Categories
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Peran Tim LPPM Unipa Dalam Upaya Global Untuk Memulihkan Dan Menjaga Populasi Penyu Belimbing Di Pasifik

Peran Tim LPPM Unipa dalam Upaya Global untuk Memulihkan dan Menjaga Populasi Penyu Belimbing di Pasifik

Penulis

Tim S4C LPPM UNIPA

Tanggal

05 Mei 2021

Wilayah pesisir bagian barat Amerika Serikat merupakan salah satu tujuan daerah pakan bagi penyu belimbing yang bertelur di wilayah Kepala Burung di Papua Barat. Penelitian dan upaya perlindungan dilakukan di kedua sisi samudera Pasifik. Analisis 30 tahun data pemantauan jumlah penyu belimbing di California oleh Benson dkk (2020) menunjukan bahwa jumlahnya menurun 5,6% per tahun, sebanding dengan laju penurunan di pantai peneluran. Hasil penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Global Ecology and Conservation pada Desember 2020.

LPPM Universitas Papua turut mengambil bagian dalam upaya global untuk memulihkan populasi penyu belimbing. Di pantai peneluran Jeen Yessa dan Jeen Syuab di Kabupaten Tambrauw, tim LPPM UNIPA berupaya untuk melindungi sarang penyu belimbing agar produksi tukik maksimal. Di kampung-kampung di dekat pantai peneluran, tim LPPM UNIPA berupaya untuk meningkatkan kapasitas masyarakat lokal agar mereka dapat terus melindungi penyu. Tim LPPM UNIPA juga menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah untuk keberlanjutan penyu belimbing di Pasifik.

Simak cerita tentang penyu belimbing di Pasifik, upaya global untuk menjaga kelestariannya, dan kontribusi tim LPPM UNIPA disini:
https://news.mongabay.com/2021/04/time-is-running-out-for-embattled-pacific-leatherback-sea-turtles/

Referensi:
Benson, S. R., Forney, K. A., Moore, J. E., LaCasella, E. L., Harvey, J. T., & Carretta, J. V. (2020). A long-term decline in the abundance of endangered leatherback turtles, Dermochelys coriacea, at a foraging ground in the California Current Ecosystem. Global Ecology and Conservation, 24, e01371

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cerita lapangan dari Pantai Jeen Syuab Pada Musim Peneluran Oktober 2019 – Maret 2020

Conservation in the Misool Islands: Between Natural Beauty and Environmental Challenges

Penulis

Pius Octovinus

Tanggal

31 Maret 2020

Nama saya Pius Octovinus, saya adalah bagian dari tim pemantauan penyu dan perlindungan sarang LPPM UNIPA. Pada musim peneluran Oktober 2019 Maret 2020, tim kami bergantian bertugas untuk memantau aktivitas penyu dan melindungi sarang di pantai Jeen Syuab. Saya bersama Jhoni Mau, Abraham Leleran, Arfiandra Wanaputra, dan Arnol Heipon kembali bertugas di Jeen Syuab pada pertengahan Januari hingga pertengahan Februari. 

Kami berangkat dari Manokwari ke kampung WauWeyaf dengan menggunakan kapal Sabuk Nusantara 112. Angin dan gelombang sangat besar, sehingga kami memutuskan untuk menunda perjalanan ke pantai Jeen Syuab hingga keesokan hari. Biasanya perjalanan kesana hanya memakan waktu 1 jam dari kampung Wau-Weyaf, dengan menggunakan perahu mesin 15pk. Namun perjalanan kami ke Jeen Syuab hari itu memakan waktu 8 jam, dari pukul 8:00 hingga 16:00. Mesin pada perahu masyarakat yang kami sewa mengalami gangguan dalam perjalanan. Di tengah kondisi laut yang bergelombang besar, mesin perahu tiba-tiba berhenti bekerja, mesin padam!, dua orang teman saya sempat berenang ke darat untuk mencoba mencari pertolongan dan kami beruntung mesin kembali bekerja dan dapat mengantar tim kami ke darat.

