
Ketika Karya Mahasiswa Berlayar Membawa Pesan Konservasi
Penulis
Elisa Putra
Tanggal
14 Agustus 2026
“Ternyata bikin beginian ada sekolahnya, ya?” Begitu ungkap kami, tim penjangkauan di Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA, setelah berdiskusi bersama mahasiswa dan dosen dari Departemen Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Dalam diskusi ini, tim ITS menampilkan beberapa draf materi penjangkauan yang sedang mereka susun untuk kegiatan penyadartahuan konservasi laut di Kapal Sabuk Nusantara 112. Kegiatan ini penting karena mendukung upaya konservasi yang dilakukan Program Sains untuk Konservasi LPPM Universitas Papua di Taman Pesisir Jeen Womom, khususnya dalam melindungi penyu belimbing dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman seperti perubahan iklim dan sampah laut. Seiring meningkatnya mobilitas masyarakat melalui kapal tol laut, kegiatan penyadartahuan di atas kapal menjadi peluang strategis untuk menjangkau lebih banyak orang dengan pesan-pesan konservasi yang relevan bagi kawasan tersebut. Pada waktu itu, bulan Oktober 2025, tim mahasiswa dan dosen dari ITS datang jauh-jauh dari Surabaya ke Papua untuk melakukan survei kepada penumpang Kapal Sabuk Nusantara 112, awak kapal, masyarakat lokal di pesisir Jeen Womom, serta tim UNIPA. Survei ini dilakukan untuk membantu mereka menyusun strategi penjangkauan dan materi edukasi yang komunikatif serta mudah dipahami oleh masyarakat.
Penyampaian Hasil Survei dan Desain Media oleh Mas Afan –Mahasiswa DKV ITS
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)
Awal Pertukaran Cerita
Awalnya, kami menceritakan kegiatan edukasi di Kapal Sabuk Nusantara 112 kepada tim ITS di Surabaya pada bulan Juli 2025. Kami memilih untuk bekerja sama dengan tim dosen dan mahasiswa dari Departemen DKV ITS karena kompetensi akademik mereka selaras dengan kebutuhan kami dalam mengembangkan materi pendidikan lingkungan hidup yang efektif.
Dalam diskusi tersebut, kami memaparkan latar belakang pemilihan kapal tol laut sebagai lokasi penjangkauan, pentingnya Taman Pesisir Jeen Womom sebagai habitat peneluran penyu belimbing, karakteristik kehidupan masyarakat pesisir di sekitar kawasan konservasi, serta pengalaman kami dalam menyampaikan pesan-pesan konservasi kepada masyarakat setempat. Pembahasan ini menjadi landasan bagi tim DKV ITS untuk memahami konteks sosial dan ekologis yang akan diterjemahkan ke dalam materi komunikasi yang sesuai dengan kondisi di lapangan.
Diskusi berlanjut secara daring hingga tim ITS tiba di Papua. Selama berada di Papua, Mas Afan (begitu sapaan kami kepada perwakilan mahasiswa dari ITS) dan Pak Yosi (perwakilan dosen dari ITS) sangat bersemangat karena banyak sekali pengalaman pertama yang mereka alami. Mulai dari naik kapal Sabuk Nusantara 112, naik perahu pada tengah malam yang gelap, hingga perjalanan darat yang cukup menantang di tengah hutan Papua. Selain memperoleh pengalaman berkesan, mereka juga mendapatkan berbagai informasi menarik melalui diskusi selama perjalanan di Tanah Papua.
Mengenalkan Media Edukasi
dari Rumah Belajar kepada Mas Afan
(Foto: DKV_ITS/Yosia Enggar)
Pertemuan Bersama Masyarakat Lokal di Balai Kampung Distrik Amberbaken
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)
Informasi tersebut menjadi dasar bagi para mahasiswa untuk mengembangkan karya yang menarik, informatif, mudah dipahami oleh masyarakat, serta sesuai dengan karakter ruang dan aktivitas di kapal. Melalui proses ini, tim ITS berupaya merancang media yang mampu menarik perhatian penumpang untuk membaca pesan-pesan konservasi, memilih media visual dan audiovisual yang paling sesuai untuk digunakan di kapal penumpang, menjelaskan kehidupan penyu dengan bahasa yang sederhana tanpa mengurangi akurasi informasi ilmiah, serta tetap memperhatikan konteks sosial dan budaya masyarakat.
Selain itu, mereka juga mengeksplorasi berbagai bagian kapal sebagai ruang strategis untuk memasang media edukasi visual. Berbagai pertimbangan tersebut menjadi titik awal lahirnya berbagai konsep media kampanye.
Mas Afan Saat Mewawancarai Salah Satu Penumpang di KM Sabuk Nusantara 112
(Foto: DKV_ITS/Yosia Enggar)
Pertemuan Bersama Masyarakat Lokal di Balai Kampung Distrik Amberbaken
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)
Dari Konsep Menjadi Media
Perjalanan tim ITS ke Tanah Papua membawa hasil berupa pesan utama yang akan dibawa dalam kampanye, karakter yang akan ditampilkan selama kampanye, serta lokasi pemasangan media edukasi di dalam kapal. Setelah menentukan lokasi, karakter, dan pesan utama, mahasiswa ITS mengembangkan konsep tersebut menjadi berbagai media edukasi berbahasa Melayu Papua agar pesan konservasi mudah dipahami oleh masyarakat lokal. Proses penyusunan media edukasi ini melibatkan enam mahasiswa dan tiga dosen serta menjadi bagian dari tugas akhir mahasiswa Departemen DKV ITS.
Sebagian dari mereka merancang stiker informasi yang kemudian akan ditempatkan di pintu, ranjang, dinding, dan tempat sampah. Mahasiswa lainnya mengembangkan buku cerita berseri dan komik yang mengajarkan tentang kehidupan alami penyu belimbing. Untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan kepada penumpang, materi-materi tersebut dikembangkan menjadi animasi dua dimensi dan jingle anak-anak. Kampanye ini kami sebut sebagai kampanye #JagaPenyu.
Mas Afan Saat Mewawancarai Salah Satu Penumpang di KM Sabuk Nusantara 112
(Foto: DKV_ITS/Yosia Enggar)
Pertemuan Bersama Masyarakat Lokal di Balai Kampung Distrik Amberbaken
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)
Dalam prosesnya, anggota tim kami dari UNIPA juga terlibat sebagai pengisi suara. Proses rekaman juga menjadi pengalaman tersendiri karena kami harus menyesuaikan intonasi dengan karakter yang telah diciptakan. Selain media informasi, mahasiswa juga merancang berbagai cenderamata yang akan dibagikan kepada para penumpang. Seluruh media tersebut kemudian disatukan melalui konsep “Pojok Penyu”, tempat masyarakat dapat duduk, membaca buku, belajar, dan bermain.
Proses penyusunan media yang tetap mengedepankan konteks budaya menjadi semakin menantang karena mahasiswa ITS dan tim kami memiliki latar belakang budaya yang berbeda; mereka berasal dari Pulau Jawa, sedangkan kami dari Papua. Namun, semuanya bisa berjalan dengan baik, bahkan teman-teman mahasiswa juga mendapatkan pengetahuan tentang dialek baru, yaitu dialek Melayu Papua.
Pari Manta
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)
Pendampingan dan Pemantapan
Setiap karya yang dibuat harus melalui proses asistensi dan perbaikan. Setelah mengembangkan media informasi, mereka mempresentasikan hasilnya kepada kami. Tidak semua ide dapat langsung digunakan. Ada media yang perlu disederhanakan, ada ilustrasi yang perlu disesuaikan, dan ada pula desain yang harus diubah karena belum sesuai dengan kondisi kapal.
Perlahan-lahan, gagasan yang sebelumnya masih berupa hasil diskusi dan sketsa kemudian diubah menjadi buku yang siap dibaca, stiker yang siap dicetak dan dibagikan, jingle yang siap dinyanyikan, animasi yang siap diputar, dan merchandise yang siap dibagikan kepada penumpang.
Selanjutnya, teman-teman mahasiswa memamerkan karya mereka dalam pameran yang diselenggarakan oleh Departemen Desain Komunikasi Visual ITS. Kami yang hanya menyaksikannya dari jauh melalui dokumentasi gambar dan video juga ikut senang dan semangat karena penyu belimbing tidak hanya selesai disampaikan di Papua saja, tetapi juga bisa sampai di Pulau Jawa, dengan harapan pesan konservasi dan perlindungan penyuguhan penyu akan terus berlanjut. Selama kurang lebih enam bulan, dari Januari hingga Juni 2026, teman-teman mahasiswa berhasil menyelesaikan pembuatan media informasi.
Mas Afan Saat Mewawancarai Salah Satu Penumpang di KM Sabuk Nusantara 112
(Foto: DKV_ITS/Yosia Enggar)
Pertemuan Bersama Masyarakat Lokal di Balai Kampung Distrik Amberbaken
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)
Karya yang Akhirnya Digunakan
Setelah melalui proses diskusi, survei, riset, perancangan, asistensi, revisi, dan produksi, berbagai media yang dikembangkan akhirnya mulai digunakan dalam kegiatan penjangkauan di KM Sabuk Nusantara 112.
Kegiatan penjangkauan pertama dilaksanakan pada akhir Juli 2026. Namun, pada pelayaran tersebut belum seluruh media kampanye dapat digunakan. Kami baru memanfaatkan beberapa media, seperti buku cerita, komik, permainan edukasi, jingle, animasi, Pojok Baca, dan merchandise untuk berinteraksi secara langsung dengan para penumpang.
Sementara itu, stiker kampanye yang dirancang untuk ditempatkan pada dinding dan sejumlah bagian kapal belum dapat dipasang. Pada saat itu, KM Sabuk Nusantara 112 akan segera menjalani proses docking atau perawatan tahunan. Dalam proses tersebut, beberapa bagian kapal akan diperbaiki dan dicat kembali.
Agar stiker tidak rusak atau terlepas selama proses perawatan, pemasangannya disarankan dilakukan setelah kapal selesai menjalani docking. Dengan demikian, media kampanye dapat dipasang pada permukaan yang telah diperbarui dan digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama.
Mas Afan Saat Mewawancarai Salah Satu Penumpang di KM Sabuk Nusantara 112
(Foto: DKV_ITS/Yosia Enggar)
Pertemuan Bersama Masyarakat Lokal di Balai Kampung Distrik Amberbaken
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)
Kegiatan pada Juli menjadi tahap awal untuk melihat secara langsung bagaimana para penumpang merespons media edukasi yang telah dibuat. Hasil dan pengalaman dari pelayaran tersebut juga menjadi bahan evaluasi bagi tim sebelum melanjutkan kegiatan berikutnya.
Penjangkauan akan kembali dilakukan pada September 2026, setelah KM Sabuk Nusantara 112 selesai menjalani perawatan tahunan. Pada pelaksanaan berikutnya, media kampanye diharapkan dapat digunakan secara lebih lengkap, termasuk pemasangan stiker edukasi di berbagai bagian kapal yang telah ditentukan.
Dengan demikian, perjalanan karya ini belum selesai. Media-media tersebut mulai bertemu dengan masyarakat pada pelayaran pertama, kemudian akan terus dikembangkan dan digunakan kembali ketika kapal siap berlayar dengan tampilan yang telah diperbarui.
Bagikan Tulisan
Berita Terkait
Video Kami
Kategori Lainnya
Berita Lainnya
