Kategori
Monitoring Ekologi Training

Kegiatan Lokakarya Database Monitoring di Manokwari

Dominic Andradi-Brown, PhD atau yang biasa dipanggil Dom adalah staf yang baru bergabung dengan Ocean Team WWF US sebagai Marine Sci- ence Fellow. Selama ini WWF US adalah salah satu pendukung teknis kegiatan monitoring ekologi dan sosial ekonomi di kawasan konservasi perairan di Bentang Laut Kepala Burung, Papua (BLKB) bersa- ma lembaga lain seperti The Nature Conservancy dan Conservation International. Tim monitoring BLKB mendapat kunjungan dari Dom sehingga diselenggarakan  lokakarya  dan  diskusi mengenai database monitoring dari tanggal 16 – 20 Oktober 2017 di Ruang Rapat Divisi Pembangunan Berkelanjutan, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Papua. Lokakarya ini bertujuan untuk memperkenalkan kegiatan monitoring di BLKB kepada Dom, mulai dari persiapan tim, pengambilan data di lapangan, entri data ke dalam format database, analisa data dan penyusunan laporan. Setelah mengetahui gambaran umum dan melihat database monitoring, Dom berpendapat kegiatan monitoring sudah ber- jalan baik dan sistematis sehingga tidak ada yang perlu diubah.

Entri data dari tim lapangan ke dalam format Microsoft Excel kemudian dipindahkan dalam format Microsoft Access oleh tim database juga sudah cukup baik. Saran dari Dom adalah metode analisa dengan menggunakan ‘R’ software yang relatif lebih mudah dan fleksibel dalam membuat grafik untuk publikasi ilmiah. Dom juga memberikan presentasi tentang dasar-dasar statistic yang sangat membantu tim   monitoring BLKB dalam analisa dan interpretasi hasil monitoring. Sebagai peneliti populasi ikan di ekosistem terum- bu karang di zona mesopothic atau zona dibawah laut dengan kedalaman 30 – 150 meter.

IMG_20171017_122203

Foto : Tim BHS Monitoring Ekologi Unipa

Dom juga mempresentasikan salah satu penelitiannya tentang ‘populasi ikan lepu atau lion fish sebagai spesies invasive yang berlimpah di zona mesophotic di Perairan Karibia”. Presentasi dikemas dalam agenda ‘Noken Ilmu’ atau belajar bersama yang sangat menarik.  Tidak hanya internal tim monitoring yang hadir, tetapi banyak ma- hasiswa dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), bahkan Prof. Dr. Roni Bawole dosen senior dan Ibu Dr. Mudji Rahayu dekan FPIK pun hadir dan serius mengikuti presentasi ini. Selama ini di BLKB dan di Indonesia pada umumnya, penelitian atau monitoring ekosistem terumbu karang dan ikan lebih banyak dilakukan di permukaan laut hingga kedalaman 20 atau 30 meter saja. Sehingga ekosistem terumbu karang di zona mesophotic di BLKB dan di Indonesia merupakan zona yang menarik dan perlu dikaji lebih lanjut.

Sebagai ahli yang sangat produktif dalam publikasi paper dalam jurnal internasional, Dom juga memberikan tips dan triks dalam penulisan artikel untuk publikasi ilmiah serta ide-ide atau tema tulisan ilmiah yang sangat menarik yang dapat dikembangkan dari data monitoring di BLKB. Semoga kunjungan Dom ke Indonesia selanjutnya dapat memberikan dukungan lebih banyak lagi bagi tim monitoring BLKB dan UNIPA pada umumnya.

Kategori
Hubungan Publik Pemerintah Daerah Kabupaten Konservasi Penyu Belimbing Diseminasi

Lokakarya Pengelolaan Taman Pesisir (TP) Jeen Womom dalam Kewenangan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua Barat dan Laporan Kegiatan Monitoring Penyu Belimbing

Selasa, 17 Oktober 2017, bertempat di Aula Kantor Bupati Tambrauw dan melalui Pemerintah Kabupaten Tambrauw yang didukung oleh WWF telah dilaksanakan kegiatan lokakarya. Lokakarya tersebut adalah Lokakarya Pengelolaan Taman Pesisir (TP) Jeen Womom dalam Kewenangan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua  Barat dan Laporan Kegiatan Monitoring Penyu Belimbing. Kegiatan tersebut bertujuan untuk membahas rencana pengeloaan Taman Pesisir Jeen Womom sebagai pantai peneluran satwa dilindungi yaitu Penyu  Belimbing secara khusus dan jenis penyu lainnya serta penyampaian laporan hasil kegiatan Monitoring Penyu di Distrik Abun.

Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Bupati Kabupaten Tambrauw.  Dalam  sambutannya Bupati menyampaikan bahwa dengan menggunakan  APBD  Kabupaten Tambrauw telah dibuat jalan untuk beberapa tempat yang sulit diakses dan masih terus dikerjakan. Perencanaan Bupati untuk mempermudah akses menuju pantai peneluran maka akan dibangun jalan hingga ke pantai dan kampung-kampung sekitar yang terdekat. Harapannya dengan tersedia jalan dapat membantu masyarakat dalam hal pemasaran hasil kebun dan kerajinan tangan milik masyarakat di kampung setempat, hingga dapat membantu keuangan keluarga. Bupati juga menyampaikan bahwa jalan raya akan dibangun dengan radius 2-6 km dari bibir pantai sehingga tidak mengganggu aktivitas peneluran penyu.

Abun Monitoring Lokakarya (2)

Foto : Tim Abun Pemberdayaan

IMG20171017121206-1

Foto : Tim Abun Pemberdayaan

IMG20171017115816

Foto : Tim Abun Pemberdayaan

Pada Lokakarya tersebut terdapat beberapa materi yang secara berurutan dipresentasikan antara lain: Rencana Pengelolaan Taman Pesisir Jeen Womom setelah UU No. 23 Tahun 2014, yang disampaikan oleh Bastian Wanma dari Dinas Kelauatan dan Perikanan Provinsi Papua Barat; Laporan Monitoring Penyu, oleh Hadi Ferdinandus dari WWF; Konservasi Penyu secara Holistik di Distrik Abun, oleh Fitriyanti Pakiding dan William Iwanggin dari Divisi Pembangunan Berkelanjutan LPPM UNIPA; dan Pengembangan kepariwisataan kawasan pesisir Jeen Womom Distrik Abun melalui Revitalisasi Forum Kolaborasi Konservasi Kabupaten Tambrauw Papua Barat, yang disampaikan oleh Asisten II Kabupaten Tambrauw.

Pada lokakarya tersebut juga dihasilkan beberapa keputusan diantaranya: 1) Dengan terbitnya UU No. 23 tahun 2014, maka UPTD Jeen Womom yang telah dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten Tambrauw akan dijalankan oleh pemerintah Provinsi Papua Barat; 2) UPTD Jeen Womom bertanggung jawab terhadap semua upaya yang dilakukan oleh semua lembaga yang berkontibusi  terhadap  upaya  pelestarian  penyu dan pengembangan masyarakat  di Taman Pesisir Jeen Womom untuk itu perlu disediakan kantor sementara UPTD untuk pelaksaan operasional UPTD; 3) WWF dan UNIPA bersedia mendukung UPTD Jeen Womom melalui penyediaan data, pengembangan sumberdaya manusia dan upaya pelestarian penyu. Khusus untuk dukungan dari YPLI  menunggu  keputusan  dari  Pimpinan  YPLI; 4) Disarankan untuk UPTD Jeen Womom segera membuat pertemuan antara tiga lembaga yang bekerja di Jeen Womom guna mensikronkan data dan informasi serta menyepakati metodologi yang  digunakan agar data dan informasi yang dipublikasikan dapat dipertanggungjawabkan; 5)Upaya pengelolaan Jeen Womom tidak hanya dititik beratkan pada sektor konservasi penyu belimbing tetapi harus dapat memberikan kontribusi secara ekonomis kepada masyarakat yang hidup disekitar pantai Jeen Womom; 6) Lembaga-lembaga yang bekerja di Pantai Jeen Womom wajib melakukan koordinasi dengan Pemerintah Daerah, distrik, kabupaten dan UPTD; 7) Perlu ada kajian terkait pelestarian dan pengembangan penyu agar digunakan sebagai materi dipahami bagi masyarakat yang bermukim di sekitar Taman Pesisir Jeen Womom maupun masyarakat dari luar Pantai Jeen Womom agar tidak memanfaatkan daging dan telur penyu.

Akhirnya kami berharap, untuk pertemuan penting  seperti  ini  dapat  diundang  dan  dihadiri oleh lebih banyak pihak yang memiliki kepedulian dan dedikasi yang tinggi terhadap Konservasi Penyu.

Kategori
Monitoring Ekologi Diseminasi

Diseminasi Hasil Survei Sosial Ekonomi dan Survei Ekologi di Kabupaten Kaimana

Pertemuan antara Universitas Papua dan Pemerintah Daerah Kaimana berlangsung pada hari Jumat 29 September 2017 bertempat di Ruang Rapat Kantor Bupati dan dibuka oleh Kepala BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) sekaligus bertindak sebagai moderator. Kegiatan ini dihadiri oleh Bupati dan kepala-kepala dinas terkait, antara lain Dinas Perikanan, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan. Sesi diskusi antara pemateri dengan peserta kegiatan juga dilakukan setelah pemaparan hasil survei dilakukan oleh peneliti.

diseminasi kaimana

Foto : Tim BHS Monitoring Ekologi Unipa

Monitoring pada daerah KKP Kaimana dilakukan pada tahun 2012, 2014 dan 2016 dan dapat dijelaskan secara singkat hasil kajian dari tahun pengamatan menunjukkan bahwa keadaan sosial ekonomi masyarakat yang dilihat dari indi- kator kepemilikan aset mengalami penurunan, sementara itu ketahanan pangan masyarakat justru mengalami peningkatan, hal ini menunjuk- kan bahwa penghasilan masyarakat yang di- peroleh lebih diprioritaskan untuk pembelian bahan makanan daripada membeli asset. Tingkat partisipasi sekolah meningkat, pemanfaatan sumber daya kelautan masyarakat menurun, budaya atau ketertarikan masyarakat terhadap tempat tinggal mereka pun menunjukkan peningkatan meskipun tidak signifikan. Sementara dari hasil kajian ekologi menunjukan bahwa keadaan karang keras dan biomassa ikan mengalami penurunan pada KKP Buruway tetapi menagalami pening- katan pada KKP Ayau-Asia.

Bupati Kaimana mengakui bahwa peraturan- peraturan yang menyangkut Kawasan Perairan di Kaimana selama ini belum dilaksanakan, selain itu patroli laut masih sangat kurang sehingga masyarakat lokal maupun masyarakat dari luar sering mengambil hasil laut tanpa memikirkan kelangsungan biota laut. Disampaikan pula bahwa anggaran infrastruktur yang minim membuat Kaimana lambat dalam pembangunan, dan juga tata kelola sampah plastik yang masih menjadi ancaman serius di kawasan KKP Kaimana.

Kategori
Monitoring Ekologi Diseminasi

Diseminasi Hasil Monitoring Survei Sosial Ekonomi dan Survei Ekologi di Wilayah TNTC Kepada Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama

Diseminasi hasil survei kepada Pemerintah Ka- bupaten Teluk Wondama dilaksanakan pada hari Senin, 18 September 2017. Diseminasi hasil survei dimulai dengan pemaparan hasil survei oleh tim UNIPA dan dilanjutkan pemaparan hasil survei ekologi oleh tim WWF Kabupaten Teluk Wonda- ma. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi yang ber- langsung sekitar dua jam dan diakhiri foto bersa- ma dengan Pemerintah Kabupaten Wondama.

Diseminasi hasil survei sosial

Foto : Tim BHS Monitoring Sosial Unipa

Kegiatan ini dihadiri oleh 23 orang yang merupa- kan perwakilan dari beberapa instansi, antara lain Bappeda, Dinas Sosial, Dinas Pertanian dan Tana- man Pangan, Dinas Perikanan, Dinas Kesehatan, dan Dinas Lingkungan Hidup.

Taman Nasional Teluk Cenderawasih dengan luas sebesar 1.4 juta hektar menjadi tempat bagi lebih dari 500 spesies karang dan 950 spesies ikan karang, yang diantaranya merupakan spesies endemik. Kondisi bentik di TNTC relatif baik dengan tutupan karang keras yang cukup tinggi. Rata-rata tutupan karang keras di TNTC lebih tinggi dari pada tutupan karang keras di BLKB, meskipun pecahan karang di TNTC tetap tinggi. Biomass ikan di TNTC cukup bervariasi, yaitu bio- mass ikan botana dan kakatua meningkat pada tahun 2016 juga ikan kakap yang cenderung ada kenaikan meskipun tetap stabil, sedangkan biomass ikan kerapu dan kompele menurun sejak tahun 2011.

Berdasarkan pemaparan oleh tim WWF dan diskusi bersama, dapat disimpulkan ukuran ikan menurun atau ukuran ikan menjadi yang lebih kecil disebabkan oleh tingginya kegiatan penangkapan ikan. Ukuran ikan yang lebih kecil tersebut, mengakibatkan tidak terjadinya pemijahan ikan sehingga biomass ikan tidak bertambah.

Kegiatan monitoring di wilayah TNTC tidak hanya terfokus pada aspek ekologi tetapi juga mencakup aspek sosial ekonomi atau kesejahteraan sosial. Indikator yang digunakan untuk mengukur kesejahteraan sosial adalah ekonomi, kesehatan, pemberdayaan politik, pendidikan, dan budaya. Secara umum bidang ekonomi, kesehatan, dan pendidikan mengalami pening- katan sedangkan pemberdayaan politik dan budaya mengalami penurunan. Penurunan nilai budaya menunjukkan berkurangnya keterikatan emosi masyarakat terhadap lingkungan perairan laut sehingga berdampak juga bagi ekologi. Dalam penyampaian diseminasi ini dihasilkan beberapa informasi dan rekomendasi bagi instansi-instansi pemerintah di lingkungan pemerintah daerah Kabupaten Nabire dan Teluk Wondama.

Kategori
Monitoring Sosial Diseminasi

Diseminasi Hasil Survei Sosial Ekonomi dan Survei Ekologi di Kabupaten Kaimana

Diseminasi Hasil Survei Sosial Ekonomi dan Survei Ekologi

di Kabupaten Kaimana

Universitas Papua bekerjasama dengan CI, TNC dan WWF US telah melakukan monitoring sosial ekonomi dan ekologi masyarakat di daerah Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Bentang Laut Kepala Burung (BLKB). Kegiatan yang dilakukan sejak tahun 2010 ini memberikan banyak sekali informasi. Hasil monitoring disajikan dalam bentuk laporan profil kampung, profil distrik, laporan KKP, dan laporan social impact KKP.

Salah satu tujuan dari monitoring ini adalah untuk memberikan gambaran bagaimana keadaan sosial masyarakat dan bagaimana keadaan ekologi di daerah KKP yang mana keadaan ini dapat menjadi acuan pihak-pihak pengambil kebijakan dalam hal ini pemerintah daerah setempat. Penyampaian hasil monitoring dilakukan pada kegiatan diseminasi di beberapa kabupaten dimana lokasi KKP berada, salah satunya adalah Kabupaten Kaimana.

Pertemuan antara Universitas Papua dan Pemerintah Daerah Kabupaten Kaimana berlangsung pada hari Jumat 29 September 2017 bertempat di Ruang Rapat Kantor Bupati dan dibuka oleh Kepala BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) sekaligus bertindak sebagai moderator. Kegiatan ini dihadiri oleh Bupati dan kepala-kepala dinas terkait, antara lain Dinas Perikanan, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan. Sesi diskusi antara pemateri dengan peserta kegiatan juga dilakukan setelah pemaparan hasil survei dilakukan oleh peneliti.

Monitoring pada daerah KKP Kaimana dilakukan pada tahun 2012, 2014 dan 2016. Secara singkat, hasil kajian dari tahun pengamatan menunjukkan bahwa keadaan sosial ekonomi masyarakat yang dilihat dari indikator kepemilikan aset mengalami penurunan, sementara itu ketahanan pangan masyarakat justru mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa penghasilan masyarakat yang diperoleh lebih diprioritaskan untuk pembelian bahan makanan daripada membeli asset. Hasil lainnya adalah tingkat partisipasi sekolah meningkat, pemanfaatan sumber daya kelautan masyarakat menurun, budaya atau ketertarikan masyarakat terhadap tempat tinggal mereka pun menunjukkan peningkatan meskipun tidak signifikan. Sementara dari hasil kajian ekologi menunjukan bahwa keadaan karang keras dan biomassa ikan mengalami penurunan pada KKP Buruway tetapi menagalami peningkatan pada KKP Ayau-Asia.

Bupati Kaimana mengakui bahwa peraturan- peraturan yang menyangkut Kawasan Perairan di Kaimana selama ini belum dilaksanakan. Selain itu, patroli laut masih sangat kurang sehingga masyarakat lokal maupun masyarakat dari luar sering mengambil hasil laut tanpa memikirkan kelangsungan biota laut. Disampaikan pula bahwa anggaran infrastruktur yang minim membuat Kaimana lambat dalam pembangunan, dan juga tata kelola sampah plastik yang masih menjadi ancaman serius di KKP Kaimana.

(Oleh: Maya Paembonan)

Kategori
Monitoring Ekologi Diseminasi

Diseminasi Hasil Survei Sosial Ekonomi dan Survei Ekologi di Kabupaten Raja Ampat

Diseminasi R4 Monitoring sosial dan Ekologi

Foto : Tim BHS Monitoring Ekologi Unipa

Kegiatan diseminasikan dilaksanakan pada Rabu, 20 September 2017 bertempat di Aula Kantor Bupati ini, di buka oleh Asisten II dan dihadiri oleh beberapa pegawai kabupaten dan dinas diantaranya Dinas Kelautan dan Perikanan serta Dinas Kesehatan. Pemateri pada kegiatan ini yaitu 2 orang peneliti dari UNIPA dan TNC. Moderator pada kegiatan adalah staf dosen dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Hasil kegiatan monitoring sosial dan ekologi yang dilaporkan meliputi hasil survei semua area KKP yang ada di Kabupaten Raja Ampat yaitu Kofiau dan Pulau Boo, Teluk Mayalibit, Misool dan Dampier.

Pemaparan yang dilakukan meliputi pendekatan monitoring yang digunakan, teknik penarikan sampel, metode pengumpulan data, indikator yang digunakan untuk sosial ekonomi maupun ekologi dan informasi mengenai area KKP yang ada di Kabupaten Raja Ampat. Informasi yang dimaksud terdiri dari kondisi saat ini dan perkembangan yang terjadi mengenai bidang sosial dan ekonomi serta bidang ekologi

Kondisi saat ini dianalisa dari hasil survei yang dilakukan tahun terakhir yaitu Tahun 2016 (Dampier), Tahun 2015 (Kofiau dan Pulau Boo, Misool) dan Tahun 2014 (Teluk Mayalibit) sedangkan perkembangan meliputi perubahan yang terjadi setelah 4 tahun dari baseline di setiap area KKP. Selain itu, perbandingan hasil survei sosial ekonomi maupun ekologi area KKP di Kabupaten Raja Ampat dengan area KKP yang ada di BHS dipaparkan pada kegiatan ini. Hal ini bertujuan untuk melihat posisi area KKP yang ada di Kabupaten Raja Ampat terhadap area KKP lainnya, untuk semua indikator pendukung yang berkaitan dengan sosial ekonomi dan ekologi. Hasil kegiatan monitoring yang telah dilakukan, diharapkan dapat membantu Pemerintah Kabupaten Raja Ampat untuk mengambil tindakan atau kebijakan yang dapat mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat serta perlindungan dan konservasi KKP yang ada di Kabupaten Raja Ampat.

Kategori
Monitoring Sosial Diseminasi

Diseminasi Hasil Survei Sosial Ekonomi dan Survei Ekologi di Kabupaten Raja Ampat

Diseminasi Hasil Survei Sosial Ekonomi dan Survei Ekologi

di Kabupaten Raja Ampat

Guna menginformasikan hasil survei sosial ekonomi dan ekologi di area BHS (Bird Head Seascape)yangtelahdilakukanselamaperiode 2014-2016, maka tim BHS dari UNIPA beserta TNC (The Nature Conservacy) melakukan diseminasi di beberapakabupatenyangterdapatareaKKP. Salah satu kabupaten yang dituju tahun 2017 adalah Kabupaten Raja Ampat.

Kegiatan diseminasi dilaksanakan pada Rabu, 20 September 2017 bertempat di Aula Kantor Bupati, di buka oleh Asisten II dan dihadiri oleh beberapa pegawai kabupaten dan dinas diantaranya Dinas Kelautan dan Perikanan serta Dinas Kesehatan. Pemateri pada kegiatan ini yaitu 2 orang peneliti dari UNIPA dan TNC. Moderator pada kegiatan adalah staf dosen dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Hasil kegiatan monitoring sosial dan ekologi yang dilaporkan meliputi hasil survei semua area KKP yangadadiKabupatenRajaAmpatyaitu Kofiau dan Pulau Boo, Teluk Mayalibit, Misool dan Selat Dampier.

Pemaparan yang dilakukan meliputi pendekatan monitoring yang digunakan, teknik penarikan sampel, metode pengumpulan data, indikatoryang digunakan untuk sosial ekonomi maupun ekologi dan informasi mengenai area KKP yang ada di Kabupaten Raja Ampat. Informasi yang dimaksud terdiri dari kondisi saat ini dan perkembangan yang terjadi mengenai bidang sosial dan ekonomi serta bidang ekologi.

Kondisi saat ini dianalisa dari hasil survei yang dilakukan tahun terakhir yaitu Tahun 2016 (Selat Dampier), Tahun 2015 (Kofiau dan Pulau Boo, Misool) dan Tahun 2014 (Teluk Mayalibit) sedangkan perkembangan meliputi perubahan yang terjadi setelah 4 tahun dari baseline di setiap area KKP.

Selain itu, perbandingan hasil survei sosial masyarakat maupun ekologi area KKP di Kabupaten Raja Ampat dengan area KKP yang ada di BHS dipaparkan pada kegiatan ini. Hal ini bertujuan untuk melihat posisi area KKP yang ada di Kabupaten Raja Ampat terhadap area KKP lainnya, untuk semua indikator pendukungyang berkaitan dengan sosial ekonomi dan ekologi.

Hasil kegiatan monitoring yang telah dilakukan, diharapkan dapat membantu Pemerintah Kabupaten Raja Ampat untuk mengambil tindakan atau kebijakan yang dapat mendukung peningkatankesejahteraan masyarakat sertaperlindungandan konservasi KKP yang ada di Kabupaten Raja Ampat.

(Oleh: Indah Ratih Anggriyani)

Kategori
Monitoring Sosial Diseminasi

Diseminasi Hasil Monitoring Survei Sosial Masyarakat dan Survei Ekologi di Wilayah Taman Nasional Teluk Cenderawasih Kepada Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama

Diseminasi Hasil Monitoring Survei Sosial Masyarakat dan Survei

Ekologi di Wilayah Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Kepada Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama

Kawasan Konservasi Perairan (KKP) di wilayah Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) Papua, dalam pengelolaannya tidak hanya ditujukan bagi pelestarian sumber daya perairan tetapi juga untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang hidup bergantung pada sumber daya perairan di sekitarnya. Dalam upaya untuk memberikan sumbangan pemikiran terhadap keterbatasan pengetahuan mengenai dampak KKP terhadap kondisi baik sumberdaya hayati maupun kesejahteraan masyarakat, Universitas Papua (UNIPA) mendata dampak KKP terhadap masyarakat yang bermukim di daerah BLKB, Papua. Keragaman data ini juga dikaji di antara domain dan kelompok sosial. Dalam melakukan monitoring sosial masyarakat ini , UNIPA didukung olehWWF-Indonesia, Conservation International Indonesia (CII), The Nature Conservancy (TNC) Indonesia, dan WWF-US. Monitoring ini dilakukan pada enam lokasi yang merupakan wilayah kerja ke-tiga LSM tersebut, dimana salah satunya adalah wilayah Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC).

Diseminasi hasil survei kepada Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama dilaksanakan pada hari Senin, 18 September 2017. Diseminasi hasil survei dimulai dengan pemaparan hasil survei oleh tim UNIPA dan dilanjutkan pemaparan hasil survei ekologi oleh tim WWF Kabupaten Teluk Wondama. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi yang berlangsung sekitar dua jam dan diakhiri foto bersama dengan Pemerintah Kabupaten Wondama.

Kegiatan ini dihadiri oleh 23 orang yang merupakan perwakilan dari beberapa instansi, antara lain Bappeda, Dinas Sosial, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan, Dinas Perikanan, Dinas Kesehatan, dan Dinas Lingkungan Hidup.

Taman Nasional Teluk Cenderawasih dengan luas sebesar 1.4 juta hektar menjadi tempat bagi lebih dari 500 spesies karang dan 950 spesies ikan karang, yang diantaranya merupakan spesies endemik. Kondisi bentik di TNTC relatif baik dengan tutupan karang keras yang cukup tinggi. Rata-rata tutupan karang keras di TNTC lebih tinggi dari pada tutupan karang keras di BLKB, meskipun pecahan karang di TNTC tetap tinggi. Biomass ikan di TNTC cukup bervariasi, yaitu bio- mass ikan botana dan kakatua meningkat pada tahun 2016 juga ikan kakap yang cenderung ada kenaikan meskipun tetap stabil, sedangkan biomass ikan kerapu dan kompele menurun sejak tahun 2011.

Berdasarkan pemaparan oleh tim WWF dan diskusi bersama, dapat disimpulkan ukuran ikan menurun atau ukuran ikan menjadi yang lebih kecil disebabkan oleh tingginya kegiatan penangkapan ikan. Ukuran ikan yang lebih kecil tersebut, mengakibatkan tidak terjadinya pemijahan ikan sehingga biomass ikan tidak bertambah.

Kegiatan monitoring di wilayah TNTC tidak hanya terfokus pada aspek ekologi tetapi juga mencakup aspek sosial ekonomi atau kesejahteraan sosial. Indikator yang digunakan untuk mengukur kesejahteraan sosial adalah ekonomi, kesehatan, pemberdayaan politik, pendidikan, dan budaya. Secara umum bidang ekonomi, kesehatan, dan pendidikan mengalami peningkatan sedangkan pemberdayaan politik dan budaya mengalami penurunan. Penurunan nilai budaya menunjukkan berkurangnya keterikatan emosi masyarakat terhadap lingkungan perairan laut sehingga berdampak juga bagi ekologi.

(Oleh : E. Ria Matulessy)

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Kesehatan Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Pelayanan Kesehatan Massal Di Distrik Abun Kabupaten Tambrauw

Menyadari pentingnya menjaga kelestarian sumberdaya alam bagi generasi masa mendatang, Provinsi Papua Barat pada bulan Oktober 2015 mencanangkan diri sebagai provinsi konservasi. Menjadi provinsi konservasi bukan berarti bahwa pemanfaatan sumberdaya alam baik hayati maupun non-hayati tidak lagi bias dilakukan. Melainkan, menjadi provinsi konservasi berarti bahwa setiap upaya pemanfaatan sumberdaya alam, stakeholder yang terlibat dalam proses pembangunan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat yang bermukim di wilayah Provinsi Papua Barat saat ini, tanpa melupakan generasi mendatang. Walaupun memiliki sumberdaya alam yang melimpah, potret sosial masyarakat di Provinsi Papua Barat tidaklah seindah potret kekayan sumberdaya alamnya. Saat ini Provinsi Papua Barat tercatat sebagai salah satu provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi, tingkat pendidikan rendah, tingkat kesehatan rendah, dan tingkat infrastruktur rendah. Tulisan ini sebagai bentuk berbagi informasi pada bidang kesehatan dari pembelajaran Divisi Pembangunan Berkelanjutan LPPM UNIPA menjalankan pelayanan kesehatan massal di distrik Abun Kabupaten Tambrauw yang masyarakat hidup terisolir namun memiliki peran strategis dalam upaya konservasi penyu belimbing. Pelayanan kesehatan massal yang terselanggara pada tanggal 22-25 Juni 2017 atas kerjasama tim UNIPA berjumlah 4 orang dan Dinas Kesehatan Kabupaten Tambrauw berjumlah 7 orang yang terdiri dari 1 dokter, 1 kepala puskesmas Abun, 3 bidan, 2 suster. Pelayanan kesehatan massal ini dilaksanakan selama 4 hari dengan mengunjungi kampung-kampung yang ada di Distrik Abun. Kunjungan hari pertama dan kedua di kampung Saubeba dan kampung Womom. Hari ketiga di kampung Wau-Weyaf, dan hari keempat di kampung Warmandi

Gambar 2. Tim dalam perjalanan di perahu long boat

Foto : Tim Abun Pemberdayaan

Gambar 8. Pelayanan kesehatan di Kampung Warmandi

Foto : Tim Abun Pemberdayaan

Gambar 5. Suasana Pengobatan pada malam hari di Kampung Saubeba

Foto : Tim Abun Pemberdayaan

Pelayanan kesehatan massal ini telah menjangkau sebanyak 283 orang, yang terdiri dari 106 orang di kampung Saubeba dan Womom, 126 orang di kampung Wau-Weyaf, dan 51 orang di kampung Warmandi. Dari pelayanan tersebut ditemukan pada umumnya usia 0-12 tahun kebanyakan sakit batuk-flu, usia 25-60 tahun kebanyakan sakit pegal-pegal karena kerja berat, 8 orang positif malaria, dan 7 orang yang urgent dirujuk ke rumah sakit. Kendala yang dialami selama pelayanan kesehatan massal antara lain: keterbatasan obat-obatan diantaranya obat tetes telinga dan obat mata. Keterbatasan alat penguji malaria dan peralatan medis lainnya. Harapannya setiap medis yang telah ditempatkan bekerja pada kampung-kampung tersebut untuk tetap berada di kampung menjalankan tugas tanggungjawabnya sehingga kebutuhan dasar kesehatan masyarakat minimal dapat terpenuhi.

Kategori
Monitoring Sosial Training

Data Management Training with Kelly Claborn

Data Management Training with Kelly Claborn

Sebagai bentuk transfer informasi dan pengetahuan antara Universitas Papua (UNIPA) dan WWF US, maka dilakukan kegiatan Monitoring dan Evaluasi Program Monitoring Sosial dan Ekologi di Bentang Laut Kepala Burung. WWF US mendatangkan Kelly Claborn untuk memberikan pelatihan manajemen data. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 11 Agustus 2017 di ruang rapat Divisi Pembangunan Berkelanjutan. Peserta adalah staf divisi, yaitu Dariani Matualage S.Si, M.Si, Indah Ratih Anggraini S.Si, M.Si, Maya Paembonan S.Si, M.Si, dan Jouhannes Faidiban yang akan melakukan analisis data. Selain bertujuan untuk membangun kapasitas staf divisi, pelatihan ini dimaksudkan juga untuk menciptakan sinkronisasi dalam merubah, menyimpan, memfalidasikan dan melindungi data antara UNIPA dan WWF US.

Pembukaan kegiatan Pelatihan manajemen data dilakukan oleh Ketua Divisi Pembangunan Berkelanjutan, Dr. Fitryanti Pakiding. Mengawali pelatihan, Kelly Claborn menjabarkan agenda kegiatan yang akan dilaksanakan selama sepekan. Dalam penyampaiannya Kelly memberi ruang untuk saran atau masukkan dari keempat peserta untuk agenda kegiatan.

Dalam pelatihan ini, terdapat 2 tahapan utama, yaitu penggabungan data dan analisis data. Penggabungan data dilakukan menggunakan Microsoft Access dan Microsoft Excel. Sementara untuk analisis data menggunakan RStudio. Antusiasme terlihat dari semua pihak peserta yang banyak mengajukan pertanyaan dan juga dari Pembicara yang memberi dukungan perorangan. Kegiatan diakhiri dengan merangkumkan seluruh rangkaian kegiatan, mengulas materi yang telah diberikan dan menyusun rencana kedepan antara tim data Divisi Pembangunan Berkelanjutan dan WWF US.

(Oleh: Jouhannes Faidiban)