
Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut
Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua
Menyapa Novel: Kisah Tenaga Lokal Menjaga Penyu di Taman Pesisir Jeen Womom
Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.
Penulis
Liana Mongdong
Tanggal
11 Agustus 2026
Di balik upaya menjaga penyu di Taman Pesisir (TP) Jeen Womom, ada orang-orang lokal yang ikut melindungi penyu. Salah satunya adalah Novelius Benjamin Yesnath, atau yang akrab dipanggil Novel, merupakan tenaga lokal pemindahan sarang penyu asal Kampung Resye yang bekerja di Pantai Batu Rumah, Jeen Yessa. Tenaga lokal adalah istilah yang kami gunakan untuk masyarakat lokal di sekitar pantai peneluran penyu yang tergabung dalam tim pemantauan penyu dan perlindungan sarang. Keterlibatan Novel dalam kegiatan perlindungan penyu masih terbilang baru. Namun, sebelum resmi bergabung, ia sudah belajar terlebih dahulu dari tenaga lokal lain yang berpengalaman memindahkan sarang penyu di TP Jeen Womom.
Meskipun Novel berasal dari kampung yang dekat dengan tempat penyu bertelur, pengalaman pertamanya memindahkan telur penyu tetap diwarnai rasa takut.
“Pertama kali angkat telur penyu itu, takut kalau telurnya pecah,” kenangnya.
Novel sedang memindahkan telur penyu ke kandang relokasi.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Loise Liberta Loar)
Novel sedang memindahkan telur penyu ke kandang relokasi.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Loise Liberta Loar)
Seiring berjalannya waktu, rasa takut itu perlahan berubah menjadi keberanian. Novel mulai terbiasa mengangkat dan memindahkan telur dengan lebih hati-hati. Ia menyadari bahwa pekerjaan ini bukan sekadar memindahkan telur dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga merupakan bagian penting untuk memastikan telur tetap aman hingga menetas.
Dalam proses belajar, ada satu tahap yang menurut Novel cukup sulit, yaitu ketika ia harus belajar “menusuk sarang” untuk menemukan posisi telur. Pada tahap ini, ia masih membutuhkan arahan dari tenaga lokal yang lebih terampil.
Menusuk sarang adalah istilah yang kami gunakan ketika tenaga lokal mencari posisi telur penyu. Karena pantai yang cukup panjang, terkadang tenaga perlindungan sarang penyu tidak sempat melihat penyu bertelur sehingga tempat penyu meletakkan telurnya tidak ditandai. Meskipun jejak penyu dapat membantu petugas mengidentifikasi lokasi sarang tempat penyu bertelur, hal ini bukan berarti mudah bagi tenaga perlindungan sarang untuk menemukannya, karena penyu biasanya juga membuat sarang yang terkamuflase dan sulit dibedakan dari sarang aslinya. Untuk membedakan sarang kamuflase dan sarang asli, beberapa masyarakat lokal di pesisir Tambrauw yang terlatih memiliki kearifan lokal untuk “menusuk sarang”. Mereka menusuk bukan dengan benda tajam, dan mereka mampu melakukannya tanpa membuat telur ikut tertusuk.
“Kalau rasa susah itu waktu belajar mencoba menusuk sarang. Waktu itu saya masih perlu arahan dari tenaga yang sudah lebih lihai,” ceritanya.
Bagi seseorang yang baru belajar menusuk sarang, pekerjaan tersebut membutuhkan ketelitian dan keberanian. Setiap gerakan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak membahayakan telur yang berada di dalam sarang. Karena itu, belajar dari mereka yang lebih berpengalaman menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Kini, setelah beberapa kali mencoba, rasa takut itu mulai berganti menjadi kepercayaan diri. Novel perlahan memahami cara memperlakukan telur penyu dengan lebih hati-hati. Namun, semakin ia belajar, semakin ia menyadari bahwa menjaga sarang bukan hanya tentang keterampilan teknis. Ada tanggung jawab besar untuk memastikan kehidupan baru di dalam telur-telur tersebut tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh.
Cerita di atas dan kepedulian terhadap kondisi penyu yang ia lihat semakin berkurang merupakan latar belakang Novel untuk memutuskan terlibat sebagai tenaga lokal. “Motivasi saya menjadi tenaga lokal pemindahan sarang karena saya sadar bahwa semakin hari penyu semakin berkurang,” ujarnya.
Sebelum menjalankan tugasnya sebagai tenaga lokal, Novel dibekali pelatihan tentang pemantauan penyu dan perlindungan sarang selama dua hari di Pantai Batu Rumah, Jeen Yessa. Dua hari pelatihan menjadi kesempatan bagi Novel untuk menambah pengetahuan tentang pemindahan dan perlindungan sarang penyu. Ia tidak hanya mendapatkan materi dan kesempatan untuk praktik, tetapi juga mendengarkan cerita serta pengalaman para tenaga lokal yang berasal dari kampung.
“Dari pelatihan dua hari ini yang saya dapatkan itu pengalaman baru dan juga cerita-cerita pengalaman dari bapak-bapak yang dari kampung, mendapatkan materi, dan praktik,” katanya.
Dari pelatihan ini, Novel memperoleh pengetahuan baru mengenai berbagai ancaman yang dapat memengaruhi keberlangsungan penyu di TP Jeen Womom, salah satunya aktivitas manusia (perburuan dan perdagangan penyu). “Saya baru tahu soal ini dari materi kemarin di pelatihan. Kemarin ada penyu yang diburu dan dijual, jadi saya rasa kasihan,” katanya.
Keterlibatannya sebagai tenaga lokal membuat Novel semakin memahami bahwa menjaga penyu tidak berhenti pada telur yang berhasil dipindahkan, tetapi juga mencakup perlindungan pantai sebagai tempat penyu bertelur. Pemahaman tersebut membuatnya menyadari bahwa upaya menjaga penyu bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga yang bekerja di lapangan, tetapi juga membutuhkan kerja sama masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar pantai peneluran. Kesadaran itu, menurut Novel, dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menjaga pantai tetap aman bagi penyu yang datang untuk bertelur.
“Harapan saya, kita di sini harus memiliki kesadaran untuk menjaga,” ungkapnya. “Kita juga harus melindungi pantai, seperti yang sudah dikatakan saat pelatihan. Jangan bakar api di pantai. Kebanyakan ada yang membakar api dan ketika penyu naik, dia mati. Terus ada yang lewat-lewat dengan perahu dan membuang minyak, takutnya penyu makan dan mati. Harapan saya jangan seperti itu, harus tetap menjaga.”
Ketika ditanya mengenai adanya kegiatan pertambangan di kawasan Jeen Womom, Novel berharap kegiatan yang berpotensi berdampak pada penyu tidak dilakukan. “Menurut saya, kegiatan itu tidak usah dilakukan karena material-material tersebut berdampak pada penyu,” ucapnya. “Jadi, takutnya penyu-penyu itu terkena virus dan tidak naik lagi ke pantai ini. Jadi rasa kasihan juga,”
Walaupun mendapatkan banyak pengetahuan baru, Novel merasa masih ada hal yang perlu ditingkatkan dalam proses belajarnya. Baginya, pengalaman mencoba secara langsung dan mendapatkan arahan dari tenaga yang lebih berpengalaman merupakan bagian penting dalam proses belajar. “Lain kali pelatihannya langsung praktik saja, karena ada yang hanya diberi materi dan kurang mengerti. Materi sedikit saja dan diperbanyak dengan praktik,” ungkapnya.
Novel sedang mengikuti praktik relokasi sarang oleh Petrus Batubara.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Maurens Sundoy)
Novel baru menjalani pekerjaan ini dalam waktu singkat. Walaupun begitu, ia justru menemukan sisi lain yang menyenangkan dari berada di pantai. Menurutnya, mengangkat telur penyu sembari menikmati pemandangan pantai menjadi pengalaman yang ia nikmati. “Pengalaman yang berkesan sementara mengangkat telur penyu itu ya healing,” ujarnya. “Sambil mengangkat telur penyu, saya bisa melihat pemandangan pantai. Saya merasa senang dan menikmati.”
Pemandangan Pantai Batu Rumah.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)
Perjalanan Novel sebagai tenaga lokal pemindahan sarang penyu memang baru dimulai. Dari rasa takut telur akan pecah saat pertama kali mengangkatnya, kini ia perlahan memahami bahwa setiap telur yang dipindahkan membawa tanggung jawab untuk menjaga kehidupan baru. Ia masih belajar. Namun, dari pengalaman singkatnya, ia sadar bahwa menjaga penyu berarti kita perlu menjaga pantai agar tetap aman bagi penyu untuk kembali.
Bagikan Tulisan
Berita Terkait
Video Kami
Kategori Lainnya
Berita Lainnya












Penguatan kapasitas tersebut menjadi langkah penting dalam mendukung konservasi penyu, khususnya penyu belimbing. Selain memperkuat keterampilan teknis di lapangan, kegiatan ini juga mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian sumber daya pesisir di kawasan Taman Pesisir Jeen Womom bagi generasi mendatang.