Categories
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Berbagi Cerita Penyu di Festival Ecotourism Papua Barat 2022

Berbagi Cerita Penyu di Festival Ecotourism Papua Barat 2022

Penulis

Noviyanti, Monica Arung Padang, Deasy Lontoh

Tanggal

7 Oktober 2022

Pariwisata adalah sektor bisnis di Indonesia yang sangat terdampak oleh pandemi COVID-19. Untuk itu, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Papua Barat berupaya mendorong sektor ekonomi pariwisata bangkit kembali dengan mengadakan Festival Ecotourism 2022 di Manokwari City Mall, pada tanggal 29 September sampai 1 Oktober 2022.

Ecotourism sendiri adalah salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan yang mengedepankan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya, ekonomi masyarakat lokal, serta aspek pembelajaran dan pendidikan. Melalui Festival Ecotourism ini, KPw BI Provinsi Papua Barat ingin mendukung pengembangan ekonomi daerah dan optimalisasi potensi ecotourism di Papua Barat.

Dalam festival yang diadakan selama 3 hari ini, KPw BI menyusun acara dengan sangat baik. Hari pertama diisi dengan Seminar: “Membangun Investasi Ecotourism Papua Barat yang Berkelanjutan”. Hari kedua, pengunjung diajak Mengenal Lebih Dekat Flora & Fauna Papua Barat oleh Komunitas Ko Mari; mengenal Edukasi Konservasi Penyu yang dibawakan oleh LPPM UNIPA; serta Sosialisasi Uang Rupiah TE 2022 dan Sistem Pembayaran Digital Bank Indonesia. Pada hari terakhir, sebuah Talkshow “Investcool and Calm Ecotourism in Papua Barat” yang membahas tentang potensi, kebutuhan, tantangan dan kiat berwisata dengan tetap menjaga kelestarian alam disampaikan oleh DPD Himpunan Pramuwisma Indonesia Papua Barat, GenPI Papua Barat dan Econusa. Stand-stand pameran di lantai dasar dan Hall Manokwari City Mall ikut memeriahkan festival ini. Pameran ini bertemakan “UMKM Ecogreen Expo dan Papua Barat Travel Fair”.

Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA menyambut baik undangan festival ini. Kami menjual produk Minyak Kelapa Abun hasil kegiatan pemberdayaan masyarakat di Taman Pesisir Jeen Womom pada kegiatan ini. Ibu Deasy Lontoh selaku Koordinator Penelitian Pemantauan dan Perlindungan Penyu di TP Jeen Womom hadir sebagai narasumber dalam Edukasi Konservasi Penyu yang dilaksanakan hari Jumat, 30 September 2022. Hal-hal yang disampaikan antara lain: Jenis-jenis penyu, peran penyu bagi laut dan pantai, proses penyu bertelur, tantangan-tantangan yang dihadapi penyu untuk dapat bertahan hidup, hal-hal yang bisa kita lakukan untuk melestarikan penyu. Dalam sesi tanya jawab pengunjung bertanya bagaimana caranya melepas tukik yang baik, bagaimana membedakan berbagai jenis penyu, apa saja undang-undang perlindungan penyu dan potensi pengembangan pariwisata di Kabupaten Tambrauw. Melalui form isian online yang kami bagikan kepada pengunjung, mereka bercerita bahwa mereka belajar banyak hal mengenai penyu.

Belajar dan mengenal ilmu sains mengenai penyu bagi kami adalah hal yang menarik. Tugas membawakan cerita penyu kepada masyarakat luas merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi kami. Kami berharap dengan cerita-cerita dari kami, akan lebih banyak lagi orang yang mengenal dan mendukung upaya konservasi penyu dan mendukung perekonomian masyarakat di wilayah konservasi tersebut.

Stand Sains for Conservation di MCM
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Suasana Stand di MCM
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Cerita dari Lapang: Membuat video edukasi tentang pelestarian penyu

Cerita dari Lapang: Membuat video edukasi tentang pelestarian penyu

Penulis

Abigail Lang, Noviyanti

Tanggal

30 September 2022

Anak-anak Papua yang tinggal di kampung-kampung di sekitar Taman Pesisir Jeen Womom memiliki kesempatan emas untuk mengenal penyu secara langsung dari pantai peneluran penyu! Pantai-pantai ini sangat dekat dengan kampung tempat mereka tinggal. Untuk membantu upaya pelestarian penyu di wilayah ini, Tim Pemberdayaan Masyarakat LPPM UNIPA membantu mengajarkan kepada mereka tentang pentingnya menjaga kelestarian penyu. Pelajaran ini secara rutin mereka terima pada kegiatan PLH di rumah belajar di kampung-kampung mereka.

Suasana pemutaran film di kampung Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Suasana pemutaran film di kampung Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tahun ini, kami dari Tim Penjangkauan Masyarakat LPPM UNIPA dilibatkan untuk menyusun materi PLH yang menarik dan mudah dimengerti oleh anak-anak di rumah belajar. Apa itu PLH? PLH adalah kepanjangan dari Pendidikan Lingkungan Hidup. Untuk menjawab tantangan itu, kami perlu belajar dari berbagai sumber yang terpercaya sebelum kami menyalurkannya kepada anak-anak dan juga masyarakat di kampung. Salah satu metode yang kami pakai yaitu membuat video edukasi tentang pelestarian penyu. Video ini kami putar ketika kami melakukan kegiatan Nonton Bareng Film Bertemakan Pelestarian Lingkungan Hidup kepada anak-anak dan masyarakat di 5 kampung pada Taman Pesisir Jeen Womom.

Kurang lebih 5 bulan ini, kegiatan Nonton Bareng kami lakukan sebanyak 8 kali pada 5 kampung yang ada di TP Jeen Womom dengan total peserta sebanyak 391 orang. Tidak hanya anak-anak, tetapi banyak juga penduduk setempat yang hadir dalam kegiatan tersebut. Pelaksanaan pemutaran Video PLH dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1. Pelaksanaan Pemutaran Video PLH di TP Jeen Womom

BulanKampung yang dikunjungiJumlah Peserta yang Hadir (orangVideo PLH
Mei 2022Syukwo, Resye, WomomSyukwo: 43
Resye: 68
Womom: 17
1. Papeda Laut: Makanan Penyu Belimbing
2. Siklus Hidup Penyu
Juli 2022WeyafWeyaf: 951. Papeda Laut: Makanan Penyu Belimbing
2. Siklus Hidup Penyu
Agustus 2022WauWau: 761. Bioekologi Penyu
2. Sasi dan Undang-undang Perlindungan Penyu
September 2022Syukwo, Resye, WomomSyukwo: 32
Resye: 49
Womom: 11
1. Bioekologi Penyu
2. Sasi dan Undang-undang Perlindungan Penyu

Terlepas dari itu semua, ada banyak sekali pelajaran yang bisa kami sampaikan melalui 4 video yang sudah kami siapkan untuk pemutaran film. Keempat video ini memiliki informasi penting yang sangat baik untuk disampaikan kepada masyarakat di TP Jeen Womom. Pertama kami mengenalkan “Siklus hidup penyu dan tantangan yang dihadapi penyu baik ketika berada di darat, di laut, dan tantangan yang berasal dari aktivitas manusia”. Dalam video kedua kami mengenalkan bagaimana keahlian dan anatomi tubuh penyu belimbing dan penyu sisik sehingga mereka bisa makan ubur-ubur tanpa tersengat. Video ini juga bercerita bahaya sampah plastik di laut jika tertelan oleh penyu. Video ketiga bercerita tentang bioekologi penyu, manfaat penyu bagi ekosistem laut, dan masyarakat di TP Jeen Womom yang terlibat secara aktif dalam upaya perlindungan penyu. Terakhir, kami menceritakan tentang sasi sebagai kearifan lokal masyarakat setempat dalam upaya perlindungan penyu dan undang-undang yang dibuat pemerintah untuk upaya serupa.

Pembagian hadiah kepada peserta yang bisa menjawab pertanyaan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Agar informasi ini mudah diterima, kami menulis script dan merekam audio menggunakan dialek Papua Melayu. Hasilnya sangat menggembirakan! Boleh dikatakan bahwa 80-90% peserta yang hadir dalam kegiatan nonton bareng ini menerima pesan yang disampaikan dalam video dengan baik. Kami mengukurnya menggunakan tanya jawab  yang kami lakukan setelah video kami tayangkan.

Kami berharap baik anak-anak maupun masyarakat yang tinggal di TP Jeen Womom dapat terus menjalankan perannya untuk melestarikan penyu di habitat penelurannya. Melalui video edukasi yang kami buat, kami sangat berharap agar kesadaran ini tumbuh karena mereka sadar bahwa hewan eksotik ini memiliki peran yang tidak tergantikan baik bagi laut maupun bagi pantai peneluran.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Dunia Penyu: Sebuah Permainan Baru untuk Mengenal Kehidupan Penyu di Alamnya

Dunia Penyu: Sebuah Permainan Baru untuk Mengenal Kehidupan Penyu di Alamnya

Penulis

Noviyanti, Abigail Lang

Tanggal

29 Juli 2022

Papan permainan “Dunia Penyu”
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

“Siapa yang tahu main ular tangga?” begitu seruan dari kami tim penjangkauan masyarakat (outreach) ketika permainan ini akan kami gunakan untuk mengenalkan kehidupan penyu. Semua siswa baik SD, SMP, maupun SMA dengan antusias menjawab sambil mengangkat tangan.

Semua anak bahkan kita orang dewasa pasti sudah familiar dengan permainan ular tangga. Ular tangga adalah permainan tradisional yang menggunakan dadu untuk menentukan berapa langkah yang harus dijalani bidak. Permainan ini termasuk dalam kategori “board game” atau permainan papan sejenis dengan permainan halma, ludo dan sebagainya.

Bermain sambil belajar adalah salah satu media yang tepat ketika melakukan penjangkauan masyarakat; khususnya di bidang konservasi. Melalui permainan, kita dapat memberikan informasi yang dikemas dengan gaya yang ringan sehingga peserta lebih mudah memahami materi yang kita sampaikan.

Untuk itu, kami memodifikasi permainan ular tangga dan kami menyebutnya menjadi “Dunia Penyu”. Mari kita simak bagaimana kami memodifikasi permainan ini!

  1. Kami membuat kotak-kotak kecil sejumlah 36 buah. Pada beberapa kotak kami menyelipkan informasi mengenai ancaman-ancaman yang dihadapi tukik dan penyu di pantai peneluran maupun di laut.
  2. Selain informasi, kami menyelipkan beberapa pertanyaan seperti: “sebutkan ancaman tukik di pantai peneluran!”. Jika pemain bisa menjawab, mereka boleh memindahkan bidak naik ke angka yang lebih besar mengikuti “tangga” (dalam permainan ini kami memodifikasi tangga menjadi gambar deretan tukik yang naik ke kotak di atasnya).
  3. Selain itu, kami juga menyelipkan gambar sedotan plastik yang merupakan pengganti “ular”. Kepala sedotan menjadi pengganti kepala ular. Apabila bidak pemain berada di kotak yang ada kepala sedotan, maka mereka harus turun ke kotak lain mengikuti ujung sedotan tersebut. Pada kotak yang memiliki gambar kepala sedotan, kami menyelipkan informasi mengenai ancaman yang dihadapi penyu seperti: “Telur penyu terendam air pasang”; atau “Penyu mati karena terjerat jaring di bawah laut”.
  4. Permainan ini kami cetak di pada kertas spanduk berukuran 2 x 2 meter dan pada kertas glossy berukuran 30 x 30 cm. Papan permainan pada kertas spanduk kami gunakan ketika kami mengunjungi siswa SD dan papan permainan berukuran lebih kecil kami gunakan ketika kami mengunjungi siswa SMP dan SMA.

Siswa SMP Negeri 13 Pasir Putih saat memainkan permainan Dunia Penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Permainan ini didesain oleh salah satu tim kami, Naqliya Arum Permata. Informasi dan beberapa modifikasi dalam papan permainan dibuat oleh Noviyanti dan Naqliya menurut sumber yang kredibel. Gagasan permainan ini kami dapatkan dari teman-teman di Coral Triangle Center yang juga pernah memodifikasi permainan ular tangga menjadi Permainan Race to Recycle.

Permainan menarik ini mengenalkan kepada para pemain apa saja ancaman-ancaman yang dihadapi oleh tukik maupun penyu. Kami berharap dengan adanya permainan ini, para pelajar yang kami jangkau lebih termotivasi untuk menjaga kelestarian penyu di alamnya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Menerjemahkan Jurnal ilmiah menjadi Permainan untuk Anak-anak: Sebuah tantangan untuk mengenalkan nama-nama wilayah makan penyu belimbing kepada anak-anak

Menerjemahkan Jurnal ilmiah menjadi Permainan untuk Anak-anak: Sebuah tantangan untuk mengenalkan nama-nama wilayah makan penyu belimbing kepada anak-anak

Penulis

Noviyanti & Naqliya Arum Permata

Tanggal

2 Juni 2022

Memberikan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) kepada anak-anak yang ada di Kampung Womom, Resye, Warmandi, dan Wau-Weyaf merupakan salah satu aktivitas pendidikan yang dilakukan oleh para Pendamping Masyarakat dan Narahubung (PMNH) program yang bertugas di kampung-kampung tersebut. Pada tahun 2022, Tim Outreach dilibatkan untuk membantu para PMNH dalam menyiapkan materi & bahan ajar PLH berdasarkan indikator dan sub indikator pembelajaran tentang penyu.

Proses Pembuatan Uang Monopoli
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Salah satu sub indikator yang ada dalam kegiatan PLH adalah anak-anak mampu menyebutkan wilayah makan penyu belimbing. Tim Outreach mulai mencari informasi tentang wilayah makan penyu belimbing dengan membaca sebuah jurnal ilmiah dengan judul “Large-scale movements and high-use areas of western Pacific leatherback turtles, Dermochelys coriacea” dari www.esajournals.org. Berdasarkan informasi dari jurnal ilmiah tersebut, terdapat beberapa wilayah yang menjadi tempat makan penyu belimbing, diantaranya adalah Kei, Seram, Pulau Kalimantan, Washington, Oregon, dan California. Dalam jurnal tersebut kami juga mengenali nama-nama pantai peneluran penyu belimbing. Selain itu ada nama laut, selat, ataupun samudra dimana penyu-penyu ini melakukan migrasinya.

Yang menarik dalam mempersiapkan bahan ajar ini adalah kami menerjemahkan informasi di jurnal tersebut menjadi papan permainan monopoli. Permainan monopoli merupakan permainan yang paling populer dimainkan dan sangat seru jika dimainkan bersama. Kami mengganti nama “Monopoli” menjadi “Petualangan Penyu” karena ada sedikit perbedaan dari permainan monopoli yang sesungguhnya.

Tim Outreach melakukan Uji Coba Permainan Monopoli di Kampung Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Permainan monopoli ini dapat dimainkan oleh 3-7 orang pemain, dengan 1 orang pemain bertugas sebagai Pemilik Hak Ulayat. Pemilik Hak Ulayat bertugas sebagai pengelola telur, tukik, penyu dewasa, dan ubur-ubur sebagai pengganti Bank dalam permainan monopoli pada umumnya. Pada awal permainan, Pemilik Hak Ulayat membagikan 100 penyu dewasa, 250 tukik, 500 telur, dan 500 ubur-ubur untuk masing-masing pemain.

Kami menyebut setiap pemain sebagai penyu-penyu belimbing dewasa. Pemain kami ajak bermigrasi mulai dari pantai-pantai peneluran hingga menuju ke laut dan samudera dan berakhir di wilayah makan. Mereka bermigrasi dengan memindahkan pion mereka dari satu tempat ke tempat lainnya. Uang dalam permainan monopoli kami ganti menjadi telur, tukik, penyu dewasa, dan ubur-ubur. Jika pada permainan monopoli, para pemain berlomba mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya; maka dalam permainan petualang penyu ini, para pemain berlomba mengumpulkan telur, tukik, penyu dewasa, dan ubur-ubur sebanyak-banyaknya.

Kartu Dana Umum dan Kesempatan yang dimodifikasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Salah Satu Contoh Kartu Kepemilikan yang dimodifikasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Perbedaan lainnya juga terletak pada Kartu Kesempatan dan Kartu Dana Umum. Para pemain akan menerima telur, tukik, penyu dewasa, dan ubur-ubur jika terjadi hal-hal seperti: telur diselamatkan manusia, tukik berhasil lari dari ikan yang ingin memangsa, atau jika mereka singgah di restoran ubur-ubur. Namun para pemain harus menyerahkan telur, tukik, penyu dewasa, dan ubur-ubur yang mereka miliki jika terjadi hal yang merugikan mereka, misalnya: telur terendam air pasang, tukik termakan oleh kepiting, dan sebagainya. Dalam permainan ini juga terdapat Sertifikat Tanah atau Kartu Kepemilikan yang akan didapat oleh pemain ketika membeli lokasi. Sertifikat Tanah itu berisi nama lokasi, harga beli, harga denda, harga jual dan juga informasi mengenai aktivitas yang biasanya penyu lakukan pada lokasi tersebut.

Permainan ini masih dalam tahap uji coba di masing-masing rumah belajar. Kami berharap ada masukkan dari para PMNH yang bertugas di lapang untuk penyempurnaan permainan ini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Kisah di Balik Layar Mempersiapkan Sekolah Alam Virtual Seri Megafauna Akuatik

Kisah di Balik Layar Mempersiapkan Sekolah Alam Virtual Seri Megafauna Akuatik

Penulis

Tim S4C LPPM UNIPA

Tanggal

3 Agustus 2020

Kemajuan dalam pemanfaatan ilmu teknologi dan informasi menjadi solusi dalam pelaksanaan sejumlah kegiatan di tengah pandemi COVID-19. Sekolah Alam Virtual (SAV) adalah salah satu solusi yang dipilih oleh Program Sains untuk Konservasi untuk berbagi isu konservasi pada masa pandemi COVID-19 saat ini.

Maksud dan tujuan dari program SAV pada dasarnya adalah ingin merangkul para pelajar pada khususnya (SD, SMP dan SMA) dan mahasiswa serta masyarakat umum yang karena pandemi ini dipaksa untuk menerima berbagai pembelajaran hanya dari rumah saja.

Persiapan kegiatan ini dilakukan oleh tim outreach Program Sains untuk Konservasi dan dibantu oleh tim lainnya. Berbagai narasumber dari berbagai latar belakang pendidikan yang menguasai materi mengenai megafauna akutik dirangkul oleh tim outreach guna mendukung kegiatan SAV ini. Materi yang diangkat dan dibahas pada SAV sesi Megafauna Akuatik yaitu mengenal lebih jauh mengenai Paus, Dugong (duyung), Hiu, dan Lumba-lumba.

Berbagai kegiatan menarik dan interaktif selain penyampaian materi juga dilakukan dalam SAV ini misalnya kuis berhadiah, pengisian teka teki silang, dan lain-lain sehingga sangat disayangkan jika dilewatkan kegiatan ini.

Untuk menyaksikan tayangan ulang webinar seri, dapat diakses di sini.

Untuk mengakses materi dari para narasumber, dapat diunduh di sini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Talk show “Lindungi Penyu Kita” di Nabire

Talk show “Lindungi Penyu Kita” di Nabire

Penulis

Noviyanti, Halter Karubaba, Henny Lesnussa, Frenly Wehantouw

Tanggal

21 Maret 2020

Dilatarbelakangi oleh berita tentang perburuan dan perdagangan daging dan telur penyu di Nabire, tim outreach memutuskan untuk memilih tema “Lindungi Penyu Kita” pada kegiatan talk show tanggal 13 Februari 2020 di Pantai Menase, Nabire. Saat mengunjungi para pelajar di Nabire, tim mendapatkan sejumlah 35.27% siswa yang mengisi lembar pre-test (jumlah responden sebanyak 499 orang) mengaku pernah makan daging penyu, dan 12.42% diantara responden mengaku pernah makan telur penyu. Tim juga melakukan kunjungan ke Desa Makimi, salah satu pantai peneluran penyu di Nabire. Di sana tim bertemu dengan seorang masyarakat lokal yang dulunya juga merupakan pemburu daging dan telur penyu. Selama 4 tahun terakhir, beliau merelokasi sarang telur penyu agar bebas dari ancaman predasi anjing, babi, dan bahkan warga sekitar yang berburu telur penyu. Beliau melakukan pekerjaan ini tanpa mendapatkan insentif ataupun perhatian dari pemerintah setempat, namun beliau tetap mengerjakannya karena beliau percaya pasti ada hal baik yang akan terjadi di masa depan.

Saat kegiatan talkshow, peserta yang hadir berjumlah 28 orang yang berasal dari komunitas penyelam Nabire, guru sekolah, mahasiswa, dan lain-lain.

Narasumber dan moderator saat sesi diskusi
(Foto : Tim Outreach)

Suasana kegiatan talk show
(Foto : Tim Outreach)

Duaitd Kolibongso, S.Pi., M.Si., dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unipa yang bertindak sebagai salah satu narasumber mengantarkan peserta kepada informasi tentang fungsi ekologi penyu, jumlah penyu di alam dan alasan mengapa penyu sebagai hewan yang dilindungi, morfologi dan jenis-jenis penyu, jumlah sarang telur penyu di Pantai Jamursba Medi dan Wermon selama beberapa tahun terakhir, pola migrasi beberapa jenis penyu, serta ancaman keberadaan penyu dari predator-predator alami, ancaman dari predasi manusia, serta ancaman lainnya.

Kemudian moderator, Rossa Latumahina, S.Tp, mengenalkan peserta kepada Mesak Adadikam, S.Pd, sebagai salah satu anggota kru monitoring penyu belimbing di Kabupaten Tambrauw. Mesak berbagi pengalamannya tentang tugas dan tanggung jawabnya sebagai Kru Monitoring Penyu Belimbing, cara pendekatan terhadap penyadartahuan masyarakat di sekitar daerah peneluran serta pendekatan budaya (sasi) yang diterapkan untuk mendukung kegiatan konservasi penyu dan hewan laut lainnya di Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw.

Narasumber terakhir, Manuel Mirino, S.Hut sebagai Kepala Bidang Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih Wilayah I Nabire berbagi informasi tentang ancaman yang sangat berpengaruh terhadap penurunan jumlah penyu serta pendekatan yang dilakukan oleh Balai Besar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam perlindungan penyu di Kabupaten Nabire.

Dalam sesi diskusi, para peserta sangat antusias menyampaikan gagasan mereka tentang upaya yang bisa dilakukan masyarakat untuk mengedukasi masyarakat lainnya agar mendukun perlindungan penyu. Salah seorang peserta menyampaikan bahwa beliau sengaja datang dari tempat yang cukup jauh, Teluk Umar, khusus untuk menghadiri acara ini. Beliau menyatakan bahwa informasi ini adalah hal yang baru dia dengar dan beliau sangat ingin informasi ini juga didengar oleh masyarakat di kampungnya. Beliau bercerita bahwa di kampungnya, penyu adalah makanan pokok sedangkan ikan adalah makanan sampingan. Beliau berharap agar kegiatan serupa bisa dilakukan di kampungnya agar masyarakat mau mengurangi konsumsi penyu.

Talk show ini secara umum telah berhasil menyampaikan fungsi dan peranan penyu bagi lingkungan. Hal ini tampak dari kesadaran para peserta untuk mau melakukan upaya perlindungan penyu dengan cara tidak mendukung perdagangan penyu, menyampaikan informasi kepada teman dan keluarga. Peserta juga termotivasi untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang berdampak bagi komunitas untuk melakukan upaya perlindungan penyu.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Harmonisasi Alam dan Budaya, Penunjang Wisata Bahari di Kabupaten Biak Numfor

Harmonisasi Alam dan Budaya, Penunjang Wisata Bahari di Kabupaten Biak Numfor

Penulis

Henny Lesnussa, Frenly Wehantouw, Halter Karubaba, Noviyanti

Tanggal

21 Maret 2020

Pada 5 Maret 2020, tim outreach menggelar kegiatan talk show di Café Boom Byak Center, Kota Biak. Talk show yang bertema “Harmonisasi Alam dan Budaya, Penunjang Wisata Bahari di Kabupaten Biak Numfor”, dilatarbelakangi oleh aktivitas pengunjung wisata yang masih kurang dalam hal menjaga lingkungan atau objek wisata yang ada di laut dan pantai. Pelaksanaan talk show diharapkan dapat mengedukasi masyarakat dan pengelola wisata agar dapat mengelola wisata yang berkelanjutan. Acara ini menghadirkan Marjan Bato S.Kel. M.Si, Dosen Ekowisata Universitas Papua sebagai moderator dan 4 narasumber yaitu Sekretaris Daerah Kabupaten Biak Numfor, Markus O. Mansnembra, SH.,MM; Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor, Turbey O. Dangeubun, S.Pi.,M.Si  serta pemerhati dan penggiat lingkungan Erik Farwas dan Julius Kapitarauw.

Acara ini dihadiri oleh 46 peserta yang terdiri dari beberapa komunitas peduli lingkungan dan penyelam, pengelola/pelaku usaha pariwisata, Anggota POLRI dan TNI dan masyarakat umum. Antusias para peserta terlihat ketika talk show berlangsung.

Wisata yang berkelanjutan menurut Markus adalah upaya-upaya yang dilakukan semua pengguna objek-objek wisata, baik pengelola dan masyarakat pada umumnya yang menunjang dan menjaga objek wisata yang sudah ada saat ini. Pemerintah daerah akan mendukung semua usaha yang dilakukan agar memajukan parisiwata yang mengedepankan wisata bahari yang berkelanjutan.

Penyerahan Doorprize untuk peserta oleh Sekretaris Daerah dan Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor
(Foto : Tim Outreach)

Salah seorang peserta diskusi yang memberikan pertanyaan
(Foto : Tim Outreach)

Turbey mengungkapkan bahwa Kabupaten Biak Numfor memiliki berbagai macam potensi wisata yang sangat baik, khususnya wisata bahari yang memiliki keindahan terumbu karang di bawah laut. Kabupaten Biak Numfor juga memiliki wisata sejarah peninggalan Perang Dunia II yang ada di darat dan di bawah laut (wreck dive). Dinas pariwisata selama ini telah membantu para pengelola obyek wisata dengan memberikan pelatihan-pelatihan. Di bidang wisata bahari, diberikan pelatihan menyelam agar dapat menjadi dive guide kepada masyarakat lokal agar dapat mengembangkan pariwisata di Biak Numfor, menjaga alam agar tetap lestari agar keberlanjutannya, dan dapat dinikmati dari generasi ke generasi.

Sedangkan Erik Farwas melihat bahwa wujud dari pengelolaan wisata berkelanjutan adalah penyadartahuan kepada nelayan yang masih mencari ikan dengan menggunakan bom. Aktivitas ini tentu sangat merugikan bagi wisata bahari Biak Numfor. Selain itu, beliau juga melihat masih ada penyelam yang melakukan penyelaman dengan tidak safety sehingga menginjak terumbu karang.

Menurut Julius Kapitarauw, pemerintah harus tegas melarang dan menindak oknum-oknum yang mencari hasil di laut dengan cara-cara tidak ramah lingkungan. Kabupaten Biak Numfor memiliki wisata sejarah bawah laut yang sangat berpotensi, salah satunya adalah spot bangkai pesawat Catalina dan beberapa spot-spot diving yang lain. Diharapkan ada perhatian khusus pemerintah terhadap potensi-potensi ini. Lebih lanjut lagi ke depannya akan dibuat museum Perang Dunia bawah laut di Biak yang akan digagas oleh divers Biak. Julius berharap wisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan dapat dinikmati semua pengguna wisata.

Talk show ini secara umum telah berhasil menyampaikan bahwa lingkungan yang asri dapat mendukung wisata yang berkelanjutan. Hal ini tampak dari komitmen para peserta untuk mau melakukan upaya membersihkan tempat wisata yang mereka kunjungi dengan membuang sampah pada tempatnya dan secara sadar menyampaikan pada pengunjung lain akan bahaya sampah bagi lingkungan mereka. Peserta juga termotivasi untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang berdampak bagi komunitas untuk melakukan upaya peningkatan objek wisata yang ramah terhadap lingkungan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya