Kategori
Uncategorized @id

Cerita Lapang Kegiatan Survei Sosial Masyarakat di Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Cerita Lapang Kegiatan Survei Sosial Masyarakat di Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Tanggal

1 Juli 2017

Penulis

Joice Pangulimang

Daerah Perlindungan Laut atau Marine Protected Area (MPA) adalah salah satu bentuk pengelolaan sumberdaya laut yang bertujuan untuk pengelolaan perikanan dan konservasi sumberdaya hayati. Dengan adanya MPA, maka sumberdaya laut dapat terpelihara dengan baik. Namun bagaimana dengan kesejahteraan penduduk yang tinggal di wilayah tersebut? Apakah MPA memberikan dampak yang baik bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat yang bermukim di sekitar wilayah MPA? Untuk menjawab pertanyaan- pertanyaan tersebut maka Universitas Papua (UNIPA) bekerjasama dengan WWF US pada tahun 2010-2016, dan tahun 2017 UNIPA bekerjasama dengan yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI) dalam rangka melaksanakan monitoring mengenai dampak sosial keberadaan MPA.

Monitoring sosial dilakukan sejak tahun 2010 hingga tahun 2017 di 6 MPA yaitu MPA Teluk Mayalibit, Selat Dampier, Kaimana, Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Kofiau dan Misool. Kegiatan monitoring ini mencakup tingkat pendidikan, ekonomi, kesehatan, pemberdayaan politik dan budaya masyarakat daerah pesisir. Pada tahun 2017 kembali dilakukan monitoring sosial di MPA Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) yang merupakan kerjasama antara UNIPA dan KEHATI, mencakup kondisi pendidikan, ekonomi, kesehatan, pemberdayaan politik dan budaya.

Survei sosial ini berlangsung selama 16 November sampai 21 Desember 2017 yang diikuti oleh 10 orang tim UNIPA yang terdiri dari 2 orang koordinator lapang dan 8 orang enumerator. Koordinator lapang adalah staf dari UNIPA sedangkan enumerator terdiri dari 1 orang mahasiswa dan 7 orang alumni. Ke-10 orang tersebut terbagi menjadi 2 tim yang masing-masing tim terdiri dari 5 orang. Tim pertama melakukan kegiatan di Kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten Nabire tepatnya di kampung Saribi, Supmander, Masyara, Wansra, Rawar, Pakreki, Yembepon Yembeba, Napan Yaur, Goni, Bawei, Yeretuar, Napan, Weinami dan Masipawa sela- ma lebih dari 4 minggu. Sedangkan tim kedua melakukan survei di kampung Dusner, Sasirei, Nanimori, Ambumi, Torey, Rasiei, Syeiwar, Yomber, Nordiwar, Waprak/Saref, Yomakan, Senebuay, Yariari, Iseren, Weititindau, Yembekiri I dan Yembekiri II.

Wawancara Oleh Tim BHS

Foto : Tim BHS Monitoring Sosial Unipa

Metode yang digunakan dalam survei ini adalah pendataan rumah tangga, sampling dan wawancara terhadap rumah tangga yang terpilih dalam sampling.

Dari pengamatan langsung di lapangan, gambaran sederhana yang dapat disampaikan adalah sebagaian besar masyarakat memilih melaut sebagai sumber pendapatan keluarga. Hal tersebut didukung oleh sumberdaya laut yang ada di sekitar tempat tinggal mereka. Sedangkan sebagian masyarakat lainnya memilih bertani/berkebun, buruh bangunan, pegawai negeri sipil dan pekerjaan lain yang menghasilkan upah.

Dari segi pendidikan, semua kampung sudah memiliki sekolah meskipun tenaga guru sangat terbatas atau kurang dari standar. Demikian halnya dengan pustu yang disediakan oleh pemerintah. Dengan kata lain, sudah tersedia pustu di setiap kampung dan puskesmas di setiap kecamatan tetapi masih terdapat sebagian pustu yang tidak memiliki tenaga medis dan puskesmas yang tidak memiliki dokter serta keterbatasan persediaan obat-obatan. Hal ini membuat masyarakat cukup kesulitan, terutama mereka yang tinggal di kampung Goni, Napan Yaur dan Bawei karena akses ke Kota Nabire sangat terbatas sehingga mereka tidak bisa mendapatkan perawatan dan pengobatan yang lebih baik.

Pengetahuan masyarakat tentang lingkungan pada setiap kampung survei, dapat dikategorikan cukup baik. Terbukti dari pernyataan mereka yang menyatakan tentang hal apa saja yang dapat merusak laut dan bagaimana cara untuk menjaga laut sehingga tidak rusak.