Cerita Lapang : Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pada Kampung-
Kampung Pembelajaran UNIPA di Distrik Abun
Pada akhir Juni 2017, UNIPA kembali mengirim 28 mahasiswa yang akan melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di distrik Abun, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Sejak tahun 2013, UNIPA melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) telah rutin mengirim mahasiswa KKN di tiga kampung pada distrik ini setiap tahunnya. Kegiatan KKN secara umum merupakan mata kuliah wajib bagi setiap mahasiswa UNIPA dengan bobot mata kuliah 4 SKS. 28 mahasiswa disebar pada 4 kampung di distrik Abun yaitu kampung Waibem, Wau-Weyaf, Warmadi, dan Saubeba-Womom. Setiap kelompok terdiri dari 7 mahasiswa KKN dan 1 dosen pendamping lapang. Tim berangkat pada 22 Juni dan memulai aktivitas di setiap kampungnya. Kampung-kampung yang terletak di distrik Abun telah menjadi kampung pembelajarn dalam upaya konservasi terhadap penyu yang terbesar di dunia, yaitu penyu belimbing. Kampung-kampung ini mengapit 2 pantai utama peneluran penyu belimbing pasifik, pantai Jamursba Medi dan pantai Wermon. Kedua pantai ini merupakan pantai dengan aktivitas peneluran terbesar yang masih tersisa di pasifik, sekitar 75% aktivitas peneluran ada di kedua pantai ini. Para mahasiswa KKN melaksanakan program-program yang telah terlebih dahulu direncanakan yaitu: bidang pendidikan, pengolahan, pertanian, perikanan, agama, administrasi dan umum, serta lingkungan. Kemudian program yang telah disusun didiskusikan dengan masyarakat di lokasi KKN untuk disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Kegiatan KKN berlangsung kurang lebih 60 hari (2 bulan), selama rentang waktu ini para mahasiswa KKN diharapkan dapat menyelesaikan semua program yang telah disepakati dengan masyarakat pada setiap lokasi KKN. Distrik Abun dapat dijangkau dengan 2 moda transportasi yaitu melalui darat dan melalui laut. Perjalanan darat ditempuh dengan mobil selama kurang lebih 6 jam (untuk tiba di ibukota distrik, merupakan kampung terdekat dari Manokwari), sedangkan untuk mencapai kampung Saubeba-Womom (kampung terjauh dari Manokwari) harus meneruskan perjalanan dengan menggunakan perahu milik masyarakat sekitar 2 jam perjalanan. Untuk moda transportasi laut, dapat ditempuh dengan menggunakan kapal perintis. Lama hari perjalanan yang dibutuhkan untuk tiba di kampung Saubeba selama 2 malam 3 hari. Secara ekonomi, moda transportasi melalui laut lebih murah yaitu Rp.50.000 perorang hingga tiba di Kampung Saubeba. Untuk moda transportasi darat, penumpang harus merogok kantong hingga Rp,300.000/orang hanya untuk dapat tiba di ibukota distrik. Keberadaan mahasiswa KKN mendapat sambutan hangat dari pada masyarakat di setiap kampung. Masyarakat merasa terbantu dengan kehadiran para mahasiswa ini, terutama dalam hal pendidikan. Para mahasiswa KKN membantu mengajar aak-anak SD di sekolah dan juga memberikan pelajaran tambahan pada sore hari. Selain pendidikan, para mahasiswa juga membantu pembuatan administrasi kampung, seperti papan ucapan selamat datang dan papan batas kampung. “Kami berharap bahwa tahun depan, ada anak-anak yang bisa datang lagi di kampung kami, seperti ini” ujar salah satu kepala kampung pada acara penutupan kegiatan KKN.
Berita Lainnya



