Categories
New Template Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Menjaga Laut Bersama: Cerita Kami, Enam Relawan di Kapal Sabuk Nusantara 112 – Part 2

Menjaga Laut Bersama: Cerita Kami, Enam Relawan di Kapal Sabuk Nusantara 112 - Part 2

Penulis

Anjely Novianti Kondororik, Minggas Natraka dan Chatarina Galis Aprisia

Tanggal

6 Agustus 2026

Teduh di Bawah Langit yang Sama – Anjely

Setelah tiga hari ditemani debur ombak dan semilir angin laut, akhirnya kami menapakkan kaki di Kota Sorong. Mentari pagi menyambut kami dengan hangat, seolah menjadi jeda yang kami perlukan sebelum kembali menempuh perjalanan menuju Manokwari. Kami menginap di sebuah hotel kecil bernama Rumberpon. Tubuh yang lelah akhirnya menemukan waktu untuk beristirahat.

Menjelang sore, kami memutuskan untuk menikmati sedikit waktu dengan menjelajahi Kota Sorong. Ada yang memilih menikmati hiruk-pikuk pusat perbelanjaan, ada yang berburu kuliner yang sedang viral di Sorong, dan ada pula yang menyempatkan diri melepas rindu dengan kerabat. Meski tujuan kami berbeda, senja mempertemukan kami kembali di tempat yang sama, yaitu Reklamasi.

Di tepi laut itu, kami duduk bersama ditemani secangkir kopi dan es krim, memandangi matahari yang perlahan tenggelam di balik cakrawala. Langit melukis warna-warna jingga keemasan, seakan memberi penghormatan pada perjalanan yang telah kami lalui. Waktu terasa berjalan lebih lambat. Setiap menit dipenuhi tawa, canda, dan kebahagiaan yang mampu menghapus lelah akibat berhari-hari di atas kapal. Senja itu mengajarkan bahwa kebersamaan sering kali menjadi obat terbaik bagi rasa letih.

Pelabuhan Sorong.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Abigail Lang)

Menikmati sunset di Reklamasi Sorong.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Federika Kondororik)

Ketika malam mengambil alih langit, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat makan. Setelah makan, kami menghabiskan sisa malam di Tuan Tana Cafe. Di sana, tawa kembali pecah, diselingi refleksi tentang perjalanan, tantangan, dan pelajaran yang kami temui selama menjadi relawan. Malam itu bukan sekadar waktu untuk bersantai, tetapi juga ruang untuk mempererat ikatan, membangun rasa saling percaya, dan menguatkan semangat sebelum kembali menempuh perjalanan pulang. Sepulang dari kafe, sebelum benar-benar mengakhiri hari, kami masih menyempatkan diri berbincang bersama kakak-kakak pendamping yang selama ini menjadi teman sekaligus pembimbing dalam perjalanan kami. Malam itu kami menutup mata dengan tubuh yang lelah, tetapi hati yang penuh syukur.

Keesokan harinya, kami memanfaatkan sisa waktu di Kota Sorong dengan mengunjungi Paragon Mall. Kami menikmati makan siang bersama, membeli beberapa kebutuhan, dan mengabadikan momen-momen terakhir sebelum kembali ke hotel.

Setelah semuanya siap, kami melangkah menuju Pelabuhan Sorong. Perjalanan ini mungkin hanya berlangsung beberapa hari, tetapi makna yang dibawanya akan tinggal jauh lebih lama. Laut telah mengajarkan kami tentang kesabaran, penyu mengingatkan kami akan pentingnya menjaga kehidupan, dan kebersamaan menghadirkan kenangan yang akan selalu hidup di dalam hati. Di antara ombak yang terus bergulung, senja yang perlahan tenggelam, dan cahaya bulan yang menyapa, kami belajar bahwa perjalanan paling berharga bukan hanya tentang tempat yang dituju, melainkan tentang manusia, alam, dan cerita yang tumbuh di sepanjang perjalanan.

Melawan Ombak, Menjaga Arah – Minggas

Pada jumat malam, kami kembali menaiki Kapal Sabuk Nusantara 112 untuk menempuh perjalanan pulang dari Kota Sorong. Kami mengawali perjalanan dengan semangat yang sama seperti sebelumnya, meskipun kondisi di lapangan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Ombak yang cukup besar membuat kapal terus bergoyang sepanjang pelayaran menuju Sausapor. Akibatnya, beberapa anggota tim mulai mengalami mabuk laut dan harus beristirahat sejenak untuk memulihkan kondisi. Setelah keadaan berangsur membaik, kami kembali melanjutkan perjalanan dan kegiatan yang telah direncanakan. 

Pada Sabtu pagi, kami mulai menyapa para penumpang dan masyarakat sekitar untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga penyu dan kelestarian laut. Tidak semua penumpang menyambut kami dengan antusias. Ada yang menolak berbicara karena sedang terburu-buru; ada pula yang menganggap pelestarian penyu bukan tanggung jawab mereka. Bahkan, beberapa orang hanya tersenyum lalu pergi tanpa sempat mendengarkan penjelasan kami.

Keberangkatan dari Pelabuhan Sorong.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Padatnya jadwal kapal serta terbatasnya waktu pelayaran dari Sorong menuju Sausapor, yakni mulai pukul 00.30 WIT hingga sekitar pukul 09.00 WIT, membuat kesempatan kami untuk berinteraksi dengan para penumpang menjadi sangat terbatas. Kondisi tersebut menyebabkan pelaksanaan pre-test dan post-test serta penjangkauan melalui Pojok Baca belum dapat berjalan secara maksimal. 

Meskipun demikian, kami tetap berupaya memanfaatkan setiap kesempatan agar pesan yang disampaikan dapat diterima oleh lebih banyak penumpang. Sebagai alternatif penjangkauan, kami membagikan flyer kepada para penumpang yang turun di Pelabuhan Sausapor. 

Walaupun menghadapi berbagai tantangan, kami tidak menyerah. Kami mengubah cara penyampaian dengan menggunakan bahasa yang lebih sederhana dan mengajak masyarakat berdiskusi secara santai. Kami juga membagikan informasi singkat yang mudah dipahami agar mereka tetap memperoleh pengetahuan meskipun hanya memiliki sedikit waktu.

Usaha tersebut mulai menunjukkan hasil. Beberapa penumpang yang awalnya tidak tertarik akhirnya bersedia mendengarkan penjelasan kami. Ada juga yang mengajukan pertanyaan mengenai cara menjaga habitat penyu dan mengurangi sampah plastik di laut. Respons positif itu menjadi penyemangat bagi kami untuk terus melanjutkan kegiatan.

Dari pengalaman hari itu, kami belajar bahwa setiap kegiatan pengabdian pasti memiliki hambatan. Cuaca, kondisi perjalanan, keterbatasan waktu, dan perbedaan pandangan masyarakat merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan kesabaran dan kerja sama. Kami menyadari bahwa perubahan tidak dapat terjadi dalam waktu singkat, tetapi melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Perjalanan ini mengajarkan kami bahwa melawan ombak bukan hanya tentang menghadapi gelombang di laut, tetapi juga menghadapi berbagai rintangan dalam menyampaikan pesan kebaikan. Dengan semangat, kesabaran, dan kerja sama, kami tetap mampu menjaga arah dan menjalankan misi pelestarian penyu demi masa depan laut yang lebih baik.

Seperti Penyu yang Selalu Pulang – Chatarina

Kembali pulang, pada akhirnya perjalanan kami menemui pelabuhan tujuan. Malam tepat sebelum kaki kembali menapaki daratan, kami berkumpul di ruangan kecil istimewa favorit kami. Bersama makanan yang disediakan oleh Om Koki, kami menanti hasil perjuangan kami dengan harap-harap cemas jika kami tidak mencapai target penjangkauan.

Dua Ratus Tujuh Puluh Lima!!!” hitung Kak Yeni pada tarikan terakhir kertas penjangkauan yang langsung disambut tepuk tangan meriah dari kami yang puas mengetahui bahwa kami, enam orang relawan, dapat menjangkau begitu banyak penumpang. Rasanya semua masalah kamar mandi, masalah kepanasan, masalah ditolak, masalah dimarahi beberapa oknum penumpang, hingga masalah sakit tenggorokan, sirna begitu saja. Kami tersenyum satu sama lain, mengingat segala usaha keras yang sudah dilakukan selama kurang lebih enam hari di kapal. Enam hari terasa panjang ketika dijalani, tetapi tiba-tiba terasa begitu singkat ketika akhirnya harus berakhir.

Istirahat sejenak di sela pre-test dan post-test bersama penumpang.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Kami memilih menutup malam terakhir perjalanan dengan berkumpul di geladak terbuka, dengan speaker yang kalah saing dari “tetangga” sebelah. Menikmati angin tengah malam bersama riuh rendah deru mesin kapal, beratapkan cahaya bintang yang telah bersinar ribuan tahun silam. Kartu UNO yang dimainkan sebanyak enam ronde -penuh tawa, intrik, dan gimik—menjadi kegiatan penutup sebelum akhirnya kami menghempaskan diri pada kasur sempit dengan beragam aroma beraneka rasa hingga pagi menjelang.

Tim tiba di Pelabuhan Manokwari.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Tim sedang menurunkan panel.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Penyu mungkin tidak pernah tahu namanya disebut ratusan kali di atas geladak Kapal Sabuk Nusantara 112, hingga kami sering dipanggil “Kakak Penyu! Ibu Guru Penyu!”. Namun mungkin, tanpa kami sadari, perjalanan ini justru mengajarkan kami sesuatu tentang mereka: bahwa pulang bukanlah perkara sederhana.

Seperti penyu yang berenang melintasi lautan luas untuk kembali ke tempat ia dilahirkan, kami pun akhirnya kembali ke daratan. Membawa pulang tubuh yang lelah, tenggorokan yang serak, kulit yang mungkin sedikit lebih gelap, dan kepala yang penuh dengan cerita. Namun, lebih dari itu, kami membawa pulang kesadaran bahwa enam hari di atas kapal ternyata mampu meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang daripada yang kami kira.

Kami datang sebagai orang yang hanya tahu penyu sebatas hewan laut yang harus dilindungi. Kami pulang dengan nama-nama, cerita, dan wajah yang melekat di kepala. Tentang penyu yang mati-matian kembali ke pantai tempatnya berasal. Tentang mereka yang tanpa suara menghadapi begitu banyak ancaman di laut. Tentang orang-orang yang memilih untuk tetap peduli, bahkan ketika pekerjaannya tidak selalu mudah dan hasilnya tidak selalu terlihat.

Akhir kata, terima kasih kepada Science for Conservation LPPM UNIPA yang sudah mengizinkan kami, enam orang dengan beragam latar belakang, menjadi bagian dari kisah ini. Enam hari di atas kapal Sabuk Nusantara 112 mungkin telah berakhir, tetapi cerita, tawa, lelah, dan setiap pertemuan yang kami bawa pulang akan selalu menjadi bagian dari perjalanan kami. Terima kasih telah memberi kami kesempatan untuk belajar, berbagi, bertemu orang baru, merasakan pengalaman, dan mengenal laut serta penyu lebih dekat. Sampai jumpa di lain waktu, di perjalanan berikutnya, dan semoga selalu ada alasan bagi kita untuk kembali menjaga mereka yang selalu menemukan jalan pulang.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
New Template Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Menjaga Laut Bersama: Cerita Kami, Enam Relawan di Kapal Sabuk Nusantara 112 – Part 1

Menjaga Laut Bersama: Cerita Kami, Enam Relawan di Kapal Sabuk Nusantara 112 - Part 1

Penulis

Siti Fatimah Az Zahro, Maria Anggriani Way, Martha Maria Heipon

Tanggal

6 Agustus 2026

Sebelum Jejak Pertama di Kapal – Zahro

Setiap perjalanan selalu dimulai jauh sebelum kapal meninggalkan dermaga. Seminggu sebelum pelaksanaan penjangkauan di atas kapal, kami dilatih untuk siap dengan bekal ilmu dan mental yang matang. Setiap hari, mulai pukul sembilan, kadang pukul sepuluh, dan berakhir sore hari, banyak hal dipelajari, mulai dari perkenalan program sampai praktik langsung simulasi penjangkauan kepada masyarakat dengan berbagai latar belakang. Kami berhadapan dengan lembar-lembar materi yang masih berbau tinta printer dan hati yang dipenuhi tanya tentang bagaimana nantinya ketika sudah berhadapan langsung dengan masyarakat.

Dalam pembekalan itu, kami tidak hanya belajar tentang penyu, tetapi juga tentang bagaimana menyampaikan sesuatu yang rumit menjadi sederhana, bagaimana mendengar sebelum berbicara, dan bagaimana menghargai cara pandang masyarakat pesisir terhadap laut yang selama ini menghidupi mereka. Kantor Science for Conservation di Manokwari, yang biasanya sepi, mendadak ramai oleh suara diskusi, tawa kecil, dan sesekali keluhan karena materi yang terasa berat untuk dicerna dalam waktu singkat.

Simulasi pre/post test.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Suasana di kantor Sains untuk Konservasi.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Siti Zahro)

Suatu siang, ketika latihan simulasi penjangkauan sedang berjalan, salah satu senior menegur cara kami menyampaikan penjangkauan kepada masyarakat. Bahasanya terlalu berat dan bisa jadi menyinggung masyarakat. “Ko jang bicara macam baca buku terus, nanti dong bosan dengar. Ko harus bicara dari hati, baru dong mau dengar,”  katanya sambil tersenyum. Kami yang masih canggung hanya bisa mengangguk, mencoba meresapi setiap kata. Seorang teman di sebelah saya berbisik pelan, “Ini baru latihan sa su deg-degan, apalagi nanti langsung di kapal.”

Malam harinya, di ruang kantor yang mulai redup, kami duduk melingkar membahas kembali materi hari itu. Ada yang mencatat, ada yang sekadar mendengarkan sambil menyeruput kopi. Rasa lelah jelas ada, tapi ada juga semacam kegembiraan yang tumbuh diam-diam, kegembiraan karena tahu bahwa apa yang kami pelajari akan segera diuji langsung di lapangan, di antara masyarakat yang menanti dan laut yang menyimpan banyak cerita.

Mengikuti Arus yang Membawa Harapan – Maria

Berlayar menggunakan kapal perintis seperti Kapal Sabuk Nusantara 112 (Sanus 112) bukan sekadar perjalanan untuk berpindah tempat, melainkan juga latihan kesabaran dan proses adaptasi yang unik. Ini merupakan pengalaman pertama bagi saya melakukan perjalanan bersama teman-teman relawan dan Science for Conservation

Saya belum pernah menggunakan kapal seperti ini sebelumnya, sehingga belum bisa membayangkan situasi yang akan kami lalui. Perasaan takut terhadap gelombang bahkan sempat membuat saya hampir menyerah ketika berada di Pelabuhan Manokwari sebelum keberangkatan. Namun, dukungan dari teman-teman membuat saya kembali mengingat alasan dan tujuan awal saya untuk ikut berlayar. Semangat itu akhirnya tidak padam. Saya berhasil melewati proses ini, mengalahkan rasa takut, menemukan hal-hal baru, serta bertemu dengan orang-orang baru selama pelayaran.

Maria melakukan pre/post test dewasa.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Hal yang paling berkesan dari pelayaran dengan Sabuk Nusantara 112 adalah interaksi sosialnya. Penumpang kapal perintis umumnya terdiri atas warga lokal, pedagang antarpulau, dan anak-anak daerah yang hendak bersekolah. Pada akhirnya, berlayar bersama teman-teman relawan menggunakan kapal Sabuk Nusantara 112 mengajarkan saya bahwa beradaptasi bukan tentang melawan ketakutan saya, melainkan tentang bagaimana saya mampu menyesuaikan diri dengan kondisi di atas laut. Ketika saya tidak berusaha memaksakan kenyamanan berada di darat saat saya berlayar di atas kapal, saya belajar bahwa pelayaran ini bukan hanya sekadar perjalanan di atas laut, tetapi menjadi bagian dari pengalaman hidup yang manis. 

Ketika Riak Menjadi Ruang BelajarMartha

Perjalanan di atas dek Kapal Sabuk Nusantara 112 yang sedang membelah lautan: gerakan gelombang air tidak hanya menggerakkan kapal, tetapi juga mengalirkan inspirasi. Di tengah perjalanan panjang antarpulau, setiap sudut ruang kapal berubah menjadi ruang cerita yang penuh kehangatan. Kami, tim relawan, berhasil mengubah kejenuhan perjalanan laut menjadi sebuah momen edukasi yang sangat berharga bagi anak-anak pesisir.

Momen indah terekam saat tim kami, Kak Sesar, duduk bersama anak-anak. Menggunakan rompi krem bertuliskan pesan “Jaga Penyu”, ia tampak memberikan penjelasan dengan penuh kesabaran. Di sekelilingnya, anak-anak mendengarkan dengan penuh antusias. Keseriusan terpancar dari mata mereka. Ada yang berdiri bersandar pada kursi kapal, ada pula yang duduk merapat, seolah-olah tidak ingin kehilangan satu kata pun dari cerita yang disampaikan oleh Kak Sesar.

Martha selesai melakukan pre/post test orang dewasa.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Mas Sesar sedang membacakan buku Seri Pembi.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Martha Heipon)

Interaksi ini membuktikan bahwa edukasi konservasi tidak harus kaku dan formal di dalam ruang kelas. Di atas kapal, dengan latar belakang “pojok baca” dan dekorasi penyu yang terlihat di belakang spanduk, sains didekatkan melalui cerita dan aktivitas interaktif. Anak-anak diajak mengenal kekayaan laut Papua, mulai dari terumbu karang yang cantik hingga pentingnya menjaga penyu (teteruga) dari kepunahan. Suara riak air laut yang terdengar dari dinding kapal menjadi musik latar dari sebuah cerita penting tentang masa depan Bumi.

Bagi kami sebagai tim relawan Science for Conservation, setiap perjalanan pelayaran dari satu kampung ke kampung lain adalah peluang emas. Anak-anak dan orang dewasa yang kami temui di kapal ini adalah calon penjaga pulau-pulau terdepan Papua. Dengan menanamkan rasa cinta kepada alam Papua sejak dini, percakapan di atas kapal Sabuk Nusantara 112 ini diharapkan mampu membesar menjadi gelombang kesadaran yang besar saat mereka kembali ke kampung masing-masing. Perjalanan yang melelahkan berubah menjadi ruang berbagi mimpi. Lewat kepedulian teman-teman relawan, sains tidak lagi terasa jauh dan rumit, melainkan hadir sebagai sahabat yang siap menemani anak-anak ini untuk menjaga laut tetap biru.

Setelah melewati lautan bersama Kapal Sabuk Nusantara 112, kini kami tiba di perairan Wau-Weyaf, disini Kapal Sabuk Nusantara 112 harus berlabuh dalam waktu yang cukup lama. Perjalanan penumpang yang akan turun menuju daratan Kampung Wau-Weyaf dilanjutkan dengan transportasi andalan masyarakat pesisir, yaitu perahu fiber. Meskipun berukuran kecil, perahu fiber ini mampu membelah ombak dengan lincah, membawa penumpang dan beberapa logistik mendekati bibir pantai. Karena kapal berlabuh cukup lama, kami pun memutuskan untuk ikut turun ke Kampung Wau-Weyaf menggunakan perahu. Disinilah kami memasuki babak baru yang sangat seru, air laut yang tadinya hanya menjadi percakapan di dek kapal kini terasa begitu dekat di kanan dan kiri lambung perahu. Setibanya di darat, saya bersama teman-teman relawan yang lain langsung menuju Rumah Belajar Kampung Wau-Weyaf. Setelah perjalanan laut yang sangat gerah, kami menumpang mandi dan menyegarkan diri di rumah belajar dengan suasana yang penuh keheningan. Kampung yang begitu gelap tanpa adanya lampu membuat kami mengandalkan cahaya dari api yang dibuat oleh kakak-kakak tim rumah belajar. Aroma asap kayu-kayu kering yang dibakar begitu khas, sekaligus membantu menerangi kami dan mengusir agas.

Volunteer turun ke perahu menuju Kampung Wau.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Abigail Lang)

Aktivitas sederhana ini menjadi momen penting yang tidak terlupakan. Namun, kunjungan ke daratan hanyalah sebuah persinggahan singkat. Usai membersihkan badan dan bercerita sambil meminum kopi dan teh yang disediakan oleh kakak-kakak tim lapangan rumah belajar, yang menghangatkan tubuh, kami segera kembali ke pantai untuk diantarkan kembali ke kapal. Dalam perjalanan, kami merasa sangat senang karena pemandangan langit yang begitu indah, dengan bintang-bintang yang begitu banyak dan bulan yang begitu terang.

Begitu kami tiba di atas Kapal Sabuk Nusantara 112, kami segera bersiap-siap untuk agenda berikutnya, yaitu menonton film bersama di kapal, tepatnya di depan kafetaria. Sebelum pemutaran film dimulai, kru kapal membantu mengumumkan kegiatan menonton bersama melalui pengeras suara kapal, sehingga para penumpang mengetahui adanya kegiatan tersebut dan dipersilakan untuk bergabung.

Kami memutar film tentang kekayaan laut dan pentingnya menjaga kebersihan laut dari sampah plastik serta pemanasan global. Penumpang kapal, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak yang sedang melakukan perjalanan antarpulau, berkumpul di lokasi pemutaran. Menonton bersama ini menjadi jembatan edukasi yang sangat efektif. Di sela-sela pemutaran film, kami membagikan beberapa makanan ringan untuk dimakan bersama dan bersantai saat menonton. Perjalanan panjang antarpulau tidak lagi terasa membosankan, melainkan menjelma menjadi ruang kelas terapung yang penuh dengan transfer ilmu dan kesadaran lingkungan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
New Template Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Jalan-Jalan Bersama KM Sabuk Nusantara 112: Ketika Perjalanan Menjadi Ruang Edukasi ​

Jalan-Jalan Bersama KM Sabuk Nusantara 112: Ketika Perjalanan Menjadi Ruang Edukasi

Penulis

Abigail Lang

Tanggal

4 Agustus 2026

Manifes kapal mencatat total 439 penumpang, dan kami berangkat dengan membawa segudang pertanyaan: “Apakah nanti banyak penumpang yang tertarik?” “Target 75% penumpang kapal, kira-kira bisa tercapai tidak ya?”

Sebelas orang membawa misi edukasi di atas kapal ini. Rombongan kami terdiri dari Tim Program: Kak Trisye, Kak Yeni, Mas Sesar, saya (Abigail), dan Fery. Sementara Anjely, Karin, Minggas, dan Martha (dari Manokwari), serta Maria dan Zahro (dari Sorong) yang menjadi tim volunteer.

Perasaan campur aduk ini bermula ketika seluruh tim bertemu dengan kapten dan kru kapal pada H-3 menjelang kegiatan.

Malam keberangkatan dari Pelabuhan Manokwari.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Hari Pertama – Keberangkatan yang Mendebarkan

Senin, 20 Juli 2026 dimulai dengan instruksi dari Mas Sesar, salah satu anggota tim kami. Kami diminta tiba di pelabuhan pukul 19.00 karena jadwal keberangkatan kapal adalah pukul 21.00. Setibanya di pelabuhan, kami mendapat kabar bahwa kapal masih harus menunggu rombongan wisata rohani dari Biak, Korido. Mereka sedang menuju Manokwari menggunakan KM Sabuk Nusantara 94 dan akan melanjutkan perjalanan bersama kami di KM Sabuk Nusantara 112 (Sanus 112). Saat menunggu, seorang penumpang berseru, “Rombongan wisata rohani ini sekitar ratusan orang!”

Kami semua menghela napas, saling bertatap, dan berharap kegiatan ini akan tetap berjalan lancar dengan respons yang baik. Ketika rombongan tiba, masyarakat tak henti-hentinya memindahkan barang dari kapal satu ke Sanus 112. Tepat pukul 22.30, stom ketiga berbunyi menandakan kapal akan segera berangkat. Kami mulai menempati kasur masing-masing di Dek 2. Malam itu, tim sepakat untuk beristirahat dan baru memulai aktivitas keesokan harinya.

Hari Kedua – Antusiasme di Pojok Baca & Nobar

Waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi. Setelah disuguhkan makanan hangat oleh koki kapal, tim melakukan briefing sembari sarapan. Lembaran pre-test dan post-test dibagikan, dan tanggung jawab masing-masing diserahkan.

Para volunteer dibekali starter pack untuk memulai penjangkauan kepada penumpang. Sementara itu, saya dan Mas Sesar berjaga di area “Pojok Baca”. Kak Trisye dan Kak Yeni menyiapkan berbagai perlengkapan—mulai dari merchandise, buku cerita seri 1-3, komik, hingga camilan ringan untuk dibagikan—sambil memantau pergerakan volunteer. (Sebagai catatan, buku-buku tersebut dikembangkan melalui kerja sama antara tim UNIPA dan Program Studi Desain dan Komunikasi Visual Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (DKV ITS), lengkap dengan ilustrasi karya mahasiswa mereka). Di sisi lain, Ferry menjadi ujung tombak dokumentasi yang sibuk mengabadikan momen dengan kameranya.

Briefing tim di pagi hari untuk memulai aktivitas.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Suasana ramai di Pojok Baca pada pagi hari.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Salah satu area kafetaria kapal kami sulap menjadi “Pojok Baca”. Tepat pukul 09.00 pagi, kami membukanya dan, BOOM! Masyarakat tak henti-hentinya datang silih berganti untuk menukarkan voucher. Keraguan yang selama ini menjadi keluh kesah kami akhirnya sirna; ternyata sebagian besar penumpang sangat antusias.

Tiga jam berlalu tanpa terasa. Ada yang datang menukarkan voucher, meminjam buku, hingga bermain games. Dari anak-anak hingga orang dewasa, laki-laki dan perempuan, semuanya ikut terlibat. Permainan edukasi yang kami bawa dirancang agar pesannya mudah diterima, seperti: kartu memori Ingat Penyu, ular tangga versi Dunia Penyu, puzzle menyusun karapas penyu.

Di sini, kami juga mengajarkan jingle “Tukik, Ayo Lari ke Laut” dan menyanyikannya bersama-sama. Menjelang siang, aktivitas di Pojok Baca mulai mereda karena rombongan wisata rohani telah turun di kampung persinggahan. Meski jumlah penumpang berkurang, anak-anak tetap berdatangan untuk bermain.

Dari Dek 3, pemandangan sunset tampak jelas menyinari kapal. Kampung demi kampung terlewati hingga akhirnya kami tiba di Kampung Wau pada malam hari. Waktu bersandar ini kami manfaatkan untuk menggelar Nonton Bareng (Nobar) di depan kafetaria. Tepat pukul 21.00, kami memperkenalkan tim dari UNIPA dan memutar video edukasi tentang pelestarian penyu, perubahan iklim, dan sampah plastik. Sesi pemutaran video dilanjutkan dengan tanya jawab interaktif bertabur hadiah, sebelum ditutup dengan pemutaran film action (yang sudah lulus sensor) sebagai hiburan bagi penumpang.

Pojok Baca: Penumpang menukarkan voucher dengan merchandise.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Pojok Baca: Penumpang menukarkan voucher dengan merchandise.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Hari ketiga – Menuju Sorong

Rabu, 22 Juli 2026 tim sudah semakin terbiasa dengan ritme kegiatan. Pagi harinya, kami kembali membuka Pojok Baca. Fery masih tampak lalu-lalang dari Dek 2 ke Dek 3 untuk memastikan semua momen terdokumentasi.

Pada malam hari, kami kembali mengadakan Nobar yang dipandu Kak Yeni. Ini terbukti menjadi salah satu strategi paling efektif untuk menjalin kedekatan dengan penumpang. Hari-hari selama perjalanan Manokwari–Sorong pun berakhir. Pukul 23.00, setelah Nobar selesai, kami beristirahat karena kapal dijadwalkan berlabuh di Pelabuhan Sorong keesokan paginya.

Setibanya di Sorong, kami memanfaatkan waktu dengan baik. Skenario yang kami susun sebelumnya ternyata berjalan sangat mendekati realitas di lapangan. Barang-barang logistik kami titipkan di kapal, karena pada Jumat malam tim harus kembali berlayar.

“Kak, ini besok kita sudah balik lagi ke kapal. Iya Kak, sekali lagi ini besok sudah balik,” kataku ke Kak Yeni sambil tertawa, masih dengan sisa-sisa rasa mabuk laut.

Nonton bareng film edukasi saat kapal bermalam.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Trip Balik: Sorong – Manokwari (24 – 26 Juli 2026)

Kak Trisye menginstruksikan tim untuk siap di pelabuhan pada pukul 23.00. Karena kapal berangkat pada pukul 00.30 dini hari, tidak ada aktivitas edukasi yang dilakukan pada malam tersebut.

Hari Kedua – Bertahan di Arus Balik 

Sabtu, 25 Juli 2026 Pagi harinya, kami mulai menyebarkan flyer “Fakta Menarik Penyu Belimbing”. Pendekatan langsung ini harus dilakukan dengan cepat karena penumpang tujuan Sausapor akan turun pada pukul 09.30. Di arus balik ini, jumlah penumpang memang lebih sedikit. Beberapa di antaranya bahkan penumpang yang sama yang sebelumnya naik dari kampung menuju Manokwari.

Malam harinya, kapal bersandar di Kampung Warmandi. Seorang bapak menghampiri Kak Trisye dan bertanya, “Kaka, ini masih ada mau Nobar kah?” Melihat antusiasme yang masih menyala, kami memutuskan untuk tetap mengadakan Nobar. Video edukasi kembali diputar dan kuis tanya jawab kembali dilontarkan. Meski penumpang semakin hari semakin sedikit, semangat tim tidak luntur; kami sangat menikmati setiap prosesnya.

Mama sedang membaca flyer edukasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Pojok Baca: Edukasi interaktif bersama penumpang.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Hari Ketiga – Reuni di Atas Kapal: Kembalinya Rombongan Wisata Rohani 

Minggu, 26 Juli 2026 tidak terasa, kami sudah melakukan empat hari penuh penjangkauan di atas kapal. Kami mendapat kabar bahwa rombongan wisata rohani akan kembali naik pada malam hari. Karena penumpang di sore hari masih sepi, sebagian tim menyempatkan diri duduk santai menikmati sunset di Dek 3.

Sekitar pukul 19.00, kapal tiba di Imbuan. Kak Trisye memanggil kami untuk segera turun ke Pojok Baca. Ternyata, rombongan yang naik sangat banyak! Karena mereka sudah familier dengan kegiatan kami dari perjalanan sebelumnya, mereka sendiri yang proaktif meminta pre-test dan post-test kepada volunteer. Suasana kembali hectic. Anak-anak hingga orang dewasa antusias terlibat dan bermain. Kami bahkan sudah saling mengenal wajah satu sama lain sejak keberangkatan awal dari Manokwari. Setelah kegiatan selesai, tim melakukan crosscheck final untuk menghitung total penumpang yang berhasil dijangkau.

Senin, 27 Juli 2026 pagi hari, kapal kembali bersandar di Pelabuhan Manokwari. Seluruh tim disambut hiruk pikuk pelabuhan—dan tentu saja, efek gelombang laut yang masih membuat jalanan di depan mata terasa bergoyang.

Lebih dari Sekadar Angka

Sebanyak 275 penumpang mengikuti rangkaian kegiatan edukasi, termasuk pre-test dan post-test. Peserta terdiri atas 150 remaja dan orang dewasa serta 125 anak-anak. Selain itu, 159 penumpang lainnya menerima informasi edukatif melalui pembagian flyer. Bagi tim kami, keberhasilan tidak hanya diukur dari angka statistik atau jumlah partisipan. Edukasi yang disampaikan selama pelayaran diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran dan mendorong tindakan nyata, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar pantai peneluran penyu di Taman Pesisir Jeen Womom.

Meski perjalanan berakhir saat kapal kembali merapat di pelabuhan, pesan tentang #JagaPenyu, bahaya sampah plastik, dan ancaman perubahan iklim diharapkan ikut dibawa pulang oleh para penumpang melalui ingatan dan lembar “Fakta Menarik Penyu Belimbing” yang telah dibagikan.

Pelayaran selama tujuh hari ini membuktikan satu hal: edukasi tidak selalu membutuhkan mimbar mewah atau ruang kelas yang kaku. Kadang-kadang, kesadaran tentang laut dan kehidupan yang bergantung padanya justru lahir dan bersemi dari sebuah sudut kecil di atas geladak kapal.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
New Template Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Lebih dari Penanda Waktu: Kalender sebagai Media Edukasi Konservasi Laut Papua

Lebih dari Penanda Waktu: Kalender sebagai Media Edukasi Konservasi Laut Papua

Penulis

Liana Mongdong

Tanggal

30 Agustus 2025

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) melakukan diseminasi informasi yang didesain dalam bentuk kalender kepada pemerintah daerah, institusi pendidikan, dan masyarakat umum di Kota Sorong serta Kabupaten Raja Ampat pada bulan Agustus 2025. Informasi yang dimuat dalam kalender tersebut berupa data hasil monitoring ekologi dan sosial-ekonomi pada tahun 2019 hingga 2022 di wilayah Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Raja Ampat. Kalender ini juga menampilkan hasil kegiatan pemantauan penyu, perlindungan sarang, dan pemberdayaan masyarakat di Taman Pesisir Jeen Womom pada tahun 2024.

Seluruh data monitoring sosial-ekonomi, ekologi, penyu, dan kegiatan pemberdayaan masyarakat tersebut merupakan bagian dari aktivitas Program Sains untuk Konservasi yang dilaksanakan oleh LPPM UNIPA bersama mitra konservasi di Bentang Laut Kepala Burung Papua. Meskipun dibagikan pada bulan Agustus 2025, kalender ini tetap relevan karena berlaku untuk periode Juli 2025 hingga Juni 2026.

Diseminasi di SMA N 3 Sorong
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Diseminasi di Wilayah Raja Ampat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Mengapa kalender? 

Kalender dipilih sebagai salah satu produk diseminasi karena memiliki banyak keunggulan:

1. Fungsi praktis

Kalender digunakan oleh semua kalangan untuk mencatat tanggal, acara, maupun pengingat penting. Karena bermanfaat untuk digunakan sehari-hari, orang cenderung menyimpannya dan menggunakannya sepanjang tahun.

2. Desain informatif dan menarik

Kalender tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu, tetapi juga dapat dikemas dengan gambar serta informasi edukatif yang menarik perhatian.

3. Mudah terlihat dan bertahan lama

Kalender bisa dicetak dalam berbagai ukuran dan biasanya ditempel di dinding atau diletakkan di meja. Berbeda dengan brosur atau pamflet yang mudah terselip atau terbuang, kalender akan terus terlihat dan memberi pesan berulang kepada penggunanya.

Informasi kalender bulan Juli 2025
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Informasi kalender bulan Agustus 2025
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Penasaran? Yuk, kita lihat isinya!

1. Fakta mengagumkan di lembar pertama

Pada lembar pertama tersaji informasi tentang Bentang Laut Kepala Burung Papua, seperti luasnya kawasan konservasi laut, hamparan terumbu karang yang menjadi bagian penting dari total karang dunia, hingga kehidupan masyarakat pesisir dengan keragaman suku dan bahasa. Lautnya menjadi rumah bagi ratusan jenis ikan, berbagai spesies paus dan lumba-lumba (cetacea), serta penyu yang setiap tahun datang untuk bertelur.

2. Peta kawasan konservasi

Lembar kedua menampilkan peta Bentang Laut Kepala Burung Papua. Dari peta ini, terlihat sebaran wilayah perlindungan, dari pesisir hingga laut lepas, yang semuanya berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem.

3. Manfaat konservasi laut

Lembar ketiga menjelaskan manfaat kawasan konservasi: menjaga ekosistem dan keanekaragaman hayati (manfaat ekologis), memperkuat hubungan sosial masyarakat pesisir, hingga mendukung ekonomi berkelanjutan, seperti perikanan ramah lingkungan dan ekowisata.

4. Tantangan menjaga laut

Lembar keempat menguraikan kondisi lingkungan serta aktivitas merugikan dari manusia yang berpengaruh terhadap kesehatan laut. Dengan memahami keduanya, kita dapat merancang langkah-langkah tepat agar laut tetap sehat dan produktif.

5. Kegiatan lapangan

Lembar kelima hingga kedua belas menampilkan dokumentasi kegiatan nyata di lapangan, antara lain:

  • Hasil monitoring ekologi pada beberapa area di KKP Raja Ampat
  • Hasil survei kesejahteraan masyarakat pada beberapa area di KKP Raja Ampat
  • Hasil monitoring ekologi pada SAP Waigeo Sebelah Barat
  • Upaya konservasi penyu belimbing yang holistik di Taman Pesisir Jeen Womom

Informasi kalender bulan September 2025
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Informasi kalender bulan Oktober 2025
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Semua ini menjadi bukti nyata bahwa konservasi tidak hanya tentang menjaga alam, tetapi juga membangun keberlanjutan hidup masyarakat. Kalender ini lebih dari sekadar penanda waktu. Ia adalah jendela pengetahuan dan pengingat tentang pentingnya menjaga laut serta kehidupan yang bergantung padanya. Setiap lembar membuka wawasan baru, setiap gambar dan cerita mengajak kita untuk peduli.

Informasi kalender bulan Desember 2025
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Informasi kalender bulan Juni 2026
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Di samping itu, kalender ini diharapkan menjadi pengingat sehari-hari bahwa konservasi adalah tanggung jawab bersama agar laut tetap lestari, habitat penyu terpelihara, dan generasi mendatang dapat menikmati kekayaan alam Papua.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Outreach Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Petualangan Seru di Sekolah Alam S4C

Petualangan Seru di Sekolah Alam S4C

Penulis

Michael Tuhuteru

Tanggal

25 Juli 2024

Selama 5 hari penuh kegembiraan, 5 anak sekolah dasar dari berbagai kelas berkumpul di Sekolah Alam Science for Conservation untuk mengalami pengalaman belajar yang luar biasa. Kegiatan ini diselenggarakan dari tanggal 08-12 Juli 2024.  Mereka diajak untuk menjelajahi alam, belajar dari lingkungan sekitar, dan mengembangkan keterampilan hidup yang berharga.

🍃 Hari 1: Kehidupan Bawah Laut 🍃
Anak-anak memulai petualangan mereka dengan mengenal dasar-dasar keanekaragaman hayati. Mereka belajar mengenali berbagai jenis hewan laut, serta memahami pentingnya menjaga terumbu karang bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.

Yusup mengajar ke siswa Sekolah Alam tentang pentingnya terumbu karang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Yusup mengajar ke siswa Sekolah Alam tentang hewan-hewan laut yang berbahaya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

🏞️ Hari 2: Sampah yang harus dicegah 🏞️
Dengan bimbingan para mentor/pengajar, anak-anak diajarkan cara membedakan sampah organik dan anorganik, dan juga aktivitas membuat kompos dari sampah organik. Kami juga mengumpulkan sampah yang ada di sekitar lokasi acara, guna menanamkan rasa cinta kebersihan kepada anak-anak. Mereka juga dengan antusias menggali tanah, menanam bibit kangkung, dan menyiram tanaman sambil mempelajari pentingnya pertanian organik.

Kartika mengajar ke siswa Sekolah Alam tentang cara membuat kompos dari bahan organik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Prisca)

Anak-anak berpose dengan botol daur ulang yang disulap jadi pot untuk tanaman
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Prisca)

🌊 Hari 3: Sampah akan kemana kalau dibuang sembarangan ? 🌊
Kegiatan hari ketiga penuh dengan jalan-jalan seru! Anak-anak diajak berkeliling kota untuk melihat kemana sih sampah kita akan dibuang ? Dimulai dari melihat TPS hingga menuju ke TPA. Mereka juga sempat melihat sampah yang dibuang ke dalam got, dan menimbulkan banjir dan juga sampah yang mengalir kelaut yang dapat membahayakan hewan laut yang memakan sampah tersebut.

Anak-anak Sekolah Alam diajak mengunjungi Tempat Pembuangan Akhir sampah yang ada di Manokwari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Prisca)

🔥 Hari 4: Alat tangkap ikan 🔥
Anak-anak belajar memahami asal dari ikan yang mereka konsumsi. Pengenalan tentang alat tangkap yang biasa digunakan untuk menangkap ikan, dan membedakan alat tangkap yang ramah lingkungan dan tidak. Anak-anak juga diajar untuk menangkap ikan secukupnya saja dan tidak berlebihan demi keberlangsungan ekosistem.

🎨 Hari 5: Seni dari Alam 🎨
Petualangan diakhiri dengan membahas kembali materi yang didapat dari hari pertama sampai dengan hari keempat. Selain itu juga ada aktivitas bermain clay dough/ lilin, dimana dibutuhkan kreativitas dari anak-anak untuk berimajinasi untuk membuat bentuk kesukaan mereka. Selain itu juga anak-anak diberikan hadiah atas keaktifan mereka dalam menjawab, bertanya, dan sikap mereka selama mengikuti kegiatan sekolah alam ini. Semuanya tercatat di papan score board.

Kegiatan Sekolah Alam ini tidak hanya untuk belajar, tetapi mereka juga mengembangkan rasa cinta dan tanggung jawab terhadap alam. Semoga pengalaman ini memberikan kenangan indah dan pembelajaran berharga yang akan mereka bawa sepanjang hidup.

Peserta Sekolah Alam diajar oleh Bernadus untuk mengetahui alat tangkap yang ramah lingkungan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Prisca)

Anak-anak berfoto dengan hadiah yang diberikan atas keaktifan mereka di Sekolah Alam
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Prisca)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Sekolah Alam Virtual Balik Lagi dengan Tema yang Fresh!

Sekolah Alam Virtual Balik Lagi dengan Tema yang Fresh!

Penulis

Jane Lense

Tanggal

14 Maret 2024

Hallo Sobat Lestari!

Sekolah Alam Virtual (SAV) hadir kembali di tahun 2024 dengan seri terbaru! Kalau seri kemarin kita diajak untuk melihat keindahan laut, manfaat laut untuk manusia, serta peran manusia untuk menjaga lingkungan laut, di SAV seri terbaru kali ini kami mengangkat tema “Berbagi Cerita Penyu di Taman Pesisir Jeen Womom” yang tidak kalah seru dan menarik, lho!

Melalui platform Zoom dan Youtube, kami bersama para sobat SAV yang hadir dari berbagai daerah di seluruh Indonesia dan dari berbagai kelompok umur, serta latar belakang yang berbeda-beda, bertemu secara virtual dan belajar banyak dari (para) narasumber yang hebat dengan materi serta cerita yang menarik terkait penyu dan upaya perlindungan yang dilakukan di TP Jeen Womom.

Episode pertama SAV di seri yang baru ini dimulai dengan topik “Mengenal Taman Pesisir Jeen Womom dan Kegiatan Pemantauan Penyu” yang berlangsung pada tanggal 16 Februari 2024. Narasumber pada episode pertama ini adalah Kaka Yusup Jentewo, yang adalah tim konservasi pada Program Development Assistant di Program Sains untuk Konservasi (S4C), LPPM Unipa.

Pemaparan materi oleh narasumber
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pemenang kuis SAV episode pertama
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tonny)

Kaka Yusup mengajak kita “jalan-jalan” ke Taman Pesisir Jeen Womom dan melihat aktivitas pemantauan penyu dan perlindungan sarang yang dilakukan oleh tim S4C LPPM Unipa bersama dengan masyarakat lokal disana, yang dilakukan secara rutin dengan tujuan untuk memulihkan dan melestarikan populasi penyu. Lewat materi yang dibagikan oleh Kaka Yusup, sobat SAV jadi tahu kalau lokasi TP Jeen Womom yang berada di Kabupaten Tambrauw itu terbagi menjadi 2 pantai besar, yaitu Pantai Jeen Yessa dan Pantai Jeen Syuab.

Sobat SAV juga mendapat suatu fakta menarik dari materi yang disampaikan oleh Kaka Yusup, kalau Taman Pesisir Jeen Womom menjadi lokasi pantai peneluran penyu belimbing terbesar di Pasifik Barat, lho! Namun, sayangnya populasi penyu belimbing di TP Jeen Womom sudah menurun sejak tahun 1980an. Dengan adanya SAV ini, kita bisa tahu bersama-sama status populasi penyu karena adanya tim yang melakukan pendataan dan pemantauan aktivitas peneluran penyu di TP Jeen Womom. Sobat SAV yang ketinggalan episode pertama kemarin atau ingin menonton ulang SAV kemarin, bisa nonton lagi di sini!

Sekolah Alam Virtual ini seperti yang sudah dilakukan di seri sebelumnya, akan berlanjut dengan episode-episode lain yang baru, pada tema yang masih sama yaitu “Berbagi cerita penyu”, dengan topik-topik yang menarik seperti: a) Perlindungan sarang penyu dan penelitian di TP Jeen Womom; b) Bagaimana kami mengevaluasi sarang penyu di TP Jeen Womom?; c) Sejarah TP Jeen Womom dan bagaimana wisata edukasi di TP Jeen Womom. Jangan lewatkan SAV episode yang akan datang dan pantau terus informasinya di sosial media kami ya!

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

POV Pembi: Si Penyu Belimbing yang Hidup di Laut yang Sehat

POV Pembi: Si Penyu Belimbing yang Hidup di Laut yang Sehat

Penulis

Abigail Lang

Tanggal

13 Maret 2024

Ada 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau biasa dikenal SDGs yang dicetus sejak tahun 2015 oleh Anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dari 17 tujuan tersebut kami mengambil tema ke 14 yaitu “Kehidupan di bawah laut” / “Life Below Water”. Mengakhiri tahun 2023 yang lalu, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua mengadakan kegiatan Sekolah Alam Virtual (SAV) dengan seri Life Below Water. Kegiatan ini dapat diikuti oleh peserta dari seluruh pulau Sabang-Merauke.

Kami memperkenalkan tokoh animasi yang kami beri nama Pembi (singkatan dari Penyu Belimbing yang merupakan salah satu hewan yang tertua di dunia yang memainkan peran penting dalam ekosistem laut). Melalui video yang ditambahkan tokoh Pembi, tim kami di S4C ini, kami melihat adanya kesempatan untuk dapat membagikan pengetahuan sains secara sederhana, yang dapat diterima di semua kalangan dengan menargetkan anak-anak hingga orang dewasa. Selain video edukasi, kami menciptakan nuansa asyik dengan mempelajari kehidupan bawah laut secara runut yang dibagi ke dalam 5 episode.

Penyampaian materi SAV Episode 2
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tokoh Animasi Pembi: Penyu Belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Secara singkatnya melalui tokoh Pembi, kami memberikan gambaran sudut pandang seekor tukik penyu belimbing yang bercerita secara holistik tentang pentingnya laut dalam kehidupan manusia maupun makhluk hidup di sekitarnya. Melihat dari aktivitas manusia seperti pembuangan sampah sembarangan, polusi udara yang drastis dan overfishing saat ini laut telah rusak sehingga berdampak terhadap ekosistem laut. Untuk menjaga laut, diperlukan tindakan berkelanjutan seperti pelestarian sumber daya laut, pengurangan limbah plastik dan penerapan kebijakan yang mendukung hal tersebut. Di sini, peran pemerintah sangat penting dalam menegakkan regulasi ketat serta memberikan edukasi kepada masyarakat.

Dalam kegiatan ini kami mengundang narasumber yang memiliki pengalaman terkait dengan bidang mereka masing-masing tentang kondisi laut. Narasumber yang kami undang umumnya bekerja di wilayah Papua dan Sulawesi. Kesadaran tentang pentingnya laut ternyata tidak hanya dari penggiat konservasi ataupun dari instansi saja, namun dari kalangan yang memiliki latar belakang pendidikan/pekerjaan yang berbeda. SAV ini kami lakukan mulai dari promosi di beberapa platform sosial media, kemudian peserta melakukan pendaftaran melalui Google form, sampai pada hari kegiatannya melalui Zoom dan live stream YouTube.

Episode Nama Program Narasumber Asal Institusi Waktu
1 Apa gunanya laut untuk kita? Deasy N Lontoh LPPM UNIPA Jumat, 6 Oktober 2023
2 Benarkah laut kita sedang rusak? Ratna N Kuswara FFI – Site Tanah Papua Jumat, 27 Oktober 2023
3 Apa akibatnya kalau laut kita rusak? Samuel L Opa Institut Sains Teknologi Esa Trinita Jumat, 17 November 2023
4 Apa yang bisa aku buat untuk laut? Toto R Darwinto KOMPAK (Komunitas Pecinta Alam dan Kemanusiaan) Jumat, 15 Desember 2023
5 Apa pemerintah juga jaga laut kita? Rahel Randa Dinas Kelautan dan Perikanan Papua Barat Jumat, 26 Januari 2024

Apabila Sobat Lestari tertarik membaca materi dalam SAV ini, Sobat Lestari bisa mengunduhnya di sini.

Post Test: Pemenang SAV Episode 1
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Penyampaian materi SAV Episode 5
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Rangkaian kegiatan SAV ini meliputi: pembukaan – pre test – video pembi – materi – post test dan terakhir yaitu ajakan untuk ke SAV berikutnya. Hasil dari kegiatan SAV untuk seri Life Below Water ini mendapat respon yang positif. Tujuan diadakannya pre-test dan post-test melalui media Kahoot, yaitu untuk melihat tingkat keberhasilan pengetahuan melalui materi yang disampaikan. Kami menyusun 4 pertanyaan mudah dan kami memberikan souvenir menarik untuk pemenang SAV yang mengikuti kegiatan kami!

Harapannya SAV ini dapat meningkatkan kesadaran tidak hanya dari penggiat, namun juga siapa saja yang bisa ikut terlibat dalam menjaga laut tetap dalam kondisi sehat.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

SAV Hadir Kembali, Tetap Berkesan Meskipun Pandemi Sudah ‘Pergi’

SAV Hadir Kembali, Tetap Berkesan Meskipun Pandemi Sudah ‘Pergi’

Penulis

Noviyanti

Tanggal

24 Oktober 2023

Sekolah Alam Virtual, atau yang biasa kami sebut SAV, hadir kembali! Kalau boleh jujur, sebenarnya pada awalnya tim kami agak ragu karena pandemi sudah berakhir. Kami kuatir peserta akan lebih sedikit dari SAV sebelumnya karena kebanyakan orang sudah tidak lagi beraktivitas di dalam rumah. Namun, kekuatiran tidak menghambat kami untuk berkreasi.

SAV pertama kalinya hadir secara virtual pada masa pandemi COVID-19. Pada masa itu, kami tim penjangkauan masyarakat yang biasanya bertugas melakukan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) kepada pelajar di wilayah Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) Papua terpaksa menghentikan kegiatan kami karena pembatasan perjalanan dan larangan pemerintah untuk berkumpul. Namun, hambatan itu justru menghasilkan ide kreatif. Kami melakukan PLH melalui platform Zoom dan YouTube dan ada banyak sekali peserta dari seluruh Indonesia dan dari berbagai kelompok umur. Tidak hanya pelajar tetapi juga mahasiswa dan orang-orang yang sudah bekerja yang hadir menyaksikannya.

Pada masa pandemi kami menyuguhkan fakta-fakta menarik terkait mamalia laut, burung endemik papua, mamalia endemik papua, manfaat mereka bagi keberlangsungan ekosistemnya, serta mengajak peserta untuk turut melestarikan mereka di alamnya. Peserta yang hadir mengatakan mereka belajar banyak dari SAV ini. Kami yang bertugas menyiapkan SAV juga belajar banyak informasi baru dari para narasumber yang sangat ahli di bidang konservasi satwa-satwa ini. Oleh karena itu, setiap episodenya selalu dinantikan oleh para peserta SAV maupun oleh kami di Program Sains untuk Konservasi.

Pembi, maskot SAV, bercerita lewat video
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Materi presentasi SAV Episode 1
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tahun ini, meskipun pandemi COVID-19 sudah berakhir, kami sangat senang karena pendonor kami, Blue Abadi Fund, membantu kami untuk kembali melaksanakan SAV. Kali ini kami membuat SAV menjadi lebih interaktif, bahkan kami membuat maskot SAV bernama Pembi! Pembi adalah tokoh virtual yang bercerita banyak hal tentang laut dari sisi seekor penyu yang hidup di laut melalui suara dan video pendek.

Ya! Pembi! Nama yang unik ini berasal dari singkatan Penyu Belimbing. Kami memilih hewan ini karena tim kami juga bekerja di Taman Pesisir Jeen Womom untuk pelestarian Penyu Belimbing di beberapa wilayah pantai peneluran di sana. Melalui Pembi, kami mengajak Sobat SAV mengenal keindahan laut serta manfaat laut untuk manusia. Pembi pertama kali kami perkenalkan pada episode pertama kami, tanggal 6 Oktober 2023. Episode pertama ini kami beri judul: Apa gunanya laut untuk kita?

Ibu Deasy Lontoh sebagai narasumber SAV Episode 1
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Setelah cerita dari Pembi, narasumber menambahkan informasi untuk peserta. Narasumber pada episode pertama ini adalah Kaka Deasy Lontoh. Kaka Deasy adalah peneliti penyu belimbing di tim kami. Pada episode pertama kemarin, kaka Deasy bercerita tentang ekosistem terumbu karang, mangrove, dan padang lamun, serta manfaat laut dalam menjaga iklim bumi agar tetap sehat. Jika Sobat SAV tertarik ingin melihat rekamannya, sobat SAV dapat menyimaknya di sini.

Kuis berhadiah pada SAV Episode 1 menggunakan kahoot!
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kesan dan pesan peserta pada SAV Episode 1
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pada episode-episode berikutnya kami akan mengangkat isu lainnya seperti: a) Benarkah laut kita sedang rusak?; b) Apa akibatnya kalau laut kita rusak?; c) Apa yang bisa aku buat untuk laut?; dan d) Apa pemerintah juga menjaga laut kita? Semua episode ini kami kemas ke dalam judul besar yang kami sebut Seri Life Below Water. Jika sobat SAV tertarik menyimak setiap episodenya, ikuti terus sosial media kami untuk mendapatkan informasi terkait jadwal SAV berikutnya di sini ya!

Tabel Asal Peserta SAV Episode 1

NoAsal PesertaJumlah Peserta
1Sumatera2
2Jawa12
3Kalimatan1
4Sulawesi3
5Papua24
6Maluku1
7Bali, NTB, NTT2

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Menikmati event dalam pameran Produk Unggulan Sains untuk Konservasi di UNIPA

Conservation in the Misool Islands: Between Natural Beauty and Environmental Challenges

Penulis

Abigail Lang, Federika Kondororik, Habema Monim

Tanggal

10 November 2022

Dalam rangka Dies Natalis UNIPA yang ke 22, kami dari Program Sains untuk Konservasi (S4C) di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Papua (LPPM UNIPA) ikut berpartisipasi dalam pameran produk unggulan. Pameran ini berlangsung pada tanggal 1 & 2 November 2022 di Aula UNIPA. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan untuk meningkatkan daya kreatif dan potensi yang dimiliki oleh setiap insan yang mengabdi pada Universitas Papua sehingga diharapkan dapat menghasilkan karya inovasi yang berguna kedepannya.

Dalam kesempatan ini kami menampilkan hasil-hasil kerjasama kami dengan masyarakat, pemerintah dan mitra konservasi. Selama kegiatan berlangsung, kami menjual produk-produk inovasi yang dibuat sendiri oleh masyarakat lokal Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw, seperti noken dan minyak lokal Abun. Minyak lokal Abun ini pada umumnya digunakan untuk keperluan seperti minyak pada umumnya, yaitu untuk memasak dan noken yang ditampilkan dengan gambar penyu serta gambar menarik lainnya. Pameran ini memiliki tujuan sesuai dengan judulnya, yaitu “Pameran Inovasi dan Produk Unggulan”.

Siswa SMA yang tertarik dengan noken yang dipajang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Mahasiswa

Mahasiswa yang tertarik melihat buku-buku
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Di samping itu, kegiatan ini tentunya tidak kalah menarik dengan program-program lainnya. Selain menjual produk inovasi, kami membagikan buku berjudul: Status dan Tren Sosial Masyarakat 2019, Jejaring Kawasan Konservasi Perairan BLKB 2010-2019, Profil Kampung 2010-2017 Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Profil Kampung 2010-2017 Teluk Mayalibit & Selat Dampier, dan banyak lainnya. Kami berharap penerima buku dapat membacanya dan menjadi acuan untuk keperluan studi ataupun informasi lainnya.

Mahasiswa

Salah satu pengunjung yang membeli minyak kelapa
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Di samping itu, kegiatan ini tentunya tidak kalah menarik dengan program-program lainnya. Selain menjual produk inovasi, kami membagikan buku berjudul: Status dan Tren Sosial Masyarakat 2019 Jejaring Kawasan Konservasi Perairan BLKB 2010-2019, Profil Kampung 2010-2017 Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Profil Kampung 2010-2017 Teluk Mayalibit & Selat Dampier, dan banyak lainnya. Kami berharap penerima buku dapat membacanya dan menjadi acuan untuk keperluan studi ataupun informasi lainnya.

Di dalam stand kami juga memberikan informasi pengenalan alat selam (scuba) sebagai tambahan ilmu bagi pengunjung stand. Pengenalan alat selam ini kami sampaikan untuk melengkapi rasa penasaran pengunjung yang melihat video program monitoring ekologi.

Siswa SMA yang tertarik mendengar tentang pembahasan alat-alat selam
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Mahasiswa

Salah satu siswa SMK yang sedang mencoba menggunakan alat selam lengkap
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Pengetahuan dasar tentang penyu kami sampaikan dengan cara bermain ular tangga. Cara memainkan ular tangga ini sama saja seperti permainan ular tangga pada umumnya, namun ada banyak pertanyaan untuk meningkatkan wawasan pemain maupun informasi yang kami sampaikan tentang penyu, telur penyu, tukik, dan apa saja ancaman dari manusia, ancaman dari lingkungan, serta ancaman dari hewan yang sudah kami isi dalam beberapa kotak ular tangga. Pemenang dari permainan ini mendapatkan souvenir dari kami. Kami tak lupa menanyakan informasi baru apa saja yang mereka dapatkan ketika bermain. Kebanyakan pengunjung mengenal ancaman penyu di alam dari permainan ini.

Pada pagi hari kami mendapatkan kunjungan dari siswa SMA dari berbagai sekolah di Manokwari. Para mahasiswa dan orang dewasa kebanyakan hadir di siang hingga sore hari. Kami juga dikunjungi oleh para mahasiswa dari luar Papua karena pada saat pelaksanaan kegiatan ada mahasiswa dari luar Papua yang sedang melaksanakan kegiatan Kampus Merdeka di UNIPA.

Siswa SMA yang asik bermain permainan ular tangga
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Mahasiswa

Mahasiswa yang asik menikmati permainan ular tangga
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Meskipun terlihat seperti permainan untuk anak-anak tapi baik pengunjung remaja maupun dewasa sangat menikmati permainan ular tangga. Mereka banyak menanyakan tentang penyu dan beberapa di antaranya tertarik untuk melihat penyu secara langsung. Kegiatan seperti ini tentunya dapat membawa dampak positif seperti relasi yang dibangun antara pengunjung dan kami di program S4C, saling berbagi pengetahuan sehingga pesan-pesan kami tersampaikan kepada pengunjung yang datang ke stan kami.

Berita Lainnya

Categories
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Berbagi Cerita Penyu di Festival Ecotourism Papua Barat 2022

Berbagi Cerita Penyu di Festival Ecotourism Papua Barat 2022

Penulis

Noviyanti, Monica Arung Padang, Deasy Lontoh

Tanggal

7 Oktober 2022

Pariwisata adalah sektor bisnis di Indonesia yang sangat terdampak oleh pandemi COVID-19. Untuk itu, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Papua Barat berupaya mendorong sektor ekonomi pariwisata bangkit kembali dengan mengadakan Festival Ecotourism 2022 di Manokwari City Mall, pada tanggal 29 September sampai 1 Oktober 2022.

Ecotourism sendiri adalah salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan yang mengedepankan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya, ekonomi masyarakat lokal, serta aspek pembelajaran dan pendidikan. Melalui Festival Ecotourism ini, KPw BI Provinsi Papua Barat ingin mendukung pengembangan ekonomi daerah dan optimalisasi potensi ecotourism di Papua Barat.

Dalam festival yang diadakan selama 3 hari ini, KPw BI menyusun acara dengan sangat baik. Hari pertama diisi dengan Seminar: “Membangun Investasi Ecotourism Papua Barat yang Berkelanjutan”. Hari kedua, pengunjung diajak Mengenal Lebih Dekat Flora & Fauna Papua Barat oleh Komunitas Ko Mari; mengenal Edukasi Konservasi Penyu yang dibawakan oleh LPPM UNIPA; serta Sosialisasi Uang Rupiah TE 2022 dan Sistem Pembayaran Digital Bank Indonesia. Pada hari terakhir, sebuah Talkshow Investcool and Calm Ecotourism in Papua Barat yang membahas tentang potensi, kebutuhan, tantangan dan kiat berwisata dengan tetap menjaga kelestarian alam disampaikan oleh DPD Himpunan Pramuwisma Indonesia Papua Barat, GenPI Papua Barat dan Econusa. Stand-stand pameran di lantai dasar dan Hall Manokwari City Mall ikut memeriahkan festival ini. Pameran ini bertemakan “UMKM Ecogreen Expo dan Papua Barat Travel Fair”.

Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA menyambut baik undangan festival ini. Kami menjual produk Minyak Kelapa Abun hasil kegiatan pemberdayaan masyarakat di Taman Pesisir Jeen Womom pada kegiatan ini. Ibu Deasy Lontoh selaku Koordinator Penelitian Pemantauan dan Perlindungan Penyu di TP Jeen Womom hadir sebagai narasumber dalam Edukasi Konservasi Penyu yang dilaksanakan hari Jumat, 30 September 2022. Hal-hal yang disampaikan antara lain: Jenis-jenis penyu, peran penyu bagi laut dan pantai, proses penyu bertelur, tantangan-tantangan yang dihadapi penyu untuk dapat bertahan hidup, hal-hal yang bisa kita lakukan untuk melestarikan penyu. Dalam sesi tanya jawab pengunjung bertanya bagaimana caranya melepas tukik yang baik, bagaimana membedakan berbagai jenis penyu, apa saja undang-undang perlindungan penyu dan potensi pengembangan pariwisata di Kabupaten Tambrauw. Melalui form isian online yang kami bagikan kepada pengunjung, mereka bercerita bahwa mereka belajar banyak hal mengenai penyu.

Belajar dan mengenal ilmu sains mengenai penyu bagi kami adalah hal yang menarik. Tugas membawakan cerita penyu kepada masyarakat luas merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi kami. Kami berharap dengan cerita-cerita dari kami, akan lebih banyak lagi orang yang mengenal dan mendukung upaya konservasi penyu dan mendukung perekonomian masyarakat di wilayah konservasi tersebut.

Stand Sains for Conservation di MCM
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Suasana Stand di MCM
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya