Mengikuti Seminar Ilmiah Internasional di Raja Ampat

Mengikuti Seminar Ilmiah Internasional di Raja Ampat
Penulis
Yusup Jentewo dan Muhamad Faisal
Tanggal
29 Desember 2022
Pascasarjana Universitas Papua tahun ini berkesempatan menyelenggarakan seminar ilmiah International Conference of Post Graduate University of Papua (ICOPOD) 2022 di Raja Ampat pada tanggal 24-25 November 2022. Program Sains untuk Konservasi berkesempatan mengikuti kegiatan tersebut dan mempresentasikan dua hasil studi yang dilaksanakan di pantai peneluran Jeen Yessa di Tambrauw. Perwakilan program dalam hal ini adalah Yusup Jentewo dan Muhamad Faisal, keduanya termasuk dalam tim pemantauan penyu dan perlindungan sarang.
Ruang Seminar di Aula Bapeda Pemda Raja Ampat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Faisal yang musim ini bertugas di Pantai Jeen Syuab sebagai tenaga lapangan pantai peneluran, harus berangkat ke Manokwari untuk bersama Yusup ke Raja Ampat. Faisal berangkat dari Kampung Wau menggunakan perahu yang diantar oleh masyarakat bersama beberapa orang kru. Sebenarnya lokasi pantai peneluran lebih dekat ke Raja Ampat dibanding Manokwari, namun karena kapal yang biasa ke Sorong tidak bertepatan jadwal ke Sorong, maka Faisal harus terlebih dahulu ke Manokwari. Berbeda dengan Faisal, Yusup memang berkantor di Manokwari. Tanggal 23 November 2022 Yusup dan Faisal berangkat ke Sorong menggunakan pesawat dan melanjutkan perjalanan Raja Ampat dengan kapal laut.
Seminar internasional ini dihadiri oleh Wakil Bupati Raja Ampat Bapak Orideko Iriano Burdam, beberapa Dinas di lingkup Pemda Raja Ampat, Wakil Rektor bidang Akademik, Direktur Pascasarjana UNIPA serta beberapa perwakilan NGO yang bekerja di Papua Barat seperti Yayasan Konservasi Indonesia, WRI Indonesia dan beberapa lainnya. Acara dibuka oleh Wakil Bupati dan dilanjutkan dengan pemaparan beberapa pembicara utama (keynote speaker). Pada sesi presentasi parallel, Yusup memaparkan studi mengenai dampak buka sasi dalam pengurangan predator sarang penyu di pantai Jeen Yessa sedangkan Faisal membawa topik mengenai peningkatan sukses penetasan sarang penyu belimbing yang dilindungi di Pantai Batu Rumah. Kegiatan ini penting sebagai sarana berbagi hasil studi di lapangan dan bertukar pikiran sesama peneliti, akademisi serta penggiat konservasi di Papua Barat. Seperti yang dikatakan Wakil Rektor 1 UNIPA dalam sambutannya bahwa penting untuk mengaitkan dunia penelitian teori dengan dunia praktek yang menunjang pemecahan masalah-masalah di lapangan.
Suasana saat Yusup Jentewo melakukan presentasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Suasana saat Muhamad Faisal melakukan presentasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Apa yang dipaparkan Yusup dan Faisal dalam dalam bahasa inggris merupakan studi di lapangan dalam memecahkan masalah yang dihadapi di pantai peneluran serta memaksimalkan keberhasilan penetasan sarang penyu di pantai peneluran. Dalam paparan Yusup, dikatakan sasi di Jeen Yessa telah menurunkan jumlah gangguan terhadap sarang penyu belimbing sampai 50% dan juga untuk semua jenis penyu mencapai 85% pada tahun 2021. Sedangkan untuk perlindungan sarang dikatakan Faisal dalam presentasinya berhasil meningkatkan keberhasilan sukses penetasan dibanding sarang yang dibiarkan alami terpapar terhadap gangguan. Metode menaungi sarang pun direkomendasikan karena menghasilkan sukses penetasan yang berbeda secara signifikan dengan sarang alami di Batu Rumah. Di kegiatan ini pula hasil rangkuman hasil studi yang dipaparkan telah diserahkan pada Pemda Raja Ampat sebagai rekomendasi kebijakan (Policy recommendation) dalam menunjang pemerintah daerah dalam pengelolaan sumberdaya hayati.
Yusup Jentewo dan Muhamad Faisal saat di Telaga Bintang)
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Hari kedua kegiatan dilanjutkan dengan field trip ke beberapa lokasi wisata di Raja Ampat, seperti Piaynemo, Telaga Bintang, Arborek, Pasir Timbul, Yenbuba dan Friwen dimana peserta yang ikut terpukau dengan keindahan Raja Ampat yang menyajikan pemandangan yang jarang ditemui di tempat lainnya. Faisal yang ternyata pertama kali ke Raja Ampat pun bersyukur dapat berkesempatan mengunjungi daerah ini.
Bagikan Tulisan
Berita Terkait
Video Kami
Kategori Lainnya
Berita Lainnya
Mengikuti Seminar Ilmiah Internasional di Raja Ampat
Bagikan Tulisan

Tanggal
29 Desember 2022
Penulis
Yusup Jentewo dan Muhamad Faisal
Tanggal
29 Desember 2022
Penulis
Yusup Jentewo dan Muhamad Faisal
Pascasarjana Universitas Papua tahun ini berkesempatan menyelenggarakan seminar ilmiah International Conference of Post Graduate University of Papua (ICOPOD) 2022 di Raja Ampat pada tanggal 24-25 November 2022. Program Sains untuk Konservasi berkesempatan mengikuti kegiatan tersebut dan mempresentasikan dua hasil studi yang dilaksanakan di pantai peneluran Jeen Yessa di Tambrauw. Perwakilan program dalam hal ini adalah Yusup Jentewo dan Muhamad Faisal, keduanya termasuk dalam tim pemantauan penyu dan perlindungan sarang.
Faisal yang musim ini bertugas di Pantai Jeen Syuab sebagai tenaga lapangan pantai peneluran, harus berangkat ke Manokwari untuk bersama Yusup ke Raja Ampat. Faisal berangkat dari Kampung Wau menggunakan perahu yang diantar oleh masyarakat bersama beberapa orang kru. Sebenarnya lokasi pantai peneluran lebih dekat ke Raja Ampat dibanding Manokwari, namun karena kapal yang biasa ke Sorong tidak bertepatan jadwal ke Sorong, maka Faisal harus terlebih dahulu ke Manokwari. Berbeda dengan Faisal, Yusup memang berkantor di Manokwari. Tanggal 23 November 2022 Yusup dan Faisal berangkat ke Sorong menggunakan pesawat dan melanjutkan perjalanan Raja Ampat dengan kapal laut.

Ruang Seminar di Aula Bapeda Pemda Raja Ampat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Seminar internasional ini dihadiri oleh Wakil Bupati Raja Ampat Bapak Orideko Iriano Burdam, beberapa Dinas di lingkup Pemda Raja Ampat, Wakil Rektor bidang Akademik, Direktur Pascasarjana UNIPA serta beberapa perwakilan NGO yang bekerja di Papua Barat seperti Yayasan Konservasi Indonesia, WRI Indonesia dan beberapa lainnya. Acara dibuka oleh Wakil Bupati dan dilanjutkan dengan pemaparan beberapa pembicara utama (keynote speaker). Pada sesi presentasi parallel, Yusup memaparkan studi mengenai dampak buka sasi dalam pengurangan predator sarang penyu di pantai Jeen Yessa sedangkan Faisal membawa topik mengenai peningkatan sukses penetasan sarang penyu belimbing yang dilindungi di Pantai Batu Rumah. Kegiatan ini penting sebagai sarana berbagi hasil studi di lapangan dan bertukar pikiran sesama peneliti, akademisi serta penggiat konservasi di Papua Barat. Seperti yang dikatakan Wakil Rektor 1 UNIPA dalam sambutannya bahwa penting untuk mengaitkan dunia penelitian teori dengan dunia praktek yang menunjang pemecahan masalah-masalah di lapangan.

Suasana saat Yusup Jentewo melakukan Presentasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Suasana saat Muhamad Faisal melakukan Presentasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Apa yang dipaparkan Yusup dan Faisal dalam dalam bahasa inggris merupakan studi di lapangan dalam memecahkan masalah yang dihadapi di pantai peneluran serta memaksimalkan keberhasilan penetasan sarang penyu di pantai peneluran. Dalam paparan Yusup, dikatakan sasi di Jeen Yessa telah menurunkan jumlah gangguan terhadap sarang penyu belimbing sampai 50% dan juga untuk semua jenis penyu mencapai 85% pada tahun 2021. Sedangkan untuk perlindungan sarang dikatakan Faisal dalam presentasinya berhasil meningkatkan keberhasilan sukses penetasan dibanding sarang yang dibiarkan alami terpapar terhadap gangguan. Metode menaungi sarang pun direkomendasikan karena menghasilkan sukses penetasan yang berbeda secara signifikan dengan sarang alami di Batu Rumah. Di kegiatan ini pula hasil rangkuman hasil studi yang dipaparkan telah diserahkan pada Pemda Raja Ampat sebagai rekomendasi kebijakan (Policy recommendation) dalam menunjang pemerintah daerah dalam pengelolaan sumberdaya hayati.

Yusup Jentewo dan Muhamad Faisal saat di Telaga Bintang)
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Hari kedua kegiatan dilanjutkan dengan field trip ke beberapa lokasi wisata di Raja Ampat, seperti Piaynemo, Telaga Bintang, Arborek, Pasir Timbul, Yenbuba dan Friwen dimana peserta yang ikut terpukau dengan keindahan Raja Ampat yang menyajikan pemandangan yang jarang ditemui di tempat lainnya. Faisal yang ternyata pertama kali ke Raja Ampat pun bersyukur dapat berkesempatan mengunjungi daerah ini.
Bagikan Tulisan
Ikuti Survei
Bantu kami meningkatkan kualitas informasi hasil monitoring sosial dan ekologi di BLKB-Papua.
Berita Terkait
Kategori Lainnya
Berita Lainnya

Armandho Rumpaidus – Desember 23, 2022

Alberto Y. T. Allo – Desember 20, 2022
