penyu (Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan belajar mengajar di Rumah Belajar Womom biasanya dimulai pukul 16.00 WIT hingga selesai. Kelas baca dan tulis dilaksanakan setiap Senin, sedangkan kelas hitung setiap Selasa. Dalam kelas baca dan tulis, anak-anak diajarkan mengenal huruf dan mendengarkan cerita. Agar pembelajaran lebih interaktif, kami menggunakan kartu huruf. Anak-anak diminta mengenali huruf, lalu menyebutkan nama benda atau hewan yang diawali huruf yang mereka pegang. Demikian pula dalam kelas hitung, anak-anak diperkenalkan angka dengan cara yang sama, menggunakan kartu sebagai media belajar.

Setiap Rabu, kami mengajarkan anak-anak menggunakan komputer dan belajar Bahasa Inggris di Rumah Belajar Womom. Kegiatan ini bertujuan memberi kesempatan bagi anak-anak yang belum mendapatkan pelajaran Komputer dan Bahasa Inggris di sekolah, agar tetap dapat mengenal dan mempelajarinya. Harapannya, mereka mampu mengoperasikan komputer secara dasar serta memahami kosakata dan

Belajar menghitung
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Belajar computer-english
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

percakapan sederhana dalam bahasa Inggris sebagai bekal menghadapi perkembangan zaman. Kehidupan anak-anak Rumah Belajar Womom sangat dekat dengan alam. Mereka tinggal di pesisir pantai yang menjadi habitat peneluran penyu. Kami pun berinisiatif mengajarkan mereka cara menjaga dan melindungi penyu serta spesies lain di lingkungan sekitar, baik yang dilindungi maupun tidak, agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.

Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH): mengenal ekosistem pesisir
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Perpustakaan keliling
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Baca Juga:

Belajar Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) tentang penyu (Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Selain belajar PLH tentang penyu, Rumah Belajar Womom juga memiliki materi PLH bulanan dari series 1 hingga series 5. Dalam pembelajaran ini, anak-anak diajarkan mengenal jenis sampah organik dan anorganik, memahami ekosistem pesisir, mengenali hewan di sekitar tempat tinggal, mengetahui berbagai sumber air, serta mengenal tumbuhan dan tanaman di lingkungan mereka.

Pada kelas perpustakaan keliling, kami mengenalkan anak-anak terhadap berbagai jenis buku, membacakan dongeng, dan membuat peta cerita.

Tujuannya agar mereka mampu menanggapi bacaan serta menghubungkannya dengan diri sendiri, bacaan lain, dan dunia di sekitar mereka. Hidup di atas tanah yang kaya akan sumber daya alam, baik flora maupun fauna, kami mengajak anak-anak mengenal berbagai tanaman yang berkhasiat bagi kesehatan sekaligus dapat digunakan sebagai bumbu dapur. Anak-anak diajarkan membuat media tanam di sekitar halaman Rumah Belajar Womom, lalu diajak mengambil tanaman yang dapat dijadikan ramuan. Mereka tampak sangat antusias menanam kembali tanaman tersebut di halaman rumah masing-masing. Anak-anak juga terlihat paham mengenai jenis tanaman yang bermanfaat untuk kesehatan maupun sebagai bumbu masak. Dengan tangan-tangan kecil mereka, tanaman dipilah dengan lihai dan ditanam pada media yang telah disiapkan.

Hidup sehat: sikat gigi dan cuci tangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Hidup sehat: makan bubur kacang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menggambar dan mewarnai
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Rumah Belajar Womom kami mengajarkan pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi serta menjaga kebersihan diri melalui kebiasaan mencuci tangan dan menyikat gigi. Kegiatan di Rumah Belajar Womom tidak hanya berfokus pada pelajaran sekolah, tetapi juga menghadirkan aktivitas seru melalui ruang kreasi. Anak-anak bebas menggambar dan mewarnai apa saja yang terlintas di pikiran mereka. Tujuannya agar mereka dapat mengekspresikan diri serta menuangkan gagasan dan imajinasi ke dalam bentuk gambar.

Kehadiran Rumah Belajar di Kampung Womom mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan memberikan dampak positif yang nyata. Di kampung yang tergolong kecil ini, jumlah kepala keluarga yang terdaftar sebenarnya sebanyak 21 KK (Data survei Tahun 2021). Namun, saat ini dalam pelaksanaan kegiatan pendampingan di lapangan, hanya ditemukan 8 KK yang benar-benar tinggal menetap. Kondisi ini juga berpengaruh pada jumlah anak yang mengikuti kegiatan di Rumah Belajar, yaitu sebanyak 7 orang anak.

Tangkapan peta Kampung Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Meskipun jumlahnya tidak banyak, semangat mereka luar biasa. Setiap kali jam belajar dimulai, anak-anak selalu datang dengan penuh antusias, duduk rapi, dan siap menerima pelajaran baru. Mereka tidak hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga mendapatkan pengalaman berharga melalui pengenalan komputer, bahasa Inggris, hingga kegiatan belajar dari alam sekitar. Hal yang menarik, antusiasme ini tidak hanya terlihat dari anak-anak, tetapi juga dari para orang tua. Mereka kerap hadir untuk menyaksikan anak-anak belajar, bahkan memberi dukungan agar anak-anak tetap semangat. Suasana kebersamaan ini menjadi bukti bahwa meskipun Kampung Womom kecil dan jumlah anak yang ada terbatas, semangat untuk belajar dan berkembang tidak pernah surut. Justru dari keterbatasan itulah tumbuh sebuah harapan besar—bahwa setiap anak berhak mendapat kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan meraih masa depan yang lebih baik.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring New Template

Pari Manta dan Ancaman di Jalur Migrasi Raja Ampat

Pari Manta dan Ancaman di Jalur Migrasi Raja Ampat

Penulis

Jane Lense

Tanggal

17 September 2025

Raja Ampat dikenal dunia sebagai wilayah dengan keindahan laut yang sulit ditandingi dan kekayaan hayati yang luar biasa. Gugusan pulau dan perairannya menjadi habitat bagi ribuan spesies, mulai dari terumbu karang yang bervariasi hingga megafauna seperti pari manta dan penyu. Salah satu kawasan ikoniknya adalah Kepulauan Wayag di Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) Waigeo Sebelah Barat yang tersohor berkat tebing karst menjulang dan laut biru jernih. Namun, di balik pesonanya, perairan Wayag menyimpan kisah penting tentang keberlangsungan hidup megafauna laut yang kini terus menghadapi ancaman.

Pada Juni 2025, Tim Monitoring Ekologi Sains untuk Konservasi LPPM Universitas Papua bersama BLUD UPTD Raja Ampat dan para mitra yaitu: Loka PSPL Sorong, BKKPN Kupang Satker Raja Ampat, BBTN Teluk Cenderawasih, Dinas P2KP Papua Barat Daya, Yayasan Konservasi Indonesia dan warga lokal di Raja Ampat melakukan pemantauan kesehatan karang di Waigeo. Hasil visual memperlihatkan kondisi bervariasi, sebagian membaik, sebagian terdampak. Namun, momen paling berkesan terjadi ketika tim menjumpai pari manta di perairan Kepulauan Waigeo Sebelah Barat. Beberapa ekor pari manta melayang anggun mengikuti arus, tubuh raksasanya tampak tenang di dalam air, seolah bergerak tanpa usaha. Panjang tubuhnya melebihi 3 meter dengan bentangan sayap hampir dua kali tinggi manusia dewasa. Gerakannya lambat, seperti tarian di dalam air. Pola hitam putih di punggungnya pun unik, layaknya sidik jari alami yang menjadi penanda tiap individu. Meski berukuran raksasa, pari manta adalah ikan jinak tanpa sengat seperti kerabat pari lainnya, hanya kalah besar dari sesama raksasa laut, Hiu Paus (Rhincodon typus).

Tiga ekor pari manta sedang “perawatan” di cleaning station Eagle Rock
(Foto : UPTD BLUD Raja Ampat/Imanuel Mofu)

Pari manta, salah satu megafauna laut Indonesia yang dilindungi, terdiri atas tiga spesies, dua di antaranya masih dapat ditemukan di perairan Indonesia. Salah satu spesies, pari manta hynei (Mobula hynei), telah dianggap punah. Dua spesies yang tersisa adalah pari manta oseanik (Mobula birostris) dan pari manta karang (Mobula alfredi). Namun, keduanya kini resmi berstatus genting atau terancam punah (endangered species) menurut Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) sejak 2022, karena populasinya terus menurun akibat berbagai faktor ancaman.

Raja Ampat menjadi rumah bagi pari manta di sejumlah lokasi yang dikenal sebagai cleaning station. Pulau Uranie, Pulau Bag, Eagle Rock, dan titik-titik lain menjadi titik perhentian penting bagi spesies ini. Pada penelitian Conservation International, McCoy (2024: Spatial connectivity of reef manta rays across the Raja Ampat archipelago, Indonesia. R. Soc. Open Sci.11230895) mengungkap adanya jalur migrasi yang menghubungkan lokasi-lokasi tersebut, membentuk manta superhighway. Ibarat jalan tol di darat, jalur ini menghubungkan berbagai titik penting di laut yang dilalui pari manta dalam perjalanannya. Di sepanjang “jalan tol” laut ini, terdapat lokasi khusus yang disebut cleaning station–semacam “rest area” alami yang memungkinkan pari manta beristirahat, membersihkan diri dengan bantuan ikan-ikan kecil, bersosialisasi, sekaligus bertemu populasi lain.

Kemunculan pari manta di permukaan di perairan Wayag
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Kemunculan pari manta di permukaan di perairan Wayag
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Namun, ancaman nyata mengintai ekosistem ini. “Rumah” pari manta di Kepulauan Wayag berdekatan dengan Pulau Kawe yang memiliki aktivitas tambang nikel, membawa risiko besar. Sedimentasi dari limpasan hujan di area tambang berpotensi mengubur terumbu karang, merusak fungsi cleaning station, serta mengganggu ketersediaan makanan pari manta. Kehilangan satu titik penting seperti Eagle Rock dapat memutus rantai migrasi, memengaruhi perilaku makan, dan menurunkan populasi pari manta di Raja Ampat. Ironisnya, Eagle Rock berada di luar kawasan konservasi laut resmi, sehingga tidak mendapatkan perlindungan penuh dari ancaman tersebut.

Kehadiran pari manta yang melintas anggun di wilayah ini, bersamaan dengan temuan visual terkait ancaman ekosistem seperti sedimentasi, menjadi pengingat bagi kami bahwa upaya perlindungan laut harus mencakup seluruh fungsi habitat—bukan sekadar menjaga terumbu karang atau membatasi aktivitas penangkapan ikan. Perlindungan juga berarti memahami keterkaitan antar spesies, jalur migrasi, dan titik-titik penting yang mungkin berada di luar kawasan konservasi resmi. Menjaga kesehatan ekosistem laut mutlak diperlukan. Pari manta tidak akan datang ke perairan yang tercemar atau rusak. Mereka membutuhkan laut yang sehat, sebagaimana manusia membutuhkan udara bersih.

Seekor pari manta sedang berenang dengan tenang dan anggun
(Foto : Loka PSPL Sorong/Prehadi)

Pari manta yang melintas di perairan Raja Ampat adalah simbol laut yang sehat. Setiap gerak sayapnya mengingatkan kita bahwa melindungi mereka berarti menjaga keseimbangan ekosistem, yang menjadi sumber kehidupan bagi banyak makhluk. Superhighway atau jalur laut para manta harus tetap aman, agar generasi mendatang masih dapat menyaksikan makhluk ini “melayang” bebas di birunya laut Raja Ampat.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring New Template Uncategorized @id

Wayag di Persimpangan: Surga Raja Ampat yang Terancam

Wayag di Persimpangan: Surga Raja Ampat yang Terancam

Penulis

Habema Monim

Tanggal

16 September 2025

Apa yang terbersit di pikiran Anda jika ditawari mengunjungi salah satu tempat paling eksotis di dunia, yaitu Wayag? Tempat yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata impian bagi banyak orang ini berada di Raja Ampat, Papua. Wayag memiliki keunikan yang jika berada di puncaknya mata kita akan disuguhi batu karst ikonik berbentuk seperti jamur yang menjulang dari dalam air berwarna biru nan indah. Pemandangan ini tentu sering muncul pada promosi-promosi wisata dan berbagai media sosial.

Bagi para penyelam, Wayag tidak hanya menawarkan keindahan pulau-pulaunya, tetapi juga keindahan bawah laut yang tak tertandingi. Laut Wayag menawarkan berjuta keindahan yang akan selalu dikenang para penyelam. Karang berwarna khas tumbuh di tepian dasar perairan yang berbentuk dinding atau wall akibat dari kejernihan air dan juga cahaya matahari yang menembus langsung ke dasar perairan. Keunikan ini membuat banyak hewan langka mudah dijumpai, seperti blacktip reef shark, whitetip reef shark, wobbegong, penyu hijau, penyu sisik, ikan bumphead, ikan napoleon, lumba-lumba, pari manta, hingga berbagai jenis ikan yang berenang bergerombol (schooling).

Penyu sisik di salah satu titik penyelaman
(Foto : Loka PSPL Sorong/Prehadi)

Pari manta yang sedang mencari makan tetapi terdapat banyak sampah yang hanyut
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Pada perjalanan monitoring kali ini, kami mengunjungi Wayag dan sekitarnya selama 4 hari, dari tanggal 6 hingga 9 Juni 2025. Banyak hal menarik yang kami jumpai, tidak hanya di permukaan perairan tetapi juga saat penyelaman. Schooling ikan selalu terlihat, begitu pula hewan khas seperti blacktip reef shark, whitetip reef shark, wobegong, penyu hijau, penyu sisik, ikan bumphead, ikan napoleon, dan pari manta. Kehadiran hewan-hewan ini bukan kebetulan, melainkan didukung oleh pantauan visual langsung kami bahwa kondisi karangnya masih terjaga dengan baik.

Baca juga : Belajar Sambil Bertualang: Pelajaran Berharga di Pantai Peneluran – Bagian 1

Akan tetapi, akhir-akhir ini Raja Ampat mendapat perhatian khusus dari penjuru negeri hingga mancanegara akibat pertambangan yang sedang beroperasi. Bagaimana tidak, sebagai jantung keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia, tambang membuat semua mata menaruh perhatian akan keindahan serta keunikan yang sedang mengalami ancaman nyata. Perjalanan monitoring kami yang semula nyaman dengan temuan menarik berubah mencekam karena keberadaan tambang dan ulah manusia yang tidak peduli lingkungan, terbukti dengan ditemukannya sampah hanyut di permukaan perairan

Temuan karang memutih di salah satu lokasi penyelaman
(Foto : Loka PSPL Sorong/Prehadi)

Temuan karang memutih di salah satu lokasi penyelaman
(Foto : Loka PSPL Sorog/Prehadi)

Beberapa spot penyelaman favorit dunia sekaligus titik pengamatan kesehatan karang berada berdekatan dengan salah satu pulau pusat pertambangan. Ancaman ini memang belum terlihat jelas, tetapi dari pola arus yang ada diperkirakan akan berdampak langsung dalam waktu yang tidak lama. Tidak hanya ancaman dari aktivitas pertambangan, wilayah yang merupakan lokasi pari manta mencari makan (feeding) dan membersihkan diri dari ikan-ikan kecil dari parasit atau kotoran di tubuhnya (cleaning) ini pun mengalami ancaman berupa sampah plastik yang banyak ditemukan mengapung di permukaan perairan. Mirisnya, sampah-sampah tersebut hanyut bersamaan dengan aktivitas pari manta dan penyu yang sedang mencari makan

Salah satu titik pengamatan kondisi kesehatan karang dengan latar lokasi tambang nikel di Pulau Kawe, Raja Ampat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Siput Drupella diatas karang yang telah mati dan tutupi alga
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Selain bekerja, Vio juga senang menikmati suasana alam di pantai peneluran. Keindahan sunset dan sunrise adalah waktu favoritnya, di mana langit berwarna jingga dan pepohonan bertemu pantai serta laut, menciptakan landscape yang menakjubkan.

Selain ancaman nyata di permukaan perairan, ekosistem di dasar perairan juga terancam, terutama adalah temuan karang yang memutih serta banyaknya siput Drupella. Temuan ini dapat menyebabkan kematian karang sehingga fungsi dari ekosistem terumbu karang menurun atau bahkan dapat hilang hingga hewan yang harusnya berasosiasi di terumbu karang juga pun ikut hilang

Dari temuan menarik dan ancaman yang mulai terlihat ini, kita harus memilih: apakah Wayag di masa depan tetap menampilkan keunikan dan keindahan ekosistemnya ataukah hanya menjadi cerita belaka. “Keputusan kita saat ini menentukan masa depan alam kita”

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Lebih dari Penanda Waktu: Kalender sebagai Media Edukasi Konservasi Laut Papua

Lebih dari Penanda Waktu: Kalender sebagai Media Edukasi Konservasi Laut Papua

Penulis

Liana Mongdong

Tanggal

30 Agustus 2025

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) melakukan diseminasi informasi yang didesain dalam bentuk kalender kepada pemerintah daerah, institusi pendidikan, dan masyarakat umum di Kota Sorong serta Kabupaten Raja Ampat pada bulan Agustus 2025. Informasi yang dimuat dalam kalender tersebut berupa data hasil monitoring ekologi dan sosial-ekonomi pada tahun 2019 hingga 2022 di wilayah Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Raja Ampat. Kalender ini juga menampilkan hasil kegiatan pemantauan penyu, perlindungan sarang, dan pemberdayaan masyarakat di Taman Pesisir Jeen Womom pada tahun 2024.

Seluruh data monitoring sosial-ekonomi, ekologi, penyu, dan kegiatan pemberdayaan masyarakat tersebut merupakan bagian dari aktivitas Program Sains untuk Konservasi yang dilaksanakan oleh LPPM UNIPA bersama mitra konservasi di Bentang Laut Kepala Burung Papua. Meskipun dibagikan pada bulan Agustus 2025, kalender ini tetap relevan karena berlaku untuk periode Juli 2025 hingga Juni 2026.

Diseminasi di SMA N 3 Sorong
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Diseminasi di Wilayah Raja Ampat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Mengapa kalender? 

Kalender dipilih sebagai salah satu produk diseminasi karena memiliki banyak keunggulan:

1. Fungsi praktis

Kalender digunakan oleh semua kalangan untuk mencatat tanggal, acara, maupun pengingat penting. Karena bermanfaat untuk digunakan sehari-hari, orang cenderung menyimpannya dan menggunakannya sepanjang tahun.

2. Desain informatif dan menarik

Kalender tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu, tetapi juga dapat dikemas dengan gambar serta informasi edukatif yang menarik perhatian.

3. Mudah terlihat dan bertahan lama

Kalender bisa dicetak dalam berbagai ukuran dan biasanya ditempel di dinding atau diletakkan di meja. Berbeda dengan brosur atau pamflet yang mudah terselip atau terbuang, kalender akan terus terlihat dan memberi pesan berulang kepada penggunanya.

Informasi kalender bulan Juli 2025
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Informasi kalender bulan Agustus 2025
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Penasaran? Yuk, kita lihat isinya!

1. Fakta mengagumkan di lembar pertama

Pada lembar pertama tersaji informasi tentang Bentang Laut Kepala Burung Papua, seperti luasnya kawasan konservasi laut, hamparan terumbu karang yang menjadi bagian penting dari total karang dunia, hingga kehidupan masyarakat pesisir dengan keragaman suku dan bahasa. Lautnya menjadi rumah bagi ratusan jenis ikan, berbagai spesies paus dan lumba-lumba (cetacea), serta penyu yang setiap tahun datang untuk bertelur.

2. Peta kawasan konservasi

Lembar kedua menampilkan peta Bentang Laut Kepala Burung Papua. Dari peta ini, terlihat sebaran wilayah perlindungan, dari pesisir hingga laut lepas, yang semuanya berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem.

3. Manfaat konservasi laut

Lembar ketiga menjelaskan manfaat kawasan konservasi: menjaga ekosistem dan keanekaragaman hayati (manfaat ekologis), memperkuat hubungan sosial masyarakat pesisir, hingga mendukung ekonomi berkelanjutan, seperti perikanan ramah lingkungan dan ekowisata.

4. Tantangan menjaga laut

Lembar keempat menguraikan kondisi lingkungan serta aktivitas merugikan dari manusia yang berpengaruh terhadap kesehatan laut. Dengan memahami keduanya, kita dapat merancang langkah-langkah tepat agar laut tetap sehat dan produktif.

5. Kegiatan lapangan

Lembar kelima hingga kedua belas menampilkan dokumentasi kegiatan nyata di lapangan, antara lain:

  • Hasil monitoring ekologi pada beberapa area di KKP Raja Ampat
  • Hasil survei kesejahteraan masyarakat pada beberapa area di KKP Raja Ampat
  • Hasil monitoring ekologi pada SAP Waigeo Sebelah Barat
  • Upaya konservasi penyu belimbing yang holistik di Taman Pesisir Jeen Womom

Informasi kalender bulan September 2025
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Informasi kalender bulan Oktober 2025
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Semua ini menjadi bukti nyata bahwa konservasi tidak hanya tentang menjaga alam, tetapi juga membangun keberlanjutan hidup masyarakat. Kalender ini lebih dari sekadar penanda waktu. Ia adalah jendela pengetahuan dan pengingat tentang pentingnya menjaga laut serta kehidupan yang bergantung padanya. Setiap lembar membuka wawasan baru, setiap gambar dan cerita mengajak kita untuk peduli.

Informasi kalender bulan Desember 2025
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Informasi kalender bulan Juni 2026
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Di samping itu, kalender ini diharapkan menjadi pengingat sehari-hari bahwa konservasi adalah tanggung jawab bersama agar laut tetap lestari, habitat penyu terpelihara, dan generasi mendatang dapat menikmati kekayaan alam Papua.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Meilani: Menghadapi Tantangan, Menemukan Makna

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Meilani: Menghadapi Tantangan, Menemukan Makna

Penulis

Meilani Ravenska

Tanggal

12 Agustus 2025

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Perjalanan saya sebagai Pendamping Masyarakat dimulai di Kampung Resye-Womom, tempat tanpa internet, listrik, atau kendaraan. Di sana, saya menghadapi tantangan baru sebagai pengajar, sesuatu yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Jika Sobat Lestari belum membaca cerita pertama tentang bagaimana saya mengatasi rasa gugup dan menyesuaikan diri mengajar anak-anak, simak kisah saya di bagian pertama perjalanan ini.

Petualangan lain terjadi saat kami diajak ikut kerja bakti di kebun dekat Kali Wemak pada pukul 10.00 WIT. Saya kira tempat itu dekat, tetapi ternyata perjalanan memakan waktu sekitar satu jam, melewati tebing batu dengan air pasang. Saya tidak menyesal, malah menikmati perjalanan itu meski penuh rintangan. Kami memanjat tebing, melewati hutan, dan menyusuri kali kecil sembari menangkap udang bersama anak-anak.

Saat melintasi kali yang diterangi cahaya di balik pepohonan, hati saya tenang, dan saya teringat lagu, “Seindah siang disinari terang, cara Tuhan mengasihiku.” Setibanya di kebun, kami membagi tugas: pria membabat kebun, wanita memasak. Saya membantu mama-mama mengupas dan memarut pisang muda. Setelah selesai, saya dan anak-anak Rumah Belajar mandi di kali. Mereka mahir berenang dan meminta untuk lompat ke air dari pundak saya.

Saya mulai terbiasa dengan tugas sebagai Pendamping Masyarakat, belajar bersosialisasi dengan orang baru. Di sini, saya merasa kami semua pemula dan saling melengkapi. Saya sering berkumpul dengan warga untuk kerja bakti atau bercanda sambil menikmati teh panas.

Kelompok 1 berusaha menyelesaikan permainan puzzle
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Perlombaan memasukkan air ke dalam baskom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Saat pertengahan April 2025, kami mulai mempersiapkan perayaan Paskah. Pada 17 April, kami mengadakan kegiatan di SD YPK Lachai-Roy Saubeba, seperti menyanyi bersama, bercerita, dan bermain puzzle untuk kelas remaja. Saya dan Tian -rekan Pendamping Masyarakat- menangani kelas remaja, dan meski puzzle tak selesai dalam waktu yang ditentukan, kami tetap senang melihat antusiasme mereka. Pada 19 April, kegiatan dilanjutkan dengan permainan di pantai, seperti estafet air dan tarik tambang. Saya ikut serta dan merasa bahagia melihat kegembiraan anak-anak.

Setelah itu, kami mengadakan nonton bersama, meski sempat terkendala karena proyektor yang tidak lengkap. Tapi dengan bantuan Tian dan Valen -rekan Pendamping Masyarakat-, kami berhasil membagi kelompok dan nonton dengan satu laptop per kelompok. Malam harinya, kami mengadakan Cerdas Cermat Alkitab (CCA), yang berlangsung hingga larut malam.

Nonton bersama film “Kasih Terbesar” di GKI Lachai-Roy Saubeba
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan CCA di GKI Lachai-Roy Saubeba
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pagi-pagi saat pawai obor untuk perayaan Paskah, saya merasa lelah, namun ikut merasakan kebersamaan dan cinta tanpa syarat. Setelah itu, kami melanjutkan dengan ibadah fajar di gereja. Sore harinya, meski sudah pukul 17.00, kami latihan menyanyi untuk ibadah Paskah kedua dengan antusiasme yang tinggi, meski sempat terlewatkan oleh beberapa orang.

Kedekatan kami dengan anak-anak semakin erat. Saya dan Tian sering berkumpul bersama mereka untuk bersantai dan menikmati pemandangan pantai setelah kegiatan. Saat libur sekolah berakhir, saya mulai mengajar di sekolah sebagai guru untuk kelas III & IV, meski harus mengajar dua kelas sekaligus. Mereka belajar dengan semangat meski terbatas, dan saya bangga dengan keinginan mereka untuk mencoba.

Latihan lagu untuk dinyanyikan pada perayaan Paskah kedua
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan belajar mengajar di SD YPK Lachai-Roy Saubeba
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Meskipun saya tidak pernah membayangkan menjadi Pendamping Masyarakat, tugas ini membawa saya pada pengalaman yang luar biasa. Mereka menjadi keluarga baru bagi saya, memberi saya sayur dan daging, dan mengajarkan arti cukup yang lebih luas. Di sini, saya belajar untuk merajut asa bersama mereka di tempat terpencil.

Tantangan ini menjadi anugerah bagi saya, dan saya merasa ini adalah pilihan tepat meski penuh kesulitan. Seperti yang dikatakan Prof. Bagus Muljadi -Putra Betawi yang saat ini menjadi Dosen di University of Nottingham, Inggris-, “Tujuan hidup sebenarnya adalah makna.” Saya berani keluar dari zona nyaman untuk melihat dunia dari perspektif yang berbeda, memberi kontribusi kecil di kampung ini.

Saya meminjam lirik lagu Tulus -nama vokalis solo terkenal saat ini di Indonesia-, “Dimanapun kalian berada, kukirimkan terima kasih tuk warna dalam hidupku dan banyak kenangan indah.” Salam hangat dari saya, Pendamping Masyarakat.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Jendela Dunia dari Kampung Kecil: Perjalanan Literasi di Tambrauw

Jendela Dunia dari Kampung Kecil: Perjalanan Literasi di Tambrauw

Penulis

Potrosina Etty Daunema, Kartika Zohar

Tanggal

18 Juli 2025

Salah satu anak dari Kampung Wau-Weyaf sedang membaca buku
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Di sebuah daerah pesisir kepala burung, Kabupaten Tambrauw, Distrik Abun, terdapat dua kampung kecil bernama Wau dan Weyaf. Kampung ini hanya dipisahkan oleh jalan setapak, tetapi kehidupan masyarakatnya sangat terhubung erat. Di tengah-tengah kampung, berdiri sebuah rumah belajar sederhana yang menjadi pusat kegiatan edukatif bagi anak-anak. Di dalamnya terdapat perpustakaan mini, dengan rak-rak buku kayu yang dibuat dari papan seadanya.

Meski sederhana, perpustakaan ini sangat berharga. Rak bukunya memang tetap di tempat, tetapi fungsinya dinamis dan interaktif. Tim Pemberdayaan Masyarakat datang secara berkala, membawa semangat baru dan buku-buku segar untuk anak-anak. Koleksi buku yang dibawa pun beragam, mulai dari buku pelajaran, cerita rakyat, novel anak, hingga komik edukatif. Tujuan kami sederhana: meningkatkan literasi dan minat baca anak-anak di kampung Wau dan Weyaf.

Setiap hari Sabtu menjadi waktu yang paling dinantikan. Anak-anak berkumpul di rumah belajar dengan wajah ceria, siap mendengarkan dongeng atau cerita rakyat yang kami bacakan. Kegiatan dimulai dengan memperkenalkan buku baru, kemudian kami membacakan ceritanya dengan ekspresi dan suara yang penuh semangat. Anak-anak duduk melingkar, mendengarkan dengan saksama, tertawa, bertanya, dan bahkan menirukan suara tokoh dalam cerita.

Tak hanya di dalam ruangan, kegiatan perpustakaan juga dilakukan di luar ruangan. Anak-anak diajak menikmati pembelajaran di alam terbuka, menjadikan suasana belajar lebih menyenangkan dan segar.

Baca juga : Cahaya Harapan di Wau Weyaf

Yang membuat kami bangga, anak-anak kini mulai menunjukkan minat besar terhadap dunia membaca. Mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi mulai membaca sendiri. Bagi yang sudah lancar membaca, mereka mengambil buku dari rak, membacanya, menggambar tokoh dan hewan dalam cerita, bahkan mencoba menjelaskan isi cerita dengan kata-kata mereka sendiri. Semua ini menjadi bukti bahwa kegiatan sederhana ini telah membuka pintu imajinasi dan pengetahuan bagi anak-anak.

Perpustakaan Mini di Rumah Belajar Kampung Wau-Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menuliskan Isi Bacaan pada Cerita oleh Anak-Anak Kampung Wau-Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bagi kami, perpustakaan bukan sekadar tempat membaca. Ini adalah jembatan antara kampung dan dunia luar—tempat anak-anak belajar bermimpi dan bercita-cita. Harapan kami sederhana: semoga dari rumah belajar kecil ini, lahir generasi muda yang cerdas, kreatif, gemar membaca, dan mencintai ilmu pengetahuan. Karena membaca adalah jendela dunia untuk memperluas wawasan dan membangun masa depan bangsa.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring New Template

Jackson: Menjaga Penyu di Pantai Wembrak

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Jackson: Menjaga Penyu di Pantai Wembrak

Penulis

Jackson Bundah

Tanggal

13 Juli 2025

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Halo Sobat Lestari! perkenalkan saya Jackson Bundah, tetapi banyak yang memanggil saya dengan sebutan “Jacky” dan “Jek”. Sebelum saya bergabung di Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang, saya pernah bergabung dalam tim yang lain di Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA. Sejak tahun 2023 hingga Februari 2025, saya bergabung dalam tim BHS (Bird’s Head Seascape) Sosial Ekonomi. Dan terhitung bulan Maret 2025 saya diberi kesempatan untuk bergabung bersama kru pantai (begitu istilah yang diberikan untuk kami yang bekerja memantau dan melindungi sarang penyu di pantai). Ini adalah pengalaman baru bagi saya. Alasan saya tertarik bergabung dalam tim ini adalah karena saya ingin memperluas wawasan dan pengalaman saya dibidang konservasi, khususnya di bidang pelestarian penyu yang unik dan penuh tantangan. Saya percaya bahwa pelestarian penyu tidak hanya penting bagi keseimbangan ekosistem laut, tapi juga menjadi bagian dari warisan alam yang harus kita jaga bersama. Apalagi penyu yang akan saya temui adalah penyu belimbing, si penjelajah laut dari pesisir Papua hingga ke pesisir Amerika Serikat! Saya sangat takjub saat pertama kali menginjakan kaki di Pantai Jeen Yessa karena tidak menyangka bahwa pantainya memiliki pemandangan yang sangat bagus dan memanjakan mata. Selain itu, banyak hal baru serta tantangan seru dan menarik yang saya dapatkan selama bekerja di Pantai Jeen Yessa. Siapa sangka, saya yang jarang melihat penyu dan hanya mengenal penyu dari cerita teman-teman, pada akhirnya bekerja untuk konservasi penyu di salah satu pantai peneluran terbesar di Pasifik Barat! Saya ditugaskan di Pos Pemantauan Pantai Wembrak, Jeen Yessa. Salah satu pengalaman yang paling seru bagi saya adalah ketika kami harus mengantar bahan makanan dan beberapa kebutuhan ke pos-pos di pantai lain menggunakan perahu. Sebelum menepi ke pantai atau saat mau keluar dari pantai, kami harus menghitung deburan ombak yang datang agar perahu kami tidak dimasuki air atau agar tidak terbalik bila ada ombak besar.  Kalau salah perhitungan, sudah pasti perahu bisa terbalik; kru pantai menyebutnya dengan istilah “salto biawak”, hal penting yang saya pelajari adalah cara menyiapkan bama (bahan makanan) atau perlengkapan pos di setiap pantai dengan benar agar semua perlengkapan aman dan tidak mudah rusak. Selain itu, saya juga harus belajar menghitung ombak dengan teliti sebelum masuk ke pantai. Kalau salah perhitungan, sudah pasti perahu bisa terbalik seperti salto biawak, yang tentu sangat berbahaya. Kadang, ketika ombak sedang besar, saya harus mendorong perahu ke laut dengan cara menggantungkan badan di perahu supaya tetap seimbang dan tidak terbawa arus. Pengalaman ini sangat menantang sekaligus mengajarkan saya untuk selalu waspada dan beradaptasi dengan kondisi laut yang sangat dinamis.

Salah satu momen yang paling berkesan adalah saat saya pertama kali melihat penyu bertelur di Pantai Wembrak. Melihat langsung proses penyu bertelur adalah pengalaman yang jarang didapatkan banyak orang. Meskipun awalnya saya sempat takut, terutama saat melihat penyu belimbing yang ukurannya cukup besar, perlahan rasa takut itu hilang dan saya mulai terbiasa dengan kehadiran mereka. Momen itu membuat saya semakin mengagumi keindahan dan keajaiban alam yang tersembunyi di balik pantai yang saya kunjungi. Selain penyu belimbing, di sana saya bertemu dengan beberapa jenis penyu lainnya seperti penyu lekang dan penyu hijau.

Mengukur panjang karapas induk penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Mengukur lebar karapas induk penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pantai Wembrak hingga Pantai Batu Rumah menjadi tempat favorit saya untuk berlatih menjaga kebugaran. Area ini saya anggap sebagai sport center karena di sini saya tidak perlu mencari tempat lain untuk olahraga. Kondisi pantai yang asik dan suasananya yang mendukung membuat saya nyaman berlatih setiap hari. Selain itu, berlatih di tengah alam terbuka seperti pantai membuat saya merasa lebih segar dan semangat, berbeda dengan berolahraga di tempat gym atau lapangan biasa. Pantai ini juga memberikan energi positif yang membantu saya tetap optimal dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Selain pengalaman dan latihan fisik, saya juga mendapatkan banyak teman baru dari tiga pantai yang saya kunjungi. Mereka adalah teman-teman yang asik dan memiliki banyak cerita unik tentang kehidupan di pesisir. Selain itu, saya juga bertemu dengan orang-orang kampung yang sangat ramah dan bersahabat. Interaksi dengan mereka membuat pengalaman saya semakin berwarna dan menyenangkan. Mereka selalu menyambut saya dengan hangat, memberikan bantuan, dan berbagi cerita tentang budaya serta kebiasaan setempat yang saya anggap sangat menarik.

Memasang chip pada induk penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menandai sarang penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Dari keseluruhan perjalanan ini, saya belajar banyak hal tidak hanya tentang alam dan tantangan fisik, tapi juga tentang nilai kebersamaan dan kekeluargaan. Setiap pantai dan orang-orang yang saya temui membawa warna dan pelajaran baru dalam hidup saya. Pengalaman ini membuat saya merasa lebih dekat dengan alam sekaligus memperkaya wawasan sosial saya. Saya sangat bersyukur bisa merasakan langsung keindahan dan keunikan dari pantai-pantai tersebut, serta bertemu dengan teman-teman dan masyarakat lokal yang begitu ramah dan hangat. Sampai disini perkenalan singkat dari saya, jangan pernah bosan untuk membaca cerita seru kami dari pantai peneluran, jika teman teman pembaca ada waktu kesempatan, mari! datang dan berkunjung di Pantai Jeen Yessa, melihat penyu dan menikmati indahnya alam Papua di sini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Melani: Kalahkan Gugup, Mengajar dengan Hati di Kampung Penyu

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Melani: Kalahkan Gugup, Mengajar dengan Hati di Kampung Penyu

Penulis

Meilani Ravenska

Tanggal

12 Juli 2025

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Langit tampak bersahabat, tak memunculkan cahaya pekatnya kala bertandang ke  suatu tempat yang bagiku tak pernah masuk dalam list tuk dipijaki. Kampung Resye-Womom, Distrik Tobouw, Kabupaten Tambrauw. Inilah nama tempat baru yang kupijak, sebuah tempat tanpa jaringan internet, tak tampak tiang listrik, serta kendaraan. Disinilah cerita baru dan jejak kenangan terukir sebagai seorang Pendamping Masyarakat (PM).

Rabu, 26 Maret 2025 dan waktu menunjukkan pukul 11.00 WIT. Di atas kapal KM Sabuk Nusantara 112 yang mengantarkanku tiba di kampung ini, saya berdiri di bentangan luas megah yang menyamankan mata, dengan lautan biru  menyejukkan sanubari yang terbentang luas menyapa membentuk samudera, beserta hamparan hutan yang menyimpan misteri kekayaannya. Dari kejauhan, saya menatap kampung yang tepat berada di depan.

Setibanya kapal berlabuh, saya beserta tim lainnya pun hendak turun dari kapal.  Oh iya, jangan membayangkan kami turun langsung menginjakkan kaki di dermaga, tentu saja tak seperti itu. Sebuah perahu dari kampung menjemput kami dan itu artinya kapal berada jauh lepas pantai. Hmmmm, pemandangan baru dan menjadi satu bagian menarik bagiku karena belum pernah seperti itu sebelumnya.

Setibanya di daratan Kampung Resye, tak jauh dari posisi kami berdiri setelah turun dari perahu, tampak beberapa anak-anak dari Rumah Belajar sedang menanti kedatangan kami dan membantu mengangkat barang-barang dari perahu. Worwer dan Celine, dua nama pertama yang saya dengar dan ingat kala Putri, salah seorang tim monev (monitoring evaluasi) menyapa mereka.

Melihat mereka dengan karakter yang berbeda, tanpa berbekal pengalaman mengajar dan pemberdayaan yang minim, saya pun agak wanti-wanti dan diserbu pertanyaan dalam pikiran, “Mengajar? Benarkah ini? Bukankah ini hal yang tak pernah ingin saya lakukan?”. Ok, saya berusaha meredam suara-suara rumit itu dan menenangkan diri sembari beberes Rumah Belajar bersama teman-teman lain yang tampak berantakan karena telah ditinggalkan begitu lama.

Beberapa hari kemudian, pada pagi yang tenang kala fajar perlahan muncul di ufuk timur memancarkan sinarnya yang lembut ke seluruh penjuru kampung disertai alunan ombak, perlahan saya mengangkat tubuh mungil saya dari perasaan rumit yang menghampiri sembari berkata dalam hati, “Tenang saja, semua akan baik-baik saja,” ujar saya kala masih menerka-nerka, apakah benar ini pilihan tepat yang saya pilih?

Duduk bersama warga
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kebersamaan bersama anak-anak pada sore hari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Saya pun keluar menghampiri dunia yang tenang, tak begitu riuh bak di kota sembari mengecap aroma kampung yang teduh dan membiarkan angin sejuk menyapa wajah saya. Saya pun melihat ke sekeliling, mengamati aktivitas pagi di tempat ini. Tampak bagi saya, seorang mama (panggilan akrab dalam dialek Papua Melayu untuk wanita Papua usia paruh baya) yang sedang menyapu hamparan dedaunan kering pada halaman rumahnya, beberapa mama dan bapa yang lalu lalang hendak pergi ke kebun, dan anak-anak yang telah berada di sekitar pantai untuk bermain dan berenang. Waaahhh, pemandangan yang begitu berbeda sekali dengan perkotaan.

Seusai pemandangan teduh pagi hari, saya tiba pada sore yang begitu riuh. Tampak masyarakat yang bermain bola voli dan sepakbola berteman cahaya keemasan yang tersipu malu hendak pergi. Aaahhh, saya menikmati pemandangan tersebut sembari mencerca tiap adegan yang saya lihat, riuh yang bisa saya terima seolah saya berada pada masa kecil kembali, yang dipenuhi dengan permainan di luar ruangan seperti itu.

Kini langkah saya terhenti di pinggiran pantai yang disertai lantunan ombak yang menggulung imaji, bak musik yang memecahkan lamunanku. Deburan ombak, desiran angin, dan mentari kian membumi membiaskan siluetnya yang tak sia-sia mengesun rona jingga, menyuguhkan keteduhan pinggir pantai. Saya pun menerima ketenangan yang ditawarinya, keheningan yang menggandeng saya berbicara pada diri sendiri. Bebas, benar-benar bebas tanpa drama yang saling beradu. Pikir saya semuanya tampak membaik sejauh ini, saya hanya perlu keluar dari zona nyaman dan cerita dari rumah yang berbeda. “Bukankah hal seperti ini yang kamu inginkan, Mei?”, ujar pikir saya. Gelap di langit pun jadi pertanda cahaya mulai redup dan riuh pun ikut serta membumi. Dengan hati yang penuh syukur pada pemandangan di sekitarku, saya pun melangkah pergi kembali ke Rumah Belajar.

Senin, 31 Maret 2025. Hari bersejarah bagi saya, hahaha. Ini kali pertama pengalaman saya dalam hal mengajar, bahkan tak pernah ada dalam benak saya hal ini akan terjadi. Saya tak pernah suka dipanggil dengan kata “guru”, sebab bagi saya itu sebuah kata yang terlalu sulit dengan tanggung jawabnya sebagai pendidik. Tampak terlihat oleh saya rak telur yang kosong, sehingga saya pun mulai menghitung apa bisa sebanyak 26 abjad? Dan ya, ternyata jumlah telurnya bisa sebanyak 26. Lekas saya ambil kertas dan mengguntingnya dengan pola telur, lalu menulis abjad A-Z dan menempelkannya pada rak telur. Setelah itu, saya membuat abjad lagi pada kertas memo berwarna dan berpola hati yang ditempelkan dengan lidi pada masing-masing huruf untuk ditancapkan pada rak telur yang khusus berhuruf vokal.

Hari pertama KBM di Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Rumah belajar Kampung Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Baiklah, rasanya seperti ini ya mengajar dengan beban terdapat anak yang belum bisa membaca ditambah lagi harus berkeliling kampung untuk mencari anak-anak supaya bisa belajar. Tetapi, akhirnya saya bisa melakukan hal ini dan saya rasa tidak terlalu buruk untuk percobaan pertama dalam hal mengajar. Saya pun semakin menikmati hal ini hari demi hari dan sepertinya saya mulai terbiasa dengan rutinitas itu.

Akhirnya, tantangan mengajar pun bisa saya lewati secara perlahan-lahan, walau bagi saya itu berat. Antusias dan semangat yang mereka miliki untuk belajar menjadi alasan saya bertahan. Wajah anak-anak yang sedang merajut asa dan senang belajar, walau harus dibatasi oleh keikutsertaan mereka ke kebun membantu orang tuanya, bahkan harus menimang adiknya. Mereka seolah tak punya waktu belajar di rumah, terlihat lebih sering menimang dibanding ditimang, tetapi itulah realita yang dihadapi tepat di depan saya. Saya pun sadar itulah peran kami di sini, di tempat dengan situasi seperti yang saya hadapi dan ternyata selama ini arti cukup itu terlalu sempit bagi saya. Ini merupakan petualangan bagi saya yang tak pernah saya jumpai sebelumnya.

Perjalanan mengajar memang penuh tantangan, tapi petualangan saya belum usai sampai di situ. Di bagian berikutnya, saya akan berbagi pengalaman lain yang tak kalah seru dan bermakna bersama warga kampung. Simak ceritanya di sini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya