
Menjaga yang Kembali ke Pantai: Catatan Kolaborasi Enam Relawan di Kapal Sabuk Nusantara 112-Part 2
Penulis
Anjely Novianti Kondororik, Minggas Natraka, Chatarina Galis Aprisia
Tanggal
6 Agustus 2026
Teduh di Bawah Langit yang Sama – Anjely
Setelah tiga hari ditemani debur ombak dan semilir angin laut, akhirnya kami menapakkan kaki di Kota Sorong. Mentari pagi menyambut kami dengan hangat, seolah menjadi jeda yang kami perlukan sebelum kembali menempuh perjalanan menuju Manokwari. Kami menginap di sebuah hotel kecil bernama Rumberpon. Tubuh yang lelah akhirnya menemukan waktu untuk beristirahat.
Menjelang sore, kami memutuskan untuk menikmati sedikit waktu dengan menjelajahi Kota Sorong. Ada yang memilih menikmati hiruk-pikuk pusat perbelanjaan, ada yang berburu kuliner yang sedang viral di Sorong, dan ada pula yang menyempatkan diri melepas rindu dengan kerabat. Meski tujuan kami berbeda, senja mempertemukan kami kembali di satu tempat yang sama, yaitu Reklamasi.
Di tepi laut itu, kami duduk bersama ditemani secangkir kopi dan es krim, memandangi matahari yang perlahan tenggelam di balik cakrawala. Langit melukis warna-warna jingga keemasan, seakan memberi penghormatan pada perjalanan yang telah kami lalui. Waktu terasa berjalan lebih lambat. Setiap menit dipenuhi tawa, canda, dan kebahagiaan yang mampu menghapus lelah akibat berhari-hari di atas kapal. Senja itu mengajarkan bahwa kebersamaan sering kali menjadi obat terbaik bagi rasa letih.
Simulasi pre/post test.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)
Zahro simulasi pre/post test.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)
Ketika malam mengambil alih langit, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat makan. Setelah makan, kami menghabiskan sisa malam di Tuan Tana Cafe. Di sana, tawa kembali pecah, diselingi refleksi tentang perjalanan, tantangan, dan pelajaran yang kami temui selama menjadi relawan. Malam itu bukan sekadar waktu untuk bersantai, tetapi juga ruang untuk mempererat ikatan, membangun rasa saling percaya, dan menguatkan semangat sebelum kembali menempuh perjalanan pulang. Sepulang dari kafe, sebelum benar-benar mengakhiri hari, kami masih menyempatkan diri berbincang bersama kakak-kakak pendamping yang selama ini menjadi teman sekaligus pembimbing dalam perjalanan kami. Malam itu kami menutup mata dengan tubuh yang lelah, tetapi hati yang penuh syukur.
Keesokan harinya, kami memanfaatkan sisa waktu di Kota Sorong dengan mengunjungi Paragon Mall. Kami menikmati makan siang bersama, membeli beberapa kebutuhan, dan mengabadikan momen-momen terakhir sebelum kembali ke hotel.
Setelah semuanya siap, kami melangkah menuju Pelabuhan Sorong. Perjalanan ini mungkin hanya berlangsung beberapa hari, tetapi makna yang dibawanya akan tinggal jauh lebih lama. Laut telah mengajarkan kami tentang kesabaran, penyu mengingatkan kami akan pentingnya menjaga kehidupan, dan kebersamaan menghadirkan kenangan yang akan selalu hidup di dalam hati. Di antara ombak yang terus bergulung, senja yang perlahan tenggelam, dan cahaya bulan yang menyapa, kami belajar bahwa perjalanan paling berharga bukan hanya tentang tempat yang dituju, melainkan tentang manusia, alam, dan cerita yang tumbuh di sepanjang perjalanan.
Melawan Ombak, Menjaga Arah – Minggas
Pada malam Sabtu, kami kembali menaiki Kapal Sabuk Nusantara 112 untuk menempuh perjalanan pulang dari Kota Sorong. Kami mengawali perjalanan dengan semangat yang sama seperti sebelumnya, meskipun kondisi di lapangan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Ombak yang cukup besar membuat kapal terus bergoyang sepanjang pelayaran menuju Sausapor. Akibatnya, beberapa anggota tim mulai mengalami mabuk laut dan harus beristirahat sejenak untuk memulihkan kondisi. Setelah keadaan berangsur membaik, kami kembali melanjutkan perjalanan dan kegiatan yang telah direncanakan.
Pada Sabtu pagi, kami mulai menyapa para penumpang dan masyarakat sekitar untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga penyu dan kelestarian laut. Tidak semua penumpang menyambut kami dengan antusias. Ada yang menolak berbicara karena sedang terburu-buru; ada pula yang menganggap pelestarian penyu bukan tanggung jawab mereka. Bahkan, beberapa orang hanya tersenyum lalu pergi tanpa sempat mendengarkan penjelasan kami.
Keberangkatan dari Pelabuhan Sorong
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)
Padatnya jadwal kapal serta terbatasnya waktu pelayaran dari Sorong menuju Sausapor, yakni mulai pukul 00.30 WIT hingga sekitar pukul 09.00 WIT, membuat kesempatan kami untuk berinteraksi dengan para penumpang menjadi sangat terbatas. Kondisi tersebut menyebabkan pelaksanaan pre-test dan post-test serta penjangkauan melalui Pojok Baca belum dapat berjalan secara maksimal.
Meskipun demikian, kami tetap berupaya memanfaatkan setiap kesempatan agar pesan yang disampaikan dapat diterima oleh lebih banyak penumpang. Sebagai alternatif penjangkauan, kami membagikan flyer kepada para penumpang yang turun di Pelabuhan Sausapor.
Walaupun menghadapi berbagai tantangan, kami tidak menyerah. Kami mengubah cara penyampaian dengan menggunakan bahasa yang lebih sederhana dan mengajak masyarakat berdiskusi secara santai. Kami juga membagikan informasi singkat yang mudah dipahami agar mereka tetap memperoleh pengetahuan meskipun hanya memiliki sedikit waktu.
Usaha tersebut mulai menunjukkan hasil. Beberapa penumpang yang awalnya tidak tertarik akhirnya bersedia mendengarkan penjelasan kami. Ada juga yang mengajukan pertanyaan mengenai cara menjaga habitat penyu dan mengurangi sampah plastik di laut. Respons positif itu menjadi penyemangat bagi kami untuk terus melanjutkan kegiatan.
Dari pengalaman hari itu, kami belajar bahwa setiap kegiatan pengabdian pasti memiliki hambatan. Cuaca, kondisi perjalanan, keterbatasan waktu, dan perbedaan pandangan masyarakat merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan kesabaran dan kerja sama. Kami menyadari bahwa perubahan tidak dapat terjadi dalam waktu singkat, tetapi melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Perjalanan ini mengajarkan kami bahwa melawan ombak bukan hanya tentang menghadapi gelombang di laut, tetapi juga menghadapi berbagai rintangan dalam menyampaikan pesan kebaikan. Dengan semangat, kesabaran, dan kerja sama, kami tetap mampu menjaga arah dan menjalankan misi pelestarian penyu demi masa depan laut yang lebih baik.
Seperti Penyu yang Selalu Pulang – Karin
Kembali pulang, pada akhirnya perjalanan kami menemui pelabuhan tujuan. Malam tepat sebelum kaki kembali menapaki daratan, kami berkumpul di ruangan kecil istimewa favorit kami. Bersama makanan yang disediakan oleh Om Koki, kami menanti hasil perjuangan kami dengan harap-harap cemas jika kami tidak mencapai target penjangkauan.
“Dua Ratus Tujuh Puluh Lima!!!” hitung Kak Yeni pada tarikan terakhir kertas penjangkauan yang langsung disambut tepuk tangan meriah dari kami yang puas mengetahui bahwa kami, enam orang relawan, dapat menjangkau begitu banyak penumpang. Rasanya semua masalah kamar mandi, masalah kepanasan, masalah ditolak, masalah dimarahi beberapa oknum penumpang, hingga masalah sakit tenggorokan, sirna begitu saja. Kami tersenyum satu sama lain, mengingat segala usaha keras yang sudah dilakukan selama kurang lebih enam hari di kapal. Enam hari terasa panjang ketika dijalani, tetapi tiba-tiba terasa begitu singkat ketika akhirnya harus berakhir.
Martha selesai melakukan pre/post test orang dewasa.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)
Kami memilih menutup malam terakhir perjalanan dengan berkumpul di geladak terbuka, dengan speaker yang kalah saing dari “tetangga” sebelah. Menikmati angin tengah malam bersama riuh rendah deru mesin kapal, beratapkan cahaya bintang yang telah bersinar ribuan tahun silam. Kartu UNO yang dimainkan sebanyak enam ronde -penuh tawa, intrik, dan gimik—menjadi kegiatan penutup sebelum akhirnya kami menghempaskan diri pada kasur sempit dengan beragam aroma beraneka rasa hingga pagi menjelang.
Tim tiba ke Pelabuhan Manokwari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)
Tim sedang mnurunkan panel.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)
Penyu mungkin tidak pernah tahu namanya disebut ratusan kali di atas geladak Kapal Sabuk Nusantara 112, hingga kami sering dipanggil “Kakak Penyu! Ibu Guru Penyu!”. Namun mungkin, tanpa kami sadari, perjalanan ini justru mengajarkan kami sesuatu tentang mereka: bahwa pulang bukanlah perkara sederhana.
Seperti penyu yang berenang melintasi lautan luas untuk kembali ke tempat ia dilahirkan, kami pun akhirnya kembali ke daratan. Membawa pulang tubuh yang lelah, tenggorokan yang serak, kulit yang mungkin sedikit lebih gelap, dan kepala yang penuh dengan cerita. Namun, lebih dari itu, kami membawa pulang kesadaran bahwa enam hari di atas kapal ternyata mampu meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang daripada yang kami kira.
Kami datang sebagai orang yang hanya tahu penyu sebatas hewan laut yang harus dilindungi. Kami pulang dengan nama-nama, cerita, dan wajah yang melekat di kepala. Tentang penyu yang mati-matian kembali ke pantai tempatnya berasal. Tentang mereka yang tanpa suara menghadapi begitu banyak ancaman di laut. Tentang orang-orang yang memilih untuk tetap peduli, bahkan ketika pekerjaannya tidak selalu mudah dan hasilnya tidak selalu terlihat.
Akhir kata, terima kasih kepada Science for Conservation LPPM UNIPA yang sudah mengizinkan kami, enam orang dengan beragam latar belakang, menjadi bagian dari kisah ini. Enam hari di atas kapal Sabuk Nusantara 112 mungkin telah berakhir, tetapi cerita, tawa, lelah, dan setiap pertemuan yang kami bawa pulang akan selalu menjadi bagian dari perjalanan kami. Terima kasih telah memberi kami kesempatan untuk belajar, berbagi, bertemu orang baru, merasakan pengalaman, dan mengenal laut serta penyu lebih dekat. Sampai jumpa di lain waktu, di perjalanan berikutnya, dan semoga selalu ada alasan bagi kita untuk kembali menjaga mereka yang selalu menemukan jalan pulang.
Bagikan Tulisan
Berita Terkait
Video Kami
Kategori Lainnya
Berita Lainnya