Bertugas di pantai Jeen Syuab pada bulan Januari dan Februari sangat menantang. Pada bulan Januari, penyu belimbing naik masih dalam jumlah yang besar sehingga banyak sarang yang perlu dipindahkan ke kandang relokasi agar selamat dari ancaman ombak. Pada bulan Februari, sarang-sarang banyak yang menetas sehingga harus dievaluasi. Kami dalam tim berusaha mencicil dan bergotong royong dalam melaksanakan tugas-tugas. Bahan makanan dan logistik bulanan harus diangkut ke pos dari dengan berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer. Karena jumlahnya banyak, kami mencicil dan menyelesaikannya dalam 2-3 hari. Koordinator kami membagi tugas antara kami agar semua terlaksana. Ada yang menghitung jejak penyu, mengukur lebar pantai, mengevaluasi sukses penetasan sarang yang sudah menetas, dan patroli malam.

(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Arfiandra Wanaputra)

(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Arfiandra Wanaputra)

Walau hanya sebulan, kadang saya merasa jenuh. Ketika melihat kalender, hari hingga kembali ke kota kadang terasa lama sekali. Setiap hari bangun pagi lihat wajah teman-teman yang sama, agas mengganggu tidur siang, susah untuk berkomunikasi dengan keluarga karena tidak ada jaringan HP, dan makanan yang itu-itu saja. Saat di lapangan, saya dan teman-teman memiliki beberapa cara untuk mengobati kejenuhan. Kami jalan-jalan ke hutan dan mendengar suara burung atau hewan lainnya, mandi-mandi di kali Wermon, memetik sayur, membakar pisang, makan, lalu pulang ke pos, atau ikut masyarakat jalan-jalan. Kadang saat patroli malam, kami bertemu buaya, rusa, babi hutan, kangguru atau ular. Hewan-hewan menarik ini membuat patrol malam lebih menyenangkan. Bila kami merasa bosan duduk-duduk di pos, kami membantu proyek atau tugas lain di pantai, misalnya membantu anggota masyarakat yang bertugas mendirikan kandang relokasi atau memindahkan sarang penyu. Setelah satu minggu atau dua minggu, kadang kami berjalan ke kampung untuk turut beribadah di gereja dan berinteraksi dengan masyarakat. Hal ini juga mengobati rasa jenuh. Berkat tim yang kompak dan senantiasa saling membantu, kami selesaikan semua tugas kami di Jeen Syuab dan saya serta teman-teman pulang ke Manokwari dalam keadaan sehat.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Nama saya Pius Octovinus, saya adalah bagian dari tim pemantauan penyu dan perlindungan sarang LPPM UNIPA. Pada musim peneluran Oktober 2019 Maret 2020, tim kami bergantian bertugas untuk memantau aktivitas penyu dan melindungi sarang di pantai Jeen Syuab. Saya bersama Jhoni Mau, Abraham Leleran, Arfiandra Wanaputra, dan Arnol Heipon kembali bertugas di Jeen Syuab pada pertengahan Januari hingga pertengahan Februari. Kami berangkat dari Manokwari ke kampung WauWeyaf dengan menggunakan kapal Sabuk Nusantara 112. Angin dan gelombang sangat besar, sehingga kami memutuskan untuk menunda perjalanan ke pantai Jeen Syuab hingga keesokan hari. Biasanya perjalanan kesana hanya memakan waktu 1 jam dari kampung Wau-Weyaf, dengan menggunakan perahu mesin 15pk. Namun perjalanan kami ke Jeen Syuab hari itu memakan waktu 8 jam, dari pukul 8:00 hingga 16:00. Mesin pada perahu masyarakat yang kami sewa mengalami gangguan dalam perjalanan. Di tengah kondisi laut yang bergelombang besar, mesin perahu tiba-tiba berhenti bekerja, mesin padam!, dua orang teman saya sempat berenang ke darat untuk mencoba mencari pertolongan dan kami beruntung mesin kembali bekerja dan dapat mengantar tim kami ke darat.

Bertugas di pantai Jeen Syuab pada bulan Januari dan Februari sangat menantang. Pada bulan Januari, penyu belimbing naik masih dalam jumlah yang besar sehingga banyak sarang yang perlu dipindahkan ke kandang relokasi agar selamat dari ancaman ombak. Pada bulan Februari, sarang-sarang banyak yang menetas sehingga harus dievaluasi. Kami dalam tim berusaha mencicil dan bergotong royong dalam melaksanakan tugas-tugas. Bahan makanan dan logistik bulanan harus diangkut ke pos dari dengan berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer. Karena jumlahnya banyak, kami mencicil dan menyelesaikannya dalam 2-3 hari. Koordinator kami membagi tugas antara kami agar semua terlaksana. Ada yang menghitung jejak penyu, mengukur lebar pantai, mengevaluasi sukses penetasan sarang yang sudah menetas, dan patroli malam.

Bersantai bersama masyarakat di kali (Dok. Arnol Heipon)

(Foto : Arfiandra Waranaputra)

Patroli malam di pantai peneluran Jeen Syuab (Dok. Arfiandra Waranaputra)

(Foto : Arfiandra Waranaputra)

Walau hanya sebulan, kadang saya merasa jenuh. Ketika melihat kalender, hari hingga kembali ke kota kadang terasa lama sekali. Setiap hari bangun pagi lihat wajah teman-teman yang sama, agas mengganggu tidur siang, susah untuk berkomunikasi dengan keluarga karena tidak ada jaringan HP, dan makanan yang itu-itu saja. Saat di lapangan, saya dan teman-teman memiliki beberapa cara untuk mengobati kejenuhan. Kami jalan-jalan ke hutan dan mendengar suara burung atau hewan lainnya, mandi-mandi di kali Wermon, memetik sayur, membakar pisang, makan, lalu pulang ke pos, atau ikut masyarakat jalan-jalan. Kadang saat patroli malam, kami bertemu buaya, rusa, babi hutan, kangguru atau ular. Hewan-hewan menarik ini membuat patrol malam lebih menyenangkan. Bila kami merasa bosan duduk-duduk di pos, kami membantu proyek atau tugas lain di pantai, misalnya membantu anggota masyarakat yang bertugas mendirikan kandang relokasi atau memindahkan sarang penyu. Setelah satu minggu atau dua minggu, kadang kami berjalan ke kampung untuk turut beribadah di gereja dan berinteraksi dengan masyarakat. Hal ini juga mengobati rasa jenuh. Berkat tim yang kompak dan senantiasa saling membantu, kami selesaikan semua tugas kami di Jeen Syuab dan saya serta teman-teman pulang ke Manokwari dalam keadaan sehat.

Categories
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cerita Monitoring dan Evaluasi Program Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang Periode April – Juni 2019

Cerita Monitoring dan Evaluasi Program Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang Periode April – Juni 2019

Penulis

Deasy Lontoh

Tanggal

21 Juli 2019

Pemantauan dan evaluasi program dilakukan secara rutin untuk memastikan bahwa kegiatan yang  dilaksanakan sesuai dengan program kerja, standar prosedur kerja, dan memenuhi target capaian. Bagi program pemantauan penyu dan perlindungan sarang, pemantauan dan evaluasi dilakukan oleh koordinator program setiap bulan. Pada periode ini, pemantauan dan evaluasi dilakukan pada tanggal 27-29 Mei 2019.

Tim pemantauan dan evaluasi kali ini terdiri dari: Deasy Lontoh, Kartika Zohar,  Sinus Keroman, Dariani Matualage, Irman Rumengan, dan Delbert Pakiding. Kami bertemu dengan semua anggota tim dan beberapa tenaga patroli lokal untuk mendengar perkembangan keadaan dan pekerjaan di Jeen Syuab dan ketiga pantai Jeen  Yessa dan berkoordinasi untuk persiapan kegiatan Pelatihan untuk Pemantauan Penyu yang  akan  diadakan pada tanggal 11-13 Juni 2019.

Foto : Tim Abun Monitoring

Foto : Tim Abun Monitoring

Pada umumnya, koordinator program mengumpulkan rangkuman data 1 bulan pada setiap pemantauan dan evaluasi. Namun karena pemantauan dan evaluasi kali ini terjadi sebelum bulan Mei berakhir, rangkuman data bulan Mei diperoleh pada pertengahan bulan Juni, saat Pelatihan. Selain bertemu dengan anggota tim, koordinator program meninjau langsung perlindungan sarang (pagar dan naungan) yang sudah didirikan di pantai Batu Rumah dan Wembrak.

Pemantauan dan evaluasi berlanjut dengan kunjungan penasehat teknis, Ibu Manjula Tiwari Ph.D, dari U.S. National Oceanic and Atmospheric Administration. Pada tanggal 8, 9, 10 Juni 2019, beliau meninjau kegiatan di pantai Jeen Syuab dan Jeen Yessa secara menyeluruh dan menyarankan perubahan- perubahan dimana diperlukan. Kru diingatkan kembali akan konstruksi perlindungan sarang yang tepat dan proses pemindahan sarang yang sesuai dengan protokol. Pada bulan Mei, tim UNIPA bersama tenaga patroli lokal sudah mencatat 236 sarang penyu belimbing di Jeen Yessa dan Jeen Syuab, dan telah melindungi 101 sarang (43%) dari ancaman erosi, suhu tinggi, predasi, dan akar Ipomoea sp.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Menyelamatkan Sarang Penyu Belimbing di Pantai Jeen Syuab

Menyelamatkan Sarang Penyu Belimbing di Pantai Jeen Syuab

Penulis

Deasy N. Lontoh

Tanggal

25 Maret 2019

Terletak di Distrik Abun, pantai Jeen Syuab (dulu dikenal dengan nama Wermon), merupakan salah satu pantai peneluran yang penting bagi penyu belimbing. Jenis penyu terbesar  ini bertelur di pantai Jeen Syuab sepanjang tahun. Hal ini unik karena di banyak pantai peneluran di dunia, penyu belimbing bertelur hanya satu musim per tahun. Aktivitas peneluran penyu belimbing di pantai Jeen Syuab berlangsung antara bulan April hingga September (“musim teduh”) dengan puncak pada bulan Juni dan Juli, dan antara bulan Oktober hingga Maret (“musim ombak”) dengan puncak pada bulan Desember dan Januari.

Terbentang sepanjang 6 km dengan pasir kehitaman, pantai Jeen Syuab terkikis pada saat musim ombak, saat angin monsoon  barat bertiup dan membawa musim hujan bagi Indonesia. Sebagian besar sarang-sarang penyu belimbing yang diletakkan di Jeen Syuab antara Oktober dan Maret terancam hanyut terbawa ombak dan tergenang air pasang. Oleh sebab itu, Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang UNIPA bersama masyarakat lokal bekerja keras untuk menyelamatkan sarang-sarang tersebut.

Foto : Tim Abun Monitoring

Foto : Tim Abun Monitoring

Pada musim peneluran Oktober 2018 hingga Maret 2019, tim UNIPA berhasil menyelamatkan 43% dari jumlah total sarang penyu belimbing dengan memindahkan sarang- sarang tersebut ke dalam kandang relokasi. Untuk menilai tingkat kesuksesan sarang, tim UNIPA melaksanakan evaluasi sukses penetasan pada semua sarang yang ada dalam kandang relokasi pada masa penetasan (Januari-Maret 2019).

Hasilnya, sekitar 68% dari jumlah total telur per sarang berhasil menetas. Dengan begitu, upaya pemindahan sarang pada musim ini diperkirakan menghasilkan sekitar 8200 tukik penyu belimbing. Ribuan tukik-tukik ini tidak dapat dihasilkan tanpa upaya penyelamatan sarang yang dilakukan oleh tim UNIPA dan masyarakat lokal.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya