[vc_row css_animation=”” row_type=”row” use_row_as_full_screen_section=”no” type=”full_width” angled_section=”no” text_align=”left” background_image_as_pattern=”without_pattern” css=”.vc_custom_1634610281375{padding-right: 85px !important;padding-left: 85px !important;}” z_index=””][vc_column][vc_row_inner row_type=”row” use_as_box=”use_row_as_box” type=”full_width” text_align=”left” css_animation=”” css=”.vc_custom_1634610295996{padding-top: 20px !important;}”][vc_column_inner][vc_column_text]
Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) dengan luas sebesar 1.4 juta hektar menjadi tempat bagi lebih dari 500 spesies karang dan 950 spesies ikan karang, yang diantaranya merupakan spesies endemik. Kondisi bentik di TNTC relatif baik dengan tutupan karang keras yang cukup tinggi. Rata-rata tutupan karang keras di TNTC lebih tinggi dari pada tutupan karang keras di BLKB, meskipun pecahan karang di TNTC tetap tinggi. Karang merupakan tempat yang ideal bagi beberapa jenis ikan diantaranya ikan kerapu, kakap dan kompele yang termasuk dalam kelompok ikan karnivor (ikan yang memakan ikan), sedangkan jenis ikan yang termasuk dalam kelompok herbivor (ikan pemakan alga) adalah ikan botana, kakatua dan baronang.
[/vc_column_text][vc_column_text css=”.vc_custom_1561462871854{border-top-width: 0px !important;padding-top: 0px !important;}”][/vc_column_text][/vc_column_inner][/vc_row_inner][vc_row_inner row_type=”row” type=”full_width” text_align=”left” css_animation=”” css=”.vc_custom_1634610304034{padding-top: 20px !important;}”][vc_column_inner width=”1/2″][vc_single_image image=”1340″ img_size=”500 x300″ alignment=”center” qode_css_animation=””][vc_column_text]
Foto : Tim BHS Monitoring Sosial Unipa
[/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner width=”1/2″][vc_column_text]
Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNT() dengan lluas sebesar 1.4 juta hektar menjadi tempat bagi lebih dari 500 spesies karang dan 950 spesies ikan karang, yang diantaranya merupakan spesies endemik. Kondisi bentik di TNTC relatif baik dengan tutupan karang keras yang cukup tinggi. Rata-rata tutupan karang keras di TNTC lebih tinggi dari pada tutupan karang keras di BLKB, meskipun pecahan karang di TNTC tetap tinggi. Karang merupakan tempat yang ideal bagi beberapa jenis ikan diantaranya ikan kerapu, kakap dan kompele yang termasuk dalam kelompok ikan karnivor (ikan yang memakan ikan), sedangkan jenis ikan yang termasuk dalam kelompok herbivor (ikan pemakan alga) adalah ikan botana, kakatua dan baronang. Biomass ikan di TNTC cukup bervariasi, yaitu biomass ikan botana dan kakatua meningkat pada tahun 2016 juga ikan kakap yang cenderung ada kenaikan meskipun tetap stabil, sedangkan biomass ikan kerapu dan kompele menurun sejak tahun 2011.
[/vc_column_text][/vc_column_inner][/vc_row_inner][vc_column_text css=”.vc_custom_1638156828074{padding-top: 20px !important;}”]
Dari hasil diskusi, dapat dikatakan bahwa penurunan biomass ikan kerapu disebabkan oleh tingginya kegiatan penangkapan ikan sehingga mengakibatkan ukuran ikan juga menurun atau ukuran ikan menjadi lebih kecil.
[/vc_column_text][vc_column_text css=”.vc_custom_1638156722021{padding-top: 20px !important;}”]
Ukuran ikan yang lebih kecil, mengakibatkan tidak terjadinya pemijahan ikan sehingga biomass ikan tidak bertambah. Kegiatan monitoring di wilayah TNTC tidak hanya terfokus pada aspek ekologi tetapi juga mencakup aspek sosial ekonomi atau kesejahteraan sosial. lndikator yang digunakan untuk mengukur kesejahteraan sosial adalah ekonomi, kesehatan, pemberdayaan politik, pendidikan dan budaya. Secara umum bidang ekonomi, kesehatan dan pendidikan mengalami peningkatan sedangkan pemberdayaan politik dan budaya megalami penurunan. Penurunan nilai budaya menunjukkan berkurangnya keterikatan emosi masyarakat terhadap lingkungan perairan laut sehingga berdampak juga bagi ekologi. Diseminasi yang dilakukan di Balai Taman Nasional Teluk Cenderawaih menghasilkan rekomendasi rekomendasi bagi pihak terkait
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row css_animation=”” row_type=”row” use_row_as_full_screen_section=”no” type=”full_width” angled_section=”no” text_align=”left” background_image_as_pattern=”without_pattern” css=”.vc_custom_1638156051876{padding-right: 85px !important;padding-left: 85px !important;}” z_index=””][vc_column][vc_row_inner row_type=”row” type=”full_width” text_align=”left” css_animation=”” css=”.vc_custom_1638156070841{padding-top: 20px !important;padding-bottom: 20px !important;}”][vc_column_inner width=”1/4″][vc_column_text]
Berita Lainnya
[/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner width=”3/4″][vc_separator type=”normal” color=”#000000″ thickness=”1″][/vc_column_inner][/vc_row_inner][vc_row_inner row_type=”row” type=”full_width” text_align=”left” css_animation=””][vc_column_inner width=”1/3″][vc_single_image image=”3978″ img_size=”500×210″ qode_css_animation=””][vc_empty_space height=”5px”][vc_column_text]
Penyusunan Laporan Hasil Survei Ekologi pada Kawasan Konservasi Laut yang berada di Papua
[/vc_column_text][vc_empty_space height=”20px”][vc_empty_space height=”20px”][vc_empty_space height=”5px”][vc_column_text]
– Juli 1, 2019
[/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner width=”1/3″][vc_single_image image=”2717″ img_size=”500×290″ qode_css_animation=””][vc_empty_space height=”5px”][vc_column_text]
[/vc_column_text][vc_column_text]
Irman Rumegan – Juli 20, 2020
[/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner width=”1/3″][vc_single_image image=”2709″ img_size=”500×290″ qode_css_animation=””][vc_empty_space height=”5px”][vc_column_text]
Diseminasi Hasil Survei Sosial Ekonomi dan Ekologi di Kabupaten Nabire
[/vc_column_text][vc_empty_space height=”20px”][vc_empty_space height=”20px”][vc_empty_space height=”5px”][vc_column_text]
Maya Paembonan – Juli 20, 2020
[/vc_column_text][/vc_column_inner][/vc_row_inner][/vc_column][/vc_row]
