Categories
Belum Publish

Sharing is Caring: Ketika Cerita Raja Ampat berlayar ke Wau-Weyaf

Sharing is Caring: Ketika Cerita Raja Ampat Berlayar ke Wau-Weyaf

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

21 Agustus 2026

Pagi itu, Kamis, 6 Agustus 2026, Balai Kampung Wau menjadi tempat masyarakat Kampung Wau dan Weyaf berkumpul bersama Program Sains untuk Konservasi (S4C) LPPM Universitas Papua. Melalui kisah yang dibagikan, mereka diajak sejenak “berkunjung” ke Raja Ampat, salah satu ikon konservasi laut dunia.

Kegiatan bertajuk “Sharing is Caring: Berbagi Cerita Konservasi dari Raja Ampat dan Pelatihan Ecoprint” ini digelar sebagai bagian dari program Penguatan Konservasi Penyu dan Terumbu Karang Berbasis Masyarakat di Bentang Laut Kepala Burung. Tujuannya sederhana namun mendalam, yaitu menghubungkan pengalaman keberhasilan konservasi di satu ujung Kepala Burung dengan semangat menjaga alam di ujung yang lain. 

Pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang didukung oleh Program TFCCA. Program TFCCA (Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act) merupakan program kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat yang didukung oleh Konservasi Indonesia (KI) serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dalam upaya konservasi ekosistem terumbu karang guna mendukung kesejahteraan masyarakat. 

Belajar dari Konservasi di Raja Ampat, untuk Wau dan Weyaf

Raja Ampat telah lama dikenal sebagai jantung keanekaragaman hayati laut dunia. Di balik terumbu karang yang memukau, ada kisah masyarakat adat yang menjaga laut mereka lewat tradisi turun-temurun, dan perempuan-perempuan yang membuktikan bahwa pengelolaan sumber daya alam secara adat bisa berjalan beriringan dengan kesejahteraan ekonomi.

Kisah-kisah itulah yang dibawa ke Kampung Weyaf dan Kampung Wau melalui sesi berbagi cerita bersama Ibu Meity Mongdong, pemerhati konservasi lingkungan dan kelautan di Bentang Laut Kepala Burung Papua. Ia membuka cerita dengan mengingatkan bahwa apa yang terjadi di Raja Ampat sesungguhnya “sama dengan di Tambrauw”, seperti hutan yang masih utuh, laut yang masih kaya, tetapi juga menghadapi ancaman yang serupa: pembukaan lahan, penebangan liar, hingga tekanan terhadap sumber daya pesisir.

Ibu Meity berbagi cerita konservasi dari Raja Ampat
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Ibu Meity berbagi cerita konservasi dari Raja Ampat
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Ibu Meity membawa anggota masyarakat yang hadir untuk menelusuri perjalanan panjang Raja Ampat sejak kawasan konservasi pertama dibentuk pada 2007, awalnya untuk melindungi sumber daya ikan masyarakat, yang kemudian membawa “bonus” berupa pariwisata berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya monitoring dan peningkatan kapasitas masyarakat secara terus-menerus. Dengan cara yang sederhana, ia juga menjelaskan mengapa ikan besar begitu berharga: satu ekor ikan berukuran 36 cm memberi kontribusi bibit yang setara dengan 20 ekor ikan berukuran 18 cm. Karena itu, induk-induk besar merupakan aset penting bagi pemulihan stok ikan, bukan target tangkapan.

Ia juga membagikan hasil nyata dari penguatan penegakan hukum dan kepatuhan di Raja Ampat. Patroli gabungan yang melibatkan Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah (BLUD UPTD) Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Kepulauan Raja Ampat, masyarakat, dan kepolisian dilakukan sedikitnya 10 kali setiap bulan dan telah berkontribusi pada penurunan praktik overfishing hingga 90%. Tingkat kepatuhan di kawasan konservasi perairan pun mencapai 89,9%, sementara nelayan lokal kini menyumbang 85% dari total tangkapan di wilayah mereka sendiri.

Raja Ampat menunjukkan bagaimana kekayaan alam yang terjaga dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting bagi Tambrauw, yang memiliki potensi serupa untuk dikembangkan secara berkelanjutan.

Di Tambrauw, potensi tersebut antara lain mencakup wisata burung dengan kekayaan spesies seperti cenderawasih, maleo, kakatua, julang, dan kasuari; wisata budaya yang menawarkan kekayaan sejarah, tradisi, dan kehidupan masyarakat; serta wisata berbasis konservasi penyu dan ekosistem pesisir. Namun, Ibu Meity juga mengingatkan bahwa seluruh potensi tersebut hanya dapat berkembang jika ekosistem tetap sehat dan masyarakat siap mengambil peran.

Perburuan liar, pembalakan, pemboman ikan, dan penggunaan racun sianida masih menjadi ancaman yang perlu dihentikan. Karena itu, pengembangan pariwisata di Tambrauw perlu berjalan seiring dengan penguatan konservasi dan penegakan hukum, sekaligus peningkatan kapasitas masyarakat agar dapat berperan sebagai pemandu, pelaku usaha, dan pengelola wisata di wilayahnya sendiri. Ibu Meity berpesan bahwa konservasi dan pariwisata di Tambrauw perlu berjalan bersamaan, ketika menjaga alam itu sekaligus membuka peluang ekonomi.

Diskusi tentang potensi alam di Kampung Wau dan Weyaf
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Sesi diskusi bersama Ibu Meity
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Sesi ini ditutup dengan diskusi hangat bersama warga Wau dan Weyaf, yang sehari-hari hidup berdampingan dengan habitat peneluran penyu. Pengalaman Raja Ampat menjadi cermin bahwa aturan dan penegakan hukum itu penting, tapi keterlibatan aktif masyarakat yang hidup paling dekat dengan alam yang membuatnya bertahan. Bagi Wau dan Weyaf, pesan ini menjadi penting: konservasi akan lebih berkelanjutan ketika masyarakat menjadi bagian dari penjaga sekaligus penerima manfaat dari kekayaan alam di kampung mereka sendiri.

Pelatihan Ecoprint

Setelah cerita, giliran tangan yang bekerja. Bersama fasilitator, Ibu Bertha Matatar, warga diperkenalkan pada ecoprint – dari kata “eco” (alam/ekosistem) dan “print” (mencetak). Ecoprint merupakan teknik mewarnai dan membuat motif pada kain menggunakan bahan-bahan alami di sekitar kita. Prosesnya mirip dengan pembuatan batik, tetapi sepenuhnya memanfaatkan unsur alam, seperti dedaunan, bunga, batang, bahkan ranting, tanpa bahan sintetis atau kimia yang dapat merusak lingkungan.

Ibu Bertha mengenalkan beberapa teknik dasar ecoprint. Dalam pelatihan di Wau-Weyaf, ia secara khusus mengajarkan teknik blanket, yaitu teknik mencetak motif menggunakan dua lembar kain sekaligus. Satu lembar digunakan sebagai kain utama, sedangkan lembar lainnya menjadi “kain blanket” atau kain selimut yang membantu menjaga tekanan warna selama proses pemasakan.

Tahapan yang dipraktikkan warga cukup panjang dan membutuhkan ketelitian. Bahan pewarna yang dipakai bermacam-macam sesuai apa yang tersedia di sekitar kampung,  mulai dari daun mangrove yang menghasilkan corak hijau-kehitaman, daun jati dan daun mangga yang memberi corak kuning-oranye, hingga daun “lanang” untuk sentuhan warna lain. Setiap lembar kain yang dihasilkan pun unik, tidak ada satu motif yang benar-benar sama dengan yang lain, karena bentuk dan susunan daun setiap orang berbeda.

Proses penyusunan daun untuk pola
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Proses penyusunan daun untuk pola
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Ibu Bertha juga menunjukkan bahwa ecoprint bukan sekadar kerajinan tangan biasa. Hasilnya dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai jual, seperti tas, dompet, sepatu, syal, hingga sarung botol minum. Kerajinan ini membuka potensi ekonomi kreatif yang dapat terus dikembangkan oleh masyarakat Wau-Weyaf ke depannya.

Dalam paparan Ibu Meity, ecoprint disebut sebagai salah satu contoh nyata ‘ekonomi lainnya dari pariwisata’ yang telah tumbuh di Raja Ampat, berdampingan dengan produk berbasis alam lain seperti VCO (Virgin Coconut Oil ), minyak pijat, dan abon ikan. Ini menjadi pengingat sederhana bahwa alam di sekitar kampung jika dijaga bisa jadi sumber penghidupan jangka panjang.

