
Menjaga yang Kembali ke Pantai: Catatan Kolaborasi Enam Relawan di Kapal Sabuk Nusantara 112 - Part 1
Penulis
Siti Fatimah Az Zahro, Maria Anggriani Way, Martha Maria Heipon
Tanggal
6 Agustus 2026
Sebelum Jejak Pertama di Pasir – Zahro
Setiap perjalanan selalu dimulai jauh sebelum kapal meninggalkan dermaga. Seminggu sebelum pelaksanaan penjangkauan di atas kapal, kami dilatih untuk siap dengan bekal ilmu dan mental yang matang. Setiap hari, mulai pukul sembilan, kadang pukul sepuluh, dan berakhir sore hari, banyak hal dipelajari, mulai dari perkenalan program sampai praktik langsung simulasi penjangkauan kepada masyarakat dengan berbagai latar belakang. Kami berhadapan dengan lembar-lembar materi yang masih berbau tinta printer dan hati yang dipenuhi tanya tentang bagaimana nantinya ketika sudah berhadapan langsung dengan masyarakat.
Dalam pembekalan itu, kami tidak hanya belajar tentang penyu, tapi juga tentang bagaimana menyampaikan sesuatu yang rumit menjadi sederhana, bagaimana mendengar sebelum berbicara, dan bagaimana menghargai cara pandang masyarakat pesisir terhadap laut yang selama ini menghidupi mereka. Kantor Science for Conservation di Manokwari, yang biasanya sepi, mendadak ramai oleh suara diskusi, tawa kecil, dan sesekali keluhan karena materi yang terasa berat untuk dicerna dalam waktu singkat.
Simulasi pre/post test.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)
Suasana di kantor Sains untuk Konservasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Siti Zahro)
Suatu siang, ketika latihan simulasi penjangkauan sedang berjalan, salah satu senior menegur cara kami menyampaikan penjangkauan kepada masyarakat. Bahasanya terlalu berat dan bisa jadi menyinggung masyarakat. “Ko jang bicara macam baca buku terus, nanti dong bosan dengar. Ko harus bicara dari hati, baru dong mau dengar,” katanya sambil tersenyum. Kami yang masih canggung hanya bisa mengangguk, mencoba meresapi setiap kata. Seorang teman di sebelah saya berbisik pelan, “Ini baru latihan sa su deg-degan, apalagi nanti langsung di kapal.”
Malam harinya, di ruang kantor yang mulai redup, kami duduk melingkar membahas kembali materi hari itu. Ada yang mencatat, ada yang sekadar mendengarkan sambil menyeruput kopi. Rasa lelah jelas ada, tapi ada juga semacam kegembiraan yang tumbuh diam-diam, kegembiraan karena tahu bahwa apa yang kami pelajari akan segera diuji langsung di lapangan, di antara masyarakat yang menanti dan laut yang menyimpan banyak cerita.
Mengikuti Arus yang Membawa Harapan – Maria
Berlayar menggunakan kapal perintis seperti Kapal Sabuk Nusantara 112 (Sanus 112) bukan sekadar perjalanan untuk berpindah tempat, melainkan juga latihan kesabaran dan proses adaptasi yang unik. Ini merupakan pengalaman pertama bagi saya melakukan perjalanan bersama teman-teman relawan dan Science for Conservation.
Saya belum pernah menggunakan kapal seperti ini sebelumnya, sehingga belum bisa membayangkan situasi yang akan kami lalui. Perasaan takut terhadap gelombang bahkan sempat membuat saya hampir menyerah ketika berada di Pelabuhan Manokwari sebelum keberangkatan. Namun, dukungan dari teman-teman membuat saya kembali mengingat alasan dan tujuan awal saya untuk ikut berlayar. Semangat itu akhirnya tidak padam. Saya berhasil melewati proses ini, mengalahkan rasa takut, menemukan hal-hal baru, serta bertemu dengan orang-orang baru selama pelayaran.
Maria melakukan pre/post test dewasa.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)
Hal yang paling berkesan dari pelayaran dengan Sabuk Nusantara 112 adalah interaksi sosialnya. Penumpang kapal perintis umumnya terdiri atas warga lokal, pedagang antarpulau, dan anak-anak daerah yang hendak bersekolah. Pada akhirnya, berlayar bersama teman-teman relawan menggunakan kapal Sabuk Nusantara 112 mengajarkan saya bahwa beradaptasi bukan tentang melawan ketakutan saya, melainkan tentang bagaimana saya mampu menyesuaikan diri dengan kondisi di atas laut. Ketika saya tidak berusaha memaksakan kenyamanan berada di darat saat saya berlayar di atas kapal, saya belajar bahwa pelayaran ini bukan hanya sekadar perjalanan di atas laut, tetapi menjadi bagian dari pengalaman hidup yang manis.
Ketika Riak Menjadi Ruang Belajar – Martha
Perjalanan di atas dek Kapal Sabuk Nusantara 112 yang sedang membelah lautan: gerakan gelombang air tidak hanya menggerakkan kapal, tetapi juga mengalirkan inspirasi. Di tengah perjalanan panjang antarpulau, setiap sudut ruang kapal berubah menjadi ruang cerita yang penuh kehangatan. Kami, tim relawan, berhasil mengubah kejenuhan perjalanan laut menjadi sebuah momen edukasi yang sangat berharga bagi anak-anak pesisir.
Foto di atas merekam momen indah saat tim kami, Kak Sesar, duduk bersama anak-anak. Menggunakan rompi krem bertuliskan pesan “Jaga Penyu”, ia tampak memberikan penjelasan dengan penuh kesabaran. Di sekelilingnya, anak-anak mendengarkan dengan penuh antusias. Keseriusan terpancar dari mata mereka. Ada yang berdiri bersandar pada kursi kapal, ada pula yang duduk merapat, seolah-olah tidak ingin kehilangan satu kata pun dari cerita yang disampaikan oleh Kak Sesar.
Martha selesai melakukan pre/post test orang dewasa.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)
Mas Sesar sedang membacakan buku Seri Pembi.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)
Interaksi ini membuktikan bahwa edukasi konservasi tidak harus kaku dan formal di dalam ruang kelas. Di atas kapal, dengan latar belakang “pojok baca” dan dekorasi penyu yang terlihat di belakang spanduk, sains didekatkan melalui cerita dan aktivitas interaktif. Anak-anak diajak mengenal kekayaan laut Papua, mulai dari terumbu karang yang cantik hingga pentingnya menjaga penyu (teteruga) dari kepunahan. Suara riak air laut yang terdengar dari dinding kapal menjadi musik latar dari sebuah cerita penting tentang masa depan Bumi.
Bagi kami sebagai tim relawan Science for Conservation, setiap perjalanan pelayaran dari satu kampung ke kampung lain adalah peluang emas. Anak-anak dan orang dewasa yang kami temui di kapal ini adalah calon penjaga pulau-pulau terdepan Papua. Dengan menanamkan rasa cinta kepada alam Papua sejak dini, percakapan di atas kapal Sabuk Nusantara 112 ini diharapkan mampu membesar menjadi gelombang kesadaran yang besar saat mereka kembali ke kampung masing-masing. Perjalanan yang melelahkan berubah menjadi ruang berbagi mimpi. Lewat kepedulian teman-teman relawan, sains tidak lagi terasa jauh dan rumit, melainkan hadir sebagai sahabat yang siap menemani anak-anak ini untuk menjaga laut tetap biru.
Setelah melewati lautan bersama Kapal Sabuk Nusantara 112, kami, tim relawan, memasuki babak baru yang sangat seru. Setibanya di perairan Wau-Weyaf, Kapal Sabuk Nusantara 112 harus berlabuh dan perjalanan menuju daratan Kampung Wau-Weyaf dilanjutkan dengan transportasi andalan masyarakat pesisir, yaitu perahu fiber. Masyarakat yang hendak berangkat menuju kapal menggunakan perahu fiber sambil memuat barang-barang jualan mereka.
Perahu fiber berukuran kecil ini mampu membelah ombak dengan lincah, membawa beberapa logistik beserta tim mendekati bibir pantai. Air laut yang tadinya hanya menjadi percakapan di dek kapal kini terasa begitu dekat di kanan dan kiri lambung perahu. Karena kapal berlabuh cukup lama, kami pun memutuskan untuk ikut turun ke Kampung Wau-Weyaf. Kami menggunakan perahu lapangan milik Science for Conservation yang dibawa oleh tim penjaga penyu di Pantai Wermon. Setibanya di darat, saya bersama teman-teman relawan yang lain langsung menuju Rumah Belajar Kampung Wau-Weyaf. Setelah perjalanan laut yang sangat gerah, kami menumpang mandi dan menyegarkan diri di rumah belajar dengan suasana yang penuh keheningan. Kampung yang begitu gelap tanpa adanya lampu membuat kami mengandalkan cahaya dari api yang dibuat oleh kakak-kakak tim rumah belajar. Aroma asap kayu-kayu kering yang dibakar begitu khas, sekaligus membantu menerangi kami dan mengusir agas.
Volunteer turun ke perahu menuju Kampung Wau.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)
Aktivitas sederhana ini menjadi momen penting yang tidak terlupakan. Namun, kunjungan ke daratan hanyalah sebuah persinggahan singkat. Usai membersihkan badan dan bercerita sambil meminum kopi dan teh yang disediakan oleh kakak-kakak tim lapangan rumah belajar, yang menghangatkan tubuh, kami segera kembali ke pantai untuk diantarkan kembali ke kapal. Dalam perjalanan, kami merasa sangat senang karena pemandangan langit yang begitu indah, dengan bintang-bintang yang begitu banyak dan bulan yang begitu terang.
Begitu kami tiba di atas Kapal Sabuk Nusantara 112, kami segera bersiap-siap untuk agenda berikutnya, yaitu menonton film bersama di kapal, tepatnya di depan kafetaria. Sebelum pemutaran film dimulai, kru KM Sabuk Nusantara 112 membantu mengumumkan kegiatan menonton bersama melalui pengeras suara kapal, sehingga para penumpang mengetahui adanya kegiatan tersebut dan dipersilakan untuk bergabung.
Kami memutar film tentang kekayaan laut dan pentingnya menjaga kebersihan laut dari sampah plastik serta pemanasan global. Penumpang kapal, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak yang sedang melakukan perjalanan antarpulau, berkumpul di lokasi pemutaran. Menonton bersama ini menjadi jembatan edukasi yang sangat efektif. Di sela-sela pemutaran film, kami membagikan beberapa makanan ringan untuk dimakan bersama dan bersantai saat menonton. Perjalanan panjang antarpulau tidak lagi terasa membosankan, melainkan menjelma menjadi ruang kelas terapung yang penuh dengan transfer ilmu dan kesadaran lingkungan.
Bagikan Tulisan
Berita Terkait
Video Kami
Kategori Lainnya
Berita Lainnya
