Kategori
Lowongan Kerja

Lowongan Pekerjaan Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program Periode Juli-Desember 2021

Universitas Papua melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dengan dukungan Blue Abadi Fund (BAF) memberikan peluang bagi para pemuda-pemudi untuk menjadi tenaga Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program bagi masyarakat di Distrik Abun dan Tobouw, Kabupaten Tambrauw,Papua Barat.

Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung upaya konservasi penyu belimbing (Dermochelys coriacea) di Papua Barat melalui pemberdayaan masyarakat yang berada di sekitar kawasan pantai peneluran. Bidang pendidikan dan peningkatan perekonomian menjadi fokus utama dalam program ini.

Persyaratan :

  1. Usia maksimal 35 tahun per tanggal 1 Juli 2021, dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP)
  2. Lulusan minimal D3 dari semua jurusan, dibuktikan dengan ijazah pendidikan terakhir dengan IPK mininmal 2,8
  3. Melampirkan transkip nilai pendidikan terakhir
  4. Melampirkan fotocopy BPJS Kesehatan

Keuntungan :

  1. Tersedia 8 posisi sebagai tenaga pendamping masyarakat dan narahubung program
  2. Memperoleh pengalaman bekerja bersama masyarakat
  3. Pendapatan minimal Rp.3.000.000/bulan
  4. Biaya konsumsi, transportasi dan akomodasi ditanggung selama kegiatan berlangsung di lapangan
[qode_elements_holder number_of_columns=”two_columns”][qode_elements_holder_item advanced_animations=”no” background_color=”#008cd1″ item_padding=”0px 10px 0px 10px”]

JADWAL SELEKSI

[/qode_elements_holder_item][qode_elements_holder_item advanced_animations=”no” item_padding=”0px 20px 0px 20px” background_color=”#bfbfbf”]
  1. Penerimaan Berkas (1-14 Juni 2021)
  2. Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi (16-18 Juni 2021)
  3. Seleksi Wawancara (22-23 Juni 2021)
  4. Pengumuman Hasil Seleksi Wawancara (25-28 Juni 2021)
  5. Pelatihan & Seleksi Tahap Akhir (25,28 dan 29 Juni 2021)
  6. Pengumuman Peserta Yang Direkrut (2 Juli 2021)
  7. Penandatanganan Kontrak dan Pelaksanaan Program (5 Juli 2021)
[/qode_elements_holder_item][/qode_elements_holder]

Lakukan pendaftaran pada link di bawah ini :

Sekretariat :
Sains Untuk Konservasi
Jln.Brawijaya No.250 Makalew
Manokwari-Papua Barat

Narahubung (via WA) :
Alberto Y.T.Allo : 081235758357
Aflia Pongbatu : 082149537020

Kategori
Lowongan Kerja

Perekrutan Tenaga Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (Ditutup)

Perekrutan Tenaga Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program

Universitas Papua melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dengan dukungan Blue Abadi Fund (BAF) memberikan peluang bagi para pemuda-pemudi untuk menjadi tenaga Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program bagi masyarakat di Distrik Abun dan Tobouw, Kabupaten Tambrauw,Papua Barat.

Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung upaya konservasi penyu belimbing (Dermochelys coriacea) di Papua Barat melalui pemberdayaan masyarakat yang berada di sekitar kawasan pantai peneluran. Bidang pendidikan dan peningkatan perekonomian menjadi fokus utama dalam program ini.

Persyaratan :

  • Usia maksimal 35 tahun per tanggal 1 Juli 2021, dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP)
  • Lulusan minimal D3 dari semua jurusan, dibuktikan dengan ijazah pendidikan terakhir dengan IPK mininmal 2,8
  • Melampirkan transkip nilai pendidikan terakhir
  • Melampirkan fotocopy BPJS Kesehatan

Keuntungan :

  • Tersedia 8 posisi sebagai tenaga pendamping masyarakat dan narahubung program
  • Memperoleh pengalaman bekerja bersama masyarakat
  • Pendapatan minimal Rp.3.000.000/bulan
  • Biaya konsumsi, transportasi dan akomodasi ditanggung selama kegiatan berlangsung di lapangan

Jadwal Seleksi

  • Penerimaan Berkas (1-14 Juni 2021)
  • Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi (16-18 Juni 2021)
  • Seleksi Wawancara (22-23 Juni 2021)
  • Pengumuman Hasil Seleksi Wawancara (25-28 Juni 2021)
  • Pelatihan & Seleksi Tahap Akhir (25,28 dan 29 Juni 2021)
  • Pengumuman Peserta Yang Direkrut (2 Juli 2021)
  • Penandatanganan Kontrak dan Pelaksanaan Program (5 Juli 2021)

Lakukan pendaftaran pada link di bawah ini :

Sekretariat :
Sains Untuk Konservasi
Jln.Brawijaya No.250 Makalew
Manokwari-Papua Barat

Narahubung (via WA) :
Alberto Y.T.Allo : 081235758357
Aflia Pongbatu : 082149537020

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Peran Tim LPPM Unipa Dalam Upaya Global Untuk Memulihkan Dan Menjaga Populasi Penyu Belimbing Di Pasifik

Peran Tim LPPM Unipa dalam Upaya Global untuk Memulihkan

dan Menjaga Populasi Penyu Belimbing di Pasifik

Wilayah pesisir bagian barat Amerika Serikat merupakan salah satu tujuan daerah pakan bagi penyu belimbing yang bertelur di wilayah Kepala Burung di Papua Barat. Penelitian dan upaya perlindungan dilakukan di kedua sisi samudera Pasifik. Analisis 30 tahun data pemantauan jumlah penyu belimbing di California oleh Benson dkk (2020) menunjukan bahwa jumlahnya menurun 5,6% per tahun, sebanding dengan laju penurunan di pantai peneluran. Hasil penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Global Ecology and Conservation pada Desember 2020.

LPPM Universitas Papua turut mengambil bagian dalam upaya global untuk memulihkan populasi penyu belimbing. Di pantai peneluran Jeen Yessa dan Jeen Syuab di Kabupaten Tambrauw, tim LPPM UNIPA berupaya untuk melindungi sarang penyu belimbing agar produksi tukik maksimal. Di kampung-kampung di dekat pantai peneluran, tim LPPM UNIPA berupaya untuk meningkatkan kapasitas masyarakat lokal agar mereka dapat terus melindungi penyu. Tim LPPM UNIPA juga menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah untuk keberlanjutan penyu belimbing di Pasifik.

Simak cerita tentang penyu belimbing di Pasifik, upaya global untuk menjaga kelestariannya, dan kontribusi tim LPPM UNIPA disini:
https://news.mongabay.com/2021/04/time-is-running-out-for-embattled-pacific-leatherback-sea-turtles/

Referensi:
Benson, S. R., Forney, K. A., Moore, J. E., LaCasella, E. L., Harvey, J. T., & Carretta, J. V. (2020). A long-term decline in the abundance of endangered leatherback turtles, Dermochelys coriacea, at a foraging ground in the California Current Ecosystem. Global Ecology and Conservation, 24, e01371

Kategori
Lowongan Kerja

Lowongan Pekerjaan Tenaga Magang Program Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang Periode Mei – September 2021

Universitas Papua melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM UNIPA) memberikan peluang kepada para pemuda dan pemudi untuk menjadi Tenaga Magang bagi Program Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang di Taman Pesisir Jeen Womom, Distrik Abun, Kab. Tambrauw untuk periode Mei – September 2021.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan produksi tukik dengan melakukan perlindungan sarang dari berbagai ancaman. Produksi tukik yang tinggi secara konsisten dalam jangka panjang diharapkan dapat membantu memulihkan populasi penyu di Papua Barat.

Persyaratan :

  1. Usia maksimal 30 tahun dibuktikan dengan KTP
  2. Lulusan D3 atau S1 dari berbagai jurusan dibuktikan dengan ijazah pendidikan terakhir
  3. Melampirkan transkrip nilai pendidikan terakhir
  4. Melampirkan CV/riwayat hidup
  5. Melampirkan BPJS Kesehatan
  6. Diutamakan pelamar dari Manokwari

Keuntungan :

  1. Tersedia 4 posisi tenaga magang per bulan
  2. Kesempatan bekerja di pantai yang terpencil dan indah
  3. Kesempatan belajar teknik memantau peneluran penyu dan melindungi sarang
  4. Berkontribusi pada konservasi penyu
  5. Pendapatan Rp. 1.500.000,- per bulan
  6. Transportasi, konsumsi, akomodasi, dan asuransi kecelakaan selama magang ditanggung
[qode_elements_holder number_of_columns=”two_columns”][qode_elements_holder_item advanced_animations=”no” background_color=”#008cd1″ item_padding=”0px 10px 0px 10px”]

JADWAL SELEKSI

[/qode_elements_holder_item][qode_elements_holder_item advanced_animations=”no” item_padding=”0px 20px 0px 20px” background_color=”#bfbfbf”]
  1. Penerimaan Berkas (2-12 April 2021)
  2. Pengumuman Hasil Seleksi Berkas (14 April 2021)
  3. Wawancara (15-16 April 2021)
  4. Pengumuman Hasil Wawancara (19 April 2021)
  5. Pelatihan (21-23 April 2021)
[/qode_elements_holder_item][/qode_elements_holder]

Lakukan pendaftaran pada link di bawah ini :

Sekretariat :
Sains Untuk Konservasi
Jln.Brawijaya No.250 Makalew
Manokwari-Papua Barat

Narahubung (via WA) :
Trisye Hamatia    : 0852 4411 1101
Ronald Ayatanoi : 0852 5407 1005

Kategori
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Kisah di Balik Layar Mempersiapkan Sekolah Alam Virtual Seri Megafauna Akuatik

Kisah di Balik Layar Mempersiapkan Sekolah Alam Virtual Seri Megafauna Akuatik

Kemajuan dalam pemanfaatan ilmu teknologi dan informasi menjadi solusi dalam pelaksanaan sejumlah kegiatan di tengah pandemi COVID-19. Sekolah Alam Virtual (SAV) adalah salah satu solusi yang dipilih oleh Program Sains untuk Konservasi untuk berbagi isu konservasi pada masa pandemi COVID-19 saat ini.

Maksud dan tujuan dari program SAV pada dasarnya adalah ingin merangkul para pelajar pada khususnya (SD, SMP dan SMA) dan mahasiswa serta masyarakat umum yang karena pandemi ini dipaksa untuk menerima berbagai pembelajaran hanya dari rumah saja.

Persiapan kegiatan ini dilakukan oleh tim outreach Program Sains untuk Konservasi dan dibantu oleh tim lainnya. Berbagai narasumber dari berbagai latar belakang pendidikan yang menguasai materi mengenai megafauna akutik dirangkul oleh tim outreach guna mendukung kegiatan SAV ini. Materi yang diangkat dan dibahas pada SAV sesi Megafauna Akuatik yaitu mengenal lebih jauh mengenai Paus, Dugong (duyung), Hiu, dan Lumba-lumba.

Berbagai kegiatan menarik dan interaktif selain penyampaian materi juga dilakukan dalam SAV ini misalnya kuis berhadiah, pengisian teka teki silang, dan lain-lain sehingga sangat disayangkan jika dilewatkan kegiatan ini.

Untuk menyaksikan tayangan ulang webinar seri, dapat diakses di sini.

Untuk mengakses materi dari para narasumber, dapat diunduh di sini.

Dokumentasi Kegiatan

[qode_advanced_image_gallery type=”grid” enable_image_shadow=”yes” image_behavior=”lightbox” enable_icon=”yes” number_of_columns=”two” space_between_items=”small” images=”2751,2737,2736,2738″ image_size=”full”]
Kategori
Monitoring Ekologi Diseminasi

Diseminasi Hasil Survei Ekologi dan Sosial Ekonomi di Jejaring Kawasan Konservasi Perairan Raja Ampat Kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Raja Ampat

Diseminasi Hasil Survei Ekologi dan Sosial Ekonomi di Jejaring Kawasan Konservasi

Perairan Raja Ampat Kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Raja Ampat

Tanggal

20 Juli 2020

Penulis

Irman Rumengan

Kegiatan Diseminasi merupakan salah satu kegiatan penyampaian informasi berupa hasil temuan yang telah dilakukan oleh team pengambil data dilapangan, pengolahan data oleh team pengolah data, hingga mendapatkan suatu hasil survei oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua. Data yang dikumpulkan merupakan data ekologi (tutupan karang keras hidup dan biomasa ikan) dan keadaan sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di daerah konservasi maupun di luar Kawasan konservasi perairan daerah Raja Ampat.

Penyampaian materi diseminasi di BLUD Raja Ampat (Dok. Nana - BLUD Raja Ampat)

(Foto : Irman Rumengan – S4C)

Hasil survei dibuat kedalam bentuk Factsheet agar mudah dibaca dan dipahami oleh pembaca karena berisi hasil survei dan rekomendasi. Pelaksanaan diseminasi telah dilaksanakan pada tanggal 18-19 Maret 2020 menggunakan metode penyampaian langsung dan pemberian factsheet kepada masing-masing instansi pemerintah daerah yang terkait, ada 9 instansi pemerintah daerah yang diberikan factsheet yaitu Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, DinaPertanian Peternakan dan Ketahanan Pangan, Unit Pengelola Teknis Kawasan Konservasi Perairan Badan Layanan Umum Daerah Raja Ampat, DinaLingkungan Hidup dan Kehutanan, Dinas PerikananBadan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA), Dinas Pariwisata Kabupaten, dan DinaPendidikan Kabupaten Raja Ampat.

Hasil dari penyampaian langsung dan pemberian factsheet kepada instansi-instansi pemerintah daerah Raja Ampat yaitu sebagian besar instansi meminta untuk melaksanakan seminar hasil survei dan mengundang semua instansi yang ada di Raja Ampattermasuk pimpinan daerah seperti Bupati, DPRD, dan Komunitas-komunitas.

Selain itu seluruh instansi menanggapi secara positif terkait hasil factsheet yang telah diberikan, mereka mengapresiasi kegiatan survei yang dijalankan secara rutin di wilayah Raja Ampat, dan berharap dapat membuat program yang bisa langsung berdampak pada kemajuan masyarakat Raja Ampat. Khusus untuk Dinas Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Raja Ampat, mereka ingin meminta kerjasama berupa pendampingan program pengolahan hasil pertanian dan peternakan, sehingga akan ada koordinasi lanjutan antara instansi tersebut dengan LPPM UNIPA.

Adanya himbauan untuk bekerja di rumah karena COVID-19 menjadi salah satu kendala pada diseminasi tahun ini. Beberapa instansi diliburkan sehingga diskusi dilaksanakan di rumah-rumah staf dinas terkait. Selain itu pimpinan beberapa dinas sedang tugas keluar daerah sehingga diskusi dilakukan bersama staf yang berada di tempat saja.

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cerita lapangan dari Pantai Jeen Syuab Pada Musim Peneluran Oktober 2019 – Maret 2020

Nama saya Pius Octovinus, saya adalah bagian dari tim pemantauan penyu dan perlindungan sarang LPPM UNIPA. Pada musim peneluran Oktober 2019 Maret 2020, tim kami bergantian bertugas untuk memantau aktivitas penyu dan melindungi sarang di pantai Jeen Syuab. Saya bersama Jhoni Mau, Abraham Leleran, Arfiandra Wanaputra, dan Arnol Heipon kembali bertugas di Jeen Syuab pada pertengahan Januari hingga pertengahan Februari. Kami berangkat dari Manokwari ke kampung WauWeyaf dengan menggunakan kapal Sabuk Nusantara 112. Angin dan gelombang sangat besar, sehingga kami memutuskan untuk menunda perjalanan ke pantai Jeen Syuab hingga keesokan hari. Biasanya perjalanan kesana hanya memakan waktu 1 jam dari kampung Wau-Weyaf, dengan menggunakan perahu mesin 15pk. Namun perjalanan kami ke Jeen Syuab hari itu memakan waktu 8 jam, dari pukul 8:00 hingga 16:00. Mesin pada perahu masyarakat yang kami sewa mengalami gangguan dalam perjalanan. Di tengah kondisi laut yang bergelombang besar, mesin perahu tiba-tiba berhenti bekerja, mesin padam!, dua orang teman saya sempat berenang ke darat untuk mencoba mencari pertolongan dan kami beruntung mesin kembali bekerja dan dapat mengantar tim kami ke darat.

Bertugas di pantai Jeen Syuab pada bulan Januari dan Februari sangat menantang. Pada bulan Januari, penyu belimbing naik masih dalam jumlah yang besar sehingga banyak sarang yang perlu dipindahkan ke kandang relokasi agar selamat dari ancaman ombak. Pada bulan Februari, sarang-sarang banyak yang menetas sehingga harus dievaluasi. Kami dalam tim berusaha mencicil dan bergotong royong dalam melaksanakan tugas-tugas. Bahan makanan dan logistik bulanan harus diangkut ke pos dari dengan berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer. Karena jumlahnya banyak, kami mencicil dan menyelesaikannya dalam 2-3 hari. Koordinator kami membagi tugas antara kami agar semua terlaksana. Ada yang menghitung jejak penyu, mengukur lebar pantai, mengevaluasi sukses penetasan sarang yang sudah menetas, dan patroli malam.

Bersantai bersama masyarakat di kali (Dok. Arnol Heipon)

(Foto : Arfiandra Waranaputra)

Patroli malam di pantai peneluran Jeen Syuab (Dok. Arfiandra Waranaputra)

(Foto : Arfiandra Waranaputra)

Walau hanya sebulan, kadang saya merasa jenuh. Ketika melihat kalender, hari hingga kembali ke kota kadang terasa lama sekali. Setiap hari bangun pagi lihat wajah teman-teman yang sama, agas mengganggu tidur siang, susah untuk berkomunikasi dengan keluarga karena tidak ada jaringan HP, dan makanan yang itu-itu saja. Saat di lapangan, saya dan teman-teman memiliki beberapa cara untuk mengobati kejenuhan. Kami jalan-jalan ke hutan dan mendengar suara burung atau hewan lainnya, mandi-mandi di kali Wermon, memetik sayur, membakar pisang, makan, lalu pulang ke pos, atau ikut masyarakat jalan-jalan. Kadang saat patroli malam, kami bertemu buaya, rusa, babi hutan, kangguru atau ular. Hewan-hewan menarik ini membuat patrol malam lebih menyenangkan. Bila kami merasa bosan duduk-duduk di pos, kami membantu proyek atau tugas lain di pantai, misalnya membantu anggota masyarakat yang bertugas mendirikan kandang relokasi atau memindahkan sarang penyu. Setelah satu minggu atau dua minggu, kadang kami berjalan ke kampung untuk turut beribadah di gereja dan berinteraksi dengan masyarakat. Hal ini juga mengobati rasa jenuh. Berkat tim yang kompak dan senantiasa saling membantu, kami selesaikan semua tugas kami di Jeen Syuab dan saya serta teman-teman pulang ke Manokwari dalam keadaan sehat.

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Monitoring dan Evaluasi Lapang Periode Maret 2020 : Program Pemberdayaan Masyarakat di Distrik Abun

Pada semester pertama di Tahun 2020, Program pemberdayaan masyarakat kembali dilaksanakan. Kami menempatkan 8 tenaga pada 3 lokasi (Kampung Wau-Weyaf, Kampung Warmandi, dan Kampung Saubeba-Womom) untuk menjalankan program dengan fokus pada bidang pendidikan dan peningkatan perekonomian masyarakat. Monitoring dan evaluasi (monev) dilakukan setiap bulan berjalan sebagai bagian dari kontrol terhadap pelaksanaan kegiatan dan diskusi-diskusi tantangan yang dihadapi serta solusi yang mungkin bisa diterapkan. Kegiatan monev pada bulan Maret 2020 dilaksanakan pada tiga lokasi dengan tujuan menyampaikan program kepada anggota masyarakat dan diskusi-diskusi terkait dinamika di lapangan.

Monitoring dan Evaluasi Lapang Periode Maret 2020 (CoE)

Foto : S4C

Kegiatan monev pada 12-21 Maret 2020 ini juga bertujuan untuk memastikan tim di lapang memiliki bahan bakar cadangan untuk situasi yang mendesak seperti sakit atau hal lain yang tidak dapat ditunda keberangkatan/perjalanan keluar dari lapang. Tantangan bahwa ketiga lokasi berada di daerah yang minim transportasi dan ditambah dengan bahan bakar minyak yang tidak dapat diangkut melalui kapal penumpang Sabuk Nusantara 112, menjadikan perjalanan menggunakan mobil melalui jalan darat merupakan satu-satunya pilihan yang terbaik untuk monev.

Pada tanggal 12-16 Maret kegiatan monev dilakukan di lokasi pertama yaitu Kampung Wau dan Weyaf, 1618 Maret dilaksanakan di Kampung Warmandi, dan 18-20 Maret bertempat di Kampung Saubeba dan Womom, lalu perjalanan dari Kampung Saubeba kembali ke Manokwari menggunakan Kapal Sabuk Nusantara 112, dan tiba pada pukul 11:00 WIT.

Pada tanggal 12-16 Maret kegiatan monev dilakukan di lokasi pertama yaitu Kampung Wau dan Weyaf, 1618 Maret dilaksanakan di Kampung Warmandi, dan 18-20 Maret bertempat di Kampung Saubeba dan Womom, lalu perjalanan dari Kampung Saubeba kembali ke Manokwari menggunakan Kapal Sabuk Nusantara 112, dan tiba pada pukul 11:00 WIT.

Penyampaian informasi terkait kegiatan di Kampung Wau dan Weyaf dilaksanakan setelah ibadah minggu pagi bertempat pada gedung gereja, sedangkan penyampaian informasi kepada masyrakat di Kampung Warmandi, Kampung Saubeba, dan Kampung Womom dalam bentuk diskusi, Selain itu, pelaksana monev juga terlibat aktif dalam implementasi program selama di lapang dan aktif membangun komunikasi untuk mengetahui dinamika yang terjadi di masing-masing lokasi.

(Oleh: Kartika Zohar)

Kategori
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Talk show “Lindungi Penyu Kita” di Nabire

Talk show “Lindungi Penyu Kita” di Nabire

Tanggal

21 Maret 2020

Penulis

Noviyanti, Halter Karubaba, Henny Lesnussa, Frenly Wehantouw

Dilatarbelakangi oleh berita tentang perburuan dan perdagangan daging dan telur penyu di Nabire, tim outreach memutuskan untuk memilih tema “Lindungi Penyu Kita” pada kegiatan talk show tanggal 13 Februari 2020 di Pantai Menase, Nabire. Saat mengunjungi para pelajar di Nabire, tim mendapatkan sejumlah 35.27% siswa yang mengisi lembar pre-test (jumlah responden sebanyak 499 orang) mengaku pernah makan daging penyu, dan 12.42% diantara responden mengaku pernah makan telur penyu. Tim juga melakukan kunjungan ke Desa Makimi, salah satu pantai peneluran penyu di Nabire. Di sana tim bertemu dengan seorang masyarakat lokal yang dulunya juga merupakan pemburu daging dan telur penyu. Selama 4 tahun terakhir, beliau merelokasi sarang telur penyu agar bebas dari ancaman predasi anjing, babi, dan bahkan warga sekitar yang berburu telur penyu. Beliau melakukan pekerjaan ini tanpa mendapatkan insentif ataupun perhatian dari pemerintah setempat, namun beliau tetap mengerjakannya karena beliau percaya pasti ada hal baik yang akan terjadi di masa depan.

Saat kegiatan talkshow, peserta yang hadir berjumlah 28 orang yang berasal dari komunitas penyelam Nabire, guru sekolah, mahasiswa, dan lain-lain.

Narasumber dan moderator saat sesi diskusi Nabire

Narasumber dan moderator saat sesi diskusi

Foto : Tim Outreach

Suasana kegiatan talkshow di nabire

Suasana kegiatan talk show

Foto : Tim Outreach

Duaitd Kolibongso, S.Pi., M.Si., dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unipa yang bertindak sebagai salah satu narasumber mengantarkan peserta kepada informasi tentang fungsi ekologi penyu, jumlah penyu di alam dan alasan mengapa penyu sebagai hewan yang dilindungi, morfologi dan jenis-jenis penyu, jumlah sarang telur penyu di Pantai Jamursba Medi dan Wermon selama beberapa tahun terakhir, pola migrasi beberapa jenis penyu, serta ancaman keberadaan penyu dari predator-predator alami, ancaman dari predasi manusia, serta ancaman lainnya.

Kemudian moderator, Rossa Latumahina, S.Tp, mengenalkan peserta kepada Mesak Adadikam, S.Pd, sebagai salah satu anggota kru monitoring penyu belimbing di Kabupaten Tambrauw. Mesak berbagi pengalamannya tentang tugas dan tanggung jawabnya sebagai Kru Monitoring Penyu Belimbing, cara pendekatan terhadap penyadartahuan masyarakat di sekitar daerah peneluran serta pendekatan budaya (sasi) yang diterapkan untuk mendukung kegiatan konservasi penyu dan hewan laut lainnya di Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw.

Narasumber terakhir, Manuel Mirino, S.Hut sebagai Kepala Bidang Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih Wilayah I Nabire berbagi informasi tentang ancaman yang sangat berpengaruh terhadap penurunan jumlah penyu serta pendekatan yang dilakukan oleh Balai Besar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam perlindungan penyu di Kabupaten Nabire.

Dalam sesi diskusi, para peserta sangat antusias menyampaikan gagasan mereka tentang upaya yang bisa dilakukan masyarakat untuk mengedukasi masyarakat lainnya agar mendukun perlindungan penyu. Salah seorang peserta menyampaikan bahwa beliau sengaja datang dari tempat yang cukup jauh, Teluk Umar, khusus untuk menghadiri acara ini. Beliau menyatakan bahwa informasi ini adalah hal yang baru dia dengar dan beliau sangat ingin informasi ini juga didengar oleh masyarakat di kampungnya. Beliau bercerita bahwa di kampungnya, penyu adalah makanan pokok sedangkan ikan adalah makanan sampingan. Beliau berharap agar kegiatan serupa bisa dilakukan di kampungnya agar masyarakat mau mengurangi konsumsi penyu.

Talk show ini secara umum telah berhasil menyampaikan fungsi dan peranan penyu bagi lingkungan. Hal ini tampak dari kesadaran para peserta untuk mau melakukan upaya perlindungan penyu dengan cara tidak mendukung perdagangan penyu, menyampaikan informasi kepada teman dan keluarga. Peserta juga termotivasi untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang berdampak bagi komunitas untuk melakukan upaya perlindungan penyu.

Kategori
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Harmonisasi Alam dan Budaya, Penunjang Wisata Bahari di Kabupaten Biak Numfor

Harmonisasi Alam dan Budaya, Penunjang Wisata Bahari di Kabupaten Biak Numfor

Tanggal

21 Maret 2020

Penulis

Henny Lesnussa, Frenly Wehantouw, Halter Karubaba, Noviyanti

Pada 5 Maret 2020, tim outreach menggelar kegiatan talk show di Café Boom Byak Center, Kota Biak. Talk show yang bertema “Harmonisasi Alam dan Budaya, Penunjang Wisata Bahari di Kabupaten Biak Numfor”, dilatarbelakangi oleh aktivitas pengunjung wisata yang masih kurang dalam hal menjaga lingkungan atau objek wisata yang ada di laut dan pantai. Pelaksanaan talk show diharapkan dapat mengedukasi masyarakat dan pengelola wisata agar dapat mengelola wisata yang berkelanjutan. Acara ini menghadirkan Marjan Bato S.Kel. M.Si, Dosen Ekowisata Universitas Papua sebagai moderator dan 4 narasumber yaitu Sekretaris Daerah Kabupaten Biak Numfor, Markus O. Mansnembra, SH.,MM; Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor, Turbey O. Dangeubun, S.Pi.,M.Si  serta pemerhati dan penggiat lingkungan Erik Farwas dan Julius Kapitarauw.

Acara ini dihadiri oleh 46 peserta yang terdiri dari beberapa komunitas peduli lingkungan dan penyelam, pengelola/pelaku usaha pariwisata, Anggota POLRI dan TNI dan masyarakat umum. Antusias para peserta terlihat ketika talk show berlangsung.

Wisata yang berkelanjutan menurut Markus adalah upaya-upaya yang dilakukan semua pengguna objek-objek wisata, baik pengelola dan masyarakat pada umumnya yang menunjang dan menjaga objek wisata yang sudah ada saat ini. Pemerintah daerah akan mendukung semua usaha yang dilakukan agar memajukan parisiwata yang mengedepankan wisata bahari yang berkelanjutan.

Foto Bersama Peserte dan Narasumber

Foto Bersama Peserta dan Narasumber Talk show

Foto : Tim Outreach

Penyerahan Doorprize untuk peserta oleh Sekretaris Daerah dan Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor

Penyerahan Doorprize untuk peserta oleh Sekretaris Daerah dan Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor

Foto : Tim Outreach

Salah seorang peserta diskusi yang memberikan pertanyaan

Salah seorang peserta diskusi yang memberikan pertanyaan

Foto : Tim Outreach

Turbey mengungkapkan bahwa Kabupaten Biak Numfor memiliki berbagai macam potensi wisata yang sangat baik, khususnya wisata bahari yang memiliki keindahan terumbu karang di bawah laut. Kabupaten Biak Numfor juga memiliki wisata sejarah peninggalan Perang Dunia II yang ada di darat dan di bawah laut (wreck dive). Dinas pariwisata selama ini telah membantu para pengelola obyek wisata dengan memberikan pelatihan-pelatihan. Di bidang wisata bahari, diberikan pelatihan menyelam agar dapat menjadi dive guide kepada masyarakat lokal agar dapat mengembangkan pariwisata di Biak Numfor, menjaga alam agar tetap lestari agar keberlanjutannya, dan dapat dinikmati dari generasi ke generasi.

Sedangkan Erik Farwas melihat bahwa wujud dari pengelolaan wisata berkelanjutan adalah penyadartahuan kepada nelayan yang masih mencari ikan dengan menggunakan bom. Aktivitas ini tentu sangat merugikan bagi wisata bahari Biak Numfor. Selain itu, beliau juga melihat masih ada penyelam yang melakukan penyelaman dengan tidak safety sehingga menginjak terumbu karang.

Menurut Julius Kapitarauw, pemerintah harus tegas melarang dan menindak oknum-oknum yang mencari hasil di laut dengan cara-cara tidak ramah lingkungan. Kabupaten Biak Numfor memiliki wisata sejarah bawah laut yang sangat berpotensi, salah satunya adalah spot bangkai pesawat Catalina dan beberapa spot-spot diving yang lain. Diharapkan ada perhatian khusus pemerintah terhadap potensi-potensi ini. Lebih lanjut lagi ke depannya akan dibuat museum Perang Dunia bawah laut di Biak yang akan digagas oleh divers Biak. Julius berharap wisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan dapat dinikmati semua pengguna wisata.

Talk show ini secara umum telah berhasil menyampaikan bahwa lingkungan yang asri dapat mendukung wisata yang berkelanjutan. Hal ini tampak dari komitmen para peserta untuk mau melakukan upaya membersihkan tempat wisata yang mereka kunjungi dengan membuang sampah pada tempatnya dan secara sadar menyampaikan pada pengunjung lain akan bahaya sampah bagi lingkungan mereka. Peserta juga termotivasi untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang berdampak bagi komunitas untuk melakukan upaya peningkatan objek wisata yang ramah terhadap lingkungan.