Di penghujung kegiatan, ibu-ibu berfoto bersama hasil karya ecoprint yang mereka buat selama pelatihan. Kain-kain dengan corak daun jati, bunga, daun ubi, dan daun mangga yang tumbuh di pesisir Wau-Weyaf menjadi bukti kreativitas warga setelah melalui rangkaian proses mulai dari mordanting, penyusunan motif, pengukusan, hingga fiksasi yang dilakukan selama beberapa hari. Di sela-sela itu, muncul diskusi kecil tentang potensi pengembangan produk ke depan, mulai dari taplak meja hingga pembuatan seragam ibu-ibu PW (Persekutuan Wanita), sekaligus menjadi ruang evaluasi untuk memperbaiki kegiatan serupa di masa mendatang.

Tahapan mordanting (perendaman dengan tawas)
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Hasil ecoprint
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Ibu Dorlince Bame, salah satu peserta menyampaikan bahwa akan mencoba mengulangi teknik ecoprint dengan menggunakan daun lain yang ada di sekitar rumahnya. Bagi S4C LPPM UNIPA sendiri, kegiatan ini menjadi pijakan awal sebelum program pendampingan lanjutan dilakukan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Lowongan Kerja Lowongan Kerja New Template

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Kedua PMNH Periode Kedua Tahun 2026​

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Kedua PMNH Periode Kedua Tahun 2026

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah mengikuti tahap seleksi wawancara Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) pada tanggal 22 Januari 2026. Berikut kami sampaikan nama-nama yang pelamar yang telah LOLOS Seleksi Tahap 2. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

1. Daftar nama tersebut akan dihubungi secara personal untuk datang tanda tangan kontrak di
kantor pada hari Rabu, 17 Juni 2026.

2. Pelaksanaan Training akan dilakukan di kantor Sains untuk Konservasi di Manokwari, Papua
Barat.

3. Kandidat pelamar PMNH diundang ke Manokwari untuk mengikuti Training yang akan
dilaksanakan pada tanggal 17-19 Juni 2026.

4. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836.

Sampai bertemu di Manokwari!

Categories
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring New Template

“Setuju Sekali!”: Awal Mimpi Om Jen untuk Menjaga Laut Namatota

“Setuju Sekali!”: Awal Mimpi Om Jen untuk Menjaga Laut Namatota

Penulis

Habema Monim

Tanggal

09 Juni 2026

“Ma… kalau saya jadi dive master dan jadi dive guide, Mama setuju kah tidak?”
“Setuju sekali!”

Itulah sepenggal percakapan hangat antara sepasang suami istri di sebuah rumah sederhana di pesisir Kampung Namatota, Kaimana. Percakapan yang menjadi awal dari sebuah mimpi besar.

Selama lima hari, pada 15 – 19 April 2026, saya bersama tim melaksanakan kegiatan monitoring kesehatan karang atau yang dikenal sebagai Reef Health Monitoring (RHM) di perairan sekitar Kampung Namatota. Tim kami terdiri dari empat tenaga ahli dan lima tenaga lokal. Salah satu  tenaga lokal adalah Jen, yang akrab disapa Om Jen.

Om Jen saat terlibat dalam briefing tim
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Foto bersama om Jen dan tim RHM
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Om Jen merupakan salah seorang penyelam dari kelompok POKDARWIS (Kelompok Sadar Wisata) yang dibentuk di Kampung Namatota. Ini adalah pertama kalinya ia terlibat dalam kegiatan RHM (Reef Health Monitoring). Pengalaman tersebut memberinya banyak pelajaran baru, meskipun tidak tanpa tantangan.

“Awalnya saya takut salah,” ujar Om Jen. “Saya juga masih takut menyelam di tempat baru, apalagi yang dalam dan ada gua. Tapi justru itu jadi pengalaman yang baik untuk saya.”

Rasa takut itu perlahan berubah menjadi semangat belajar. Saat saya menanyakan harapannya ke depan, Om Jen menyampaikan keinginannya dengan penuh antusias. “Pertama, saya ingin menyelam lebih baik lagi, karena saya rasa masih kurang,” ujarnya. “Saya juga lihat kakak-kakak pegang kamera, foto dan video di bawah laut. Saya ingin ke depan bisa begitu juga, bisa mendokumentasikan keindahan bawah laut Namatota.”

Om Jen saat membantu tim dalam pengisian tabung
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Om Jen saat bersiap untuk melakukan penyelaman
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Ia juga menceritakan pengalamannya saat menyelam bersama salah satu anggota tim. “Selama menyelam, saya selalu buddy dengan Kakak Bema. Dia selalu pegang papan tulis, ada kertas dan di kertas itu ada tulisan tapi ada kotak-kotak juga di dalamnya, lalu Kakak Bema selalu mencatat. Saya sering intip dari belakang dan penasaran, apa yang dicatat. Jadi, saya juga ingin bisa belajar mencatat data seperti itu. Sekarang saya memang hanya gulung-gulung transek saja, tapi kalau ada RHM lagi, saya tidak hanya lihat-lihat lagi, tidak gulung-gulung transek saja tapi bisa ikut ambil data.”

Lebih dari itu, Om Jen memiliki cita-cita yang besar, yaitu menjadi seorang dive master bersertifikat resmi. Baginya, sertifikasi bukan hanya sekadar pengakuan, tetapi juga sebuah peluang. “Kalau saya sudah punya sertifikat, saya bisa jadi guide, bisa foto-foto bawah laut, bisa ambil data. Kalau ada kapal wisata datang, saya juga bisa ikut sebagai guide.”

Saat ditanya pesannya untuk rekan-rekan lain di kampungnya, Om Jen menjawab dengan tegas namun penuh harapan. “Jangan jadi penonton saja. Ini tempat kita, ini laut kita. Kakak-kakak yang datang ini membantu mengangkat potensi tempat kita. Setelah itu, tugas kita yang kelola. Jadi mari kita belajar dari pengalaman yang ada dan bergerak maju.”

Om Jen saat membantu tim memasang transek pengamatan
(Foto : BBTNTC/Mulyadi)

Om Jen saat membantu tim memasang transek pengamatan
(Foto : BBTNTC/Mulyadi)

Di akhir percakapan, Om Jen kembali mengingat momen sederhana yang justru menjadi sumber motivasi terbesarnya. “Satu kali saya duduk di teras rumah dengan maitua (istri). Lalu saya tanya, Ma… kalau saya jadi dive master dan jadi guide, mama setuju kah tidak? Dan dia jawab, setuju sekali!”. Jawaban singkat itu menjadi dorongan besar bagi Om Jen untuk terus melangkah, mengejar mimpi, dan tumbuh bersama laut yang telah menjadi bagian dari hidupnya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Lowongan Kerja Lowongan Kerja New Template

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Pertama PMNH Periode Kedua Tahun 2026

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Pertama PMNH Periode Kedua Tahun 2026

 

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Tahap Pertama. Dari hasil seleksi tersebut 20 pelamar dinyatakan LULUS. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri tahap seleksi selanjutnya, harap diperiksa dengan saksama. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Wawancara dilaksanakan secara offline (bagi yang berdomisili di Manokwari) atau online (bagi
yang berdomisili di luar Manokwari) melalui zoom pada hari Selasa, 09 Juni 2026.

2. Peserta diharapkan telah hadir 10 menit sebelum waktu wawancara (link zoom dan waktu
menyusul).

3. Teknis pelaksanaan wawancara akan disampaikan melalui WAG sehingga pastikan anda telah tergabung dalam WAG yang diperoleh ketika mendaftar pertama kali.

4. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya

Categories
New Template Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Resye dan Womom

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Resye dan Womom

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

30 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Semangat belajar tidak hanya hadir di Kampung Wau dan Weyaf,  Klik disini untuk membaca cerita pelatihan di Kampung Wau dan Weyaf. Pada bagian terakhir ini, cerita berlanjut ke Kampung Resye dan Womom, lalu ditutup dengan refleksi tentang kerja keras, ketekunan, dan harapan yang lahir dari proses sederhana.

Sementara kami di Kampung Wau dan Weyaf sibuk dengan pelatihan, tim lain bergerak di Kampung Resye dan Womom. Mereka memulai pada tanggal 17 Maret 2026, dengan jumlah peserta 9 orang yang terdiri dari ibu-ibu dan remaja perempuan. Saya tidak berada di sana secara langsung, tetapi dari update yang masuk, semangat peserta tidak kalah besar.

Hermina Langoday pelatih amigurumi di Kampung Resye sedang menghitung jumlah anyaman amigurumi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Potrosina Daunema)

Ibu Bastian Yekwam sedang menyulam
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Potrosina Daunema)

“Mereka juga mengalami kesulitan di awal,” kata Ina, PMNH yang melatih membuat amigurumi, saat kami berkomunikasi lewat WhatsApp. “Tetapi setelah beberapa kali mencoba, mulai ada yang menangkap polanya.”

Meskipun tim monev tidak dapat tiba di Kampung Resye dan Womom karena cuaca laut yang buruk, kegiatan pelatihan amigurumi penyu berhasil dilakukan. Proses pendampingan di lapangan masih terus dilakukan, tim PMNH setempat rutin mengunjungi para peserta untuk melihat perkembangan dan memberi koreksi jika ada yang lupa tahapannya.

Sampai pada akhir Maret ini, kami menghitung berapa banyak yang benar-benar berhasil menyelesaikan satu amigurumi penyu utuh dari awal hingga akhir. Kami menghitung bersama: untuk lokasi Kampung Wau dan Weyaf ada 2 orang yang berhasil menyelesaikan amigurumi penyu pertama mereka. Sedangkan di lokasi Kampung Resye dan Womom, lima orang ibu dan remaja perempuan berhasil. Mereka masing-masing lalu berfoto sambil memegang gantungan kunci amigurumi penyu hasil karya sendiri dengan bangga.

Kerajinan tangan sering dianggap remeh oleh sebagian orang. Tetapi di kampung-kampung terpencil seperti Wau, Weyaf, Resye, dan Womom, amigurumi bukan sekadar hobi. Ini adalah pintu kecil menuju kemandirian ekonomi. Setiap tusukan benang bisa menjadi awal dari penghasilan tambahan. Setiap penyu yang selesai adalah bukti bahwa mereka bisa menciptakan sesuatu yang bernilai.

Bastiana Yekwam di Kampung Womom yang berhasil membuat amigurumi pertamanya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Hermina Langoday)

Ibu Vince Yeum di Kampung Resye yang berhasil membuat amigurumi pertamanya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Hermina Langoday)

Saat malam hari ketika kami bersiap untuk perjalanan kembali ke Manokwari besok pagi dengan kapal, Maria mendekati saya dan berkata, “Ibu-ibu ini luar biasa. Bahkan ketika hari sudah gelap dan tidak ada penerangan yang baik, mereka tetap melanjutkan amigurumi-nya. Dan akhirnya mereka selesai. Ternyata mereka gigih.”

Saya mengangguk. Usaha tidak menghianati hasil, itulah yang saya tulis dalam catatan kecil saya malam itu. Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa ketekunan tidak mengenal medan. Ketekunan menemukan jalannya, meskipun harus dimulai dari sebuah cincin ajaib dan tusuk tunggal.

Dari goyangan Kapal Sabuk Nusantara 112 yang menguji nyali, gelombang yang membuat kami mabuk laut, hingga senyum bangga para perempuan saat menyelesaikan amigurumi pertama mereka, semua terasa berarti. Meskipun ini tahun ketiga belas saya melayani dan melakukan perjalanan ke lokasi-lokasi ini, selalu ada cerita yang berbeda dari setiap perjalanan yang saya lakukan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
New Template Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Wau dan Weyaf

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Wau dan Weyaf

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

22 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Setelah perjalanan yang menantang dari Manokwari menuju Tambrauw, tim yang akan memberi pelatihan Amigurumi bersiap memulai pelatihan. Pada bagian ini, kita melihat bagaimana para peserta di Kampung Wau dan Weyaf belajar dari nol, menghadapi kesulitan, lalu perlahan menunjukkan ketekunan yang luar biasa. Klik disini untuk membaca bagian awal perjalanan tim menuju lokasi agar cerita ini terasa lebih utuh.

Pagi itu, langit masih mendung. Namun, Balai Kampung Wau mulai ramai dengan kedatangan para peserta. Saya menghitung satu per satu: 21 orang ibu-ibu dan remaja perempuan datang dengan langkah penuh rasa ingin tahu. Ada yang membawa anak kecil di gendongan, ada yang datang bersama tetangganya sambil tertawa kecil. Mereka duduk di kursi-kursi plastik yang telah kami atur sebelumnya. Beberapa dari mereka bahkan belum pernah memegang jarum rajut seumur hidup.

Maria memulai dengan sabar. “Ini namanya magic ring,” katanya sambil memperagakan. “Ini fondasi awal untuk merajut. Kalau cincin ajaib ini sudah kuat, nanti penyu kita bisa berdiri dengan bagus.”

Maria pelatih Amigurumi sedang menjelaskan cara membuat magic ring kepada seorang ibu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Proses pembuatan magic ring
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Ibu-ibu mengamati dengan serius. Ada yang mengerutkan kening, ada yang maju mendekat agar lebih jelas. Satu per satu mereka mencoba. Beberapa kali benang terlepas, simpul kendor, bahkan ada yang tertawa karena jari-jarinya terasa kaku.

“Ibu, santai saja,” kata Maria sambil membetulkan posisi kait (hook) di tangan seorang peserta. “Ini latihan, tidak perlu terburu-buru.”

Hari pertama diisi dengan latihan magic ring dan tusuk tunggal (single crochet). Prosesnya pelan, penuh koreksi, tapi semuanya serius. Saya melihat salah satu ibu bernama Ibu Flirce Bonsapia terus mengulang-ulang meskipun tangannya sudah sedikit gemetar. “Saya tidak mau menyerah,” katanya.

Maria yang sedang menunjukan hitungan magic ring kepada Mama Jack
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Maria sedang menghitung jahitan Mama Maria
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Tidak semua peserta berhasil menguasai magic ring di pelatihan hari ini, tetapi mereka bersepakat untuk melanjutkan sore hari di rumah belajar. “Tidak apa-apa, yang penting belajar,” kata Mama Jack sambil merapikan benangnya. Kami kemudian bubar dan pulang ketika jarum jam menunjukkan pukul 14.25 WIT.

Hari kedua, ketiga, dan keempat kami lanjutkan. Setelah magic ring, Maria mengajarkan cara membuat kepala, lalu flipper (sirip), dan karapaks (punggung). Setiap bagian membutuhkan ketelitian yang berbeda. Peserta mulai memahami pola, meskipun masih ada yang tertukar antara increase (teknik dalam merajut yang digunakan untuk menambah jumlah tusukan dalam satu baris atau putaran) dan decrease (teknik dalam merajut yang digunakan untuk mengurangi jumlah tusukan pada baris atau putaran tertentu).

Yang menarik perhatian saya adalah inisiatif mereka sendiri. Beberapa peserta datang ke rumah belajar setelah pelatihan di hari pertama. Mereka datang setelah mengurus anak dan memasak, lalu duduk di ruang belakang sambil merajut. Saya melihat Maria yang melatih, sabar mendampingi mereka hingga sore menjelang magrib.

Salah satu Amigurumi yang telah selesai dibuat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Ibu Aplena Anari di Weyaf yang berhasil membuat Amigurumi pertamanya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

“Kami ingin cepat selesai, Kaka Ibu,” kata salah satu dari mereka sambil memperlihatkan karapaks yang hampir jadi. “Supaya bisa segera dipasang kait kuncinya.”

Dari proses belajar yang penuh kesabaran, mulai terlihat bahwa pelatihan ini bukan sekadar kegiatan biasa. Ada semangat, ada kemauan untuk terus mencoba, dan ada harapan kecil yang mulai tumbuh dari setiap tusukan benang. Klik disini (TBA) untuk melihat bagaimana pelatihan juga berlangsung di Kampung Resye dan Womom, serta bagaimana cerita ini berujung pada makna ketekunan dan kemandirian.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
New Template

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Akhir KP2, TLP2, dan TPS Tahun 2026

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Akhir KP2, TLP2, dan TPS Tahun 2026

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Tahap Pertama. Dari hasil seleksi tersebut 19 pelamar dinyatakan LOLOS. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri tahap seleksi selanjutnya, harap diperiksa dengan saksama. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Kandidat diundang untuk mengikuti pembekalan sesuai dengan posisi yang dilamar. Jadwal pelaksanaan pembekalan untuk masing-masing posisi dapat dilihat pada file PDF pengumuman

2. Peserta yang dinyatakan lolos seleksi wawancara diwajibkan mengisi form kesediaan klik di sini, paling lambat pada hari Jumat, 17 April 2026 pukul 16.00 WIT

3. Peserta yang namanya tidak tercantum di atas akan masuk ke dalam Daftar Tunggu dan akan dihubungi jika terpilih paling lambat pada hari Selasa, 21 April 2026

4. Bila ada hal yang belum jelas, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Categories
New Template Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat Uncategorized @id

Cerita Perjalanan Lapang: Menuju Tambrauw untuk Pelatihan Amigurumi

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Cerita Perjalanan Lapang: Menuju Tambrauw untuk Pelatihan Amigurumi

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

07 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Setiap perjalanan ke kampung selalu menyimpan cerita yang tidak biasa. Pada bagian pertama ini, kisah dimulai dari perjalanan panjang dengan Kapal Sabuk Nusantara 112, menuju Wau dan Weyaf, sambil membawa satu misi khusus: pelatihan pembuatan amigurumi penyu.

Perjalanan ke kampung dengan Kapal Sabuk Nusantara 112 kali ini terasa lebih panjang dari biasanya. Kami memulai perjalanan monitoring dan Evaluasi (Monev) Program pada Rabu, 11 Maret 2026. Kapal Sabuk Nusantara 112 melepas tali dari pelabuhan Manokwari tepat pukul 21.30 WIT menuju pemberhentian pertama, Distrik Saukorem. Seluruh tim berjumlah 8 orang yang terbagi ke dalam dua tim, yaitu tim Saukorem dan tim Wau-Weyaf. Setelah terlelap semalaman, seluruh tim bangun keesokan paginya. Gelombang yang parah membuat kami harus menyesuaikan diri dengan goyangan kapal yang cukup kuat.

Proses penurunan barang dari kapal ke perahu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kartika Zohar)

Kondisi cuaca di lapangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kristina Rahail)

Kapal masuk ke Saukorem pada pukul 08.00 WIT, terlambat 2 jam dari jadwal biasa. Dua orang anggota tim kami turun di lokasi ini. Saya masih harus melanjutkan perjalanan sekitar 8–9 jam lagi menuju Kampung Wau dan Weyaf. Di perjalanan ini, kami juga membawa misi khusus: melakukan Pelatihan Pembuatan Amigurumi, sebuah seni merajut asal Jepang untuk membuat boneka kecil yang lucu. Pada pelatihan kali ini, kami fokus pada bentuk penyu.

Saya bersama tim yang akan turun di lokasi Wau-Weyaf tiba pukul 17.30 WIT. Jumlah kami 4 orang: Maria yang akan melatih amigurumi, Thomas dari PMNH yang baru kembali setelah sakit malaria, lalu Miju dan saya dari tim monev. Kami bersiap untuk turun. Barang-barang telah diangkut dan dipindahkan dekat tangga kapal.

Seperti biasa, ada aturan tidak tertulis yang harus diikuti: penumpang yang akan naik ke kapal dilayani terlebih dahulu,  kemudian barang-barang diturunkan ke perahu. Lama atau cepatnya proses ini bergantung pada gelombang. Kami harus ekstra berhati-hati karena tangga kapal terbuat dari besi. Terjepit di antara tangga dan perahu bukanlah hal yang menyenangkan. Di sinilah seninya ketika para pengemudi perahu motor akan mematikan mesin perahu, mengikuti gelombang laut, lalu mendorong perahu menjauhi tangga kapal menggunakan tongkat kayu panjang. Mereka mengontrol jarak, dan penumpang turun perlahan, saling menolong.

Foto tim saat di kapal
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Heny Lilitnuhu)

Proses membuat Amigurumi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Saya melirik jam digital di pergelangan tangan, waktu menunjukkan pukul 18.40 WIT. Hari sudah cukup gelap. Kami menjadi penumpang pertama yang dipersilakan turun. Para penumpang lain, yang sebagian besar masyarakat lokal, memberikan kesempatan pertama kepada kami karena salah satu anggota tim mabuk laut cukup parah.

Maria, Thomas, Miju, dan saya berhasil turun dengan selamat di pantai Kampung Weyaf. Ottow telah menunggu di tepi pantai dengan gerobak untuk memuat barang-barang kami. Meskipun hari sudah gelap, saya menyempatkan diri bersalaman dengan beberapa warga yang juga menunggu di tepi pantai. Mereka membantu kami turun dari perahu, mengangkat barang-barang, dan meletakkannya di atas pasir yang kering. Mereka menyambut saya dan tim dengan hangat.

Kami tiba di rumah belajar diiringi rintik hujan. Senang sekali bertemu dengan Titin dan Ottow, dua orang PMNH yang bertugas di lokasi Wau-Weyaf, dalam keadaan sehat. Mereka sedang membuat lemet — kue dari singkong parut, campuran kelapa parut, gula pasir, dan gula merah — yang akan menjadi camilan untuk pelatihan amigurumi besok pagi.

Perjalanan yang panjang akhirnya membawa tim tiba di lokasi dengan selamat. Namun, cerita belum berhenti di sana, karena bagian berikutnya akan memperlihatkan bagaimana para ibu dan remaja perempuan mulai belajar merajut dari tahap paling awal. Klik disini (TBA) untuk melihat bagaimana pelatihan amigurumi penyu dimulai, dari magic ring hingga semangat belajar yang tidak mudah padam.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Konservasi Penyu Belimbing Diseminasi New Template Uncategorized @id

Presentasi di Seminar Internasional Flora Malesiana

Presentasi di Seminar Internasional Flora Malesiana

Penulis

Yusup Jentewo

Tanggal

02 April 2026

Pada 9–14 Februari 2026, Manokwari menjadi tuan rumah “The 12th International Flora Malesiana Symposium & International Nature-Based Climate Solutions Conference.” Kegiatan ini mengumpulkan peneliti-peneliti dari berbagai penjuru dunia yang fokus pada tumbuhan ataupun keanekaragaman hayati lainnya di Asia Tenggara termasuk wilayah Indonesia serta Papua.

Program Sains untuk Konservasi, LPPM UNIPA juga menghadiri kegiatan tersebut, mengirimkan empat perwakilan di mana satu orang presentasi lisan/ pemaparan materi Yusup Jentewo dan tiga orang sebagai presentasi poster Kezia Salosso, Arnoldus Ananta dan Dahlia Manufandu. Keempat perwakilan ini mempresentasikan data dari program Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang serta Monitoring Sosial di Kepala Burung Papua.

Slide pertama Power Point Yusup Jentewo
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Yusup Jentewo memaparkan presentasi berjudul “The Dangerous Beauty: Morning Glory (Ipomoea pes-caprae) and Its Impact on the Sea Turtle Conservation in Tambrauw”, dimana terdapat fenomena interaksi antara tumbuhan Ipomoea dengan konservasi penyu di Pantai Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Tumbuhan Ipomoea adalah tumbuhan merambat yang banyak ditemui di wilayah pesisir pantai di Indonesia. Diketahui bahwa tumbuhan ini memiliki akar serabut yang dapat masuk ke dalam sarang penyu belimbing dan penyu lainnya serta merusak telur-telur penyu yang berharga. Fenomena ini diangkat Yusup dalam presentasinya. Data tahun 2024–2025 menunjukkan bahwa dari total 88 sarang penyu yang terpantau, sebanyak 65 sarang (75%) mengalami kerusakan akibat akar Ipomoea. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi upaya perlindungan penyu yang populasinya memang telah lama terancam.

Tumbuhan petatas pantai (Ipomoea sp.)
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Danyel Bafat)

Masyarakat lokal membersihkan akar-akar tumbuhan Ipomoea saat pembuatan kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Danyel Bafat)

Dalam presentasinya, Yusup juga menjelaskan bahwa tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang dari Program Sains untuk Konservasi, LPPM UNIPA, melalui berbagai percobaan di lapangan, telah menemukan solusi untuk meningkatkan penetasan sarang penyu yang terancam oleh akar tumbuhan Ipomoea. Sarang penyu belimbing dipindahkan ke kandang relokasi dengan dasar pasir yang telah dibersihkan dari akar Ipomoea. Metode ini meningkatkan tingkat keberhasilan penetasan, dari yang sebelumnya rata-rata 0%, menjadi 53% pada tahun 2024 dan 47% pada tahun 2025.

Hasil ini menegaskan bahwa usaha perlindungan sarang di Pantai Jeen Womom terus berinovasi dalam menjawab berbagai ancaman terhadap sarang penyu.

Foto tim bersama masyarakat lokal 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Masyarakat lokal pun berperan aktif dalam pembuatan kandang relokasi dan serta pemindahan sarang ke kandang relokasi. Semua kandang relokasi di Jeen Womom dibuat oleh kelompok masyarakat, seperti di Pantai Jeen Syuab, masyarakat dari Kampung Wau dan Weyaf yang berdekatan dengan pantai tersebut yang membuat kandang-kandang ini. Masyarakat harus memastikan untuk membersihkan tumbuhan serta akar-akar tumbuhan Ipomoea setelah konstruksi rangka dan atap selesai. Tiap tahunnya kurang lebih ada 6 kandang relokasi yang beroperasi di Pantai Jeen Syuab.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
New Template Uncategorized @id

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1 KP2, TLP2 dan TPS Tahun 2026

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1 KP2, TLP2 dan TPS Tahun 2026

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Tahap 1. Dari hasil seleksi Tahap 1, sebanyak 11 orang calon KP2, 13 orang calon TLP2, dan 7 orang calon TPS dinyatakan lulus, dengan total keseluruhan 31 orang. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri Tahap SELEKSI TAHAP 2. Dokumen tersebut terdiri dari 2 halaman, harap diperiksa dengan saksama. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Wawancara dilaksanakan secara online melalui zoom pada tanggal 26 Maret 2026

2. Peserta diharapkan telah hadir 10 menit sebelum waktu wawancara di ruang zoom
yang telah disediakan (link zoom menyusul)

3. Teknis pelaksanaan wawancara akan disampaikan melalui WAG sehingga pastikan
anda telah tergabung dalam WAG yang diperoleh ketika mendaftar pertama kali

4. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya