Categories
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cerita Musim Teduh: Menilik Aktivitas Pemantauan dan Perlindungan Sarang di Pantai Jeen Syuab

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Cerita Musim Teduh: Menilik Aktivitas Pemantauan dan Perlindungan Sarang di Pantai Jeen Syuab

Penulis

Petrus Pieter Batubara

Tanggal

22 November 2022

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Halo! Perkenalkan nama saya Petrus Pieter Batubara, akrab disapa teman-teman dengan  panggilan Ompet. Saya dipercayakan sebagai Koordinator Pantai Jeen Syuab (dahulu disebut pantai Wermon) pada musim peneluran April-September 2022. Pantai Jeen Syuab merupakan satu dari dua pantai peneluran penting bagi penyu belimbing (Dermochelys coriacea) di Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat. Saya telah bergabung dalam tim sejak tahun 2013 dan cukup punya pengalaman dalam beberapa musim peneluran sebagai anggota tim pemantauan penyu dan perlindungan sarang di Taman Pesisir Jeen Womom.

Foto tim Jeen Syuab musim teduh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tim LPPM Universitas Papua (UNIPA) di pantai Jeen Syuab berjumlah enam orang yang terdiri dari saya sebagai koordinator pantai, lalu Yonas Saidui, Paitu Tomas Yesyak, dan Hermanus Maklon Ayomi sebagai tenaga lapangan dan tenaga magang, yaitu Osorio Mariano S. S. Embulaba dan Mayustilo Abraham Hokoyoku. Kami bekerja bersama kurang lebih 24 masyarakat lokal dari Kampung Wau dan Kampung Weyaf (dua kampung di dekat pantai) dalam berbagai aktivitas di pantai. Masyarakat yang terlibat  adalah 4 orang pemilik pantai, 6 patroler lokal yang bergantian setiap bulan, dan 2 pemuda sebagai tenaga magang. Para patroler lokal bertanggung jawab mencatat jejak penyu dan menandai posisi sarang penyu. Dalam sehari patroler lokal dapat menandai 5 sampai 10 posisi sarang dengan menggunakan besi stainless untuk merasakan pasir diatas sarang.

Memindahkan sarang ke dalam kandang relokasi merupakan metode melindungi sarang-sarang penyu belimbing dari invasi akar Ipomoea sp. di pantai Jeen Syuab. Empat orang masyarakat lokal menyediakan kandang relokasi dan 12 anggota masyarakat lokal dengan antusias membantu memindahkan telur dari sarang alami ke sarang buatan dalam kandang relokasi. Tenaga relokasi dapat memindahkan sarang sebanyak 10 sarang dalam sehari dan dilakukan secara individual maupun berkelompok. Keterlibatan wanita pun meningkat di musim ini diketahui 9 dari 12 orang yang terlibat sebagai tenaga relokasi adalah perempuan (75%). Mereka membantu upaya perlindungan sarang di pantai dan upah yang diterima pun dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka.

Tim melakukan crosscheck data di pos
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Bapak Lukas sedang menandai sarang Penyu Belimbing
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Musim peneluran tahun ini sangat luar biasa menurut saya, di awal musim jumlah aktivitas penyu sudah cukup banyak, di setiap malam tercatat terdapat 3-5 individu penyu yang naik untuk bertelur. Dua bulan awal yaitu bulan April dan Mei tercatat 127 sarang penyu belimbing dan 41 individu yang terdata dan terus meningkat sampai mencapai 773 sarang. Ditemui total 218 individu di akhir September, 90 individu baru terdata dan 128 telah terdata di musim sebelumnya. Bukan hanya penyu belimbing namun kami juga menemui sarang penyu lain seperti 5 sarang penyu hijau (Chelonia mydas), 5 sarang penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan 134 sarang penyu lekang (Lepidochelys olivacea).

Musim ini terdapat enam kandang relokasi yang dibuat oleh masyarakat lokal yang mengakomodir 517 sarang penyu belimbing, dan diketahui jumlah telur yang dipindahkan ke dalam kandang relokasi sebanyak 38.259 telur. Terdapat pula 45 sarang kontrol yang ditandai untuk menjadi perbandingan dengan sarang yang dilindungi. Selain memindahkan sarang ke kandang relokasi, tim juga harus mengontrol kandang relokasi dari pemangsa alami seperti anjing yang berusaha masuk ke dalam kandang untuk memakan telur penyu. Kurang lebih masa inkubasi telur yaitu selama 60 hari kemudian sarang siap untuk menetas, pekerjaan selanjutnya adalah mengevaluasi sarang yang sudah menetas untuk meninjau seberapa berhasilnya metode yang dilakukan melindungi sarang. Dari kegiatan evaluasi sukses penetasan diketahui rata-rata sukses penetasan di kandang relokasi pantai Jeen Syuab di musim ini adalah 49%, jauh lebih tinggi dibanding sukses penetasan sarang kontrol yang hanya mencapai 3%. Diartikan bahwa penggunaan kandang relokasi di Jeen Syuab berhasil meningkatkan penetasan telur penyu belimbing disana. Diestimasikan tukik yang berhasil menetas dari sarang pada musim ini adalah sebanyak 19008 tukik.

Yemima Bame dan Oktovina Jokson sedang menggali sarang buatan
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Petrus Batubara)

Penyu Belimbing bertelur dipagi hari
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Tim UNIPA melakukan presentasi di tengah masyarakat
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Keberhasilan yang kami dapat ini terjadi karena antusiasme dan kekompakan dari tim dan masyarakat lokal yang terlibat dalam upaya pemantauan penyu dan perlindungan sarang. Hasil kegiatan kami ini telah kami paparkan di tengah masyarakat kampung Wau dan Weyaf pada tanggal 24 September 2022 di Balai Kampung Weyaf, agar seluruh masyarakat dapat mengetahui kegiatan konservasi yang dilakukan di pantai Jeen Syuab dengan terbuka. Masyarakat memberikan apresiasi mendengar paparan kami dan berharap agar di musim-musim peneluran selanjutnya tim UNIPA dapat terus bekerja di pantai bersama masyarakat dalam menjaga penyu.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cerita dari lapang: Melindungi Sarang Penyu sesuai Karakter Pantai

Cerita dari lapang: Melindungi Sarang Penyu sesuai Karakter Pantai

Penulis

Delph Farlin Mamori

Tanggal

9 November 2022

Ikuti proses seleksi hingga pelatihan sebelum turun lapang

Perkenalkan nama saya Delph Farlin Mamori atau yang lebih akrab dipanggil Pain, asal suku dari Serui dan telah menyelesaikan sarjana di Jurusan Perikanan di Universitas Papua. Saya bergabung dengan program Sains untuk Konservasi LPPM Universitas Papua setelah mengikuti penerimaan yang dilakukan pada bulan Februari 2022. Sebagai seorang lulusan perikanan, saya sudah menjumpai berbagai biota yang hidup di laut namun penyu merupakan salah satu biota yang belum pernah saya jumpai. Rasa penasaran dan juga ketertarikan dengan biota laut membuat saya ingin bergabung dengan program konservasi penyu dan melihat penyu secara langsung di habitatnya. Awalnya saya mendaftar untuk mengisi posisi sebagai Tenaga Lapang Pantai Peneluran namun belum berhasil terpilih. Namun saya dihubungi kembali dan ditawarkan untuk mengikuti program magang terlebih dahulu. Hal tersebut merupakan kesempatan yang datang kepada saya untuk dapat bergabung bersama teman-teman yang berada di lapangan dan melakukan aktivitas pemantauan penyu dan perlindungan sarang. Saya ditempatkan di Pantai Jeen Yessa tepatnya di pos Batu rumah bersama Koordinator, tenaga lapangan serta tenaga patroller lokal disana.

Pain Sedang Membuat Perlindungan Sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Warmamedi)

Pain Sedang Mengukur Indukan Penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Jeen Yessa)

Belajar banyak hal baru di Pantai Batu Rumah

Setelah tiba di lapangan pada bulan Juni saya penasaran ingin segera melakukan monitoring malam agar dapat melihat penyu. Pertama kali berjumpa dengan penyu belimbing (Dermochelys coriacea) saya sangat senang karena dapat melihat secara langsung penyu terbesar di dunia tersebut. Saya langsung diajarkan melakukan pengukuran panjang lebar karapas penyu dan scanning PIT (Passive Integrated Transponder) untuk mengetahui apakah penyu tersebut penyu lama atau penyu baru yang didata. Saya juga melakukan perlindungan sarang dengan beberapa metode yang dipakai tim di sana yaitu sarang yang diberi pagar, sarang yang dinaungi daun pakis 1 lapis dan 2 lapis serta melakukan pemindahan sarang ke lokasi aman ketika berada di bawah pasang surut. Hal lainnya yang saya pelajari adalah pendataan jejak penyu, belajar menentukan posisi telur yang akan dilindungi dan kompilasi data. Saya bersyukur dapat berkesempatan menjumpai tiga jenis penyu lainnya di sana yaitu : penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivacea) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Tidak tersedianya jaringan seluler atau internet dan jarak yang begitu jauh dari perkampungan saat di lapangan bukan menjadi hambatan bagi saya untuk tetap melakukan aktivitas dan tanggung jawab saya sebagai seorang tenaga magang.

Pindah ke Pantai Warmamedi belajar strategi perlindungan sarang penyu

Sebulan di Batu Rumah, saya kemudian dipindahkan ke pantai Warmamedi (pantai bagian timur di pantai Jeen Yessa) untuk membantu pemantauan dan perlindungan bersama tim yang berbeda. Berbeda dengan pantai Batu Rumah, di pantai Warmamedi perlindungan sarang lebih fokus memakai perlindungan pagar karena suhu pasir di sana tidak terlalu tinggi seperti pantai lainnya dan ancaman di sana adalah predator seperti hewan babi, biawak ataupun anjing. Selain itu pantai Warmamedi juga memiliki pasir yang sangat lebar dan merupakan pantai dengan  jumlah kehadiran penyu yang sangat banyak. Kedua pantai yaitu Batu Rumah maupun Warmamedi memiliki pesona alam yang sangat indah ditambah dengan melakukan pekerjaan yang saya sukai membuat saya jatuh cinta dan nyaman berada disana. Hari demi hari saya jalani dengan bahagia dan rasa bersyukur tak terasa waktu begitu cepat berlalu hingga tiba pula di akhir musim teduh (Oktober 2022) dan saya beserta teman-teman yang lainnya pulang kembali ke Manokwari.

Pain membuat perlindungan sarang dengan pagar di Pantai Warmamedi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Warmamedi)

Pain dan tim membuat perlindungan sarang dengan daun pakis di Pantai Batu Rumah
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cerita dari lapang: Tantangan & Kepuasan Melakukan Relokasi Sarang Penyu di Pantai Jeen Syuab

Cerita dari lapang: Tantangan & Kepuasan Melakukan Relokasi Sarang Penyu di Pantai Jeen Syuab

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/tantangan-dan-kepuasan-melakukan-relokasi-sarang-penyu-di-pantai-jeen-syuab” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/tantangan-dan-kepuasan-melakukan-relokasi-sarang-penyu-di-pantai-jeen-syuab” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/tantangan-dan-kepuasan-melakukan-relokasi-sarang-penyu-di-pantai-jeen-syuab” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Tanggal

3 November 2022

Penulis

Osorio Mariano Sombatua Soares Embulaba

Tanggal

3 November 2022

Penulis

Osorio Mariano Sombatua Soares Embulaba

Perkenalkan nama saya Osorio Mariano Sombatua Soares Embulaba, biasa dipanggil Oso. Saya merupakan alumni dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Papua, Manokwari. Pada musim peneluran penyu belimbing periode pertengahan tahun 2022, saya berkesempatan bekerja sebagai tenaga magang pantai peneluran di Pantai Jeen Syuab. Ini menjadi pekerjaan pertama saya setelah lulus kuliah. Awal tiba di pantai saya langsung membantu kru (tim pemantauan dan perlindungan sarang) untuk melakukan relokasi sarang penyu. Perjalanan yang kami tempuh memang cukup jauh terlebih kami harus menggendong telur yang jumlahnya cukup banyak (satu sarang berkisar 50-100 butir telur) dan saat itu saya menggendong telur-telur dari dua sarang penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Pengalaman pertama yang saya dapat ini memberikan motivasi tersendiri bagi saya untuk semangat bekerja di pantai peneluran ini. Melakukan relokasi sarang menurut saya memiliki tantangan tersendiri dibanding kegiatan lain, karena dibutuhkan ketelitian yang sangat tinggi. Karena jika tidak dilakukan dengan teliti dan tidak sesuai standar maka dapat mempengaruhi kesuksesan penetasan telur dalam sarang tersebut. Walaupun demikian, relokasi sarang adalah kegiatan yang paling saya senang lakukan.

Osorio menggendong telur di bahu menggunakan wadah plastik
(Foto : S4C-LPPM UNIPA/Yusup Jentewo)

Osorio menggali sarang yang terancam air laut pasang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yusup Jentewo)

Beranjak ke hari berikutnya saya dan tim melakukan monitoring malam dan saat itulah pertama kali saya melihat penyu belimbing. Biarpun saya berkuliah di jurusan Ilmu Kelautan dan banyak belajar mengenai penyu khususnya secara teori namun secara praktek saya belum pernah melihat satwa ini secara langsung. Saya sangat takjub saat melihat penyu belimbing dengan ukuran yang sangat besar. Ketika indukan penyu itu bernafas terdengar seperti suara babi hutan menurut saya, terdengar berat. Selama melakukan monitoring malam ada banyak hal yang saya pelajari, mulai dari cara memasang dan scan Passive Integrated Transponder (PIT) tag yang baik dan benar, cara mengukur penyu, serta bagaimana memperlakukan penyu agar tidak terganggu ketika ingin bertelur.

Kegiatan lain yang saya lakukan bersama kru yaitu melakukan evaluasi sukses penetasan sarang di kandang relokasi ataupun di pantai. Pertama kali melakukan evaluasi saya agak terganggu dengan aroma yang berasal dari telur penyu ataupun tukik yang mati, namun seiring berjalannya waktu saya mulai terbiasa. Selain melakukan pekerjaan, saya juga sering memanfaatkan waktu luang untuk melakukan hal yang positif dan mampu menghilangkan rasa bosan di pantai. Waktu luang saya biasa diisi dengan membuat konten-konten foto dan video mengenai kegiatan di pantai, bercerita dengan masyarakat serta tenaga lokal, menonton film, karaoke dan lain-lain. Biasanya setelah melakukan kegiatan selama hampir seminggu, pada sabtu pagi atau sore kami akan pergi ke kampung Wau dan Weyaf untuk mengikuti ibadah pada hari minggu. Perjalanan kami menuju kampung biasa ditempuh selama kurang lebih 30 menit namun jika kekurangan tenaga untuk mendorong perahu biasanya kami berjalan kaki selama kurang lebih 2 jam. Hal tersebut karena perahu yang biasa kami pakai cukup berat dan pantai yang terjal membuat kami membutuhkan minimal lima orang untuk mendorong perahu ke bagian pantai yang aman dari terjangan ombak.

Osorio dan tim mendorong perahu
(Foto : S4C-LPPM UNIPA/Herman Ayomi)

Osorio mengevaluasi sarang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Herman Ayomi)

Kegiatan yang biasa saya lakukan bersama tim di kampung yaitu berbincang dengan masyarakat, bermain bersama anak-anak disana, bermain voli, bola kaki, berenang di pantai dan pergi ke kebun. Saya juga sering mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat kampung ataupun pendamping masyarakat yang juga berasal dari UNIPA. Ada banyak hal menarik yang saya lakukan dan alami selama bekerja kurang lebih empat bulan di pantai Jeen Syuab. Pengalaman itu misalnya berjalan menyeberangi kali, melihat perjuangan penyu untuk bertelur dan tukik untuk keluar dari sarang, mengalami kebaikan hati masyarakat yang ada di kampung Wau-Weyaf maupun di pantai Wermon. Dari sini saya dapat belajar bahwa “perjuangan” dan “kebebasan” itu benar adanya. Harapan saya kegiatan ini bisa terus berjalan dan mendapatkan terus dukungan dari banyak pihak serta bila terdapat kembali kesempatan saya sangat ingin kembali bergabung di tim pantai peneluran pada kesempatan lainnya. Sekian cerita dari saya dan terima kasih.

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/tantangan-dan-kepuasan-melakukan-relokasi-sarang-penyu-di-pantai-jeen-syuab” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/tantangan-dan-kepuasan-melakukan-relokasi-sarang-penyu-di-pantai-jeen-syuab” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/tantangan-dan-kepuasan-melakukan-relokasi-sarang-penyu-di-pantai-jeen-syuab” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Ikuti Survei

Bantu kami meningkatkan kualitas informasi hasil monitoring sosial dan ekologi di BLKB-Papua.

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Header website Berbagi cerita penyu

Noviyanti, Monica Arung Padang & Deasy Lontoh – Oktober 7, 2022

Foto Bersama panitia dan peserta hari 1

Abigail Lang, Noviyanti, Kartika Zohar dan Yusup Jentewo – Oktober 6, 2022

Categories
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Berawal dari Malang, berlanjut hingga Tambrauw : Inilah kisah salah satu penjaga penyu wanita di Pantai Wembrak

Berawal dari Malang, berlanjut hingga Tambrauw : Inilah kisah salah satu penjaga penyu wanita di Pantai Wembrak

Penulis

Ika Pebina Pinem

Tanggal

14 Oktober 2022

Ika berfoto bersama Penyu Belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Ika)

Halo perkenalkan saya Ika Pebina Pinem biasa dipanggil Ika. Saya dilahirkan Medan dan beberapa kali berpindah domisili di sekitar wilayah Sumatra dan Jawa. Saya lulusan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya di Malang, tempat pertama kali saya belajar dan tertarik mengenai penyu. Saya mulai mengenal konservasi penyu ketika saya melakukan magang di salah satu organisasi yang melakukan upaya tersebut di Bali. Setelah menyelesaikan magang saya tertarik untuk melanjutkan skripsi saya mengenai konservasi penyu, dan saya melakukan penelitian mengenai penyu hijau (Chelonia mydas) di daerah Sukabumi. Hal tersebut semakin membuka pikiran dan rasa ingin tahu saya tentang penyu, saya jadi memiliki suatu bucket list melihat dan ikut terlibat langsung dalam kegiatan konservasi penyu terbesar di dunia yaitu penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Sebenarnya, penyu tersebut dapat ditemui di Indonesia tepatnya di Kabupaten Tambrauw Provinsi Papua Barat akan tetapi saya belum tahu bagaimana dapat mengakses lokasi tersebut karena saya belum pernah menginjakkan kaki di tanah Papua.

Suatu waktu saat saya sedang santai scroll Instagram, saya pun melihat sebuah akun instagram @science4conservation dari LPPM Universitas Papua yang sedang membuka lowongan untuk posisi tenaga lapangan pada pantai peneluran penyu belimbing di Tambrauw. Tanpa berfikir panjang saya pun mendaftarkan diri dan akhirnya dinyatakan lulus sebagai tenaga lapangan. Awal dinyatakan lulus saya sedikit khawatir mengenai bagaimana situasi lingkungan di Papua, karena saya belum pernah mendatangi tempat tersebut dan juga karena hanya dua orang perempuan di daftar yang lolos sehingga menambah kekhawatiran saya. Tetapi karena besarnya keinginan untuk kesana dan melihat langsung penyu belimbing akhirnya saya banyak bertanya kepada ibu Deasy selaku koordinator pemantauan dan perlindungan penyu disana dan saya pun merasa yakin untuk memulai perjalanan saya dan bertemu raksasa berwajah lucu tersebut (entah mengapa semua penyu terlihat sangat menggemaskan di mata saya).

Bersama tim survei di Wembrak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Sesar)

Ika berfoto dengan tukik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Ika)

Saya pun akhirnya tiba di Manokwari Papua Barat, perasaan pertama yang saya rasakan pastinya super excited karena saya tiba ditempat baru yang sangat indah. Sebelum berangkat ke lapangan kita diberi pembekalan materi mengenai keadaan lapang dan pekerjaan yang akan dilakukan. Setelah semua persiapan selesai tim pun berangkat ke lapangan yang berlokasi di Distrik Tobouw. Semua yang saya lihat merupakan hal baru untuk saya, saya sangat menyukai lingkungan dan masyarakat yang ada di Kampung Resye, Womom dan Warmandi (tiga kampung yang berdekatan dengan pantai peneluran). Saya ditempatkan di pantai Wembrak, pada bulan pertama masih menjadi waktu untuk saya beradaptasi dengan semua hal yang ada disana akan tetapi lama-kelamaan saya mulai berbaur dengan semuanya. Banyak hal yang baru pertama kali saya lakukan selama di sana dan merupakan hal baru selama saya mengenal konservasi penyu, yaitu melakukan scan penyu dan memasangkan Passive Integrated Transponder (PIT) tag.

Disamping pekerjaan utama yang saya lakukan di sana seperti monitoring malam, perlindungan sarang, monitoring pagi, mengukur pasang surut dan evaluasi sarang, saya juga mengembangkan kemampuan memasak yang saya pelajari dari beberapa teman yang ada di sana. Saya mencoba hal baru yang belum pernah saya lakukan dimana merupakan kebiasaan yang selalu dilakukan masyarakat Papua yaitu makan pinang. Awalnya terasa sangat aneh, akan tetapi lama – kelamaan terasa enak. Kebiasaan yang sering dilakukan oleh orang-orang di pantai yaitu memasang jerat yang merupakan hal baru juga bagi saya. Beberapa kali saya ikut dengan teman tim di pantai untuk memeriksa jerat dan kami berhasil membawa pulang rusa dan babi hutan. Selama enam bulan lamanya saya ikut ambil bagian dalam tim ini. Banyak hal baru yang saya lakukan dan pastinya banyak pengalaman dan pelajaran berharga yang saya dapat. Satu persatu bucket list saya untuk mendatangi tempat konservasi penyu di dunia yang saya mulai dari Indonesia pun akhirnya terpenuhi dan saya berharap akan terus berlanjut.

Pengalaman pertama Ika mengunyah pinang dan sirih
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Ika)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Perempuan Abun Berperan dalam Melestarikan Penyu Belimbing

Perempuan Abun Berperan dalam Melestarikan Penyu Belimbing

Penulis

Yusup Jentewo, Deasy Lontoh

Tanggal

1 September 2022

Pada musim peneluran April-September 2022 ini, kaum perempuan yang tinggal di sekitar pantai peneluran Jeen Syuab turut terlibat bersama tim lapangan kami dalam melindungi sarang penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Kampung-kampung yang dimaksud adalah Kampung Wau dan Kampung Weyaf yang berada di Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw. Mereka membantu memindahkan sarang-sarang penyu belimbing yang terancam ke dalam kandang relokasi yang telah tersedia.

Ancaman utama bagi sarang penyu di Pantai Jeen Syuab adalah tumbuhan petatas pantai (Ipomoea sp.) yang memiliki akar yang mampu masuk ke dalam sarang penyu, menghisap nutrisi dalam telur-telur, dan membuat 95% telur penyu dari setiap sarang gagal menetas (baca selengkapnya di artikel sebelumnya tentang kandang relokasi)

Agustina Momo sedang memindahkan Sarang
ke dalam Kandang Relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Herman Ayomi)

Oktovina Jokson sedang memindahkan Sarang
ke dalam Kandang Relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Herman Ayomi)

Keterlibatan kaum perempuan sebagai tenaga relokasi sangat membantu tim di lapangan dalam mencapai target jumlah sarang yang dilindungi. Pembuatan kandang relokasi biasa dilakukan oleh kaum laki-laki, dan ketika waktunya mengisi sarang dalam kandang relokasi barulah perempuan ikut terlibat. Terdapat enam kandang relokasi yang dibuat di pantai Jeen Syuab. Setiap kandang relokasi rata-rata diisi oleh 5 orang, yakni 4 perempuan dan 1 laki-laki. Total terdapat 9 orang perempuan dan 7 orang laki-laki yang yang memindahkan sarang ke dalam keenam kandang relokasi, dan setiap perempuan yang terlibat membantu memindahkan sarang ke lebih dari satu kandang. Perempuan dalam memindahkan sarang biasanya bekerja secara berkelompok, dan mereka menunjukkan semangat yang tinggi. Dalam sehari kelompok perempuan ini dapat memindahkan 2 sampai 10 sarang penyu belimbing, yang dilakukan saat pagi atau siang hari dan kadang saat malam hari juga.

Para tenaga relokasi menerima upah per sarang yang mereka pindahkan. Upah yang diterima dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan keluarga, biaya sekolah,  atau kebutuhan keluarga lainnya. Melalui aktivitasnya para perempuan ini berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka dan berperan penting dalam upaya konservasi sumberdaya alam hayati di lingkungan sekitarnya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

MERAIH WISH DREAM DI TANAH PAPUA: Cerita Tenaga Magang Pantai Peneluran

MERAIH WISH DREAM DI TANAH PAPUA: Cerita Tenaga Magang Pantai Peneluran

Penulis

Fani Safitri

Tanggal

22 Juli 2022

Saya sangat bersyukur dapat bergabung sebagai tenaga magang di Program Sains untuk Konservasi, LPPM UNIPA (Universitas Papua). Awalnya saya mendapatkan informasi dari dosen pembimbing saya di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa di Provinsi Banten. Saya sangat bersemangat mendaftar karena saat kuliah saya sudah mengikuti beberapa acara dan program konservasi hewan-hewan langka. Melihat induk penyu juga menjadi bagian dari wish dream (harapan yang diimpikan) saya ketika lulus kuliah. Puji Tuhan, saya bisa terpilih menjadi salah satu tenaga magang di Pantai Jeen Yessa yaitu di bagian Pantai Wembrak.

Fani memegang Tukik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Ika Pebina)

Fani Bermain dengan Anak-anak
(Foto : LPPM UNIPA/Ika Pebina_S4C)

Saat turun lapangan saya melihat alam Papua yang sangat indah dan mempesona. Pertama kali melihat induk penyu belimbing saya cukup kaget karena ukurannya yang sangat besar dan karapasnya yang berbeda dari penyu lain. Selain itu, saya juga melihat induk penyu sisik, penyu hijau dan penyu lekang. Saya sangat takjub dengan cara induk penyu belimbing berjuang naik ke pantai, menggali sarang, bertelur, kamuflase dan kembali ke laut. Saya membantu melindungi sarang dengan naungan dari daun pakis, memindahkan sarang ke lokasi yang lebih aman dan ke kandang relokasi. Saya juga diajarkan cara membedakan jejak penyu, mengukur penyu, menggunakan alat scanner untuk membedakan penyu lama dan penyu baru dan cara menandai indukan penyu baru.

Selain kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang, saya juga diajarkan hal teknis lain seperti memakai parang, meruncingkan kayu dan bahkan saya sudah bisa menebang pohon. Saya juga berkesempatan melihat binatang lainnya seperti kanguru, burung rangkong, burung kakatua, ular putih dan lumba-lumba. Banyak sekali kenangan indah selama di lapangan. Ada pengalaman baru maupun persahabatan baru dengan kakak-kakak kru pemantauan penyu. Saya juga sangat senang dapat bercengkrama dengan masyarakat lokal di Kampung Resye dan Kampung Womom. Mereka sangat ramah dan antusias kepada kami para kru dan tenaga magang sehingga membuat satu kenangan indah yang susah untuk dilupakan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

BERJUANG MENJADI PRIBADI YANG BERGUNA DAN MENCINTAI ALAM PAPUA YANG KAYA AKAN SUMBER DAYA: Cerita Tenaga Magang Pantai Peneluran

BERJUANG MENJADI PRIBADI YANG BERGUNA DAN MENCINTAI ALAM PAPUA YANG KAYA AKAN SUMBER DAYA: Cerita Tenaga Magang Pantai Peneluran

Penulis

Hermanus Maklon Ayomi

Tanggal

20 Juli 2022

Nama saya Hermanus Maklon Ayomi, pemuda dari Serui Papua. Awal saya mendengar tentang penyu bermula dari cerita orangtua saya. Saya sangat tertarik untuk melihat penyu. Setelah saya kuliah di Jayapura baru saya mendengar lebih lanjut terkait penyu dan melihat gambarnya di internet. Salah satu jenis penyu, penyu belimbing, ternyata banyak bertelur di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Ketika ada perekrutan tenaga magang di tim pemantauan penyu dan perlindungan sarang dari Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA yang berkegiatan di pantai peneluran tersebut, saya langsung memasukan lamaran. Puji Tuhan saya diterima dalam posisi tersebut dalam jangka waktu kerja dua bulan (April-Juni 2022).

Herman (kanan) bersama tim pantai di Jeen Syuab
(Foto : S4C_LPPM UNIPAYonas Saidui)

Herman sedang merelokasi sarang ke kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yusup Jentewo)

Kami diberi pembekalan di Manokwari dan turun lokasi pada tanggal 22 April 2022 menggunakan kapal Sabuk Nusantara 112. Kami turun di Kampung Wau dan Weyaf dan kemudian saya bersama tim yang terdiri dari 1 koordinator pantai dan 1 tenaga lapangan melanjutkan perjalanan dengan perahu menuju pantai Jeen Syuab (atau dahulu disebut Wermon). Saat pertama kali melihat penyu belimbing secara langsung saya kaget karena ukurannya yang besar dan berwarna hitam. Namun setelah beberapa waktu memantau satwa ini dengan rutin, saya menjadi terbiasa. Tugas utama saya di Pantai Jeen Syuab adalah memindahkan sarang penyu belimbing yang terancam invasi akar petatas pantai (Ipomoea sp.) ke kandang relokasi dan melakukan patroli pagi bersama tim. Saya juga ikut membantu dalam patroli malam dalam memantau induk penyu yang naik bertelur.

Pantai Jeen Syuab memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Selain penyu kami melihat beberapa jenis burung dan hewan lain yang jarang kami temui di perkotaan. Yang paling saya sukai dari pekerjaan ini adalah memindahkan telur penyu belimbing. Bagi saya ada rasa tanggung jawab sebagai seorang yang dipercayakan penuh untuk pekerjaan ini. Tugas lain tetap saya kerjakan dengan senang hati. Saya tidak bermalas-malasan apalagi ketika anggota tim lain bekerja. Terakhir saya berpesan, mari jaga kitorang punya penyu bersama.

“Salam Anak Pasir Jeen Syuab”

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Kisah perjalanan menuju Pantai Peneluran Penyu Belimbing di Tambrauw

Kisah perjalanan menuju Pantai Peneluran Penyu Belimbing di Tambrauw

Penulis

Yusup Adrian Jentewo dan Deasy Lontoh

Tanggal

18 Mei 2022

Hari yang dinanti Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang LPPM Universitas Papua untuk berangkat ke pantai peneluran penyu belimbing di Tambrauw akhirnya tiba. Pada hari Jumat, 22 April 2022, mereka berangkat menggunakan kapal Sabuk Nusantara 112 rute Manokwari-Saukorem-Wanden-Waibem-Wau dan tujuh kampung lainnya di pesisir Tambrauw. Para anggota tim telah menyiapkan keberangkatan ini beberapa minggu sebelumnya dengan membeli stok bahan makanan, obat-obatan, bahan bakar minyak, dan peralatan kerja untuk digunakan saat bertugas di pantai. Meskipun kapal baru berangkat pada malam hari, namun sejak pagi anggota tim sudah mengangkut barang-barang yang akan dibawa ke pantai peneluran ke pelabuhan Manokwari. Mobil pick-up mereka siapkan untuk mengangkut barang-barang bawaan yang cukup banyak. Malam hari sekitar pukul 20.00 WIT, masing-masing anggota tim sudah siap dengan perlengkapan pribadi dan menuju ke pelabuhan. Walaupun saat itu Manokwari dilanda hujan namun tidak membuat surut semangat tim untuk berangkat. Total anggota tim yang berangkat sebanyak 14 orang ditambah 5 orang anggota Tim Pemberdayaan Masyarakat yang akan melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi kegiatan di lokasi yang sama. Sebagian penumpang kapal yang juga merupakan warga kampung di Tambrauw menyambut kami dengan sangat antusias. Mereka senang sekali melihat kami kembali bertugas di kampung. Tepat pukul 22.00 WIT, kapal Sabuk Nusantara 112 yang sering disebut tol laut, bertolak meninggalkan Manokwari.

Ben (sebelah kiri) dan Todu (sebelah kanan) sebelum berangkat
(Foto : Habema Monim/S4C_LPPM UNIPA)

Selain tim yang berangkat menggunakan kapal penumpang, dua orang anggota tim kami, Tonny Duwiri (akrab dipanggil ‘Todu’) dan Bernadus Duwit (akrab dipanggil ‘Ben’) berangkat menggunakan perahu mesin tempel. Sabtu, 23 April 2022 pukul 09.30 WIT, Todu dan Ben berangkat dari Amban Pantai, Manokwari. Dilengkapi dengan pelampung keselamatan dan alat komunikasi, Todu dan Ben menyusuri pesisir utara laut Papua Barat menuju Taman Pesisir Jeen Womom. Didukung oleh kondisi mesin dan cuaca yang sangat baik, perjalanan berhasil mereka tempuh sekitar 8 jam

Perahu Didorong Tim ke Laut
(Foto : Habema Monim/S4C_LPPM UNIPA)

“Those who love their job, will never work a day in their life!”

Todu bercerita bahwa ia sudah beberapa kali membawa perahu pulang pergi Manokwari-Tambrauw untuk pekerjaan ini. Baginya ini adalah tanggung jawab yang menantang. Karena medan yang cukup berat, banyak pelaut yang sering mencari ikan di wilayah pesisir Manokwari-Tambrauw tidak akan mengambil rute hingga wilayah TP Jeen Womom. Namun, Todu sadar bahwa keberadaan perahu ini sangat penting. Perahu harus selalu ada untuk alat transportasi tim secara lokal selama melakukan kegiatan Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang. Terkadang perahu ini dibutuhkan sebagai alat transportasi darurat oleh seluruh anggota tim Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA yang bertugas di TP Jeen Womom.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Berbagi Cerita Proses Seleksi Staf baru Program Sains untuk Konservasi

Berbagi Cerita Proses Seleksi Staf baru Program Sains untuk Konservasi

Penulis

Noviyanti & Naqliya Arum Permata

Tanggal

28 April 2022

Program Sains untuk Konservasi melalui Lembaga Penelitian dan dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua adalah sebuah program yang bertujuan menjadi pusat data dan informasi yang mendukung proses pengambilan kebijakan untuk pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua. Pada tanggal 24 Februari 2022 Program Sains untuk Konservasi membuka lowongan kerja bagi lulusan D3 hingga S2 untuk terlibat dalam pelaporan kegiatan monitoring di Bentang Laut Kepala Burung-Papua dan melakukan upaya konservasi penyu belimbing yang holistik di Kabupaten Tambrauw.

Salah satu kegiatan saat seleksi training PMNH
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Terdapat 8 jenis lowongan kerja yang dibuka, diantaranya adalah Asisten Koordinator Program Komunikasi (AKPK), Tenaga Pengemasan dan Pemasaran Produk (TP3), Program Development Assistant (PDA), Tenaga Magang Pantai Peneluran (TMP2), Asisten Koordinator Penelitian (AKP), Koordinator Pantai Peneluran (KP2), Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) dan juga Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2). Beberapa lowongan kerja ini sendiri dapat dilihat pada laman Website kami yaitu www.science4conservation.com. Terhitung sejak tanggal 24 Februari 2022 Website kami, terutama pada halaman lowongan kerja sudah dilihat lebih dari 2000 kali. Kami juga mempromosikan lowongan kerja tersebut melalui beberapa akun sosial media kami.

Penandatanganan Kontrak Kerja PMNH
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pada hari terakhir penerimaan berkas, yaitu tanggal 5 Maret 2022, kami menerima total 317 berkas pelamar. Kemudian pada tanggal 14 – 15 Maret 2022, dilakukan seleksi wawancara bagi pelamar yang lolos pada seleksi berkas. Total jumlah pelamar yang diundang mengikuti seleksi tahap wawancara adalah 102 pelamar. Proses wawancara ini sendiri dilakukan secara daring menggunakan platform Zoom. Namun ada beberapa pelamar yang diwawancarai menggunakan platform WhatsApp Video call karena berada di lokasi yang jaringan internetnya kurang mendukung untuk wawancara melalui Zoom.

Posisi lowongan kerja yang dibukaJumlah Berkas yang diterimaJumlah Pelamar yang lolos seleksi administrasi Jumlah pelamar yang lolos seleksi wawancara & training
Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH)59229
Program Development Assistan (PDA)1741
Asisten Koordinator Penelitian (AKP)5381
Koordinator Pantai Peneluran (KP2)42115
Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2)65166
Tenaga Magang Pantai Peneluran (TMP2)26219
Asisten Koordinator Program Komunikasi (AKPK)47161
Tenaga Pengemasan dan Pemasaran Produk (TP3)841
Total31710233

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Berbagi Cerita Proses Seleksi Staf baru Program Sains untuk Konservasi

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/berbagi-cerita-proses-seleksi-staf-baru-program-sains-untuk-konservasi” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/berbagi-cerita-proses-seleksi-staf-baru-program-sains-untuk-konservasi” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/berbagi-cerita-proses-seleksi-staf-baru-program-sains-untuk-konservasi” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Tanggal

28 April 2022

Penulis

Noviyanti & Naqliya Arum Permata

Tanggal

28 April 2022

Penulis

Noviyanti & Naqliya Arum Permata

Program Sains untuk Konservasi melalui Lembaga Penelitian dan dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua adalah sebuah program yang bertujuan menjadi pusat data dan informasi yang mendukung proses pengambilan kebijakan untuk pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua. Pada tanggal 24 Februari 2022 Program Sains untuk Konservasi membuka lowongan kerja bagi lulusan D3 hingga S2 untuk terlibat dalam pelaporan kegiatan monitoring di Bentang Laut Kepala Burung-Papua dan melakukan upaya konservasi penyu belimbing yang holistik di Kabupaten Tambrauw.

Salah satu kegiatan saat seleksi training PMNH
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Terdapat 8 jenis lowongan kerja yang dibuka, diantaranya adalah Asisten Koordinator Program Komunikasi (AKPK), Tenaga Pengemasan dan Pemasaran Produk (TP3), Program Development Assistant (PDA), Tenaga Magang Pantai Peneluran (TMP2), Asisten Koordinator Penelitian (AKP), Koordinator Pantai Peneluran (KP2), Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) dan juga Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2). Beberapa lowongan kerja ini sendiri dapat dilihat pada laman Website kami yaitu www.science4conservation.com. Terhitung sejak tanggal 24 Februari 2022 Website kami, terutama pada halaman lowongan kerja sudah dilihat lebih dari 2000 kali. Kami juga mempromosikan lowongan kerja tersebut melalui beberapa akun sosial media kami.

Penandatanganan Kontrak Kerja PMNH
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pada hari terakhir penerimaan berkas, yaitu tanggal 5 Maret 2022, kami menerima total 317 berkas pelamar. Kemudian pada tanggal 14 – 15 Maret 2022, dilakukan seleksi wawancara bagi pelamar yang lolos pada seleksi berkas. Total jumlah pelamar yang diundang mengikuti seleksi tahap wawancara adalah 102 pelamar. Proses wawancara ini sendiri dilakukan secara daring menggunakan platform Zoom. Namun ada beberapa pelamar yang diwawancarai menggunakan platform WhatsApp Video call karena berada di lokasi yang jaringan internetnya kurang mendukung untuk wawancara melalui Zoom.

Posisi lowongan kerja yang dibukaJumlah Berkas yang diterimaJumlah Pelamar yang lolos seleksi administrasi Jumlah pelamar yang lolos seleksi wawancara & training
Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH)59229
Program Development Assistan (PDA)1741
Asisten Koordinator Penelitian (AKP)5381
Koordinator Pantai Peneluran (KP2)42115
Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2)65166
Tenaga Magang Pantai Peneluran (TMP2)26219
Asisten Koordinator Program Komunikasi (AKPK)47161
Tenaga Pengemasan dan Pemasaran Produk (TP3)841
Total31710233
NoPosisi lowongan kerja yang dibukaJumlah Berkas yang diterimaJumlah Pelamar yang lolos seleksi administrasi Jumlah pelamar yang lolos seleksi wawancara & training
1Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH)59229
2Program Development Assistan (PDA)1741
3Asisten Koordinator Penelitian (AKP)5381
4Koordinator Pantai Peneluran (KP2)42115
5Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2)65166
6Tenaga Magang Pantai Peneluran (TMP2)26219
7Asisten Koordinator Program Komunikasi (AKPK)47161
8Tenaga Pengemasan dan Pemasaran Produk (TP3)841
Total31710233

Khusus untuk PMNH, setelah melalui tahap seleksi wawancara mereka lanjut ke tahap pelatihan. Terdapat 13 peserta pelatihan PMNH yang dinyatakan lolos pada tahap seleksi wawancara dan 9 orang diantaranya lolos tahap pelatihan. Kegiatan pelatihan dilakukan 4 hari pada tanggal 22 – 24 dan 28 Maret 2022. Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk memperkenalkan kepada PMNH tujuan kegiatan dan membekali mereka keahlian spesifik yang mereka butuhkan selama berada di lapangan.

Beberapa materi yang disampaikan antara lain: latar belakang Program Sains untuk Konservasi, memperkenalkan penyu dan upaya konservasi yang dilakukan di TP Jeen Womom, gambaran umum program pemberdayaan masyarakat di Kab. Tambrauw, teknik mengajar calistung, bahasa inggris, komputer dan pendidikan lingkungan hidup kepada anak-anak, pembuatan minyak kelapa yang bersih, pelaporan dan pelaksanaan monitoring dan evaluasi kegiatan.

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/berbagi-cerita-proses-seleksi-staf-baru-program-sains-untuk-konservasi” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]
[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/berbagi-cerita-proses-seleksi-staf-baru-program-sains-untuk-konservasi” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]
[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/berbagi-cerita-proses-seleksi-staf-baru-program-sains-untuk-konservasi” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Ikuti Survei

Bantu kami meningkatkan kualitas informasi hasil monitoring sosial dan ekologi di BLKB-Papua.

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Categories
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Mari Bertemu Para Penjaga Penyu di Pantai Jeen Yessa!

Mari Bertemu Para Penjaga Penyu di Pantai Jeen Yessa!

Penulis

Deasy Lontoh

Tanggal

16 Agustus 2021

Pantai Jeen Yessa (dulu: Jamursba Medi) merupakan habitat peneluran penting bagi penyu di Kepala Burung Papua Barat. Setiap tahun lebih dari 2000 sarang penyu dapat ditemukan di sepanjang 18 km pantai Jeen Yessa. Namun 30 tahun lalu, kita bisa temukan puluhan ribu sarang penyu di Jeen Yessa.

Tim Program Sains untuk Konservasi (S4C) LPPM UNIPA yang terdiri dari alumni-alumni UNIPA, pemilik pantai dan anggota masyarakat lokal bersama-sama menjaga agar penyu tetap lestari di pantai Jeen Yessa. Mereka melarang pengambilan penyu dan sarangnya dan melindungi sarang-sarang dari berbagai ancaman agar produksi tukik banyak sehingga populasi penyu tetap terjaga di masa depan. 

Sarang-sarang penyu yang terancam suhu pasir yang panas dinaungi dan yang terancam hewan pemangsa dipagari. Tim S4C juga bekerjasama dengan masyarakat lokal yang mahir memasang jerat untuk menangkap babi, pemangsa sarang penyu yang utama. Kerjasama ini membuahkan hasil yang baik. Jumlah sarang penyu yang dimangsa berkurang dan menghasilkan banyak tukik.

Kru dan Tenaga Lokal Pantai Batu Rumah
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fiktor Dori)

Kru dan tenaga lokal Pantai Wembrak.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Nataniel Arwam)

Bapak Mesak Yekwam membaca nomor identitas penyu.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fiktor Dori)

Kru dan tenaga lokal Pantai Warmamedi.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fiktor Dori)

Bulan Juli hingga September adalah musim penetasan bagi penyu belimbing. Setelah beberapa bulan melindungi sarang-sarang penyu belimbing para penjaga penyu melihat hasil dari kerja keras mereka.

Pantai Jeen Yessa merupakan bagian dari kawasan konservasi Taman Pesisir Jeen Womom jadi penyu dan sarang-sarangnya dilindungi UU. Tapi penyu-penyu yang bertelur di pantai Jeen Yessa juga bertelur di pantai-pantai lain di Kepala Burung dan menjelajahi wilayah perairan Papua Barat yang bukan kawasan konservasi. Ini kesempatan bagi sobat S4C untuk turut membantu menjaga penyu. Bila ada penyu yang berkunjung ke pantai dan perairan dekat tempat tinggal sobat S4C, tolong dijaga ya!

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya