Belajar Sambil Bertualang: Pelajaran Berharga di Pantai Peneluran – Bagian 1

Penulis

Noritha Murafer, Sandona Kuwei

Tanggal

19 September 2022

Ilmu itu harus diperbaharui dan bahkan harus belajar dari orang lain sebagai sumbernya. Karena itulah saya dan Sandona, yang sehari-harinya mengajar tentang penyu kepada anak-anak di rumah belajar berkunjung ke Pantai Peneluran untuk belajar tentang perlindungan penyu pada teman kami yang bertugas di sana. Sebelumnya, teman kami Alfin dan Evanora juga melakukan hal yang sama di bulan Juli. Tujuan kami sama: belajar agar kami lebih baik lagi ketika mengajar tentang penyu.

Noritha Murafer (Sarjana Informatika) dan Sandona Kuwei (Sarjana Kehutanan) adalah Pendamping Masyarakat yang bekerja di Kampung Syukwo, Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw. Sebelum melakukan tugas sebagai PM, mereka telah dibekali dengan pengetahuan terkait penyu dan upaya konservasi yang dilakukan. Seiring berjalannya waktu saat mereka mengajar PLH, ternyata teori yang mereka dapatkan belum secara maksimal membantu untuk mengajar tentang PLH kepada anak-anak. Mereka masih kesulitan untuk bercerita bagaimana upaya perlindungan penyu dari panas, dan ancaman predator karena mereka belum melihatnya secara langsung.

Kalau Alfin dan Evanora berjalan kaki selama 1 jam dari kampung ke Pantai Jeen Yessa, kami harus naik perahu motor selama 1 jam untuk tiba di lokasi yang sama karena kampung tempat kami bertugas jaraknya lumayan jauh dari pantai peneluran. Kami berangkat pada hari Minggu, 13 Agustus 2023, pukul 15.00 WIT.  Selama kurang lebih 1 jam perjalanan kami disuguhkan begitu banyak pemandangan yang menyejukkan mata dengan keindahannya. Dari kejauhan terlihat hamparan gunung nan tinggi yang dihiasi oleh hijaunya rimbunan dedaunan dari pepohonan. Terlihat kawanan ikan sedang berenang, bermain bersama di laut seakan turut menghantar perjalanan kami menuju Pantai Jeen Yessa. Pukul 16.10 WIT kami tiba di Pos Batu Rumah, disambut oleh teman-teman yang bertugas di sana.

Mengukur pasang surut
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Selama di sana, kami banyak bercerita tentang kegiatan kru di pantai. Kru adalah istilah yang kami gunakan untuk teman-teman kami yang bertugas melakukan kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang. Menurut informasi yang kami terima, di Pantai Batu Rumah biasanya menerapkan 3 cara perlindungan sarang yaitu:
1) pagar (melindungi sarang dari predator);
2) pakis 1 lapis (melindungi sarang dari suhu pasir tinggi);
3) pakis 2 lapis (melindungi sarang dari suhu pasir tinggi juga, namun hasilnya dibandingkan dengan perlindungan dengan pakis 1 lapis).
Ancaman terbesar bagi sarang penyu belimbing di pantai ini kebanyakan karena suhu pasir yang tinggi dibandingkan dari hewan predator. Hewan-hewan yang datang kebanyakan mengincar sarang penyu kecil seperti penyu hijau, penyu sisik ataupun penyu lekang.

Evaluasi sukses penetasan sarang menjadi hal pertama yang kami pelajari. Kami memulai evaluasi sarang dengan membongkar kayu/pagar dan tanaman-tanaman pakis yang digunakan untuk melindungi sarang tersebut. Setelah itu dilanjutkan dengan menggali sarang untuk menghitung jumlah telur yang berhasil menetas. Semua kegiatan evaluasi sarang harus dicatat di buku catatan. Catatan ini membantu kami mengetahui tingkat keberhasilan sarang maupun faktor-faktor yang mempengaruhinya. Setelah evaluasi, semua telur dan cangkang yang gagal menetas atau telur abnormal harus dikuburkan kembali ke dalam sarang dan sarang ditutup kembali.

