Categories
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Produk Lokal Abun berpartisipasi mendukung pelaksanaan side event W20 (Women 20) yang merupakan bagian dari G20 Indonesia Presidency 2022 di Manokwari, Papua Barat.

Produk Lokal Abun berpartisipasi mendukung pelaksanaan side event W20 (Women 20) yang merupakan bagian dari G20 Indonesia Presidency 2022 di Manokwari, Papua Barat.

Penulis

Monika Arung Padang & Kartika Zohar

Tanggal

27 Juni 2022

Group of Twenty atau G20 merupakan sebuah forum utama kerja sama ekonomi internasional yang beranggotakan negara-negara dengan perekonomian besar di dunia yang terdiri dari 19 negara utama dan satu lembaga Uni Eropa. Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggara G20 yang diselenggarakan sejak 1 Desember 2021 hingga Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) November 2022. Dalam hal ini Papua Barat menjadi tuan rumah tempat pelaksanaan side event W20 (Women 20) yang merupakan bagian dari G20 Indonesia Presidency 2022.

Dalam rangka mendukung Provinsi Papua Barat sebagai tuan rumah event Y20 (Youth 20) dan W20 (Women 20), Fakultas Kehutanan Universitas Papua bekerja sama dengan GIZ Forclime melaksanakan acara Talkshow Y20 dan W20 Forclime Internship Programme: Supporting Papua’s Green Future & Perempuan dalam Pengelolaan Hutan Lestari di Tanah Papua. Pada kegiatan yang dilaksanakan pada 20 – 21 Mei 2022 ini terdapat pameran hasil hutan bukan kayu dan produk-produk hasil olahan lainnya.

Booth Produk Lokal Abun Pada Pameran bertema Cultural Exhibition, Manokwari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kartika Zohar)

Gubernur Papua Barat mengunjungi dan berdiskusi di Booth Produk Lokal Abun tentang Produk Noken Abun
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Monica Arung Padang)

Event Pameran lainnya diselenggarakan oleh Pihak Bank Indonesia dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang bertema “Cultural Exhibition”. Pameran ini diikuti oleh para pelaku UMKM di Papua Barat. Pelaksanaan pameran ini dibagi menjadi dua bagian yaitu W20 dan Y20. Kegiatan W20 dilaksanakan pada 9 – 11 Juni 2022 sedangkan Y20 dilaksanakan pada 17 – 18 Juni di Manokwari City Mall. Kegiatan W20 ini dihadiri langsung oleh Gubernur Papua Barat, Komjen Pol (Purn.) Drs. Paulus Waterpauw, M.Si. dan beberapa delegasi seperti Angkie Yudistia (Staf Khusus Presiden Bidang Disabilitas), Perwakilan Perempuan Indonesia dan beberapa delegasi lainnya.

Produk Lokal Abun berpartisipasi dalam dua event yang diselenggarakan tersebut dengan hadir memperkenalkan produk-produk hasil pendampingan masyarakat di Distrik Abun dan Tobouw Kabupaten Tambrauw. Produk yang dihadirkan berupa minyak kelapa dan noken. Minyak kelapa dan noken yang dihasilkan merupakan bagian dari manfaat upaya perlindungan penyu bagi anggota masyarakat yang berada di kampung-kampung yang terletak di sekitar pantai peneluran Taman Pesisir Jeen Womom (TP Jeen Womom).

Pada dua event ini Produk Lokal Abun juga telah menggunakan fitur transaksi QRIS. Hasil penjualan produk pada kedua event ini cukup tinggi dibandingkan penjualan harian diluar event. Terdapat total 38 botol minyak kelapa kemasan 1 liter dan 31 buah noken dengan motif penyu dijual dalam dua event ini. Selain menjual produk, tim pemberdayaan masyarakat yang terlibat langsung dalam event pameran ini juga aktif menyampaikan informasi terkait upaya perlindungan penyu yang dilakukan di Kawasan TP Jeen Womom kepada pengunjung booth. Penyampaian informasi diberikan melalui leaflet tentang penyu dan diskusi dengan para pengunjung booth tentang penyu yang berada di TP Jeen Womom.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Outreach - Nonton Bareng Film Konservasi

Menonton bareng film bertemakan pelestarian lingkungan di Distrik Tobouw, Kabupaten Tambrauw

Menonton bareng film bertemakan pelestarian lingkungan di Distrik Tobouw, Kabupaten Tambrauw

Penulis

Abigail Lang & Noviyanti

Tanggal

4 Juni 2022

Bulan Mei 2022 menjadi pengalaman pertama bagi Tim Penjangkauan Masyarakat (Outreach) berkunjung ke kampung-kampung yang berada di Taman Pesisir Jeen Womom. Kami berangkat menggunakan transportasi laut (kapal Sabuk Nusantara 112) bersama dengan tim Monev Pemberdayaan. Untuk dapat menginjakkan kaki di kampung tersebut, perahu masyarakat menjemput kapal kami yang berlabuh di tengah laut. Tidak ada pelabuhan di kampung ini. Inilah alasan kapal-kapal besar hanya bisa berlabuh di tengah laut.

Namun, kami merasa senang dengan perjalanan menggunakan perahu yang hanya sekitar 1-2 menit saja, kami juga bisa menikmati keindahan alam dengan lautnya yang masih bersih. Dari kejauhan sudah terlihat sebagian besar penduduk yang antusias melihat perahu kami berhenti di depan pulau mereka. Bagi mereka melihat kapal dan perahu yang menjemput barang dan penumpang adalah suatu kegembiraan tersendiri.

Peserta mendapat hadiah karena dapat menjawab pertanyaan dengan benar
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Mengoles pasir di dahi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kami membeli Pisang dan Singkong (kasbi dalam bahasa setempat) dari masyarakat untuk kami hidangkan sebagai kudapan. Kami juga menyiapkan bahan bakar solar untuk diberikan kepada pihak pengelola listrik kampung agar listrik bisa menyala selama pemutaran film kami dilakukan. Pukul 7 malam kami memulai kegiatan kami. Dari Manokwari kami sudah menyiapkan 2 buah video tentang ancaman yang dihadapi penyu dan makanan penyu. Terdapat pesan-pesan konservasi yang kami selipkan dalam video singkat tersebut, misalnya tidak membuang sampah plastik ke laut karena ada penyu yang menyangka sampah plastik itu mirip seperti makanannya. Setelah pemutaran video kami mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta terhadap informasi yang ada di dalam video. Kami menyediakan hadiah seperti sembako dan makanan ringan bagi peserta yang bisa menjawab. Pengalaman ini luar biasa sekali karena mereka dengan mudah mengerti apa maksud dan pesan dari video yang kami putarkan.

Walaupun selama kurang lebih 3 hari pada siang hari kami tidak mendapatkan jaringan telepon, internet dan listrik yang terbatas, tetapi kami selalu melakukan banyak aktivitas seperti memasak untuk konsumsi semua tim dan membantu tim monev Pemberdayaan Masyarakat untuk melakukan pengolahan minyak kelapa. Kami mengolah 300 butir kelapa menjadi 22 liter minyak kelapa untuk dikonsumsi. Kegiatan yang lumayan melelahkan namun sangat mengasyikan karena kami dapat melihat langsung pengolahan minyak kelapa di kampung ini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Menerjemahkan Jurnal ilmiah menjadi Permainan untuk Anak-anak: Sebuah tantangan untuk mengenalkan nama-nama wilayah makan penyu belimbing kepada anak-anak

Menerjemahkan Jurnal ilmiah menjadi Permainan untuk Anak-anak: Sebuah tantangan untuk mengenalkan nama-nama wilayah makan penyu belimbing kepada anak-anak

Penulis

Noviyanti & Naqliya Arum Permata

Tanggal

2 Juni 2022

Memberikan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) kepada anak-anak yang ada di Kampung Womom, Resye, Warmandi, dan Wau-Weyaf merupakan salah satu aktivitas pendidikan yang dilakukan oleh para Pendamping Masyarakat dan Narahubung (PMNH) program yang bertugas di kampung-kampung tersebut. Pada tahun 2022, Tim Outreach dilibatkan untuk membantu para PMNH dalam menyiapkan materi & bahan ajar PLH berdasarkan indikator dan sub indikator pembelajaran tentang penyu.

Proses Pembuatan Uang Monopoli
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Salah satu sub indikator yang ada dalam kegiatan PLH adalah anak-anak mampu menyebutkan wilayah makan penyu belimbing. Tim Outreach mulai mencari informasi tentang wilayah makan penyu belimbing dengan membaca sebuah jurnal ilmiah dengan judul “Large-scale movements and high-use areas of western Pacific leatherback turtles, Dermochelys coriacea” dari www.esajournals.org. Berdasarkan informasi dari jurnal ilmiah tersebut, terdapat beberapa wilayah yang menjadi tempat makan penyu belimbing, diantaranya adalah Kei, Seram, Pulau Kalimantan, Washington, Oregon, dan California. Dalam jurnal tersebut kami juga mengenali nama-nama pantai peneluran penyu belimbing. Selain itu ada nama laut, selat, ataupun samudra dimana penyu-penyu ini melakukan migrasinya.

Yang menarik dalam mempersiapkan bahan ajar ini adalah kami menerjemahkan informasi di jurnal tersebut menjadi papan permainan monopoli. Permainan monopoli merupakan permainan yang paling populer dimainkan dan sangat seru jika dimainkan bersama. Kami mengganti nama “Monopoli” menjadi “Petualangan Penyu” karena ada sedikit perbedaan dari permainan monopoli yang sesungguhnya.

Tim Outreach melakukan Uji Coba Permainan Monopoli di Kampung Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Permainan monopoli ini dapat dimainkan oleh 3-7 orang pemain, dengan 1 orang pemain bertugas sebagai Pemilik Hak Ulayat. Pemilik Hak Ulayat bertugas sebagai pengelola telur, tukik, penyu dewasa, dan ubur-ubur sebagai pengganti Bank dalam permainan monopoli pada umumnya. Pada awal permainan, Pemilik Hak Ulayat membagikan 100 penyu dewasa, 250 tukik, 500 telur, dan 500 ubur-ubur untuk masing-masing pemain.

Kami menyebut setiap pemain sebagai penyu-penyu belimbing dewasa. Pemain kami ajak bermigrasi mulai dari pantai-pantai peneluran hingga menuju ke laut dan samudera dan berakhir di wilayah makan. Mereka bermigrasi dengan memindahkan pion mereka dari satu tempat ke tempat lainnya. Uang dalam permainan monopoli kami ganti menjadi telur, tukik, penyu dewasa, dan ubur-ubur. Jika pada permainan monopoli, para pemain berlomba mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya; maka dalam permainan petualang penyu ini, para pemain berlomba mengumpulkan telur, tukik, penyu dewasa, dan ubur-ubur sebanyak-banyaknya.

Kartu Dana Umum dan Kesempatan yang dimodifikasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Salah Satu Contoh Kartu Kepemilikan yang dimodifikasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Perbedaan lainnya juga terletak pada Kartu Kesempatan dan Kartu Dana Umum. Para pemain akan menerima telur, tukik, penyu dewasa, dan ubur-ubur jika terjadi hal-hal seperti: telur diselamatkan manusia, tukik berhasil lari dari ikan yang ingin memangsa, atau jika mereka singgah di restoran ubur-ubur. Namun para pemain harus menyerahkan telur, tukik, penyu dewasa, dan ubur-ubur yang mereka miliki jika terjadi hal yang merugikan mereka, misalnya: telur terendam air pasang, tukik termakan oleh kepiting, dan sebagainya. Dalam permainan ini juga terdapat Sertifikat Tanah atau Kartu Kepemilikan yang akan didapat oleh pemain ketika membeli lokasi. Sertifikat Tanah itu berisi nama lokasi, harga beli, harga denda, harga jual dan juga informasi mengenai aktivitas yang biasanya penyu lakukan pada lokasi tersebut.

Permainan ini masih dalam tahap uji coba di masing-masing rumah belajar. Kami berharap ada masukkan dari para PMNH yang bertugas di lapang untuk penyempurnaan permainan ini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Seutas Cerita di Distrik Abun dari Tenaga Pengolahan dan Pemasaran Produk

Seutas Cerita di Distrik Abun dari Tenaga Pengolahan dan Pemasaran Produk

Penulis

Naqliya Arum Permata & Monica Jupiter Arung Padang

Tanggal

31 Mei 2022

Salah satu hasil dari program Pemberdayaan Masyarakat yang Program Sains untuk Konservasi lakukan adalah Minyak Kelapa Abun. Produk ini diproduksi oleh masyarakat lokal yang terbentuk dalam kelompok dan didampingi oleh Pendamping Masyarakat yang tersebar di beberapa kampung pada dua distrik Abun dan Tobouw, yaitu Kampung Wau, Weyaf, Warmandi, Resye (dulu Saubeba) dan Womom.

Lewat tulisan ini, Monica Jupiter Arung Padang sebagai Tenaga Pengolahan dan Pemasaran Produk pada tim Pemberdayaan Masyarakat akan membagikan pengalamannya ketika pertama kali berkunjung ke distrik Abun. Perjalanan dari Manokwari ke distrik Abun sendiri memakan waktu kurang lebih 3 hari 2 malam menggunakan kapal laut. Pada tanggal 22 April 2022 tepatnya pukul 22.00 WIT, kapal laut yang membawa Monica dan anggota tim lainnya bertolak meninggalkan Manokwari.

Proses Pelewangan Kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Monica dan tim tiba di Kampung Resye pada siang hari tanggal 24 April 2022. Mereka disambut dengan hangat oleh masyarakat di kampung tersebut. Malam harinya, mereka pergi ke kampung Womom untuk membawa peralatan kebutuhan rumah belajar yang ada di kampung tersebut. Perjalanan dari kampung Resye ke Womom ditempuh dengan berjalan kaki kurang lebih 20 sampai 30 menit. Keesokan harinya, Monica dan tim membantu merapikan rumah belajar yang terletak di kampung Womom. Setelah selesai merapikan rumah belajar, mereka kembali lagi ke kampung Resye untuk melakukan pengolahan minyak kelapa.

Proses Pengeluaran Tempurung Kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Percobaan pembuatan cocopeat dan cocofiber
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tanggal 26 April 2022, tim monev pemberdayaan, Pendamping Masyarakat Resye, tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang dan masyarakat sekitar mulai melakukan pengolahan minyak kelapa. Minyak kelapa yang akan diolah menggunakan sekitar 250 butir kelapa. Kelapa yang digunakan diambil dari hasil hutan yang terletak di kampung tersebut. Pertama, yang dilakukan untuk membuat Minyak Kelapa adalah mengupas serabut buah kelapa dan kemudian dibawa ke rumah belajar untuk mengupas tempurung batok kelapa. Tempurung kelapa yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan untuk percobaan pembuatan cocopeat dan cocofiber. Kelapa yang sudah dikupas lalu dibersihkan menggunakan air bersih yang mengalir. Kelapa yang sudah bersih langsung diparut kemudian dicampur air agar menjadi santan dan didiamkan selama satu malam. Tanggal 27 April 2022, mereka mulai memasak santan yang telah didiamkan selama satu malam. Hasil pemasakan santan inilah yang akan menjadi Minyak Kelapa dan dibawa ke Manokwari.

“

“Jangan ragu untuk mendatangi tempat-tempat baru yang dapat menambah wawasan dan juga bertemu serta berinteraksi dengan orang-orang baru, meskipun tempat-tempat tersebut jauh dari tempat tinggal kita – Monica”

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Kisah perjalanan menuju Pantai Peneluran Penyu Belimbing di Tambrauw

Kisah perjalanan menuju Pantai Peneluran Penyu Belimbing di Tambrauw

Penulis

Yusup Adrian Jentewo dan Deasy Lontoh

Tanggal

18 Mei 2022

Hari yang dinanti Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang LPPM Universitas Papua untuk berangkat ke pantai peneluran penyu belimbing di Tambrauw akhirnya tiba. Pada hari Jumat, 22 April 2022, mereka berangkat menggunakan kapal Sabuk Nusantara 112 rute Manokwari-Saukorem-Wanden-Waibem-Wau dan tujuh kampung lainnya di pesisir Tambrauw. Para anggota tim telah menyiapkan keberangkatan ini beberapa minggu sebelumnya dengan membeli stok bahan makanan, obat-obatan, bahan bakar minyak, dan peralatan kerja untuk digunakan saat bertugas di pantai. Meskipun kapal baru berangkat pada malam hari, namun sejak pagi anggota tim sudah mengangkut barang-barang yang akan dibawa ke pantai peneluran ke pelabuhan Manokwari. Mobil pick-up mereka siapkan untuk mengangkut barang-barang bawaan yang cukup banyak. Malam hari sekitar pukul 20.00 WIT, masing-masing anggota tim sudah siap dengan perlengkapan pribadi dan menuju ke pelabuhan. Walaupun saat itu Manokwari dilanda hujan namun tidak membuat surut semangat tim untuk berangkat. Total anggota tim yang berangkat sebanyak 14 orang ditambah 5 orang anggota Tim Pemberdayaan Masyarakat yang akan melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi kegiatan di lokasi yang sama. Sebagian penumpang kapal yang juga merupakan warga kampung di Tambrauw menyambut kami dengan sangat antusias. Mereka senang sekali melihat kami kembali bertugas di kampung. Tepat pukul 22.00 WIT, kapal Sabuk Nusantara 112 yang sering disebut tol laut, bertolak meninggalkan Manokwari.

Ben (sebelah kiri) dan Todu (sebelah kanan) sebelum berangkat
(Foto : Habema Monim/S4C_LPPM UNIPA)

Selain tim yang berangkat menggunakan kapal penumpang, dua orang anggota tim kami, Tonny Duwiri (akrab dipanggil ‘Todu’) dan Bernadus Duwit (akrab dipanggil ‘Ben’) berangkat menggunakan perahu mesin tempel. Sabtu, 23 April 2022 pukul 09.30 WIT, Todu dan Ben berangkat dari Amban Pantai, Manokwari. Dilengkapi dengan pelampung keselamatan dan alat komunikasi, Todu dan Ben menyusuri pesisir utara laut Papua Barat menuju Taman Pesisir Jeen Womom. Didukung oleh kondisi mesin dan cuaca yang sangat baik, perjalanan berhasil mereka tempuh sekitar 8 jam

Perahu Didorong Tim ke Laut
(Foto : Habema Monim/S4C_LPPM UNIPA)

“

“Those who love their job, will never work a day in their life!”

Todu bercerita bahwa ia sudah beberapa kali membawa perahu pulang pergi Manokwari-Tambrauw untuk pekerjaan ini. Baginya ini adalah tanggung jawab yang menantang. Karena medan yang cukup berat, banyak pelaut yang sering mencari ikan di wilayah pesisir Manokwari-Tambrauw tidak akan mengambil rute hingga wilayah TP Jeen Womom. Namun, Todu sadar bahwa keberadaan perahu ini sangat penting. Perahu harus selalu ada untuk alat transportasi tim secara lokal selama melakukan kegiatan Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang. Terkadang perahu ini dibutuhkan sebagai alat transportasi darurat oleh seluruh anggota tim Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA yang bertugas di TP Jeen Womom.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Konservasi Penyu Belimbing Training

Berbagi Pengalaman dan Belajar Bersama sebelum Menjadi Penjaga Penyu

Berbagi Pengalaman dan Belajar Bersama sebelum Menjadi Penjaga Penyu

Penulis

Yusup Adrian Jentewo & Deasy Lontoh

Tanggal

9 Mei 2022

Musim peneluran penyu belimbing di Pantai Jeen Jeen Yessa dan Jeen Syuab, Kabupaten Tambrauw di tahun 2022 akan segera tiba, yaitu pada bulan Mei sampai September. Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang Program Sains untuk Konservasi LPPM Universitas Papua bersiap untuk kembali bertugas di pantai peneluran. Tim ini biasa kami panggil dengan sebutan “Kru pantai”. Beberapa anggota dalam tim merupakan kru lama yang sudah berpengalaman bekerja di pantai peneluran penyu. Namun terdapat juga beberapa anggota baru yang diterima melalui proses seleksi. Jumlah kru yang akan bertugas di lapangan ada 29 orang yang terdiri dari 4 koordinator pantai, 7 tenaga lapangan, 4 tenaga magang, 4 tenaga magang lokal dan 10 tenaga patroli lokal (4 perempuan dan 25 laki-laki).

Koordinator Penelitian dan Salah Satu Koordinator Pantai Memberikan Materi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yusup Jentewo)

Tim ini akan bertugas pada empat pantai yaitu: 1) Pantai Wembrak 2) Pantai Warmamedi 3) Pantai Batu Rumah, dan 4) Pantai Jeen Syuab. Sebelum berangkat ke lapangan, 10 orang kru yang terdiri dari 2 orang kru lama (1 tenaga lapang dan 1 tenaga magang) dan 8 orang kru baru (5 tenaga lapangan dan 3 tenaga magang) mendapat pembekalan. Pembekalan ini bertujuan untuk memberi informasi teknis terkait metode pemantauan penyu dan perlindungan sarang. Bertempat di ruang rapat Program Sains untuk Konservasi, kegiatan pembekalan ini berlangsung selama empat hari yaitu pada hari Senin sampai Kamis (11 – 14 April 2022). Materi pembekalan mencakup: tugas dan tanggung jawab tenaga lapang dan tenaga magang, pengenalan lokasi pantai peneluran, fasilitas di pantai, kegiatan patroli pagi dan patroli malam, ancaman terhadap sarang dan penyu di pantai, cara melindungi sarang, cara mengukur lebar pantai, dan cara melakukan evaluasi sukses penetasan.

Persiapan Pengemasan Keperluan Tim
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arfiandra Wanaputra)

Tim mengangkut barang-barang ke kapal
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pemateri dalam kegiatan pembekalan ini adalah Ibu Deasy Lontoh sebagai Koordinator Penelitian; Arfiandra Wanaputra sebagai Asisten Koordinator Penelitian; Yairus Swabra sebagai Koordinator Program; dan para Koordinator Pantai Peneluran yaitu Petrus Batubara, Tonny Duwiri, John Mau, Mesak Adadikam, dan Muhamad Faisal. Pembekalan ini juga diselingi persiapan turun lapangan yang harus dilakukan oleh setiap tim pantai. Persiapan yang dilakukan adalah berbelanja kebutuhan selama di lapangan dan mengemasnya agar siap dibawa ke lapangan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Heading

Dari Aspirasi Masyarakat Menjadi Program Beasiswa Taman Pesisir Jeen Womom

Dari Aspirasi Masyarakat Menjadi Program Beasiswa Taman Pesisir Jeen Womom PenulisMeilani RavenskaTanggal07 September 2026 LPPM UNIPA melalui Program Science for ...
/

Cerita Perjalanan ke Jawa: Training Cocopeat dan Studi Banding Briket

Cerita Perjalanan ke Jawa: Training Cocopeat dan Studi Banding Briket PenulisMikardes Albert dan Mika PalimbongTanggal15 September 2026 Kami berdua masih ...
/

Ketika Karya Kolaborasi Sains dan Desain Berlayar Membawa Pesan Konservasi

Ketika Karya Kolaborasi Sains dan Desain Berlayar Membawa Pesan Konservasi PenulisElisa PutraTanggal14 Agustus 2026 Cerita ini berawal dari kolaborasi antara ...
/

Satu Meja, Banyak Cerita

Satu Meja, Banyak Cerita PenulisPrisca NandaTanggal2 September 2026 “Selamat pagi, Prisca,” atau “Selamat pagi, Kak Prisca.” Sapaan itulah yang hampir ...
/

Menyapa Novel: Kisah Tenaga Lokal Menjaga Penyu di Jeen Womom

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua Menyapa ...
/

Sharing is Caring: Ketika Cerita Raja Ampat berlayar ke Wau-Weyaf

Sharing is Caring: Ketika Cerita Raja Ampat Berlayar ke Wau-Weyaf PenulisKartika ZoharTanggal21 Agustus 2026 Pagi itu, Kamis, 6 Agustus 2026, ...
/
Categories
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Berbagi Cerita Proses Seleksi Staf baru Program Sains untuk Konservasi

Berbagi Cerita Proses Seleksi Staf baru Program Sains untuk Konservasi

Penulis

Noviyanti & Naqliya Arum Permata

Tanggal

28 April 2022

Program Sains untuk Konservasi melalui Lembaga Penelitian dan dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua adalah sebuah program yang bertujuan menjadi pusat data dan informasi yang mendukung proses pengambilan kebijakan untuk pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua. Pada tanggal 24 Februari 2022 Program Sains untuk Konservasi membuka lowongan kerja bagi lulusan D3 hingga S2 untuk terlibat dalam pelaporan kegiatan monitoring di Bentang Laut Kepala Burung-Papua dan melakukan upaya konservasi penyu belimbing yang holistik di Kabupaten Tambrauw.

Salah satu kegiatan saat seleksi training PMNH
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Terdapat 8 jenis lowongan kerja yang dibuka, diantaranya adalah Asisten Koordinator Program Komunikasi (AKPK), Tenaga Pengemasan dan Pemasaran Produk (TP3), Program Development Assistant (PDA), Tenaga Magang Pantai Peneluran (TMP2), Asisten Koordinator Penelitian (AKP), Koordinator Pantai Peneluran (KP2), Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) dan juga Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2). Beberapa lowongan kerja ini sendiri dapat dilihat pada laman Website kami yaitu www.science4conservation.com. Terhitung sejak tanggal 24 Februari 2022 Website kami, terutama pada halaman lowongan kerja sudah dilihat lebih dari 2000 kali. Kami juga mempromosikan lowongan kerja tersebut melalui beberapa akun sosial media kami.

Penandatanganan Kontrak Kerja PMNH
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pada hari terakhir penerimaan berkas, yaitu tanggal 5 Maret 2022, kami menerima total 317 berkas pelamar. Kemudian pada tanggal 14 – 15 Maret 2022, dilakukan seleksi wawancara bagi pelamar yang lolos pada seleksi berkas. Total jumlah pelamar yang diundang mengikuti seleksi tahap wawancara adalah 102 pelamar. Proses wawancara ini sendiri dilakukan secara daring menggunakan platform Zoom. Namun ada beberapa pelamar yang diwawancarai menggunakan platform WhatsApp Video call karena berada di lokasi yang jaringan internetnya kurang mendukung untuk wawancara melalui Zoom.

Posisi lowongan kerja yang dibukaJumlah Berkas yang diterimaJumlah Pelamar yang lolos seleksi administrasi Jumlah pelamar yang lolos seleksi wawancara & training
Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH)59229
Program Development Assistan (PDA)1741
Asisten Koordinator Penelitian (AKP)5381
Koordinator Pantai Peneluran (KP2)42115
Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2)65166
Tenaga Magang Pantai Peneluran (TMP2)26219
Asisten Koordinator Program Komunikasi (AKPK)47161
Tenaga Pengemasan dan Pemasaran Produk (TP3)841
Total31710233

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Berbagi Cerita Proses Seleksi Staf baru Program Sains untuk Konservasi

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/berbagi-cerita-proses-seleksi-staf-baru-program-sains-untuk-konservasi” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/berbagi-cerita-proses-seleksi-staf-baru-program-sains-untuk-konservasi” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/berbagi-cerita-proses-seleksi-staf-baru-program-sains-untuk-konservasi” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Tanggal

28 April 2022

Penulis

Noviyanti & Naqliya Arum Permata

Tanggal

28 April 2022

Penulis

Noviyanti & Naqliya Arum Permata

Program Sains untuk Konservasi melalui Lembaga Penelitian dan dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua adalah sebuah program yang bertujuan menjadi pusat data dan informasi yang mendukung proses pengambilan kebijakan untuk pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua. Pada tanggal 24 Februari 2022 Program Sains untuk Konservasi membuka lowongan kerja bagi lulusan D3 hingga S2 untuk terlibat dalam pelaporan kegiatan monitoring di Bentang Laut Kepala Burung-Papua dan melakukan upaya konservasi penyu belimbing yang holistik di Kabupaten Tambrauw.

Salah satu kegiatan saat seleksi training PMNH
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Terdapat 8 jenis lowongan kerja yang dibuka, diantaranya adalah Asisten Koordinator Program Komunikasi (AKPK), Tenaga Pengemasan dan Pemasaran Produk (TP3), Program Development Assistant (PDA), Tenaga Magang Pantai Peneluran (TMP2), Asisten Koordinator Penelitian (AKP), Koordinator Pantai Peneluran (KP2), Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) dan juga Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2). Beberapa lowongan kerja ini sendiri dapat dilihat pada laman Website kami yaitu www.science4conservation.com. Terhitung sejak tanggal 24 Februari 2022 Website kami, terutama pada halaman lowongan kerja sudah dilihat lebih dari 2000 kali. Kami juga mempromosikan lowongan kerja tersebut melalui beberapa akun sosial media kami.

Penandatanganan Kontrak Kerja PMNH
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pada hari terakhir penerimaan berkas, yaitu tanggal 5 Maret 2022, kami menerima total 317 berkas pelamar. Kemudian pada tanggal 14 – 15 Maret 2022, dilakukan seleksi wawancara bagi pelamar yang lolos pada seleksi berkas. Total jumlah pelamar yang diundang mengikuti seleksi tahap wawancara adalah 102 pelamar. Proses wawancara ini sendiri dilakukan secara daring menggunakan platform Zoom. Namun ada beberapa pelamar yang diwawancarai menggunakan platform WhatsApp Video call karena berada di lokasi yang jaringan internetnya kurang mendukung untuk wawancara melalui Zoom.

Posisi lowongan kerja yang dibukaJumlah Berkas yang diterimaJumlah Pelamar yang lolos seleksi administrasi Jumlah pelamar yang lolos seleksi wawancara & training
Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH)59229
Program Development Assistan (PDA)1741
Asisten Koordinator Penelitian (AKP)5381
Koordinator Pantai Peneluran (KP2)42115
Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2)65166
Tenaga Magang Pantai Peneluran (TMP2)26219
Asisten Koordinator Program Komunikasi (AKPK)47161
Tenaga Pengemasan dan Pemasaran Produk (TP3)841
Total31710233
NoPosisi lowongan kerja yang dibukaJumlah Berkas yang diterimaJumlah Pelamar yang lolos seleksi administrasi Jumlah pelamar yang lolos seleksi wawancara & training
1Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH)59229
2Program Development Assistan (PDA)1741
3Asisten Koordinator Penelitian (AKP)5381
4Koordinator Pantai Peneluran (KP2)42115
5Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2)65166
6Tenaga Magang Pantai Peneluran (TMP2)26219
7Asisten Koordinator Program Komunikasi (AKPK)47161
8Tenaga Pengemasan dan Pemasaran Produk (TP3)841
Total31710233

Khusus untuk PMNH, setelah melalui tahap seleksi wawancara mereka lanjut ke tahap pelatihan. Terdapat 13 peserta pelatihan PMNH yang dinyatakan lolos pada tahap seleksi wawancara dan 9 orang diantaranya lolos tahap pelatihan. Kegiatan pelatihan dilakukan 4 hari pada tanggal 22 – 24 dan 28 Maret 2022. Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk memperkenalkan kepada PMNH tujuan kegiatan dan membekali mereka keahlian spesifik yang mereka butuhkan selama berada di lapangan.

Beberapa materi yang disampaikan antara lain: latar belakang Program Sains untuk Konservasi, memperkenalkan penyu dan upaya konservasi yang dilakukan di TP Jeen Womom, gambaran umum program pemberdayaan masyarakat di Kab. Tambrauw, teknik mengajar calistung, bahasa inggris, komputer dan pendidikan lingkungan hidup kepada anak-anak, pembuatan minyak kelapa yang bersih, pelaporan dan pelaksanaan monitoring dan evaluasi kegiatan.

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/berbagi-cerita-proses-seleksi-staf-baru-program-sains-untuk-konservasi” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]
[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/berbagi-cerita-proses-seleksi-staf-baru-program-sains-untuk-konservasi” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]
[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/berbagi-cerita-proses-seleksi-staf-baru-program-sains-untuk-konservasi” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Ikuti Survei

Bantu kami meningkatkan kualitas informasi hasil monitoring sosial dan ekologi di BLKB-Papua.

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Categories
Outreach

Pengumuman Hasil Seleksi Wawancara Community Outreach Assistant Tahun 2022

Pengumuman Hasil Seleksi Wawancara Community Outreach Assistant Tahun 2022

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk wawancara untuk posisi-posisi di kantor kami. Kami menikmati waktu yang kami pakai untuk mengenal para pelamar semua. Dengan ini kami menyampaikan hasil seleksi wawancara. Kami percaya KANDIDAT UTAMA yang kami pilih memiliki pengalaman dan keterampilan khusus yang kuat untuk menjadi aset bagi upaya konservasi di Tanah Papua. Bagi para pelamar yang belum terpilih, kami melihat pengalaman dan keterampilan khusus yang Anda miliki mampu menjadi modal untuk berkarya di tempat lain. Dan yang terpenting, semoga kita selalu terlibat dalam upaya pelestarian alam kita.

Dengan hormat kami sampaikan KANDIDAT UTAMA yang terpilih sebagai berikut:

“ABIGAIL E. F. LANG”

Bila ada hal-hal yang kurang jelas, silakan japri ke admin WA Grup. Kami ucapkan selamat kepada kandidat yang terpilih. Sampai bertemu di Manokwari. Salam lestari!

Categories
Outreach

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi dan Informasi Seleksi Wawancara Community Outreach Assistant Tahun 2022

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi dan Informasi Seleksi Wawancara Community Outreach Assistant Tahun 2022

Salam Lestari!

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah menerima 74 berkas dan telah selesai melakukan Seleksi Administrasi. Dari hasil seleksi administrasi tersebut 29 Orang dinyatakan LULUS. Berikut kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri Tahap SELEKSI WAWANCARA. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.
1. Wawancara dilaksanakan tanggal 21-22 April 2022
2. Wawancara dilaksanakan secara online melalui Zoom
3. Bila ada hal-hal yang kurang jelas, silakan japri ke admin WA Grup

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya.

Tabel Nama-Nama Pelamar yang Lulus Seleksi Administrasi

NoNama PelamarAsal DaerahJenis Kelamin
1Yakomina Levina Osmondo BlesiaSorongPerempuan
2Agustinus Tandi KapangManokwariLaki-Laki
3Jofiane Heane RumbiakManokwariPerempuan
4Winikay RisamasuTimikaPerempuan
5Siis WerimonManokwariPerempuan
6Apriana Ema LiarianKota SorongPerempuan
7Debby BorumeiKota SorongPerempuan
8Abigail Emylia Febricristiani LangManadoPerempuan
9Lintang Ardhi HidayatullaSurabayaLaki-Laki
10Rachmadanu Fitra PanutanSukabumiLaki-Laki
11Abdi KurniawanPadangLaki-Laki
12Putri Fara SholihahSurakarta-JatengPerempuan
13Mahardika Azis FadlySumatra BaratLaki-Laki
14IswadiSanggau, KalbarLaki-Laki
15Rosy Qoimatul QolbiyahSurabayaPerempuan
16Kintantya Qurrata A’yuninTangerangPerempuan
17Gilang Gunawan Permana PutraBandungLaki-Laki
18Triesha AmaliaSemarangPerempuan
19Nanda Citra Ayu FardyaniKota SorongPerempuan
20Stuard Aldo WoisiriJayapuraLaki-Laki
21Intan Tia Ajeng AryaniTeluk BintuniPerempuan
22Annisa PatiranKabupaten FakfakPerempuan
23Nila PratiwiPalu, Sulawesi TengahPerempuan
24HermalindaMataram, LombokPerempuan
25Ikerniaty A. T. SandiliPaluPerempuan
26Arif Devit Wayan DianaKota ProbolinggoLaki-Laki
27Tri PrawotoPekanbaruLaki-Laki
28Nuri IkhwanaNgawi, Jawa TimurPerempuan
29Oktafia Kusuma SariYogyakartaPerempuan

Categories
Konservasi Penyu Belimbing Diseminasi

Mahasiswa Universitas Papua akan Penelitian di Pantai Peneluran Penyu Belimbing Terbesar di Pasifik

Mahasiswa Universitas Papua akan Penelitian di Pantai Peneluran Penyu Belimbing Terbesar di Pasifik

Penulis

Noviyanti dan Deasy Lontoh

Tanggal

13 April 2022

Setiap  tahunnya  75%  aktivitas  peneluran penyu belimbing di Pasifik Barat berpusat di pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab di Distrik Abun dan Distrik Tobouw, Kabupaten Tambrauw. Walau lebih besar dari populasi penyu belimbing di Papua Nugini dan Kepulauan Solomon, jumlah sarang di Abun telah menurun 60-80% sejak tahun 1980an. Pengambilan penyu dan telurnya yang berlangsung dalam skala besar pada tahun 1970an hingga 1990an berkontribusi dalam penurunan jumlah penyu dan sarang. Walau kini pengambilan penyu dalam skala besar tidak lagi terjadi di Abun, sukses penetasan yang rendah menjadi kendala dalam regenerasi populasi penyu belimbing.

Elisa mempresentasikan rencana penelitiannya kepada tim monitoring dan pemantauan penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Penelitian-penelitian yang dilakukan UNIPA mengidentifikasi predator, suhu pasir yang tinggi, erosi, penggenangan oleh air pasang, dan akar Ipomoea sp. sebagai ancaman utama terhadap sarang penyu. Oleh karena itu, upaya konservasi di pantai peneluran berfokus untuk melindungi sarang-sarang dari ancaman-ancaman tersebut dengan metode yang sudah dikaji secara ilmiah.

Suasana diskusi setelah pemaparan rencana penelitian
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bertolak dari tantangan ini, Elisa S.H. Putra, mahasiswa dari Program Studi Strata 1 Biologi Universitas Papua tertarik melakukan penelitian mengenai keefektifan naungan untuk meningkatkan sukses penetasan telur penyu belimbing (Dermochelys coriacea) yang terancam suhu pasir tinggi. Elisa melakukan penelitian ini dibawah bimbingan Dr. Keliopas Krey, S.Pd., M.Si dan Dr. Elda I.J. Kawulur, S.Si., M.Si. Pada tanggal 23 Maret 2022, Elisa memaparkan rencana penelitiannya pada pertemuan dengan tim monitoring dan pemantauan penyu belimbing LPPM UNIPA.

Elisa akan memasang dua jenis naungan pada sarang in-situ menggunakan daun pakis dan cocomesh (produk olahan dari limbah sabut kelapa) yang banyak ditemukan di sekitar pantai peneluran. Elisa akan melihat seberapa derajat suhu pasir direndahkan dan seberapa tinggi sukses penetasan telur penyu belimbing pada dua jenis naungan tersebut. Hasil ini Elisa bandingkan dengan sarang kontrol, yaitu sarang in-situ yang tidak diberi naungan.

Suasana diskusi setelah pemaparan rencana penelitian
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menurut Deasy Lontoh, koordinator penelitian pada tim monitoring dan pemantauan penyu belimbing LPPM UNIPA, cocomesh mungkin menjadi salah satu pilihan yang baik. Hal ini dilihat dari segi ketersediaan di lapangan, biaya murah, tidak mudah rusak karena panas ataupun hujan, lebih mudah terurai di alam. Namun demikian, belum pernah ada kajian ilmiah untuk mengukur efektifitas dalam meningkatkan sukses penetasan telur penyu belimbing. Selama ini tim selalu menggunakan daun pakis sebagai naungan, namun ketersediaannya di pantai peneluran penyu sangat terbatas. Deasy menyambut dengan baik rencana penelitian tersebut.

Deasy menyampaikan bahwa upaya penelitian untuk menciptakan inovasi yang mendukung upaya konservasi Penyu Belimbing yang holistik di wilayah ini sangat diperlukan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Mahasiswa Universitas Papua akan Penelitian di Pantai Peneluran Penyu Belimbing Terbesar di Pasifik

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/mahasiswa-universitas-papua-akan-penelitian-di-pantai-peneluran-penyu-belimbing-terbesar-di-pasifik” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/mahasiswa-universitas-papua-akan-penelitian-di-pantai-peneluran-penyu-belimbing-terbesar-di-pasifik” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/mahasiswa-universitas-papua-akan-penelitian-di-pantai-peneluran-penyu-belimbing-terbesar-di-pasifik” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Tanggal

13 April 2022

Penulis

Noviyanti & Deasy Lontoh

Tanggal

13 April 2022

Penulis

Noviyanti & Deasy Lontoh

Setiap  tahunnya  75%  aktivitas  peneluran penyu belimbing di Pasifik Barat berpusat di pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab di Distrik Abun dan Distrik Tobouw, Kabupaten Tambrauw. Walau lebih besar dari populasi penyu belimbing di Papua Nugini dan Kepulauan Solomon, jumlah sarang di Abun telah menurun 60-80% sejak tahun 1980an. Pengambilan penyu dan telurnya yang berlangsung dalam skala besar pada tahun 1970an hingga 1990an berkontribusi dalam penurunan jumlah penyu dan sarang. Walau kini pengambilan penyu dalam skala besar tidak lagi terjadi di Abun, sukses penetasan yang rendah menjadi kendala dalam regenerasi populasi penyu belimbing.

Elisa mempresentasikan rencana penelitiannya kepada tim monitoring dan pemantauan penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Penelitian-penelitian yang dilakukan UNIPA mengidentifikasi predator, suhu pasir yang tinggi, erosi, penggenangan oleh air pasang, dan akar Ipomoea sp. sebagai ancaman utama terhadap sarang penyu. Oleh karena itu, upaya konservasi di pantai peneluran berfokus untuk melindungi sarang-sarang dari ancaman-ancaman tersebut dengan metode yang sudah dikaji secara ilmiah.

Suasana diskusi setelah pemaparan rencana penelitian
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bertolak dari tantangan ini, Elisa S.H. Putra, mahasiswa dari Program Studi Strata 1 Biologi Universitas Papua tertarik melakukan penelitian mengenai keefektifan naungan untuk meningkatkan sukses penetasan telur penyu belimbing (Dermochelys coriacea) yang terancam suhu pasir tinggi. Elisa melakukan penelitian ini dibawah bimbingan Dr. Keliopas Krey, S.Pd., M.Si dan Dr. Elda I.J. Kawulur, S.Si., M.Si. Pada tanggal 23 Maret 2022, Elisa memaparkan rencana penelitiannya pada pertemuan dengan tim monitoring dan pemantauan penyu belimbing LPPM UNIPA.

Elisa akan memasang dua jenis naungan pada sarang in-situ menggunakan daun pakis dan cocomesh (produk olahan dari limbah sabut kelapa) yang banyak ditemukan di sekitar pantai peneluran. Elisa akan melihat seberapa derajat suhu pasir direndahkan dan seberapa tinggi sukses penetasan telur penyu belimbing pada dua jenis naungan tersebut. Hasil ini Elisa bandingkan dengan sarang kontrol, yaitu sarang in-situ yang tidak diberi naungan.

Suasana diskusi setelah pemaparan rencana penelitian
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menurut Deasy Lontoh, koordinator penelitian pada tim monitoring dan pemantauan penyu belimbing LPPM UNIPA, cocomesh mungkin menjadi salah satu pilihan yang baik. Hal ini dilihat dari segi ketersediaan di lapangan, biaya murah, tidak mudah rusak karena panas ataupun hujan, lebih mudah terurai di alam. Namun demikian, belum pernah ada kajian ilmiah untuk mengukur efektifitas dalam meningkatkan sukses penetasan telur penyu belimbing. Selama ini tim selalu menggunakan daun pakis sebagai naungan, namun ketersediaannya di pantai peneluran penyu sangat terbatas. Deasy menyambut dengan baik rencana penelitian tersebut.

Deasy menyampaikan bahwa upaya penelitian untuk menciptakan inovasi yang mendukung upaya konservasi Penyu Belimbing yang holistik di wilayah ini sangat diperlukan.

(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menurut Deasy Lontoh, koordinator penelitian pada tim monitoring dan pemantauan penyu belimbing LPPM UNIPA, cocomesh mungkin menjadi salah satu pilihan yang baik. Hal ini dilihat dari segi ketersediaan di lapangan, biaya murah, tidak mudah rusak karena panas ataupun hujan, lebih mudah terurai di alam. Namun demikian, belum pernah ada kajian ilmiah untuk mengukur efektifitas dalam meningkatkan sukses penetasan telur penyu belimbing. Selama ini tim selalu menggunakan daun pakis sebagai naungan, namun ketersediaannya di pantai peneluran penyu sangat terbatas. Deasy menyambut dengan baik rencana penelitian tersebut. Deasy menyampaikan bahwa upaya penelitian untuk menciptakan inovasi yang mendukung upaya konservasi Penyu Belimbing yang holistik di wilayah ini sangat diperlukan.

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/mahasiswa-universitas-papua-akan-penelitian-di-pantai-peneluran-penyu-belimbing-terbesar-di-pasifik” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]
[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/mahasiswa-universitas-papua-akan-penelitian-di-pantai-peneluran-penyu-belimbing-terbesar-di-pasifik” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]
[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/mahasiswa-universitas-papua-akan-penelitian-di-pantai-peneluran-penyu-belimbing-terbesar-di-pasifik” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Ikuti Survei

Bantu kami meningkatkan kualitas informasi hasil monitoring sosial dan ekologi di BLKB-Papua.

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya