Kategori
Monitoring Sosial Training

Training Enumerator: Monitoring Sosial Masyarakat Di Selat Dampier

Universitas Papua (UNIPA) bekerja sama dengan RARE melakukan monitoring sosial masyarakat di Selat Dampier tahun 2 0 17. Kerjasama ini merupakan kerjasama yang pertama dilakukan. UNIPA sebagai penyelenggara kegiatan melakukan seleksi ca Ion enumerator. Dari 3 2 orang yang mendaftar dan mengikuti tes wawancara, dipilih 12 orang yang layak untuk mengikuti training. Training dilakukan pada tanggal 2- 7 Agustus 2017 pada hari kerja, berlangsung dari pukul 09.00-16.00 WIT di ruang rapat Divisi Pembangunan Berkelanjutan. Kegiatan ini dibuka oleh lbu Dr. Nurhaidah Sinaga selaku ketua LPPM. Calon enumerator yang mengikuti training terdiri dari mahasiswa dan alumni Universitas Papua. Beberapa materi training yang disampaikan antara lain pengenalan tentang survei dan kuisioner yang dijelaskan oleh ibu Dr. Fitryanti Pakiding dan Dahlia Manufandu, S.Si. Sementara untuk manajemen data dijelaskan oleh ibu Dariani Matualage, M.SiUniversitas Papua (UNIPA) bekerja sama dengan RARE melakukan monitoring sosial masyarakat di Selat Dampier tahun 2 0 17. Kerjasama ini merupakan kerjasama yang pertama dilakukan. UNIPA sebagai penyelenggara kegiatan melakukan seleksi ca Ion enumerator. Dari 32 orang yang mendaftar dan mengikuti tes wawancara, dipilih 12 orang yang layak untuk mengikuti training. Training dilakukan pada tanggal 2- 7 Agustus 2017 pada hari kerja, berlangsung dari pukul 09.00-16.00 WIT di ruang rapat Divisi Pembangunan Berkelanjutan. Kegiatan ini dibuka oleh lbu Dr. Nurhaidah Sinaga selaku ketua LPPM. Calon enumerator yang mengikuti training terdiri dari mahasiswa dan alumni Universitas Papua. Beberapa materi training yang disampaikan antara lain pengenalan tentang survei dan kuisioner yang dijelaskan oleh ibu Dr. Fitryanti Pakiding dan Dahlia Manufandu, S.Si. Sementara untuk manajemen data dijelaskan oleh ibu Dariani Matualage, M.Si.

IMG_20170807_123625

Foto : Tim BHS Monitoring Sosial Unipa

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah enumerator wajib memahami dan dapat menyampaikan dengan baik pertanyaan-pertanyaan yang terdapat pada kuisioner kepada responden. Dari 8 3 pertanyaan yang termuat pad a kuisioner, 11 diantaranya merupakan pertanyaan tambahan dari RARE. Dengan jumlah pertanyaan yang banyak, enumerator diharapkan dapat tetap fokus bukan hanya pada saat menyampaikan pertanyaan tetapi juga memahami jawaban yang disampaikan oleh responden. Sementara itu pada manajemen data, dua hal yang perlu diperhatikan adalah pada saat pembersihan dan input data. Pada tahap ini, jika terdapat data yang dianggap tidak jelas maka dapat dilakukan pemeriksaaan kembali.

Pada akhirnya empat orang terpilih yang akan turun ke lapangan melakukan survei. Pemilihan keempat orang tersebut berdasarkan penilaian yang dilakukan selama masa training. Tim akan dibagi menjadi dua kelompok dengan masing-masing kelompok mempunyai field coordinator. Kegiatan training yang dilakukan diharapkan dapat memberikan pembekalan pengetahuan maupun keterampilan yang cukup sehingga ketika melakukan survei di lapangan kesulitan ataupun kendala dapat diminimalkan. Survei akan dilakukan pada tanggal 15-25 Agustus 2017

(Oleh: Kezia Salosso)

Kategori
Hubungan Publik Pemerintah Daerah Kabupaten

Kunjungan Ke Pantai Peneluran Penyu Belimbing Dan Pertemuan Dengan Bupati Tambrauw

Kunjungan Ke Pantai Peneluran Penyu Belimbing Dan

Pertemuan Dengan Bupati Tambrauw

Pada pertengahan tahun 2017, tepatnya 14-19 Juli lalu, tim Abun melakukan kunjungan ke pantai peneluran Penyu Belimbing yang berlokasi di distrik Abun Kabupaten Tambrauw Provinsi Papua Barat. Kehadiran tim Abun menambah warna di Pantai Jamursba Medi yang telah diramaikan sebelumnya oleh tim pemantau penyu di lapang serta beberapa volunteer yang turut ambil bagian guna mengisi waktu luang mereka dengan menambah wawasan melalui pengetahuan tentang upaya perlindungan Penyu Belimbing yang didapati langsung di lapangan. Para volunteer ini bertugas membantu untuk mengambil data peneluran penyu belimbing di pos-pos yang telah ditentukan: pantai Jamursba Medi, Warmamedi dan Wembrak.

Sesekali kami mendengar obrolan para volunteer mengenai pengalaman mereka bertemu penyu belimbing diberbagai tempat namun tidak sebanyak di daerah Abun , “kalua di tempat kami penyu belimbing juga sering naik, hanya saja biasa masyarakat suka ambil telur dan dagingnya untuk dikonsumsi kemudian cangkang penyu dibuat menjadi kerajinan” papar salah satu volunteer. Hal ini terdengar ironi namun dapat menjadi kelegaan bahwa masih ada daerah yang aman untuk didatangi penyu belimbing yaitu Distrik Abun. Kegiatan yang mengajak volunteer untuk terjun langsung ke lokasi konservasi ini juga bertujuan untuk mengajak sebanyak mungkin orang terutama anak-anak Papua guna membantu upaya konservasi penyu belimbing.

Pada hari selanjutnya tim melanjutkan perjalanan ke Sausapor untuk bertemu langsung dengan Bupati Kabupaten Tambrauw sebagai upaya membangun kerjasama antara LPPM UNIPA, donator dan pemerintah daerah untuk Bersama-sama melakukan upaya konservasi di daerah Abun. Pertemuan tersebut berisikan tentang pemaparan program oleh Ibu Fitryanti Pakiding selaku Manajer Progam dan dilanjutkan oleh Mrs. Manjula sebagai penasehat teknis program. Bupati Tambrauw memberikan respon positif serta antusiasme dengan program-program yang ditawarkan dari LPPM UNIPA kepada pemerintah daerah Kabupaten Tambrauw  terkait peningkatan sumber daya manusia (SDM). PNS di Kabupaten Tambrauw-Distrik Abun serta rencana pembentukan BLUD di Kabupaten Tambrauw. Sebagai wujud keseriusannya, beliau juga memaparkan bahwa saat ini pemerintah sedang membangun saran transportasi darat hingga akses menuju kampung-kampung terutama kampung di daerah konservasi lebih mudah. “Jika akses transportasi darat sudah baik, maka kita dapat menjangkau masyarakat dengan mudah, program-program yang telah direncanakan pun akan dengan cepat dipublikasikan kepada masyarakat”, tegasnya

Kategori
Uncategorized @id

Cerita Lapang Kegiatan Survei Sosial Masyarakat di Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Cerita Lapang Kegiatan Survei Sosial Masyarakat di Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Tanggal

1 Juli 2017

Penulis

Joice Pangulimang

Daerah Perlindungan Laut atau Marine Protected Area (MPA) adalah salah satu bentuk pengelolaan sumberdaya laut yang bertujuan untuk pengelolaan perikanan dan konservasi sumberdaya hayati. Dengan adanya MPA, maka sumberdaya laut dapat terpelihara dengan baik. Namun bagaimana dengan kesejahteraan penduduk yang tinggal di wilayah tersebut? Apakah MPA memberikan dampak yang baik bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat yang bermukim di sekitar wilayah MPA? Untuk menjawab pertanyaan- pertanyaan tersebut maka Universitas Papua (UNIPA) bekerjasama dengan WWF US pada tahun 2010-2016, dan tahun 2017 UNIPA bekerjasama dengan yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI) dalam rangka melaksanakan monitoring mengenai dampak sosial keberadaan MPA.

Monitoring sosial dilakukan sejak tahun 2010 hingga tahun 2017 di 6 MPA yaitu MPA Teluk Mayalibit, Selat Dampier, Kaimana, Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Kofiau dan Misool. Kegiatan monitoring ini mencakup tingkat pendidikan, ekonomi, kesehatan, pemberdayaan politik dan budaya masyarakat daerah pesisir. Pada tahun 2017 kembali dilakukan monitoring sosial di MPA Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) yang merupakan kerjasama antara UNIPA dan KEHATI, mencakup kondisi pendidikan, ekonomi, kesehatan, pemberdayaan politik dan budaya.

Survei sosial ini berlangsung selama 16 November sampai 21 Desember 2017 yang diikuti oleh 10 orang tim UNIPA yang terdiri dari 2 orang koordinator lapang dan 8 orang enumerator. Koordinator lapang adalah staf dari UNIPA sedangkan enumerator terdiri dari 1 orang mahasiswa dan 7 orang alumni. Ke-10 orang tersebut terbagi menjadi 2 tim yang masing-masing tim terdiri dari 5 orang. Tim pertama melakukan kegiatan di Kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten Nabire tepatnya di kampung Saribi, Supmander, Masyara, Wansra, Rawar, Pakreki, Yembepon Yembeba, Napan Yaur, Goni, Bawei, Yeretuar, Napan, Weinami dan Masipawa sela- ma lebih dari 4 minggu. Sedangkan tim kedua melakukan survei di kampung Dusner, Sasirei, Nanimori, Ambumi, Torey, Rasiei, Syeiwar, Yomber, Nordiwar, Waprak/Saref, Yomakan, Senebuay, Yariari, Iseren, Weititindau, Yembekiri I dan Yembekiri II.

Wawancara Oleh Tim BHS

Foto : Tim BHS Monitoring Sosial Unipa

Metode yang digunakan dalam survei ini adalah pendataan rumah tangga, sampling dan wawancara terhadap rumah tangga yang terpilih dalam sampling.

Dari pengamatan langsung di lapangan, gambaran sederhana yang dapat disampaikan adalah sebagaian besar masyarakat memilih melaut sebagai sumber pendapatan keluarga. Hal tersebut didukung oleh sumberdaya laut yang ada di sekitar tempat tinggal mereka. Sedangkan sebagian masyarakat lainnya memilih bertani/berkebun, buruh bangunan, pegawai negeri sipil dan pekerjaan lain yang menghasilkan upah.

Dari segi pendidikan, semua kampung sudah memiliki sekolah meskipun tenaga guru sangat terbatas atau kurang dari standar. Demikian halnya dengan pustu yang disediakan oleh pemerintah. Dengan kata lain, sudah tersedia pustu di setiap kampung dan puskesmas di setiap kecamatan tetapi masih terdapat sebagian pustu yang tidak memiliki tenaga medis dan puskesmas yang tidak memiliki dokter serta keterbatasan persediaan obat-obatan. Hal ini membuat masyarakat cukup kesulitan, terutama mereka yang tinggal di kampung Goni, Napan Yaur dan Bawei karena akses ke Kota Nabire sangat terbatas sehingga mereka tidak bisa mendapatkan perawatan dan pengobatan yang lebih baik.

Pengetahuan masyarakat tentang lingkungan pada setiap kampung survei, dapat dikategorikan cukup baik. Terbukti dari pernyataan mereka yang menyatakan tentang hal apa saja yang dapat merusak laut dan bagaimana cara untuk menjaga laut sehingga tidak rusak.

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Cerita Lapang : Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pada Kampung-Kampung Pembelajaran UNIPA di Distrik Abun

Cerita Lapang : Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pada Kampung-

Kampung Pembelajaran UNIPA di Distrik Abun

Pada akhir Juni 2017, UNIPA kembali mengirim 28 mahasiswa yang akan melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di distrik Abun, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Sejak tahun 2013, UNIPA melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) telah rutin mengirim mahasiswa KKN di tiga kampung pada distrik ini setiap tahunnya. Kegiatan KKN secara umum merupakan mata kuliah wajib bagi setiap mahasiswa UNIPA dengan bobot mata kuliah 4 SKS. 28 mahasiswa disebar pada 4 kampung di distrik Abun yaitu kampung Waibem, Wau-Weyaf, Warmadi, dan Saubeba-Womom. Setiap kelompok terdiri dari 7 mahasiswa KKN dan 1 dosen pendamping lapang. Tim berangkat pada 22 Juni dan memulai aktivitas di setiap kampungnya. Kampung-kampung yang terletak di distrik Abun telah menjadi kampung pembelajarn dalam upaya konservasi terhadap penyu yang terbesar di dunia, yaitu penyu belimbing. Kampung-kampung ini mengapit 2 pantai utama peneluran penyu belimbing pasifik, pantai Jamursba Medi dan pantai Wermon. Kedua pantai ini merupakan pantai dengan aktivitas peneluran terbesar yang masih tersisa di pasifik, sekitar 75% aktivitas peneluran ada di kedua pantai ini. Para mahasiswa KKN melaksanakan program-program yang telah terlebih dahulu direncanakan yaitu: bidang pendidikan, pengolahan, pertanian, perikanan, agama, administrasi dan umum, serta lingkungan. Kemudian program yang telah disusun didiskusikan dengan masyarakat di lokasi KKN untuk disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Kegiatan KKN berlangsung kurang lebih 60 hari (2 bulan), selama rentang waktu ini para mahasiswa KKN diharapkan dapat menyelesaikan semua program yang telah disepakati dengan masyarakat pada setiap lokasi KKN. Distrik Abun dapat dijangkau dengan 2 moda transportasi yaitu melalui darat dan melalui laut. Perjalanan darat ditempuh dengan mobil selama kurang lebih 6 jam (untuk tiba di ibukota distrik, merupakan kampung terdekat dari Manokwari), sedangkan untuk mencapai kampung Saubeba-Womom (kampung terjauh dari Manokwari) harus meneruskan perjalanan dengan menggunakan perahu milik masyarakat sekitar 2 jam perjalanan. Untuk moda transportasi laut, dapat ditempuh dengan menggunakan kapal perintis. Lama hari perjalanan yang dibutuhkan untuk tiba di kampung Saubeba selama 2 malam 3 hari. Secara ekonomi, moda transportasi melalui laut lebih murah yaitu Rp.50.000 perorang hingga tiba di Kampung Saubeba. Untuk moda transportasi darat, penumpang harus merogok kantong hingga Rp,300.000/orang hanya untuk dapat tiba di ibukota distrik. Keberadaan mahasiswa KKN mendapat sambutan hangat dari pada masyarakat di setiap kampung. Masyarakat merasa terbantu dengan kehadiran para mahasiswa ini, terutama dalam hal pendidikan. Para mahasiswa KKN membantu mengajar aak-anak SD di sekolah dan juga memberikan pelajaran tambahan pada sore hari. Selain pendidikan, para mahasiswa juga membantu pembuatan administrasi kampung, seperti papan ucapan selamat datang dan papan batas kampung. “Kami berharap bahwa tahun depan, ada anak-anak yang bisa datang lagi di kampung kami, seperti ini” ujar salah satu kepala kampung pada acara penutupan kegiatan KKN.

Kategori
Monitoring Ekologi EKKP3K Monitoring Sosial EKKP3K

Lokakarya Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan di Bentang Laut Kepala Burung Papua

Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) diidentifikasi sebagai kawasan yang memiliki keanekaragamanhayati laut yang sangat tinggi dan menjadi prioritas pengembangan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) di Indonesia dan dunia. Saat ini BLKB telah memiliki lebih dari 12 KKP dengan total luas lebih dari 3,5 juta hektar.

Pembentukan KKP bertujuan untuk melindungi kelestarian keanekaragaman hayati sehingga memberikan manfaat secara berkelanjutan bagi masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan suatu penilaian terhadap keefektifan pengelolaan kawasan konservasi yang dilakukan secara terus-menerus. Khusus untuk penilaian efektifitas pengelolaan KKP, Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (KKHL) Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mengembangkan perangkat yang disebut Pedoman Teknis EvaluasiEfektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (EKKP3K) yang telah resmi digunakan dengan SK Dirjen KP3K No. 44/2012.

foto bersama

Foto : Tim BHS Monitoring Sosial Unipa

Selama ini pengelolaKKP di BLKB cukup beragam, Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) dikelola oleh Balai Besar Taman Nasional di bawah Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, kawasan Perairan Nasional Raja Am pat dikelola oleh Satuan Kerja di bawah KementerianKelautan dan Perikanan, Jejaring Taman PulauKecilRaja Ampat dikelola olehUnit Pelaksana Teknis Dinas di bawah Dinas Kelautan dan Perikanan KabupatenRajaAmpat, sedangkan KKP di Kabupaten Kaimana dan Tambrauw dikelola oleh masing-masing pemerintah kabupaten. Dengan ditetapkannya UU No 23 Tahun 2014, kewenangan pengelolaan wilayah laut selanjutnya akan berpindah ke tingkat provinsi Papua Barat.

Sepertipada tahun-tahunsebelumnya,di Tahun 2017 ini,Direktorat KKHL Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Dinas Kelautan dan perikananProvinsi Papua Barat, Universitas Papua, The Nature Conservancy, ConservationI nternational dan WWF Indonesia menyelenggarakan Lokakarya.

Penilaian EKKP3K dengan tujuan untuk melakukan evaluasi pengelolaanKKP di seluruh BLKB Papua. Kegiatanyang dilaksanakandi UniversitasPapua pada Tanggal 2 hingga 4 Mei 2017 ini diikuti oleh 32 peserta dengan 3 narasumber, yaitu Ervien Juliyanto, S.Pi (Staf Direktorat KKHL Kementerian Kelautan dan Perikanan RI), Sutraman dan Dheny Setyawan (TNC Program Kelautan Indonesia) dengan luaran lokakarya adalah dokumen status pengelolaan masing-masing kawasan konservasi perairan di BLKB Tahun 2017 dan rekomendasi keberlanjutan pengelolaan KKP di BLKB .

Hasil penilaian peringkat efektivitas pengelolaan masing-masing KKP di BLKB menunjukkan bahwa terjadi peningkatan peringkat di hampir semua KKP, kecuali KKPD Raja Ampat yang masih sama dengan penilaian pada Tahun 2016. Status pengelolaan yang sudah mapan dan tidak terlalu mengalami peningkatan yang signifikan adalah KKP Raja Ampat dan TNTC. Kedua KKP ini telah masuk ke level “KKP dikeIola optimum”. Pada lokakarya tahun ini juga dilakukan penilaian terhadap KKP Kepulauan Fam yang masih dalam tahap inisiasi pembentukan. Rekomendasi yang dihasilkan, yaitu beberapa langkah teknis yang perlu dilakukan oleh masing-masing KKP untuk menaikan peringkat pengelolaan pada tahun berikutnya,hal-halpenting yang diperlukan selama proses penyerahan personel, pembiayaan dan perlengkapan (P3D) dari kabupaten ke provinsi, serta perlu diperhatikan acuan UU No 23 dalam proses pencadangan KKP yang belum ditetapkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI.

Lokakaryaini juga diselingi dengan presentasi dan update survei dan rencana pengelolaan danau air asin di Raja Ampat serta presentasi dan sosialisasi tentang Fakultas Perikanan dan llmu  Kelautan UNIPA.

(Oleh: Purwanto, Awaludinnoer, Nur Ismu Hidayat, Dheny Setyawan, Sutraman, Rahel Randa dan Dariani Matualage)

Kategori
Monitoring Ekologi Diseminasi

Diseminasi Hasil Survei Sosial dan Ekologi di Wilayah TNTC kepada Balai Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) dengan luas sebesar 1.4 juta hektar menjadi tempat bagi lebih dari 500 spesies karang dan 950 spesies ikan karang, yang diantaranya merupakan spesies endemik. Kondisi bentik di TNTC relatif baik dengan tutupan karang keras yang cukup tinggi. Rata-rata tutupan karang keras di TNTC lebih tinggi dari pada tutupan karang keras di BLKB, meskipun pecahan karang di TNTC tetap tinggi. Karang merupakan tempat yang ideal bagi beberapa jenis ikan diantaranya ikan kerapu, kakap dan kompele yang termasuk dalam kelompok ikan karnivor (ikan yang memakan ikan), sedangkan jenis ikan yang termasuk dalam kelompok herbivor (ikan pemakan alga) adalah ikan botana, kakatua dan baronang.

IMG20170406103414

Foto : Tim BHS Monitoring Sosial Unipa

Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNT() dengan lluas sebesar 1.4 juta hektar menjadi tempat bagi lebih dari 500 spesies karang dan 950 spesies ikan karang, yang diantaranya merupakan spesies endemik. Kondisi bentik di TNTC relatif baik dengan tutupan karang keras yang cukup tinggi. Rata-rata tutupan karang keras di TNTC lebih tinggi dari pada tutupan karang keras di BLKB, meskipun pecahan karang di TNTC tetap tinggi. Karang merupakan tempat yang ideal bagi beberapa jenis ikan diantaranya ikan kerapu, kakap dan kompele yang termasuk dalam kelompok ikan karnivor (ikan yang memakan ikan), sedangkan jenis ikan yang termasuk dalam kelompok herbivor (ikan pemakan alga) adalah ikan botana, kakatua dan baronang. Biomass ikan di TNTC cukup bervariasi, yaitu biomass ikan botana dan kakatua meningkat pada tahun 2016 juga ikan kakap yang cenderung ada kenaikan meskipun tetap stabil, sedangkan biomass ikan kerapu dan kompele menurun sejak tahun 2011.

Dari hasil diskusi, dapat dikatakan bahwa penurunan biomass ikan kerapu disebabkan oleh tingginya kegiatan penangkapan ikan sehingga mengakibatkan ukuran ikan juga menurun atau ukuran ikan menjadi lebih kecil.

Ukuran ikan yang lebih kecil, mengakibatkan tidak terjadinya pemijahan ikan sehingga biomass ikan tidak bertambah. Kegiatan monitoring di wilayah TNTC tidak hanya terfokus pada aspek ekologi tetapi juga mencakup aspek sosial ekonomi atau kesejahteraan sosial. lndikator yang digunakan untuk mengukur kesejahteraan sosial adalah ekonomi, kesehatan, pemberdayaan politik, pendidikan dan budaya. Secara umum bidang ekonomi, kesehatan dan pendidikan mengalami peningkatan sedangkan pemberdayaan politik dan budaya megalami penurunan. Penurunan nilai budaya menunjukkan berkurangnya keterikatan emosi masyarakat terhadap lingkungan perairan laut sehingga berdampak juga bagi ekologi. Diseminasi yang dilakukan di Balai Taman Nasional Teluk Cenderawaih menghasilkan rekomendasi rekomendasi bagi pihak terkait

Kategori
Monitoring Sosial Diseminasi

Diseminasi Hasil Survei Sosial Masyarakat dan Ekologi di Wilayah Taman Nasional Teluk Cenderawasih kepada Balai Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Kawasan Konservasi Perairan (KKP) di wilayah Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) Papua, dalam pengelolaannya tidak hanya ditujukkan bagi pelestarian sumber daya perairan tetapi juga untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang hidup bergantung pada sumber daya perairan di sekitarnya. Oleh karena itu, Universitas Papua (UNIPA) bekerjasama dengan WWF US dan Indonesia, Conservation International (Cl) dan The Nature Conservancy (TNC) melakukan survei sosial dan ekologi di Teluk Mayalibit, Kofiau, Ayau, Kawe, Misool, Dampier dan Kaimana. Hasil survei tersebut didiseminasikan ke berbagai pihak, dimana salah satunya kepada Balai Taman Nasional Teluk Cenderawasih pada Kam is, 6 April 2017. Diseminasi hasil survei dimulai dengan pemaparan hasil survei oleh team UNIPA dan dilanjutkan dengan diskusi. Kegiatan ini diikuti oleh 14 orang dan berlangsung sekitar dua jam.

IMG20170406103414

Foto : Tim BHS Monitoring Sosial Unipa

Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) dengan luas sebesar 1.4 juta hektar menjadi tempat bagi lebih dari 500 spesies karang dan 950 spesies ikan karang, yang diantaranya merupakan spesies endemik. Kondisi bentik di TNTC relatif baik dengan tutupan karang keras yang cukup tinggi. Rata-rata tutupan karang keras di TNTC lebih tinggi dari pada tutupan karang keras di BLKB, meskipun pecahan karang di TNTC tetap tinggi. Karang merupakan tempat yang ideal bagi beberapa jenis ikan diantaranya ikan kerapu, kakap dan kompele yang termasuk dalam kelompok ikan karnivor (ikan yang memakan ikan), sedangkan jenis ikan yang termasuk dalam kelompok herbivor (ikan pemakan alga) adalah ikan botana, kakatua dan baronang.

Biomass ikan di TNTC cukup bervariasi, yaitu biomass ikan botana dan kakatua meningkat pada tahun 2016 juga ikan kakap yang cenderung ada kenaikan meskipun tetap stabil, sedangkan biomass ikan kerapu dan kompele menu run sejak tahun 2011. Dari hasil diskusi, dapat dikatakan bahwa penurunan biomass ikan kerapu disebabkan oleh tingginya kegiatan penangkapan ikan sehingga mengakibatkan ukuran ikan juga menurun atau ukuran ikan menjadi lebih kecil. Ukuran ikan yang lebih kecil, mengakibatkan tidak terjadinya pemijahan ikan sehingga biomass ikan tidak bertambah.

Kegiatan monitoring di wilayah TNTC tidak hanya terfokus pada aspek ekologi tetapi juga mencakup aspek sosial masyarakat atau kesejahteraan sosial. lndikator yang digunakan untuk mengukur kesejahteraan sosial adalah ekonomi, kesehatan, pemberdayaan politik, pendidikan dan budaya. Secara umum bidang ekonomi, kesehatan dan pendidikan mengalami peningkatan sedangkan pemberdayaan politik dan budaya mengalami penurunan. Penurunan nilai budaya menunjukkan berkurangnya keterikatan emosi masyarakat terhadap lingkungan perairan laut sehingga berdampak juga bagi ekologi.

(Oleh: Joice Pangulimang)

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Penguatan Kapasitas Tenaga Pendamping Lapang untuk Kampung Binaan UNIPA di Distrik Abun

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat melalui Divisi Center of Excellence (CoE) untuk Pembangunan Berkelanjutan kembali mengadakan pelatihan yang dikhususkan bagi tenaga pendamping masyarakat distrik Abun. Pelatihan ini memberi penguatan kapasitas bagi para tenaga pendamping yang nantinya bertugas meningkatkan kapasitas masyarakat di tiga kampung binaan UNIPA. Kegiatan pelatihan yang dibuka oleh Dr. Fitryanti Pakiding sebagai Ketua Divisi CoE diadakan sejak 30 Januari 2017 di ruang rapat divisi CoE. Materi-materi pelatihan yang diberikan secara garis besar dibagi atas tiga bagian. Bagian pertama, terkait pemahaman pendamping dalam menjalankan tugasnya meliputi materi program kerja, wilayah kerja, dan tugas pokok pendamping, materi teknik komunikasi dan negosiasi, dan materi teknik penulisan jurnal dan laporan keuangan.

unnamed

Foto : Tim Abun Pemberdayaan

unnamed1

Foto : Tim Abun Pemberdayaan

20170202_172706

Foto : Tim Abun Pemberdayaan

Bagian kedua, terkait pendidikan bagi anak-anak diantaranya; materi pendidikan lingkungan hidup dan kemah sahabat penyu, pengelolaan rumah belajar, teori dan praktik cara membaca dan menulis, teori dan praktik cara mengajar berhitung. Bagian yang ketiga berhubungan dengan pengolahan hasil pertanian yang mendatangkan pendapatan tambahan bagi masyarakat diantaranya materi budidaya sayuran menggunakan teknik hidroponikdan teknik vertikultur, praktik pengolaham pisang menjadi keripik dan sale, dan praktik pembuatan minyak kelapa. Materi yang diberikan dirancang dengan memberikan praktek agar para peserta lebih paham dalam pelaksanaan di lapangan nantinya. Materi pengolahan dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Teknologi Pertanian, hal ini dimaksudkan agar teori pengolahan yang diberikan dapat langsung dipraktekkan terutama terkait dengan mutu hasil olahan. Pelatihan periode diikuti delapan orang calon pendamping. Namun satu diantaranya mengundurkan diri dari kegiatan. Para pendamping masyarakat direncanakan bertugas mendampingi masyarakat di distrik Abun selama kurang lebih empat bulan. Kegiatan pelatihan ini ditutup secara resmi oleh Sekretaris LPPM UNIPA yaitu Lukas Y. Sonbait, S.Pt, M.Sc berpesan pada peserta yang lulus, yang akan tinggal dan bekerja dengan masyarakat Abun, agar selalu menjaga nama baik UNIPA, bekerjasama dalam tim, menjaga kesehatan, serta menjalankan tanggungjawabnya dengan baik dan benar.

Kategori
Monitoring Ekologi Diseminasi

Penyusunan Laporan Hasil Survei Ekologi pada Kawasan Konservasi Laut yang berada di Papua

Penyusunan Laporan Hasil Survei Ekologi pada Kawasan

Konservasi Laut yang berada di Papua

Pada tanggal 18-21 Januari 2017 UNIPA bersama Cl, TNC dan UNIPA melakukan pertemuan dalam rangka penyusunan laporan hasil survei ekologi. Wilayah survei mencakup Teluk Mayalibit, Kofiau, Ayau, Kawe, Misool, Dampier dan Raja Ampat. Penyusunan laporan dimulai dengan pemeriksaan data hasil survei, analisis data dan representasi hasil analisis. Aplikasi yang digunakan untuk analisis data adalah Excel dan Sigma P/ot.

Potensi sumberdaya hayati yang tak ternilai harganya dari segi ekonomi atau ekologinya adalah sumberdaya ikan dan terumbu karang. Apa bila sumberdaya terumbu karang ini dikaitakan dengan pengembangan wisata bahari mempunyai kontribusi yang sangat besar. Karena keberadaan terumbu karang tersebut sangat penting dalam pengembangan berbagai sektor termasuk sektor pariwisata. UNIPA bekerja sama dengan Cl dan TNC melakukan survei ekologi ikan dan terumbu karang kemudian disusun dalam bentuk laporan yang diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat luas.

lkan karang memerlukan makanan untuk dapat bertahan hidup, dan apa yang dimakan oleh ikan karang merupakan informasi yang penting dalam mempelajari ekologi ikan yang hidup di terumbu karang. Perilaku makan ikan karang akan memberi pengaruh terhadap keseluruhan ekosistem terumbu karang dan juga sebaliknya. Jenis ikan karang yang disurvei adalah ikan herbivora dan karnivora. Jenis ikan karnivora di daerah terumbu karang lebih umum banyak ditemukan dibandingkan dengan jenis ikan herbivora. lkan karnivora mempunyai peranan penting dalam siklus energi dimana hal tersebut terkait dengan struktur fisik terumbu dan pola makan ikan. lkan herbivora merupakan penghubung antara produsen ke konsumen tingkat 2 (karnivora). Sela in itu ikan herbivora juga mempengaruhi penyebaran, ukuran, komposisi dan bahkan pertumbuhan dari tumbuhan di terumbu karang.

Banyak hal yang perlu dikaji dari ekosistem laut khususnya ikan dan terumbu karang. Penangkapan ikan berlebih adalah salah satu bentuk eksploitasi berlebihan terhadap populasi ikan hingga mencapai tingkat yang membahayakan. Hilangnya sumber daya alam, laju pertumbuhan populasi yang lambat, dan tingkat biomassa yang rendah merupakan hasil dari penangkapan ikan berlebih. Sementara itu beberapa faktor yang mempengaruhi kerusakan terumbu karang antara lain kondisi perairan yang tidak mendukung, pembuangan jangkar di atas karang, dan penggunaan a lat tangkap yang dapat merusak karang. Mengingat akan pentingnya kelangsungan ekosistem ikan dan terumbu karang maka UNIPA beserta CI dan TNC melakukan survei guna dapat memberikan informasi kepada masyarakat. Hasil laporan memuat informasi mengenai perubahan biomass ikan dan terumbu karang dari tahun ke tahun (2010-2016), serta apakah ada perbedaan biomass ikan dan terumbu karang antara Zona Perlindungan Bahari (NTZ) dan Zona Pemanfaatan (Use), serta bagaimana perubahan biomass dan terumbu karang berdasarkan faktor interaksi tahun dan zona.

Dari hasil laporan yang diperoleh diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup kepada masyarakat yang berkaitan dengan ekologi.

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Pengabdian Pada Masyarakat di Kepala Burung Papua

Universitas Papua (UNIPA) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Divisi CoE selama ini telah terlibat dalam dharma pengabdian masyarakat di kampung-kampung yang masyarakat hidup terisolir namun memiliki peran strategis dalam upaya konservasi sumberdaya alam hayatinya. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut hasil survei Sosial Ekonomi yang dilakukan pada tahun 2010 lalu di distrik Abun. Antusiasme masyarakat dan dampak positif kegiatan pengabdian ini kemudian berlanjut dengan program pendampingan kepada masyarakat dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) oleh mahasiswa tingkat akhir yang sudah berlangsung selama 3 tahun terakhir ini. Pada tahun 2016 ini kegiatan KKN kembali dilaksanakan berdasarkan usulan masyarakat dan dilakukan di dua desa yaitu desa Wau-Weyaf dan desa Saubeba. Antara tanggal 30 Juni sampai dengan tanggal 16 Agustus 2016, dua kelompok mahasiswa masing-masing telah diterjunkan di kedua desa yang berada di distrik Abun, Kabupaten Tambrauw. Kegiatan difokuskan pada 11 (sebelas) bidang kegiatan yang direncanakan bersama masyarakat. Bidang Pertanian, Pengolahan hasil pertanian, Pendidikan, Lingkungan Hidup dan Kesehatan serta Konservasi Penyu Belimbing menjadi program prioritas sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Pada akhir kegiatan KKN, sebelum kembali ke kampung, mahasiswa melakukan penyampaian hasil kegiatan kepada masyarakat untuk mendapatkan tanggapan terhadap kegiatan dan berkelanjutan di waktu mendatang.

Tim Abun Pemberdayaan

Foto : Tim Abun Pemberdayaan

Pendidikan (2)

Foto : Tim Abun Pemberdayaan

Pendidikan (3)

Foto : Tim Abun Pemberdayaan

Tanggapan positif masyarakat terhadap program KKN masih perlu ditindak  lanjuti dengan kegiatan yang sama di tahun mendatang dengan penekanan pada peningkatan partisipasi masyarakat, ketersediaan sarana transportasi, komunikasi yang memadai serta peningkatan kerja sama dengan pemerintah daerah untuk pemberdayaan masyarakat sekaligus penyelenggaraan program konservasi sumberdaya alam di wilayah KKN. Ekspos terhadap kegiatan KKN ini telah dilakukan melalui presentasi makalah yang berjudul “PENGABDIAN PADA MASYARAKAT DI PESISIR KEPALA BURUNG: PEMBELAJARAN DARI KAMPUNG SAUBEBA DI TAMBRAUW, PROVINSI PAPUA BARAT” pada kegiatan Seminar Lohan Basah 2016, yang diselenggarakan oleh Universitas Lambung Mangkurat di Banjarmasin pada tanggal 5 November 2016. Sementara itu naskah tulisan berjudul “Rumah Sehat, Rumah Belajar: suatu model pendekatan konservasi sumberdaya alam di Kampung Wau-Weyaf, Abun” sedang dipersiapkan untuk dipublikasi dalam Warta Konservasi Lohan Basah edisi Januari 2017 mendatang.