Pada saat evaluasi sarang penyu belimbing, kami berjumpa dengan tukik yang keluar dari sarangnya. Sungguh senangnya hati ini, untuk pertama kalinya kami melihat tukik penyu belimbing yang hidup secara langsung dan untuk pertama kalinya juga kami melepaskan tukik ke laut dengan harapan semoga mereka selamat dari bahaya di laut.

Evaluasi sarang Penyu Belimbing di Pantai Warmamedi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Evaluasi sarang Penyu Belimbing di Pantai Warmamedi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Monitoring Malam. Jarum jam menunjukkan pukul 22:05 WIT, kegelapan menyelimuti bumi, bulan pun seakan enggan untuk menampakkan cahayanya. Hanya terdengar desiran suara ombak yang begitu kuat mengikis pasir dan batu di tepian pantai. Kami diajak salah seorang kru, Thomas Homba-Homba, untuk melakukan monitoring malam. Kami bertiga bergegas meninggalkan Pos Batu Rumah, menyusuri tepi Pantai Batu Rumah menuju Pantai Warmamedi. Satu harapan kami ketika keluar dari pos: semoga torang baku dapat dengan penyu belimbing yang naik ke pantai untuk bertelur! Kami dibekali sebuah senter kepala yang biasanya dipakai oleh patroler untuk melakukan monitoring malam. Meskipun senter ini memiliki dua warna lampu yaitu putih dan merah, yang boleh kami nyalakan hanya lampu merah. Sebab penyu sangat sensitif terhadap cahaya yang berwarna putih sehingga dapat mengganggu aktivitas penyu yang naik ke pantai untuk bertelur. Dalam perjalanan kami melihat jejak penyu yang naik ke pantai. Kata Thomas ini jejak penyu hijau. Jejaknya hampir sama dengan jejak penyu belimbing, perbedaannya hanya terdapat pada lebar jejaknya. Penyu belimbing memiliki jejak lebih lebar atau besar sedangkan penyu hijau agak kecil. Berkat jejak tersebut, kami berhasil menemukan seekor penyu hijau yang naik ke pantai untuk bertelur. Ini merupakan penyu dewasa pertama yang saya lihat di pantai peneluran.

Setelah puas melihat penyu hijau, kami bertiga pun melanjutkan perjalanan untuk monitoring. Kami juga menerima informasi dari teman-teman kru bahwa ada beberapa penyebab kenapa penyu gagal meletakkan telurnya di pantai; di antaranya karena akar tumbuhan di sekitar pantai yang menghambat proses pembuatan sarang penyu, pasir yang terlalu kering sehingga gugur ke dalam sarang yang sedang digali penyu, pantai yang kotor, atau ada cahaya putih dari senter atau lampu yang membuat penyu merasa terganggu/terancam.

Monitoring malam di pantai Warmamedi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Mengukur lebar karapas Penyu Belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Sekitar 20 menit kami berjalan dan akhirnya di depan pandangan kami terlihat seekor penyu belimbing!!! Kami berjalan maju dan mendekatinya dengan perlahan, tentunya hanya menggunakan senter dengan cahaya berwarna merah. Saat mendekati penyu belimbing, Thomas memberitahukan beberapa hal penting yang harus mereka catat ketika bertemu penyu ataupun jejak penyu: 1) mencatat waktu saat menemukan penyu tersebut, 2) nomor sektor, 3) aktivitas yang dilakukan penyu saat ketemu, 4) keberadaan sarang, 5) panjang dan lebar karapas penyu, 6) scan nomor PIT TAG atau memasang PIT TAG jika penyu belum memilikinya, 7) keterangan lainnya jika terdapat luka ataupun hal-hal lain di tubuh penyu tersebut.

Sungguh suatu pemandangan yang sangat menyentuh!! Kami Tim Pendamping Masyarakat Kampung Syukwo yang selama ini bercerita dan mengajar anak-anak di rumah belajar tentang penyu belimbing melalui informasi yang kami terima dari pembekalan awal, dari buku, dan dari internet, pada akhirnya kami bisa melihat penyu belimbing dewasa tepat di depan mata kami!!!

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya