Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Monitoring Terumbu Karang di KKPD Kawe, Selat Dampier, Teluk Mayalibit dan di Luar KKPD Raja Ampat

Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) Raja Am pat dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Raja Ampat No. 27 Tahun 2008 tentang Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabu paten Raja Am pat dan dijabarkan melalui Peraturan Bupati Raja Ampat No. 5 Tahun 2009 tentang Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Raja Ampat. Dalam peraturan 1n1 disebutkan kawasan konservasi tersebut meliputi Kepulauan Ayau-Asia, Kawe, Selat Dampier, Teluk Mayalibit, Kepulauan Kofiau-Boo dan Misool Timur Selatan.

Raja Am pat menjadi rumah bagi 69,21 % spesies karang dunia, dimana ditemukan 553 jenis karang (Veron et al., 2009) dan dua diantaranya merupakan jenis endemik Raja Ampat dari keluarga Acroporidae yaitu Montipora delacatula dan Montipora verruculosus (DeVantier et al., 2009). Sela in itu ditemukan setidaknya 41 jenis dari 90 genus karang lunak Alcyonacean dari 14 Fam iii (Donnelly et al., 2002). Di wilayah ini juga ditemukan 699 jenis moluska dan menjadi rumah bagi 5 jenis penyu (McKenna et al., 2002), setidaknya 1.505 jenis ikan karang (Allen dan Erdmann, 2012; update Erdmann, 2013) dan rumah bagi 15 jenis mamalia laut yang terdiri dari 14 jenis cetacean (13 jenis paus dan lumba-lumba) dan 1 jenis duyung (Dugong dugon) (Kahn, 2007). Salah satu pemicu keanekaragaman yang luar biasa ini adalah tingginya keragaman habitat mulai dari lamun, mangove, terumbu karang di perairan dangkal (termasuk terumbu karang tepi, penghalang, patch dan atoll) hingga celah dalam antar pulau-pulau kecil utama. Dengan tingkat keragaman hayati yang begitu tinggi, para ilmuwan menyebut Kepulauan Raja Ampat yang terletak di wilayah bentang laut kepala bu rung (Bird’s Head Seascape) ini sebagai jantung Segitiga Ka rang Dunia.

Monitoring Terumbu Karang di KKPD Kawe, Selat Dampier, Teluk Mayalibit  dan di Luar KKPD Raja Ampat

Foto : Tim BHS Monitoring Ekologi Unipa

Serangkaian kegiatan monitoring ekosistem terumbu karang telah dilaksanakan sejak tahun 2009 di Kabupaten Raja Ampat kemudian dilakukan setiap 2-4 tahun sekali. Monitoring ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengumpulkan data ilmiah dalam rangka mengevaluasi keberhasilan program pengelolaan Kawasan Konservasi perairan Daerah di Raja Ampat. Maret 2016, UNIPA melalui Divisi Center of Excellence (CoE) bekerjasama dengan beberapa Lembaga Sosial Masyarakat di wilayah bentang laut kepala burung (CI, TNC dan WWF-ID) melakukan monitoring bersama di beberapa Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKPD) Raja Ampat yang meliputi KKPD Kawe, Selat Dampier, Teluk Mayalibit dan di Luar KKPD Raja Ampat untuk mengetahui pola perubahan dari kondisi ekosistem terumbu karang di dalam dan di luar Kawasan Konservasi, potensi invertebrata ekonomis penting (biota sasi) dan kondisi oseanografi fisik perairan.

Selain itu, kegiatan ini juqa menjadi sarana peningkatan pengetahuan serta pemahaman bagi para pemangku kepentingan tentang kondisi lingkungan ekosistem terumbu karang dan pentingnya melaksanakan monitoring lingkungan secara berkala. Pada kesempatan ini, perwakilan dari beberapa intansi terkait meliputi UPTD BLUD Raja Ampat, KSDA Raja Am pat dan KKPN Raja Ampat terlibat dalam kegiatan monitoring ini. Metode pengambilan data menggunakan Reef Health Monitoring Protocol (Green and Wilson, 2009) dengan melakukan penyelaman di 93 titik pengamatan yang tersebar dalam wilayah KKPD Kawe, Selat Dampier, Teluk Mayalibit dan di Luar KKPD Raja Ampat. Beberapa kebutuhan data yang diamati meliputi substrat dasar terumbu karang, komunitas ikan karang, biota sasi dan data oseanografi serta deskripsi lingkungan.

Hasil kegiatan monitoring ini akan di disseminasikan melalui lokakarya ke seluruh stakeholders terkait. Disseminasi ini utamanya dilakukan ke pemerintah daerah melalui instansi terkait dan Lembaga Sosial Masyarakt (LSM) di bidang konservasi yang merupakan stakholders primer. Hal ini dilakukan untuk memberikan gambaran umum tentang status dan kondisi terkini potensi sumberdaya yang terdapat di wilayah bentang laut kepala burung. Selain sebagai sarana untuk berkoordinasi dengan instansi dan lembaga penyedia data dan informasi, wadah ini juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengevaluasi dan mensinergikan program-program yang akan dilaksanakan, utamanya kegiatan monitoring kondisi ekologi terumbu karang dan ekosistem lainnya serta kondisi sosial masyarakat di wilayah cakupan pengelolaan kawasan konservasi perairan bentang laut kepala burung.

64 tanggapan untuk “Monitoring Terumbu Karang di KKPD Kawe, Selat Dampier, Teluk Mayalibit dan di Luar KKPD Raja Ampat”

Komentar ditutup.