Categories
New Template Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Menjaga Laut Bersama: Cerita Kami, Enam Relawan di Kapal Sabuk Nusantara 112 – Part 2

Menjaga Laut Bersama: Cerita Kami, Enam Relawan di Kapal Sabuk Nusantara 112 - Part 2

Penulis

Anjely Novianti Kondororik, Minggas Natraka dan Chatarina Galis Aprisia

Tanggal

6 Agustus 2026

Teduh di Bawah Langit yang Sama – Anjely

Setelah tiga hari ditemani debur ombak dan semilir angin laut, akhirnya kami menapakkan kaki di Kota Sorong. Mentari pagi menyambut kami dengan hangat, seolah menjadi jeda yang kami perlukan sebelum kembali menempuh perjalanan menuju Manokwari. Kami menginap di sebuah hotel kecil bernama Rumberpon. Tubuh yang lelah akhirnya menemukan waktu untuk beristirahat.

Menjelang sore, kami memutuskan untuk menikmati sedikit waktu dengan menjelajahi Kota Sorong. Ada yang memilih menikmati hiruk-pikuk pusat perbelanjaan, ada yang berburu kuliner yang sedang viral di Sorong, dan ada pula yang menyempatkan diri melepas rindu dengan kerabat. Meski tujuan kami berbeda, senja mempertemukan kami kembali di tempat yang sama, yaitu Reklamasi.

Di tepi laut itu, kami duduk bersama ditemani secangkir kopi dan es krim, memandangi matahari yang perlahan tenggelam di balik cakrawala. Langit melukis warna-warna jingga keemasan, seakan memberi penghormatan pada perjalanan yang telah kami lalui. Waktu terasa berjalan lebih lambat. Setiap menit dipenuhi tawa, canda, dan kebahagiaan yang mampu menghapus lelah akibat berhari-hari di atas kapal. Senja itu mengajarkan bahwa kebersamaan sering kali menjadi obat terbaik bagi rasa letih.

Pelabuhan Sorong.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Abigail Lang)

Menikmati sunset di Reklamasi Sorong.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Federika Kondororik)

Ketika malam mengambil alih langit, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat makan. Setelah makan, kami menghabiskan sisa malam di Tuan Tana Cafe. Di sana, tawa kembali pecah, diselingi refleksi tentang perjalanan, tantangan, dan pelajaran yang kami temui selama menjadi relawan. Malam itu bukan sekadar waktu untuk bersantai, tetapi juga ruang untuk mempererat ikatan, membangun rasa saling percaya, dan menguatkan semangat sebelum kembali menempuh perjalanan pulang. Sepulang dari kafe, sebelum benar-benar mengakhiri hari, kami masih menyempatkan diri berbincang bersama kakak-kakak pendamping yang selama ini menjadi teman sekaligus pembimbing dalam perjalanan kami. Malam itu kami menutup mata dengan tubuh yang lelah, tetapi hati yang penuh syukur.

Keesokan harinya, kami memanfaatkan sisa waktu di Kota Sorong dengan mengunjungi Paragon Mall. Kami menikmati makan siang bersama, membeli beberapa kebutuhan, dan mengabadikan momen-momen terakhir sebelum kembali ke hotel.

Setelah semuanya siap, kami melangkah menuju Pelabuhan Sorong. Perjalanan ini mungkin hanya berlangsung beberapa hari, tetapi makna yang dibawanya akan tinggal jauh lebih lama. Laut telah mengajarkan kami tentang kesabaran, penyu mengingatkan kami akan pentingnya menjaga kehidupan, dan kebersamaan menghadirkan kenangan yang akan selalu hidup di dalam hati. Di antara ombak yang terus bergulung, senja yang perlahan tenggelam, dan cahaya bulan yang menyapa, kami belajar bahwa perjalanan paling berharga bukan hanya tentang tempat yang dituju, melainkan tentang manusia, alam, dan cerita yang tumbuh di sepanjang perjalanan.

Melawan Ombak, Menjaga Arah – Minggas

Pada jumat malam, kami kembali menaiki Kapal Sabuk Nusantara 112 untuk menempuh perjalanan pulang dari Kota Sorong. Kami mengawali perjalanan dengan semangat yang sama seperti sebelumnya, meskipun kondisi di lapangan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Ombak yang cukup besar membuat kapal terus bergoyang sepanjang pelayaran menuju Sausapor. Akibatnya, beberapa anggota tim mulai mengalami mabuk laut dan harus beristirahat sejenak untuk memulihkan kondisi. Setelah keadaan berangsur membaik, kami kembali melanjutkan perjalanan dan kegiatan yang telah direncanakan. 

Pada Sabtu pagi, kami mulai menyapa para penumpang dan masyarakat sekitar untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga penyu dan kelestarian laut. Tidak semua penumpang menyambut kami dengan antusias. Ada yang menolak berbicara karena sedang terburu-buru; ada pula yang menganggap pelestarian penyu bukan tanggung jawab mereka. Bahkan, beberapa orang hanya tersenyum lalu pergi tanpa sempat mendengarkan penjelasan kami.

Keberangkatan dari Pelabuhan Sorong.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Padatnya jadwal kapal serta terbatasnya waktu pelayaran dari Sorong menuju Sausapor, yakni mulai pukul 00.30 WIT hingga sekitar pukul 09.00 WIT, membuat kesempatan kami untuk berinteraksi dengan para penumpang menjadi sangat terbatas. Kondisi tersebut menyebabkan pelaksanaan pre-test dan post-test serta penjangkauan melalui Pojok Baca belum dapat berjalan secara maksimal. 

Meskipun demikian, kami tetap berupaya memanfaatkan setiap kesempatan agar pesan yang disampaikan dapat diterima oleh lebih banyak penumpang. Sebagai alternatif penjangkauan, kami membagikan flyer kepada para penumpang yang turun di Pelabuhan Sausapor. 

Walaupun menghadapi berbagai tantangan, kami tidak menyerah. Kami mengubah cara penyampaian dengan menggunakan bahasa yang lebih sederhana dan mengajak masyarakat berdiskusi secara santai. Kami juga membagikan informasi singkat yang mudah dipahami agar mereka tetap memperoleh pengetahuan meskipun hanya memiliki sedikit waktu.

Usaha tersebut mulai menunjukkan hasil. Beberapa penumpang yang awalnya tidak tertarik akhirnya bersedia mendengarkan penjelasan kami. Ada juga yang mengajukan pertanyaan mengenai cara menjaga habitat penyu dan mengurangi sampah plastik di laut. Respons positif itu menjadi penyemangat bagi kami untuk terus melanjutkan kegiatan.

Dari pengalaman hari itu, kami belajar bahwa setiap kegiatan pengabdian pasti memiliki hambatan. Cuaca, kondisi perjalanan, keterbatasan waktu, dan perbedaan pandangan masyarakat merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan kesabaran dan kerja sama. Kami menyadari bahwa perubahan tidak dapat terjadi dalam waktu singkat, tetapi melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Perjalanan ini mengajarkan kami bahwa melawan ombak bukan hanya tentang menghadapi gelombang di laut, tetapi juga menghadapi berbagai rintangan dalam menyampaikan pesan kebaikan. Dengan semangat, kesabaran, dan kerja sama, kami tetap mampu menjaga arah dan menjalankan misi pelestarian penyu demi masa depan laut yang lebih baik.

Seperti Penyu yang Selalu Pulang – Chatarina

Kembali pulang, pada akhirnya perjalanan kami menemui pelabuhan tujuan. Malam tepat sebelum kaki kembali menapaki daratan, kami berkumpul di ruangan kecil istimewa favorit kami. Bersama makanan yang disediakan oleh Om Koki, kami menanti hasil perjuangan kami dengan harap-harap cemas jika kami tidak mencapai target penjangkauan.

Dua Ratus Tujuh Puluh Lima!!!” hitung Kak Yeni pada tarikan terakhir kertas penjangkauan yang langsung disambut tepuk tangan meriah dari kami yang puas mengetahui bahwa kami, enam orang relawan, dapat menjangkau begitu banyak penumpang. Rasanya semua masalah kamar mandi, masalah kepanasan, masalah ditolak, masalah dimarahi beberapa oknum penumpang, hingga masalah sakit tenggorokan, sirna begitu saja. Kami tersenyum satu sama lain, mengingat segala usaha keras yang sudah dilakukan selama kurang lebih enam hari di kapal. Enam hari terasa panjang ketika dijalani, tetapi tiba-tiba terasa begitu singkat ketika akhirnya harus berakhir.

Istirahat sejenak di sela pre-test dan post-test bersama penumpang.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Kami memilih menutup malam terakhir perjalanan dengan berkumpul di geladak terbuka, dengan speaker yang kalah saing dari “tetangga” sebelah. Menikmati angin tengah malam bersama riuh rendah deru mesin kapal, beratapkan cahaya bintang yang telah bersinar ribuan tahun silam. Kartu UNO yang dimainkan sebanyak enam ronde -penuh tawa, intrik, dan gimik—menjadi kegiatan penutup sebelum akhirnya kami menghempaskan diri pada kasur sempit dengan beragam aroma beraneka rasa hingga pagi menjelang.

Tim tiba di Pelabuhan Manokwari.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Tim sedang menurunkan panel.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Penyu mungkin tidak pernah tahu namanya disebut ratusan kali di atas geladak Kapal Sabuk Nusantara 112, hingga kami sering dipanggil “Kakak Penyu! Ibu Guru Penyu!”. Namun mungkin, tanpa kami sadari, perjalanan ini justru mengajarkan kami sesuatu tentang mereka: bahwa pulang bukanlah perkara sederhana.

Seperti penyu yang berenang melintasi lautan luas untuk kembali ke tempat ia dilahirkan, kami pun akhirnya kembali ke daratan. Membawa pulang tubuh yang lelah, tenggorokan yang serak, kulit yang mungkin sedikit lebih gelap, dan kepala yang penuh dengan cerita. Namun, lebih dari itu, kami membawa pulang kesadaran bahwa enam hari di atas kapal ternyata mampu meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang daripada yang kami kira.

Kami datang sebagai orang yang hanya tahu penyu sebatas hewan laut yang harus dilindungi. Kami pulang dengan nama-nama, cerita, dan wajah yang melekat di kepala. Tentang penyu yang mati-matian kembali ke pantai tempatnya berasal. Tentang mereka yang tanpa suara menghadapi begitu banyak ancaman di laut. Tentang orang-orang yang memilih untuk tetap peduli, bahkan ketika pekerjaannya tidak selalu mudah dan hasilnya tidak selalu terlihat.

Akhir kata, terima kasih kepada Science for Conservation LPPM UNIPA yang sudah mengizinkan kami, enam orang dengan beragam latar belakang, menjadi bagian dari kisah ini. Enam hari di atas kapal Sabuk Nusantara 112 mungkin telah berakhir, tetapi cerita, tawa, lelah, dan setiap pertemuan yang kami bawa pulang akan selalu menjadi bagian dari perjalanan kami. Terima kasih telah memberi kami kesempatan untuk belajar, berbagi, bertemu orang baru, merasakan pengalaman, dan mengenal laut serta penyu lebih dekat. Sampai jumpa di lain waktu, di perjalanan berikutnya, dan semoga selalu ada alasan bagi kita untuk kembali menjaga mereka yang selalu menemukan jalan pulang.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
New Template Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Menjaga Laut Bersama: Cerita Kami, Enam Relawan di Kapal Sabuk Nusantara 112 – Part 1

Menjaga Laut Bersama: Cerita Kami, Enam Relawan di Kapal Sabuk Nusantara 112 - Part 1

Penulis

Siti Fatimah Az Zahro, Maria Anggriani Way, Martha Maria Heipon

Tanggal

6 Agustus 2026

Sebelum Jejak Pertama di Kapal – Zahro

Setiap perjalanan selalu dimulai jauh sebelum kapal meninggalkan dermaga. Seminggu sebelum pelaksanaan penjangkauan di atas kapal, kami dilatih untuk siap dengan bekal ilmu dan mental yang matang. Setiap hari, mulai pukul sembilan, kadang pukul sepuluh, dan berakhir sore hari, banyak hal dipelajari, mulai dari perkenalan program sampai praktik langsung simulasi penjangkauan kepada masyarakat dengan berbagai latar belakang. Kami berhadapan dengan lembar-lembar materi yang masih berbau tinta printer dan hati yang dipenuhi tanya tentang bagaimana nantinya ketika sudah berhadapan langsung dengan masyarakat.

Dalam pembekalan itu, kami tidak hanya belajar tentang penyu, tetapi juga tentang bagaimana menyampaikan sesuatu yang rumit menjadi sederhana, bagaimana mendengar sebelum berbicara, dan bagaimana menghargai cara pandang masyarakat pesisir terhadap laut yang selama ini menghidupi mereka. Kantor Science for Conservation di Manokwari, yang biasanya sepi, mendadak ramai oleh suara diskusi, tawa kecil, dan sesekali keluhan karena materi yang terasa berat untuk dicerna dalam waktu singkat.

Simulasi pre/post test.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Suasana di kantor Sains untuk Konservasi.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Siti Zahro)

Suatu siang, ketika latihan simulasi penjangkauan sedang berjalan, salah satu senior menegur cara kami menyampaikan penjangkauan kepada masyarakat. Bahasanya terlalu berat dan bisa jadi menyinggung masyarakat. “Ko jang bicara macam baca buku terus, nanti dong bosan dengar. Ko harus bicara dari hati, baru dong mau dengar,”  katanya sambil tersenyum. Kami yang masih canggung hanya bisa mengangguk, mencoba meresapi setiap kata. Seorang teman di sebelah saya berbisik pelan, “Ini baru latihan sa su deg-degan, apalagi nanti langsung di kapal.”

Malam harinya, di ruang kantor yang mulai redup, kami duduk melingkar membahas kembali materi hari itu. Ada yang mencatat, ada yang sekadar mendengarkan sambil menyeruput kopi. Rasa lelah jelas ada, tapi ada juga semacam kegembiraan yang tumbuh diam-diam, kegembiraan karena tahu bahwa apa yang kami pelajari akan segera diuji langsung di lapangan, di antara masyarakat yang menanti dan laut yang menyimpan banyak cerita.

Mengikuti Arus yang Membawa Harapan – Maria

Berlayar menggunakan kapal perintis seperti Kapal Sabuk Nusantara 112 (Sanus 112) bukan sekadar perjalanan untuk berpindah tempat, melainkan juga latihan kesabaran dan proses adaptasi yang unik. Ini merupakan pengalaman pertama bagi saya melakukan perjalanan bersama teman-teman relawan dan Science for Conservation

Saya belum pernah menggunakan kapal seperti ini sebelumnya, sehingga belum bisa membayangkan situasi yang akan kami lalui. Perasaan takut terhadap gelombang bahkan sempat membuat saya hampir menyerah ketika berada di Pelabuhan Manokwari sebelum keberangkatan. Namun, dukungan dari teman-teman membuat saya kembali mengingat alasan dan tujuan awal saya untuk ikut berlayar. Semangat itu akhirnya tidak padam. Saya berhasil melewati proses ini, mengalahkan rasa takut, menemukan hal-hal baru, serta bertemu dengan orang-orang baru selama pelayaran.

Maria melakukan pre/post test dewasa.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Hal yang paling berkesan dari pelayaran dengan Sabuk Nusantara 112 adalah interaksi sosialnya. Penumpang kapal perintis umumnya terdiri atas warga lokal, pedagang antarpulau, dan anak-anak daerah yang hendak bersekolah. Pada akhirnya, berlayar bersama teman-teman relawan menggunakan kapal Sabuk Nusantara 112 mengajarkan saya bahwa beradaptasi bukan tentang melawan ketakutan saya, melainkan tentang bagaimana saya mampu menyesuaikan diri dengan kondisi di atas laut. Ketika saya tidak berusaha memaksakan kenyamanan berada di darat saat saya berlayar di atas kapal, saya belajar bahwa pelayaran ini bukan hanya sekadar perjalanan di atas laut, tetapi menjadi bagian dari pengalaman hidup yang manis. 

Ketika Riak Menjadi Ruang BelajarMartha

Perjalanan di atas dek Kapal Sabuk Nusantara 112 yang sedang membelah lautan: gerakan gelombang air tidak hanya menggerakkan kapal, tetapi juga mengalirkan inspirasi. Di tengah perjalanan panjang antarpulau, setiap sudut ruang kapal berubah menjadi ruang cerita yang penuh kehangatan. Kami, tim relawan, berhasil mengubah kejenuhan perjalanan laut menjadi sebuah momen edukasi yang sangat berharga bagi anak-anak pesisir.

Momen indah terekam saat tim kami, Kak Sesar, duduk bersama anak-anak. Menggunakan rompi krem bertuliskan pesan “Jaga Penyu”, ia tampak memberikan penjelasan dengan penuh kesabaran. Di sekelilingnya, anak-anak mendengarkan dengan penuh antusias. Keseriusan terpancar dari mata mereka. Ada yang berdiri bersandar pada kursi kapal, ada pula yang duduk merapat, seolah-olah tidak ingin kehilangan satu kata pun dari cerita yang disampaikan oleh Kak Sesar.

Martha selesai melakukan pre/post test orang dewasa.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Mas Sesar sedang membacakan buku Seri Pembi.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Martha Heipon)

Interaksi ini membuktikan bahwa edukasi konservasi tidak harus kaku dan formal di dalam ruang kelas. Di atas kapal, dengan latar belakang “pojok baca” dan dekorasi penyu yang terlihat di belakang spanduk, sains didekatkan melalui cerita dan aktivitas interaktif. Anak-anak diajak mengenal kekayaan laut Papua, mulai dari terumbu karang yang cantik hingga pentingnya menjaga penyu (teteruga) dari kepunahan. Suara riak air laut yang terdengar dari dinding kapal menjadi musik latar dari sebuah cerita penting tentang masa depan Bumi.

Bagi kami sebagai tim relawan Science for Conservation, setiap perjalanan pelayaran dari satu kampung ke kampung lain adalah peluang emas. Anak-anak dan orang dewasa yang kami temui di kapal ini adalah calon penjaga pulau-pulau terdepan Papua. Dengan menanamkan rasa cinta kepada alam Papua sejak dini, percakapan di atas kapal Sabuk Nusantara 112 ini diharapkan mampu membesar menjadi gelombang kesadaran yang besar saat mereka kembali ke kampung masing-masing. Perjalanan yang melelahkan berubah menjadi ruang berbagi mimpi. Lewat kepedulian teman-teman relawan, sains tidak lagi terasa jauh dan rumit, melainkan hadir sebagai sahabat yang siap menemani anak-anak ini untuk menjaga laut tetap biru.

Setelah melewati lautan bersama Kapal Sabuk Nusantara 112, kini kami tiba di perairan Wau-Weyaf, disini Kapal Sabuk Nusantara 112 harus berlabuh dalam waktu yang cukup lama. Perjalanan penumpang yang akan turun menuju daratan Kampung Wau-Weyaf dilanjutkan dengan transportasi andalan masyarakat pesisir, yaitu perahu fiber. Meskipun berukuran kecil, perahu fiber ini mampu membelah ombak dengan lincah, membawa penumpang dan beberapa logistik mendekati bibir pantai. Karena kapal berlabuh cukup lama, kami pun memutuskan untuk ikut turun ke Kampung Wau-Weyaf menggunakan perahu. Disinilah kami memasuki babak baru yang sangat seru, air laut yang tadinya hanya menjadi percakapan di dek kapal kini terasa begitu dekat di kanan dan kiri lambung perahu. Setibanya di darat, saya bersama teman-teman relawan yang lain langsung menuju Rumah Belajar Kampung Wau-Weyaf. Setelah perjalanan laut yang sangat gerah, kami menumpang mandi dan menyegarkan diri di rumah belajar dengan suasana yang penuh keheningan. Kampung yang begitu gelap tanpa adanya lampu membuat kami mengandalkan cahaya dari api yang dibuat oleh kakak-kakak tim rumah belajar. Aroma asap kayu-kayu kering yang dibakar begitu khas, sekaligus membantu menerangi kami dan mengusir agas.

Volunteer turun ke perahu menuju Kampung Wau.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Abigail Lang)

Aktivitas sederhana ini menjadi momen penting yang tidak terlupakan. Namun, kunjungan ke daratan hanyalah sebuah persinggahan singkat. Usai membersihkan badan dan bercerita sambil meminum kopi dan teh yang disediakan oleh kakak-kakak tim lapangan rumah belajar, yang menghangatkan tubuh, kami segera kembali ke pantai untuk diantarkan kembali ke kapal. Dalam perjalanan, kami merasa sangat senang karena pemandangan langit yang begitu indah, dengan bintang-bintang yang begitu banyak dan bulan yang begitu terang.

Begitu kami tiba di atas Kapal Sabuk Nusantara 112, kami segera bersiap-siap untuk agenda berikutnya, yaitu menonton film bersama di kapal, tepatnya di depan kafetaria. Sebelum pemutaran film dimulai, kru kapal membantu mengumumkan kegiatan menonton bersama melalui pengeras suara kapal, sehingga para penumpang mengetahui adanya kegiatan tersebut dan dipersilakan untuk bergabung.

Kami memutar film tentang kekayaan laut dan pentingnya menjaga kebersihan laut dari sampah plastik serta pemanasan global. Penumpang kapal, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak yang sedang melakukan perjalanan antarpulau, berkumpul di lokasi pemutaran. Menonton bersama ini menjadi jembatan edukasi yang sangat efektif. Di sela-sela pemutaran film, kami membagikan beberapa makanan ringan untuk dimakan bersama dan bersantai saat menonton. Perjalanan panjang antarpulau tidak lagi terasa membosankan, melainkan menjelma menjadi ruang kelas terapung yang penuh dengan transfer ilmu dan kesadaran lingkungan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
New Template Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Jalan-Jalan Bersama KM Sabuk Nusantara 112: Ketika Perjalanan Menjadi Ruang Edukasi ​

Jalan-Jalan Bersama KM Sabuk Nusantara 112: Ketika Perjalanan Menjadi Ruang Edukasi

Penulis

Abigail Lang

Tanggal

4 Agustus 2026

Manifes kapal mencatat total 439 penumpang, dan kami berangkat dengan membawa segudang pertanyaan: “Apakah nanti banyak penumpang yang tertarik?” “Target 75% penumpang kapal, kira-kira bisa tercapai tidak ya?”

Sebelas orang membawa misi edukasi di atas kapal ini. Rombongan kami terdiri dari Tim Program: Kak Trisye, Kak Yeni, Mas Sesar, saya (Abigail), dan Fery. Sementara Anjely, Karin, Minggas, dan Martha (dari Manokwari), serta Maria dan Zahro (dari Sorong) yang menjadi tim volunteer.

Perasaan campur aduk ini bermula ketika seluruh tim bertemu dengan kapten dan kru kapal pada H-3 menjelang kegiatan.

Malam keberangkatan dari Pelabuhan Manokwari.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Hari Pertama – Keberangkatan yang Mendebarkan

Senin, 20 Juli 2026 dimulai dengan instruksi dari Mas Sesar, salah satu anggota tim kami. Kami diminta tiba di pelabuhan pukul 19.00 karena jadwal keberangkatan kapal adalah pukul 21.00. Setibanya di pelabuhan, kami mendapat kabar bahwa kapal masih harus menunggu rombongan wisata rohani dari Biak, Korido. Mereka sedang menuju Manokwari menggunakan KM Sabuk Nusantara 94 dan akan melanjutkan perjalanan bersama kami di KM Sabuk Nusantara 112 (Sanus 112). Saat menunggu, seorang penumpang berseru, “Rombongan wisata rohani ini sekitar ratusan orang!”

Kami semua menghela napas, saling bertatap, dan berharap kegiatan ini akan tetap berjalan lancar dengan respons yang baik. Ketika rombongan tiba, masyarakat tak henti-hentinya memindahkan barang dari kapal satu ke Sanus 112. Tepat pukul 22.30, stom ketiga berbunyi menandakan kapal akan segera berangkat. Kami mulai menempati kasur masing-masing di Dek 2. Malam itu, tim sepakat untuk beristirahat dan baru memulai aktivitas keesokan harinya.

Hari Kedua – Antusiasme di Pojok Baca & Nobar

Waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi. Setelah disuguhkan makanan hangat oleh koki kapal, tim melakukan briefing sembari sarapan. Lembaran pre-test dan post-test dibagikan, dan tanggung jawab masing-masing diserahkan.

Para volunteer dibekali starter pack untuk memulai penjangkauan kepada penumpang. Sementara itu, saya dan Mas Sesar berjaga di area “Pojok Baca”. Kak Trisye dan Kak Yeni menyiapkan berbagai perlengkapan—mulai dari merchandise, buku cerita seri 1-3, komik, hingga camilan ringan untuk dibagikan—sambil memantau pergerakan volunteer. (Sebagai catatan, buku-buku tersebut dikembangkan melalui kerja sama antara tim UNIPA dan Program Studi Desain dan Komunikasi Visual Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (DKV ITS), lengkap dengan ilustrasi karya mahasiswa mereka). Di sisi lain, Ferry menjadi ujung tombak dokumentasi yang sibuk mengabadikan momen dengan kameranya.

Briefing tim di pagi hari untuk memulai aktivitas.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Suasana ramai di Pojok Baca pada pagi hari.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Salah satu area kafetaria kapal kami sulap menjadi “Pojok Baca”. Tepat pukul 09.00 pagi, kami membukanya dan, BOOM! Masyarakat tak henti-hentinya datang silih berganti untuk menukarkan voucher. Keraguan yang selama ini menjadi keluh kesah kami akhirnya sirna; ternyata sebagian besar penumpang sangat antusias.

Tiga jam berlalu tanpa terasa. Ada yang datang menukarkan voucher, meminjam buku, hingga bermain games. Dari anak-anak hingga orang dewasa, laki-laki dan perempuan, semuanya ikut terlibat. Permainan edukasi yang kami bawa dirancang agar pesannya mudah diterima, seperti: kartu memori Ingat Penyu, ular tangga versi Dunia Penyu, puzzle menyusun karapas penyu.

Di sini, kami juga mengajarkan jingle “Tukik, Ayo Lari ke Laut” dan menyanyikannya bersama-sama. Menjelang siang, aktivitas di Pojok Baca mulai mereda karena rombongan wisata rohani telah turun di kampung persinggahan. Meski jumlah penumpang berkurang, anak-anak tetap berdatangan untuk bermain.

Dari Dek 3, pemandangan sunset tampak jelas menyinari kapal. Kampung demi kampung terlewati hingga akhirnya kami tiba di Kampung Wau pada malam hari. Waktu bersandar ini kami manfaatkan untuk menggelar Nonton Bareng (Nobar) di depan kafetaria. Tepat pukul 21.00, kami memperkenalkan tim dari UNIPA dan memutar video edukasi tentang pelestarian penyu, perubahan iklim, dan sampah plastik. Sesi pemutaran video dilanjutkan dengan tanya jawab interaktif bertabur hadiah, sebelum ditutup dengan pemutaran film action (yang sudah lulus sensor) sebagai hiburan bagi penumpang.

Pojok Baca: Penumpang menukarkan voucher dengan merchandise.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Pojok Baca: Penumpang menukarkan voucher dengan merchandise.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Hari ketiga – Menuju Sorong

Rabu, 22 Juli 2026 tim sudah semakin terbiasa dengan ritme kegiatan. Pagi harinya, kami kembali membuka Pojok Baca. Fery masih tampak lalu-lalang dari Dek 2 ke Dek 3 untuk memastikan semua momen terdokumentasi.

Pada malam hari, kami kembali mengadakan Nobar yang dipandu Kak Yeni. Ini terbukti menjadi salah satu strategi paling efektif untuk menjalin kedekatan dengan penumpang. Hari-hari selama perjalanan Manokwari–Sorong pun berakhir. Pukul 23.00, setelah Nobar selesai, kami beristirahat karena kapal dijadwalkan berlabuh di Pelabuhan Sorong keesokan paginya.

Setibanya di Sorong, kami memanfaatkan waktu dengan baik. Skenario yang kami susun sebelumnya ternyata berjalan sangat mendekati realitas di lapangan. Barang-barang logistik kami titipkan di kapal, karena pada Jumat malam tim harus kembali berlayar.

“Kak, ini besok kita sudah balik lagi ke kapal. Iya Kak, sekali lagi ini besok sudah balik,” kataku ke Kak Yeni sambil tertawa, masih dengan sisa-sisa rasa mabuk laut.

Nonton bareng film edukasi saat kapal bermalam.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Trip Balik: Sorong – Manokwari (24 – 26 Juli 2026)

Kak Trisye menginstruksikan tim untuk siap di pelabuhan pada pukul 23.00. Karena kapal berangkat pada pukul 00.30 dini hari, tidak ada aktivitas edukasi yang dilakukan pada malam tersebut.

Hari Kedua – Bertahan di Arus Balik 

Sabtu, 25 Juli 2026 Pagi harinya, kami mulai menyebarkan flyer “Fakta Menarik Penyu Belimbing”. Pendekatan langsung ini harus dilakukan dengan cepat karena penumpang tujuan Sausapor akan turun pada pukul 09.30. Di arus balik ini, jumlah penumpang memang lebih sedikit. Beberapa di antaranya bahkan penumpang yang sama yang sebelumnya naik dari kampung menuju Manokwari.

Malam harinya, kapal bersandar di Kampung Warmandi. Seorang bapak menghampiri Kak Trisye dan bertanya, “Kaka, ini masih ada mau Nobar kah?” Melihat antusiasme yang masih menyala, kami memutuskan untuk tetap mengadakan Nobar. Video edukasi kembali diputar dan kuis tanya jawab kembali dilontarkan. Meski penumpang semakin hari semakin sedikit, semangat tim tidak luntur; kami sangat menikmati setiap prosesnya.

Mama sedang membaca flyer edukasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Pojok Baca: Edukasi interaktif bersama penumpang.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Hari Ketiga – Reuni di Atas Kapal: Kembalinya Rombongan Wisata Rohani 

Minggu, 26 Juli 2026 tidak terasa, kami sudah melakukan empat hari penuh penjangkauan di atas kapal. Kami mendapat kabar bahwa rombongan wisata rohani akan kembali naik pada malam hari. Karena penumpang di sore hari masih sepi, sebagian tim menyempatkan diri duduk santai menikmati sunset di Dek 3.

Sekitar pukul 19.00, kapal tiba di Imbuan. Kak Trisye memanggil kami untuk segera turun ke Pojok Baca. Ternyata, rombongan yang naik sangat banyak! Karena mereka sudah familier dengan kegiatan kami dari perjalanan sebelumnya, mereka sendiri yang proaktif meminta pre-test dan post-test kepada volunteer. Suasana kembali hectic. Anak-anak hingga orang dewasa antusias terlibat dan bermain. Kami bahkan sudah saling mengenal wajah satu sama lain sejak keberangkatan awal dari Manokwari. Setelah kegiatan selesai, tim melakukan crosscheck final untuk menghitung total penumpang yang berhasil dijangkau.

Senin, 27 Juli 2026 pagi hari, kapal kembali bersandar di Pelabuhan Manokwari. Seluruh tim disambut hiruk pikuk pelabuhan—dan tentu saja, efek gelombang laut yang masih membuat jalanan di depan mata terasa bergoyang.

Lebih dari Sekadar Angka

Sebanyak 275 penumpang mengikuti rangkaian kegiatan edukasi, termasuk pre-test dan post-test. Peserta terdiri atas 150 remaja dan orang dewasa serta 125 anak-anak. Selain itu, 159 penumpang lainnya menerima informasi edukatif melalui pembagian flyer. Bagi tim kami, keberhasilan tidak hanya diukur dari angka statistik atau jumlah partisipan. Edukasi yang disampaikan selama pelayaran diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran dan mendorong tindakan nyata, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar pantai peneluran penyu di Taman Pesisir Jeen Womom.

Meski perjalanan berakhir saat kapal kembali merapat di pelabuhan, pesan tentang #JagaPenyu, bahaya sampah plastik, dan ancaman perubahan iklim diharapkan ikut dibawa pulang oleh para penumpang melalui ingatan dan lembar “Fakta Menarik Penyu Belimbing” yang telah dibagikan.

Pelayaran selama tujuh hari ini membuktikan satu hal: edukasi tidak selalu membutuhkan mimbar mewah atau ruang kelas yang kaku. Kadang-kadang, kesadaran tentang laut dan kehidupan yang bergantung padanya justru lahir dan bersemi dari sebuah sudut kecil di atas geladak kapal.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Hubungan Publik Kehidupan Sosial Masyarakat Hubungan Publik Pemerintah Daerah Kabupaten New Template

Program Sains untuk Konservasi – LPPM UNIPA Gelar Rangkaian FPIC dan Sosialisasi Program TFCCA bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten di Sorong

Program Sains untuk Konservasi - LPPM UNIPA Gelar Rangkaian FPIC dan Sosialisasi Program TFCCA bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten di Sorong

Penulis

Meilani R. Nanlohy dan Kartika Zohar

Tanggal

06  Juli 2026

Pada akhir Juni hingga awal Juli 2026, tepatnya pada 29 Juni sampai 1 Juli, Tim Sains untuk Konservasi (S4C) dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) melanjutkan tahapan penting dalam proses Free, Prior, and Informed Consent (FPIC) atau juga disebut PADIATAPA (Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan). Setelah sebelumnya berinteraksi langsung dengan masyarakat di kawasan Taman Pesisir Jeen Womom pada bulan Mei (baca ceritanya di sini), pada kesempatan ini proses FPIC diperluas melalui koordinasi bersama pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten di Kota Sorong sebagai mitra strategis dalam pelaksanaan program.

Melalui rangkaian pertemuan tersebut, Tim S4C LPPM UNIPA tidak hanya memperkenalkan rencana pelaksanaan program yang didukung oleh Tropical Forest and Coral Reef Conservation Act (TFCCA), tetapi juga membangun kesepahaman dengan pemerintah daerah, memperoleh masukan terhadap rencana kegiatan, serta memastikan bahwa pelaksanaan program selaras dengan prioritas pembangunan daerah. Proses ini merupakan bagian dari penerapan prinsip FPIC yang menekankan penyampaian informasi secara terbuka, pelibatan para pemangku kepentingan sejak tahap awal, serta penghimpunan masukan sebelum program dilaksanakan.

Tropical Forest and Coral Reef Conservation Act (TFCCA) merupakan prrogram kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat, program ini berfokus pada konservasi ekosistem terumbu karang serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. Dalam pelaksanaannya, TFCCA didukung oleh Konservasi Indonesia (KI) dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).

Langkah awal koordinasi dimulai di Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat Daya. Tim S4C LPPM UNIPA yang diwakili oleh Kartika Zohar selaku Koordinator Program Pemberdayaan dan Meilani Nanlohy sebagai Asisten Koordinator Hubungan Masyarakat disambut oleh Sarlota Mobalen, Kepala Bidang Kelautan dan Perikanan, bersama jajarannya. Dalam pertemuan tersebut, Sarlota Mobalen menyampaikan apresiasi terhadap pendekatan S4C yang dinilai mampu menjangkau wilayah-wilayah terpencil, yang selama ini menjadi tantangan bagi pemerintah daerah.

Koordinasi dan Sosialisasi Program TFCCA bersama Kepala Bidang Kelautan dan Perikanan – DKP PBD Ibu Sarlota Mobalen.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Meilani R. Nanlohy)

Foto bersama setelah Koordinasi dan Sosialisasi Program TFCCA dengan DKP PBD.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Diskusi berlangsung dinamis, mencakup berbagai program seperti penguatan tata kelola kawasan, pemantauan penyu, hingga program beasiswa bagi generasi muda Papua. Sarlota Mobalen juga menegaskan pentingnya peran dinas dalam mendukung penyusunan Perjanjian Kerja Sama (PKS) untuk pengelolaan Taman Pesisir Jeen Womom, sekaligus menyoroti perlunya pengawasan terhadap aktivitas tambang dulang di kawasan pantai peneluran penyu.

Masih pada hari yang sama, tim melanjutkan kunjungan ke Kantor Balai Pengelolaan Kelautan Kupang – Satuan Pelayanan Sorong. Pertemuan dipimpin oleh Indri Widhiastuti selaku Koordinator Satuan Pelayanan Sorong. Dalam kesempatan ini, Indri menekankan pentingnya sinkronisasi data, khususnya terkait monitoring sosial-ekonomi dan kesehatan terumbu karang, yang akan mendukung penilaian dan pengelolaan kawasan konservasi. Ia juga meminta agar S4C dapat berbagi data serta menyampaikan rencana kegiatan secara lebih awal guna menghindari tumpang tindih program.

Koordinasi dan Sosialisasi Program TFCCA bersama Balai Pengelolaan Kelautan Kupang
Satuan Pelayanan Sorong.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Meilani R. Nanlohy)

Foto bersama setelah Koordinasi dan Sosialisasi Program TFCCA dengan Balai Pengelolaan Kelautan Kupang
Satuan Pelayanan Sorong.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Memasuki hari kedua, 1 Juli 2026, koordinasi berlanjut bersama Pemerintah Kabupaten Tambrauw. Bertempat di Rumah Aman, Perumahan Jupiter, tim bertemu dengan Merina M. Kmurawak, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Tambrauw. Dalam pertemuan tersebut, Merina menyampaikan dukungan penuh terhadap program pemberdayaan masyarakat dengan dukungan pendanaan TFCCA, khususnya pengembangan produk turunan kelapa sebagai komoditas unggulan daerah. Ia juga membuka peluang dukungan berupa penyediaan peralatan produksi, dan berharap kebutuhan tersebut disampaikan secara rinci oleh pihak S4C LPPM UNIPA.

Koordinasi dan Sosialisasi Kegiatan Program TFCCA bersama Dinas Pertanian Tambrauw, DP3AKB Tambrauw, Dinas Sosial PBD, dan FASDA PBD.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Pada kesempatan yang sama, tim juga berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3A) Kabupaten Tambrauw yang dipimpin oleh dr. Lenny F. Hae. Dalam diskusi ini, dr. Lenny menyoroti pentingnya sinergi antara program TFCCA dengan prioritas pemerintah daerah, seperti peningkatan literasi bagi perempuan dan anak putus sekolah serta penguatan Indeks Pembangunan Gender. Ia juga menekankan bahwa setiap kegiatan harus mencerminkan kolaborasi nyata antara pemerintah dan mitra, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Selain itu, pertemuan ini turut dihadiri oleh fasilitator daerah dari DP3A Provinsi Papua Barat Daya serta perwakilan Dinas Sosial Provinsi Papua Barat Daya, yang memberikan masukan teknis terkait penguatan program keluarga, optimalisasi balai KB, serta pengembangan usaha berbasis masyarakat.

Koordinasi dan Sosilisasi Program TFCCA oleh Tim S4C LPPM UNIPA kepada Bapak Hasan dan Bapak Syarif Tuharea dari BLUD UPTD Kepulauan Raja Ampat.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Meilani R.Nanlohy)

Foto bersama setelah Koordinasi dan Sosilisasi Program TFCCA oleh Tim S4C LPPM UNIPA dengan Tim BLUD UPTD Kepulauan Raja Ampat.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Meilani R.Nanlohy)

Rangkaian koordinasi ditutup dengan pertemuan strategis bersama Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Unit Pengelolaan Teknis Daerah (UPTD) Raja Ampat di Vega Hotel Sorong. Pertemuan ini dihadiri oleh Hasan Makasar selaku Kepala BLUD UPTD Kepulauan Raja Ampat, Syafri Tuharea yang merupakan Asisten Teknis Konservasi di BLUD UPTD Kepulauan Raja Ampat, serta Fitryanti Pakiding sebagai Pengelola Program Sains untuk Konservasi. Dalam forum ini, Fitryanti memaparkan rencana kegiatan penjangkauan dan survei persepsi, termasuk survei di kapal PELNI menuju Raja Ampat serta pengembangan media edukasi bawah laut interaktif bekerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh  November.

Hasan Makasar menyampaikan dukungan penuh terhadap program tersebut, termasuk fasilitasi sarana seperti speed boat, pos lapangan, dan peralatan selam. Ia juga membuka peluang kolaborasi pendanaan guna memastikan keberlanjutan program konservasi di wilayah Raja Ampat.

Seluruh rangkaian kegiatan ini menegaskan adanya komitmen bersama antara S4C LPPM UNIPA, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, serta berbagai mitra strategis lainnya. Melalui koordinasi yang intensif dan terstruktur, program-program TFCCA diharapkan tidak hanya memperkuat upaya konservasi, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat pesisir di Papua Barat Daya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Hubungan Publik Kehidupan Sosial Masyarakat Hubungan Publik Pemerintah Daerah Kabupaten New Template

Sosialisasi PADIATAPA di Taman Pesisir Jeen Womom​

Sosialisasi PADIATAPA di Taman Pesisir Jeen Womom

Penulis

Liana Mongdong

Tanggal

03 Juli 2026

Tim Hubungan Masyarakat dari Program Sains untuk Konservasi (S4C) telah melaksanakan Sosialisasi PADIATAPA (Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan) untuk Program TFCCA (Tropical Forest and Reef Conservation Act). Sosialisasi ini diadakandi Taman Pesisir Jeen Womom pada 19 Mei 2026 di Pantai Jeen Syuab dan 26 Mei 2026 di Pantai Jeen Yessa.

Sosialisasi PADIATAPA di Jeen Syuab oleh Abraham Leleran.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Sosialisasi PADIATAPA di Jeen Yessa oleh Abraham Leleran.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Sosialisasi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang didukung oleh Program TFCCA. Program TFCCA (Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act), yaitu program kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat yang didukung oleh Konservasi Indonesia (KI) serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Program ini berfokus pada upaya konservasi ekosistem terumbu karang dan penguatan kesejahteraan masyarakat melalui pendekatan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. 

Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat yang tinggal berbatasan dengan Pantai Jeen Yessa dan Pantai Jeen Syuab mengenai rencana kegiatan yang didukung TFCCA, memastikan keterlibatan dan persetujuan masyarakat secara sadar tanpa paksaan, serta membangun kolaborasi dalam mendukung upaya pelestarian penyu yang berkelanjutan. 

Sosialisasi ini diikuti oleh perwakilan masyarakat dari Kampung Wau, Weyaf, Resye, Womom, dan Syukwo. Peserta terdiri atas pemerintah kampung, pemilik pantai, tokoh perempuan, dan pemuda.

Selama sosialisasi berlangsung, peserta, khususnya masyarakat, menunjukkan antusiasme hingga kegiatan berakhir. Hal ini terlihat dari berbagai pertanyaan yang disampaikan, serta adanya sesi berbagi cerita dan penyampaian aspirasi maupun keresahan, salah satunya terkait kondisi wilayah Jeen Syuab. Perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tambrauw pun turut memberikan tanggapan serta membantu menjawab pertanyaan peserta mengenai kondisi lingkungan di wilayah tersebut.

Penandatangan berita acara Sosialisasi PADIATAPA di Jeen Syuab.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Penandatangan berita acara Sosialisasi PADIATAPA di Jeen Yessa.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Kegiatan berjalan dengan baik dan ditutup dengan penandatanganan berita acara sosialisasi sebagai bentuk kesepakatan bersama serta komitmen para pihak dalam mendukung pelaksanaan program.

Foto bersama dengan masyarakat dan tenaga lapangan yang hadir saat sosialisasi PADIATAPA.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Dari pelaksanaan sosialisasi PADIATAPA, tim Sains untuk Konservasi mengharapkan adanya kerjasama yang baik dengan masyarakat tanpa ada tekanan atau paksaan demi pelestarian penyu di Taman Pesisir Jeen Womom.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
New Template Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Pelatihan PMNH Periode II Tahun 2026: Membangun Kapasitas Pendamping Masyarakat

Pelatihan PMNH Periode II Tahun 2026: Membangun Kapasitas Pendamping Masyarakat

Penulis

Liana Mongdong

Tanggal

01 Juli 2026

Pelatihan Pendamping Masyarakat dan Narahubung (PMNH) Periode II Tahun 2026 telah dilaksanakan pada 17–19 Juni 2026 bertempat di Ruang Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA). Kegiatan ini menjadi salah satu upaya dalam mendukung pemberdayaan masyarakat di Taman Pesisir (TP) Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya.

Pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang didukung oleh beberapa mitra dan donor, termasuk Program TFCCA. Program TFCCA (Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act), yaitu program kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat yang didukung oleh Konservasi Indonesia (KI) serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Program ini berfokus pada upaya konservasi ekosistem terumbu karang dan penguatan kesejahteraan masyarakat melalui pendekatan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Meskipun kegiatan ini mencakup berbagai materi, pelatihan lebih difokuskan pada teknik produksi produk turunan kelapa, khususnya briket arang dan cocopeat. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas PMNH dalam menguasai teknik pengolahan produk turunan kelapa sebagai upaya pengembangan mata pencaharian alternatif berbasis komoditas unggulan lokal, sekaligus memperkuat dukungan terhadap upaya konservasi penyu yang berkelanjutan.

Kegiatan ini merupakan kegiatan lanjutan setelah melalui tahapan seleksi sebelumnya. Dari total 114 peserta yang mendaftar, sebanyak 20 peserta berhasil lolos seleksi tahap pertama, hingga akhirnya terpilih 9 peserta yang mengikuti tahap pelatihan PMNH Periode II.

Sejalan dengan pelatihan sebelumnya, kegiatan ini bertujuan untuk membekali peserta dengan pemahaman menyeluruh mengenai program, meningkatkan keterampilan teknis di lapangan, serta memperkuat kemampuan dalam bekerja sama secara efektif dan profesional dalam mendukung pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat.

Pada hari pertama pelaksanaan, kegiatan diawali dengan penandatanganan kontrak kerja oleh seluruh peserta bersama Human Resources Development (HRD). Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari Pengelola Program Sains untuk Konservasi (S4C), Fitryanti Pakiding, dan secara resmi dibuka oleh Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA), Freddy Pattiselanno.

Pembukaan pelatihan PMNH oleh Freddy Pattiselanno.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Setelah sesi pembukaan, peserta mengikuti pemaparan lima materi utama yang dirancang untuk memperkuat pemahaman mengenai program pelestarian penyu di TP Jeen Womom, sistem kerja dan pengelolaan program, mekanisme pelaporan kegiatan, administrasi keuangan, serta strategi pendampingan masyarakat melalui program pendidikan formal maupun informal.

Pengenalan Program oleh Kartika Zohar.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pemaparan materi Sistem Keuangan oleh Aflia Pongbatu. 
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Memasuki hari kedua, kegiatan berfokus pada pendalaman pembelajaran di Rumah Belajar, meliputi materi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) dan ComputerEnglish (COMENG). Peserta juga mendapatkan sesi praktik mengajar, pemahaman mengenai indikator dan subindikator pembelajaran di Rumah Belajar, serta proses penilaian berdasarkan indikator tersebut.

Pemaparan materi Pengenalan Indikator dan Subindikator Pembelajaran di Rumah Belajar oleh Alberto Allo.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pemaparan materi Teori Pembuatan Minyak Kelapa Yang Bersih dan Rumah Produksi Minyak Kelapa oleh Fitri Iriani. 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Selain materi pendidikan, peserta juga dibekali pemahaman mengenai program pemberdayaan masyarakat melalui pengenalan produk dan proses pembuatannya. Materi tersebut mencakup Sharing terkait Program Kerajinan Tangan
(Amigurumi, dan Noken HP) , Teori Pembuatan Minyak Kelapa Bersih, serta pengelolaan Rumah produksi Minyak Kelapa yang dapat mendukung peningkatan kapasitas masyarakat Abun, Tobouw, dan Amberbaken. Pada hari yang sama, peserta juga menerima materi Manajemen Dokumentasi Foto dan Persyaratan Dokumentasi sebagai bagian dari pendukung pelaksanaan kegiatan di lapangan.

Pada hari terakhir pelatihan, peserta mendapatkan dua materi penting yang mendukung pelaksanaan program. Materi pertama disampaikan oleh Wilson Palelingan Aman mengenai Teori Pembuatan Turunan Kelapa berupa Cocopeat dan Briket Arang, sekaligus pengenalan mesin penepung arang. Materi kedua mengenai Pengenalan Penyu dan Upaya Konservasinya di TP Jeen Womom disampaikan oleh Asisten Koordinator Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang, Petrus Batubara, sebagai pendukung pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH).

Walaupun kegiatan ini diisi dengan berbagai materi akan tetapi, pelatihan lebih mengutamakan pelatihan teknik produksi turunan kelapa dalam hal ini briket arang dan cocopeat agar PMNH memiliki kapasitas terkait teknik produksi turunan kelapa untuk mengembangkan mata pencaharian alternatif masyarakat berbasis komoditas unggulan lokal sebagai bagian dari penguatan dukungan terhadap konservasi penyu yang berkelanjutan.

Pemaparan materi Teori dan Pembuatan Turunan Kelapa oleh Wilson Palelingan Aman.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pemaparan materi Pengenalan Penyu dan Upaya
Konservasinya di TP Jeen Womom oleh Petrus Batubara.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fitri Iriani)

Usai pelatihan, pada 23 Juni 2026, para peserta melakukan praktik membuat minyak kelapa dan briket arang sebagai persiapan untuk mendukung proses produksi minyak kelapa dan briket arang di kampung pendampingan.

Peserta sedang memarut kelapa menggunakan mesin parut kelapa.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Proses pembakaran tempurung.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Melalui rangkaian pelatihan ini, peserta PMNH diharapkan mampu memahami peran dan tanggung jawabnya dalam mendukung program konservasi serta pemberdayaan masyarakat di TP Jeen Womom. Dengan bekal pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan, para peserta diharapkan dapat menjadi penghubung yang efektif antara program dan masyarakat dalam mewujudkan upaya pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
New Template Outreach

Behind the Scene SCIPOD: Ketika Tiga Sudut Pandang Harus Jadi Satu Cerita

Behind the Scene SCIPOD: Ketika Tiga Sudut Pandang Harus Jadi Satu Cerita

Penulis

Abigail Lang

Tanggal

9 Juni 2026

Proses editing tidak bisa dilepaskan dari orang-orang yang duduk di depan kamera bersama kami: narasumber yang membawa cerita lapangan dan tim yang memastikan semuanya terekam dengan baik. Justru dari sanalah semua file mentah itu lahir.

Inilah yang saya pelajari ketika masuk dalam proses editing SCIPOD (Science Podcast). Dimulai pada akhir tahun 2025 di Sains untuk Konservasi, SCIPOD menjadi salah satu sarana pembicaraan tentang ilmu, cerita lapang, dan data yang disampaikan dengan lebih hidup. Tujuannya, yaitu menceritakan banyak hal yang dihadapi di balik dunia kerja konservasi.

Sebelum sampai pada tahap itu, ada ritual kecil yang selalu terjadi sebelum rekaman dimulai. Saya akan melempar pertanyaan ke sana-sini. Saya bukan sebagai bos yang memberi perintah, tetapi sebagai rekan yang tahu bahwa tanpa mata dan tangan tim, semuanya bisa berantakan.

“Mas, tolong lihat microphone sudah tersambung belum?” tanyaku pada Mas Sesar, yang selalu jadi orang pertama yang diandalkan untuk urusan teknis.

“Li, itu di 3 kamera POV coba lihat, sudah sesuai grid-nya?” tanyaku pada Liya, yang matanya sangat teliti untuk memastikan komposisi kamera tidak melenceng.

Lalu aku pun bertanya pada rekan satunya lagi, Kei, yang cukup detail untuk urusan perlengkapan pendukung. “Kei, baterai tab untuk logo sudah aman?”

Tanpa Mas Sesar, Liya, dan Kei, saya tidak akan bisa menjalankan ini sendirian. Di sisi lain, saya juga tidak pernah mencoba berpura-pura bisa.

Pengecekan posisi dan komposisi tiga kamera/handphone
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yulia Andriani)

Time keeper menyiapkan penanda durasi sesi rekaman.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Abigail Lang)

Jauh sebelum kamera menyala, ada banyak tangan yang telah lebih dahulu bekerja di balik layar. Kak Trisye dengan telaten menyusun jadwal bersama para narasumber, memastikan setiap pihak menemukan waktu yang selaras tanpa celah miskomunikasi. Sementara itu, Kak Novi dan Kak Yeni mendampingi kami sejak naskah masih berupa draf awal. Memberi masukan, menangkap bagian yang belum utuh, dan perlahan membentuknya menjadi versi yang lebih matang. Mereka adalah para koordinator yang mungkin tidak tampak di layar, namun tanpanya, apa yang akhirnya terlihat tak akan pernah terwujud.

Podcast ini direkam menggunakan tiga sudut kamera sekaligus—tiga sudut pandang, tiga perspektif, dan tiga berkas video dengan ukuran yang dapat mencapai gigabita.

Di antara semua itu, ada satu hal yang tidak boleh luput dari perhatian sebelum rekaman bahkan dimulai: baterai mikrofon. Mikrofon harus dipastikan punya daya yang cukup untuk merekam dari awal sampai akhir. Suatu waktu, pernah terjadi error pada proses perekaman podcast. Kualitas suara bermasalah di tengah rekaman yang sedang berjalan. Itu bukan sekadar gangguan teknis kecil. Sesi harus dihentikan. Suasana yang sudah terbangun menjadi buyar dan semua orang harus mengulang dari awal. Sejak saat itu, mengecek baterai mikrofon menjadi tahapan wajib yang tidak pernah kami lewatkan.

Selama proses rekaman berlangsung, ada satu peran lain yang sering luput dari perhatian, yaitu time keeper. Di balik kamera, menuliskan sisa waktu—10 menit lagi, 5 menit lagi, atau waktu hampir habis. Tanpa perlu memotong percakapan, tanda sederhana itu membantu host dan narasumber menjaga ritme diskusi agar tetap berjalan sesuai alur yang telah direncanakan. 

Proses perekaman audio selama sesi podcast SCIPOD.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Abigail Lang)

Persiapan peralatan dokumentasi dan produksi.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Barulah setelah rekaman selesai, tantangan berikutnya dimulai.

Sebelum proses penyuntingan benar-benar dimulai, seluruh berkas tersebut perlu dikonversi ke format yang memungkinkan kolaborasi tim. Setelah semua file siap, barulah Filmora dibuka.

Di sinilah tantangan sesungguhnya terasa. Timeline yang terbuka di depan layar bukan sekadar deretan klip, melainkan tiga versi realita yang harus dirangkaikan menjadi satu alur yang enak ditonton. Setiap kali narasumber atau host berbicara, saya harus memutuskan, kamera siapa yang seharusnya tampil sekarang? POV mana yang paling tepat untuk momen ini?

Memotong di titik yang pas itu tidak sesederhana yang terdengar. Membuka frame di timeline harus benar-benar ngena. Terlalu cepat terasa patah, terlalu lambat terasa bertele-tele. Belum lagi soal set ruangan yang harus konsisten dari satu kamera ke kamera lain, supaya penonton tidak merasa sedang berpindah-pindah tempat setiap kali sudut berganti.

Proses penyuntingan episode menggunakan Filmora.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Proses editing tidak berhenti pada video yang selesai dipotong dan disusun. Ujung dari semua pekerjaan ini adalah konten yang bisa menjangkau orang. Oleh karena itu, kami juga membuat materi iklan yang dirancang khusus untuk Instagram dan TikTok. Tujuannya, supaya orang yang melihatnya penasaran, lalu bergerak menonton versi lengkapnya di YouTube atau mendengarkan di platform podcast.

Dari file mentah bergiga-giga hingga satu konten iklan yang siap tayang, itulah perjalanan panjang yang terjadi jauh setelah rekaman selesai dan jauh sebelum episode benar-benar sampai ke telinga pendengar.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Konservasi Penyu Belimbing Training New Template

Pelatihan Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang

Pelatihan Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang

Penulis

Liana Mongdong

Tanggal

25 Juni 2026

Pelatihan Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang telah dilaksanakan pada 19–20 Mei 2026 di Pantai Jeen Syuab dan 26–27 Mei 2026 di Pantai Jeen Yessa. Kedua lokasi tersebut berada di kawasan Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya. Pelatihan ini merupakan bagian dari kegiatan yang didukung oleh beberapa mitra dan donor, termasuk program TFCCA. Program TFCCA (Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act) merupakan program kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat yang didukung oleh Konservasi Indonesia (KI) serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dalam upaya mendukung konservasi ekosistem terumbu karang dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Melalui program ini, berbagai kegiatan konservasi dan pemberdayaan masyarakat dilaksanakan, termasuk penguatan kapasitas tenaga lapangan dalam mendukung upaya perlindungan ekosistem pesisir.

 

Pada umumnya, pelatihan bagi tim pelaksana program pemantauan penyu dan perlindungan sarang diselenggarakan di Manokwari. Namun, pada musim ini sebagian besar tenaga lapangan yang direkrut merupakan tenaga lokal yang berasal dari kampung-kampung di sekitar Pantai Jeen Syuab dan Pantai Jeen Yessa. Oleh karena itu, pelatihan dilaksanakan langsung di lokasi pantai peneluran agar lebih mudah menjangkau peserta, sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka untuk belajar dan berlatih secara langsung di lapangan sesuai dengan kondisi kerja yang akan dihadapi selama program berlangsung. 

Selain Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang, dua perwakilan dari Tim Outreach, serta Koordinator Tim Humas, kegiatan ini juga dihadiri oleh masyarakat setempat, pemilik hak ulayat, perwakilan pemerintah desa, dan perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tambrauw.

Pada Sabtu, 16 Mei 2026, tim program berangkat dari Manokwari menuju pantai peneluran menggunakan Kapal Sabuk Nusantara (Sanus) 112. Setelah menempuh perjalanan hampir 24 jam, tim beristirahat selama satu hari di Kampung Wau sebelum mempersiapkan pelatihan di Pantai Jeen Syuab pada Senin, 18 Mei 2026.

Untuk mendukung pelaksanaan pelatihan, Sains untuk Konservasi menghadirkan sejumlah pemateri yang kompeten sesuai bidangnya. Materi pelatihan disampaikan oleh Deasy Lontoh sebagai Koordinator Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang; Yairus Swabra, Arfiandra Andika Wanaputra, dan Petrus Batubara sebagai Asisten Koordinator Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang; serta Elisa Secsio Hendra Putra sebagai Asisten Koordinator Produk Informasi. Selain penyampaian materi teknis, peserta juga menerima sosialisasi dari Abraham Leleran selaku Koordinator Humas dan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tambrauw.

Peserta mengisi pre-test.
(Foto : S4C_LPPM UNPA/Liana Mongdong)

Sosialisasi dari Humas Sains untuk Konservasi.
(Foto : S4C_LPPM UNPA/Liana Mongdong)

Dalam kedua pelatihan tersebut, tenaga lapangan lokal dan non lokal yang bertugas di pantai peneluran mengikuti pre-test sebelum pelatihan dan post-test pada akhir kegiatan. Tes ini dilakukan untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan selama pelatihan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 94% dari 35 tenaga lapangan yang mengikuti kedua tes tersebut mengalami peningkatan pemahaman berdasarkan perbandingan nilai pre-test dan post-test. Selain tenaga lapangan, sejumlah masyarakat setempat juga turut mengikuti beberapa sesi materi dan sosialisasi, termasuk sosialisasi PADIATAPA.

Pelatihan Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang di Jeen Syuab yang dilaksanakan di Pantai Wermon, diawali dengan sesi perkenalan antarpeserta. Sesi ini bertujuan membangun kebersamaan sekaligus memperkuat koordinasi tim. Setelah itu, peserta mengikuti sosialisasi dari Humas, kemudian menerima materi untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengenali jenis-jenis penyu, melakukan identifikasi penyu di lapangan, serta memahami berbagai ancaman terhadap penyu di habitat alaminya.

Rangkaian kegiatan pada hari kedua mencakup pemaparan materi Pengenalan Teknik Dokumentasi, Praktik Pemindahan Sarang, Evaluasi sarang, dan Patroli Pagi. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembahasan program kerja serta sosialisasi dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tambrauw. Pada malam hari, peserta melaksanakan praktik patroli malam sebagai bentuk penerapan pengetahuan yang telah diperoleh selama pelatihan.

Pemaparan program kerja.
(Foto : S4C_LPPM UNPA/Liana Mongdong)

Setelah pelatihan di Jeen Syuab selesai, tim melanjutkan perjalanan menuju Jeen Yessa untuk mempersiapkan pelaksanaan pelatihan berikutnya. Di lokasi ini, kegiatan hari pertama berlangsung lebih singkat karena menyesuaikan waktu kedatangan tenaga lapangan lokal yang harus menempuh perjalanan dari kampung menggunakan perahu. Usai sesi perkenalan yang dimulai pada siang hari, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi dari Humas, penyampaian materi tentang pengenalan jenis-jenis penyu dan berbagai ancamannya, serta praktik pelaksanaan patroli malam.

Materi Mengenal Penyu oleh Deasy Lontoh.
(Foto : S4C_LPPM UNPA/Liana Mongdong)

Keesokan harinya, peserta menerima materi tentang Teknik Dokumentasi dan Identifikasi Penyu, kemudian mengikuti praktik Perlindungan Sarang, Evaluasi dan Selokasi Sarang, serta praktik Patroli Pagi. Seluruh rangkaian kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas tenaga lapangan lokal dalam mendukung pemantauan dan perlindungan penyu secara berkelanjutan.

Materi Patroli Pagi oleh Yairus Swabra.
(Photo: S4C_LPPM UNPA/Liana Mongdong )

Materi Relokasi Kandang dan Evaluasi oleh Petrus Batubara.
(Photo: S4C_LPPM UNPA/Maurens Sundoy )

Penguatan kapasitas tersebut menjadi langkah penting dalam mendukung konservasi penyu, khususnya penyu belimbing. Selain memperkuat keterampilan teknis di lapangan, kegiatan ini juga mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian sumber daya pesisir di kawasan Taman Pesisir Jeen Womom bagi generasi mendatang.

 

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
New Template Outreach

Menjadi Host SCIPOD: Ketika Cerita Lapangan Datang Sendiri

Menjadi Host SCIPOD: Ketika Cerita Lapangan Datang Sendiri

Penulis

Abigail Lang

Tanggal

5 Juni 2026

Ada hal-hal yang tak sepenuhnya bisa ditangkap oleh naskah, sebaik apa pun itu ditulis. Emosi yang sesungguhnya seperti rasa terkejut, tawa yang lepas, atau jeda kecil sebelum seseorang menjawab, hanya benar-benar hadir ketika dua orang duduk berhadapan dan saling berbicara.

Inilah yang saya pelajari setiap kali duduk sebagai host untuk SCIPOD (Science Podcast). Dimulai pada akhir tahun 2025 di Sains untuk Konservasi, SCIPOD menjadi salah satu sarana pembicaraan tentang ilmu, cerita lapang, dan data yang disampaikan dengan lebih hidup. Tujuannya, yaitu menceritakan banyak hal yang dihadapi di balik dunia kerja konservasi.

Dari beberapa percakapan yang mengalir di SCIPOD, ada momen-momen kecil yang tertinggal dan membekas.

Recording podcast episode 2 bersama Kak Habema Monim
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yulia Andriani)

Recording podcast episode 4 bersama Kak Kesy Salosso
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yulia Andriani)

Di episode ini, saya berbincang dengan Kak Bema sebagai narasumber yang bercerita tentang metode Reef Health Monitoring (RHM). Di atas kertas, prosesnya terdengar rapi dan terukur: penyelam turun, foto diambil, fakta dan kondisi di lapangan dikumpulkan. Namun, di balik alur yang tampak sistematis itu, selalu ada kejadian-kejadian tak terduga di lapangan.

Ada satu cerita yang sebelumnya tidak saya ketahui. Frame, alat bantu dalam pengambilan foto transek, pernah jatuh ke dasar laut. Di tengah penyelaman, pada kedalaman yang tak memungkinkan seseorang berlama-lama, alat itu terlepas dan tenggelam.

Saya tak perlu bertanya banyak. Cara Kak Bema menceritakannya sudah cukup menggambarkan semuanya. Ada sisa rasa kesal yang kini mulai reda, bercampur dengan tawa yang akhirnya bisa muncul setelah semuanya berlalu. Begitulah kerja di lapangan. Tidak selalu berjalan sesuai rencana, bahkan untuk hal-hal yang tampak sederhana. Dari laut, percakapan kemudian membawa saya ke darat, ke cerita yang tak kalah menantang, meski bentuknya sangat berbeda.

Pada episode selanjutnya, saya berbincang dengan Kak Kesy sebagai narasumber. Pada sesi ini Kak Kesy membawa saya pada cerita tentang pemantauan kesejahteraan masyarakat melalui survei. Sekilas, pekerjaan ini mungkin terlihat seperti “sekadar bertanya”. Namun dari cerita Kak Kesy, saya mulai memahami bahwa kenyataannya jauh lebih kompleks.

Di balik setiap pertanyaan, ada waktu, tenaga, dan kesabaran yang tidak sedikit. Untuk satu kali wawancara dengan satu responden, waktu yang dibutuhkan bisa mencapai empat puluh menit, bahkan hingga satu jam. Satu orang, satu sesi, satu jam penuh. Dan pekerjaan tidak berhenti di situ. Setelah selesai di satu kampung, tim harus melanjutkan ke kampung berikutnya, membawa tumpukan kuesioner, menempuh jarak yang tidak selalu mudah, dan menghadapi kondisi yang sering kali tak terduga.

Saat mendengarkan cerita itu, saya membayangkannya pelan-pelan. Tiba-tiba, angka-angka dalam laporan survei terasa memiliki bobot yang berbeda, lebih hidup, sekaligus lebih berat. Dari sanalah saya mulai melihat bahwa apa yang kita temui hari ini sering kali merupakan hasil dari proses panjang yang jarang terlihat.

Podcast episode 6 bersama Kak Kartika Zohar
Source: Youtube – Science4conservation

Di podcast episode keenam, yaitu perbincangan dengan Kak Tika sebagai narasumber, dia berbicara tentang berbagai inovasi yang bisa dikembangkan di kampung. Bagi saya, kata “inovasi” terdengar segar dan penuh harapan. Namun, ada cerita di baliknya yang membuat saya sejenak terdiam. Inovasi ternyata tidak lahir begitu saja. Hal tersebut tumbuh dari proses yang panjang.

Jauh sebelum inovasi-inovasi itu berjalan, kampung-kampung itu telah lebih dulu dipelajari melalui survei. Bukan baru kemarin, melainkan sejak tahun 2010. Ibu Fitry dan Ibu Haidi sudah hadir sejak saat itu. Memahami kondisi lapangan dan membangun dasar yang kuat, bahkan sebelum program ini memiliki bentuk seperti sekarang. Inovasi yang hari ini tampak baru, sesungguhnya tumbuh dari rentetan waktu, lebih dari satu dekade kerja yang sering kali tidak terlihat.

Dari semua percakapan itu, saya semakin memahami satu hal. Di balik setiap lembar evaluasi, program, dan hasil yang kita lihat hari ini, selalu ada cerita manusia yang menyertainya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Lowongan Kerja Lowongan Kerja New Template

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Kedua PMNH Periode Kedua Tahun 2026​

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Kedua PMNH Periode Kedua Tahun 2026

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah mengikuti tahap seleksi wawancara Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) pada tanggal 22 Januari 2026. Berikut kami sampaikan nama-nama yang pelamar yang telah LOLOS Seleksi Tahap 2. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

1. Daftar nama tersebut akan dihubungi secara personal untuk datang tanda tangan kontrak di
kantor pada hari Rabu, 17 Juni 2026.

2. Pelaksanaan Training akan dilakukan di kantor Sains untuk Konservasi di Manokwari, Papua
Barat.

3. Kandidat pelamar PMNH diundang ke Manokwari untuk mengikuti Training yang akan
dilaksanakan pada tanggal 17-19 Juni 2026.

4. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836.

Sampai bertemu di Manokwari!