Menyadari pentingnya menjaga kelestarian sumberdaya alam bagi generasi masa mendatang, Provinsi Papua Barat pada bulan Oktober 2015 mencanangkan diri sebagai provinsi konservasi. Menjadi provinsi konservasi bukan berarti bahwa pemanfaatan sumberdaya alam baik hayati maupun non-hayati tidak lagi bias dilakukan. Melainkan, menjadi provinsi konservasi berarti bahwa setiap upaya pemanfaatan sumberdaya alam, stakeholder yang terlibat dalam proses pembangunan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat yang bermukim di wilayah Provinsi Papua Barat saat ini, tanpa melupakan generasi mendatang. Walaupun memiliki sumberdaya alam yang melimpah, potret sosial masyarakat di Provinsi Papua Barat tidaklah seindah potret kekayan sumberdaya alamnya. Saat ini Provinsi Papua Barat tercatat sebagai salah satu provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi, tingkat pendidikan rendah, tingkat kesehatan rendah, dan tingkat infrastruktur rendah. Tulisan ini sebagai bentuk berbagi informasi pada bidang kesehatan dari pembelajaran Divisi Pembangunan Berkelanjutan LPPM UNIPA menjalankan pelayanan kesehatan massal di distrik Abun Kabupaten Tambrauw yang masyarakat hidup terisolir namun memiliki peran strategis dalam upaya konservasi penyu belimbing. Pelayanan kesehatan massal yang terselanggara pada tanggal 22-25 Juni 2017 atas kerjasama tim UNIPA berjumlah 4 orang dan Dinas Kesehatan Kabupaten Tambrauw berjumlah 7 orang yang terdiri dari 1 dokter, 1 kepala puskesmas Abun, 3 bidan, 2 suster. Pelayanan kesehatan massal ini dilaksanakan selama 4 hari dengan mengunjungi kampung-kampung yang ada di Distrik Abun. Kunjungan hari pertama dan kedua di kampung Saubeba dan kampung Womom. Hari ketiga di kampung Wau-Weyaf, dan hari keempat di kampung Warmandi

Foto : Tim Abun Pemberdayaan

Foto : Tim Abun Pemberdayaan

Foto : Tim Abun Pemberdayaan
Pelayanan kesehatan massal ini telah menjangkau sebanyak 283 orang, yang terdiri dari 106 orang di kampung Saubeba dan Womom, 126 orang di kampung Wau-Weyaf, dan 51 orang di kampung Warmandi. Dari pelayanan tersebut ditemukan pada umumnya usia 0-12 tahun kebanyakan sakit batuk-flu, usia 25-60 tahun kebanyakan sakit pegal-pegal karena kerja berat, 8 orang positif malaria, dan 7 orang yang urgent dirujuk ke rumah sakit. Kendala yang dialami selama pelayanan kesehatan massal antara lain: keterbatasan obat-obatan diantaranya obat tetes telinga dan obat mata. Keterbatasan alat penguji malaria dan peralatan medis lainnya. Harapannya setiap medis yang telah ditempatkan bekerja pada kampung-kampung tersebut untuk tetap berada di kampung menjalankan tugas tanggungjawabnya sehingga kebutuhan dasar kesehatan masyarakat minimal dapat terpenuhi.
Berita Lainnya

